Aku dan Adik Iparku
Aku dan Adik Iparku
Namaku Darma. Aku seorang pria berumur 33 tahun. Aku tinggal di rumah mertuaku bersama bapak dan ibu mertua, istri dan anakku, serta saudara kembar istriku yang bernama Bella.
Suami Bella adalah seorang yang keras dan suka main pukul. Dalam pernikahannya, Bella harus mencari nafkah sendiri karena semenjak suaminya tak tinggal di rumah itu lagi, sang suami tidak pernah memberi nafkah.
Karena hanya tamatan SMA, Bella minta agar diajari komputer. Dengan persetujuan istriku, aku mengajarinya komputer setiap hari sehingga antara aku dan Bella semakin hari semakin akrab. Bahkan anak Bella pun juga semakin manja kepadaku; hal ini tentu saja membuat Bella semakin senang.
Suatu ketika, di rumah hanya ada ibu mertuaku, aku, dan Bella, karena saat itu istriku berada di rumah kakaknya sementara bapak mertuaku pergi ke kelurahan. Bella keluar dari kamarnya dengan mengenakan kaos tanpa lengan dan celana yang sangat pendek, lalu mengetuk pintu kamarku. Tapi karena tak ada jawaban, Bella pun masuk ke dalam kamarku. Pada saat itu aku sedang tidur dengan hanya memakai celana pendek tanpa celana dalam, sehingga si "Rocky" yang lagi tegang-tegangnya jadi terlihat jelas.
Sebenarnya aku tidak benar-benar dalam kondisi tidur; aku tahu waktu Bella mengetuk pintu kamarku, tapi aku sengaja diam dan berpura-pura tidur agar Bella masuk ke kamarku, karena pagi itu aku berjanji untuk mengajarinya komputer lagi. Dan "Rocky"-ku bangun karena memang aku membayangkan sedang bercinta dengan Bella. Ketika Bella masuk ke kamarku, aku tidur menghadap ke arah kaca besar yang ada di samping tempat tidur. Jadi saat Bella membangunkan aku dengan menggoyang-goyang pundakku, aku pun pura-pura bangun membuka mata sambil mengubah posisi tubuh menjadi terlentang. Saat itulah, sebelum aku sempat bertanya "Ada apa, Bel?"—
Bella lebih dulu berkomentar, "Ih, pagi-pagi 'itu' kamu kok masih berdiri tegak sih? Semalam nggak dapat jatah dari Manda?" (Amanda adalah nama istriku.)
Aku pun menjawab, "Bukan nggak dapat jatah, tapi gara-gara aku mimpi bercinta dengan seorang wanita yang bukan istriku. Nah, tadi itu lagi seru-serunya, tahu-tahu kamu bangunin aku — mimpiku jadi rusak karena kamu!"
Sekarang Bella duduk di bagian tepi ranjangku, kemudian dia berkata, "Iya deh, sorry, aku nggak sengaja. Tapi kalau boleh tahu, kamu mimpi bercinta sama siapa?"
Aku menjawab, "Nggak ah, nanti kamu bilangin ke Manda, bisa gawat aku."
Kata Bella, "Kalau kamu nggak mau ngomong, malah aku laporin sama istrimu. Ayo ngomong, sama siapa?" Bella berkata begitu sambil mencubit pinggangku. Karena merasa sakit, aku memegang tangan Bella dan menariknya hingga dia jatuh di atas dadaku.
Aku pun segera melum telinganya hingga dia menggelinjang tak karuan dan membisikkan di telinganya, "Aku mimpi bercinta sama kamu, cantik."
Matanya melotot kaget. Tanpa memberinya kesempatan, aku segera melumat bibirnya, memainkan lidahku di dalam mulutnya. Bella meronta-ronta; akhirnya aku mengendurkan pelukanku ke tubuhnya. Akhirnya dia bertanya, "Bagaimana dengan Manda?" Aku pun menjawab, "Ber... itu nanti akan aku jelaskan padanya."
Aku tak mau kesempatan emas ini hilang sia-sia. Maka tanpa banyak bicara, aku melumat bibir Bella dengan penuh perasaan; tanganku mengusap-usap punggungnya. Dari bibir, mulutku pindah ke lehernya dan telinganya. Bella memeluk tubuhku dengan erat sementara bibirku terus menjelajah bibir, leher, dan telinganya. Aku berkata kepadanya, "Cantik, kaosnya kubuka ya?" Dia hanya mengangguk, dan tanpa bertanya lagi aku juga melepas celana pendek dan celana dalamnya, kemudian membuka celanaku sendiri.
