18px

Bab 1

Affairku dengan Mbak Dian

Cerita ini aku tulis berdasarkan pengalaman pribadiku sendiri — mulai dari aku kenalan dengan kakak kandung temen akrabku, hingga terjadi affair dengannya. Aku tinggal di Jogjakarta. Sudah agak lama memang kejadiannya, tahun 1998 yang lalu, waktu itu umurku 20 tahun. Tapi kenangannya begitu terasa membekas. Waktu itu aku masih duduk di bangku kuliah di perguruan tinggi swasta dekat Hotel Hyatt Jogja. Sebut saja namaku Farid.

Sewaktu masih di bangku SMA aku punya temen akrab, sebut saja namanya Rudi, dan sekarang si Rudi menjadi teman kuliahku juga di perguruan tinggi tersebut. Saking akrabnya, hampir setiap hari aku tidur di rumah Rudi di daerah perumahan Sawitsari. Rumah itu ditempati cuma berdua, yaitu Rudi sendiri dan kakak perempuannya — sebut saja namanya Mbak Dian — sementara orang tua Rudi tinggal di Balikpapan. Sudah hampir setengah tahun aku sering main dan menginap di Sawitsari.

Aku sangat menghormati Mbak Dian, yang jelas karena umurnya sudah 25 tahun, seumuran dengan kakak kandungku. Sering kalau Mbak Dian habis diapeli sama pacarnya, Mas Hendra, aku dan Rudi diajak jalan-jalan pakai mobil Grand Civic-nya Mbak Dian yang berwarna putih — biasanya kalau tidak makan, ya cari CD game di daerah Demangan. Mbak Dian itu kalau malam minggu diapeli Mas Hendra sampai larut malam, dan yang pasti kamar Mbak Dian selalu tertutup rapat. "Beuh, pasti lagi bercinta tuh!" Waktu itu lagi heboh-hebohnya PS 1, dan Mbak Dian pun punya hobi yang sama: main game PS. Kita bertiga sering main bareng. Yang aku ingat, Mbak Dian kalau di rumah jarang pakai bra, jadi setiap ada kesempatan aku pasti ngelirik tonjolan putingnya yang mungil itu. Entah Rudi tahu atau tidak kalau mbaknya jarang pakai bra. "Hehe, lumayan," batinku.

Semakin lama aku dan Mbak Dian pun semakin akrab. Sering aku dimintain tolong buat beli rokok Marlboro Putih kesukaan Mbak Dian. "Farid, tolong beliin rokok Marlboro dong, yang putih ya — sekalian kamu beli rokok juga!" Mbak Dian orangnya royal banget.

Pernah suatu ketika aku pun dioleh-olehi parfum Hugo Boss yang dia belikan buatku saat dia belanja di Galeria. Saat itu aku nanya, kok parfumnya mahal banget, Mbak.

Dia hanya tersenyum manis. "Thanks ya, Mbak," ujarku. "Apa mungkin Mbak Dian...? Ah, tidak," batinku. Nggak mungkin — soalnya Mbak Dian sudah pacaran lama sama Mas Hendra.

Keluarga Rudi memang keluarga yang kaya. Orang tuanya kerja di pertambangan minyak di Balikpapan, punya dua anak: Rudi dan Mbak Dian, dan per orang mendapat jatah mobil satu.

Singkat cerita, waktu itu pas malam minggu — seperti biasa aku dan Rudi habis ngapel bareng-bareng, maklum pacar kami satu kos-kosan di belakang Hotel Hyatt, jadi aku bisa nebeng Rudi. Kami langsung pulang menuju Sawitsari. Oiya, aku juga selalu dapat tugas nyopirin si Rudi kalau malam hari, soalnya temanku ini punya kelainan mata silinder. Jadi kalau malam dia sangat terbatas untuk beraktivitas. Dulu aku pernah nyuruh dia pakai kacamata atau softlens, tapi dia bilang, "Males ah."

Begitu sampai rumah, waktu itu jam 11 malam, mobil Mas Hendra masih terparkir di halaman rumah. "Edan, jam segini belum pulang juga nih Mas Hendra — ngapain aja ya di kamar!?"

Mobil aku parkir di garasi. Rudi turun duluan, langsung masuk kamar. Setelah parkir mobil aku langsung masuk ke kamar Rudi, ternyata Rudi sudah megang stik PS. "Rid, kita teruskan main bola tadi," ujar Rudi. "Ayo, siapa takut," jawabku. Kami pun asyik main game.

Waktu itu jam 12 malam, sedang asyiknya main PS, tiba-tiba Mbak Dian muncul di balik pintu dan masuk ke kamar Rudi. "Mas Hendra dah balik, Mbak?" tanyaku.

"Udah," sahut Mbak Dian. Mbak Dian pun duduk di sebelah Rudi, dan kami pun main PS sambil ngobrol ngalor ngidul.

"Wah, laper aku, Rud. Si Farid aku ajak bentar ya, beli nasi gudeg dekat Gejayan," kata Mbak Dian tiba-tiba.

"Ok, tapi aku sekalian beliin ya, Mbak," jawab Rudi.

"Farid, bentar ya, Mbak ambil jaket dulu," kata Mbak Dian.

Akhirnya aku nemenin Mbak Dian beli nasi gudeg di Gejayan. Waktu itu Mbak Dian memakai setelan babydoll warna putih, atasannya model you can see, bahannya lumayan tipis dan agak longgar. Dengan ukuran payudaranya yang tergolong lumayan, sekitar 34 B, putingnya pun kelihatan samar-samar membekas di baju tersebut. "Wah, kesempatan nih curi-curi pemandangan indah," batinku. Dan moga-moga saja Mbak Dian tidak tahu kalau aku punya pandangan jahil terhadap dirinya. Sepanjang perjalanan pun aku mulai curi-curi pandang ke payudara Mbak Dian.

Yang aku heran, selama perjalanan Mbak Dian banyak termenung. Aku sangat menghormati Mbak Dian, tapi aku beranikan diri untuk bertanya, "Kenapa sih, Mbak? Setelah keluar dari rumah kok banyak diamnya?" tanyaku sembari mencuri pandangan ke arah payudaranya. Mbak Dian pun hanya tersenyum kecut. "Ga papa, Rid, biasalah — Mas Hendra biangnya," jawab Mbak Dian.

"Ooh, Mas Hendra to," timpalku singkat. Dan aku pun tidak melanjutkan pembicaraan tersebut, takut Mbak Dian marah. Akhirnya setelah beli gudeg, kami pun segera balik ke perumahan Sawitsari.

Sampai di rumah, mobil masuk garasi, kami pun masuk ke rumah. Mbak Dian jalan duluan, kemudian aku menyusul berjalan di belakangnya. Jarak kami saat itu cuma satu meter. Aku amati postur tubuh Mbak Dian yang sedang jalan di depanku — tinggi badannya sekitar 160 cm, berat sekitar 50 kg, dengan postur tubuh yang ideal. Pinggulnya yang agak besar bergoyang seiring langkahnya. Sembari melepas jaket tipisnya, Mbak Dian terus berjalan, dan akupun masih membisu berjalan di belakangnya.

Akhirnya pandanganku tertuju pada pantat Mbak Dian. "Gila, kayaknya Mbak Dian pakai G-string warna hitam deh — kelihatan sekali bayangan G-string yang dikenakannya, dipadu dengan pantatnya yang sangat berisi. Maklum, doi maniak olahraga. Bikin nafsu aja!" batinku dalam hati.

"Kenapa ya Mbak Dian pakai G-string? Memang kebiasaannya, atau pas malam minggu saja kalau jadwal Mas Hendra ngapel?" Pikiran nakalku semakin menjadi-jadi. "Ah sudahlah, Mbak Dian kan orang yang aku hormati — nggak sopan kalau aku punya pikiran seperti itu."

Sampainya kami di kamar, Rudi sudah terlelap di springbed dengan kondisi tangan masih memegang stik PS. "Wah, Rudi sudah bobo tuh, Mbak, kecapean kali main game sendiri," ujarku. Sebenarnya aku sendiri juga kelelahan dan ngantuk akibat jalan-jalan sejak tadi sore sama Rudi, muter-muter kota.

"Yah, piye sih Rudi, udah dibeliin nasi gudeg malah bobok," sahut Mbak Dian.

"Ya sudah, aku makan sendiri aja. Farid, kamu main game duluan aja ya, aku makan nasi ini dulu," kata Mbak Dian. "OK deh, Mbak," jawabku. Tadi pas aku ditawari mau makan atau tidak, aku jawab masih kenyang, jadi Mbak Dian hanya beli nasi bungkus.

Selama main game, dari sudut mata ini aku tahu kalau Mbak Dian selalu memperhatikan aku sembari mengunyah makanannya. Posisi duduknya memang di depanku sebelah kanan. Terus terang aku jadi kikuk, nggak tahu kenapa kok Mbak Dian terus memandangi diriku. Akhirnya mentalku nggak kuat.

"Mbak, nih stiknya, Mbak nanti main sendiri aja ya. Aku ngantuk, Mbak," ujarku mencoba memecahkan rasa grogi.

"Iya deh, tapi nanti kalau Mbak kesulitan di game ini, kamu bantuin Mbak ya," jawab Mbak Dian sambil tersenyum manis.

"Pasti, Mbak, tenang aja," timpalku, sambil mulai mengatur posisi tidur di sebelah Mbak Dian.

Saat itu posisiku di depan sebelah kiri Mbak Dian, sedangkan Rudi tidur di atas springbed. Aku pun mulai pelan-pelan memejamkan mata, tapi mata ini tetap tidak bisa terpejam. Aku tahu Mbak Dian masih curi-curi pandang ke arahku sembari dia main game, tapi aku pura-pura tidak tahu saja.

Sekejap diriku terpejam — aku melihat posisi Mbak Dian sudah berada dekat dengan posisiku tidur. Antara sadar dan tidak, aku merasa wajah Mbak Dian mendekat ke wajahku, dan sebuah kecupan halus mendarat di pipiku. "Hah!" Aku pun kaget setengah mati. Kulihat saat itu Mbak Dian hanya tersenyum padaku.

"Marah ya?" tanya Mbak Dian.

Saat itu aku sudah sepenuhnya sadar dan tahu apa yang baru saja dilakukan Mbak Dian terhadapku. Mbak Dian masih saja tersenyum padaku setelah menanyakan apakah aku marah atas tindakannya.

"Enggak kok, Mbak. Kenapa?" jawabku. Saat itu posisi wajah Mbak Dian hanya terpaut 20 cm. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku. Aku mulai memberanikan diri menatap wajah Mbak Dian — wajah yang cantik dengan saputan make-up tipis, tubuh yang bagus. Membuat pikiran ini sudah mulai gelap.

Aku pun mulai berspekulasi kalau aku bisa berbuat lebih kepada Mbak Dian.

Dengan perlahan, tanganku memegang lengan kanan Mbak Dian. "Aku enggak marah kok, Mbak," jawabku sambil tersenyum. "Cuma kaget aja. Kenapa kok Mbak nyium aku?" sahutku lagi.

Mbak Dian cuma tersenyum. "Pengen aja nyium kamu," jawab Mbak Dian sambil tersenyum manis. "Bener-bener cantik nih Mbak Dian," batinku dalam hati.

Selama ini Mbak Dian yang aku hormati ternyata berbuat sesuatu yang semula aku anggap nggak mungkin dilakukannya — apalagi Mbak Dian sudah berpacaran dengan Mas Hendra selama 4 tahun. "Aah, persetan dengan rasa hormat! Rasa hormat ini harus aku buang jauh-jauh."

Aku mulai memberanikan diri melakukan sesuatu yang lebih terhadap Mbak Dian. Aku belai rambutnya sambil berujar, "Yah, nggak nyangka aja, Mbak," seraya secara pelan-pelan mulai kudorong kepala Mbak Dian agar mendekat ke wajahku, hanya sekitar berjarak 10 cm. "Mbak Dian sangat cantik," ujarku.

"Mbak udah lama menyukai kamu, Farid," kata Mbak Dian setengah berbisik.

"Haah, nggak salah, Mbak?" kataku. "Mas Hendra gimana?"

"Huush," kata Mbak Dian sambil menempelkan jarinya ke mulutku, isyarat agar aku tidak membicarakan masalah itu lagi.

Mbak Dian mulai berani berbuat lebih — bibirnya mulai melumat bibirku.

"Hmmmh," dengusnya.

Agak lama kami berciuman. Akupun masih tidak percaya, apakah ini nyata atau cuma mimpi.

Instingku mulai beraksi. Sembari berciuman, aku belai-belai punggungnya yang berbalut baju babydoll yang tipis itu, sementara tangan kiriku membelai rambutnya yang harum.

Dadaku mulai bersentuhan dengan payudara Mbak Dian yang kenyal — terasa sangat hangat.

Sebenarnya sering juga aku bercinta di hotel atau di kos dengan pacar-pacarku yang dulu, tapi dengan Mbak Dian aku merasakan ini suatu kehormatan untuk bisa merasakan hangat tubuhnya.

Dengan posisi aku masih tiduran di lantai sedangkan Mbak Dian duduk menghadap ke arahku, kami terus berciuman. Tangan Mbak Dian masih bertumpu di lantai. Akhirnya ciuman tersebut aku lepas.

"Mbak, ada Rudi lho — nanti kalau ketahuan aku nggak enak," ujarku setengah berbisik sembari melihat Rudi yang sudah tertidur sangat lelap.

"Ke kamar Mbak aja yuk," ajak Mbak Dian sambil memandangku.

Dasar pikiran ini sudah terkotori nafsu, aku hanya mengangguk mengiyakan.

Pelan-pelan kami keluar dari kamar Rudi supaya Rudi tidak terganggu tidurnya.

Sesampai di kamar Mbak Dian, aku tiduran di springbed sementara Mbak Dian menutup pintu kamar dan menguncinya.

"Farid, di kulkas ada bir tuh, kalau mau ambil aja," ujar Mbak Dian sambil mengunci kamar. Kemudian Mbak Dian menuju ruang ganti pakaian. Aku diam saja tidak menjawab.

Aku masih belum bisa percaya 100% kalau yang aku alami malam ini adalah nyata. Pikiranku masih berpikir kalau ini mungkin mimpi.

Akhirnya Mbak Dian keluar dari kamar ganti, mengenakan kain sutera putih tipis. Dia tersenyum manis kepadaku. "Aah, mimpi apa aku semalam."

Mbak Dian kemudian duduk di sebelahku. Sambil menatapku, dia bilang, "Farid, jangan bilang ke Rudi ya," pintanya.

"Iya, Mbak," sahutku pura-pura polos. Ya iyalah, masa aku harus omong ke Rudi kalau mbaknya mau aku tidurin? Gila apa? Bisa dimusuhi seumur hidup aku. Hehe.

"Kamu nggak marah kan, Rid?" tanya Mbak Dian lagi.

"Nggak, Mbak," jawabku dengan menatap wajahnya yang cantik, sembari tanganku mulai memegang lengannya yang hangat dan mengusapnya perlahan-lahan. Kemudian tangan kiriku mulai memegang lengannya yang sebelah kiri dengan lembut. Perlahan-lahan mulai kutarik lengan Mbak Dian supaya badannya mendekat ke arahku. Entah dari mana keberanianku muncul — yang jelas tidak ada akibat tanpa sebab, betul tidak? Sambil berbaring, aku mulai mengecup dahi Mbak Dian, merambat ke mulutnya. Bibir yang hangat itu mulai kulumat dengan lembut. Tangan Mbak Dian mengusap-usap rambutku sembari sesekali memegang pipiku.

Kuberanikan tangan ini meremas-remas pinggul Mbak Dian yang hangat. Mbak Dian pun membalas dengan meremas paha dalamku. Sembari berciuman, tanganku mulai merambat ke pantat Mbak Dian, mengusap dan sesekali meremanya. "Hssssh," gumam Mbak Dian ketika aku meremas pantatnya dengan kencang.

Tiba-tiba Mbak Dian melepaskan ciumannya, kemudian mulai menciumi wajahku. Dikecupnya mataku satu persatu, merambat ke telingaku. Tangannya yang kanan tidak henti-hentinya meremas kemaluanku yang sudah membesar.

"Bajunya dibuka ya, Rid," pintanya.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya