Bu Henny dan Temannya - 3
Bu Henny dan Temannya - 3
Masih di pulau kecil lepas pantai tenggara pulau Bali, Bu Henny dan Andi menghabiskan liburan satu minggu mereka. Keduanya terlihat asyik duduk menikmati matahari terbenam di ufuk barat. Warna kemerahan bercampur birunya laut semakin terlihat indah dengan terdengarnya lagu-lagu yang dimainkan grup hiburan hotel diiringi alat musik akustik Spanyol yang eksotik. Pasangan itu mengambil tempat duduk di pojok kanan sebuah hamparan taman rumput dan bonsai yang indah, sedikit terpisah dari tamu yang lain. Mereka tampak sedang menikmati minuman ringan dan seporsi besar seafood berupa lobster dan sup kepiting kegemaran Andi. Sesekali keduanya tampak tertawa kecil, bercanda ria membicarakan kisah-kisah lucu yang mereka alami.
Beberapa saat kemudian, ketika mereka sedang asyik bercanda, seorang wanita cantik berumur kurang lebih sama dengan Bu Henny datang dari arah belakang dan mengejutkan mereka. Begitu dekat, wanita itu langsung menepuk pundak Bu Henny yang sama sekali tak melihat kedatangannya.
"Selamat malam, pengantin baru," ucapnya pada Bu Henny. Wanita itu langsung membalikkan badan, terkejut mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Tapi sesaat setelah mengetahui siapa yang datang, matanya tampak berbinar penuh keceriaan.
"Eeeiihh, Rani! Aduh, jantungku hampir copot! Hampir aja aku mati kaget, Ran. Eh, ngapain kamu di sini dan kok kamu tahu aku di sini?"
"Aduh, Hen, aku tuh nyari kamu dari rumah sampai ke kolong jembatan, tahu nggak? Susah banget."
"Lantas siapa yang ngasih info kalau aku di sini?"
"Lho, kan kamu sendiri yang cerita sama aku sebelum berangkat, kalau kamu mau liburan ke sini."
"Oh iya, aku lupa."
"Jelas lupa dong, lha kamu lagi bulan madu kayak gini, gimana nggak lupa daratan?" sahut wanita itu menggoda Bu Henny.
"Idih, kamu nyindir ya? Awas tak jitak kamu," lanjut Bu Henny sambil mengacungkan tangannya ke arah wanita itu.
"Jitak aja, ntar aku buka kartu kamu di suami kamu, ya nggak?" sergahnya tak mau kalah.
"Alaa, kalau yang itu sih lapor aja. Aku sekarang sudah punya jagoan, ngapain takut mikirin si botak jelek itu? Huh, dasar tua bangka. Moga-moga dia mati ketabrak kereta api di luar negeri. Toh paling dia juga lagi nyari jajanan di jalan, siapa nggak tahu sih pejabat pemerintah. Eh, ngomong-ngomong aku sampai lupa ngenalin Andi sama kamu. Nih dia Arjunaku yang sering kuceritakan sama kamu, Ran. Andi, ini Tante Rani, teman akrab ibu dari sejak SMA dulu."
"Halo, Tante. Saya Andi," kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan pada wanita rekan Bu Henny itu. Sejak tadi ia hanya memperhatikan kedua wanita yang tampak saling akrab itu.
"Halo juga, Andi. Bu Henny pernah cerita tentang kamu."
"Eh, Ran, kamu ngapain ke sini? Pasti ada masalah penting di perusahaan. Ada apa sih?" tanya Bu Henny penasaran pada Tante Rani. Namun raut wajah wanita itu langsung berubah muram saat Bu Henny bertanya.
"Aku ada masalah lagi sama suamiku, Hen," jawabnya sambil menunduk. Wanita itu tampak sedih.
