18px

Berbagi Sesama Teman

Berbagi Sesama Teman

Kisah ini terjadi di tahun 1999. Usia saya boleh dibilang masih cukup muda untuk mengenal yang namanya seks. Tetapi apa mau dikata, karena seks itu enak maka saya menjadi ketagihan. Anyway, kembali ke cerita saya.

Saya mempunyai seorang teman cewek, sebut saja namanya Vina. Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Vina mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg, dan menggunakan bra ukuran 34B—hal itu saya ketahui ketika saya ML sama dia—dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kampus, tidak terlihat sama sekali kalau dia juga seorang pecinta seks bebas, sama seperti saya.

Beruntung saya memiliki wajah dan badan yang cukup lumayan, sehingga saya tidak mengalami kesulitan dalam mencari teman untuk melepas birahi, apalagi ditambah dengan ukuran saya yang boleh dibilang lebih dari rata-rata. Wajar saja kalau teman cewek saya rajin mengontak saya di saat mereka butuh, dan begitu pun juga sebaliknya.

Suatu hari, Vina menelepon saya. Dia cerita bahwa dia punya teman kos baru, dan cantik pula. Dia juga bilang kalau temannya itu mirip artis ternama di ibukota. Dia janji mau mengenalkan saya ke dia, maka kemudian saya dan Vina membuat suatu janji pertemuan di hari Sabtu.

Pada hari yang telah dijanjikan, saya telah memesan sebuah kamar di daerah Juanda. Seperti yang telah direncanakan, Vina datang membawa seorang temannya yang bernama Santi.

"Tok... tok... tok!" Tiga kali saya dengar ketukan pintu, maka secara otomatis saya membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihatlah Vina yang sedang tersenyum kepada saya, dan di belakangnya tampak temannya yang akan dikenalkan ke saya. Benar saja, temannya itu memang mirip sekali dengan artis ibukota yang Vina ceritakan.

"San, kenalin dong. Ini loh temen gue yang gue mau kenalin ke elu," begitu ucap Vina sambil masuk ke kamar.

"Oh iya, gue Santi. Dan elu siapa?" sapanya ramah.

Saya sempat terdiam sewaktu Santi menjulurkan tangannya, karena saya tidak habis pikir kalau cewek ini begitu cantiknya—dan saya harus bisa mencicipinya hari ini juga.

"Hmm, nama gue A," begitu saya sadar, langsung saya merespons dengan menjulurkan tangan. Kulitnya halus juga, pikir saya. Kalau dari yang saya lihat, Santi ini sedikit lebih pendek dari Vina, tetapi dia mempunyai buah dada yang lebih besar. Kira-kira tingginya 160 cm, 45 kg, dan saya rasa ukuran dadanya 34C, soalnya dadanya besar sekali.

"Eh, loe berdua jangan diam gitu dong, kasih gue minum kek!" tiba-tiba suara Vina memecahkan kesunyian yang ada.

"Oh iya, sori Vinn. Tuh, loe ambil aja deh di kulkas!" jawab saya sekenanya.

"Gini," kata Vina. "Temen gue Santi ini seorang janda anak satu, tapi loe pikir deh—umurnya baru 23 dan body-nya masih segini. Nggak kecewa dong loe gue bawain yang kayak gini."

"Ah, elu bisaan aja, Vin," sahut Santi dengan tersipu, sehingga tampaklah wajahnya yang sedikit memerah.

Aduh, ini membuat saya jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Santi menarik Vina ke kamar mandi. "Ikut gue bentar deh, Vin!" kata Santi. Lalu Vina dengan terburu-buru juga ikut dan sambil bicara kepada saya, "Dah, loe tiduran aja dulu di ranjang. Temen gue mau bilang sesuatu kali nih ke gue."

Tidak lama mereka keluar dari kamar mandi.

"Eh, sori ya, tadi sempat bikin loe kaget," kata Santi.

"Eh, nggak apa-apa kok," jawab saya masih bingung. "Emangnya kenapa sih tadi?"

"Udah deh, loe nggak usah tahu—urusan perempuan kok barusan. Yang penting sekarang loe santai aja di ranjang loe dan ikutin permainan gue," timpalnya.

"Wah-wah-wah, permainan apa lagi nih?" pikir saya dalam hati. Tapi saya sudah senang sekali, apalagi saya melihat Vina tersenyum nakal ke arah saya.

"Sebelum gue kasih loe izin, jangan sekali-kali loe sentuh gue, OK?" kata Santi.

"OK deh," jawab saya meskipun masih agak bingung dengan arah permainannya.

Tiba-tiba saja Santi langsung mendekati ranjang dan segera mencium saya di bibir. Otomatis saya merespons juga. Lidah kami saling bergerilya, sedangkan saya hanya boleh telentang saja di ranjang. Kemudian ciuman Santi turun ke leher saya—hmm, enaknya, pikirku. Dijilatnya leher saya, lalu dia juga menjilati kuping saya.

