18px

Berawal dari Meja Billiard

Berawal dari Meja Billiard

Busyeet! Aku melihat jam, ternyata sudah pukul setengah dua belas malam, dan aku belum juga bisa menutup mataku untuk tidur. Memang pada malam itu keadaan udara sedang panas dan hatiku sedang gelisah, yang mana aku sendiri pun tidak tahu penyebabnya.

Karena aku belum bisa tidur juga, akhirnya aku mengambil keputusan: lebih baik keluar sebentar mencari angin. Hmm, sejuk juga angin malam sekarang, atau mungkin karena baru diguyur hujan. Tapi, "Ahkk... nggak aku ambil pusing."

Dalam perjalanan aku sempat berpikir juga, mau ke mana aku tengah malam begini? Tapi akhirnya aku mendapat ide juga — pergi ke tempat billiard. Ya, ke tempat billiard. Mungkin badanku harus capek sedikit biar bisa tidur, lagipula biasanya tempat itu tutupnya jam dua pagi.

Akhirnya aku sampai juga. Setelah memarkir mobil, aku masuk. Wuih, ramai juga! Memang untuk ukuran di kotaku, tempat billiard ini yang paling bagus dan waitress-nya juga cantik-cantik. Setelah agak lama melihat-lihat situasi, akhirnya aku menemukan meja yang kosong di pojok. Kunyalakan lampu yang ada di meja itu, lalu aku mengambil stik. Aku berpikir, mungkin cukup beberapa koin saja hingga badan ini agak capek. Saat itu aku tidak begitu memperhatikan waitress yang sedang menyusun bola, lagipula aku sedang mengoleskan tanganku dengan bedak.

"Mas, mainnya sendirian ya? Saya temenin main ya," tanya waitress itu kepadaku.

"Boleh," jawabku singkat.

Begitu aku membalikkan badan untuk main, aku jadi terpana melihat sosok tubuh yang seksinya minta ampun. Orangnya tidak terlalu tinggi, mungkin sebahu denganku. Rambutnya panjang bergelombang, kulitnya sawo matang, dengan tubuh yang sintal. Payudaranya yang agak besar membusung, matanya agak bulat, bibirnya merekah — ditunjang dengan pakaiannya yang saat itu berupa rok mini warna merah dan kemeja bahan model jatuh warna krem — membuat lekuk tubuhnya semakin menggiurkan. Aku heran juga, mau-maunya dia kerja di tempat seperti ini. Sayang kan? Mendingan jadi pacarku saja. Tapi kenapa aku justru peduli, padahal tujuanku cuma untuk bermain billiard.

Akhirnya kuawali dengan break yang tentunya ditemani oleh waitress tersebut. Aku grogi juga. Kadang-kadang saat dia sedang memukul bola, aku iseng-iseng melirik gundukan payudaranya yang agak menonjol. Apalagi saat dia sedang menyusun bola, kulihat pahanya yang membuat darah mudaku berdesir.

Selama tiga koin aku tidak banyak ngobrol dengannya. Tetapi setelah beberapa lama, karena sudah agak akrab — dalam permainan kami sering saling mengejek — akhirnya aku memberanikan diri untuk mengenalnya lebih jauh.

"Mbak, namanya siapa?" tanyaku saat dia sedang mau memukul bola, sambil mataku melirik ke seputar payudaranya.

"Lia. Mas sendiri siapa?" tanyanya.

"Saya Erick, Mbak. Hmm, udah married, Mbak?" tanyaku agak menyelidik bak seorang detektif.

Lia agak tersenyum mendengar pertanyaanku itu.

"Kalau belum, kenapa? Kalau sudah, kenapa?" jawabnya sambil memukul bola.

"Kalau sudah, saya nggak akan bertanya lagi dan mainnya mau udahan aja karena takut ada yang ngambek. Tapi kalau belum, boleh dong saya daftar?" jawabku sambil tertawa.

"Iiihh, buntut-buntutnya malah mau daftar," jawabnya sambil memandang ke arahku.

Tatapan matanya nakal sekali. Pikiran kotorku mulai keluar. Tapi setelah itu, kami malah asyik bermain sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua pagi. Akhirnya kusudahi bermainnya karena merasa capek.

"Mbak, udahan, ah. Capek nih. Oh ya, aku pesan minumnya lagi dong," kataku kepada Lia.

"Iya, tapi Lia minta Krating Daeng ya," pintanya.

"Boleh, boleh. Ngambil aja," kataku sambil memperhatikan Lia yang berjalan lenggak-lenggok bak peragawati di catwalk.

Tak beberapa lama dia datang lagi sambil membawa minumannya, kemudian duduk di sebelahku. Pahanya yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu halus sengaja dia perlihatkan kepada semua orang.

"Mbak tinggal di mana?" tanyaku.

"Di daerah X***," jawabnya.

"Ooo, dekat juga," kataku. Lalu aku bertanya lagi tentang hal yang belum dia jawab saat awal perjumpaan tadi. "Oh ya, Mbak, udah married?" selidikku sambil tersenyum. Dia menggelengkan kepala.

Yes! Artinya belum married, pikirku. Aku jadi tambah bersemangat untuk mengenalnya lebih jauh.

"Hmm, Mbak pulangnya sama siapa?" tanyaku lagi.

"Ikut jemputan. Kenapa, emangnya?" dia balik bertanya.

"Nggak apa-apa, Mbak. Tapi kalau Mbak nggak keberatan, boleh dong saya anter pulang?" kataku sambil mengharapkan dia mau pulang bersamaku.

Mbak Lia terdiam, sepertinya sedang mempertimbangkan tawaranku. Yang pada akhirnya...

"Boleh aja, tapi kamu sendirian, khan?" kata Lia. Senang juga aku mendengarnya — memang itulah jawaban yang kuharapkan.

"Berdua, Mbak. Tuh, ama bayangan," kataku sambil tertawa. Mendengar jawabanku, dia tersenyum sambil memukul pahaku.

Kemudian kami ngobrol sambil menunggu waktu pulang. Sebelumnya kubereskan dulu pembayaran bekas aku main tadi berikut minumannya. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi lebih. Tampak waitress yang lain sudah pada pulang — sebelumnya mereka setor dulu penghasilan koin mereka malam itu. Aku baru tahu kalau keluar dari situ ternyata mereka sudah pada berganti pakaian. Jadi cuma di dalam ruangan saja mereka berpakaian seksi. Akan tetapi sepertinya Mbak Lia tidak berganti pakaian.

"Nggak ganti pakaiannya dulu, Mbak?" tanyaku.

"Nggak, ah. Males. Lagipula aku kan nggak ikut jemputan, jadinya nggak risih," jawabnya sambil menuju ke kasir untuk menyetor koin. Tapi sebelum sampai ke kasir, dia setengah berbisik kepadaku, "Kamu duluan aja, Rick. Ntar aku nyusul. Kamu tunggu di depan warung aja."

Aku cuma mengangguk, lalu langsung keluar dan segera menuju mobilku. Kuparkir mobilku di depan warung yang tidak jauh dari tempat billiard.

Tidak berapa lama Mbak Lia datang.

"Sorry ya, agak lama. Tadi aku kasih alasan dulu kalau sekarang nggak ikut jemputan," katanya.

"Nggak apa-apa, Mbak," kataku sambil menghidupkan mesin mobil. Dari tempat billiard ke rumahnya cuma membutuhkan waktu lima belas menit. Tapi otak kotorku malah mulai mencari ide agar aku dapat bersamanya agak lebih lama lagi. Akhirnya aku dapat juga ide tersebut — memang kalau untuk hal-hal seperti itu, akulah ahlinya.

"Mbak, mau langsung ke rumah atau mau jalan-jalan dulu?" tanyaku pada Mbak Lia sambil melirik pahanya yang mulus dan agak berbulu itu.

"Hmm, emang mau ke mana gitu, Rick?" kata Lia sambil menyalakan sebatang rokok.

Aku sempat berpikir sejenak, yang akhirnya... "Kalau ke Lembang aja gimana, Mbak? Sambil lihat kota Bandung dari atas sana, terus makan jagung bakar," kataku.

"Hmm, boleh lah, Rick," jawabnya.

Dalam perjalanan kami tidak banyak bicara, mungkin karena keduanya sudah agak capek setelah main billiard tadi.

Setelah sampai di sana, kuparkirkan mobil ke tempat yang agak gelap. Dari situ pun bisa melihat pemandangan kota Bandung yang mungkin hanya terlihat lampu-lampunya saja. Kemudian aku memesan beberapa makanan — tentunya menu utamanya jagung bakar — dan bir hitam supaya badan agak hangat.

Setelah makanan dan minuman selesai dihidangkan, aku balik lagi ke mobil. Kuberikan makanan yang Mbak Lia pesan.

"Pemandangannya bagus ya, Mbak. Betah aku kalau udah di sini," kataku mengawali pembicaraan.

"Iya, Rick, bagus banget," jawabnya sambil makan jagung bakar.

"Mbak sudah lama kerja di situ?" kataku lagi.

"Baru dua bulan, Rick. Kenapa, emangnya?" jawabnya.

"Nggak apa-apa, Mbak. Sayang aja," kataku sambil meminum bir.

"Sayang kenapa, Rick?" jawab Lia dengan sedikit keheranan.

"Sayang aja, Mbak. Kok mau-maunya Mbak kerja di situ. Kan banyak kerjaan yang lain. Apalagi Mbak wajahnya cantik, pasti gampang nyari kerjaan yang lain," kataku dengan sedikit merayu.

"Terima kasih, Rick. Kamu perhatian juga. Tapi aku terpaksa, Rick. Zaman sekarang kerjaan susah, apalagi ijazahku cuma lulus SMA. Ya jadinya terpaksa. Tapi aku berterima kasih, deh, Rick — kamu perhatian banget," kata Lia sambil tangan kanannya mengusap pipiku. Kubalas dengan mencium telapak tangannya.

"Mbak, Erick harap pertemuan kita nggak sampai di sini. Nanti Erick akan sering-sering main ke tempat itu," kataku merajuk.

"Terima kasih, Rick," ucap Lia sambil mencium hangat pipiku.

Seerr! Ada suatu yang lain kurasakan — kehangatan dalam jiwa, perasaan kasih sayang yang amat dalam. Lama aku memandangi wajahnya. Sepertinya dia tahu kalau aku sedang memperhatikannya.

"Kok ngeliatin terus, Rick?" tanya Mbak Lia.

Kaget juga aku, ternyata dia tahu.

"Eh, nggak kok, Mbak. Pengen aja lihat Mbak biar puas," kataku sambil bercanda.

"Idih, genit kamu, Rick," kata Lia sambil mencubit pahaku.

"Rick, jangan panggil 'Mbak' ya. Lagipula umur kita nggak beda jauh kok," katanya.

"Hmm, oke deh. Om — eh, Lia," kataku sambil bercanda lagi.

Lia tersenyum sambil mencubit lagi pahaku.

Selang beberapa waktu kami terdiam, menikmati makanan yang tadi kami pesan.

"Auuww!" Lia agak menjerit. Aku kaget.

"Kenapa, Lia?"

"Bibirku kegigit. Kayaknya berdarah nih," katanya sambil agak meringis.

Kunyalakan lampu yang ada di dalam mobil, lalu aku memperhatikan bibirnya yang memang berdarah — tapi sedikit. Kemudian kuambil tissue dari belakang jok depan.

"Makanya kalau lagi makan jangan sambil ngelamun. Jadinya salah gigit," kataku sambil membersihkan darah yang keluar dari bibirnya.

"Siapa juga yang ngelamun. Ngarang aja kamu, Rick," katanya.

"Udah, ntar nggak bisa dibersihkan kalau nyerocos terus," kataku lagi.

Dia diam saja, sementara aku membersihkan seputar bibirnya. Setelah selesai, kubuang tissue itu keluar. Posisi jari tanganku masih memegang bibirnya. Aku sempat tertegun memandang bibirnya yang mungil itu. Dengan perlahan, kucium lembut bibir itu, lalu kulepaskan. Kemudian kupandang wajahnya — dia tersenyum, lalu memejamkan matanya. Kucium kembali bibirnya yang mungil, lama juga aku melumat bibirnya. Lalu tangan kananku mematikan lampu yang masih menyala.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya