Awal Menjadi Gigolo
Awal Menjadi Gigolo
Namaku Sony, wajahku lumayan ganteng, tubuh tinggi dan seksi. Tetapi keadaan ekonomiku kurang mencukupi. Makanya aku pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang dapat memenuhi masa depanku. Pada waktu aku sedang mencari pekerjaan, kulihat ada papan iklan di sudut jalan: "DICARI COWOK DAN CEWEK UNTUK JADI MODEL." Aku tertarik dan langsung pergi ke tempat yang ditunjukkan papan iklan itu. Setelah sampai, kulihat tempatnya ramai dengan orang yang ikut mendaftar menjadi model. Aku langsung saja masuk ke tempat itu.
Setelah giliranku mendaftar, aku ditanya oleh Mbak yang mengurus bagian pendaftaran. Orangnya cantik dan tubuhnya wuih.
"Namanya siapa, Mas?" katanya.
"Sony, Mbak," kataku sambil melihat wajahnya yang ayu.
"Boleh lihat kartu identitasnya, Mas?" katanya lagi.
"Ini, Mbak," kataku sambil menyerahkan KTP.
"Ok, sekarang Mas masuk ke ruangan tes ya. Mas jalan aja lurus, terus belok kanan, nah di situ Mas masuk aja!" katanya.
Lalu aku pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Mbak itu.
Aku duduk menunggu giliran. Ketika aku sedang menunggu, ada beberapa cowok-cewek yang keluar dari kamar itu dengan kepala tertunduk โ pasti mereka tidak lulus tes. Aduh, aku jadi takut dan badanku gemetar tidak karuan.
"Mas Sony..." Tiba-tiba ada suara memanggil namaku.
Langsung saja aku masuk ke ruangan tes. Di situ ada dua cewek cantik memakai baju ketat sehingga dada mereka yang besar terlihat menyembul, dan di bagian bawah mereka hanya memakai rok mini sekitar 10 cm dari sana.
"Mas Sony ya? Aduh, gantengnya. Sudah pernah jadi model sebelumnya?" katanya.
"Belum pernah, Mbak. Saya baru saja datang dari desa," kataku lugu.
"Ooo... sekarang coba buka baju dan celananya, Mas ya?" katanya.
"Lho, kok pakai buka baju segala, Mbak? Emangnya Sony mau diapain?" kataku.
"Mas mau jadi model nggak? Kalau mau jadi model ya harus nurut! Ayo, cepat buka bajunya โ sini biar kami bantu." Dia langsung menuju ke arahku untuk melepaskan bajuku, sementara temannya melepaskan celanaku.
Kini aku sudah setengah telanjang di depan mereka berdua. Gundukan batang kejantananku di balik celana dalamku terpampang dengan jelas.
"Wow, besar juga ya. Mas Sony sudah pernah berhubungan seks sebelumnya?" tanyanya sambil memandang gundukan di balik celana dalamku.
"Belum pernah, Mbak. Emangnya kenapa sih kok nanya yang begituan?" kataku sambil memandang mereka yang kelihatan tertarik.
"Begini, Mas, kami mencari beberapa model yang masih 'hijau' pengalamannya."
"Apa hubungannya jadi model sama pengalaman? Kan makin banyak pengalaman makin bagus nantinya," kataku.
"Kami hanya mencari cowok dan cewek yang setengah perawan begitulah. Sekarang saya mau menguji Mas ya?" katanya sambil membuka pakaiannya satu per satu, sementara yang satunya mendekatiku.
Dia memeluk tubuhku, menciumiku, dan meraba-raba tubuhku. Sementara itu Mbak yang satunya sudah melepas baju ketatnya sehingga payudaranya yang besar tergantung bebas โ rupanya dia tidak memakai BH. Wow, ukurannya besar sekali. Baru kali ini kulihat payudara sebesar itu. Lalu dia melepas rok mininya, dan... terpampanglah kemaluannya yang gundul dan montok. Setelah itu dia mendekatiku sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya yang bulat. Aku jadi terangsang dan batang kejantananku menegang semakin keras. Dia menggoyang tubuhnya sambil menempelkan kemaluannya ke gundukan di celana dalamku. Batang kejantananku makin keras saja mendapat perlakuan seperti itu.
"Mas Son, CD-nya dibuka ya? Kasihan yang di dalam, pengin ketemu temennya," katanya sambil memelorotkan celana dalamku.
Seketika itu batang kejantananku berdiri dengan kokohnya bagaikan pedang.
"Aduh, Mas, besarnya... eehhmm," katanya sambil mengurut batang kemaluanku.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Dia terus dengan lembutnya mempermainkan kemaluanku. Lalu aku disuruh tidur telentang. Sementara aku berbaring di lantai yang dingin, Mbak itu dengan agresifnya terus mengulum batang kemaluanku.
Sementara itu Mbak yang satunya, yang baru saja selesai membuka pakaiannya, langsung mengangkangkan kakinya di atas wajahku. Kemaluannya yang dikelilingi bulu lebat itu ditempelkan di wajahku, lalu digeser-geserkan dengan irama lembut.
"Jilatin dong, Mas Son... eehhmm," katanya memelas.
Akhirnya kudekatkan juga kepalaku ke lembah kemaluannya. Tercium bau khas vagina, dan kujulurkan lidahku menjilati kemaluannya yang sudah basah. Dia mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat dia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir puting susunya.
"Oh yes, jilat terus, Mas... ohh yes!" katanya sambil mengangkat sebelah tangannya, dan sesaat terlihat bulu ketiaknya yang lebat.
Mbak ini sungguh maniak sekali.
Beberapa saat kemudian dia meronta dengan kuat. "Aaahh... ohh... yes... aargghh!" Dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan tubuhnya ke bawah agar wajahku menempel lebih kuat ke vaginanya. Aku jadi susah bernapas dibuatnya. Dia makin mengerang, sementara Mbak yang satunya masih terus mengulum batang kejantananku yang tambah mengeras.
"Lagi, Mas... arghh... yah... yah... lagi... oohh!" Dia makin menggila ketika aku mencoba mengulum klitorisnya dan memainkannya dengan lidahku.
Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang kemaluannya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. Vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat dan menggerakkan badannya naik turun dengan cepat dan kasar. Lalu dia menegang, kemudian tenang. Saat itu juga aku merasakan cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari liang kewanitaannya. Kujilati semuanya.
"Oh God, bener-bener hebat kamu, Mas Son... ahh, nggak kuat lagi buat berdiri... shit!" Dia terbujur lemas di sampingku.
Aku hanya tersenyum. Lalu Mbak yang tadi mengulum batang kejantananku kini mulai mengangkangkan kakinya di atas senjataku. Dan "bless..." dimasukkannya batangku pada lubangnya yang hangat dan sudah sangat basah.
Dia mulai menggoyang tubuhnya perlahan-lahan โ pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul gerakan memutar. Wah, Mbak ini rupanya sudah profesional sekali. Lubangnya kurasakan masih sangat sempit, makanya dia pun hanya berani bergerak perlahan tetapi teratur.
Dengan posisinya itu dia terlihat sangat cantik dan seksi, buah dadanya tergantung sangat menantang. Aku dengan posisi setengah duduk berusaha menghisap susunya. Dia mengerang dan gerakannya bertambah cepat. Jariku berusaha mencari lubang pantatnya yang kini menganga karena posisinya berjongkok di atas batang kejantananku. Dengan mudah aku memasukkan jari tengahku ke sana. Cairan dari vaginanya dan penisku membasahi lubang pantatnya, terasa sangat licin dan lengket. Aku mempermainkan jariku mengikuti irama naik-turun badannya, dan dia terlihat menikmatinya sambil melempar kepalanya ke belakang.
"Ooocchh... aachh... yes!" erangnya.
Aku mencoba memasukkan jari kedua ke dalam lubang pantatnya dan berhasil dengan mudah โ lubangnya basah dan licin sekali. Dengan dua jari memasuki lubang pantatnya dan batang kejantananku di vaginanya, dia setengah berteriak, "Mas Son, aku mau keluar... ohh yes!"
Dia berhenti naik turun dan menekan vaginanya keras-keras ke pangkal batangku. Tidak lama kemudian terasa lubang kemaluannya berdenyut dengan keras. Dia mengerang dan memelukku kuat-kuat. Dengan pijatan vaginanya aku tidak dapat menahan diri dan memberi tahu dia bahwa aku juga akan keluar.
"Please, give it to me, I want to feel it inside me," katanya menjawab desahanku.
Semprotan spermaku terasa sangat kuat dan banyak. Bersamaan dengan semprotan itu dia berkata, "Aku keluar lagi, Mas Son... oocchh, it's so good..."
Pantatnya ditekan keras-keras ke bawah seakan-akan batang kejantananku kurang dalam memasuki liangnya. Kedua jariku kutekan dalam-dalam ke lubang pantatnya sambil digoyang-goyangkan di dalamnya. Terasa batang kemaluanku di dalam dibatasi oleh dinding pantat dan vaginanya. Dengan tetap memeluk tubuhku, dia merebahkan diri ke lantai yang dingin. Kakinya melingkar di pinggangku dan penisku tetap berada di dalam vaginanya.
Wajah, mata, dahi, hidung โ pokoknya seluruhnya habis diciumi oleh Mbak itu sambil berkata, "Terima kasih, Mas. Mas Sony memang perkasa."
Melihat aku sudah selesai dengan temannya yang sudah tertidur, Mbak yang satunya mulai beraksi. Setelah selesai membersihkan batang kejantananku, Mbak yang tadi tertidur langsung menjilat batang kemaluanku lagi. Dengan tetap bersemangat, batang penisku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dengan cepat batang kejantanku menjadi keras kembali, dan dia berkata, "Mas Son, please fuck me from behind."
Dia membelakangi aku, dan pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah. Sebelum memasukkan batang kemaluanku, kujilat dulu vaginanya dan lubang pantatnya. Tercium bau sabun Lux di kedua lubangnya, dan sangat bersih.
"Boleh juga nih cewek," pikirku.
Cairan dari vaginanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Dari ujung penisku terlihat cairan menetes dari lubangnya. Kuarahkan penisku ke lubang vaginanya dan menekan ke dalam dengan perlahan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari penisku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini. Dia kemudian berdiri dan bersandar ke dinding sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu kakinya diangkat ke atas; dari bawah, vaginanya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo, Mas, masukkan sekarang," katanya sudah tidak sabaran.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dengan posisi ini aku bergerak keluar-masuk.
Sambil memeluk tubuhku dan berciuman, dia bilang, "Mas Son, aku mau keluar, kita sama-sama Mas... ohh yes!"
Vaginanya diperkecil dan memijat penisku, dan bersamaan kami mencapai puncak kenikmatan. Aku masih bisa keluar walaupun tadi sudah keluar banyak, dan yang kali ini sama enaknya.
Bersambung...