Tanpa sadar saya mendesah, "Ahh, enak, San. Terusin dong!"

"Sekarang gue bukain baju loe, tapi ingat—tangan loe tetap diam ya, jangan sentuh gue sebelum gue kasih izin!" sahutnya.

Aduh, sengsara banget—masa mau ML tapi tangan gue nggak boleh megang-megang, pikir saya dalam hati.

Dengan cepat Santi membuka baju saya dan langsung dilempar. Dengan sigapnya Santi langsung bergerilya di dada saya, bagaikan seseorang yang lama tidak mendapatkan tubuh laki-laki. Digigitnya kedua puting saya.

"Ahh, enak gigitan loe," saya mendesah pelan.

Samar-samar saya melihat Vina duduk di samping saya sambil memperhatikan wajah saya—dan dia tersenyum.

Tanpa sadar tangan saya mencoba mencari buah dada Santi untuk saya remas-remas. Eh, tanpa saya duga, tiba-tiba saja tangan saya ditepis oleh Santi dan Vina.

"Gue kan udah bilang, kalau belum gue kasih izin jangan sentuh gue!" kata Santi.

"Iya, loe tuh gimana sih?" kata Vina. "Ikutin dong permainannya Santi!"

"Yach, habis gimana dong? Namanya juga refleks!" timpal saya sambil mendesah dan agak kecewa.

"Pokoknya loe sabar deh!" kata Santi sambil membuka celana saya. "Hmm, CD model low cut dengan warna hitam nih! Loe tau aja kesukaan gue—dan loe seksi banget dengan CD warna gini, bikin gue horny juga tau!"

Kalimat Santi yang terakhir itu sebelum dia mulai berkaraoke.

"Oohh, enak, sedot lagi dong yang kuat, San!" kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 5 menit Santi telah berkaraoke terhadap penis saya. Kemudian Santi dengan sigapnya melepas seluruh baju, celana, dan pakaian dalamnya.

"Nah, sekarang loe baru boleh sentuh gue!" kata Santi.

Maka karena dari tadi saya sudah menahan ingin menyentuh tapi tidak boleh, kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Langsung saja saya rebahkan Santi di ranjang dan gantian saya cium bibirnya. Santi membalasnya dengan tidak kalah ganasnya. Kemudian saya turuni ciuman saya ke daerah lehernya—hmm, lehernya yang bersih itu saya cium dan saya jilati. Samar-samar saya mendengar Santi mulai mendesah.

Kali ini saya turun ke buah dadanya. Saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri—tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun putingnya.

Dan Santi kemudian bicara, "Ayo dong, isep puting gue, please!"

"Wah, ini saatnya balas dendam nih!" pikir saya dalam hati. "Hah? Loe minta diisep puting loe? Sabar ya—sebelum gue mood, gue nggak bakal isep puting loe!" jawab saya sambil tersenyum.

Saya lihat Vina juga ikut tersenyum melihat temannya terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dadanya, saya turun ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Santi yang begitu halus dan dicukur rapi. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina Santi.

"Ohh... ohh... enak! Terusin dong, Sayang!" sahut Santi sambil mendesah.

Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

"Sayang, aku mau keluar," lirih Santi.

Dan tiba-tiba saja cairan vagina Santi keluar diiringi teriakan dari Santi. Saya telan semua cairan vagina Santi.

"Duh, Say, kamu kok hebat sih mainin memekku?" tanya Santi.

Yang saya lakukan hanya tersenyum saja.

"Please dong, masukin punya kamu sekarang!" pinta Santi dengan memelas.

"Nanti dulu—puting kamu belum gue hisap!" jawab saya.

Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna cokelat muda itu saya hisap dengan kencangnya secara bergantian, kiri dan kanan.

"Ahh, enak, Sayang! Terusin! Tambah kenceng dong!" teriak Santi.

Mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny lagi, apalagi si "adik" sudah dari tadi menunggu giliran masuk. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vaginanya.

"Sempit banget nih!" pikir saya dalam hati.

Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga ke vaginanya.

"Gila bener, San—barang loe enak dan sempit banget sih?" jawab saya dengan napas yang mulai tidak teratur.

Kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Santi yang sedang merem-melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Santi yang terus mendesah dan teriak.

"Ahh, terus, Sayang! Tambah cepet dong!"

Dan sekilas di samping saya tampak Vina sedang meremas-remas buah dadanya sendiri.

"Sabar, Vin! Akan tiba giliran loe. Sekarang gue beresin dulu temen loe ini!" jawab saya sambil menggoyangkan Santi.

Vina hanya dapat menganggukkan kepala—dia tahu ini bagian dari permainan yang mereka buat, jadi Vina juga tidak boleh ikut sedikit pun dalam permainan saya dan Santi.

Tidak lama kemudian Santi minta ganti posisi—kali ini dia mau di atas.

"Gue cepet keluar kalau di atas!" katanya santai.

Kami pun berganti posisi. Karena Santi tadi sudah keluar, kali ini vagina Santi sudah becek.

"Ahh... enak... barang lo berasa banget sih!" jawab Santi sambil merem-melek.

Lima menit kemudian Santi teriak, "Ahh... gue keluar lagi!" dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.

Tetapi saya kan belum keluar. Ya sudah, akhirnya saya gantian dengan gaya doggy. Kali ini kembali Santi menjerit, "Terusin, Sayang!"

Tidak lama kemudian saya merasa sudah mau keluar.

"San, mau keluarin di mana?" tanya saya.

"Di muka gue aja," jawabnya cepat.

Kemudian sperma saya keluarkan di wajah Santi. Kemudian Santi dengan cepat membersihkan penis saya—saya saja sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Dan saya tetap melihat Vina yang masih meremas dadanya—dia memandang saya dengan tatapan ingin mendapat perlakuan yang sama seperti temannya.

"Vin, ke kamar mandi dulu yuk, gue mau bersih-bersih nih!" kata saya sambil mengajak Vina.

Kemudian Vina dengan cepat menarik saya ke kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan satu sama lain.

"Vin, gue istirahat dulu ya—gue capek banget soalnya," timpal saya dengan suara lemas tapi penuh kebahagiaan.

"OK deh, tapi jangan lama-lama ya. Gue udah nggak tahan nih!" jawab Vina sambil membersihkan penis saya.

Tidak lama kemudian Santi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Saya dan Vina kemudian keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di ranjang, tiba-tiba saja Vina mencium saya dengan ganasnya. Secara otomatis pula saya membalasnya. Kemudian ciuman Vina mulai turun ke leher saya dan dada saya—saya hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada saya diremas-remas oleh Vina dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

"Hmm, barang loe bakal gue paksa berdiri lagi nih!" kata Vina dengan suara menggoda.

Kemudian tanpa diperintah Vina segera mencium dan mengulum penis saya dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.

"Ahh... ahh... ahh... enak, Vin!" timpal saya.

Sekilas saya melihat Santi baru keluar dari kamar mandi dan sedang memakai bajunya.

"Loe nggak mau ikutan lagi, San?" tanya saya.

"Nggak, ah—gue lemes banget. Gantian loe urus temen gue aja deh, gue mau istirahat dulu," jawabnya santai.

Kemudian saya tidak mau kalah; segera saya raih buah dada Vina dan segera saya hisap. Saya mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, saya remas-remas juga dadanya.

"Ahh, yang kenceng, Sayang!" jawab Vina lirih.

Kurang lebih 5 menit saya memainkan dadanya, kemudian saya turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Vina yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapi sudah tampak basah.

"Hmm, udah basah loe, Vin—udah nggak tahan ya?" kata saya sambil tersenyum.

Vina hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian saya mendekatkan mulut saya ke depan vagina Vina dan langsung saya hisap dan jilat vaginanya.

"Ohh... ohh... terus! Enak!" itulah suara yang terdengar dari mulut Vina.

Setelah 10 menit saya memainkan vaginanya, saya ingin melakukan gerakan lebih jauh. Dengan segera saya memasukkan penis saya ke dalam vagina Vina.

"Hmm, pelan-pelan ya!" jawab Vina.

Saya hanya tersenyum dan segera mencium Vina; dia pun membalasnya dengan penuh semangat. Seluruh penis saya kini berada di dalam vagina Vina, dan tanpa dikomando lagi saya segera bergerak diikuti goyangan pinggul Vina. Tanpa sadar Vina memeluk saya begitu eratnya dan saya memperhatikan wajah Vina yang sedang merem-melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

Lima menit kemudian Vina ingin berganti posisi.

"Eh, gantian doggy yuk!" pinta Vina.

Ya sudah, saya turuti saja kemauan Vina. Sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba karena vagina Vina sudah basah—dan menurut saya Vina tidak lama lagi akan keluar. Benar saja dugaan saya.

Tiba-tiba saja Vina teriak, "Ah... ahh... ahh... gue keluar!"

Kemudian Vina langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis saya masih tertancap dalam vagina Vina. Maka saya segera menggerakkan penis saya supaya saya juga dapat keluar.

"Keluarin di mana, Vin?" tanya saya.

"Di dalam aja, biar loe enak!" jawabnya dengan suara terbata-bata.

Lalu penis saya segera mengeluarkan semburan spermanya.

"Ahh, enak banget!" lanjut saya.

Kemudian saya langsung rebah di sebelah kanan Vina, sementara Santi sedang tersenyum memperhatikan kami berdua.

"Wah-wah-wah, capek ya berdua?" kata Santi.

Saya yang sudah lemas hanya dapat tersenyum dan tiduran di samping Vina.

Setelah istirahat beberapa menit, kemudian saya dan Vina ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu kami bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan indah bersama. Nantikan cerita saya di periode berikutnya—mohon para pembaca memberi saran dan komentar terhadap cerita saya.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya