18px

Budak Nafsu Tante Lisa

Budak Nafsu Tante Lisa

Namaku Wawan. Aku adalah seorang mahasiswa PTS terkenal di Yogyakarta, berusia 22 tahun, dan aku kost di sebuah rumah milik seorang janda pengusaha toko โ€” sebut saja Tante Lisa. Usianya masih 40 tahun. Suaminya meninggal karena komplikasi, dan dengar-dengar dari tetangga, Tante Lisa dulunya hostess di Surabaya. Tante Lisa sangat cantik dan menjaga tubuhnya sehingga dia tampak seperti berumur 30 tahun. Dia juga berpenampilan seksi, suka memakai celana kaos ketat dan tank-top.

Ceritanya berawal ketika suatu hari aku sedang onani di kamar mandi dan ternyata lupa dikunci. Tante Lisa menonton tanpa sepengetahuanku, dan setelah aku orgasme aku kaget melihatnya berdiri di sana.

"Wan, kelihatannya asyik ya... mendingan lain kali minta bantuan Tante, pasti lebih enak."

Aku jadi malu berat dibuatnya. "Maaf Tante, saya lupa menutup pintunya."

"Nggak apa kok, Wan, kan kamu sudah dewasa dan wajar melakukannya. Tante juga sudah sering lihat yang begituan kok," katanya sambil senyum.

Beberapa hari kemudian aku disuruh bantu-bantu di tokonya, dan tanpa segan-segan aku membantunya hingga malam. Tante Lisa memintaku untuk menemaninya dan aku disuruh menginap di situ. Memang di tokonya ada dua kamar di lantai dua (ruko) dan kamar tersebut kadang ditempati Tante Lisa bersama anaknya. Tante Lisa mengajakku makan bersama dan minum wine โ€” dan aku tidak mengerti kok aku bisa sampai tidak sadar, mungkin dicampur obat tidur.

Paginya Tante Lisa membangunkanku bahkan sampai harus disiram. Aku disuruh cepat-cepat pulang kost dan merahasiakan kalau aku tidur di ruko. Aku menurutinya. Dan malamnya, setelah toko tutup, Tante Lisa mengajakku berhubungan intim.

"Wan, Tante minta malam ini kamu puasin Tante ya."

Kuruan saja kutolak karena aku memang belum pernah gituan dan takut, meskipun aku sering nonton BF.

"Maaf Tante, saya nggak berani," kataku sambil gugup.

Tante Lisa lalu mengancam: dia memutar videoku sedang tidur bugil. Tante Lisa bilang tadi malam saat aku tidur dia menelanjangiku dan merekamnya dengan handycam.

"Tante akan menyebarkan rekaman ini jika kamu nggak mau melayani Tante, kecuali kamu mau melakukan yang Tante minta. Percaya Tante deh, toh Tante juga menjaga nama baik Tante, jadi ini akan jadi rahasia kita berdua."

Akhirnya karena takut dan polos aku melayaninya. Dari situ aku tahu ternyata Tante Lisa maniak seks. Pertama dia minta mandi Caty โ€” dijilati tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung rambut โ€” dan Tante Lisa minta aku menjilati liang kewanitaannya sampai berjam-jam. Setiap aku berhenti Tante Lisa menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke liang surganya.

Pengalaman pertamaku menyentuh wanita, apalagi menjilati seluruh bagian tubuhnya, membuat aku sampai menangis dalam keterpaksaan itu.

"Sudah Tante... sudah," sambil napasku tersengal-sengal.

"Aghh... jangan lepas. Teruss... teruss!"

Tante Lisa terus menjepit kepalaku dengan kedua pahanya yang kencang. Aku dapat merasakan harumnya kemaluan Tante Lisa. Aku sendiri merasa nikmat sekaligus takut. Dia menyuruhku tidur di sofa dan Tante Lisa menduduki wajahku sehingga aku dipaksa menjilati kelamin dan anusnya.

"Aghh... enak sekali, Wan," katanya sambil memutar-mutar pantatnya di atas wajahku yang sudah basah karena cairan kewanitaannya. Pantatnya yang hangat dan kencang itu menindih wajahku sehingga aku sampai susah bernapas. Jika Tante Lisa tidak merasa puas atas pelayananku, ia suka sekali menampar, mencakar, menjambak, meludahi. Setelah itu Tante Lisa mengambil posisi 69 dan kami saling mengoral. "Ayo Wan, kamu bisa lebih panjang lagi," katanya sambil menarik-narik kemaluanku dan memelintir pelirku. Aku yang kesakitan tapi merasakan sensasi yang luar biasa. Dalam mengoral, Tante Lisa seperti singa yang tidak diberi makan tiga hari โ€” sangat buas dan mempermainkan kemaluanku dengan sangat cekatan: kadang menarik lalu memutar, kadang mengocoknya dengan cepat lalu perlahan.

Bahkan pernah Tante Lisa mengencingi wajahku sambil membuka mulutku, lalu aku disuruh menjilat air kencingnya yang tercecer di lantai. Entah kenapa lama-lama aku malah menyukainya โ€” mungkin aku termasuk seorang sadomasochist.

Suatu hari entah dari mana Tante Lisa membawa alat-alat untuk seks sadomasochist: ada bola penyumpal mulut, kuas penggelitik, cemeti dari kulit, pengikat leher seperti anjing, CD kulit yang berlubang di bagian depannya, dan pakaian seperti pasukan Romawi. Dia menelanjangi dan mengikatku, lalu sambil merangkak Tante Lisa berteriak-teriak memecutiku dan menendang pantatku persis seperti anjing. Dia menyebar makanan di lantai dan menyuruhku memungut dengan mulut, bahkan menjilati ludah dan kencingnya di lantai.

Di bagian batang kemaluanku dia mengikatkan sebuah karet gelang yang ada kerincingnya sehingga setiap kali merangkak berbunyi nyaring. "Ayo... ayo, kalau kamu mau jadi anjing Tante yang setia harus nurut yang Tante perintahkan!" Tante Lisa kadang memperlakukanku seperti kuda โ€” dengan mengikat leherku dan menunggangi punggungku sambil memecut pantatku. Sering juga Tante Lisa memasukkan sebagian pisang susu ke liang kewanitaannya dan menyuruhku mengambil dan memakannya dengan mulut. Untuk menyumpal mulutku agar aku tidak mengerang keras, biasanya Tante Lisa memakai CD-nya atau pembalut.

Aku tidak pernah punya kesempatan menggunakan batang kemaluanku. Paling Tante Lisa suka sekali mengocoknya โ€” bahkan pernah mengocokku sampai orgasme empat kali dalam satu malam, sampai batang kemaluanku lecet dan perih dan tangan Tante Lisa juga sampai pegal-pegal.

Tante Lisa sangat merawat batang kemaluanku. Buktinya, setiap habis main selalu dia merendamnya dengan air hangat, kadang dengan teh basi, katanya agar batang kemaluanku selalu kuat dan siap kapan saja.

"Masak cuma bisa dua kali... nih rasakan!" katanya sambil menyentil ujung kemaluanku.

"Aduh... ampun Tante..." pintaku memelas.

Itulah yang sering terjadi jika Tante Lisa memaksaku orgasme berkali-kali. Dalam mengocok, Tante Lisa kadang pakai sarung tangan, pakai busa sabun, odol, supit untuk mie, dan berbagai cara lainnya. Biasanya Tante Lisa mengocokku sambil minta dioral atau menjilati puting dan ketiaknya. Yang paling mengerikan, pernah Tante Lisa memintaku memakan kotorannya โ€” dan aku tolak karena selain jijik juga takut sakit. Untungnya Tante Lisa mau mengerti.

Sampai sekarang sudah hampir dua tahun dan aku makin menyukainya meski kadang aku sempat sakit. Aku hanya merasakan kepuasan dan mengabaikan rasa sakit.

TAMAT

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’