Bu Henny dan Temannya - 4
Bu Henny dan Temannya - 4
Andi mulai bergoyang dengan perlahan seperti yang diinginkan wanita itu. Tante Rani meremas sendiri buah dadanya yang ranum sementara Andi meraih kedua kakinya dan membentangkannya ke kiri dan ke kanan sehingga membuka selangkangan wanita itu lebih lebar lagi. Tak ayal gaya itu membuat Tante Rani berteriak menahan nikmatnya penis Andi yang terasa lebih dalam masuk dan membentur dasar liang vaginanya yang paling dalam.
"Aahh, oohh, hebatnya kamu, Andi! Oohh, Henny, nikmat sekali, Hen! Oouuhh, enak! Oohh, genjot yang keras, An! Oohh, semakin nikmat! Oohh, ya! Mm, lezat! Oohh, Andi, pantas kamu senang sama dia, Hen! Oohh, ampun, enaknya! Oohh, pintar sekali kamu, Andi! Oohh!" desah Tante Rani setengah berteriak. Pantatnya ikut bergoyang mengimbangi kenikmatan dari hempasan tubuh Andi yang kian menghantam keras ke arah tubuhnya. Penis besar itu benar-benar memberinya sejuta sensasi rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Kenikmatan dahsyat yang membuatnya lupa diri dan berteriak seperti orang gila.
Dijambaknya sendiri rambutnya yang tergerai indah sampai ia terlihat seperti orang yang sedang kerasukan. Tiba-tiba ia berguling dan segera menindih tubuh pemuda itu, menggoyang naik turun sambil berjongkok. Jari telunjuknya berusaha meraba daerah kemaluannya sendiri untuk membuat klitoris sebesar biji kacang di celah bibir kewanitaannya mendapat sentuhan lebih banyak lagi dari kulit tebal penis Andi yang terasa begitu nikmat membelai permukaan vaginanya. Hempasan demi hempasan dari tubuh pemuda itu berusaha diimbanginya dengan berteriak menahan nikmatnya benturan penis Andi. Sesekali ia membalas dengan juga menghempaskan tubuh dan pantatnya dengan keras, namun gerakan itu justru semakin membuatnya tak dapat bertahan. Kenikmatan maha dahsyat itu kembali membuatnya menggapai puncak permainan untuk yang kedua kalinya. Tak dapat ditahannya akibat dari sebuah genjotan keras yang membuat klitoris sebesar biji kacang di celah vaginanya tersentuh oleh kedahsyatan penis Andi yang perkasa. Dengan sepenuh tenaga ia berteriak keras sekali sambil menghempaskan tubuhnya yang bahenol itu sekeras-kerasnya.
"Aoowww, oohh! Aku keluar lagi! Oohh, enak, Andi! Oohh, uuhh, air maniku tumpah! Oohh, nikmat sekali! Oohh, nanti main lagi ya!" teriaknya panjang.
Andi merasakan denyutan keras pada vagina Tante Rani yang sekaligus menyemburkan cairan hangat memenuhi rongga vagina itu. Liang kemaluan itu berubah menjadi sangat licin dan nikmat hingga Andi terangsang untuk terus menggoyang pinggulnya. Direngkuhnya pinggul itu; ia mendekap erat sambil terus menggoyang memutar poros pantatnya hingga penisnya seperti mengaduk-aduk isi dalam vagina Tante Rani. Namun wanita itu merasakan kegelian yang dahsyat. Kenikmatan yang tadinya begitu hebat tiba-tiba berubah menjadi rasa geli yang seakan membuatnya ingin melepaskan penis Andi dari dalam vaginanya. Namun pemuda itu tampak semakin asyik menggoyang dan menciumi sekujur tubuhnya penuh nafsu, hingga tak dihiraukannya gerakan meronta Tante Rani yang berusaha melepaskan diri akibat rasa geli yang tak dapat ditahannya lagi.
"Aawww, geli! Ampun, sayang! Tante nyerah — lepasin Tante dong! Geli!" teriaknya memohon pada Andi. Dengan sedikit perasaan kecewa Andi menghentikan gerakannya dan melepaskan pelukannya pada pinggul Tante Rani yang langsung saja terjatuh lemas.
"Ohh, Tante nggak kuat lagi, Andi. Oohh, hebatnya kamu. Sudah dua kali Tante kamu bikin keluar. Gila kamu, benar-benar jantan! Hen, kamu sungguh beruntung. Oohh, nikmatnya," lanjutnya sambil membelai kemaluan Andi yang masih saja tegak tak tergoyahkan. Dikecupnya kepala penis itu dengan lembut, lalu ia meraih batangnya dan tanpa diminta mengulum pemuda itu. Andi tersenyum melihatnya dan memberikan belaian pada rambut wanita itu.
Sementara Bu Henny masih terpaku menyaksikan kehebatan Andi. Tak pernah sebelumnya ia bayangkan seorang lelaki muda seperti Andi membuat dua orang wanita paruh baya seperti dirinya dan Tante Rani menyerah pada keperkasaan dan kejantanannya. Bahkan ia telah membuat Tante Rani meringis dan memelas memohon Andi untuk berhenti. Betapa dahsyatnya keperkasaan pemuda itu. Kini ia hanya memandangi Tante Rani yang tengah berusaha melanjutkan birahi anak itu yang belum juga tuntas. Dilihatnya jam dinding. "Sudah jam satu dini hari. Ia sanggup bertahan selama itu. Oohh, hebatnya," batin Bu Henny.
Tiga jam lebih pemuda itu mampu bertahan dari serangan ganas kedua wanita dewasa itu. Kini dengan sisa tenaganya Tante Rani dan Bu Henny kembali mencoba memuaskan Andi. Bergilir mereka melakukan oral sambil menunggu saat vagina mereka siap untuk menerima masuknya penis besar Andi. Secara bergilir juga mereka memberi kesempatan pada Andi untuk menjilati daerah kemaluan mereka guna kembali membangkitkan nafsu birahi itu. Dan beberapa saat kemudian mereka berhasil dan memulai lagi permainan segitiga itu. Masih bergilir, kedua perempuan itu saling menukar posisi untuk mengimbangi kekuatan Andi. Bergantian mereka meraih kenikmatan dari penis besar sang pemuda perkasa itu; beragam gaya mereka pakai agar tidak cepat klimaks. Namun keperkasaan Andi memang benar-benar dahsyat hingga Bu Henny kembali terkapar meraih puncak kenikmatan dari penis Andi.
"Ohh, Tante, sebentar lagi saya keluar," kata Andi tiba-tiba saat memulai permainannya dengan Tante Rani setelah membuat Bu Henny terkapar.
"Ohh, kamu kuat sekali, An. Kalau nggak keluar sekarang mungkin Tante dan Bu Henny nggak sanggup lagi. Tante sudah kamu bikin keluar tiga kali, dan juga Bu Henny. Sekarang keluarin ya, sayang," rajuk Tante Rani pada pemuda itu.
"Baiklah, Tante. Saya nggak akan nahan lagi. Ayo kita mulai," ajaknya sembari memeluk tubuh bugil Tante Rani dan langsung menusukkan kemaluannya ke dalam liang vagina wanita itu.
Mereka kembali bermain, tapi kini dengan gerakan pelan dan mesra seperti dua orang yang saling jatuh cinta. Diiringi kecupan dan remasan pada payudara Tante Rani yang ranum, Andi terus berusaha meraih kepuasannya secara maksimal. Hingga beberapa puluh menit kemudian ia tampak mulai mempercepat gerakannya, bersamaan dengan Tante Rani yang juga mengalami hal yang sama.
"Naah, Tante, saya mau keluar! Oohh, goyang yang keras! Oohh, tekan terus, Tante! Oohh, memek Tante jepit lagi! Oohh, nikmat sekali! Oohh!" terdengar pemuda itu menjerit pelan meresapi kenikmatan dari tubuh Tante Rani.
"Tante juga, Andi! Oohh, penis kamu panjang sekali! Oohh, enak, nikmatnya! Oohh, remas yang keras susuku, Andi! Oohh, susu Tante! Oohh, terus! Tante keluar lagi! Oohh, enak!" jerit Tante Rani.
"Saya juga keluar, Tante! Oohh, enaknya! Kocok terus, Tante! Oohh, air mani saya mau nyemprot! Aahh!" jerit Andi pada waktu yang bersamaan.
Tiba-tiba Bu Henny yang sejak tadi hanya melihat mereka bangkit dan mendekati Andi.
"Cabut, An! Sini semprot ke muka ibu! Ibu pingin minum sperma kamu, cepat!" teriaknya.
"Baik, Bu! Oohh, minum, Bu! Oohh!" teriak Andi sambil berdiri di hadapan Bu Henny yang mendongak tepat di bawah penis yang menyemprotkan cairan sperma itu. Lebih dari empat kali ia menyemprotkan cairan itu ke mulut Bu Henny yang menganga dan langsung ia telan. Kemudian tak ketinggalan ditumpahkannya juga ke arah muka Tante Rani yang masih tergolek lemas di sampingnya. Wanita itupun menyambut dengan membuka lebar mulutnya; ia bahkan meraih batang penis itu dan mengocokkannya dalam mulut sehingga seluruh sisa cairan sperma pemuda itu ia telan habis. Akhirnya tergapai juga puncak kenikmatan Andi yang begitu lama itu. Diiringi teriakan panjang dari mulut Tante Rani, mereka bertiga terkapar lemas dan tak sanggup lagi melanjutkan permainan. Ketiganya kini saling bercanda ria setelah berhasil meraih kepuasan dari hubungan seks yang begitu seru; empat jam lebih mereka mengumbar nafsu birahi itu sampai puas, kemudian tertidur kelelahan tanpa seutas benang pun melapisi tubuh mereka.
Liburan seminggu di pulau kecil itu memasuki hari kelima. Andi yang semula hanya ditemani Bu Henny — yang memang sengaja merencanakan liburan itu — tak pernah menyangka akan mengalami pengalaman hebat seperti saat ini. Seorang lagi istri pejabat pemerintah yang haus kepuasan seksual kini bergabung dan semakin membuat suasana menjadi luar biasa. Dua orang wanita paruh baya yang masing-masing memiliki pesona kecantikan dan tubuh yang sangat disukainya sekarang benar-benar dapat ia nikmati sesuka hatinya. Mereka melampiaskan nafsu seks yang membara itu sepuas hati tanpa ada yang menghalangi. Semua gaya dan tipe permainan cinta, dari yang buas sampai yang lembut, satu lawan satu atau dua lawan satu, mereka lakukan tanpa kenal henti.
Hari-hari selama seminggu itu pun penuh dengan pelampiasan birahi mereka yang tak pernah sedetik pun mereka rasakan dari suami-suami mereka, para pejabat pemerintah yang berlagak jago tapi hanya mampu bermain seperti ayam yang dalam waktu lima menit saja sudah berteriak menggapai puncak meski istri mereka baru sampai tahap pemanasan saja.
Tante Rani merasakan pengalaman pertamanya berselingkuh dengan anak muda itu sebagai mimpi indah yang tak akan dilupakannya. Setiap ia meminta Andi melayaninya, tak pernah sekalipun ia dapat bertahan lebih dari lima belas menit, sementara pemuda itu sanggup membuatnya menggapai puncak tidak pernah kurang dari tiga kali dalam setiap permainannya. Pernah suatu saat ketika Bu Henny meninggalkan mereka berdua dalam villa untuk berjalan-jalan di suatu pagi, Tante Rani meminta Andi untuk menggaulinya sepuas hati. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk bertahan dari serangan pemuda itu. Dibiarkannya tubuh bahenol putih mulus itu dijadikan seperti bantal guling oleh Andi. Namun hasilnya tetap saja ia tak dapat membuat Andi kalah. Meski telah dibiarkannya pemuda itu menggenjot dari segala arah, dibuatnya Andi bernafsu seperti binatang buas yang meraung — tapi sia-sia saja. Bahkan saat Bu Henny kembali ke villa itu setelah dua jam berjalan-jalan di pantai, Andi masih saja tegar menghantamkan penis besarnya dalam liang vaginanya yang sudah tiga kali menggapai puncak dalam satu ronde permainan anak itu. Hingga Bu Henny yang kemudian bergabung pun dapat ia robohkan dalam beberapa puluh menit saja. Bahkan sampai berulang-ulang lagi Bu Henny bangkit, ia belum keluar juga. Barulah setelah mereka berdua bergilir memberikan liang vaginanya dimasuki dari arah belakang, Andi dapat meraih ejakulasinya.
Waktu liburan mereka telah habis. Ketiganya kembali ke Jakarta setelah melewati hari-hari yang begitu menggairahkan — hari-hari penuh teriakan kenikmatan hubungan badan yang maha dahsyat. Pengalaman seks di pulau kecil itu benar-benar seperti mimpi bagi kedua wanita paruh baya itu. Justru sekembalinya mereka dari pulau itulah, ada sedikit perasaan gelisah di dalam hati Tante Rani yang membayangkan dirinya kembali ke pelukan lelaki yang sebenarnya tak pernah ia cintai. Suaminya yang botak dan tua bangka, lelaki penuh nafsu besar dengan kemampuan seperti cacing itu, kini membuat perasaannya muak ingin muntah.
Tak habis-habisnya mereka membicarakan seputar kenikmatan cinta dari Andi yang dialami Tante Rani dalam perjalanan pulang itu. Ada secercah harapan dalam benak Tante Rani saat Bu Henny memberinya izin untuk boleh bergabung bersamanya menikmati kepuasan dari Andi kapan saja ia suka, asalkan mereka melakukannya atas sepengetahuan Bu Henny yang secara resmi adalah pacar gelap Andi.
Pesawat yang membawa mereka kembali ke Jakarta telah mendarat. Ketiganya berpisah di bandara lalu pulang ke tempat tinggal masing-masing dengan hati yang riang dan kesan yang begitu kuat akan kenangan dan pengalaman hebat yang mereka lalui dalam seminggu itu. Sesampainya di rumah masing-masing, kedua wanita itu masih tak dapat melepas bayangan keperkasaan Andi, hingga saat mereka berkumpul dengan suami dan anak-anak mereka, suasana menjadi sangat dingin.
Sejak saat itu, hari-hari bersama suaminya dirasakan Tante Rani seperti neraka. Setiap malam saat ia melayani suaminya di ranjang, tak pernah dapat ia nikmati. Permainan suaminya yang seperti ayam kurang gizi benar-benar membuatnya muak, bahkan ingin muntah. Setiap kali dilihatnya tubuh lelaki itu, seakan ia sedang menghadapi bangkai busuk saja.
Suatu malam saat suaminya baru pulang dari kantor, Tante Rani yang tampak baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan badannya di atas tempat tidur langsung disambar oleh lelaki botak itu.
"Ayo, Ran, aku sudah satu minggu nggak main sama kamu. Yuk, layani aku sebentar," ajak pria itu. Tante Rani diam saja tak beranjak dari tempat tidur; ia merasa malas menanggapinya.
"Ntar dulu dong, Pi, aku keringkan badan," jawabnya acuh tak acuh, sementara lelaki botak itu mulai meraba pahanya yang mulus sambil mendaratkan ciumannya di pipi Tante Rani.
"Ayo dong, aduh, aku nggak tahan nih," pria itu merajuk genit sambil membelai bulu-bulu halus di permukaan kemaluan Tante Rani.
"Papi! Sabar dong!" sengit Tante Rani agak sewot.
"He, jangan marah dong, sayang. Aku kan suami kamu."
"Huh!" ia berkesah sambil membuang sisir yang ada di tangannya, sementara lelaki itu melepas handuk yang melilit tubuh wanita itu dan langsung saja mengangkat paha istrinya dan membukanya lebar. Lalu lidahnya menjilat-jilat bagaikan anak kecil yang menikmati es krim. Tante Rani hanya memandanginya sambil tersenyum; tak sedikit pun ia menikmati permainan suaminya. Dibiarkannya lelaki botak itu menjilati permukaan vaginanya hingga becek. Tak puas sekadar menjilati, lelaki itu menusukkan dua jarinya ke dalam liang kemaluan sang istri yang hanya memandangnya sinis dan tampak jijik. Beberapa saat kemudian ia beranjak duduk di pinggiran tempat tidur dan meminta sang istri untuk menyedot kemaluannya.
"Huuhh, ayo, karaoke aku sebentar, Ran," pintanya pada Tante Rani. Napasnya terdengar sudah turun naik tak tentu, menandakan nafsu birahi yang sudah berkobar.
"Oohh, nikmat. Mm," desahnya begitu penis kecil dan pendek mirip penis monyet itu tersentuh lidah Tante Rani.
"Huh, dasar botak. Aku sangat berharap biar kamu cepat mati saja," benak Tante Rani dalam hati. Ia sangat kesal menghadapi suaminya yang tampak sudah bagai sampah saja. Tak ada daya tarik selain harta dan kekayaan yang didapatkannya dari korupsi itu.
Sambil terus melayani lelaki itu, ia membayangkan dirinya berada bersama Andi, hingga tampak wanita itu memejamkan mata sambil terus menyedot keras batang kemaluan sang suami. Namun hanya beberapa menit saja adegan itu berlangsung, tampak pria itu sudah tak dapat menahan kenikmatan.
"Oohh, ayo cepat masukin, Ran! Aku mau keluar! Auuhh, oohh!" Tiba-tiba ia merengkuh tubuh Tante Rani dan menindihnya. Dengan ngawur ia berusaha memasukkan penis yang sudah akan muntah itu ke arah liang vagina istrinya. Dan baru beberapa detik saja masuk, sebelum Tante Rani sempat bergoyang, penis itu memuntahkan seluruh cairan spermanya.
"Aahh, aku keluar! Rani! Oohh!" teriaknya saat merasakan cairan maninya meluncur dalam liang vagina sang istri yang sedari tadi hanya tersenyum sinis melihat tingkahnya yang sok jagoan.
Hanya beberapa menit saja persetubuhan itu berakhir dengan sangat mengecewakan Tante Rani. Dipandanginya lelaki botak itu yang kini tergolek lemas dan hanya bisa membelai permukaan vagina yang tak sanggup ditaklukkannya. Pria itu tampak malu sekali melihat istrinya yang kini terlihat memandanginya dengan senyum menyindir. Namun ia tak sanggup mengatakan apa-apa. Kemudian dengan tak tahu malu ia menutupi mukanya dengan bantal dan berusaha menyembunyikan dirinya dari perasaan malu itu. Beberapa menit kemudian lelaki botak itupun tertidur sebelum berhasil membuat istrinya puas. Namun bagi Tante Rani, yang terpenting adalah ia kini memiliki pasangan lain yang dapat membuatnya meraih kepuasan seks. Yang terpenting kini baginya adalah bahwasanya tidak hanya pria itu yang bisa mencari selingkuhan, namun dirinya pun berhak dan sanggup melakukannya. Tentunya dengan bentuk tubuh indah dan wajah manis yang dimilikinya seperti saat ini, hal itu sangat mudah.
"Mengapa aku harus diam sementara suamiku itu dengan seenaknya mengumbar nafsunya dengan para gadis remaja atau pegawai bawahan di kantornya? Aku pun sanggup membuat diriku puas dengan mencari pasangan main yang jauh lebih hebat. Tak ada asyiknya bermain dengan hanya satu pasangan seperti ini. Apalagi dengan laki-laki seperti ini — ciih, jijik aku," benaknya berkata sendiri sambil membalik badan kemudian berlalu dan keluar dari kamarnya.
Itulah hari-hari yang kini dilalui oleh Tante Rani semenjak ia mengenal Andi dari Bu Henny. Kini hubungannya dengan dua orang itu menjadi semakin akrab saja. Hampir setiap hari mereka menyempatkan diri untuk saling menghubungi. Dengan rutin pula mereka menentukan jadwal kencan mereka seminggu sekali yang mereka lakukan di hotel-hotel berbintang di mana mereka bisa mengumbar nafsu sepuas-puasnya. Sampai kemudian kedua wanita itu memutuskan untuk membeli sebuah villa mewah secara diam-diam di kawasan Puncak, untuk mereka pergunakan sebagai tempat pertemuan yang aman dan nyaman.
Seiring waktu berlalu dan hubungan cinta segitiga mereka yang semakin dekat dari hari ke hari, dua wanita istri pejabat itupun mendirikan sebuah perusahaan besar yang berbasis di bidang pengangkutan ekspor-impor untuk semakin menutupi kerahasiaan hubungan mereka. Sehingga ketiga orang itupun tak perlu lagi mengatur alasan khusus pada suami mereka untuk dapat bertemu Andi setiap hari — hal itu karena mereka berdua menempatkan diri sebagai dewan komisaris dan direktris pada perusahaan itu. Tiap hari kini mereka dapat melampiaskan nafsu birahi mereka pada Andi, di kantor, di villa, atau di mana pun mereka suka.
Kehidupan pemuda itu pun menjadi sangat bahagia. Dengan kebutuhan seksual yang selalu dipenuhi oleh dua wanita sekaligus, ia sudah tak perlu memikirkan tentang wanita lagi. Kehangatan kedua wanita paruh baya yang benar-benar pas dengan seleranya itu sudah lebih dari cukup. Masalah materi sudah tak perlu dikhawatirkan lagi; kedudukannya sebagai direktur perusahaan itu sudah menjadikannya benar-benar lebih dari cukup. Hidupnya kini benar-benar bahagia seperti apa yang pernah ia cita-citakan.
TAMAT