Aku dan Tiga Wanita Cantik
Aku dan Tiga Wanita Cantik
Cerita ini berawal dari perkenalanku dengan seorang wanita karir yang, entah bagaimana ceritanya, mengetahui nomor kantorku.
Siang itu, saat aku hendak makan siang, tiba-tiba telepon lineku berbunyi. Operator memberitahu saya kalau ada telepon dari seorang wanita yang tidak mau menyebutkan namanya. Setelah kuangkat, terdengar suara yang sangat manja.
"Halo, selamat siang, Joko," sapanya.
"Halo juga, siapa ya ini?" tanyaku serius.
"Namaku Karina," kata wanita itu memperkenalkan diri.
"Maaf, Mbak Karina tahu nomor telepon kantor saya dari mana?" tanyaku menyelidiki.
"Aku temannya Yanti dan dari dia aku dapat nomor kamu," jelasnya.
"Ooo, Yanti," kataku datar.
Aku teringat kisahku sebelumnya yang berjudul "Empat Lawan Satu". Yanti adalah seorang wanita karir yang juga pernah mewarnai kehidupan seks aku.
"Gimana kabarnya Yanti? Di mana dia sekarang?" tanyaku.
"Baik. Sekarang dia tinggal di Surabaya. Dia titip salam kangen sama kamu," jelas Karina.
Sekitar sepuluh menit kami berdua mengobrol layaknya orang yang sudah lama kenal. Suara Karina yang lembut dan manja membuat aku menerka-nerka bagaimana rupanya. Saat aku tengah melamun membayangkannya, Karina memutus lamunanku.
"Halo, Joko, kamu masih di situ?" tanya Karina.
"Iya, iya, Mbak," kataku gugup.
"Hayo, mikirin siapa? Lagi mikirin Yanti, ya?" tanyanya menggodaku.
"Nggak kok, malah mikirin Mbak Karina tuh," celetukku.
"Masa sih? Aku jadi ge-er deh," balasnya dengan nada menggoda.
"Joko, boleh nggak aku bertemu kamu?" tanya Karina.
"Boleh saja, Mbak. Bahkan aku senang bisa bertemu kamu," jawabku bersemangat.
"Oke deh, kita ketemuan di mana nih?" tanyanya.
"Terserah Mbak deh. Joko ngikut saja," jawabku pasrah.
"Oke, nanti sore aku tunggu kamu di McDonald's Plaza Senayan. Jam 18.30, ya," katanya, lalu sambungan pun terputus.
Aku segera meluncur ke kantin untuk makan siang yang sempat tertunda. Sambil makan, aku membayangkan bagaimana wajah wanita yang baru saja meneleponku. Setelah selesai, aku langsung kembali ke kantor untuk melanjutkan aktivitas.
Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Tiba saatnya aku pulang kantor dan meluncur ke Plaza Senayan. Sebelumnya, aku mandi dan membersihkan diri di kantor karena tidak mau bertemu wanita dalam keadaan kotor dan bau badan.
Tiba di Plaza Senayan, aku memarkirkan mobil Kijangku di lantai dasar. Jam menunjukkan pukul 18.15. Aku segera menuju McDonald's seperti yang dikatakan Karina dan mengambil tempat duduk di sisi pagar, sehingga bisa melihat orang lalu-lalang di area pertokoan itu.
Saat mataku menyapu sekeliling, pandanganku terhenti pada seorang wanita setengah baya yang duduk sendirian. Menurut perkiraanku, ia berumur sekitar 32 tahun. Wajahnya lumayan putih dan cantik. Mataku yang nakal menjelajahi tubuhnya yang indah, terutama bagian dada yang menonjol. Kakinya yang jenjang, ditambah belahan pahanya yang putih dan montok di balik rok mininya, membuat aku semakin gemas. Dalam hati, betapa bahagianya aku bila wanita itu adalah orang yang menghubungiku tadi siang.
Tiba-tiba wanita itu berdiri dan menghampiri mejaku. Dadaku berdegup kencang ketika ia benar-benar mengambil kursi semeja denganku.
"Maaf, apakah kamu Joko?" tanyanya sambil menatapku.
"Iy-iya. Kamu pasti Karina," kataku balik sambil berdiri dan mengulurkan tangan.
Jarinya yang lentik menyentuh tanganku untuk bersalaman, dan darahku terasa berdesir ketika tangannya yang lembut meremas tanganku dengan penuh perasaan.
"Silakan duduk, Karina," kataku sambil menarik kursi di depanku.
"Terima kasih," kata Karina sambil tersenyum.
"Dari tadi kamu duduk di situ, kok tidak langsung ke sini?" tanyaku.
"Aku sempat ragu-ragu apakah kamu memang Joko," jelasnya.
"Aku juga tadi berpikir apakah wanita cantik itu adalah kamu," kataku sambil tersenyum.
Kami bercerita panjang lebar tentang apa saja. Kadang bercanda, saling menggoda, dan sesekali bicara yang menyerempet ke arah seks. Lesung pipinya yang dalam menambah kecantikan wajahnya yang semakin matang.
Dari pembicaraan itu terungkaplah bahwa Karina adalah seorang wanita yang sedang bertugas di Jakarta selama empat hari.
"Karin, kamu kenal Yanti dari mana?" tanyaku.
Yanti adalah teman chattingku di YM. Kami sering online bersama dan terbuka satu sama lain dalam hal apa pun, termasuk masalah rumah tangga maupun seks.
"Emangnya Yanti menikah kapan? Aku kok nggak pernah diberitahu," tanyaku penasaran.
"Dia menikah dua minggu yang lalu. Aku juga tidak tahu kenapa dia tidak memberi tahu kamu sebelumnya," jawabnya penuh pengertian.
"Ooo, begitu," kataku sambil mengangguk-angguk.
"Ini hari pertamaku di Jakarta. Aku berencana menginap empat hari sampai urusan kantorku selesai," jelasnya.
"Sebenarnya tadi Yanti juga mau datang, tapi ada acara keluarga. Kemungkinan dia bisa datang besok," lanjutnya.
"Mbak Karina menginap di mana nih?" tanyaku penasaran.
"Kantor sudah memesan kamar untukku di Hotel H," jelasnya.
"Mmm, sendirian?"
"Ya sendirian, Joko. Makanya aku tanya Yanti apakah dia punya teman yang bisa menemaniku selama di Jakarta. Dari situlah aku dapat nomor telepon kamu," katanya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.25 WIB. Pertokoan di sekitar kami sudah mulai sepi karena hari sudah larut.
"Jok, kamu mau anter aku balik ke hotel nggak?" tanyanya.
"Boleh. Masa iya aku tega biarin kamu balik sendirian," kataku.
Setelah obrolan singkat, kami segera menuju parkiran dan meluncur ke Hotel H yang tidak jauh dari Plaza Senayan. Di lift menuju lantai lima, aroma parfumnya yang menggoda membuat syaraf kelelakianku serasa memberontak.
Sesampainya di depan kamarnya, Karina menawarkanku untuk masuk sejenak. Namun ketika aku masuk, ternyata ada dua wanita lain yang sedang asyik bergosip dan tersenyum ke arahku. Dalam batinku, aku ternyata dibohongi — dia tidak sendirian. Karina memperkenalkan kedua temannya: Miranda, berbadan tinggi dengan payudara besar (36B), dan Dahlia, bertubuh sangat seksi dengan ukuran yang sama. Mereka pun mempersilakan aku duduk.
Tanpa dikomando, mereka perlahan mulai membuka pakaian satu per satu. Aku hanya bisa melotot tak berkedip. Tak terasa, hasratku pun langsung bangkit. Setelah mereka telanjang bulat, Karina langsung menciumku dengan ganas sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Aku berusaha menghentikannya, namun ia memohon agar aku memberikan kenikmatan seperti yang pernah kuberikan kepada Yanti dan kawan-kawan.
Karina menciumku lagi dengan garang. Aku pun membalasnya sama ganasnya, lidah kami beradu, saling menghisap. Sementara itu, Miranda mengulum penisku ke dalam mulutnya, mengocoknya sampai aku tak kuasa menahan desahan.
"Aaahh, enak, Mir, terus, hisap terus... aahh..."
Dahlia menghisap buah zakarku dengan lembut, membuat aku semakin tidak tertahankan. Aku mulai menjilati vagina Karina dengan perlahan dan lembut agar ia bisa merasakan setiap detik permainanku. Karina menjerit pelan, berdesis tanda ia menikmatinya.
Miranda tidak mau kalah — ia menghisap payudara Karina dengan penuh gairah, sementara Dahlia menutup mulut Karina dengan ciumannya agar tidak berteriak. Beberapa saat kemudian, tubuh Karina mulai menegang dan ia pun mendesah.
"Jok... aku mau... keluar..."
Tak lama kemudian, cairan yang sangat banyak mengalir keluar dan aku langsung menghisapnya sampai bersih. Setelah itu aku memasukkan penisku ke dalam vagina Karina, perlahan-lahan, lalu dengan satu hentakan masuk seluruhnya ke dalam lembabnya yang sudah basah. Aku mulai menggenjotnya perlahan, menikmati setiap sodokan, dan Karina pun mulai mendesah tak karuan.
"Aaahh, enak, Jok, terus, lebih dalam... aahh... sstt..."
Nafsuku semakin membara. Goyanganku kupercepat.
"Aaahh, penis kamu enak banget, Jok... aahh..."
Beberapa saat kemudian ia mengejang untuk kedua kalinya. Aku semakin mempercepat kocokan, dan tak lama kemudian cairan mengalir deras di sekitar penisku. Aku mencabut penisku yang masih tegang. Miranda langsung mengulum penisku yang masih basah, sementara Dahlia menghisap vagina Karina yang masih mengalir cairan.
Miranda mengambil posisi di atasku. Dituntunnya penisku masuk ke dalam vaginanya — serentak langsung masuk. Terasa sekali kehangatan di dalamnya. Ia mulai menaik-turunkan pinggulnya, semakin cepat, membuat aku semakin tidak karuan menahan sensasi yang diberikannya.
Dahlia menghisap payudara Miranda dengan penuh gairah, sementara Karina mencium bibir Miranda dengan liar. Miranda terus mempercepat goyangannya.
"Aaahh, enak, Mir, terus, goyang terus, lebih dalam... aaahh sstt..."
Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku mulai berdenyut.
"Mir, aku ingin keluar..."
Seketika itu semburan air maniku mengisi vaginanya. Entah berapa kali kemuncratan itu — aku tak tahu, terlalu nikmat rasanya. Miranda masih menggoyang semakin cepat. Tubuhnya mulai menegang, vaginanya berdenyut, lalu cairan yang sangat banyak keluar. Aku mengeluarkan penisku yang sudah basah kuyup. Mereka berebutan menjilati sisa cairan di penisku, sementara Dahlia menjilati vagina Miranda yang masih meneteskan cairan.
Setelah beberapa saat, aku memeluk Dahlia dan mencium bibirnya, lalu turun ke lehernya yang jenjang. Bibirku menari-nari di atasnya.
"Ooohh, Joko, geli..." desah Dahlia.
Seranganku semakin menjadi-jadi di lehernya hingga ia hanya bisa merem-melek mengikuti jilatan lidahku. Miranda dan Karina asyik berciuman dan saling menjilat payudara satu sama lain.
Setelah puas di lehernya, aku menurunkan tubuh Dahlia sehingga bibirku kini berhadapan dengan kedua buah dadanya yang masih kencang. Aku mulai menjilati, sesekali menggigit putingnya dengan gigitan kecil yang membuatnya semakin terangsang.
"Aaahh, enak sekali, Jok, terus, hisap terus... aahh sstt..."
Dahlia membalasnya dengan menciumku dengan nafsu, lalu turun ke pusarku, kemudian mulai mengulum dan menjilati penisku di dalam mulutnya. Setelah ia puas, aku menyerang lagi langsung ke vaginanya yang memerah, dikelilingi rambut lebat. Aroma wangi dari kelaminnya membuat tubuhku berdesis. Tanpa menunggu, lidahku langsung aku julurkan ke permukaan bibir vaginanya, tanganku menyibak rambut di sekitar selangkangannya untuk memudahkan aksiku.
"Sstt, Jok, nikmat sekali... ugh," rintihnya.
Tubuhnya menggelinjang, sesekali diangkat menghindari jilatan lidahku di ujung klitorisnya. Gerakan Dahlia yang terkadang berputar dan naik-turun membuat lidahku semakin menghujam lebih dalam.
"Joko, gila banget lidah kamu..." rintihnya. "Terus, sayang, jangan lepaskan..."
Paha Dahlia dibuka lebar-lebar. Dahlia menggigit bibir bawahnya seakan menahan nikmat yang bergejolak.
"Oohh, Joko, aku nggak tahan... ugh..."
"Joko, cepat masukkan penismu, aku sudah nggak tahan," pintanya.
Perlahan aku mengangkat kaki kanannya dan membaringkannya di ranjang yang empuk. Batang kemaluanku mencari lubang kelaminnya dan dengan satu hentakan—
"Bless!" — kepala penisku masuk menggoyang vagina Dahlia.
"Aoww, gila besar sekali, Jok," Dahlia merintih.
Gerakan maju-mundur pinggulku membuat tubuh Dahlia menggelinjang hebat, sesekali ia memutar pinggulnya sehingga menimbulkan kenikmatan luar biasa pada batang kemaluanku.
"Joko, jangan berhenti, sayang... oogghh," pinta Dahlia.
Dahlia terus menggoyang kepalanya ke kanan dan ke kiri seirama dengan hunjaman penisku. Sesekali ia membantu dengan memutar-mutar pinggulnya.
"Joko, kamu memang jago... ooohh..."
Beberapa saat kemudian Dahlia seperti orang kesurupan, memicu birahinya sekencang mungkin. Aku sengaja mempermainkannya — saat birahinya semakin liar, aku mendadak memperlambat tempo, centi demi centi batang kemaluanku menggoyang dinding vaginanya.
"Joko, terus, sayang, jangan berhenti..." Dahlia meminta.
Permainanku benar-benar memancing birahinya untuk mencapai kepuasan. Sesaat kemudian Dahlia tak bisa lagi mengontrol dirinya. Tubuhnya bergerak hebat.
"Joko, aku... keluar... aaakhh... goyang, sayang," rintih Dahlia.
Gerakan penisku kubuat patah-patah, membuat birahinya semakin tak terkendali.
"Jok, ooo, ampun..." rintihnya panjang.
Bersamaan dengan rintihan itu, aku menekan penisku sedalam-dalamnya hingga mentok di langit-langit vagina Dahlia. Semburan cairan membasahi seluruh penisku.
Dahlia sudah mendapat orgasme keduanya, sementara aku masih berusaha meraih kepuasan. Dahlia kini menungging. Penisku yang masih tertancap langsung kuhunjamkan kembali ke dalam vaginanya.
"Ooohh, Joko, kamu memang ahli..." katanya sambil merintih.
Kedua tanganku mencengkeram pinggul Dahlia, menekan tubuhnya agar penisku bisa menusuk lebih dalam.
"Dahlia, vagina kamu memang enak banget," pujiku.
"Kamu suka minum jamu ya? Kok terasa rapat?" tanyaku.
Dahlia hanya tersenyum dan kembali memejamkan matanya menikmati tusukan penisku yang tiada henti. Batang kemaluanku terasa dipijati oleh vaginanya — suatu kenikmatan yang luar biasa. Permainan seks kami benar-benar seimbang.
Sampai akhirnya aku tidak lagi mampu menahan kenikmatan yang sejak tadi mengoyak birahinya.
"Dahlia, aku mau keluar..." kataku mendesah.
"Aku juga, sayang... ooohh, nikmat, terus..." Dahlia merintih.
"Joko, keluarkan di dalam, aku ingin rasakan semprotanmu..." pintanya.
"Iya sudah... ooogh... aaakhh..." rintihku.
Gerakan maju-mundurku di belakang tubuh Dahlia semakin kencang, semakin cepat, semakin liar. Kami berdua berjuang mencapai puncak bersama.
"Joko, aku, aku nggak kuat... aaakhh!" rintih Dahlia.
"Aku juga sudah... ooogh..." rintihku.
Spermaku muncrat membanjiri vagina Dahlia. Begitu banyaknya hingga beberapa tetes mengalir keluar di celah vaginanya.
Beberapa saat kemudian Dahlia membalikkan tubuhnya dan menghadapku.
"Joko, ternyata Yanti benar. Kamu jago banget dalam urusan seks. Kamu memang luar biasa," kata Dahlia merintih.
"Biasa saja, Mbak. Aku hanya melakukannya dengan sepenuh hati," kataku merendah.
"Kamu luar biasa..." Dahlia tidak meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil kembali menyerang bibirku.
Aku memalingkan wajah ke arah Karina dan Miranda — ternyata mereka sudah tertidur pulas, kelelahan. Aku pun tak kuasa menahan lelah dan akhirnya ikut tertidur pulas.
Empat jam kemudian aku terbangun karena ada sesuatu yang sedang mengulum batang kemaluanku. Ternyata Miranda sudah bangun. Aku pun menikmatinya sambil menggigit bibir bawahku. Kuraih tubuhnya dan kucium bibirnya dengan penuh gairah. Akhirnya kami pun mengulang kembali hingga pagi. Dengan terpaksa aku menginap karena pertarungan kami semakin seru saja.
Ketika pagi tiba, aku langsung ke kamar mandi diikuti mereka bertiga. Kami mandi bersama dan permainan dimulai kembali di ronde terakhir. Tanpa terasa kami berempat sudah berendam di bathtub. Guyuran air dari shower membuat tubuh mereka yang molek bersinar diterpa cahaya lampu. Dengan lembut mereka menuangkan sabun cair dari perlengkapan mandi mereka. Aku menggosok seluruh tubuh mereka satu per satu, sesekali jariku yang nakal mencubit puting mereka.
"Ugh, Joko..." mereka merintih dan menggeliat saat aku memainkan puting mereka yang memerah.
Sebelum aku meninggalkan mereka, kami berempat berburu kenikmatan sekali lagi. Entah sudah berapa kali mereka mencapai orgasme. Kami memburu kenikmatan berkali-kali, birahi yang tak pernah kenyang.
Sampai akhirnya jam menunjukkan pukul 08.00 WIB — saatnya aku berangkat kerja. Aku mempercepat langkah agar tidak terjebak macet yang berkepanjangan. Aku meninggalkan Hotel H sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih hangat dalam ingatanku.