18px

Bab 1

Affairku dengan Mbak Dian - 2

Tanpa menunggu jawaban dariku, Mbak Dian mulai membuka kancing bajuku.

OMG, mimpi apa aku semalam. Aku cuma menikmati apa yang Mbak Dian perbuat.

Matanya begitu sayu ketika dia mulai menciumi leherku. Satu persatu pakaianku mulai terlepas. Tangannya begitu terlatih meremas seluruh bagian vital tubuhku. Akhirnya dengan nekat aku mencoba menyentuh puting Mbak Dian yang masih terbalut pakaian tidur.

"Aaah, Farid, kamu mulai nakal ya," kata Mbak Dian sedikit membisik di telingaku.

Tak perduli ucapan Mbak Dian, aku mencoba untuk duduk sembari terus memainkan putingnya, sedangkan Mbak Dian sibuk menciumi perutku. Hanya tinggal CD saja yang menempel di tubuhku. Sangat terasa kalau puting mungil Mbak Dian mulai mengeras.

"Terus, Farid... Mbak sayang kamu," kata Mbak Dian sambil terus meremas kemaluanku.

Tangan Mbak Dian mulai sibuk untuk membuka CD-ku. Karena posisiku duduk, Mbak Dian agak kesulitan untuk menurunkan CD yang kukenakan. Akhirnya aku sedikit angkat badan, dan terlepaslah juga CD yang menutupi kemaluanku yang sudah mengeras sejak tadi. Begitu terlepas CD-ku, Mbak Dian malah mulai menciumi selangkanganku, dan tanpa sekalipun tangannya memegang zakarku yang sudah berdiri, tangannya hanya memainkan buah zakarku. "Ah, kenapa nggak langsung dipegang aja," pikirku, tapi di sinilah letak kenikmatannya.

Mbak Dian tidak henti-hentinya menciumi selangkanganku, sembari sesekali mengulum buah zakarku satu persatu. "Mbak, enak, Mbak," desisku sembari mencium kepalanya yang berada di atas perutku.

Akhirnya saat yang kunantikan tiba — tangan Mbak Dian mulai menggenggam zakarku yang semakin keras.

"Keras sekali punyamu, Farid. Mbak suka banget," ucapnya sembari memandangku dengan senyum manisnya. Akupun membalas dengan senyum nyengir nakal. "Ah, Mbak Dian, dirimu cantik sekali," ucapku dalam hati.

"Emang punya Mas Hendra nggak kaya punyaku, Mbak?" tanyaku memancing.

"Aah, nggak usah sebutin nama Hendra," sahutnya. Akhirnya aku diam saja.

Mbak Dian kayaknya kehilangan mood ketika aku nyebut nama Hendra. Dia cuma diam saja. "Waduh, begonya diriku, merusak suasana hati Mbak Dian."

"Kalau sama Mas Hendra marah, kan masih ada aku sebagai gantinya, Mbak," ujarku mulai menebar pesona.

"Emang kamu mau, Farid? Mau jadi pacarku? Kamu kan temen akrab adikku!" ucap Mbak Dian sambil tertawa.

"Aku bisa dimarahin sama Rudi ntar," lanjut Mbak Dian.

"Yang pasti bisa bikin Mbak seneng aja, aku udah seneng kok!" ujarku ngegombal.

"Aah, Farid..." Mbak Dian mulai melumat bibirku lagi. "Aah, akhirnya moodnya membaik."

Tangan Mbak Dian mulai mengusap kepala zakarku dengan lembut. Diusap kepala zakarku dengan penuh perasaan. Kebayang kan gimana enaknya.

Kepala Mbak Dian mulai menurun. Dengan kedua tanganku memegang rambutnya, aku melihat gerakan Mbak Dian yang mulai menciumi kepala zakarku.

Aku mulai merasakan kalau Mbak Dian tidak hanya menciumi tapi juga mengulum, sesekali menggigit ringan kepala zakarku.

"Farid, kamu udah terangsang ya? Nih air beningnya udah keluar," ucap Mbak Dian.

"Iya nih, Mbak, abisnya enak banget," sahutku. Ya iyalah, masa digituin sama cewek cantik nggak terangsang — impoten kali? Ujarku dalam hati.

Mbak Dian dengan perlahan mulai mengulum zakarku. Terasa hangat ketika mulut Mbak Dian yang mungil mulai mengulum kemaluanku. Dengan gerakan naik turun, kepala Mbak Dian mengikuti irama sembari tangannya memainkan buah zakarku, sesekali menyentuh anusku — hihi, geli!

Sesekali zakarku ini dimasukkan penuh ke dalam mulut Mbak Dian.

"OMG, enaknya," terasa sekali kalau kepala zakarku menyentuh kerongkongan Mbak Dian. Sangat hangat dan basah dan penuh.

Dengan tangan yang terus bergerak naik turun di zakarku, Mbak Dian juga mengulum buah zakarku satu persatu.

"Mbak, enak banget," ucapku sembari menjambak rambut Mbak Dian.

Hampir saja pertahananku hancur jika tidak kutarik kepala Mbak Dian untuk segera mengakhiri permainannya. "Fuih, hampir saja," batinku — untung aku sering latihan senam Kegel yang fungsinya untuk mengontrol ejakulasi.

"Mbak, Farid sayang sama Mbak," ucapku sedikit ngegombal, sembari menarik tubuh Mbak Dian untuk kurebahkan ke kasur. Mbak Dian tidak menjawab, hanya sorot matanya yang menjawab pasrah.

Akhirnya kulepas baju tidur Mbak Dian. Nampak payudara dengan bentuk yang indah, menantang untuk dilumat. Benar dugaanku dari tadi — ternyata Mbak Dian memakai G-string warna hitam yang tadi sempat aku amati sewaktu melihat Mbak Dian berjalan.

Dengan perlahan kudekatkan wajahku, kemudian kulumat lagi bibirnya sambil tangan kananku memainkan puting Mbak Dian yang sudah mengeras sejak tadi. Sedikit sentilan dan cubitan lembut yang kulakukan pada puting Mbak Dian membuatnya semakin blingsatan. Kemudian ciuman bibir kulepas, lalu kuciumi dan kulumat leher Mbak Dian. Dia mendesis-desis. "Terus, sayang," ucapnya sembari menjambak rambutku. Tanganku tidak henti-hentinya memainkan puting Mbak Dian. Kuarahkan ciuman dari leher kemudian menurun ke payudara Mbak Dian.

"Dihisap, sayang, please," ucap Mbak Dian seraya matanya memejam. Mulutku mulai mengecup puting Mbak Dian sebelah kanan. "Aaahh, Farid, Mbak sayang kamu," ucap Mbak Dian. Kumainkan putingnya dengan lidahku, seraya sesekali aku gigit dengan mesra. "Aah, pintar kamu, Farid," ucap Mbak Dian sambil menjambak rambutku.

Ciumanku mengarah ke putingnya sebelah kiri, seraya tanganku memainkan gundukan kecil yang tertutupi oleh G-stringnya. Aku buka perlahan selangkangan Mbak Dian. Sembari mulut ini terus menciumi dan melumat payudara Mbak Dian, kuusap gundukan yang memiliki rambut lebat tapi tertata rapi tersebut dengan lembut, tanpa sekalipun menyentuh klitorisnya. Aku permainkan jari ini hanya menyentuh area selangkangannya saja. Hal ini membuat Mbak Dian semakin blingsatan.

"Tolong dibuka, sayang, please buka celana Mbak," ucapnya memohon.

Tanpa dikomando lagi, aku akhirnya melepaskan ciumanku di putingnya untuk membuka CD Mbak Dian. Saat itu Mbak Dian hanya telentang pasrah sambil mengangkat pantatnya untuk memudahkan aku melepas CD-nya. Begitu terlepas, aku mencoba mencium harum gundukan kecilnya itu.

"Jangan, Farid, kotor — tadi Mbak abis pipis belum sempat cuci," sergah Mbak Dian. OMG, ternyata Mbak Dian nggak pede dengan kondisinya.

"Nggak papa, Mbak. Farid suka kok sama semua yang ada pada Mbak," ucapku untuk membesarkan hatinya.

"Alangkah bodohnya lelaki yang nggak mau mencium punya Mbak," ujarku sambil tersenyum pada Mbak Dian.

Kulumat lagi bibirnya sembari memainkan jari ini di sekitar lubang kenikmatan Mbak Dian, dan sesekali menjambak bulu kemaluannya secara perlahan, tanpa sekalipun menyentuh klitoris dan lubang kenikmatan Mbak Dian.

Bisa dibayangkan betapa menderitanya Mbak Dian jika klitorisnya tidak tersentuh sama sekali oleh tanganku yang nakal — tapi ini memang strategi yang aku lakukan tiap bercinta dengan setiap pacar-pacarku terdahulu. "Biarlah nanti klitoris dan lubang vagina Mbak Dian hanya tersentuh oleh bibirku saja," batinku.

Saat itu posisi kami terlentang miring, dengan posisi kepalaku menghadap kemaluan Mbak Dian, dan Mbak Dian menghadap selangkanganku.

"Farid, please jangan siksa Mbak seperti ini — pakai jarimu, Farid," pinta Mbak Dian sembari terus mengulum kemaluanku dan memainkan kepala zakarku dengan lidahnya. Tapi aku cuek saja. Kuciumi paha Mbak Dian, kearahkan mulutku ingin melumat klitoris Mbak Dian — tiba-tiba kepalaku ditarik oleh Mbak Dian.

"Jangan, Farid, jangan... kotor, Mbak malu," ucap Mbak Dian seraya menarik kuat lenganku.

"Nggak papa, Mbak. Farid ingin melakukan ini demi Mbak Dian," ucapku untuk menyenangkan hati Mbak Dian.

"Jangan, sayang, pakai jari aja," pintanya memohon.

Wah, Mbak Dian bener-bener nggak pede dengan vaginanya, yang jelas-jelas putih bersih dengan bulu yang lebat.

Akhirnya aku mengalah. Lenganku ditarik Mbak Dian, diciuminya mulutku sembari tangannya terus mengusap-usap batang zakarku.

Aku disuruh Mbak Dian terlentang. Kayaknya Mbak Dian udah nggak kuat nahan gejolak nafsunya yang sudah sangat tinggi. Dengan setengah berjongkok, Mbak Dian mulai mengangkangi tubuhku. Dia sudah sangat kepengen untuk melakukannya.

Dipegangnya kemaluanku, diarahkan ke mulut vaginanya. Aku pikir pasti mau dimasukkan ke liang vaginanya — ternyata dugaanku salah. Kepala zakarku hanya disentuh-sentuhkan dan digesek-gesekkan ke arah klitorisnya yang sudah mulai basah.

"Aaah... sssh," desis Mbak Dian seraya memejamkan mata. Diusapkannya secara terus-menerus kepala zakarku ke klitorisnya dengan lembut.

"Aah, Fariiid, Mbak sayang kamu... sssh," racau Mbak Dian.

Akhirnya secara kontinyu Mbak Dian mengusap-usapkan kepala zakarku ke klitoris Mbak Dian, dan tanganku tidak tinggal diam memilin-milin puting Mbak Dian.

Dengan cara digenggam batang zakarku kemudian ditekan agak keras ke klitoris, gosokan kepala zakarku terasa semakin cepat. Akhirnya Mbak Dian mendesis panjang.

"Aaaah, sayaang, mmbak keluaar..." desis Mbak Dian sembari bergetar seluruh badannya. Tangannya tidak henti-hentinya menggenggam batang zakarku dan menggosok-gosokkannya ke klitorisnya secara terus-menerus dan cepat. Nafasnya memburu, degup jantungnya tak beraturan. Aku lihat setetes keringat di dahinya. Aku usap keringat itu dengan ibu jariku. Mbak Dian tersenyum sangat manis kepadaku.

"Aah, Farid, Mbak udah keluar duluan," ujarnya sambil tersenyum.

"Nggak papa kan, sayang?" tanya Mbak Dian sembari badannya dirapatkan ke badanku. Tangannya masih sibuk mengusap-usap dan tidak henti-hentinya mengurut batang zakarku.

Aku cium dahi Mbak Dian. "Nggak papa, Mbak," kataku sambil membelai rambutnya yang harum. Kuusap semua keringat yang menempel di kening Mbak Dian.

Degup jantung dan nafas Mbak Dian sudah mulai teratur. Dengan kondisi tubuh yang masih berada di atasku, kami hanya terdiam membisu — hanya usapan-usapan lembut saja yang masih aku lakukan di pinggul dan punggung Mbak Dian yang basah karena peluhnya, supaya dia merasa tenang dan nyaman. Kemaluanku masih saja berdiri tegak. Dengan kondisi tubuh yang mengangkang tidur di atasku, otomatis kemaluanku masih menempel di sela-sela selangkangan dan menyentuh liang kewanitaan Mbak Dian. Terasa hangat di situ. Ingin rasanya segera menyetubuhi Mbak Dian, tetapi melihat kondisi Mbak Dian yang tiduran di atasku dengan nyaman, aku mengalah untuk mendiamkannya saja.

"Pasti capek Mbak Dian," batinku. Aku mencoba melirik wajahnya yang berada sedikit di bawah kepalaku. Eh, ternyata Mbak Dian terpejam matanya dan irama nafasnya sudah sangat teratur — ternyata Mbak Dian sudah tertidur.

"Kurang ajar nih," ucapku dalam hati. Mana kondisi kemaluanku masih berdiri tegak lagi, malah Mbak Dian tertidur.

Aku melirik ke jam tanganku. Saat itu waktu menunjukkan jam 01.45 dini hari. Moga-moga saja Rudi tidak bangun dan tidak curiga melihat aku tidak ada di ruangan kamarnya.

Cukup lama Mbak Dian terdiam. Akan tetapi tiba-tiba Mbak Dian membuka matanya. Ternyata dia tidak tertidur seperti dugaanku — mungkin saja dia sangat menikmati jeda setelah orgasme secara klitoral. Matanya langsung menatap ke arahku.

"Sori ya, Rid, hampir aja Mbak ketiduran," kata Mbak Dian memecah kesunyian.

"Tadinya aku pikir Mbak Dian tertidur," balasku sambil tersenyum.

Mbak Dian tidak membalas senyumku, tapi bibirnya langsung mengecup lembut bibirku.

"Mmuahhh..." desis Mbak Dian sembari tangannya bergerak melonggarkan tubuhnya yang sedari tadi menghimpit tubuhku, dan langsung berbaring di sampingku. Lengannya menggelayut manja memelukku. Posisi paha kaki kanannya ditindihkan di pahaku rapat-rapat. Sangat terasa di pahaku ketika bersentuhan dengan pangkal paha Mbak Dian — terasa hangat dan lembab. Bulu kemaluannya terasa menggesek pahaku, membuat aku semakin ingin segera menuntaskan hasratku yang belum tersalurkan.

"Farid, tolong kamu jangan menganggap Mbak Dian yang nggak-nggak ya," kata Mbak Dian sembari tangannya mengusap pipiku.

"Nggak kok, Mbak. Hanya saja Farid merasa kaget," balasku.

"Mbak melakukan ini karena Mbak sayang sama kamu, Farid," lanjut Mbak Dian.

"Farid pun sebenarnya sudah lama mengagumi Mbak Dian, terutama wajah Mbak," sahutku.

"Aah, semua lelaki sama aja, sukanya ngegombal," jawab Mbak Dian sambil mencibir.

"Kalau aku perkecualian kan?" sergahku sambil tersenyum.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya