18px

Affair dengan Mbak Dian

Affair dengan Mbak Dian

"Ihh… pintar ya ngerayu," kata Mbak Dian sambil mencubit perutku. Aku balas mencubit payudaranya yang menggelayut menempel di tubuhku.

"Aaw.. nakal ya," jerit Mbak Dian. Bibirnya sontak langsung melumat bibirku penuh hasrat, aku pun membalas ciumannya tak kalah sengit. Sangat dahsyat ciuman Mbak Dian — terasa kalau ciumannya sangat agresif, seolah-olah dia ingin melumat apa yang ada di diriku. Kuputar tubuhku menghadap ke arah Mbak Dian. Kupeluk tubuhnya, sementara mulut kami bertautan, tanganku mulai bergerilya ke arah pantatnya. Kuremas-remas pantat Mbak Dian secara bergantian. Sesekali tanganku mencoba menyusup ke liang vaginanya yang terhimpit di antara pantat Mbak Dian yang kenyal. Masih terasa sangat basah di sana. Mbak Dian tahu kalau aku agak kesulitan mempermainkan lubang kewanitaannya jika posisi kakinya berada di atas pahaku. Dia lalu menggeser kakinya lebih ke atas hingga menggayut di pinggangku. Sedikit perubahan posisi itu membuat diriku semakin leluasa menjelajahi daerah kewanitaan Mbak Dian. Tubuh Mbak Dian memang banyak ditumbuhi bulu-bulu halus, terutama di daerah tangan.

Dulu aku sempat membayangkan, saat melihat tangan Mbak Dian ditumbuhi bulu halus, pasti dia memiliki rambut kemaluan yang lebat. Dan ternyata benar seperti dugaanku. Bahkan di sekitar anusnya pun, aku merasakan kalau jariku menyentuh rambut halus di sekitar anus dan liang kewanitaannya. Aku mencoba memainkan jari di area itu dengan gerakan memutar, mencoba membelah liang kewanitaannya.

"Aah, Farid…" desis Mbak Dian. Melihat Mbak Dian merasa keenakan, aku pun mencoba untuk berbuat lebih. Ujung jariku yang basah oleh cairan kewanitaan Mbak Dian, aku usapkan ke klitorisnya. Mbak Dian menggelinjang keenakan saat aku menyentuh kepala klitorisnya yang sudah mulai menegang. Ada ritme tertentu yang aku lakukan untuk memainkan area kewanitaan Mbak Dian — kadang jariku menelusup di liang kewanitaannya, sesekali aku usapkan lembut di klitorisnya, ada kalanya juga aku mainkan di bibir anusnya.

"Aaw, Farid.. geli!" ucap Mbak Dian sambil menggelinjang keenakan saat jariku menyentuh daerah anusnya yang agak basah oleh cairan vaginanya. Di saat tubuh kami saling berhimpitan, Mbak Dian mencoba meraih zakarku yang sejak tadi berdiri tegak. Terasa agak linu. "Mungkin karena terlalu lama berdiri," batinku.

Dengan antusias digenggamnya zakarku. Dengan gerakan naik turun, tangan Mbak Dian yang halus terus mempermainkan kemaluanku. Aku pun tak mau kalah — tanganku terus mainkan jari di area kewanitaan Mbak Dian, menyusupi pantatnya.

Mbak Dian terus meracau, dengus napasnya semakin memburu. Melihat mulutnya mengeluarkan desahan-desahan, aku segera menutup mulutnya dengan mulutku. Kami pun berciuman dengan ganas. Desahan demi desahan keluar dari mulut Mbak Dian tatkala tanganku menelusup masuk di liang kewanitaannya.

"Dimasukin aja ya, Mbak…" pintaku.

Mbak Dian mengangguk sambil tersenyum. Tubuhnya bergerak ke atas mengangkangi pahaku. Dengan posisi Mbak Dian di atas, aku sangat leluasa melihat segala keindahan tubuhnya — wajah yang cantik, bentuk payudara yang sangat menantang, puting yang kemerahan dengan bintik-bintik kecil di sekitarnya. Wanita yang terangsang biasanya akan memiliki pori-pori di sekitar puting yang membesar, di samping puting dan payudaranya yang mengeras. Pandanganku tertuju pada rambut kemaluannya. Dengan kulit putih ditambah bulu kemaluan yang lebat namun tertata rapi, membuatku semakin ingin segera menyetubuhinya.

Kemudian digenggamnya batang zakarku dan dituntunnya menuju liang vaginanya. Dengan lembut diusap-usapkan kepala zakarku di mulut kemaluannya. Terasa hangat. Kepala zakarku tampak basah mengkilat karena cairan vaginanya menempel. Mbak Dian tampak menikmati gesekan-gesekan lembut antara kepala zakarku dan klitorisnya. Aku pun tidak tinggal diam — kuremas payudara Mbak Dian dengan lembut, aku pilin dengan lembut putingnya dengan ibu jari dan telunjuk. Mbak Dian tampak terengah-engah menahan nafsunya yang menggebu-gebu.

Kemudian secara perlahan-lahan dia menuntun zakarku ke liang vaginanya. Dengan posisi jongkok di atas tubuhku, Mbak Dian mencoba memasukkan zakarku yang digenggamnya ke liang kenikmatannya. Mbak Dian terlihat menahan napas tatkala kepala zakarku mulai memasuki liang vaginanya.

"Uuufhh…" desah Mbak Dian merasa keenakan. Dia menghela napas ketika baru kepala zakarku saja yang masuk. Terasa hangat dan basah. Setiap mencoba memasukkan zakarku lebih dalam, Mbak Dian terlihat menahan napas dan memejamkan mata menahan birahi yang menggebu pada dirinya. Dia mencoba memasukkan lagi dengan menurunkan tubuhnya.

"Ssshhh…" desisnya tatkala semua bagian zakarku telah memasuki liang vaginanya. Tangan Mbak Dian bertumpu di dadaku dan meremasnya. Mungkin dia merasakan sensasi yang hebat saat itu. Kulihat Mbak Dian hanya terpejam sambil mengatur posisi tubuhnya yang berada di atasku.

"Fariid… enak banget, sayang," desis Mbak Dian sambil terpejam. Aku membalas ucapannya dengan memberi remasan di pantatnya. Sungguh sangat nikmat yang aku rasakan — zakarku terasa dijepit oleh sesuatu yang hangat, basah, dan sangat lembut.

Beberapa saat kami hanya terdiam sambil merasakan sensasi yang hebat itu. Aku pun memejamkan mata mencoba serileks mungkin. Sangat nikmat. Tetapi dengan perlahan Mbak Dian mencoba menaikkan pantatnya dan menurunkannya lagi. "Aawh…" kembali Mbak Dian menjerit kecil ketika menurunkan kembali pantatnya, memasukkan zakarku ke liang vaginanya. Badannya terlihat gemetar kecil ketika mencoba menaikkan tubuhnya lagi. Dengan terengah-engah dia mencoba memulai gerakan naik turun. Mbak Dian kemudian merapatkan tubuhnya ke tubuhku dan menciumi mulutku lagi — dengan cepat aku sambar mulutnya yang tengah mendesah. Aku peluk tubuhnya. Tanganku terasa basah oleh peluhnya saat memeluk Mbak Dian. Mulut kami saling melumat, dan Mbak Dian terus melakukan gerakan menaik-turunkan pantatnya.

"Aah… aaah… sssh…" racau Mbak Dian keenakan. Dengan tangan kiri merangkul Mbak Dian, aku turunkan tangan kananku untuk menggapai pantatnya. Tanganku sedikit membantu mengatur irama goyangan Mbak Dian sambil mencengkeram pantatnya.

"Terus, Mbak," ujarku sambil mencoba mempercepat gerakan di pantat Mbak Dian yang sedang bergerak naik turun. Mbak Dian seperti kuda yang binal — semakin lama gerakannya semakin liar dan beringas. Dia kemudian melepaskan ciumannya dan menumpu kedua tangannya di dadaku. Dengan jari yang mencengkeram dadaku, dia mempercepat gerakan pantatnya. Rambut Mbak Dian terlihat awut-awutan, ditambah peluh yang terlihat di keningnya, semakin menambah kecantikannya. Tubuh kami sudah basah oleh keringat — entah keringat Mbak Dian yang menetes di tubuhku, atau keringatku yang menempel di perutnya.

"Gantian ya, sayang… Mbak capek," kata Mbak Dian sambil mengangkat tubuhnya. Begitu terlepas dari liang kewanitaannya, tampak zakarku mengkilat akibat dilumuri lendir kewanitaan Mbak Dian.

Mbak Dian mengecup keningku dan tersenyum, kemudian mengatur posisi telungkup di pinggir ranjang. Aku melihat Mbak Dian mengambil bantal, menyusupkannya di bawah perutnya sendiri, lalu mengangkat pantatnya. Jelas sekali Mbak Dian menginginkan disetubuhi dari belakang.

"Sini, sayang…" kata Mbak Dian dengan mata sayu. Tanpa membuang waktu, aku segera berdiri di belakangnya. Tanpa basa-basi aku mengarahkan zakarku ke arah liang vagina Mbak Dian. Mbak Dian dengan posisi lutut di kasur mencoba mempermudah jalannya masuk zakarku. Sangat jelas terlihat kemaluan Mbak Dian yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu halus di pinggiran liang kewanitaan dan anusnya. Benar-benar pemandangan yang menggairahkan. Kearahkan zakarku secara perlahan di mulut vaginanya. Tangan Mbak Dian mencoba membantu mengarahkan tepat di lubang vaginanya yang basah oleh lendir. Setelah aku rasa cukup pas, aku mencoba mendorong pantatku ke depan secara perlahan.

"Aaakh…" desis Mbak Dian ketika zakarku mulai memasuki liang vaginanya.

"Masukin terus, sayang…" pinta Mbak Dian.

Aku pun segera memasukkan zakarku secara penuh di liang vaginanya.

"Oowh… Farid…" jerit Mbak Dian ketika aku memasukkan semua zakarku ke liang vaginanya.

Kemudian aku mencoba menggerakkan pantatku maju mundur secara perlahan-lahan. Dengan kedua tangan yang mencengkeram pantat Mbak Dian, kucoba bergerak maju mundur dengan ritme yang pelan. Terasa sangat puas ketika aku menyadari kalau aku ini tidak mimpi bisa menyetubuhi Mbak Dian.

"Terus, Farid… teruuus…" Mbak Dian pun semakin blingsatan ketika aku mulai mempercepat gerakan maju mundur. Keringat mulai tampak di pori-pori seluruh tubuhku. Sambil bergerak maju mundur, ibu jariku mencoba mengusap lubang pantat Mbak Dian yang sudah basah dengan lendir vagina. Dengan rasa iseng aku mencoba memasukkan ibu jariku ke anusnya — yang aku khawatirkan adalah jika Mbak Dian tidak suka dengan apa yang aku lakukan. Terasa susah memang ibu jariku memasuki anusnya, walaupun berlendir, karena setiap aku bergerak maju mundur, Mbak Dian selalu terlihat mengejan dan tegang.

"Aah, sayang, jangan di situ… kotor," ujar Mbak Dian di sela-sela erangannya yang membuat birahiku semakin tinggi. Ternyata Mbak Dian tidak marah jika aku mengusap dan sesekali menekan ibu jariku ke anusnya.

"Sakit tidak, Mbak?" tanyaku sambil mencoba menekan ibu jariku agak keras ke area anus Mbak Dian.

"Ehh.. enggak, sayang… cuma geli, enaak…" racau Mbak Dian sambil merasakan sensasi itu dengan mata terpejam. Gerakan pantatku semakin kupercepat, sementara ibu jariku sudah terbenam di anus Mbak Dian sedalam kuku ibu jari. Terasa hangat. Sebenarnya sejak dulu aku ingin merasakan bagaimana berhubungan secara anal, tapi siapa yang mau? Ada banyak artikel yang menyebutkan bahwa hanya sekitar dua dari sepuluh wanita yang benar-benar menikmatinya. Akan tetapi melihat Mbak Dian merasakan nikmat saat aku memasukkan ibu jariku ke anusnya, membuatku kepengen berbuat lebih.

"Ahh, inilah saat yang tepat, semoga saja Mbak Dian mau," ujarku dalam hati.

"Mbak, pernah dimasuki di anus belum?" tanyaku hati-hati, takut Mbak Dian tidak suka dengan pertanyaanku.

"Belum… Emang enak ya? Kan itu kotor, Farid?" jawab Mbak Dian.

Nah, inilah saat yang tepat untuk memulainya.

"Enak kok, Mbak, asal dilakukan dengan benar," jawabku mantap, sekadar untuk meyakinkan Mbak Dian agar tidak perlu takut.

"Mau mencoba tidak, Mbak?" tanyaku berharap.

"Kira-kira sakit tidak, sayang? Mbak takut…" sambung Mbak Dian dengan mimik agak ragu.

"Enggak, Mbak. Farid juga belum pernah sih, tapi katanya enak kok," kataku agak berbohong. "Dicoba ya, Mbak," ujarku sedikit berharap.

Mbak Dian tidak menjawab, hanya wajahnya tampak agak kebingungan ketika aku melepas zakarku dari vaginanya, akan tetapi ibu jariku masih sedikit menancap di anusnya.

"Sakit tidak, Mbak?" tanyaku lagi sambil sedikit memasukkan ibu jariku yang basah oleh lendir vaginanya lebih ke dalam.

"Hmm… enggak sakit kok, sayang. Cuma geli tapi enak," jawab Mbak Dian sambil tersenyum dengan tatapan mata yang sayu.

"Aku sering baca artikel, Mbak, kalau dilakukan dengan benar tidak akan sakit, malah sangat enak," ucapku sambil tangan kiriku mengusap klitorisnya. Memang jika ingin melakukan hubungan anal, kita harus pandai-pandai mengalihkan rasa sakit si perempuan dengan cara merangsang lebih banyak — misalnya merangsang klitorisnya atau area yang paling membuatnya nikmat. Cara ini cukup efektif.

"Ssh… iya, sayang…" ucap Mbak Dian sembari menikmati usapan jariku pada klitoris dan anusnya.

Dengan perlahan aku mencabut ibu jariku dari anus Mbak Dian agar dia tidak merasa sakit.

Posisi saat itu Mbak Dian masih menungging di pinggiran ranjang, sedangkan aku masih berdiri di belakangnya. Dengan air ludah aku mencoba memberi pelumas pada kepala dan batang zakarku — soalnya jika melakukan anal haruslah menggunakan pelumas yang banyak.

Aku tuntun kepala zakarku ke anus Mbak Dian dan aku gesek-gesekkan ke anusnya sambil melihat reaksinya. Dia hanya terdiam sambil sesekali memejamkan mata merasakan sensasi baru yang dialaminya.

"Mbak Dian, coba tangannya ke sini ya, rileks saja ya, Mbak," kataku sambil menuntun tangan dan jari Mbak Dian ke arah klitorisnya sendiri.

"Umpama nanti agak sakit, tolong diusap-usap agak cepat ya, Mbak. Nanti sakitnya akan hilang," ujarku sambil meyakinkan Mbak Dian yang terasa agak ragu.

Tangan Mbak Dian pun mengusap-usap klitorisnya. Terlihat kalau Mbak Dian menikmati usapannya sendiri. Aku pun mencoba menekan zakarku yang sudah mengkilap oleh lendir vaginanya dan air ludahku ke anusnya dengan perlahan-lahan. Agak susah memang untuk memasukkan zakar ke anus, apalagi jika si perempuan sudah tegang merasa takut duluan.

"Sssh… aahh…" desis Mbak Dian seraya memainkan jari pada klitorisnya agak cepat. Mungkin karena takut rasa sakit, sehingga dia mempercepat gerakan jarinya.

"Sakit ya, Mbak?" tanyaku agak khawatir. Baru kepala zakarku saja yang terbenam — aku mencoba beristirahat sejenak dari usahaku.

"Engggaaa, sayang…" jawab Mbak Dian sambil terus memainkan jarinya.

"Pokoknya rileks saja, Mbak, enggak usah tegang," jawabku mencoba meyakinkan sekali lagi.

Aku mencoba menekankan zakarku lagi, sebelumnya sudah kutambahkan pelumas di batangnya, dengan harapan mempermudah jalannya masuk. Sedikit demi sedikit terasa kalau zakarku mulai masuk ke dalam anus Mbak Dian.

"Aah…" desah Mbak Dian. Rupanya dia sedang mengalihkan rasa sakitnya dengan cara menggosok klitorisnya. Kepalanya menempel di ranjang, jari-jari tangan kanan memainkan klitorisnya sendiri, sedangkan tangan kirinya meremas-remas payudara. Hanya di bawah perutnya sudah kuganjal dengan dua buah bantal supaya Mbak Dian tidak kecapekan menahan beban badannya sendiri.

Semua batang zakarku sudah terbenam sepenuhnya ke anus Mbak Dian. Tampak Mbak Dian sudah mengendurkan ritme permainan pada klitorisnya.

"Mbak Dian, rileks saja, enggak usah tegang," kataku sambil membungkukkan badan dan mengecup punggungnya. Kuraih payudara Mbak Dian dan memilin-milinnya.

"Farriid… terus diremas, sayang. Mbak enak banget. Rasanya penuh banget di pantat," erang Mbak Dian merasa keenakan. Ternyata Mbak Dian sangat menikmati sensasi baru tersebut.

Sungguh nikmatnya. Sambil mengecupi punggung dan leher Mbak Dian, aku mencoba memainkan klitorisnya untuk menambah kenikmatannya. Saat itu yang aku rasakan ada kekuatan yang menjepit kemaluanku dengan kuat — sungguh berbeda jika dibandingkan dengan berhubungan di vagina.

Sesaat aku terdiam untuk menikmati sensasi tersebut. Napasku terasa sangat memburu menahan gejolak birahi, sedangkan Mbak Dian juga mengerang-erang keenakan.

Sangat nikmat sekali. Aku mencoba menarik keluar zakarku dengan perlahan, lalu memasukkannya lagi ke anus Mbak Dian.

"Aaakh… Farid…" desah Mbak Dian sambil terpejam. Aku tidak tahu apakah desahannya itu karena nikmat atau sakit. Yang jelas aku hanya mencoba menstimulasi Mbak Dian dengan terus mengusap-usap klitorisnya. Gerakanku sudah mulai teratur iramanya. Dengan perlahan-lahan aku sudah mulai merasa lancar menggerakkan maju mundur.

Tiba-tiba gerakan tanganku di klitoris Mbak Dian diambil alih oleh tangannya sendiri. Ternyata dia lebih suka melakukannya sendiri.

"Terus, Farid, yang agak cepaaat…" rengek Mbak Dian. Tangan kanannya pun semakin cepat memainkan klitorisnya. Tangan kiri Mbak Dian mencoba memasukkan jarinya ke dalam liang vaginanya.

"Terus, sayang… terus… Mbak mau keluar…" racau Mbak Dian. Semakin cepat gerakan tangannya mengusap klitoris, semakin cepat pula gerakan maju mundurku memasukkan zakarku ke anusnya. Ternyata Mbak Dian sangat menyukai cara berhubungan anal ini. Hanya sekitar lima menit setelah aku mengoyak masuk ke dalam anus Mbak Dian secara terus-menerus, dia sudah mendekati orgasme. Kupercepat gerakanku, sesekali aku melakukannya dengan agak kasar saat memasukkan zakarku.

Akhirnya Mbak Dian mengejan keras dan mengerang keenakan. Tubuhnya bergetar hebat, pahanya yang semula mengangkang kini menutup rapat. Dengan posisi kaki yang sudah lurus dan masih dengan posisi telungkup, tangan Mbak Dian masih mengusap-usap area kewanitaannya.

Bisa dibayangkan rasa yang ada padaku — Mbak Dian dalam posisi telungkup dengan kaki mengangkang saja sudah terasa zakarku terjepit enak. Apalagi ketika Mbak Dian mengejan mencapai orgasme dan posisi kakinya menutup rapat, zakarku terasa sangat enak diselimuti sesuatu yang hangat, lembut, dan terasa sangat kuat dalam menjepitnya. Mbak Dian menggelinjang hebat, dan akupun mulai menindih dan memeluknya seraya terus menggerakkan pantatku naik turun dengan cepat. Kupeluk Mbak Dian sambil menciumi lehernya.

"Aah… Mbak… Farid mau keluar, Mbak…" ucapku memberi isyarat pada Mbak Dian sambil kedua tanganku bertumpu menahan beban badanku. Pantatku tak henti-hentinya bergerak naik turun.

"Keluarin di mulut Mbak ya, sayang…" pinta Mbak Dian.

Aku tidak menjawab, tetapi mengerti maksudnya.

Dari tadi aku menyangka Mbak Dian tidak begitu percaya diri dengan vagina maupun anusnya karena menganggapnya kotor. Tetapi sekarang malah meminta aku mengeluarkan spermaku di mulutnya — padahal zakarku kan masih masuk di anusnya dan dia sadar akan hal itu. Salut buat Mbak Dian.

Sangat terasa ada yang bakal meledak keluar dari dalam zakarku. Aku pun berusaha semakin mempercepat gerakan zakarku keluar masuk di lubang anus Mbak Dian sambil terus memeluk tubuhnya dari belakang. Akhirnya dengan gerakan agak tergesa, aku mencabut zakarku dari anusnya dan berdiri di lantai. Dengan badan sedikit mundur, aku memberi jalan Mbak Dian untuk berposisi jongkok dengan kedua lutut bertumpu di lantai.

Zakarku kemudian direngkuh Mbak Dian. Dengan sangat bernafsu dia mulai mengocok zakarku sambil sesekali mengulumnya. Akhirnya pertahananku jebol setelah sekian jam menyimpan amunisi. Aku mencoba memegang kepalanya dan mengelus rambutnya yang sedang sibuk melumat kemaluanku. Dengan tangannya yang halus, Mbak Dian mengurut zakarku sambil mengarahkannya ke mulutnya. Mbak Dian menatapku sayu sambil sedikit mengangakan mulutnya.

"Mbak… aku keluar…" erangku sambil menjambak rambut Mbak Dian. Dengan cepat kemudian Mbak Dian memasukkan kepala zakarku ke mulutnya dan terus mengocoknya. Badanku bergetar hebat ketika spermaku keluar memasuki rongga mulutnya yang mungil, terasa hangat. Seluruh sendi tulangku serasa lepas saking nikmatnya. Mbak Dian pun sesekali memainkan buah zakarku yang mengeras.

Sangat nikmat sekali — sensasi yang aku rasakan sangat komplit.

Mbak Dian akhirnya melepaskan kulumannya. Terasa agak ngilu ketika dia melepasnya. Dengan mulut masih tertutup rapat, Mbak Dian bergegas mengambil tisu di atas kulkas. Sekitar empat helai dia ambil, kemudian dia memuntahkan spermaku yang ada di mulutnya ke tisu tersebut.

"Enak ya, sayang…" kata Mbak Dian seraya menaruh tisu berisi spermaku tersebut di sebelahnya. Dia memelukku dan mengecup dadaku.

"Iya, sayang, sangat enak sekali," sahutku sambil mengecup keningnya dan balas memeluknya.

Kami pun sejenak melupakan bahwa hubungan di antara kami adalah terlarang. Mbak Dian adalah kakak kandung teman akrabku, yaitu Rudi, dan aku mengkhianati temanku tersebut.

Aku melihat ke arah jam tanganku — jam 3.30 pagi hari. Berharap saja dalam hati kalau Rudi tidak terbangun dan memergoki kami berdua. Lama kami berpelukan dalam keadaan telanjang. Akhirnya aku bergegas memakai pakaianku, sambil berpamitan kepada Mbak Dian yang masih telanjang bulat, hanya tertutup selimut untuk menepis dinginnya AC di kamarnya. Aku kecup kening Mbak Dian.

"Makasih ya, Mbak, atas semuanya…" ucapku sambil menatapnya dengan hangat.

"Farid, pintu kamar ini selalu terbuka untukmu, sayang…" jawab Mbak Dian sambil mendekapku.

Yang aku ingat dengan jelas saat Mbak Dian berkata bahwa dia menyukaiku semenjak awal kami berkenalan — tidak peduli kalau dia sudah punya pacar dan aku pun juga punya pacar yang setia.

Hubunganku dengan Mbak Dian hanya bertahan sekitar satu tahun. Pernah suatu saat aku kepergok oleh pembantu Mbak Dian. Aku takut kalau Mbok Inah akan melaporkan hal ini kepada Rudi. Untuk menghindari kepergok lagi, kami pun sering pergi ke Kaliurang hanya untuk sekadar melampiaskan hasrat kami. Sering kali Mbak Dian menjemputku di kos dengan menggunakan mobilnya, baik itu malam maupun siang hari.

Sebenarnya cerita ini masih sangat panjang dan berliku. Mungkin suatu saat aku akan berbagi lagi kepada teman-teman tentang affair-ku dengan Mbak Dian.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya