Adakah Kebenaran dari yang Aku Lakukan Ini (Bagian 1)
Adakah Kebenaran dari yang Aku Lakukan Ini (Bagian 1)
Siang itu aku sampai di rumah dengan perasaan galau yang amat sangat. Bagaimana tidak, pekerjaan yang aku lamar sebagai pemijat di salah satu panti pijat daerah Jakarta Timur ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Ada kengerian menghadapi profesi sebagai pemijat, yaitu kita akan berada pada posisi segaris rambut untuk mendekatkan diri pada dosa.
Berdasarkan iklan satu harian ibukota pada kolom "Lowongan Kerja," aku membaca salah satu panti pijat membutuhkan 10 tenaga pemijat dengan persyaratan wanita umur 25–35 tahun, berpenampilan menarik, dan bersedia bekerja shift antara pukul 09.00–23.00 (bekerja setiap hari 7 jam). Para pelamar diharapkan datang langsung untuk menyerahkan lamarannya sekaligus wawancara, begitu bunyi iklannya.
Kalau bekerja sampai malam aku tidak terlampau keberatan, dan mengenai penampilan pun aku tidak merasa khawatir karena hampir semua orang yang bertemu muka denganku pasti akan terkesima dengan kemolekan wajahku dan putihnya kulitku.
Sering orang menggodaku dengan memanggil Cornelia Agatha. Ahh, ada-ada saja orang yang memanggilku demikian, batinku. Tidak sedikit para pedagang di pasar menggodaku ketika aku belanja, bahkan anak-anak muda di tempatku tinggal banyak yang mencoba mendekatiku, tapi tidak satu pun kugubris karena aku tidak suka dengan pria yang iseng. Lagipula, kematian Mas Imron suamiku belum genap tiga bulan.
Uhh, tidak enak sekali status sebagai janda, jerit batinku. Kematian Mas Imron inilah yang kemudian memaksaku mencari pekerjaan untuk menghidupi anakku satu-satunya yang bernama Rita. Dari kantor suamiku tidak ada pensiun; yang ada hanya klaim kematian dari perusahaan asuransi yang besarnya hanya cukup untuk tiga bulan saja, ditambah sedikit uang dari para pelayat.
Itulah sebabnya aku rajin meminjam koran dari tetanggaku untuk mencari lowongan pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan jasmani aku dan anakku. Sampai pada akhirnya aku menemukan iklan membutuhkan tenaga pemijat. Hmm, rasanya kalau cuma memijat aku bisa karena nenekku adalah salah satu pemijat yang cukup dikenal di kampung kami, dan aku sering bertanya kepada nenekku tentang cara memijat yang benar.
Pukul 09.00 pagi itu, setelah membersihkan rumah dan memasak untuk anakku yang masih sekolah kelas 3 SD—takut dia sudah pulang sebelum aku tiba—aku berangkat ke panti pijat yang tertera dalam iklan tersebut.
Setelah berganti dua kali Metro Mini tanpa menemui kesulitan sedikit pun, sampailah aku pada sebuah ruko empat lantai dengan tulisan Panti Pijat "KK."
Dengan berdebar mengingat ini kali pertama aku melamar pekerjaan, aku masuk ke dalam ruko dan disambut dengan senyum manis dua orang wanita sebaya denganku.
"Mau melamar, ya, Mbak?" tanya wanita hitam manis berbaju hijau muda kepadaku yang agak sedikit gugup.
"Ii... iya, Mbak," jawabku dengan jantung berdebar.
Ahh, kenapa aku jadi grogi? pikirku. Toh aku punya niat baik dengan rencanaku, yaitu mendapatkan pekerjaan.
"Silakan naik langsung ke lantai empat, Mbak. Tangganya di sebelah sana," tunjuk wanita berbaju hijau itu ke arah pojok ruangan.
"Terima kasih, Bu... ehh, Mbak," kataku dengan senyum semanis mungkin.
"Sama-sama," kata wanita yang satunya juga dengan senyum ramahnya.
"Ehh, Mbak..." panggil salah seorang di antara mereka.
Kaget, aku menoleh ke arah kedua wanita tersebut.
"Pasti Mbak diterima, deh," kata wanita berkaos pink sambil memainkan matanya.
"Lho, kok tahu, Mbak?" tanyaku.
"Habis Mbak cantik, sih," kata mereka hampir bersamaan.
"Terima kasih," kataku dengan pipi memerah karena terkejut dengan penilaian mereka.
Lalu aku melangkah ke arah tangga yang ditunjuk barusan dan terus naik sampai ke lantai empat. Perlahan aku ketuk pintu kaca hitam pekat, lalu seorang laki-laki berkumis tebal dan berbadan tegap memakai kemeja safari tanpa senyum membukakan pintu untukku.
"Mau melamar?" tanyanya sambil berjalan ke arah meja kerja.
"Iya," kataku dengan senyum serelaks mungkin.
"Surat lamarannya sudah lengkap? Mana?" katanya tegas.
Aku menyerahkan map yang berisi surat lamaran, ijazah SMP, fotokopi KK, serta KTP. Pria tersebut membuka dan membaca map yang kuserahkan, membolak-balik isinya dengan cepat, lalu menatapku.
"Silakan masuk ke ruang aula... itu pintunya... gabung dengan pelamar lainnya... ini nomor urut... tunggu sampai nomor kamu dipanggil untuk diwawancara," katanya sambil menyerahkan nomor urut kepadaku.
