18px

Akal-akalan: Dua Suster dan Sang Dokter

Akal-akalan: Dua Suster dan Sang Dokter

Ketika Suster Vita telah menempati posisinya, saya melihat Suster Vina mengelap liang kemaluannya dengan tisu yang diambilnya dari meja kecil di sampingku. Suster Vita seakan menunggang kuda, menggoyang maju mundur, perlahan tapi penuh kepastian. Makin lama, makin cepat iramanya. Sementara itu, kedua tangan saya asyik meremas-remas dadanya yang mengembung indah. Kenyal sekali rasanya, cukup besar ukurannya, dan lebih besar dari milik Suster Vina. Yang ini tidak kurang dari 36C.

Sesekali saya mainkan putingnya yang mulai mengeras. Dia mendesis — hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Desisan itu sungguh manja kurasakan, sementara Suster Vina telah selesai membersihkan liang hangatnya. Kemudian dia mulai lagi mengelus-elus tubuh telanjang Suster Vita dan memainkan rambutku, mengusapnya. Setelah pemanasan yang cukup, dia mulai menaiki ranjang lagi. Dikangkangkannya kakinya yang jenjang di atas kepala saya, setengah berjongkok menghadap tembok, kedua tangannya berpegangan pada bagian kepala ranjang.

Mulai disorongkannya liang kenikmatannya yang telah kering ke mulut saya. Dengan cepat saya julurkan lidah, lalu saya colek sekali dan menarik napas. "Hhmm..." — bau khas kewanitaannya. Saya jilat liangnya dengan lidah saya yang memang terkenal panjang. Saya mainkan lidah saya; mereka berdua mengerang bersamaan, kadang bersahutan. Saya lihat lubang pantatnya yang merah agak terbuka, lalu saya masukkan jempol ke dalam lubang itu.

Suster Vina merintih kecil, "Auuwww... Mas nakal deh!"

Lalu saya jilati lubang pantatnya yang sudah mulai basah itu. Namun tiba-tiba, "Tuutt!"

Saya kaget. "Suster kentut ya?" tanya saya.

Suster Vina tertawa kecil lalu minta maaf. Kemudian saya teruskan jilatan saya.

Lama sekali permainannya, sampai tiba-tiba Suster Vita mengerang panjang dan mengejang. Setelah Suster Vita selesai, dia mencabut batang kejantanan saya, sementara lidah saya tetap menghajar liang kenikmatan Suster Vina. Sesekali saya menjilati klitnya. Dia menggelinjang setiap kali lidah saya menyentuh sana. Mendengar desisan Suster Vina yang sudah lemas, saya menyudahi permainan ini. Saya lunglai rasanya setelah menghabisi dua suster sekaligus.

"Kasihan Mas Sony, nanti sembuhnya jadi lama... soalnya nggak sempat istirahat!" kata Suster Vina.

"Iya, dan kayaknya kita akan setiap malam rajin minta giliran seperti malam ini," sahut Suster Vita.

"Kalau begitu dibuat sistem arisan saja," kata Suster Vina dengan nada yang terdengar sadis.

"Emangnya gue piala bergilir apa?" kata saya dalam hati.

Malam itu saya tidur lelap sekali. Saya sempat minta Suster Vina menemani tidur, dan saya berjanji setiap malam mereka mendapat giliran menemani saya, tentunya setelah mendapat jatah batin. Malam itu kami tidur berdekapan mesra seperti pengantin baru, sama-sama polos. Sampai jam empat pagi, dia minta jatah tambahan dan kami pun bermain satu lawan satu — tidak keroyokan seperti semalam. Hot sekali dia pagi itu; kami lebih bebas. Namun yang kacau adalah setelah selesai. Saya merasa sakit karena luka kaki saya menjadi berdarah lagi. Terpaksa ketahuan juga sama Suster Vita kalau ada sesi tambahan, dan mereka berdua pun ramai-ramai mengobati luka saya, sambil masih ingin melihat kejantanan dahsyat yang telah meluluh-lantakkan tubuh mereka semalaman.

Setelah itu, sekitar jam lima pagi, saya kembali tidur sampai pukul tujuh lewat dua puluh. Saya dibangunkan untuk mandi pagi — dan mandi pagi dibantu oleh Suster Vita, yang sempat menghisap sampai selesai di dalam mulutnya.

Pada pagi harinya, Dokter Vivi melihat keadaan saya.

"Gimana, Mas Sony, masih sakit kakinya?" katanya.

"Sudah lumayan, Dok," kata saya.

"Sekarang coba kamu tarik napas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya!"

Dengan stetoskopnya, Dokter Vivi memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada saya, seketika suatu aliran aneh menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, batang kejantanan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter Vivi tahu. Untung dia tidak memperhatikan gerakan di balik selimut saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya — apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati — semakin membuat batang kejantanan saya bertambah tegak, hingga cukup menonjol di balik selimut.

"Wah, kenapa kamu ini? Kok itu berdiri? Terangsang sama saya ya?" katanya.

Mati deh! Ternyata Dokter Vivi mengetahui apa yang terjadi di selangkangan saya.

Lalu dia tiba-tiba membuka selimut sambil berkata, "Sekarang saya mau periksa kaki Mas..."

Dan terpampanglah kemaluan saya yang besar di hadapannya.

Dokter Vivi tertawa melihat batang kejantanan saya yang besar dan mengeras itu.

"Uh, kontol Mas besar ya?" katanya sembari mengelus kemaluan saya dengan tangannya yang halus.

Wajah saya menjadi bersemu merah, sementara tanpa dapat dicegah lagi, senjata saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter Vivi. Dia masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kejantanan saya dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas biji kembar saya.

"Mmm... Mas pernah bermain?" katanya manja.

Saya menggeleng, berpura-pura tidak.

"Aahh..." saya mendesah ketika mulut Dokter Vivi mulai mengulum kemaluan saya.

Dengan lidahnya yang sudah mahir, digelitiknya ujung kemaluan saya, membuat saya menggelinjang. Hampir seluruh kemaluan saya masuk ke dalam mulut Dokter Vivi yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya kemaluan saya — terasa geli dan nikmat sekali.

Dokter Vivi melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan kejantanan saya dari dalam mulutnya berulang-ulang, naik-turun. Gesekan antara kemaluan saya dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi saya.

"Auuh... aahh..." Akhirnya saya sudah tidak tahan lagi.

Batang kemaluan saya menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter Vivi. Bagai kehausan, ia meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.

"Duh, masa baru begitu saja Mas sudah keluar," Dokter Vivi meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.

"Dok... saya... baru pertama kali... melakukan ini..." jawab saya terengah-engah. Dan memang saya akui, hisapannya lebih hebat dari kedua suster tadi malam.

Dokter Vivi tidak menjawab. Ia mencopot jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblongnya, juga celana jins-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang seperti sudah tidak sabar ingin meloncat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat sewaktu Dokter Vivi mencopot BH-nya dan memelorotkan celananya. Astaga — sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendur atau lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya, masih menggumpal bulat, montok, dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah saya lihat. Saya merasakan batang kejantanan saya mulai bangkit lebih tinggi menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.

Dokter Vivi kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Mulut saya langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot putting susunya yang tinggi itu, saya teringat ketika menyusu pada kedua suster tadi malam.

"Uuuhh... aahh..." Dokter Vivi mendesah tatkala lidah saya menjilat-jilati ujung puting susunya yang begitu menantang.

Saya permainkan puting susu yang menggiurkan ini dengan bebas. Sesekali saya gigit — tidak cukup keras, namun cukup membuat Dokter Vivi menggelinjang sambil meringis-ringis.

Tidak lama kemudian, saya menarik tangan Dokter Vivi agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter Vivi memahami maksud saya. Ia langsung naik ke atas tubuh saya yang terbaring telentang. Perlahan, dengan tubuh sedikit menunduk, ia mengarahkan kemaluan saya ke lubang kewanitaannya yang di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kejantanan saya masuk dua sentimeter, ia menurunkan pantatnya sehingga senjata saya hampir tertelan seluruhnya di dalam lubang surganya. Saya melenguh keras dan menggelinjang cukup kencang waktu ujung kepala kemaluan saya menyentuh pangkal rahim Dokter Vivi. Menyadari bahwa saya semakin terangsang, Dokter Vivi menambah kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya, berputar ke kiri ke kanan dan naik turun, semakin lama semakin tinggi temponya. Tubuh saya meregang merasakan kenikmatan yang bukan main.

Saya merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang keperkasaan saya sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba menahannya sekuat tenaga sambil berusaha mengimbangi permainan Dokter Vivi yang liar itu.

Akhirnya, "Aaahh!" jerit saya.

"Ouuhh!" desah Dokter Vivi.

Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Saya menyemprotkan air mani di dalam liang rahim Dokter Vivi yang masih berdenyut-denyut menjepit keperkasaan saya.

Lalu wajah, mata, dahi, dan hidung saya habis diciumi oleh Dokter Vivi sambil berkata, "Terima kasih, Mas Sony... ohh, endangg!"

Tidak lama kemudian kami tertidur dalam posisi yang sama — kakinya melingkar di pinggang saya, memeluk tubuh saya dengan hangat. Nah, itulah cerita saya.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya