Bab 1
Aku dan Ibu Mertuaku
Tubuhku mengejang dan batang kontolku berkejut-kejut di lubang nikmat ibu mertuaku, menyemburkan mani dalam jumlah yang sangat banyak. Di saat bersamaan, ibu mertuaku pun kembali mendapatkan orgasmenya yang ketiga, hingga akhirnya kami sama-sama terkapar.
Sejak itu, aku dan ibu mertuaku selalu mengulang permainan panas yang memabukkan. Aku tak lagi harus menahan derita pusing kepala karena Neni tak mau memberi jatah layanan ranjangnya. Dan ibu mertuaku pun nampaknya sangat menikmati. Layaknya suami istri, kadang bahkan ibu mertuakulahlah yang meminta duluan.
"Punya kamu marem banget sih Hen, jadi ibu suka ketagihan," ujarnya memberi alasan.
Meski begitu, ia tetap berusaha keras untuk selalu bersikap wajar di hadapan Neni, sehingga perbuatan kami lancar-lancar saja dari waktu ke waktu.
Seperti malam itu, aku harus lembur sampai larut dengan komputerku karena besok sejumlah laporan harus sudah tersaji di meja pimpinan. Baru saja aku mau mulai menyelesaikan berkas terakhir, pintu kamar tamu tempatku bekerja terbuka. Ibu mertuaku masuk, membawa segelas besar kopi panas dan pisang keju kegemaranku.
"Masih banyak lemburannya Hen, itu kopinya diminum dulu biar segar," ujar ibu mertuaku sambil memijat pundakku dari belakang.
Sikapnya yang lembut dan penuh perhatian, layaknya istri yang berbakti kepada suami, membuatku senang bermanja padanya. Sambil menyandarkan tubuh, kunikmati pijatan tangannya yang lembut.
"Eehh, kok malah kesenengan, nanti ketiduran. Itu kopinya diminum dan lanjutkan kerjanya, nanti nggak selesai. Ibu mau lihat Lani di kamar," ujarnya lagi ketika melihatku terkantuk-kantuk karena pijatannya.
Namun sebelum ia keluar kamar, aku sempat meraih tangannya. Kutarik dan kupaksa duduk di pangkuanku. Kupagut bibirnya dan tanganku langsung meliar ke bagian tubuhnya yang paling kusuka. Di balik dasternya, mertuaku ternyata tidak memakai BH maupun celana dalam. Kuremas pelan buah dadanya dan kupilin-pilin putingnya, sementara telapak tanganku yang lain telah menelusup ke selangkangannya dan menemukan kemaluannya yang tidak terbungkus CD.
"Ibu sudah kepingin ya. Kok nggak pakai BH dan CD?" ujarku berbisik di telinganya.
Jari tengah tanganku berhasil masuk ke lubang vaginanya โ terasa hangat dan basah. Ia menggelinjang, dan kurasakan jemari tangannya mencengkeram penisku yang mulai bangkit. Aku memang hanya bersarung dan juga tidak pakai CD.
"Tapi kamu kan lagi kerja, Hen," ia menjawab lirih sambil mendesah.
Besar juga nafsu ibu mertuaku ini, pikirku dalam hati.
"Sudah hampir rampung kok, Bu. Biar pagi-pagi sebelum berangkat saya selesaikan," kataku.
Nafsu ibu mertuaku memang benar-benar besar. Tak kusangka wanita seusia dirinya masih memiliki gairah yang cukup tinggi. Terbukti, setelah melepas daster yang dikenakan, ia langsung memerosotkan kain sarungku. Rudalku yang telah tegak mengacung langsung dijadikan sasaran. Wanita yang kini bertelanjang bulat itu, sambil berjongkok, mulai mengelus dan mengocok pelan penisku.
"Punya kamu besar banget dan kekar, Hen. Ibu benar-benar ketagihan," katanya sambil mengagumi kejantananku โ yang notabene adalah menantunya sendiri.
Tak puas hanya meremas dan mengocok, ia mulai melumat batang penisku dengan mulutnya. Disapu-sapunya sesaat kepala penisku dengan lidahnya, lalu dikulumnya dengan nikmat tongkat komandoku itu. Luar biasa nikmat kuluman ibu mertuaku, terlebih ketika ia mulai menghisap-hisapnya. Aku menggelinjang menahan gairah dan kenikmatan yang diberikan.
"Aakkhh... enak banget, Bu. Oohh... ya... ya terus... terus hisap... aahh," rintihku sambil memegangi dan meremas rambut kepala ibu mertuaku.
Aksi mulut ibu mertuaku di selangkanganku semakin menjadi. Setelah melepaskan kulumannya pada batang penisku, ia mengalihkan sasarannya ke kantong kemenyan kontolku. Biji-biji pelirku dicerucupinya dengan lahap. Bahkan tanpa sungkan, lubang anusku ikut dijilatinya sekalian. Aku jadi kelabakan menahan nikmat tak terkira, terlebih ketika ujung lidahnya seperti hendak menyodok menerobos masuk ke lubang duburku. Pertahananku nyaris jebol kalau saja tak segera kuhentikan aksinya itu.
Kami berganti posisi. Kuminta ia duduk mengangkang di kursi yang tadi kududuki. Kemaluan ibu mertuaku nampak besar dan cembung, kelimis tanpa rambut โ nampaknya baru habis dicukur. Bibir kemaluannya yang tebal coklat kehitaman nampak berkerut-kerut. Namun hal itu tidak sedikit pun menghalangi gairahku untuk segera melahapnya. Mulutku langsung menciumi dan mencerucupinya, lalu kugunakan lidahku untuk menyapu dan menjilatinya.
Ia menggelinjang menahan nikmat akibat sentuhan mulut dan lidahku di liang sanggamanya. Lubang memek ibu mertuaku tambah basah bercampur ludah yang keluar dari mulutku. Sesekali kelentitnya kujepit dengan dua bibirku dan kutarik-tarik, lalu kuhisap dan kusedot.
"Aauuww... Hen, kamu apakan ibu? Ahh... enak banget, Hen. Ibu nggak pernah merasakan yang seperti ini, sayang. Ya... ya... terus... terus hisap dan jilat, sayang. Ibu bisa gila, Hen... ya... ya... aahh... nikkhhmmaatt," rintih ibu mertuaku.
Reaksinya makin menjadi ketika lubang duburnya kujadikan sasaran jilatan lidahku. Ia menggelepar seperti cacing kepanasan dan mulutnya menceracau tak karuan.
"Oohh... ibu enak banget, Hen, terus... eenaakk... ssshh... terus jilat, sayang... ya... ya... terus jilat... enak, sayang... aahh... enak banget," ia merintih sambil menjambaki rambutku.
Aku takut suara ibu sampai membangunkan Neni di kamarnya. Maka untuk meredam suaranya, kusodorkan jari telunjuk tangan kananku ke mulutnya agar ia menghisapnya.
Sesaat upayaku berhasil setelah mulutnya tersumpal jari telunjukku โ mulutnya tidak lagi menceracau dan mendesis seperti ular cari mangsa yang bisa membangunkan Neni. Bahkan ia mulai menghisap-hisap jariku, yang membuatku semakin menikmati acara pemanasan itu. Tetapi ketika ujung lidahku mulai mencucuk lubang duburnya, reaksinya kembali menggila. Ia mengerang tertahan dengan suara yang cukup keras.
"Aakkhh... enak bangeett, Hen! Aakkhh, ssshh โ ibu nggaak kuat... nggaakk kuat dan mau keluar, Hen," rintihnya makin menjadi.
Aku tahu, itu pertanda ia tak dapat lagi membendung gairahnya. Tak ingin menyiksanya terlalu lama, segera kuhentikan jilatan lidahku di lubang anusnya. Lagian aku juga sudah ingin menikmati kelegitan vaginanya. Maka penisku yang telah tegak mengacung langsung kuarahkan ke kemaluan mertuaku. Kepala penisku yang membonggol besar kugesek-gesekkan di bibir kemaluannya, lalu kutekan โ bblleess, sekali dorong langsung amblas tertelan di lubang nikmat itu.
Posisiku yang berdiri sementara ibu mertuaku duduk mengangkang di kursi sangat memungkinkanku untuk melakukan berbagai manuver. Maka dengan semangat penuh, segera kugenjot tubuh mertuaku. Batang penisku langsung menyodok-nyodok, keluar masuk di dalam liang sanggamanya.
Sebagian bibir dalam vagina ibu mertuaku seperti ikut tertarik keluar bersama penisku dan kembali masuk ke dalam saat kudorong. Mungkin karena ukuran kontolku yang kelewat besar, atau karena bibir bagian dalam vagina ibu mertuaku yang telah menggelambir. Terus terang, vagina ibu mertuaku lebih enak dibanding milik Neni, anaknya yang juga istriku.
"Kontolmu gede banget, Hen... aahh... ssshh... oouukkhh... punya ibu seperti mau jebol. Tapi bener-bener enak, sayaang... aakkhh terus, sayang... enak banget," mulutnya kembali menceracau.
"Saya juga suka sama memek ibu. Ssshh... aakkhh... tebal, keset, dan legit. Saya suka banget ngentot sama ibu," ujarku tak mau kalah.
"Jadi meskipun Neni nggak mau melayani, kamu nggak akan cari wanita lain kan?" katanya.
"Pasti, Bu, kan sudah ada ibu! Kalau ibu mau terus melayani, saya akan terus sayang sama Neni dan ibu."
"Tentu, sayang, tentu. Ibu suka banget dientotin sama kamu, Hen. Aahh... aahh... ssshh... ookkhh... enak bangat. Aahh... aahh... ssshh... ssshh... ibu mau keluar, sayang... ya... ya terus, sayang," mata ibu mertuaku kulihat melebar-lebar dan mulutnya makin mendesis.
Aku jadi kian semangat melihat ia hampir menggapai puncak kenikmatannya. Sodokan penisku di lubang memeknya semakin kupercepat sambil tanganku meremas gemas buah dadanya yang terguncang-guncang.
Akhirnya, seiring dengan puncak kenikmatan yang kudapat, kurasakan tubuh ibu mertuaku mengejang. Lalu memeknya terasa mengempot dan menyedot penisku.
"Ibu keluar... Hen... aahh... aahh โ ibu keluar... ssshh... aahh โ enak banget, sayang... enaakk banget," rintihan ibu mertuaku meninggi karena orgasmenya telah tiba.
Akupun tak mau kalah โ penisku berkedut-kedut di lubang nikmat ibu mertuaku. Pertahananku ambrol setelah maniku menyembur di memek ibu.
"Saya juga keluaarrhh, Bu... aahh... ssshh... ssh โ ayo jepit, Bu, terus jepit dengan memek ibu โ aahh enak banget... ssshh... aahh... aakkhh."
Suasana hening sesaat. Karena kecapaian, akhirnya kami pulas tertidur sambil berpelukan. Entah sampai kapan hubungan sumbang kami ini akan berakhir.
TAMAT