18px

Antara Aku dan Tante Lina

Antara Aku dan Tante Lina

Kejadian ini terjadi sekitar enam tahun yang lalu, waktu itu aku masih berusia 24 tahun. Aku mempunyai seorang tante bernama Lina yang umurnya waktu itu 36 tahun. Tante Lina adalah adik dari mamaku. Tante Lina sudah menjanda selama lima tahun. Dari perkawinannya dengan almarhum suaminya, mereka tidak dikaruniai anak. Tante Lina melanjutkan usaha peninggalan dari almarhum suaminya dan tinggal di salah satu perumahan yang tidak jauh dari rumahku, bersama seorang pembantunya, Mbak Sumi. Tante Lina menurutku seksi sekali. Payudaranya besar bulat dengan ukuran 36C, tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati, dan perutnya rata karena belum pernah punya anak. Hal ini membuatku sering ke rumahnya dan betah berlama-lama di sana bila ada waktu.

Sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan tante Lina yang seksi itu. Dia orangnya supel—tidak canggung bercerita-cerita denganku. Dari cerita-ceritanya bisa aku tebak bahwa dia sangat kesepian semenjak suaminya meninggal. Maka aku berupaya menemaninya, sekaligus ingin menikmati pemandangan tubuhnya yang seksi. Setiap kali aku melihat tubuhnya, aku selalu terangsang dan melampiaskannya dengan onani sambil membayangkan dirinya. Kadangkala timbul pikiran kotorku untuk bisa bersetubuh dengannya, tapi aku tidak berani berbuat macam-macam karena takut dia akan marah dan melaporkannya ke orang tuaku.

Hari demi hari, keinginanku untuk bisa mendapatkan tante Lina semakin kuat. Kadang-kadang kupergoki tante Lina habis mandi hanya memakai lilitan handuk saja. Melihatnya, jantungku deg-degan—ingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang-kadang dia juga sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Benar-benar memancing gairahku.

Sampai pada hari itu, tepatnya malam Minggu, aku sedang malas keluar bersama teman-teman dan pergi ke rumah tante Lina. Sesampai di rumahnya, tante Lina baru akan bersiap makan dan sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah. Kami pun saling bercerita. Tiba-tiba hujan turun deras sekali, dan tante Lina memintaku menginap saja malam ini dan memberitahu orang tuaku bahwa aku akan menginap di rumahnya karena hujan sangat deras.

"Di, tante mau tidur dulu ya, udah ngantuk. Kamu udah ngantuk belum?" katanya sambil menguap.

"Belum, Tante."

"Oh ya, Tante, Andi boleh pakai komputernya nggak? Mau cek email bentar," tanyaku.

"Boleh, pakai aja," jawabnya lalu menuju ke kamarnya.

Lalu aku memakai komputer di ruang kerjanya dan mengakses situs porno. Terus terang, tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar wanita setengah baya bugil. Kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali—berukuran sekitar 15 cm—karena aku sudah sangat terangsang. Tanpa kusadari, tahu-tahu tante Lina masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saking kagetnya, aku tidak sempat menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Lina sempat terbelalak melihatnya, hingga langsung bertanya sambil tersenyum manis.

"Hayyo, lagi ngapain kamu, Di?" tanyanya.

"Aah, nggak apa-apa, Tante—lagi cek email," jawabku sekenanya. Tapi tante Lina sepertinya sadar kalau aku sedang mengelus-elus batang kemaluanku.

"Ada apa sih, Tante?" tanyaku.

"Aah nggak, tante cuma pengen ngajak kamu temenin tante nonton di kamar," jawabnya.

"Oh ya, sudah, nanti saya nyusul ya, Tante," jawabku.

"Tapi jangan lama-lama ya," kata tante Lina.

Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu beranjak menuju kamar tante dan menemaninya nonton film horor yang kebetulan juga banyak mengumbar adegan-adegan syur.

Melihat film itu, langsung saja aku menjadi salah tingkah karena batang kemaluanku langsung bangkit lagi. Tante Lina sudah memakai baju tidur yang tipis—dan gilanya dia tidak memakai bra, karena aku bisa melihat puting susunya yang agak mancung ke depan. Gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi aku tidak berani berbuat macam-macam. Batang kemaluanku semakin tegang sehingga aku terpaksa bergerak-gerak sedikit untuk membetulkan posisinya. Melihat gerakan itu, tante Lina rupanya langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku.

"Lagi ngapain sih kamu, Di?" tanyanya sambil tersenyum.

"Ah, nggak apa-apa kok, Tante," jawabku malu. Sementara itu tante Lina mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat di atas ranjang.

"Kamu terangsang ya, Di, lihat film ini?"

"Ah, nggak, Tante—biasa aja," jawabku mencoba mengendalikan diri.

Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku. Ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja—tante Lina pun sudah agak terangsang, sehingga dia mencoba mengambil inisiatif terlebih dahulu.

"Menurut kamu, tante seksi nggak, Di?" tanyanya.

"Wah, seksi sekali, Tante," kataku.

"Seksi mana sama yang di film itu?" tanyanya sambil membusungkan payudaranya sehingga terlihat semakin membesar.

"Wah, seksi Tante dong—abis badannya Tante bagus sih," kataku.

"Ah, masa sih?" tanyanya.

"Iya, bener, Tante. Swear," kataku.

Jarak kami semakin merapat karena tante Lina terus mendekatkan tubuhnya padaku, lalu bertanya lagi.

"Kamu mau nggak kalau diajak begituan sama tante?"

"Maauu, Tante..." Ah, seperti ketiban durian runtuh. Kesempatan ini tidak akan kusia-siakan. Langsung saja aku memberanikan diri mendekatkan diri pada tante Lina.

"Wah, barang kamu lumayan juga, Di," katanya.

"Ah, Tante bisa aja. Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih—sampai saya gemes deh ngeliatnya," kataku.

"Ah, nakal kamu ya, Di," jawabnya sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku.

"Wah, jangan dipegangin terus, Tante—ntar bisa tambah gede loh," kataku.

"Ah, yang beneran nih?" tanyanya.

"Iya, Tante. Ehh, aku boleh pegang itu nggak, Tante?" kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yang besar itu.

"Ah, boleh aja kalau kamu mau," jawabnya.

Wah, kesempatan besar! Tapi aku agak takut dia marah. Namun tangan tante Lina sekarang sudah mengelus-elus kemaluanku, sehingga aku pun memberanikan diri mengelus payudaranya.

"Ahh... arghh, enak, Di. Kamu nakal ya," kata tante sembari tersenyum manis ke arahku. Spontan aku melepas tanganku.

"Loh, kok dilepas sih, Di?"

"Ah, takut Tante marah," kataku.

"Ooh, nggak lah, Di. Kemari deh."

Tanganku digenggam tante Lina kemudian diletakkan kembali di payudaranya, sehingga aku pun semakin berani meremas-remasnya.

"Aarrhh... ssh," rintihnya, hingga semakin membuatku penasaran.

Lalu aku pun mencoba mencium tante Lina. Sungguh di luar dugaanku—tante Lina menyambut ciumanku dengan beringas. Kami pun berciuman dengan nafsu sekali, sementara tanganku bergerilya di payudaranya yang sekal itu.

"Ahh, kamu memang hebat, Di. Terusin, Di. Malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama tante ya. Arhh... arrhh."

"Tante, aku boleh buka baju Tante nggak?"

"Ooh, silakan, Di," sambutnya.

Dengan cepat kubuka bajunya sehingga payudaranya yang besar dengan puting kecoklatan sudah berada di depan mataku. Langsung saja aku menjilat-jilat payudaranya yang memang selama ini aku kagumi.

"Arrgghh... arrgghh..." tante mengerang keenakan.

"Teruus... teerruuss, Di. Ahh, enak sekali..."

Lama aku menjilati putingnya, hingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di kepalanya. Lalu sekilas kulihat tangan tante Lina sedang mengelus-elus klitorisnya sendiri, sehingga tanganku pun kularahkan ke celananya untuk kulepaskan.

"Aahh, buka saja, Di. Ahh."

Napas tante Lina terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan, aku langsung membuka celana dalamnya. Sekarang tante Lina sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu. Lalu dengan pelan-pelan kumasukkan jariku untuk menerobos liang kemaluannya yang sudah basah itu.

"Arrhh... ssh, enak, Di. Enak sekali," jeritnya.

Setelah puas jariku bergerilya, kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin dan mengkilap. Lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluannya dengan lidahku turun-naik. Tante Lina semakin kelabakan—ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meremas payudaranya.

"Aah... ssh, tante udah nggak tahaann lagi. Tante udah mau keluar. Ohh."

Dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yang semakin basah.

Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak liar—sepertinya akan orgasme. Kupercepat jilatanku dan tusukan jariku sehingga dia merasakan keenakan yang luar biasa, lalu dia menjerit.

"Oohh... aarrhh, tante udah keluuaarr, Di. Ahh." Sambil menjerit kecil, pantatnya digoyang-goyangkan. Lidahku masih terus menjilati bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang—lemas sekali.

"Wah, ternyata kamu hebat sekali. Tante sudah lama tidak merasakan kepuasan ini, loh," ujarnya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir tante Lina. Sementara itu tangan tante Lina mengelus-elus batang kemaluanku, dan aku pun masih memilin-milin putingnya yang sudah semakin keras.

"Aahh..." desahnya sambil terus mencumbu bibirku. "Sekarang giliran tante. Tante akan bikin kamu merasakan nikmatnya tubuh tante."

Tangan tante Lina segera menggerayangi batang kemaluanku, lalu digenggamnya dengan erat sehingga agak terasa sakit—tapi kudiamkan saja karena terasa enak juga diremas-remas oleh tangannya. Aku juga tidak mau kalah; tanganku terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Rupanya tante Lina mulai terangsang kembali ketika tanganku meremas payudaranya sambil sesekali kujilati putingnya yang sudah tegang. Seperti orang kelaparan, kukulum terus puting susunya sehingga tante Lina semakin blingsatan.

"Aahh, kamu suka sekali sama dada tante ya, Di?"

"Iya, Tante—abis tetek tante bentuknya sangat merangsang sih. Terus besar tapi masih tetap kencang."

"Aahh, kamu memang pandai memuji orang, Di."

Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan—tidak dikocok, hanya dielus-elus. Lalu tante Lina mulai menciumi dadaku, terus turun ke arah selangkanganku, sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa. Akhirnya tante Lina berjongkok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku. Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas, lalu meratakan cairan itu ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya.

Aku benar-benar merasakan nikmatnya pelayanan yang diberikan tante Lina. Lalu dia mulai membuka mulutnya dan memasukkan batang kemaluanku ke dalamnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagiannya sehingga basah oleh ludahnya. Selang beberapa menit setelah tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku. Lalu kuangkat tante Lina dan kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas ranjang. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku.

"Aahh, Di, ayolah—masukin batang kemaluan kamu ke tante ya. Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek tante disodok-sodok sama batang kamu itu."

"Iyaa, Tante."

Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya, tapi aku tidak langsung memasukkannya—aku gesekkan terlebih dulu ke bibir kemaluannya sehingga tante Lina lagi-lagi menjerit keenakan.

"Aahh... aahh, ayolah, Di, jangan tanggung-tanggung—masukiinn."

Lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku. Agak sempit rupanya lubang kemaluannya sehingga sedikit sulit memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang itu.

"Aahh... ssh... oohh, pelan-pelan, Di. Teruss... teruuss... aahh."

Aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan tante Lina sehingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya. Kemudian batang kemaluanku mulai kupompa perlahan dengan gerakan memutar sehingga pantat tante Lina juga ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali karena goyangan pantatnya menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu. Sementara itu aku terus menjilati puting dan lehernya yang dibasahi keringat. Tangan tante Lina mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat.

"Oohh... ssh, Di, enak sekali. Oohh... ohh..."

Mendengar rintihnya, aku semakin bernafsu.

"Aahh, cepat, Di—tante mau keluuaarr. Aahh."

Tubuh tante Lina kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik. Rupanya dia kembali orgasme—bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang sedang merojok-rojok liang kemaluannya.

"Aahh... ssh... ssh," desahnya. Lalu tubuhnya kembali tenang menikmati sisa-sisa orgasme.

"Wah, kamu memang hebat, Di. Tante sampai keok dua kali sedangkan kamu masih tegar."

"Iya, Tante. Bentar lagi aku juga keluar nih," ujarku sambil terus menyodok liang kemaluannya yang berdenyut-denyut itu.

"Aahh, enak sekali, Tante. Aahh."

"Terusin, Di. Terus. Aahh... ssh," erangan tante Lina membuatku semakin kuat merojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya.

"Aauuhh, pelan-pelan, Di. Aahh... ssh."

"Aduh, Tante, bentar lagi aku mau keluar nih," kataku.

"Aahh, Di, keluarkan di dalam aja ya. Aahh. Tante mau ngerasain siraman hangat peju kamu. Ahh... ssh."

"Iyaa, Tante."

Lalu aku mengangkat kaki kanan tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku.

"Aahh... oohh... aahh... ssh. Tante, Andi mau keluar nih. Ahh." Lalu aku memeluk tante Lina sambil meremas-remas payudaranya. Sementara itu tante Lina memelukku kuat-kuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.

"Aahh, tante juga mau keluar lagi. Aahh... ssh." Lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat.

"Seerr... seerr... croott... croott..."

"Aahh, enak sekali, Tante. Aahh... ahh." Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh tante Lina untuk menuntaskan semprotan maniku. Lalu tante Lina membelai-belai rambutku.

"Ah, kamu ternyata seorang jagoan, Di."

Setelah itu dia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya, kemudian dimasukkan kembali ke dalam mulutnya untuk dijilati. Ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. Kemudian kami berdua pun tidur saling berpelukan. Malam itu kami melakukannya sampai tiga kali.

Setelah kejadian itu, kami sering melakukan hubungan seks—kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno. Hubungan kami berjalan selama dua tahun dan akhirnya diketahui oleh orang tuaku. Karena merasa malu, tante Lina pun pindah ke Jakarta dan menjalankan usahanya di sana. Aku benar-benar sangat kehilangan tante Lina, dan semenjak kepindahannya, dia tidak pernah menghubungiku lagi.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya