18px

Bab 1

BH Hitam Tante Wike

Aku sedang tidur ketika HP-ku berdering. Suara yang tak asing terdengar di telingaku. Rupanya Tante Wike ada di Yogyakarta. Katanya ada tugas kantor bersama teman-temannya, dan aku diminta datang ke hotel tempat mereka menginap. Sambil berjalan aku membayangkan sosok Tante Wike. Dia adik ibuku yang berusia 39 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan tinggi 175 cm, tubuhnya ramping dan seksi. Dadanya dihiasi oleh sepasang payudara yang indah dan besar. Waktu kecil dulu aku sering mengintip dada Tante Wike dan kalau onani sering membayangkan dadanya itu. Kalau membandingkannya dengan artis, Tante Wike mirip Vina Panduwinata.

Sesampai di hotel, aku diperkenalkan dengan dua teman Tante Wike: Pak Bondan (46) dan Bu Shinta (37). Mereka memintaku menjadi penunjuk jalan selama mereka di Yogyakarta, dan aku menyanggupinya. Setelah itu kami berkeliling kota sampai jam 21.47. Karena sudah malam, Tante Wike meminta aku menginap di kamarnya saja. Kesempatan, batinku. Dari tadi aku sudah gatal melihat payudara Tante Wike di balik baju tank top biru yang ketat. Aku tak ingat lagi kalau dia tanteku. Yang penting hasratku tersalurkan, pikirku.

Setelah masuk kamar, Tante Wike pergi mandi. Aku langsung memikirkan cara bagaimana agar bisa menikmati tubuh Tante Wike yang tetap seksi walau telah memiliki dua anak. Saat dia keluar, aku menelan ludah. Dengan celana pendek ketat sampai di atas lutut dan baju kaos putih tanpa lengan, tubuhnya benar-benar memamerkan lekuk-lekuk yang sempurna. Saat Tante Wike lewat di depanku tercium wangi sabun dari tubuhnya. Saat ia hendak mengeringkan rambutnya, terlihat BH hitam kesukaanku dari balik ketiaknya.

Aku jadi gelap mata. Begitu Tante Wike membelakangi, langsung kurangkul dia. Bibirku menyedot lehernya, sementara tanganku yang satu meremas sepasang payudara dan yang satu lagi bermain di selangkangan dan pahanya. Hanya sebentar ia meronta, setelah itu tubuh Tante Wike menjadi tenang.

"Izinkan aku merasakan tubuh tante yang indah ini ya?" desahku di kuping Tante Wike.

"Gimana, Ndra? Tapi sekali ini saja ya, Ndra. Dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua," kata Tante Wike. Aku mengangguk kecil tanda bersedia.

Tante Wike lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam. Aku diam memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu Tante Wike mencopot celana ketatnya, terlihat paha mulus yang kugerayangi tadi. Saat ia hendak melepas tali BH, aku cegah. Dengan lembut tanganku bergerak ke belakang pundak Tante Wike, membuka kaitnya, lalu memelorotkan BH itu sambil menggesek puting susunya. Sepasang payudara berukuran 36B terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat ke depan.

Tante Wike lalu mencopot celana dan celana dalamnya yang hitam. Kini ia telah telanjang bulat. Penisku terasa tegang karena tak menyangka tubuh Tante Wike seindah itu. Lalu ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya telentang. Aku begitu takjub: tubuh tanteku yang aduhai, telanjang dan pasrah berbaring di ranjang tepat di hadapanku.

"Ayo, Ndra, apa yang kamu tunggu? Tante sudah siap. Jangan takut, kalau belum pernah nanti tante bantu," kata Tante Wike.

"Iya, tolong ya, Tante," jawabku berbohong.

Segera aku melepas semua pakaianku karena sebenarnya aku juga sudah tidak tahan. Kulihat Tante Wike memperhatikan kejantananku yang berdenyut-denyut, lalu aku naik ke atas ranjang dan memulainya. Langsung saja kukecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya. Terasa ia kurang meladeni bibirku, masih canggung, pikirku, tapi tidak kuhiraukan dan terus kulumat bibirnya. Sementara kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu kuelus-elus dan kuremas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.

"Ooh, Ndra, apa yang kau lakukan, ergh, sshh..." Tante Wike mendesah tanda birahinya mulai naik. Sesekali aku merasakan ia menelan ludah yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini bibirku kuarahkan ke bawah. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada Tante Wike. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini berada tepat di hadapanku. Ooh, sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikit pun, seperti belum pernah terjamah laki-laki. Langsung aku jilati dari bawah lalu ke arah putingnya, sementara buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.

"Emmh, oh, aarghh," Tante Wike mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.

Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Di sana kurasakan rambut yang tumbuh di sekeliling vagina Tante Wike. Jari-jariku kuarahkan ke dalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa dia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari klitorisnya. Kupermainkan jariku keluar-masuk di dalam lubang vagina Tante Wike yang semakin licin tersebut.

"Aarrgghh, eenhh, Ndra, kam-mu ngapain, oohh..." kata Tante Wike meracau tidak karuan, kakinya mengecak-ngecak sprei dan badannya menggeliat. Tak kupedulikan kata-katanya, maka tubuh Tante Wike makin menggelinjang dikuasai nafsu birahi. Kurasakan tubuh Tante Wike menegang dan wajahnya memerah bercucuran keringat. Aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku di dalam liang vaginanya.

"Oohh, arghh, oohh..." kata Tante Wike dengan nafas tersengal-sengal, dan tiba-tiba—

"Ooh, aahh..." Tante Wike mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya tergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi lubang vaginanya.

"Oohh, ohh, emhh..." Tante Wike mendesah-desah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.

"Ndra, apa yang kamu lakukan kok tante bisa kayak gini?" tanyanya padaku.

"Kenapa memangnya, Tante?" kataku sambil meremas payudaranya.

"Baru kali ini aku merasakan kenikmatan seperti ini. Luar biasa," kata Tante Wike. Ia lalu bercerita kalau Om Widya, suaminya, hanya sebentar saja jika bercumbu sehingga ia kurang puas.

"Sayang, sekarang giliranku," bisikku di telinganya. Tante Wike mengangguk kecil.

Aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati. Setelah kurasa cukup, kusejajarkan tubuhku di atas tubuhnya. Tante Wike tahu: ia lalu mengkangkangkan pahanya, lalu kuarahkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Perlahan-lahan aku masukkan batang penisku dan aku nikmati. Batang kejantananku mudah saja memasuki liang senggamanya karena sudah sangat basah dan licin. Kini perlahan-lahan aku gerakkan pinggulku naik turun. Ooh, nikmatnya.

"Lebih cepat, Ndra, aarghh, mmhh..." kata Tante Wike terputus-putus dengan mata yang merem melek. Aku percepat gerakanku lalu terdengar suara berkecipak dari selangkangannya.

"Iya, begitu, aahh, terr-russ, aarghh..." kata Tante Wike tidak karuan.

Keringat kami bercucuran menjadi satu, kulihat wajahnya semakin memerah.

"Ndra, tante mau enak lagi, ohh, ahh, aahh, ahh..." kata Tante Wike sambil mendesah panjang. Tubuhnya bergetar dan kurasakan vaginanya dipenuhi cairan hangat yang menyiram batang penisku.

Remasan dinding vaginanya begitu kuat, aku pun mempercepat gerakanku, dan crott, aku pun mencapai klimaks. Kubiarkan air maniku keluar di dalam liang senggama Tante Wike. Kurasakan nikmat yang luar biasa. Kupeluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya, menikmati kenikmatan seks yang sesungguhnya. Setelah cukup menikmatinya, kucabut penisku dan kubaringkan tubuhku di sampingnya.

"Tante Wike, terima kasih ya..." kubisikkan lirih di telinganya sambil kukecup pipinya.

"Tante juga, Ndra. Baru kali ini tante merasakan kenikmatan seperti ini. Kamu hebat," kata Tante Wike lalu mengecup bibirku.

Kami berdua lalu tertidur karena kelelahan.

Sekitar jam 3 pagi aku terbangun. Setelah meminum segelas air, aku memandangi tubuh telanjang Tante Wike. Benar-benar menggairahkan sekali. Kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya masih terjaga di usianya yang hampir berkepala empat ini. Lalu aku mulai mencumbunya lagi. Kali ini aku ingin menikmati dengan sepuas hatiku setiap inci tubuh Tante Wike. Perlahan-lahan aku lumat bibir Tante Wike dengan penuh kelembutan sampai ia mulai terbangun lagi.

Setelah Tante Wike terbangun, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya. Kupermainkan lidahku di dalam mulutnya. Tante Wike pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku beroperasi di dadanya. Kuremas-remas payudaranya yang kenyal mulai dari lembah sampai ke puncaknya, lalu kupelintir putingnya sehingga ia menggeliat dan menggelinjang. Dua bukit kembar itu semakin mengeras. Ia menggigit bibirku saat kupelintir puting susunya.

Setelah aku puas di bibirnya, kini aku melumat dan mengulum payudaranya. Dengan sigap lidahku menari-nari di atas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang sebelah kanan. Kulihat mata Tante Wike sangat redup, ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan yang erotis.

"Oohh, aarghh, en-ennak, Ndra, emmh..." kata Tante Wike mendesah-desah.

Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas payudaranya dan menyeretnya ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya: ia ingin agar aku segera mempermainkan liang vaginanya. Jari-jariku pun segera bergerilya di vaginanya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klitorisnya yang membuat Tante Wike semakin menggelinjang tidak karuan.

"Ya, terruus, argghh, eemmh, enak, oohh..." Mulut Tante Wike meracau.

Setiap kali Tante Wike terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk vaginanya. Setelah ia agak tenang, aku permainkan lagi liang senggamanya. Kulakukan beberapa kali.

"Emhh, Ndra, ayo dong, jangan gitu. Kau jahat, oohh..." kata Tante Wike memohon.

Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga. Tapi aku tidak akan membuatnya klimaks dengan jariku, melainkan dengan mulutku. Aku ingin menerapkan hasil latihanku dengan Bu Denok dan Bu Atika.

Segera kuarahkan mulutku ke selangkangannya. Kusibakkan rambut-rambut hitam yang mengelilingi vaginanya dan terlihatlah liang senggamanya yang merah dan mengkilap basah. Sungguh indah. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.

"Ndra, apa yang kamu lakukan, arghh, itu kan ji-jik, emhh..." kata Tante Wike.

Aku tak pedulikan kata-katanya. Lidahku terus menari-nari di dalam liang senggamanya, bahkan menjadi semakin liar tidak karuan.

Ketika lidahku menyentuh klitorisnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tidak karuan. Tak lama, tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei, dan mulutku dipenuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

"Ohmm, emhh, ennak, Ndra, aahh..." kata Tante Wike ketika ia klimaks.

Setelah Tante Wike selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku mencumbunya lagi karena aku juga ingin mencapai kenikmatan. Kali ini posisiku di bawah tubuh Tante Wike.

Aku tidur telentang dan Tante Wike melangkahi batang penisku. Tangannya memegang batang kejantananku yang tegak perkasa. Setelah menjilatinya, perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan vaginanya diarahkan ke batang penisku. Dalam sekejap, bless, burungku hilang ditelan liang kewanitaannya. Tante Wike lalu mulai melakukan gerakan naik turun. Ia angkat pinggangnya dan ketika sampai di kepala penisku, ia turunkan lagi. Mula-mula pelan-pelan, tapi kini ia mempercepat gerakannya.

Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek, dan sesekali ia melihat ke arahku. Mulutnya mendesis-desis. Sungguh seksi wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha mencapai puncak kenikmatan. Wajah Tante Wike terlihat sangat cantik seperti itu, ditambah lagi rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang-ambing gerakan kepalanya. Payudaranya terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tambah keras ketika jari-jariku memelintir puting susunya.

"Oh, emhh, yaah, oohh..." Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Tante Wike.

"Tante nggak kuat lagi, Ndra..." kata Tante Wike sambil berhenti menggerakkan badannya.

Aku tahu ia segera mencapai klimaks. Lalu aku rebahkan tubuh Tante Wike dan kupompa liang senggamanya. Tak lama, Tante Wike mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Tante Wike menikmati orgasmenya. Setelah itu kucabut batang penisku dan kusuruh Tante Wike menungging, lalu kumasukkan batang penisku dari belakang. Tante Wike terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang kulakukan padanya. Ia hanya mendesah kenikmatan.

Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh Tante Wike rebahan lagi dan aku masukkan lagi batang kejantananku, memompa vaginanya lagi, karena aku ingin mengakhirinya. Beberapa saat kemudian, Tante Wike ingin klimaks lagi. Wajahnya memerah dan tubuhnya menggelinjang ke sana ke mari.

"Ahh, oh, tante mau enak lagi, Ndra, arghh, ahh..." kata Tante Wike.

"Tunggu sayang, kita barengan. Aku juga sedikit lagi..." desahku.

"Tante sudah tidak tahan, Ndra, ahh..." kata Tante Wike mendesah panjang.

Lalu tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. Cairan hangat membasahi batang kejantananku. Cairan hangat menyirami batang penisku dan kurasakan dinding vaginanya seakan-akan menyedot penisku begitu kuat. Akhirnya aku pun tidak kuat: crott, aku pun mencapai klimaks. Nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat meresapi kenikmatan yang merasuki kami berdua.

"Thanks, Tante," bisikku sambil memelintir puting susunya.

Setelah itu, tiga malam berturut-turut aku memuaskan hasrat yang terpendam sejak kecil, sampai Tante Wike kembali pulang ke Semarang.

"Kalau pulang, jangan lupa ke rumah ya," bisiknya saat akan naik ke pesawat terbang di bandara.

Aku tersenyum penuh arti. Sebentar lagi aku akan pulang berlibur. Aku sudah rindu dengan Tante Wike yang aduhai.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya