18px

Akal-Akalan di Kamar VIP (Bagian 1)

Akal-Akalan di Kamar VIP (Bagian 1)

Saya seorang pemain bola di kesebelasan tempat tinggal saya. Karena terjadi tabrakan dengan teman, kaki saya mengalami patah tulang ringan dan saya harus dirawat di rumah sakit. Saya berada di kamar kelas VIP, jadi saya bebas untuk melakukan apa saja. Saya sebetulnya sudah sehat tetapi masih belum boleh meninggalkan rumah sakit. Makanya saya bosan tinggal di situ.

Pada pagi hari ketika saya sedang tidur, saya terkejut saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila! Suster yang satu ini cantik sekali.

"Mas Sony udah bangun ya? Gimana tadi malam, mimpi indah?" katanya.

"Ya, Sus, indah sekali. Saya lagi bercinta dengan cewek cantik berbaju putih, dan mukanya mirip Suster lho!" kata saya menggodanya.

"Ah, Mas Sony ini bisa aja. Habis ini Mas mandi ya?" katanya lembut.

Lalu dia membawa handuk kecil, sabun, wash lap, dan ember kecil. Suster itu mulai menyingkap selimut yang saya pakai serta melipatnya di dekat kaki saya. Terbuka sudah seluruh tubuh telanjang saya—saya dengan sengaja tadi melepaskan semua baju dan celana saya. Ketika dia melihat daerah di sekitar kemaluan saya, dia terkejut, karena ukuran kelamin saya serta kepalanya yang di luar normal. Sangat besar, mirip helm tentara Nazi dulu.

Lalu dia mengambil wash lap dan sabun.

"Sus, jangan pakai wash lap. Geli, saya nggak biasa. Pakai tangan Suster yang indah itu saja," kata saya memancingnya.

Suster itu mulai dengan tanganku. Dibasuh dan disabuninya seluruh tangan saya. Usapannya lembut sekali. Sambil dimandikan, saya pandangi wajahnya, dadanya—cukup besar juga kalau saya lihat. Orangnya putih mulus, tangannya lembut. Selesai dengan yang kiri, sekarang ganti tangan kanan. Dan seterusnya ke leher dan dada. Terus diusapnya tubuh saya, sapuan telapak tangannya lembut sekali saya rasakan. Tidak terasa saya memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.

Sampai juga akhirnya pada batang kejantanan saya. Dipegangnya dengan lembut ditambah sabun—digosok batangnya, biji kembarnya, kembali ke batangnya. Saya merasa tidak kuat menahan supaya tetap lemas. Akhirnya batang kemaluan saya berdiri juga—pertama setengah tiang, lama-lama akhirnya penuh juga dia berdiri keras.

Dia bersihkan juga sekitar kepala meriam saya sambil berkata lirih, "Ini kepalanya besar sekali, Mas. Baru kali ini saya lihat kayak gini besarnya. Dikasih makan apa sih kok bisa gini?" katanya manja.

"Sus, enak dimandiin gini," kata saya memancing.

Dia diam saja, tetapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batang kemaluan saya. Sepertinya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan.

"Enak, Mas Sony, kalau diginikan?" tanyanya dengan lirikan nakal.

"Shh.. iya, terusin ahh, Sus.. sampai keluar," kata saya sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.

Tangan kirinya mengambil air dan membilas batang kejantanan saya yang sudah menegang itu, kemudian disekanya dengan tangan kanannya. Kenapa diseka, pikir saya. Tetapi saya diam saja, mengikuti apa yang mau dia lakukan—pokoknya jangan berhenti sampai di sini saja. Bisa-bisa saya pusing menahan nafsu yang tidak tersalurkan.

Lalu dia dekatkan kepalanya dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantanan saya dijilatinya perlahan. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam saya—semilyar dollar rasanya, wow, enak sekali. Lalu dikulumnya batang kejantanan saya. Saya melihat mulutnya sampai penuh rasanya, tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.

Lama juga saya dikulumi suster jaga ini, sampai akhirnya saya sudah tidak tahan lagi. "Croott.. croott.." Nikmat sekali. Sperma saya tumpah di dalam rongga mulutnya dan ditelannya habis. Sisa pada ujung batang kemaluan pun dijilat serta dihisapnya habis.

"Sudah ya, Mas. Sekarang dilanjutkan mandinya ya?" kata suster itu, dan dia melanjutkan memandikan kaki kiri saya setelah sebelumnya mencuci bersih batang kejantanan saya.

Badan saya dibalikkannya dan dimandikan pula sisi belakang badan terutama punggung saya.

Selesai acara mandi.

"Nanti malam saya ke sini lagi, boleh ya, Mas?" katanya sambil membereskan barang-barangnya.

Saya tidak bisa menjawab dan hanya tersenyum kepadanya. Saya serasa melayang dan tidak percaya hal ini bisa terjadi. Terakhir sebelum keluar kamar, dia sempat mencium bibir saya. Hangat sekali.

"Nanti malam saya kasih yang lebih hebat." Begitu katanya seraya meninggalkan kamar saya.

Saya pun berusaha untuk tidur. Nikmat sekali apa yang telah saya alami tadi. Sambil memikirkan apa yang akan saya dapatkan nanti malam, saya pun tertidur lelap sekali.

Tiba-tiba saya dibangunkan oleh suster yang tadi lagi. Tetapi saya belum sempat menanyakan namanya. Baru setelah dia mau keluar kamar selesai meletakkan makanan dan membangunkan saya, dia memberitahukan namanya—rupanya Vina. Cara dia membangunkan saya cukup aneh. Rasanya suster di manapun tidak akan melakukan dengan cara ini. Dia sempat meremas-remas batang kemaluan saya sambil digosoknya dengan lembut, dan hal itu membuat saya terbangun dari tidur. Langsung saya selesaikan makan dengan susah payah. Akhirnya selesai juga, lalu saya tekan bel.

Tidak lama kemudian datang suster yang lain. Saya meminta dia untuk menyalakan TV di atas dan mengangkat makanan saya. Saya nonton acara-acara TV yang membosankan dan semua berita yang ditayangkan tanpa konsentrasi sedikit pun.

Sekitar jam 9 malam, suster Vita datang untuk mengobati luka saya dan harus membuka selimut saya lagi. Pada saat dia melihat alat kelamin saya, dia takjub.

"Nggak salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga!" demikian komentarnya.

"Kenapa emangnya, Sus?" tanya saya keheranan.

"Oh, itu tadi teman-teman bilang kalau punya Mas besar sekali kepalanya," jawabnya.

Setelah selesai dengan mengobati luka saya dan dia akan meninggalkan ruangan, dia sempat membetulkan selimut saya dan menyempatkan mengelus kepala batang kejantanan saya.

"Hmm, gimana ya rasanya?" manjanya.

Dan saya hanya bisa tersenyum saja. Wah, suster di sini gila semua ya, pikirku.

Jam 22:00, kira-kira saya baru mulai tertidur. Saya mimpi indah sekali di dalam tidur saya karena sebelum tidur tadi otak saya sempat berpikir hal-hal yang jorok. Saya merasakan hangat sekali pada bagian selangkangan—tepatnya pada bagian batang kemaluan saya—sampai saya jadi terbangun. Ternyata Suster Vina sedang menghisap senjata saya. Dengan bermalas-malasan, saya menikmati terus hisapannya. Saya mulai ikut aktif dengan meraba dadanya—suatu lokasi yang saya anggap paling dekat dengan jangkauan tangan saya.

Saya buka kancing atasnya, lalu meraba dadanya di balik BH hitamnya. Terus saya mendapati segumpal daging hangat yang kenyal. Saya menelusuri sambil meremas-remas kecil. Sampai juga pada putingnya—saya memilin putingnya dengan lembut dan Suster Vina pun mendesah.

Entah berapa lama saya dihisap dan saya merabai Suster Vina, sampai dia akhirnya bilang, "Mas, boleh ya?" katanya memelas.

"Mangga, Sus, dilanjut?" tanya saya bingung.

Dan tanpa menjawab dia pun meloloskan CD-nya, dilemparkan di sisi ranjang, lalu dia naik ke ranjang dan mulai mengangkangkan kakinya di atas batang kejantanan saya.

"Bless.." Dia memasukkan kemaluan saya pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.

"Aduh, Mas, kontolnya hangat dan enak lho.. ohh.."

Lalu dia pun mulai menggoyang perlahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah, suster ini rupanya sudah profesional sekali. Lubang senggamanya saya rasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani bergerak perlahan—mungkin juga karena saya masih sakit. Lama sekali permainan itu berlangsung dan memang dia tidak mengganti posisi, karena posisi yang memungkinkan hanya satu: saya tidur di bawah dan dia di atas tubuh saya.

Sampai saat itu belum ada tanda-tanda saya akan keluar, tetapi kalau tidak salah, dia sempat mengejang sekali di pertengahan, lemas sebentar, lalu mulai menggoyang lagi. Sampai tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar dan seorang suster masuk dengan tiba-tiba. Kaget sekali kami berdua, karena tidak ada alasan lain—jelas sekali kami sedang main. Apalagi posisinya baju dinas Suster Vina terbuka sampai perutnya, dan BH-nya juga sudah terlepas dan tergeletak di lantai.

Ternyata yang masuk Suster Vita. Dia langsung menghampiri dan bilang, "Teruskan saja, Vin. Gue cuman mau ikutan. Memek gue udah gatel nih!" katanya dengan santai.

Suster Vita pun mengelus dada saya yang agak bidang, lalu mencium seluruh wajah saya dengan lembut. Saya membalasnya dengan meremas dadanya. Dia diam saja, lalu saya buka kancingnya, terus langsung saya loloskan pakaian dinasnya. Saya buka sekalian BH-nya yang berenda tipis dan merangsang. Dadanya terlihat masih sangat kencang—tinggal CD minim yang digunakannya yang belum saya lepaskan.

Suster Vina masih saja dengan aksinya naik turun dan kadang berputar. Saya lihat dadanya yang terguncang akibat gerakannya yang mulai liar. Lidah Suster Vita mulai memasuki rongga mulut saya dan langsung saya hisap ujung lidahnya yang menjulur itu. Tangan kiri saya mulai meraba di sekitar selangkangan Suster Vita dari luar—basah sudah CD-nya. Dengan perlahan saya tarik ke samping dan saya mendapatkan permukaan bulu halus menyelimuti liang kewanitaannya. Saya elus perlahan, baru kemudian sedikit menekan. Ketemu sudah klitorisnya. Agak ke belakang saya rasakan semakin menghangat. Tersentuh olehku kemudian liang nikmat tersebut. Saya raba sampai tiga kali sebelum akhirnya memasukkan jari saya ke dalamnya—sedalam mungkin jari telunjuk saya. Kemudian disusul oleh jari tengah. Saya putar jari-jari saya di dalamnya, baru kemudian saya kocok keluar masuk sambil memainkan jempol saya di klitorisnya.

Dia mendesah ringan, sementara Suster Vina rebahan karena lelah di dadaku dengan pinggulnya tiada hentinya menggoyang kanan dan kiri. Suster Vita menyibak rambut panjang Suster Vina dan mulai menciumi punggung terbuka itu. Suster Vina semakin mengerang, mengerang, dan mengerang, sampai pada erangan panjang yang menandakan dia akan orgasme. Semakin keras goyangan pinggulnya, sementara saya sendiri mencoba mengimbangi dengan gerakan yang lebih keras dari sebelumnya—karena dari tadi saya tidak dapat terlalu bergoyang, takut luka saya menjadi sakit.

Suster Vina mengerang panjang sekali seperti orang sedang kesakitan, tetapi juga mirip orang kepedasan—mendesis di antara erangannya. Dia sudah sampai rupanya, dan dia tahan dulu sementara, baru dicabutnya perlahan. Sekarang giliran Suster Vita—dilapnya dulu batang kemaluan saya yang basah oleh cairan kenikmatan, dikeringkan, baru dia mulai menaiki tubuh saya.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya