18px

Bonus (Bagian 2)

Bonus (Bagian 2)

Aku memberinya waktu untuk beristirahat. Ketika hendak mengambilkan air mineral, buru-buru Bram mencegahku dan memberi isyarat agar aku tetap di dekat Niken—kali ini Bram yang melayani kami. Setelah itu ia ke bathtub dan berendam air hangat di sana.

Aku mengambil tisu di meja Bram dan menyapukannya lembut di bibir vagina Niken yang basah oleh cairan sendiri dan sisa-sisa sperma Bram. Aku jongkok di sisi meja, lalu kubuka lebar-lebar kedua kaki Niken. Tampaklah bongkahan daging kemerahan yang bulunya tercukur habis dan bersih. Kutempelkan bibirku di bibir vaginanya untuk melakukan oral seks. Ketika kubuka bibir vaginanya dengan telunjuk dan jari tengahku, terciumlah aroma khas yang harum dari Niken. Aku menjilat dari pangkal anus Niken sampai sisi vagina bagian depan berulang-ulang, diselingi gelitik ujung lidahku di mulut vaginanya.

"Ooogghhk... aagghhmm... punnhh... aahh... Prasstth... aaghh..." Niken melonjak-lonjak, pinggulnya bergoyang kiri-kanan di atas meja berlapis kaca. Bokong Niken bergerak leluasa karena sperma Bram dan cairan Niken sendiri bercampur meleleh di permukaan kaca meja tersebut.

Setelah agak lama melakukan oral seks terhadap Niken, aku berdiri dan melepas semua pakaianku yang sedari tadi belum sempat terlepas. Niken membuka lebar kedua pahanya dan memegangi kedua tungkainya; matanya terpejam menyambut sensasi yang segera ia rasakan. Kedua bibirnya yang seksi ia buka memancing birahiku untuk segera menyetubuhinya.

Aku meremas sendiri penisku—semakin mengeras dan memanjang di hadapan Niken—kemudian perlahan kutempelkan di mulut vagina Niken. Tepat saat Niken menyibakkan rambutnya, kuhujamkan perlahan memasuki rongga rahimnya.

"Prasshh... aaookkh mmphh... mmpff..." gumam Niken.

"Mmmpphh... puaskan aku ya, sayang," rengek Niken manja.

"Slerphh..." 16,5 cm penisku kembali menjejali rahim Niken.

Aku membiarkannya diam terbenam di sana sambil memainkan otot-otot penisku untuk memberi rasa geli pada Niken.

"Prasshh... ooaakhh... aakhh... mmpphh... nikmat sekali—pintar kamu, Pras," puji Niken.

"Mau yang lebih nikmat, Say?" tanyaku.

"Mpphh..." Niken hanya memejamkan matanya menyambut apa yang akan kulakukan atas vaginanya.

Pelan namun pasti aku mulai mengocok lubang rahimnya yang masih perat dan sempit itu.

"Aaaghh... aaghh... sshh mmffh... teruss... aanngghh..." ceracau Niken.

Aku sedikit menarik dadaku agar tubuhku tegap berdiri—dengan begitu kepala penisku akan lebih mudah menyentuh G-spot-nya.

"Aaakkhh... yacchh... yaahh... mmpphh... aangghh yaahh..." Niken semakin tenggelam dalam irama birahinya. Ia meremas sendiri kedua payudaranya, kadang putingnya ia tarik sambil dipilin-dilepas dan diulangi lagi, sehingga ia semakin tenggelam dalam ritme yang mengasyikkan.

"Aaaghkku... agh ahhk... aahh... aahh... aamphh..." Niken melepas kedua tangannya dari dadanya dan berpegangan erat pada kedua sisi meja. Kepalanya oleng seperti orang kesurupan; dadanya ia busungkan, pinggulnya bergelinjang penuh gairah birahi yang mendalam.

Kami semakin jauh tenggelam dalam irama permainan ini dan tak menghiraukan lagi Bram yang dengan santainya menyaksikan dari bathtub. Namun ketika Niken mulai tak dapat menguasai dirinya, tampaknya Bram ikut horny—aku melihat tangan kanannya mengocok penisnya sendiri sementara tangan kirinya memegang segelas Champagne.

"Nikeenn... aak... aahh..." Aku tak sanggup menahan laju spermaku.

Bersamaan itu pula, "Prasshh... aakh... aaghh!" Niken menjerit dan memegang erat kedua sisi meja. Pinggulnya ia hentakkan kencang-kencang, dikombinasikan dengan goyangan penuh. Apa yang Niken lakukan membuatku semakin tak tahan—sedetik kemudian aku memancarkan sperma dalam jumlah banyak.

"Aaagghh..." desahku keras.

Rupanya denyutan penisku saat spermaku memancar menyebabkan Niken kegelian; buru-buru ia bangun lalu mendekapku erat-erat. Kami berdekapan mesra sampai tetes terakhir kurasakan. Sekejap aku melihat wajah Bram—terlihat tegang, kedua giginya terkatup rapat, sementara tangan kanannya semakin cepat mengocok penisnya sendiri. Tiga detik kemudian ia melempar senyum puas ke arah kami.

"Hem... udah puas, Nik?" suara Bram mengagetkan kami.

Niken menoleh ke arah Bram di bathtub lalu menganggukkan kepala; setelah itu kami berciuman lama bak sepasang kekasih.

"Terima kasih, Pras. Nanti malam pasti lebih hot," bisik Niken.

"Ha?" Aku terkejut.

"Udah ah—nanti tahu sendiri," bisik Niken.

"Hayoo... rencana busuk apa itu, kok bisik-bisik?" tanya Bram berkelakar.

Niken tersenyum kecut lalu menyusul Bram ke bathtub. Setelah merapikan pakaianku, aku kembali ke ruanganku, mandi, dan tertidur di kursi kerjaku. Singkat dan tak kuduga sebelumnya—itulah kesimpulanku saat bercinta dengan Niken di ruang Bram.

Tak terasa sudah pukul lima sore saat aku terjaga. Ruangan Bram masih tertutup rapat; khawatir janji dengan Sofi molor, aku mengetuk pintu pelan. Kudengar suara Niken mempersilakan.

"Masuk, Pras!" suara Niken terdengar.

"Mana Pak Bram?" tanyaku saat melihat Niken.

"Sedang keluar," kata Niken setengah mendesah.

"Kenapa?" aku membalasnya dengan setengah berbisik di belakang telinganya.

"Masih terasa mengganjal di sini, Mas," Niken menunjuk ke selangkangannya yang ia buka melebar.

"Punya Mas besar dan panjang sih—pokoknya mmpphh..." imbuh Niken seraya mengusap-usap vaginanya sendiri dan membuat gerakan seolah disetubuhi.

"Akh, udah ah—nanti ketahuan Bram," kataku sambil membimbing Niken berdiri.

Kemudian kami bersiap menyambut Sofi dan Bram yang akan menjemput kami petang ini. Kami duduk di lantai atas kantor sambil minum ginseng yang dibelikan oleh security. Tampak di luar masih terlihat kesibukan pelabuhan yang tak pernah berhenti; kami pun terlibat obrolan santai.

Akhirnya aku tahu bahwa Niken menolak disebut simpanan Bram—apa yang ia lakukan hanyalah demi uang dan karir. Ia mau berbuat begitu karena dikhianati oleh pacar yang amat disayanginya, yang tega menghamili gadis lain. Dari Niken juga aku tahu bahwa Bram adalah tipe "Edi Tansil"—alias Ejakulasi Dini Tanpa Hasil. "Baru diisep dua kali aja sudah ngecrit," kata Niken pada suatu kesempatan. Kasihan benar kamu, Niken, bisikku dalam hati.

"Oh iya, Niken—apa maksud kamu tadi itu?" selidikku.

"Yang mana?" tanya Niken, tampaknya sudah lupa.

"Itu lho—katanya nanti malam akan lebih hot!" sahutku.

Niken termenung sesaat.

"Sebetulnya ini rahasia dari Bram. Tapi karena tadi aku sangat puas dengan permainan Mas Pras, akhirnya aku kelepasan bicara," jelas Niken.

"Begini, Mas Pras—sebetulnya Bram sudah tahu kalau Sofi akan memberikan bonus dalam rangka aplikasi asuransi kemarin," imbuh Niken.

"Terus?" tanyaku penasaran.

Niken tampaknya keberatan; ia terdiam lalu berdiri dan menghisap dalam-dalam rokok filternya. Matanya menerawang jauh ke laut lepas seolah ingin menumpahkan semua beban hidupnya ke sana.

"Nik! Kamu baik-baik saja kan?" aku bertanya pada Niken dan menghampirinya, lalu kudekap Niken di samping kiriku.

"Nggak! Nggak apa-apa kok, Mas," tukas Niken membalikkan badan menghadapku.

"Tapi wajah kamu kok keruh begitu?" aku mencoba agar dia mau curhat.

"Mas Pras, tapi ini sangat rahasia—tolong simpan untuk Mas Pras saja," pinta Niken.

Aku tidak berkata sepatah kata pun karena aku rasa Niken sudah percaya kepadaku.

"Begini, Mas..." Niken mulai bercerita panjang lebar, yang intinya tentang sikap Bram yang mulai terlihat mencampakkan Niken—seperti yang baru saja terjadi antara aku, Niken, dan Bram, di mana Bram mengizinkan Niken kusetubuhi.

"Habis manis sepah dibuang," kata Niken penuh kekesalan.

"Niken, dunia ini tidak hanya milik Bram atau milik kamu ataupun milik aku saja—dunia ini luas," hiburku.

Secara jujur aku akui bahwa akhir-akhir ini aku juga merasa kesal dengan Bram yang semakin otoriter dan itu bertentangan dengan pribadinya.

"Sebenarnya aku sudah punya perusahaan sendiri yang kupercayakan pada seorang sahabatku. Sekarang masih tahap trial running dan membutuhkan accounting officer—kebetulan background Niken kan accounting. Kalau Niken bersedia, boleh berkarir di sana," kucoba memberi Niken alternatif yang baik.

"Tapi..." Niken tampaknya ragu, namun segera aku yakinkan.

"Nik! Apakah aku seperti Bram? Dan... emhh, entah apa yang terjadi tadi—tiba-tiba aku tak sanggup menolaknya?" Kutatap matanya dalam-dalam untuk meyakinkannya, lalu kukecup lembut dahinya.

"Aku tahu dan maklum kepada Mas Pras sebagai lelaki muda dan..." Niken berhenti bicara sejenak seperti berpikir sesuatu.

"Dan jantan," tukas Niken dengan senyum manisnya yang merekah, membuat wajahnya kembali bersinar.

Niken menghisap dalam-dalam rokok filter mild-nya, lalu mencampakkan puntungnya ke vas bunga dekat jendela.

"Mas, acara nanti malam adalah rencana Bram agar dapat berkencan dengan Sofi dan Yeni bersama kita," jelas Niken.

"Bersama kita?" aku terheran.

"Ya, fivesome lah... dan sudah jadi rahasia umum kan—ada beberapa jasa semacam itu yang memberikan bonus servis yang hot," kata Niken datar.

"Tapi Mas Pras nggak usah khawatir—aku akan melampiaskan semua kekesalanku atas Bram pada Mas Pras. Jadi siap-siap saja, ya," ancam Niken dengan senyumnya yang seksi, semakin membuat hatiku berbunga.

"Dan Mas Pras akan jadi raja malam ini," ejek Niken.

"Gila kali..." kataku pelan—dan tiba-tiba HP-ku berdering.

"Yes, Boss," jawabku pada Bram.

"Aku sampai di Gajah Mada nih—jadi siap-siap saja. Sekali celup masih bisa, kok, Pras," kelakar Bram.

Aku tidak merespons kalimat terakhir Bram hingga dia menutup pembicaraan.

"Oh iya, kalian langsung saja ke Kopeng ya—kita ketemu di sana," ajak Bram.

"Ok, Niken—ayo kita bersiap."

Aku menggandeng Niken menuruni tangga kantor menuju Kijang-ku. Dalam perjalanan ke Salatiga, aku mempersilakan Niken untuk beristirahat agar badannya kembali bugar. Satu jam perjalanan, aku dan Niken tiba di wisma yang dimaksud oleh Bram. Niken masih tampak terlelap; aku mencoba membangunkannya dengan cara mengecup lembut bibirnya.

"Mpphh... udah nyampai ya?" Niken mulai tersadar dari tidurnya.

Wisma itu besar sekali dan terletak agak jauh dari jalan raya Salatiga-Magelang. Mempunyai empat kamar sekelas president suite. Melihat bangunannya, ini termasuk bangunan baru namun berarsitektur mirip bangunan lama. Bram sudah sampai duluan bersama Sofi dan Yeni yang tampak mesra di kiri dan kanan Bram di koridor depan. Melihat kedatangan kami, Sofi lalu berdiri dan menyambut.

"Have a hot party," katanya sambil mengerlingkan nakal matanya.

"Ayo, kita santap malam!" ajak Sofi ke ruang tengah.

Ruangan tengah berhias lampu kristal mahal; interiornya tertata rapi dengan permadani merah yang menambah hangatnya suasana, meski udara di sana terasa menggigit sampai ke tulang. Kami lantas makan bersama, dilanjutkan berenang di warm water pool, dan setelah itu jalan-jalan sekitar wisma menghirup udara segar pegunungan yang bercampur aroma sayuran khas pegunungan.

"Nih room service-nya—bila perlu apa-apa, tekan saja extention 9 untuk room service," kata Sofi ketika kami melewati sebuah bangunan saat kembali ke wisma.

Kami duduk-duduk di ruang depan sementara Sofi sibuk mempersiapkan ruangan tengah. Niken sedari tadi bergelayut manja padaku, tampak acuh dengan Bram yang di depan kami merangkul mesra Yeni. Tampak sesekali Bram mencium bibir Yeni bahkan terang-terangan meremas selangkangan Yeni di depan Niken. Yeni sendiri rupanya sudah "on" berat dan tidak mempedulikan sekitarnya.

"Ternyata brengsek juga si Bram ini—tidak peduli perasaan Niken," makiku dalam hati.

Semakin lama sikap Bram semakin cuek. Akhirnya aku menarik Niken ke teras samping yang menghadap ke kebun sayuran. Kami berbincang ringan di sana tentang sejuknya dan betapa indahnya alam ini—kira-kira setengah jam kami habiskan untuk ngobrol.

Aku dan Niken lalu masuk kembali ke ruangan semula. Kali ini aku amati wajah Yeni semakin terlihat horny, demikian juga Bram, namun mereka tidak dapat memulai sendiri—pestanya harus dimulai bersama-sama. Wajah Yeni tidak begitu cantik namun bodinya luar biasa: dadanya membusung, tubuhnya putih mulus terawat, tungkainya ramping berkombinasi dengan pantatnya yang bulat padat—menandakan bahwa gairah seksnya pastilah membara dan aku yakin Bram hanya sekali goyang sudah kelojotan.

Diam-diam aku lebih bergairah melihat Yeni daripada Sofi. Sofi sendiri orangnya montok berisi—tidak bisa dikatakan gemuk, tepatnya semok: seksi dan montok. Kulitnya kuning dan rambutnya pendek sebahu.

Bersambung...

SebelumnyaDaftar Bab
Selanjutnya