Bali Bagus - Bagian Dua
Bali Bagus - Bagian Dua
Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar ke seluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk di kursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme, tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.
Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk di tempat tidur. Dewi duduk di pangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau saat disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme, lalu mereka berdua rebahan di tempat tidur dengan lemas.
Tiba-tiba telepon berbunyi.
"Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?" tanya Henri.
"Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi di sini," jawab saya.
"Wah, habis seks ya?" tanya Henri dengan semangat.
"Hehehe, begitulah. Kamu tidur? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol," tanya saya menduga-duga.
"Saya di tempat Carol. Saya ke tempat kalian deh," kata Henri.
Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan percakapan tadi ke Dewi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos, sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.
"Wah, kalian abis pesta pora nih," kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
"Kamu juga nih, abis pesta dengan Carol," kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
"Mana Dewi?" tanya Henri.
"Di kamar mandi," jawabku.
Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk ke dalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa, kemudian hening.
"Kelihatannya mereka sudah mulai," kata saya kepada Carol.
Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kami saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit di daerah vaginanya.
Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok di depan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedotnya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.
Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar di pinggang saya dan saya memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan ke kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.
Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali kontol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk di pangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku.
Dengan energik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke sana. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas di pangkuanku. Saya menggendong Carol ke tempat tidur lalu kami berdua tertidur sambil berpelukan.
Sabtu
Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur di karpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol, dan Henri belum pernah ke Bali, mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restoran untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.
Tur menggunakan dua buah bis. Tujuan pertama ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani, kemudian menonton pertunjukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi:
"Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun."
Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak objek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai model. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.
Di lobi hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat ia beli. Ia menawarkan ke kami untuk ikut, tapi kami semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.
"Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir," tanya saya.
"Saya capek banget, pengen bubble bath," kata Carol.
"Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat," kata Dewi.
"Kita bertiga berendam aja yuk," saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kami menuju ke kamar Carol.
Kamar Carol, walaupun single bed, sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bathtub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kami bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bathtub. Ukurannya terlalu pas untuk kami bertiga, apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk di pangkuan saya sementara saya berselonjor di bathtub, sedangkan Dewi duduk di ujung bathtub.
Kontol saya yang berdiri sesekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya ke atas. Kaki kanan saya menyelip ke tengah kaki Dewi dan sesekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kami berdua.
Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku, sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok kontolku. Gairah saya kembali bangkit. Saya menarik Carol ke atas dan mendudukkannya di ujung bathtub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging di depan Dewi.
Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas kontolku. Nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok kontolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku dan menjilat anusku. Gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol. Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya sendiri.
"Balik dong badannya," kata Dewi.
Saya membalikkan tubuhku sehingga kembali berselonjoran di bathtub. Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap kontolku. Carol mengangkang di depan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang di pinggulku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya.
Air dan buih meluap keluar bathtub saat Dewi mulai mengocok kontolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk di atas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggungnya. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata:
"Aduh, maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita."
"Just go with the flow, jangan dilawan," kata Dewi.
Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama, tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi di atas kontolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh sperma saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bathtub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bathtub.
Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bathtub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri di belakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontolku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bathtub lalu jongkok di bawah Carol. Ia meraih payudara Carol dan mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari kontol dan remasan dari Dewi.
Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol, dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan di tepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali kontolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik — ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibirnya sambil meremas payudaranya.
Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan berciuman dalam. Dewi lalu berlutut di atas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Napas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.
Malam itu, saya, Carol, dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.
E N D