Bab 1
Ani, Baby Sitter yang Menggodaku
Aku pernah kost di sebuah rumah mewah di Makassar. Pemilik rumah tergolong kalangan elite dan cukup sibuk dengan bisnisnya, sementara istrinya bekerja di salah satu bank swasta. Suatu hari, setelah satu bulan si nyonya—yang biasa kupanggil Mbak Wulan—melahirkan, datanglah seorang baby sitter yang melamar pekerjaan sesuai iklan di koran. Setelah berbincang-bincang dengan Wulan, baby sitter bernama Ani itu diterima sebagai pengasuh bayi mereka.
Aku pandangi terus baby sitter itu. Setelah memakai baju putih, dia kelihatan seksi banget—guratan celana dalamnya tampak samar-samar. Keesokan harinya, ketika aku mau berangkat ke kantor, tiba-tiba ibu kostku memperkenalkan Ani kepadaku. Sekilas kulihat buah dadanya yang terbungkus baju putih di balik bra—kira-kira ukuran 36, seru.
Ani berumur sekitar empat puluh tahun, sementara ibu kostku—ibunya si bayi—baru sekitar dua puluh enam tahun, dan suaminya kira-kira tiga puluh tahun. "Bang, tolong ya ikut awasi rumah karena ada penghuni baru—maksudnya baby sitter—sementara aku sudah harus masuk kerja lagi. Maklum, kerja di swasta, cuti melahirkanku cuma satu bulan," ucapnya kepadaku. "Baik, Mbak, saya jagain," jawabku.
Setelah sekitar satu minggu Ani tinggal di rumah bersama aku dan pemilik rumah, aku mulai curiga dengan gerak-gerik suami Wulan, yang biasa dipanggil Mas Adi, beberapa hari terakhir. Aku sering melihat dari celah pintu kamar kostku bahwa Mas Adi suka mencuri pandang ke arah Ani yang sedang mengurus bayi di boks—tubuhnya membungkuk hampir nungging sehingga guratan celana dalamnya semakin tampak jelas, begitu pula bentuk pinggul dan betis yang bikin mupeng semua laki-laki. Ternyata di usia empat puluh tahun, Ani justru makin menggairahkan.
Suatu hari, Wulan tidak pulang—dia tugas ke Jakarta selama tiga hari. Mas Adi kelihatannya senang sekali ditinggal istrinya dan semakin gencar menggoda Ani. Dia bahkan sempat mengelus punggung Ani sambil berkata, "Kasihan Mbak ya, masih cantik tapi jadi janda."
Ani hanya menjawab, "Ya, nasib, Mas," sambil tersenyum.
Aku terus mengintip dari celah pintu. Mas Adi mulai melancarkan jurusnya—memang sudah berbulan-bulan dia tidak bisa berhubungan dengan Wulan karena hamil besar lalu baru melahirkan.
"Mbak Ani, anaknya berapa?" tanya Mas Adi.
"Satu, Mas."
"Sudah berapa tahun menjanda?"
"Yah, sudah tiga tahunan."
Mas Adi duduk di sofa dekat boks bayinya, sementara tangan kanannya mulai menggosok-gosok batang kemaluannya di balik celana training yang dikenakannya. Sementara itu Ani masih membungkuk membelakanginya, memberi susu botol kepada sang bayi.
Tiba-tiba terdengar suara Mas Adi memanggilku, seolah mengajakku nonton TV seperti biasanya. Aku pura-pura tidur dengan pintu tetap kubuka satu senti untuk mengintai. Lalu Mas Adi memanggil simbok pembantunya yang sudah di atas lima puluh tahun.
"Ya, Den?" kata simbok.
"Bikinkan saya kopi, terus simbok istirahat saja ya."
"Ya, Den."
Setelah kopi dihidangkan, Mas Adi kembali menggosok-gosok batang penisnya di balik celana training. Aku terus mengintai dengan lampu kamar yang kumatikan. Setelah si bayi tertidur, Adi mengajak Ani duduk di sofa sambil nonton TV.
"Malu, Mas," tolak Ani.
"Nggak apa-apa. Kamu kan ngerti, aku sudah tiga bulan tidak bersentuhan dengan wanita—sini." Dengan ragu-ragu, Ani mulai duduk di lantai dekat sofa tempat Adi duduk. Aku semakin nilik-nilik mereka.
"Ani, susumu kok masih kencang ya?" ucap Adi.
"Ah, masih bagus punya Mbak Wulan dong, Mas. Kenapa Mas bilang begitu?"
"Ah, enggak, cuma ingin tahu saja—kalau susu yang sudah pernah diisap bayi apakah berubah bentuk atau tidak."
"Ya, tergantung perawatan."
"Boleh aku raba susumu?"
"Ah, jangan, Mas. Aku sudah tua, dan aku malu."
Aku mulai yakin jurus Mas Adi akan mengena. "Sini, geser duduknya," kata Adi.
"Ah, di sini saja, Mas."
"Nggak apa-apa—sini. Aku penasaran dengan susu yang sudah diisap bayi, ingin lihat."
"Jangan, Mas, malu. Nanti Mbak Wulan tahu, aku dimarahi."
"Tidak ada yang tahu—semua sudah tidur."
Adi menarik lengan Ani dan mulai meraba susunya dengan halus. Ani terlihat bergidik. Adi terus berusaha memegang susu Ani, sementara Ani terus menangkis tangan Adi. Ketika Ani sibuk menangkis, aku berkali-kali melihat kedua pahanya yang terkangkang. Ruang tengah cukup terang sehingga aku sering melihat celana dalam Ani yang berwarna ungu muda, dan gundukan vagina di baliknya yang begitu menggiurkan. Akhirnya Ani menyerah dan membiarkan tangan Adi menggerayangi susunya. Ani pun mulai kegelian sehingga cara duduknya semakin tidak terkontrol—pahanya semakin jelas terlihat.
Aku mulai terangsang melihat tangan Adi bergerak-gerak di balik baju putih Ani. Penisku mulai tegang. Adi mulai memetik kancing baju Ani sehingga terlihatlah susu Ani terbungkus bra warna merah jambu—karena Ani menghadap ke arah kamarku dan Adi di belakangnya. Tangan Adi kemudian mengeluarkan sebelah susu Ani dari branya. Aku semakin tegang. Susu itu begitu mulus, putingnya coklat muda. Aku bahkan lebih terfokus ke celah paha Ani yang semakin jelas karena roknya perlahan tersingkap sedikit demi sedikit.
Kelihatannya Ani sudah mulai terangsang—kulihat bagian celah vagina pada celana dalamnya sudah mulai berwarna ungu tua, berarti sudah basah. Ketika Ani agak bergeser, aku melihat tangan kiri Adi memegang penisnya yang sudah tegang, sementara tangan kanannya mulai meremas susu Ani dengan halus. Kelihatannya Adi bukan pemain seks yang brutal—dia mempermainkan susu Ani begitu lembut sehingga Ani mulai mendesah, dan tangannya mulai mencengkram tangan Adi.
"Sudah, Mas, aku sudah nggak tahan," kata Ani.
"Aku juga sudah nggak tahan, Ni. Bantu saya dong—aku ingin mengeluarkan sperma yang sudah mengental ini."
"Jangan, Mas, aku nggak mau—takut hamil."
"Tidak, Ni. Kita jangan bersetubuh—aku gesek saja di antara celana dalam dan vaginamu, ya." Ani sudah kelihatan sangat terangsang, tapi tidak menjawab. Sementara itu aku sudah semakin tegang di balik pintu.
Adi akhirnya turun dari sofa dan duduk di sebelah Ani di atas karpet. Tangan Adi mulai mengarah ke vagina Ani; kembali Ani meronta. "Jangan, Mas, nanti aku nggak tahan."
"Tenang saja—nanti kita sama-sama enak," kata Adi sambil mulai mengelus celana dalam tepat di atas vagina Ani dari luar. Ani mulai kelihatan kejang-kejang, menikmati. Adi terus mengelus vagina Ani dari luar celana dalamnya sementara bibirnya mulai menciumi susu kiri Ani. Adegan ini berlangsung hampir sepuluh menit. Kemudian Adi melepas celana training-nya; penis Adi yang sudah tegak lurus pun terlihat. Ani malah membuang pandangannya ke TV.
Adi menyingkap rok putih Ani semakin ke atas, lalu merebahkan Ani di karpet. "Jangan, Mas," kata Ani.
"Nggak kok, cuma mau dijepitin di antara celana dalam dan vagina kamu—nggak dimasukkan kok."
"Janji ya, Mas?"
"Bener, aku janji." Kemudian Adi berbaring di sebelah kiri Ani, menaikkan separuh badannya, dan paha serta kaki kirinya menindih paha dan kaki kiri Ani. Penisnya diselipkan dari samping celana dalam basah Ani dekat pangkal paha, sementara Ani tetap terlentang.
Aku mulai tak tahan menontonnya. Akupun mulai meraba-raba penisku.
Adi mulai menggesek-gesekan penisnya di antara celana dalam dan vagina Ani secara perlahan. Ani mulai kelihatan menikmatinya. Sambil mengisap puting susu Ani yang kiri dan meremas susu yang kanan, Adi terus menggesek penisnya di celah itu. Ani mulai menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti gerakan Adi. Aku yakin kelentit Ani sudah tersentuh oleh ujung penis Adi.
Aku pun semakin terangsang melihatnya dan mempercepat kocokan tangan di penisku. Dadaku semakin berdegup. Semakin lama Adi semakin mempercepat gerakannya, terus menggesek vagina Ani dengan penisnya yang semakin keras. Ani pun mulai mengeluarkan suara desahannya.
"Mas… mas… mas… aduh geli sekali, Mas… aduuuuh… enak sekali, Mas," lirih Ani. "Tekan sedikit, Mas, biar ujungnya kena anuku."
Adi mulai mengubah gerakannya—dari menggesek menjadi agak menekan vagina Ani. Tangan kanan Ani mencengkram tangan Adi yang sedang meremas susu kanannya; berarti Ani sudah begitu menikmati. "Teruuus, Mas, aku nikmat sekaliiii…" desah Ani.
"Iya, aku juga, Ni. Punyamu begitu licin dan hangat." Adi terus melakukan gesek-tekan hingga hampir lima belas menit.
"Sudah mau keluar nih," kata Adi dengan suara tersendat-sendat.
"Jangan keluarkan dulu, Mas… tahan… tahan…" kata Ani sambil terus menggerakkan pinggulnya. "Aduuuh, Mas, aku mau keluar juga, Mas." Lalu Ani memohon, "Mas, masukin sedikit ujungnya."
Adi pun agak menaikkan tubuhnya, hampir menindih Ani sepenuhnya. Tangan kanannya menuntun penisnya menuju lubang vagina Ani.
"Aah… aaahhh… jangan dimasukkan semua, Mas. Aku lebih geli kalau ujungnya saja," kata Ani.
Adi terus menggesek-tekan. Tampak dia semakin menekan-nekan pantatnya, dan Ani semakin bergoyang ke kiri dan ke kanan, kadang mengangkat pinggulnya ke atas.
"Mas, aku mau keluar, Mas."
"Ya, ya, keluarkan saja, Ni—biar tambah licin."
Tidak terasa penisku pun mulai mengeluarkan cairan kental sedikit di ujungnya. Aku terus menyaksikan gesekan penis Adi di celah antara celana dalam dan vagina Ani. Pinggul Ani semakin cepat bergerak ke atas dan ke bawah, bahkan sesekali diangkatnya cukup tinggi.
"Ah… aaaahh… aaaaaahhhh… Mas, aku ke… ke… ke… luaaaaarr, Mas… ah… aduuuuh, Mas, enak sekaliiiiii…"
"Aku juga, Ni… aku juga mau keluar…" Sambil semakin mempercepat gerakannya, Adi menyentak-nyentakkan gesekannya lebih dari tiga kali. "Aduhh, Ni, hangat sekaliiiiii, Mas," desah Ani. Gerakan Adi mulai semakin pelan dan akhirnya dia tertelungkup di atas badan Ani.
Akupun mulai terasa gatal di ujung penisku—dan akhirnya croot… croot… spermaku muncrat ke daun pintu. Aku jadi lemas dan berbaring di tempat tidurku sambil masih membayangkan adegan gesek-gesek tadi.
Sementara Wulan belum tiba, kebetulan Adi tugas ke Manado. Di rumah hanya tinggal Simbok, Ani, si bayi, dan aku.
Saat si bayi tidur, aku coba menggoda Ani. "Ni, kelihatannya kamu kesepian ya, ditinggal Mas Adi?" tanyaku.
"Ah, enggaaakk, biasa aja," jawab Ani agak malu-malu. "Memangnya kenapa, Mas?"
"Kelihatannya kamu sama Mas Adi kok semakin mesra?"
"Kasihaaannn, Mas Adi kan sudah lama… eh, maksud saya ditinggal Mbak Wulan. Nggak apa-apa kok." Aku mulai merasa Ani agak khawatir kalau aku mengetahui affair-nya dengan Adi.
Sambil membaca majalah dan nonton TV, aku pandangi badan Ani—dari kulit lengan, susu, perut, bentuk pinggul, paha, hingga betis. Memang segar dan cukup menggoda. Apalagi karena tidak ada bos, Ani tidak memakai seragam putih baby sitter—dia hanya memakai baju tidur kulot dan blus katun biasa, sehingga lekuk tubuh dan bayangan bra serta celana dalamnya terlihat samar-samar. Ani duduk dekat boks bayi sambil menggoyang boks. Sesekali dia mencuri pandang kepadaku dengan raut cemas, seperti takut ketahuan affair-nya. Dalam pikiranku: mending "diselok" aja sekalian.
"Ni, aku mau pindah kost," kataku.
"Lho, kenapa, Mas? Kan Mas Adi dan Mbak Wulan orangnya baik. Mas sudah dianggap seperti keluarga di sini, dan harga kostnya juga kekeluargaan."
"Iya, Ni, tapi aku nggak tahan lihat kamu sama Mas Adi yang akrab banget."
"Akrab gimana?" tanya Ani agak ketus.
"Yah, emang aku nggak tahu kalau kamu sering tiduran di karpet sama Mas Adi? Dan kalau nggak salah kamu pernah jalan sama Mas Adi sambil bawa bayi—ya kan?"
Ani gelagapan. Dia langsung berdiri dan menghampiriku. Aku memandangi bentuk perutnya yang sudah agak kendur tapi justru terkesan seksi. Dia duduk di sebelahku.
"Mas, tolong jangan bilang Mbak Wulan. Aku kasihan Mas Adi, dan aku juga terpengaruh karena sudah lama tidak disentuh laki-laki. Tolong ya, Mas," memelas suara Ani.
Aku pura-pura terus membaca majalah, tapi mata sesekali mengintip susu Ani yang masih sintal dan mulus walau baru tampak separuhnya karena tertutup bra. "Ya, kamu harus ingat, Ni—karena nila setitik, rusak susu sebelanga."
"Yeee, si Mas—rusak susu sebelanga…" jawabnya sambil menyembunyikan malunya.
"Ya, dua-duanya, Ni… kalau terus diuwel-uwel mah."
Ani mencubit perutku. "Ah, si Mas bisa aja. Nih, tak cubit!" Ani tampak gemas campur kesal. "Tapi, Mas, walaupun bagaimana, aku belum pernah bersetubuh dengan Mas Adi—yah, hanya sekedar begitu-begitu saja, yang penting Mas Adi bisa 'keluar'. Bener, Mas, aku nggak bohong."
"Lho, sudah apa belum, bagi saya nggak masalah, Ni."
"Mas kok gitu sih?" Ani meraba-raba kedua susunya. "Belum rusak nih, Mas," katanya sambil mengusap kedua susunya.
"Ya, percaya deh." Setelah terdiam beberapa saat, aku berkata, "Ni, pijitin pundak saya dong. Tadi main golf 18 hole, cukup capek."
"Wee, maaf ya—aku bukan tukang pijat."
"Yah, sudahlah nggak apa-apa. Tapi saya juga bukan tukang yang pintar menyimpan rahasia, lho."
"Eeeemm… si Mas ngancam ya. Ya sudah, sini—awas kalau ngomong ke Mbak Wulan."
Aku duduk di karpet. Ani berlutut di belakangku dan mulai memijiti pundak dan bahu atasku. Selang beberapa menit, aku merasakan sesuatu yang hangat menempel di punggungku—empuk dan kenyal. Kutebak saja: ini pasti perut Ani. Aku pura-pura tidak merasakan apa-apa walau sudah sekitar sepuluh menit berlalu.
"Mas, kepalanya mau dipijit juga nggak?"
"O, ya, iya, Ni." Ani pun memijit kepalaku. Enak sekali rasanya.
Kemudian aku merasakan sesuatu yang lebih empuk lagi menekan di punggungku—sudah kutebak: ini pasti pubis Ani, gundukan daging antara perut dan vagina. Dia terus menekan; semakin terasa hangat dan empuk. Aku sedikit membungkuk sehingga punggungku semakin menekan pubisnya.
"Aduh, Ni. Yang dipijit kepala, kok yang enak punggungku. Terus ya, Ni—tekan lagi."
"Ah, si Mas bisa aja… mau ditekan lagi?" Ani terus menekan-nekan pubisnya di punggungku. Napasnya pun mulai terdengar mendesah, dan pijitan di kepalaku mulai melemah—tapi tekanan pubis di punggungku semakin terasa kuat.
"Apanya yang enak, Mas?"
"Punggungku enak banget, Ni. Punyamu begitu berdaging dan terasa hangat di punggungku."
Sementara itu si ujang di balik celana pendekku mulai menegang. Ani secara sengaja terus menekankan pubisnya di punggungku. "Aduh, Ni, punyaku jadi tegang nih—mau pegang?"
"Manaaa…?" tanya Ani.
"Nih, sudah mulai keras gara-gara punggung keenakan."
"Iya, Mas, kok tegang ya?" Ani sedikit terdiam. "Aku juga, gara-gara Mas Adi, jadi sering cepat geli di anuku. Aku jadi mudah terangsang, padahal sudah tahunan nggak begini."
"Ni, pijit aja punyaku—tapi yang enak ya."
Tanpa bicara lagi, Ani pindah duduk di sebelahku. Tangannya mulai masuk ke sela celana pendekku, meraba-raba penisku dengan lembut. Mulai terasa geli. Ani meremas bagian kepala penisku, dipijit-pijit lembut—penisku semakin geli dan nikmat. "Oh, Ni, enak banget… teruuus, Ni," desahku.
Tanganku mulai menyusur ke balik bra Ani. Perlahan kuelus lembut susunya. Pelan-pelan ujung jariku menyusur hingga terasa puting susu yang sudah mengeras namun lembut kulitnya—terus kuelus, sesekali agak kuremas lembut. Napas Ani mulai agak tersengal-sengal.
"Aduuuh, Mas, sentuhan tangannya kok lembut banget—aku semakin nikmat, Mas." Tangan kanan Ani membuka kaitan bra bagian belakang sementara tangan kirinya masih terus memijit-mijit ujung penisku. Aku menyingkap blusnya dari sekitar perut agar dapat meraih kedua susunya, sementara Ani melepas branya pelan-pelan melalui sela-sela lengan bajunya.
Benar saja: susunya masih mulus. Walaupun sudah agak jatuh, kekenyalan dan kelembutan kulitnya masih terasa segar.
Kusingkap terus blusnya ke atas. Puting susu Ani yang kiri mengarah agak ke samping kiri dan yang kanan agak ke samping kanan—tanda susu yang masih berkelenjar bagus, walaupun agak turun tapi masih kencang.
"Isap, Mas," pinta Ani.
Perlahan kuisap lembut putingnya—mulai dengan isapan pelan, lama-lama semakin kuat. Ani menjerit perlahan, "Aaahhh… aduh, Mas, kok enak sekali… teruuuus, Mas."
Kuisap putingnya pelan-pelan namun terasa menggigit, hingga Ani tidak kuat berdiri. Akupun membaringkan tubuhku di karpet sambil terus mengisap putingnya. Ani mengambil posisi di atasku dan mulai menempelkan vaginanya ke penisku—dia masih mengenakan kulot tipisnya. Dia menekan vaginanya ke penisku. Terasa badan Ani agak bergetar ketika dia menekan. Aku merasakan begitu empuk dan hangatnya daging vagina Ani. Kemudian Ani mulai menggerakkan pinggulnya sehingga tekanan berubah menjadi gesekan-gesekan perlahan—terasa ujung penisku mulai menyelip di belahan vaginanya walau masih terbungkus kulot dan celana dalam.
Tanganku mulai meraba pantatnya, menyusurkan tangan di antara celana kulotnya. Lembut dan empuk—pantatnya bukan yang kencang, tapi empuk; kulitnya masih halus. Aku mulai menyelipkan tanganku ke sela celana dalam bagian pantatnya dan meraba halusnya. Ketika pantatnya kuelus, Ani semakin menekan gesekan vaginanya ke penisku. Aku yakin G-spot Ani ada di sekitar pantatnya. Elusan di pantat Ani kuganti dengan pijitan-pijitan ujung jari—ternyata Ani semakin terangsang dan mengesek semakin cepat.
"Oh… oh… oh… Mas, aku mau keluar, Mas…"
Mendengar rintihan Ani, aku membantu prosesnya—kutekan pantatnya dengan kedua tangan agar vaginanya semakin keras menekan penisku.
"Aaaahh… aaahhh… seeepp… seeeppp…" seperti kepedasan makan cabai. "Maaaasss, aku keluar, Mas… ah… aaaahhh…" Ani seperti setengah menangis. Terasa di penisku vaginanya berdenyut-denyut beberapa kali sementara dia menekan susu kirinya ke dadaku. Dia terus merintih dan mendesah. Kemudian denyutan vaginanya terasa lagi—nyut… nyuut… nyut. Ani mengalami orgasme panjang.
Sejenak Ani merebahkan tubuhnya di atasku—belum semenit, dia sudah mulai menekan-nekankan lagi vaginanya ke penisku yang masih keras. Dia mulai mendesah lagi.
"Ni, nanti dilihat Simbok—ke kamar aja, yuk."
"Ah tidak, Mas, Simbok sudah tidur. Lagian kalau bayi bangun gimana?"
"Ya sudah, buka saja celanamu, Ni." Aku memintanya.
"Jangan, Mas, gini aja ya—sementara kuselipkan penisku ke sela celana dalamnya." Ani masih berposisi di atasku. Ketika penisku mulai menyusup di sela celana dalam dan vaginanya, terasa lendir hangat dan licin di ujung penisku. Dia mulai menggerakkan pinggulnya dan gesekan belahan vagina yang hangat dan licin mulai merangsang penisku.
Namun di sisi penisku terasa agak sakit terkena tepian celana dalam Ani. "Aduh, Ni, celana dalammu sakit nih."
Kemudian Ani melepas celana kulotnya dan agak menarik celana dalamnya ke bawah, sementara aku melepas celana pendek dan celana dalamku—penisku pun mulai nyaman. Ani mengambil posisi seperti katak yang mau meloncat, lalu mulai menggerakkan pinggulnya perlahan ke kiri dan ke kanan. Tanganku mencengkram pantatnya dan sesekali kutekan sehingga penisku terasa berada di muka gawang. Kudorong-dorongkan pinggulku naik-turun sementara Ani menggoyang kiri-kanan. Variasi goyangan ini menciptakan rasa geli yang berbeda dibanding bersetubuh biasa—penisku semakin keras, vagina Ani semakin basah kuyup, namun basah yang membuat rasa geli di penisku semakin nikmat.
Ani terus bergerak sementara kedua susunya semakin terasa menggiling dadaku. Kenyalnya, hangatnya—terasa sekali karena kaos ku sudah kuangkat ke leher dan blus Ani sudah terangkat sehingga kedua susunya terasa nempel langsung di kulit dadaku. Tangan Ani yang semula menahan badannya di lantai kemudian berubah memeluk tubuhku sehingga susunya semakin menekan di dadaku. Gerakan pinggulnya semakin lembut, seolah memposisikan titik-titik tertentu dari vaginanya di penisku. Kelihatannya Ani berusaha agar kelentitnya tergesek oleh ujung penisku. Dia begitu aktif mencari titik-titik kenikmatan di vaginanya.
Kemudian aku mulai menekan-nekan ujung penisku ketika terasa sudah berada di ambang lubang nikmat. Aku tidak tahan lagi ingin menancapkan penisku ke vaginanya. "Ni, kamu di bawah ya, Ni."
"Jangan dulu, Mas, biar lama nikmatnya. Soalnya kalau Mas di atas pasti Mas cepat keluar," jawabnya dengan kata-kata terputus karena napasnya seperti orang sedang aerobik.
"Ya, tapi masukan dong, Ni. Aku sudah nggak sabar."
"Iya, iya, tapi pelan-pelan ya, Mas, biar terasa nikmat."
Kemudian Ani menghentikan gerakan pinggulnya dan memposisikan ujung penisku tepat di lubang vagina yang licin dan hangat. Dia mulai menekan pinggulnya ke bawah, dan penisku perlahan mulai menyusup. Pelan sekali Ani menarik lagi pinggulnya ke atas—aku merasakan gesekan lubang vagina yang halus, licin, dan lembut. Dia menekan lagi; kira-kira lima sentimeter penisku masuk. Dia tarik lagi pinggulnya ke atas. Cara seperti ini menimbulkan kenikmatan yang khas sekali—gregel-gregel dinding vagina Ani begitu terasa menggelitik karena gerakan perlahan, seolah penisku meraba-raba tiap mili dinding lubang vagina Ani.
Desahan demi desahan terus keluar dari mulut Ani, dan perlahan-lahan Ani menekan pinggulnya hingga penisku masuk seluruhnya, lalu dia tarik lagi pelan-pelan. Ditekan lagi—blesss—penisku masuk. Begitu terus berulang-ulang hingga sekitar lima belas menit. Sesekali terasa denyutan-denyutan halus di dalam vagina Ani yang seolah menjepit-jepit ujung penisku.
Kemudian Ani memasukkan penisku dengan menekan pinggulnya, tidak lagi menariknya ke atas—tapi dia tekan terus agak lama sehingga penisku tertanam begitu dalam di dalam vagina hangatnya. Kemudian denyutan-denyutan vaginanya… begitu nikmat, cenut-cenut. Lalu ada denyutan panjang yang rasanya begitu menjepit ujung penisku. Gaya ini terus berlangsung hampir seperempat jam. Aku benar-benar merasakan nikmat yang baru kali ini kurasakan dibanding kenikmatan ML dengan pacarku sebelumnya.
Di ujung penisku mulai terasa geli sekali seperti hendak keluar, sementara Ani terus mengayuh pinggulnya perlahan. Tangan kirinya menarik susunya ke arah mulutku—kuisap-isap pelan hingga kuat. Ani mulai tidak dapat mengontrol gerakannya, menggoyang semakin cepat. Akhirnya jeritan kenikmatan Ani muncul lagi; dia mencapai orgasme lagi—terasa jepitan-jepitan vagina dan denyutan-denyutannya yang tak beraturan. Dia mendesah dan menggigit dadaku. Orgasmenya panjang.
Dan saat penisku dijepit-jepit oleh vagina yang sedang orgasme itu, akupun tidak tahan. Sekujur badanku terasa geli, linu, dan merinding. Aku berusaha terus menggerakkan pinggulku ke atas dan ke bawah agar penisku tetap menggesek vagina Ani yang sedang berdenyut-denyut. Ani pun sadar aku mau keluar—dia langsung mengisap puting susuku dan memainkan ujung lidahnya di sana. Penisku semakin terasa geli sekali, terasa gatal yang teramat sangat di ujungnya seolah ingin digaruk terus oleh bagian terdalam vagina Ani. Ani semakin aktif mengisap dan memainkan lidahnya di puting susuku, dan aku terus menaik-turunkan pinggulku—akhirnya crot-crot-crot, spermaku muncrat di dalam vagina Ani.
Tanpa sadar Ani mengaduh keenakan. "Aduuuhh, Mas, hangat sekali…" rintihnya.
Aku merasakan kenikmatan ketika crot pertama vagina Ani menjepit, crot kedua vagina Ani berdenyut, dan ketika aku menekan penis hingga maksimal—di situlah kenikmatan puncaknya. Tanpa sadar aku menarik pinggul Ani agar penisku menancap semakin dalam. Crot yang terakhir membuat badanku bergetar seperti kejang-kejang. Ani yang sedang orgasme kutembak dengan semprotan spermaku—dan di sinilah puncak kenikmatan yang didambakan, hingga selesai proses semprotan spermaku. Vagina Ani masih terus berdenyut-denyut, dan terdengar suara Ani seperti orang menangis—dia benar-benar merasakan orgasme yang luar biasa. Begitu pula aku.