"Ya ampun, Ran! Aku kan sudah bilang sama kamu seribu kali, kalau suami kamu bikin ulah, kamu harus balas. Jangan bodoh gitu dong, jangan sok setia. Eh, tahu nggak, biar kamu nggak cerita sama aku, tapi aku sudah tahu masalah kamu. Pasti suami kamu nyeleweng lagi kan? Eh, Ran, kamu harus sadar, semua yang namanya pejabat itu bangsat — denger ya, bangsat — nggak bisa dipercaya. Kamu susah amat jadi orang setia. Suami kamu nikmat-enakan di luar sana tidur sama gadis-gadis muda. Sadar, Ran! Kamu harus gitu juga, jangan kalah," oceh Bu Henny panjang pada Tante Rani yang masih tertunduk. Bu Henny melanjutkan omelan dan nasihatnya pada wanita itu dengan penuh amarah. Ia seperti tak tega jika teman baiknya itu dijadikan bulan-bulanan oleh suami yang brengsek.
"Atau gini aja deh, aku nggak mau kamu jadi kusut kayak begini. Sebagai sahabat dekat kamu, aku siap ngebantu kamu supaya bisa ngelupain masalah ini, okay?" Bu Henny memberi alternatif pada Tante Rani yang sedari tadi hanya bisa terdiam.
Bu Henny melanjutkan kata-katanya dengan penuh semangat. "Okay, Ran, ini mungkin akan ngejutin kamu. Tapi itu pun terserah apakah kamu mau terima atau tidak — ini hanya ide. Kalau kamu terima ya bagus, kalau nggak juga nggak apa-apa kok. Dengerin ya..." Sejenak ia menghentikan kata-katanya, lalu beberapa saat kemudian melanjutkan, "Malam ini kamu boleh gabung sama kita berdua. Maksudku Andi dan aku. Aku nggak keberatan kok kalau Arjunaku harus melayani dua wanita sekaligus — toh aku sendiri rasanya nggak cukup buat dia. Ya nggak, An?" katanya sembari melirik pada Andi.
Pemuda itu langsung terkejut, namun sebelum ia sempat berkata Bu Henny sudah kembali melanjutkan ocehannya. "Tapi, Bu..."
"Alaa, nggak pakai tapi-tapi lagi deh. Toh kamu juga pasti senang kan? Lagi pula ibu ingin lihat apa kamu sanggup ngalahin kita berdua."
"Tapi, Hen," sergah Tante Rani.
"Eh, kamu nggak usah malu-malu. Pokoknya lihat saja nanti ya. Ayo, sekarang yang penting kita bisa senang sepuas-puasnya, umbar dan raih kepuasan. Nggak ada yang berhak ngelarang kamu, Ran," lanjut Bu Henny tak mau mengalah.
Sementara Andi dan Tante Rani hanya terdiam dan saling melirik. Andi yang sejak pertama telah memperhatikan bentuk tubuh Tante Rani yang tak kalah indah dari Bu Henny kini merasakan dadanya berdebar keras. Sudah tergambar di benaknya bahwa tubuh dua wanita paruh baya yang sama-sama memiliki tubuh bahenol itu akan ia tiduri sekaligus dalam satu permainan segitiga yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Dua orang istri pejabat pemerintah dengan wajah cantik manis dan kulit putih mulus itu akan ia nikmati sepuas hati.
Belum sempat ia berpikir banyak, Bu Henny tiba-tiba memecahkan keheningan.
"Heh, ngelamun kalian berdua ya? Ntar aja di kamar lihat kenyataannya, pasti asyik. Sekarang ayo pesan minuman lagi," katanya sambil melambaikan tangan pada pelayan bar. "Dua bir lagi ya. Kamu apa, Ran? Oh ya, kamu kan nggak biasa minum."
"Apa aja deh, Hen."
"Kasih Gin Tonic aja deh, Mas," lanjut Bu Henny pada pelayan itu.
"Baik, Bu. Saya ulangi: dua bir dan satu gin tonic," ulang si pelayan.
Sesaat kemudian mereka telah terlihat asyik berbincang sambil tertawa-tawa kecil. Beberapa botol minuman telah mereka habiskan hingga kini ketiganya tampak mulai mabuk. Pembicaraan mereka jadi ngalor-ngidul tak karuan, diselingi tawa cekikikan dari kedua wanita itu.
Pukul setengah sepuluh lewat, mereka bertiga meninggalkan bar terbuka menuju villa tempat Andi dan Bu Henny. Ketiga orang itu tampak saling berpelukan sambil sesekali tangan-tangan nakal mereka saling mencubit. Obsesi mereka sudah dipenuhi bayangan yang sama tentang apa yang segera akan mereka lakukan di kamar itu, hingga begitu masuk, ketiganya langsung saling menyerang di atas tempat tidur yang berukuran besar. Dengan nafsu menggelora dan napas yang terdengar turun naik, ketiganya langsung saling melepas pakaian sampai mereka semua telanjang bulat dan memulai permainan segitiga itu.
Andi berbaring telentang menghadap ke atas, lalu dengan cepat Bu Henny menyambar kemaluan Andi dan mempermainkan penis yang telah setengah tegang itu dengan mulutnya. Ia mulai menjilat kepala penis sebesar buah ketimun itu dengan penuh nafsu, sementara itu Andi menarik pinggul Tante Rani dan menempatkan wanita itu mengangkang tepat di atas wajahnya sehingga daerah sekitar kemaluan wanita itu terjangkau oleh lidah dan bibir Andi yang siap menjilatinya. Pemuda itu menarik belahan bibir vagina Tante Rani dan mulai menjilat dengan lidahnya.
Permainan segitiga itu mulai sudah. Bu Henny mengulum penis Andi dan pemuda itu memainkan lidah serta menyedot daerah vagina Tante Rani. Suara desahan kini mulai terdengar memecah keheningan suasana malam itu. Decakan suara lidah Andi yang bermain di permukaan vagina Tante Rani mengiringi desahan wanita itu yang menahan nikmat dari arah selangkangnya. Sementara itu Andi sendiri mulai merasakan kenikmatan dari penisnya yang keluar masuk mulut Bu Henny. Adegan itu berlangsung beberapa saat sebelum kemudian Bu Henny dengan bernafsu mengambil posisi menunggang di atas pinggul Andi dan langsung memasukkan penis pemuda itu ke dalam liang vaginanya.
"Sreep..." Penis besar dan panjang itu menerobos masuk ke dalam liang vagina Bu Henny.
"Aahh, enak," desahnya begitu terasa penis itu membelah dinding vagina yang seperti terlalu sempit untuk penis pemuda itu.
Lain halnya dengan Tante Rani yang sejak pertama terus mendesah keras menahan kenikmatan yang diberikan Andi lewat lidahnya yang menjilati seluruh dinding dan detail alat kelamin wanita itu. Ukurannya tampak lebih tebal dari milik Bu Henny; belahan bibir vagina Tante Rani lebih lebar hingga liangnya tampak lebih nikmat dan menggairahkan.
Mengimbangi kenikmatan dari lidah Andi, Tante Rani kini meraih buah dada Bu Henny yang bergelantungan berayun seiring gerakannya di atas pinggul Andi. Kedua wanita yang berada di atas tubuh pemuda itu saling berhadapan dan saling meraih buah dada, saling meremas, membuat adegan itu semakin panas.
"Oouuhh, Hen, nikmat sekali ternyata! Oohh, kamu benar, Hen! Oohh, sedot terus vagina Tante, And! Oohh, enak!" jerit Tante Rani merasakan nikmat itu — nikmat di selangkangannya dan nikmat di buah dadanya yang teremas tangan Bu Henny.
"Kamu mau rasain yang ini, Ran? Uuh, bakalan ketagihan kamu kalau udah kesentuh buah penis ini," Bu Henny menawarkan posisinya pada Tante Rani yang sejak tadi tampak terpesona oleh ukuran penis Andi yang super besar dan panjang itu. Ia pun mengangguk kegirangan sambil beranjak mengubah posisi mereka. Matanya berbinar dengan perasaan setengah tak percaya ia memandangi buah penis itu.
"Uhh, besarnya penis ini, Hen! Pantas kamu jadi gila seks seperti ini," serunya keheranan.
"Ayolah, segera coba," kata Bu Henny sambil menuntun pinggul wanita itu menuju ke arah penis yang sudah tegang dan keras itu. Namun sebelumnya ia menyempatkan diri menjilati vagina Tante Rani yang tampak merah menggairahkan itu.
"Aduh, Ran, bagusnya bentuk vagina kamu," seru wanita itu sambil menjulurkan lidahnya ke arah kemaluan Tante Rani. Sejenak ia menyempatkan diri memberi sentuhan lidahnya pada vagina Tante Rani.
"Idih, kamu, Hen! Aku udah nggak sabar nih," katanya sambil menggenggam batang kemaluan Andi. Kemudian dengan gesit dituntunnya penis itu sampai ke permukaan vaginanya yang tampak basah oleh air liur Andi dan Bu Henny. Dan..."Sreett!"
"Auuww, Andi! Vaginaku rasanya robek, Henny! Aduh!" jeritnya tiba-tiba saat merasakan penis Andi yang menerobos masuk ke liang vaginanya. Lubang itu terasa sangat sempit hingga ia merasakan sedikit perih, seperti waktu merasakan pecah perawan di malam pengantin barunya dulu. Namun beberapa saat kemudian ia mulai merasakan kenikmatan maha dahsyat dari penis besar itu. Ia mulai bergoyang perlahan; rasa perih telah berubah menjadi sangat nikmat.
"Uuhh, aahh, oohh, enak! Andi! Oohh, Hen! Baru pertama kali aku ngerasain penis segede ini, Hen! Oohh, pantas kamu begitu senang berselingkuh! Oohh, Hen, aku bakalan ketagihan kalau seperti ini nikmatnya! Oohh!" wanita itu mulai mengoceh saat menikmati penis besar Andi yang keluar masuk liang vaginanya.
Sementara Bu Henny kini menikmati permainan lidah Andi pada permukaan vaginanya yang berada tepat di atas wajah pria itu. Andi sesekali menyedot keras klitoris Bu Henny yang merah sebesar biji kacang di celah vaginanya, hingga wanita itu berteriak geli. Dua orang wanita itu kembali saling meremas buah dada, keduanya dalam posisi berhadap-hadapan. Tangan Andi pun tak mau ketinggalan, meremas payudara Bu Henny yang tak sempat diremas Tante Rani. Bergilir diraihnya payudara montok kedua wanita yang menidurinya itu. Penisnya yang tegang terus keluar masuk oleh gerakan naik turun Tante Rani di atas pinggulnya. Goyangan wanita itu tak kalah hebatnya dengan Bu Henny; ia sesekali membuat putaran pada poros pertemuan kemaluannya dengan penis Andi sehingga kenikmatan itu semakin sensasional. Namun itu hanya dapat ia tahan selama lima belas menit. Ketika Andi ikut menekan pinggannya ke atas menghantam posisi Tante Rani, wanita itu berteriak panjang dengan vagina yang berdenyut keras dan cairan kelamin yang tiba-tiba meluncur dari dasar liang rahimnya.
"Oohh, Andi! Tante keluar! Oohh, enak! Henny, aku nggak kuat lagi! Oohh, nikmatnya penis ini! Oohh, enak!" teriaknya panjang sebelum kemudian terkapar di samping Andi dan Bu Henny yang masih ingin melanjutkan permainan itu. Andi bangkit sejenak dan memberikan ciuman pada Tante Rani, lalu mengatur posisi baru dengan Bu Henny.
"Ayo, Bu, kita lanjutin mainnya. Istirahat dulu ya, Tante," seru Andi pada Tante Rani.
"Baiklah, aku mau lihat kalian main aja," jawabnya, lalu berbaring memandangi Andi dan Bu Henny yang kini saling tindih meraih kepuasan. Kedua orang itu sengaja menunjukkan gaya-gaya bermain yang paling panas hingga membuat Tante Rani terheran-heran menyaksikannya. Goyangan tubuh Bu Henny yang begitu gesit di atas tubuh Andi sementara pemuda itu memainkan buah dada besar Bu Henny yang bergelantungan dengan penuh nafsu. Suara desah napas yang saling memburu dari keduanya terdengar sangat keras dan terpatah-patah akibat menahan kenikmatan dahsyat dari kedua kemaluan mereka yang beradu keras saling membentur, menimbulkan bunyi basah yang berirama. Daerah sekitar kemaluan mereka tampak telah basah oleh cairan kelamin yang terus mengalir dari liang vagina Bu Henny, hingga semakin lama Andi merasakan dinding kemaluan Bu Henny semakin licin dan nikmat.
"Oh, anak muda ini begitu perkasanya," benak Tante Rani berkata kagum pada pemuda itu. Ia begitu heran melihat keperkasaan Andi dalam bermain seks. Begitu tegarnya anak itu menggoyang tubuh bongsor Bu Henny yang bahenol itu. Andi seperti tak tergoyahkan oleh lincahnya pinggul wanita paruh baya yang bergoyang di atasnya penuh nafsu. Bahkan liang vagina Bu Henny yang sudah punya dua orang anak remaja itu seperti tak cukup besar untuk menampung batang penis Andi yang keluar masuk bak rudal. Bahkan kini hanya beberapa menit saja mereka bermain, Bu Henny sudah tampak tak dapat lagi menguasai jalannya permainan itu. Wanita itu kini mendongak sambil menarik rambutnya untuk menahan rasa nikmat yang begitu dahsyat dari liang vaginanya yang terdesak oleh penis pemuda itu.
"Auuhh, oohh! Mati aku, Ran! Enak! Oohh! Andi sayang, oohh, remas terus susu ibu, An!" teriak wanita itu sembari menggelengkan kepalanya liar ke kiri dan ke kanan untuk berusaha menahan rasa klimaks yang di ambang puncaknya itu.
Tante Rani semakin terpesona melihat gerakan liar Bu Henny yang tampak begitu menggodanya untuk kembali mencoba tubuh Andi. Bu Henny tampak begitu menikmatinya dengan maksimal sampai sehisteris seperti yang ia lihat. Keinginannya seperti bangkit kembali untuk mencoba lagi kenikmatan dahsyat dari buah penis besar yang kini tampak semakin bengkak dan keras itu. Menyaksikan hal itu, ia lalu bangkit dan mendekati kedua orang yang sedang bermain itu. Andi menyambut Tante Rani dengan mengulurkan tangannya ke arah vagina wanita itu; ia langsung meraba permukaannya yang masih basah oleh cairan kelamin, lalu dua jarinya masuk ke liang itu dan mengocok-ngocoknya hingga membuat Tante Rani merasakan sedikit nikmat. Wanita itu membalas dengan kecupan ke arah mulut Andi hingga mereka saling mengadu bibir dan menyedot lidah. Permainan itu menjadi seru kembali oleh teriakan nyaring Bu Henny yang kini terlihat sedang berada menjelang puncak kenikmatannya. Goyangan tubuhnya semakin liar dan tak karuan sampai kemudian ia berteriak panjang bersamaan dengan menyemburnya cairan hangat dan kental dari dalam rongga rahimnya.
"Ouuu, aku keluar! Aahh, enak! Oohh!" jeritnya dengan tubuh yang tiba-tiba kejang kemudian lemas tak berdaya.
"Ouuh, hebatnya anak muda ini," benak Tante Rani kagum pada Andi setelah berhasil membuat Bu Henny terkapar.
"Sialan, Ran! Aku kok cepat keluar kayak gini ya?" seru Bu Henny sambil melepas gigitan bibir vaginanya pada penis Andi yang masih keras dan perkasa itu.
"Memang kamu bener-bener jago, Andi. Beri Tante kesempatan lagi buat menikmatinya. Oohh, sini, kamu yang di atas dong, sayang," ajak Tante Rani setelah Bu Henny selesai dan menyamping.
Ia kemudian berbaring pasrah, membiarkan pemuda itu menindihnya dari arah atas. Andi sejenak memegangi kemaluannya yang masih tegang dan kemudian dengan perlahan mencoba masuk lagi ke dalam liang vagina Tante Rani. Wanita itu mengangkat sebelah kakinya agak ke atas dan ke samping hingga belahan vagina itu tampak jelas siap dimasuki penis Andi. Ia langsung terhenyak dan mendesah panjang saat kembali dirasakannya penis itu menerobos masuk melewati dinding vaginanya yang terasa sempit.
"Ohh, yang pelan aja, An. Enak sekali," pinta Tante Rani sambil meresapi setiap milimeter pergesekan dinding vaginanya dengan buah penis Andi.
Bersambung . . .