18px

Aku Diperkosa Anak Kost Buleku

Aku Diperkosa Anak Kost Buleku

Namaku Evita dan suamiku Edo. Kami baru satu tahun menikah, tapi belum ada tanda-tanda aku hamil. Sudah kami coba berdua periksa ke dokter untuk tahu siapa yang mandul, tapi kata dokter semuanya subur dan baik-baik saja. Mungkin karena selama pacaran dulu kami sering ke diskotek, merokok, dan sedikit mabuk โ€” itu kami lakukan setiap malam Minggu selama tiga tahun masa pacaran berlangsung.

Suamiku seorang sales yang hampir dua hari sekali pasti ke luar kota, bahkan kadang seminggu penuh. Karena rasa kasihan terhadapku, dia berniat menyekat rumah kami untuk dijadikan tempat kost agar aku tidak merasa sendirian.

Mula-mula empat kamar itu kami sewakan untuk cewek-cewek โ€” ada yang mahasiswi, ada pula yang karyawati. Aku sangat senang ada teman untuk ngobrol. Setiap suamiku pulang dari luar kota, pasti dibawakan oleh-oleh agar mereka tetap senang tinggal di rumah kami. Tetapi lama-kelamaan aku merasa makin bising: setiap hari ada yang menerima tamu apel sampai larut malam, apalagi malam Minggu. Aku bahkan semakin iri melihat mereka berkumpul bersama keluarga.

Begitu suamiku datang dari luar kota, aku menceritakan semuanya. Akhirnya kami putuskan membubarkan tempat kost itu dengan alasan rumah mau dijual. Mereka pun pamitan pindah.

Bulan berikutnya kami sepakat berganti cara: menyewakan satu kamar langsung untuk jangka waktu satu tahun, khusus untuk karyawan, dengan syarat satu kamar untuk satu orang โ€” tidak terlalu pusing memikirkan keramaian atau pulang malam. Apalagi rumah kami terletak di pinggir jalan sehingga tetangga-tetangga cenderung cuek. Satu kamar diisi seorang bule bertubuh besar, berkulit putih, dan tampan. Harga kamarnya pun langsung dibayar kontan untuk dua tahun, ditambah biaya perawatan karena dia juga sering pulang malam.

Suatu hari suamiku datang dari luar kota membawa sebotol minuman impor dan obat penambah rangsangan untuk pasangan suami istri.

"Lho, kok sepi-sepi saja, pada ke mana?" tanyanya.

"Semua pulang karena liburan nasional, tapi yang bule tidak, karena perusahaannya ada sedikit lembur untuk mengejar target," balasku mesra.

Kemudian suamiku mengambil minumannya dan kami ngobrol santai di ruang tamu.

"Nih, sekali-kali kita reuni seperti di diskotek," kata suamiku. "Aku juga membawa obat kuat dan perangsang untuk pasangan suami istri, nanti kita coba ya..."

Sambil sedikit tersenyum, kujawab, "Kangen ya? Memangnya cuma kamu yang kangen?"

Lalu kami bercanda sambil menonton film porno.

"Nih, minum dulu obatnya biar nanti seru," kata suamiku.

Lalu kuminum dua butir, suamiku minum empat butir.

"Lho, kok empat? Nanti over lho," kataku manja.

"Ach, biar cepat reaksinya," balas suamiku sambil tertawa kecil.

Satu jam berlalu ngobrol santai sambil menonton film porno, dan kurasakan obat tadi mulai bereaksi. Aku hanya mengenakan baju putih tanpa BH dan tanpa celana dalam. Kami duduk di sofa sambil kaki kami diletakkan di atas meja. Kulihat suamiku mulai terangsang โ€” tangannya mulai memegang lututku, lalu meraba naik ke pahaku yang mulus dan putih. Buah dadaku yang masih montok, dengan puting kecil dan merah, diraihnya dan diremasnya dengan mesra, sambil menciumiku dengan lembut. Perlahan-lahan suamiku membuka kancing bajuku satu per satu, dan beberapa detik kemudian terbukalah semua pelapis tubuhku.

"Auh..." erangku. Kuraba batang kemaluan suamiku lalu kumainkan dengan lidah, kukulum semuanya โ€” semakin tegang dan besar. Dia pun lalu menjilat klitorisku dengan gemas, menggigit-gigit kecil hingga aku tambah terangsang dan penuh gairah โ€” mungkin reaksi obat yang kuminum tadi. Liang kewanitaanku mulai basah, dan aku sudah tidak kuat menahannya.

"Ach, Mas, masukin yuk... cepat, Mas... sudah pingin nih..." Sambil mencari posisi yang tepat, aku memasukkan batang kemaluannya pelan-pelan, dan "bless!" โ€” batang kemaluan suamiku masuk seakan membongkar liang surgaku. "Ach, terus, Mas... aku kangen sekali..." Dengan penuh gairah, entah kenapa tiba-tiba aku seperti orang kesurupan, seperti kuda liar โ€” mutar sana, mutar sini. Begitu pula suamiku semakin cepat gesekannya. Kakiku diangkatnya ke atas dan dikangkangkan lebar-lebar.

Perasaanku aneh sekali. Aku seakan-akan ingin sekali diperkosa beberapa orang, seakan semua lubang yang aku punya ingin dimasuki batang kemaluan orang lain. Seperti orang gila, goyang sana goyang sini sambil membayangkan macam-macam. Ini berlangsung lama sekali dan kami bertahan seakan tidak bisa keluar air mani. Sampai perih, tapi asyik sekali. Sampai akhirnya aku keluar lebih dulu.

"Ach, Mas, aku keluar ya... sudah tidak tahan nih... aduh... aduh... aduh... keluar tiga kali, Mas," desahku mesra.

"Aku juga ya... nanti kamu agak pelan goyangnya... ach... aduh... keluar nih..." Mani kental yang hangat membanjir masuk ke dalam liang kenikmatanku. Kini kami berada dalam posisi terbalik โ€” aku yang di atas, tapi masih bersatu dalam dekapan.

Kucabut liang kewanitaanku dari batang kemaluan suamiku, lalu kuoles-oleskan di mulut suamiku. Suamiku menyedot semua mani yang ada di liang kewanitaanku sampai tetes terakhir. Kemudian kami saling berpelukan dan lemas. Tanpa disadari, suamiku tertidur tengkurap di karpet ruang tamu tanpa sehelai busana pun, dan aku pun terlelap di atas sofa panjang dengan kaki telentang โ€” bahkan film porno lupa dimatikan. Tapi semuanya terkunci, sepertinya aman.

Ketika subuh aku terbangun dan kaget: posisiku bugil tanpa sehelai benang pun, tetapi aku telah pindah ke kamar dalam โ€” sedangkan suamiku masih di ruang tamu. Perlahan aku memakai celana pendek lalu membangunkan suamiku. Kami mandi berdua di kamar mandi dalam. Jam delapan pagi aku buatkan sarapan dan makan pagi bersama, ngobrol sebentar tentang permainan semalam. Tapi aku tidak bertanya soal perpindahan posisi tidurku ke dalam kamar โ€” meski aku masih bertanya-tanya, bagaimana aku bisa pindah sendiri.

Sesudah itu suamiku mengajakku mengulangi permainan seks seperti semalam โ€” mungkin pengaruh obatnya belum hilang. Aku disuruhnya minum lagi, tapi aku hanya mau minum satu kapsul. Belum terasa reaksi obat yang kuminum, tiba-tiba teman suamiku datang menghampiri karena ada tugas mendadak ke luar kota yang tidak bisa ditunda. Dengan terpaksa suamiku pergi lagi, dengan pesan: kalau obatnya sudah bereaksi, kamu harus tidur. Aku pun menjawabnya dengan ramah dan dengan perasaan sayang. Pergilah suamiku dengan perasaan puas setelah bercinta semalaman.

Dengan daster putih aku kembali membenahi ruang makan dan dapur, lalu membersihkan kamar-kamar kost. Tapi aku kaget sekali waktu membersihkan kamar terakhir yang bersebelahan dengan kamar tidurku โ€” ternyata si bule itu tidur pulas tanpa busana sedikit pun, sehingga kelihatan jelas batang kemaluannya yang sebesar tanganku. Tapi aku harus mengambil sprei dan sarung bantal yang tergeletak kotor untuk dicuci.

Dengan sangat perlahan aku mengambil cucian di dekat si bule sambil melirik batang kemaluannya yang belum pernah kulihat dari dekat. Ternyata benar seperti di film-film porno โ€” batang kemaluan bule memang besar dan panjang. Sambil menelan ludah karena sangat terheran-heran, aku mengambil cucian itu.

Tiba-tiba si bule itu bangun dan terkejut melihatku ada di kamarnya. Aku seakan tidak tahu harus berkata apa.

"Maaf, Tuan, saya mau mengambil cucian yang kotor," kataku dengan sedikit gugup.

"Suamimu sudah berangkat lagi?" jawabnya dengan pelan dan pasti.

Pertanyaan itu membuatku sangat kaget. Kujawab, "Kenapa?"

Sambil mengambil bantal untuk menutupi bagian vitalnya, si bule berkata, "Sebelumnya aku minta maaf karena tadi malam aku sangat lancang. Aku datang jam dua malam, aku lihat suamimu tidur telanjang di karpet ruang tamu, dan kamu pun tidur telanjang di sofa ruang tamu. Dengan sangat penuh nafsu aku melihat liang kewanitaanmu yang kecil dan merah muda, maka aku langsung memindahkanmu ke kamar. Tapi tiba-tiba timbul gairahku untuk mencobamu. Mula-mula aku hanya menjilati liang kewanitaanmu yang penuh sperma kering dengan bau khasnya. Akhirnya batang kemaluanku terasa tegang sekali dan nafsuku memuncak, maka dengan beraninya aku meniduri kamu."

Dengan rasa kaget aku mau marah, tapi memang posisi yang salah ada pada diriku sendiri. Kini terjawablah pertanyaan dalam benakku โ€” kenapa aku bisa pindah ke kamar, dan kenapa liang kewanitaanku terasa agak sakit.

"Terus... kamu apain aku?" tanyaku dengan sedikit penasaran.

"Kutidurin kamu dengan penuh nafsu. Sampai mani yang keluar pertama kutumpahkan di perutmu, dan kutancapkan lagi batangku ke liang kewanitaanmu sampai kira-kira setengah jam keluar lagi โ€” dan kukeluarkan di dalamnya," jawab si bule.

"Oic, bahaya nih, kalau hamil gimana?" tanyaku cemas.

"Ya, nggak apa-apa dong," jawab si bule sambil menggandengku, memelukku, dan menciumku.

Kemudian dipeluknya tubuhku dalam pangkuannya sehingga sangat terasa batang kemaluannya yang besar menempel di liang kewanitaanku.

"Ach, jangan, dong... aku masih capek semalaman," kataku, tapi tetap saja dia meneruskan niatnya. Aku ditidurkan di pinggir kasurnya dan kakiku diangkat hingga terlihat liang kewanitaanku yang mungil, dan dia pun mulai menjilati liang kewanitaanku dengan penuh gairah. Aku pun sudah mulai bernafsu karena pengaruh obat yang kuminum sewaktu ada suamiku.

"Auh, Jhon, good... teruskan, Jhon... auh..." Satu jari terasa dimasukkan dan diputar-putar, keluar masuk, goyang kanan goyang kiri, lalu jadi dua jari yang masuk โ€” ditarik, didorong di liang kewanitaanku. Akhirnya basah juga aku. Karena masih penasaran, Jhon memasukkan tiga jari ke liang kewanitaanku sementara jari-jari tangan kirinya membantu membuka bibir surgaku. Dengan nafsunya jari keempatnya dimasukkan pula. Aku mengeliat keenakan. Diputar-putar hingga bibir kewanitaanku menjadi lebar dan licin. Nafsuku memuncak sewaktu jari kelima dimasukkan pula.

"Aduh, sakit, Jhon... jangan, Jhon... nanti sobek... Jhon, jangan," desahku sambil mengeliat dan menolak perbuatannya. Aku berusaha berdiri tapi tidak bisa karena tangan kirinya memegangi kaki kiriku. Dan akhirnya, "bless!" โ€” masuk semua satu telapak tangan kanan Jhon ke dalam liang kewanitaanku. Aku menjerit keras tapi Jhon tidak memperdulikannya โ€” tangan kirinya meremas payudaraku yang montok hingga rasa sakitnya hilang.

Akhirnya si bule itu semakin menggila: didorong, ditarik, digoyang kanan kiri dengan jari-jarinya menggelitik daging-daging di dalamnya. Dia memutar posisi menjadi enam sembilan, menyumbat mulutku dengan batang kemaluannya, hingga aku mendapatkan kenikmatan yang selama ini sangat kuharapkan.

"Auch, Jhon, punyamu terlalu panjang hingga masuk ke tenggorokanku... pelan-pelan saja," ucapku, tapi dia masih bernafsu. Tangannya masih memainkan liang kewanitaanku, jari-jarinya menggelitik di dalamnya hingga rasanya geli, enak, dan agak sakit karena bulu-bulu tangannya menggesek bibir kewanitaanku yang lembut. Ini berlangsung lama sampai akhirnya aku keluar.

"Jhon... aku tidak tahan... auch... aouh... aku keluar, Jhon... auch, augh... keluar lagi, Jhon..." desahku nikmat menahan orgasme yang kurasakan.

"Aku juga mau keluar... auh..." balasnya sambil mendesah.

Kemudian tangannya ditarik dari dalam liang kewanitaanku dan dia berdiri di tepi kasur, menarik kepalaku untuk mengulum kemaluannya yang besar.

Dengan sangat kaget dan perasaan takut, kulihat di depan pintu kamar โ€” ternyata suamiku datang kembali, rupanya tidak jadi pergi. Dia menyaksikan peristiwa itu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kupikir sudah ketahuan. Aku telanjur basah, takut kalau aku berhenti lalu si bule tahu dan akhirnya bertengkar. Tapi aku pura-pura tidak ada sesuatu pun, terus mengulum si bule sambil melirik suamiku, takut kalau dia marah.

Ternyata malah suamiku melepas celananya dan mendekati kami berdua yang sudah tegang sekali โ€” mungkin dia sudah menyaksikan kejadian ini sejak tadi. Si bule sangat kaget, wajahnya pucat dan terlihat grogi, lalu melepas alat vitalnya dari mulutku dan agak mundur sedikit.

Tapi suamiku berkata, "Terusin saja, nggak apa-apa kok. Aku sayang sama istriku. Kalau istriku suka begini, ya terpaksa aku juga suka. Ayo kita main bareng."

Akhirnya semua tersenyum lega. Tanpa rasa takut sedikit pun, si bule disuruh tidur telentang, aku tidur di atas tubuh si bule, dan suamiku memasukkan alat vitalnya ke anusku โ€” yang sama sekali belum pernah kulakukan. Dengan penuh nafsu suamiku langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam anusku. Karena kesulitan, akhirnya dia menarik sedikit tubuhku hingga batang kemaluan si bule yang sudah masuk ke liang kewanitaanku terlepas. Suamiku buru-buru memasukkan batang kemaluannya ke liang kewanitaanku yang sudah basah, digoyang beberapa kali agar ikut basah, lalu dicopot lagi dan dimasukkan ke anusku โ€” dan "bless!" โ€” batang kemaluan suamiku menembus mulus anusku.

"Aduh, pelan-pelan, Mas..." seruku.

Hampir setengah jam posisi seperti ini berlangsung, dan akhirnya suamiku keluar duluan. Duburku terasa hangat terkena cairan mani suamiku. Dia menggerang keenakan sambil tergeletak melihatku masih menempel ketat di atas tubuh si bule. Akhirnya si bule pindah ke atas dan memompaku lebih cepat โ€” aku pun mengerang keenakan dan sedikit sakit karena mentok. Kupegang batang kemaluan si bule yang keluar masuk liang kewanitaanku; ternyata masih ada sisa sedikit yang tidak dapat masuk ke liang senggamaku. Suamiku pun tercengang melihat batang kemaluan si bule yang besar, merah, dan panjang. Aku terus mengerang keasyikan.

"Auh... auh... terus, Jhon... auh, keluarkan ya, Jhon..."

Akhirnya si bule pun keluar. "Auch, keluar nih..." ucapnya sambil menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaanku dan dimasukkan ke mulutku โ€” menyemburlah lahar kental yang panas. Kutelan sedikit demi sedikit mani asin orang bule. Suamiku pun ikut menciumku dengan sedikit menjilat mani orang asing itu.

Kedua lelaki itu akhirnya tersenyum kecil lalu pergi mandi dan tidur siang dengan puas.

Sesudah itu aku menceritakan peristiwa awalnya dan minta maaf, sekaligus minta izin โ€” bila suatu saat aku ingin bersetubuh dengan si bule, boleh atau tidak?

"Kalau kamu mau dan senang, ya tidak apa-apa, asal kamu jangan sampai disakiti olehnya," jawab suamiku.

Sejak saat itu pun, bila aku ditinggal suamiku, aku tidak pernah lagi merasa kesepian โ€” dan selalu dikerjain oleh si bule.

TAMAT

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’