"Terima kasih, Pak," jawabku sambil melihat nomor urut.
Wah, nomor 38. Tidak salah, nihh—banyak sekali rupanya yang melamar, pikirku sambil membuka pintu aula yang dimaksud bapak tadi. Begitu aku membuka pintu, ternyata benar dugaanku—sudah ada puluhan wanita di sana. Ada yang sedang duduk, ada pula yang berdiri sambil mengobrol. Aku melihat di tengah-tengah wanita-wanita muda itu masih ada kursi yang kosong, maka aku pun melangkah pelan sambil senyum kepada orang-orang yang aku lewati.
"Permisi," kataku kepada orang yang aku lewati.
Ahh, nampaknya semua orang tidak bersahabat sekali denganku. Tidak ada yang membalas senyumanku. Untunglah di bawah tadi ada dua wanita resepsionis yang ramah kepadaku; kalau mereka tidak ramah, mungkin aku sudah kabur pulang, kataku dalam hati sambil tertawa kecil.
Wah, terus bertambah saja pelamar—ketika kulihat sekaligus tiga orang wanita datang. Sementara itu, bersamaan dengan yang datang ada pula yang keluar dari sebuah ruangan berkaca tertutup. Ohh, mungkin itu ruangan wawancaranya, pikirku.
Cukup lama aku menunggu, lebih dari dua jam. Akhirnya nomorku dipanggil oleh seorang pria keturunan India atau Arab—aku tidak tahu. Kembali jantungku berdebar mendengar nomorku dipanggil. Pelan aku melangkah ke arahnya, ke arah ruangan berkaca yang tertutup tirai dan nampaknya tidak ada celah untuk mengintip itu.
"Silakan masuk," kata pria tersebut sambil memperhatikan buah dadaku yang tertutup dengan blazer batik pemberian suamiku ketika pulang dari Yogyakarta beberapa bulan sebelum kematiannya.
"Terima kasih," kataku sambil masuk ruangan dan langsung mataku menyapu ruangan sejuk di dalamnya.
Nampak seorang pria lain sedang dipijat di kasur kecil oleh wanita pelamar yang sebelumnya sudah dipanggil lebih dulu dariku.
"Silakan duduk," kata pria yang tadi memanggil nomorku, dan aku duduk hampir berbarengan dengan dia di sofa tunggal yang tersedia.
"Fahmi," katanya menyodorkan tangannya.
"Yunita," kataku menyambut tangannya.
Kami bersalaman. Lalu dia membuka map yang tadi aku serahkan kepada pria di depan tadi—mungkin bagian keamanan si bapak itu. Fahmi, begitu tadi dia memperkenalkan diri, membaca dengan seksama lamaran kerjaku sambil sesekali melirik ke arahku.
"Anak kamu berapa?" tanyanya.
"Satu, Pak," kataku memberanikan diri menatapnya.
"Suami kamu kerja?" tanyanya lagi.
"Sudah meninggal tiga bulan yang lalu karena kecelakaan, Pak," kataku, tapi mataku tidak berani menatap matanya.
Mataku hanya mengarah ke map yang ada di tangannya. Matanya itu—menatap tajam ke arah payudaraku yang sedikit terbuka karena aku duduk agak ke depan. Sial, pikirku, kenapa aku tadi memakai kaos tipis longgar begini? Walaupun pakai blazer, tetap saja kaos ini tidak bisa menjaga payudaraku ukuran 36 ini.
Lagi asyik memikirkan baju kaosku, ketika itulah aku kaget sekali karena lemari buku yang ada di sampingku tiba-tiba bergeser terbuka dan muncul seseorang yang agak botak, berbadan tinggi besar, dan langsung memandangku. Wuih, hebat juga lemari ini—ternyata bukan sekadar lemari, tetapi juga berfungsi sebagai pintu, pikirku.
Aku tersenyum kepada lelaki yang baru keluar dari "lemari" tersebut. Kutaksir umurnya sekitar 50 tahun, dengan rambut agak tipis mendekati botak, namun cukup tampan meski tetap tampak keturunan Timur Tengah seperti Fahmi.
"Fahmi, masih banyak pelamar?" tanyanya dengan suara berat kepada Fahmi, tapi matanya sama saja dengan Fahmi—menatap tajam ke arah dadaku. Dasar laki-laki, kenapa selalu payudara saja tujuan matanya.
"Masih sekitar 30 orang lagi, Bang. Saya sudah perintahkan kepada satpam untuk tidak menerima pelamar lagi hari ini," kata Fahmi kepada orang yang dipanggil Abang tadi.
"Ya sudah kalau begitu, nona ini biar saya wawancarai dan kau panggil yang lain," katanya dengan berwibawa.
"Baik, Bang," kata Fahmi sambil menyerahkan map lamaranku kepada si Abang.
"Mari," kata si Abang berjalan di depanku.
Aku mengikuti dari belakang menuju ruangan yang pintunya dari lemari tersebut. Wahh, tinggiku cuma setekuknya—dan lebar badanku cuma setengah badannya. Aku tertawa dalam hati membandingkan tubuhku dengan tubuhnya. Kemudian si Abang berbalik dan menutup pintu yang sekaligus berfungsi sebagai lemari kalau dilihat dari luar.
Bersambung...