Aku menyuruh Bella tengkurap. Sungguh indah tubuhnya yang putih mulus itu kupandangi dari belakang — mulai betis, paha, pantat, punggung, hingga rambutnya yang panjang. Aku menghisap jempol kaki Bella bergantian, dari kanan lalu kiri, sambil tanganku membelai lembut betis dan pahanya. Mendapat perlakuan seperti itu, Bella hanya mendesis dan mengerang, "Oouuchh... sssssshhh... Darma, sayang... kamu apakan aku... sssshhhh... oooucchh."
Lalu aku menciumi dan menjilati betis dan pahanya, mulai dari bawah naik ke atas, lalu turun lagi pelan-pelan ke bawah. Puas dengan itu, aku menaiki tubuhnya dari belakang. Bella masih tengkurap sehingga "Rocky"-ku mengganjal di bongkahan pantatnya. Aku menciumi leher, punggung, dan telinganya, sementara tangan memainkan puting susu Bella sambil menekan-nekankan "Rocky" ke pantat si Bella.
Merasa ada yang mengganjal di bongkahan pantatnya, Bella mengangkat pinggulnya sehingga "Rocky"-ku makin kuat menekan pantatnya. Sambil mendesis, Bella berkata, "Sayang, masukkan aja... ssssh... aku udah nggak kuat."
Aku membalik tubuh Bella, tapi bukan untuk memasukkan torpedoku ke dalam Miss V-nya Bella — melainkan aku memutar badanku hingga mulutku tepat berada di depan Miss V-nya Bella, dan torpedo si "Rocky" tepat berada di wajah Bella. Aku mulai menjilat dan menghisap klitoris Bella. Bella menggelinjang dan mendesis, "Sssssshhh... ouuh... sayang... enak sekali." Akhirnya aku merasakan ada yang basah dan hangat di torpedoku; ternyata Bella mengulum dan menjilat torpedoku dengan lembut, membuat aku jadi melenguh keenakkan. Aku terus bermain-main dengan klitoris Bella hingga tiba-tiba Bella menyedot torpedoku dengan kuat dan menggeram keras, menjepit kepalaku kuat-kuat dengan pahanya yang putih mulus. "Hhhhhhh... arrrgggghh..." Dari Miss V Bella keluar banyak cairan kenikmatan.
Bella melepaskan torpedoku dan berkata dengan napas yang tersengal-sengal, "Sayang, masukkan punyamu ini... aku pingin merasakan punyaku dimasuki." Sambil mencium bibirnya dengan mesra, aku berkata, "Aku akan memuaskanmu, sayang."
Torpedoku sudah bersiap-siap meluncur masuk ke sarangnya; aku tekan dengan kuat tapi sulit untuk masuk, padahal Miss V-nya sudah benar-benar basah. Bella merintih, "Pelan-pelan, sayang, punyamu kegedean." Aku pun membuka paha Bella lebih lebar dan dengan perlahan mulai mendorong masuk punyaku ke Miss V-nya Bella. Setelah berhasil masuk seluruhnya, aku memainkannya dengan lembut agar Bella terbiasa, sambil jempolku bermain-main di klitorisnya. Bella mendesah dan meracau tak karuan, "Ouuuggh... aduh, penuh sekali... esshh... enak sekali, sayang... goyang lebih cepat, aku nggak kuat... aku mau orgasme lagi."
Aku pun menggoyang pantatku, menarik maju mundur, membuat kemaluan Bella semakin banjir oleh cairan kenikmatannya hingga akhirnya Bella memekik tertahan dengan menggigit pundakku. "Ooooh... hhhmmmp... sayang, aku keluar... oocch... aku pingin teriak rasanya... hhhhmmmppp... sssshh."
Aku tak mengiraukan pundakku yang sakit karena digigit; aku semakin mempercepat kocokkan torpedoku di vagina Bella hingga Bella semakin merintih tak karuan dengan mata terpejam dan terbuka, hanya terlihat putihnya saja. Sepuluh menit kemudian, dengan mengejang sekuat-kuatnya Bella mendorong tubuhku, memaksa aku menarik torpedo, karena saat itu Bella mendapatkan orgasmenya yang ketiga sambil terkencing-kencing dengan tubuh menggeliat-liat tak karuan. "Hhhhmmmmp... ssssshhh... aaaakh... aduh... eeenak sekali, sayang... aku nggak pernah seperti ini."
Dengan mencium bibirnya, aku katakan padanya bahwa apa yang barusan terjadi adalah squirting, dan itu lebih enak dari orgasme yang biasa. Ketika sedang asyik-asiknya menciumi Bella, tiba-tiba aku mendengar ibu mertuaku memanggil nama Bella.
Tamat