18px

Bab 1

Adik Iparku Novi

Aku masih ingat pada waktu itu, tanggal 2 Maret 1998. Aku mengantarkan adik iparku — sebut saja Novi — mengikuti tes di sebuah perusahaan di Surabaya. Saat Novi memasuki ruangan tes, aku dengan setia menunggu di ruang lobi perusahaan tersebut. Satu setengah jam sudah aku menunggu hingga jam menunjukkan pukul 11 siang. Novi mulai keluar dari ruangan dan menuju lobi. Kutanya apakah Novi bisa menjawab semua pertanyaan.

"Bisa, Mas," jawabnya.

"Kalau begitu mari kita pulang," pintaku. "Eh, sebelum pulang kita makan dulu — kamu kan lapar, Nov."

Novi mengangguk. Setelah beberapa saat, Novi merasa badannya agak lemas.

"Mas, mungkin aku masuk angin nih. Habis, aku kecapekan belajar tadi malam," bilangnya.

Aku bingung harus berbuat apa. Kutanya biasanya diapakan atau minum obat apa.

"Biasanya dikerokin, Mas," jawabnya.

"Wah, gimana ya..." kataku. "Oke, kalau begitu sekarang kita cari losmen ya untuk ngerokin kamu."

Novi hanya mengangguk saja.

Aku dan Novi mencari losmen sambil membeli minyak kayu putih untuk kerokan. Kebetulan ada losmen sederhana — itulah yang kupilih. Setelah pesan kamar, aku dan Novi masuk ke kamar 11 di lantai atas.

"Terus gimana cara Mas untuk ngerokin kamu, Nov?" tanyaku.

Tanpa malu-malu dia langsung tiduran di kasur, sebab Novi sudah menganggapku seperti kakak kandungnya. Aku pun segera menghampirinya.

"Sini dong, Mas kerokin."

Dan astaga — Novi membuka bajunya, sehingga yang kelihatan hanya BH-nya saja. Jelas kelihatan putih, dan payudaranya padat berisi. Lalu Novi tengkurap dan aku mulai menggosokkan minyak kayu putih ke punggungnya dan mulai mengeroki.

Baru beberapa kerokan, Novi bilang, "Entar, Mas... BH-ku aku lepas sekalian ya, entar mengganggu Mas ngerokin aku."

Aku terbelalak. Betapa besar payudaranya, dan putingnya masih memerah. Tanpa malu-malu aku melanjutkan mengeroki punggungnya. Setelah selesai semua, aku bilang, "Sudah, Nov, sudah selesai."

Tanpa kusadari Novi membalikkan badannya, telentang. "Sekarang bagian dadaku, Mas, tolong dikerik sekalian."

Aku senang bukan main. Jelas buah dadanya yang ranum dan padat itu tersentuh tanganku berkali-kali. Aku berkali-kali berkata, "Maaf, Dik ya, aku nggak sengaja kok."

"Nggak apa-apa, Mas, teruskan saja."

Hampir selesai kerokan dadanya, aku sudah kehilangan akal sehat. Aku pegang payudaranya, aku elus-elus. Novi hanya diam dan memejamkan matanya. Lalu aku ciumi buah dadanya dan kumainkan pentilnya.

Novi mendesis, "Mas... Mas... ahh... ah, ah, ahh..."

Terus aku kulum putingnya, tanganku pun tidak mau ketinggalan menggerayangi vaginanya. Pertama dia mengibaskan tanganku.

"Jangan, Mas... jangan, Mas..."

Tapi aku tidak peduli. Terus saja kumasukkan tanganku ke celana dalamnya — ternyata vaginanya sudah basah sekali. Lantas tanpa diperintah oleh Novi, aku buka rok dan celana dalamnya. Dia hanya memejamkan matanya dan berkata pelan, "Yach, Mas..."

Kini Novi sudah telanjang bulat tanpa pakai apa-apa lagi. Putih mulus, bulunya masih jarang — maklum, dia baru berumur 20 tahun. Lantas aku mulai menciumi vaginanya yang basah dan menjilatinya sampai kumainkan kelentitnya. Dia mengerang keenakan.

"Mas... ahh... uaa... uaa... Mas..."

Dan mendesis-desis kegirangan. Tangan Novi sudah gatal ingin memegang penisku saja. Lantas aku berdiri, kubuka baju dan celanaku, kemudian langsung Novi memegang penisku dan mengocokknya. Aku suruh dia mengulum, dia tidak mau.

"Nggak, Mas, jijik... nggak ah, Novi nggak mau."

Lantas kupegang dan kuarahkan penisku ke mulutnya. "Jilatin saja, coba."

Lantas Novi menjilati penisku. Lama-kelamaan dia mau mengulumnya, tapi saat pertama kali dia kulum, dia mau muntah.

"Huk... huk... aku mau muntah, Mas. Habis penisnya besar dan panjang, nggak muat tuh mulutku," katanya.
"Isep lagi saja, Nov."

Lantas dia mulai mengulum lagi dan aku menggerayangi vaginanya yang basah. Lantas aku rentangkan badan Novi.

Rasanya penisku sudah tidak tahan ingin merenggut keperawanan Novi. "Novi, Mas masukkan ya, penis Mas ke vaginamu," kataku.

"Jangan, Mas, aku kan masih perawan," katanya.

Aku turuti saja kemauannya — aku tidurin dia dan kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Dia merasakan ada benda tumpul menempel di vaginanya.

"Mas... Mas... jangan..."

Aku tidak peduli, terus kugesekkan penisku ke vaginanya. Lama-kelamaan aku mencoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya. Slep! Novi menjerit, "Ahk, Mas... jangan..."

Aku tetap saja meneruskan, makin kusodok. Slep, bles! Novi menggeliat-geliat dan meringis menahan sakitnya.

"Mas... Mas... sakit tuh... Mas... jangan..." Lalu Novi menangis. "Mas... jangan dong..."

Aku sudah tidak mempedulikan lagi — sudah telanjur masuk penisku itu.

Lantas aku mulai menggerakkan penisku maju mundur. "Ah... Mas... ah... Mas..." Rupanya Novi sudah merasakan nikmat dan meringis-ringis kesenangan. "Mas..." Aku terus dengan cepatnya menggenjot penisku maju mundur. "Mas... Mas..." Dan aku merasakan vagina Novi mengeluarkan cairan — rupanya dia sudah klimaks, tapi aku belum. Aku mempercepat genjotanku.

"Terus, Mas... terus, Mas... lebih cepat lagi..." pinta Novi.

Tak lama kemudian aku merasakan penisku hampir mengeluarkan mani. Aku cabut penisku — takut hamil — dan aku suruh Novi mengisapnya. Novi mengulum lagi dan terus mengulum ke atas ke bawah.

"Hem... hem... nikmat, Mas..."

"Terus, Nov, aku mau keluar nih," kataku.

Novi mempercepat kulumnya dan... cret, cret! Maniku muncrat ke mulut Novi. Novi segera mencabut penisku dari mulutnya dan maniku menyemprot ke pipi dan rambutnya.

"Ah... ah... Novi, maafkan Mas ya... aku khilaf, Nov. Maaf ya!"

"Nggak apa-apa, Mas, semuanya sudah telanjur kok."

Lantas Novi bersandar di pangkuanku. Kuciumi lagi Novi dengan penuh kasih sayang hingga akhirnya kami pulang. Dan setelah itu aku pun masih menanam cinta diam-diam dengan Novi kalau istriku sedang tidak ada di rumah.

Novi... Novi... Novi, sayangku. Terima kasih.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya