18px

Berawal dari Chatting

Berawal dari Chatting

Pada kesempatan ini aku ingin menceritakan pengalaman bercintaku yang tidak terlupakan. Aku adalah seorang mahasiswa yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Namaku Valentino dan saat ini usiaku 22 tahun. Menurut temanku, meski wajah Chinese-ku ini biasa-biasa saja, tapi aku punya daya tarik seks yang cukup tinggi. Tinggi badanku 173 cm dengan berat 71 kg. Aku juga suka olahraga, wajar saja jika fisikku cukup prima.

Kejadian ini terjadi pada waktu liburan Natal 2000 yang lalu. Waktu itu, untuk melepaskan kesuntukan karena tidak ada aktivitas, aku memutuskan untuk chatting di warnet dekat kost. Aku masuk ke channel favoritku, yaitu Bawel. Selang beberapa lama ada sebuah nick yang mengundangku masuk ke channel dia, dan aku pun masuk saja—siapa takut. Ternyata setelah kami ngobrol beberapa lama, dia adalah seorang cewek kampus yang gaul banget. Dari pembicaraannya sepertinya dia bukan orang yang kuper. Namanya Michelle, kuliah di PTS juga, dan usianya pun sama denganku. Dia mengaku sedang ditinggal pacarnya dan masih merasa sedih. Aku berusaha menghiburnya, lalu minta nomor teleponnya. Akhirnya kami saling tukar nomor.

Esok harinya, aku bangun siang sekali karena semalam chatting sampai jam satu pagi. Tiba-tiba ada yang memanggil dari kost, katanya ada telepon untukku. Aku bingung siapa yang menelepon, tapi setelah kuangkat—oh, rupanya Michelle. Hari itu hari Minggu dan kebetulan aku tidak ada acara. Michelle mengajakku bertemu dan aku pun menyanggupinya. Kami bertemu di Mall Ciputra, tepatnya di Pizza Hut.

Rupanya di sana dia tidak sendirian; dia ditemani tantenya yang cantiknya aduhai dan teman satu kampusnya yang juga tidak kalah cakepnya. Ternyata Michelle cantik sekali, tingginya kira-kira 170 cm dan kutebak ukuran BH-nya pasti 36B—sama seperti tantenya.

Kami pun berkenalan. Michelle menyapaku, "Kenalin, ini Tante gue, Ratna. Dan ini temen gue, Shinta." Kami saling berjabat tangan dan terasa tangan mereka sungguh lembut. Setelah itu kami memesan pizza ukuran besar. Sambil menunggu, aku terus menatap Michelle yang agak membungkuk, sehingga aku bisa melihat belahan dadanya—kemaluanku mulai menegang, ditambah lagi melihat pahanya yang mulus serta bibirnya yang ranum dan merekah.

"Kamu lagi liburan kan, Val?" tanya Tante Ratna.
"Iya nih, lagi suntuk. Nggak ada yang bisa dikerjain waktu liburan," jawabku sekenanya.
"Mmm, gimana kalau kita bertiga ngerjain kamu? Kan katanya kamu nggak ada kerjaan?" kata Shinta sambil tertawa menggoda.
"Iya nih, mau nggak? Kita bermain-main sedikit?" sambung Michelle.
"Ah, kalian bisa aja. Bukannya aku yang ngerjain kalian ntar?" godaku.
"Ihh, kamu bisa aja deh," bisik Tante Ratna.
"Ya sudah, daripada banyak omong, gimana kalau malam ini kita menginap di hotel saja? Tuh, di seberang—resepsionis hotel sudah nunggu kita," ajak Shinta.

Akhirnya kami sepakat untuk memesan kamar di Hotel Ciputra dan Tante Ratna yang membayar. Kami masuk ke kamar dan aku pun merebahkan badan ke ranjang untuk melepas lelah. Aku sempat memejamkan mata sesaat, dan tiba-tiba kurasakan ada yang mengelus-elus sekitar selangkanganku—ternyata itu si Michelle yang sudah tidak sabar lagi. Diturunkannya risleting-ku dan mulai membuka celanaku yang isinya sudah membengkak karena birahi yang tak terbendung.

"Val, aku mau nyobain ngulumin pisang kamu yang cakep ini, boleh kan?" pinta Michelle manja. Tanpa komando, langsung dijilatnya ujung kepala kemaluanku. "Ahh, nikmat sekali.."

Belum sepuluh menit, tiba-tiba Tante Ratna sudah telanjang bulat dan mengarahkan kemaluannya ke wajahku. Tanpa ragu-ragu kujilat vaginanya yang masih indah itu. Sementara itu Shanti, setelah selesai mandi, naik ke ranjang juga dan meraih kedua bukit Tante Ratna yang putingnya sudah menegang karena terangsang oleh jilatanku.

"Ahh, enak sekali rasanya bisa dikerjain mereka bertiga." Michelle dan Tante Ratna dengan buah dada 36B, serta Shanti dengan buah dada 34D, sungguh membuatku tidak bisa berkata-kata selain, "Uh.. oh.. uh.. oh.." Aduh, sungguh nikmat. Penisku yang panjangnya 16 cm rasanya sudah nikmat sekali dan panas dihisap secara bergantian oleh mereka bertiga. Aku pun keluar setelah 20 menit, dikocok dan dijilat bergantian. Aku mengeluarkannya di mulut Michelle yang mungil, sementara Tante Ratna dan Shanti juga tidak ketinggalan membersihkan cairan spermaku yang cukup banyak. Setelah itu Tante Ratna memijat penisku yang sudah mulai loyo hingga berdiri lagi. Belum dua menit, adikku sudah naik lagi akibat pijatan lembut Tante Ratna, sementara Shanti dan Michelle bermain berdua karena mereka ternyata lesbian dan biseks.

Tante Ratna kemudian memasukkan penisku ke dalam kemaluannya yang sudah penuh cairan cinta. Memang agak susah pada awalnya, dan rupanya meski sudah punya suami, kemaluan Tante Ratna tetap sempit—membuat adikku seolah dipijat dan diremas oleh dindingnya yang kuat. Selang 15 menit kemudian, Michelle menghampiriku dan menempatkan vaginanya di atas wajahku untuk dijilat. Berhadapan dengan Tante Ratna, Michelle membantu menjilat puting susunya yang berwarna pink. Sementara itu Shanti juga tidak tinggal diam; diarahkannya jariku ke dalam kemaluannya dan aku pun mulai memahami maksudnya. Kuobrak-abrik kemaluannya dengan kedua jariku hingga Shanti menjerit keenakan.

Akhirnya 10 menit kemudian Tante Ratna berteriak, "Val.. oh.. enak Val.. Tante mau keluar nih.."
"Tunggu Tante, aku juga mau keluar. Aku keluarkan di dalam aja ya? Abis masih ada Michelle sama Shanti, nggak bisa bergerak nih.." erangku.
"Ya sudah, keluarkan di dalam aja.. ohh.. Tante keluar.." desah Tante Ratna.

Akhirnya kami pun keluar bersama-sama. Kemudian kami terus mencoba gaya-gaya lainnya sampai kurang lebih setengah dua pagi.

Keesokan harinya jam tujuh pagi aku terbangun dan ternyata mereka sudah membuatkan sarapan untukku. Tanpa pakaian mereka menyuapiku untuk sarapan dan minum susu. Tapi aku lebih tertarik pada susu mereka. Dengan penuh nafsu mereka menyuapiku dalam keadaan telanjang. Serasa dunia ini seperti di surga. Michelle mulai menatapku penuh nafsu. "Val, aku pengen lagi nih, habis kemarin belum puas. Boleh nggak?" tanya Michelle. "Oh, why not. My soul is yours—just do it," balasku mesra.

Akhirnya Michelle mulai menjilati putingku sambil menciumku dan membelaiku. Aku sungguh merasakan kenikmatan dan kelembutan tangannya. Di adikku sudah ada Tante Ratna dan Shanti yang tangannya bergerilya dengan penuh nafsu dan membuatku merem melek. Oh, betapa indahnya dunia.

Kemudian Tante Ratna memijat adikku dengan kedua bukit susunya yang sungguh menakjubkan. Aduh, enak sekali dipijat dengan cara seperti ini. Aku tidak sanggup lagi menahan semua gairahku. Sementara itu Michelle juga tidak mau tinggal diam; segera diarahkannya vaginanya ke wajahku dan aku pun menjilat vaginanya yang sudah memerah. Suara desahan mulai terdengar dan berpadu membentuk paduan yang menggairahkan, birahiku semakin tinggi.

Setelah 15 menit aku mulai mengubah posisi dan merebahkan Michelle, sementara Tante Ratna dan Shanti asyik bermain berdua. Kutumpahkan susu sarapan ke mulut vagina Michelle dan kujilat-jilat vaginanya yang kini berasa susu. Michelle pun mengerang keenakan, "Val, masukin dong, aku udah basah nih." Tanpa ragu-ragu kuhujamkan penisku yang 16 cm sedalam-dalamnya ke lubang keperawanan Michelle yang merah merekah. Aku terus memompa tanpa henti meski tubuh kami sudah berkeringat semua. Suara desahan demi desahan terus keluar dan semakin menggelora semangat dan nafsuku di pagi itu. "Uh.. uh.. uh.." suara-suara itu terus mendesah dan keringat kami terus menetes, membuat tubuh kami seperti berkilat keemasan ditimpa seberkas sinar matahari. Tante Ratna yang meski sudah cukup berumur tetap bugar dan segar. Mungkin semakin tua semakin berpengalaman. Sedangkan Michelle yang masih muda terus menampakkan semangatnya dengan jeritan-jeritan orgasme yang semakin membuatku merasa beruntung. Sepertinya sekali mendayung, tiga gunung kembar terlampaui. Aku benar-benar dibuat kecapekan. Sungguh liburan yang semula membuat bete menjadi liburan yang penuh kenangan.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya