Budak Sang Mistress
Budak Sang Mistress
Aku terbangun dari tidur ketika terasa ada sabetan di pantat — ternyata dia memang seorang mistress yang sadis. Masa ngebangunin orang dengan cambukan, GILA BENER!!!
Semua ikatan dilepas, dan terasa darah lancar kembali mengalir. Aku disuruh cuci muka dan sikat gigi di wastafel tak jauh dari situ. Setelah selesai gue menghampiri dia lagi, dan dia memberikan sebuah botol parfum untuk dipakai. Sekarang badanku wangi karena seluruh badan aku semprotin. Dia memperhatikan dengan tersenyum — terlihat manis sekali, tapi di balik muka lembut dan manis tersebut tersimpan suatu kesadisan. Aku ngga tahu siksaan apa lagi yang akan mampir malam ini... mana dia bilang sampai pagi lagi. Tapi sudah pasrah sih karena ban pinggang ini akan lebih berbahaya kalau bekerja. Benar katanya, aku akan dicuci otak dengan jalan seperti ini. Memang benar, sekarang perasaan takut selalu muncul kalau hendak melawannya — yang pasti tidak berani lagi menentang atau melanggar perintah yang keluar dari mulutnya.
M: Hei!!!! Kenapa bengong begitu? Senang ya dengan penampilan saya?
A: Iy... iya... Iya Mistress Rani...
M: Ternyata kamu seorang slave yang menyenangkan dan menggemaskan orang.
Aku diam saja, tidak menjawab.
M: Sekarang kita akan berangkat ke suatu tempat di mana peralatan lengkap saya berada, tapi kamu tidak boleh tahu. Karena itu saya ada gagasan yang paling baik untuk menghindari itu. Ayo sini ikut saya.
Aku dibawa ke ruangan lain di mana terdapat mobil van yang agak besar yang siap membawaku ke tujuan yaitu NERAKA...!!
Dia menyuruh memakai celana dalam cewe lagi dan memborgol pergelangan tangan ke belakang, terus siku diborgol juga hingga sejajar dengan pergelangan tangan. Kemudian dia melepas celana dalamnya, digulung dan dimasukkan ke mulutku. Setelah itu mulut dipelester dengan electric tape yang lengket sekali. Terlihat dia membuka sebuah kerangkeng besi agak kecil. Ngga tahunya aku disuruh masuk ke dalamnya. Yang aku heran, kerangkeng tersebut mana muat untuk badanku, kecuali dipaksain. Ternyata benar, dia menyuruh berlutut di dalam kerangkeng tersebut dan mulai menutup pintunya dari atas. Dia terus menekan sampai pintu tertutup kemudian digembok. Aku benar-benar ngga bisa gerak di dalam kerangkeng tersebut. Terus dia menyumpal kupingku dengan benda plastik yang pas lubang kuping lalu ditempel electric tape yang lengket tadi supaya tidak keluar. Sekarang aku dapat mendengar suara samar-samar. Rupanya dia benar-benar akan merahasiakan perjalanan ini agar aku benar-benar tidak tahu arah tujuannya. Kerangkeng besi tempat aku meringkuk ditutup dengan kain hitam seperti membungkus rantang. Sekarang suasana gelap kembali, hanya samar-samar aku dengar dia bicara:
M: Kita akan melakukan perjalanan kira-kira 1 jam, ngga lama kok, dan kamu masih bisa bernapas bebas kan?
Aku mau menjawab tapi tidak bisa. Muncul sedikit rasa marah hingga aku berusaha berontak, yang berakibat kerangkeng tersebut bergerak-gerak dan membuat dia tertawa terpingkal-pingkal.
Terasa kerangkeng bergerak — ternyata di bawahnya ada roda kecil dan mulai naik ke mobil dengan menggunakan papan. Untung aja dia masih belas kasihan, karena kerangkeng ini alasnya dilapisi papan dan bahan yang agak empuk, begitu pula atasnya, jadi badan tidak terlalu sakit dengan tekanan jeruji besi kerangkeng tersebut.
Mobil mulai bergerak dan aku terus menunggu tanpa komentar, masih memakai pakaian cewe yang seksi ini, dengan badan pegel sekali karena tertekuk untuk waktu cukup lama.
Mobil berhenti di suatu tempat. Kain hitam kerangkengku dibuka dan dikeluarkan, lalu didorong menuju ruang yang semua temboknya bercet coklat tua. Kerangkeng dibuka dan aku keluar. Gag dilepas, tutup kuping pun demikian, borgol dilepas. Sekarang bebas menarik napas. Tapi bukan Mrs. Rani — ternyata ada cewe lain yang melakukan semua ini.
Dia hanya memakai bikini dari kulit hitam, garter belt, stocking, dan sepatu hak tinggi hingga lebih tinggi dariku. Di kedua pergelangan tangannya ada belenggu dan rantai yang nyambung ke collar di leher. Karena rantainya cukup panjang, dia bebas menggerakkan tangannya.
IP: Nama saya Ida Ponorogo, saya dari suku Jawa tapi seksi juga kan, tidak kalah sama Mistress Rani kan? Saya juga budaknya Mistress Rani tapi saya SWITCH — bisa jadi mistress juga. Kamu kaya cewe amat dengan dandanan seperti ini.
A: Iya, Mrs. Rani yang suruh saya seperti ini, mana berani melawan... bisa ban pinggang ini bekerja, gawat jadinya.
IP: Saya juga gitu awalnya, tapi setelah tiga bulan saya dilepasin oleh mistress. Tapi jiwa saya sudah menjadi miliknya. Segalanya yang saya punya adalah miliknya, jadi kalau saya dihukum seberat apa pun saya menerimanya meskipun harus menangis atau teriak.
A: Ooooh gitu... dan sekarang saya mau diapain di sini?
IP: Saya diperintahkan untuk mengurus kamu dan membuka seluruh baju kamu. Di ruang sini laki-laki tidak ada yang boleh pakai baju kecuali baju hukuman. Kamu tahu ngga, kamu sudah ada di sini — sama saja dipenjara selama tiga bulan. Kamu tidak bisa keluar dari bangunan ini karena semua pintu sudah dideteksi secara elektronik. Kalau kamu coba kabur pasti ketangkap dan pasti mendapat hukuman, di samping ban pinggang kamu yang pasti akan bekerja menyiksa kamu.
A: Masa sih selama itu?
IP: Iya, kamu akan di-training di sini sampai perasaan kamu menjadi budak yang murni untuk Mrs. Rani. Dan kamu pasti akan nurut dia karena dia orangnya sadis kalau sudah menghukum orang. Kalau melawan perintahnya, hukuman semakin berat yang pasti akan membuat kamu teriak. Tapi saya suka mendengar suara cowo teriak, horny lho mendengarnya... hi... hi... hi.
Aku cukup kaget mendengar perkataan Ida — akan dikurung di bangunan ini selama 3 bulan menjadi tawanan. Di daerah mana ini... GILA...!!! Baru sebentar aja udah ngga tahan, apalagi 3 bulan. Wah, benar-benar masuk neraka nih. Tapi pasti ada jalan keluarnya... lihat saja nanti... mereka kan perempuan, masa laki-laki kalah.
IP: Eh... kenapa bengong? Kaget ya?
A: Eh... ee... engga... engga apa-apa.
IP: Ayo cepat buka bajunya. Semua.
A: Iya... iya...
Terdengar dari tutur katanya, Ida termasuk wanita lembut. Aku menanggalkan semua baju hingga benar-benar bugil. Ida memperhatikan — terlihat dia agak terangsang melihat aku buka baju. Mungkin kalau dia tidak tertahan rasa takut dengan Mrs. Rani, dia tentunya sudah jadian sama gue.
IP: Session kamu malam ini yang pertama: WATER SPORT. Ayo ikut saya ke ruangan sebelah sana.
A: Apa itu WATER SPORT?
IP: Nanti juga kamu tahu sendiri, jangan tanya sekarang, ok?
Aku dibawa ke suatu ruangan tidak terlalu besar dan disuruh berlutut. Ida mulai memasangkan restraint (belenggu kulit) di kiri dan kanan pergelangan tanganku, kemudian kedua pergelangan kaki pun ditarik hingga melebar, begitu pula daerah lutut dipasangkan juga. Semuanya disangkutkan di kait besi melengkung di lantai dengan gembok. Setelah selesai aku mencoba meronta — memang tidak bisa bangun sama sekali. Letak badan biasa saja dalam keadaan berlutut, tapi karena tangan dibelenggu agak ke belakang dekat lutut, kalau badan didorong ke depan tangan harus menarik badan agar tidak jatuh. Aku diam saja, pengen tahu apa yang terjadi kemudian. Sementara si Ida tidak tahu bahwa si doel sudah tegang kembali. Dia memakaikan wide collar di leher sehingga sulit untuk menundukkan kepala — harus tegak terus. Ida melirik ke penis gue, dia tersenyum.
IP: Kamu senang ya diperlakukan seperti ini? Kayanya kamu horny deh.
A: Iya nih, memang ini yang menjadi impian saya, baru sekarang jadi kenyataan.
IP: Oh gitu... tapi tunggu dulu, nanti kamu pasti menyesal. Tunggu deh sebentar lagi Mrs. Rani datang kalau ini sudah selesai semua, katanya sambil tersenyum manis.
A: Memang saya mau diapain sih?
IP: Tenang aja deh, nanti juga kamu tahu sendiri.
Meski mulut bicara, tangan Ida tidak berhenti bekerja. Selesai memakaikan wide collar, dia menempelkan seutas tambang dari bahan cotton ke collar di leherku — kelihatannya cukup kuat. Ujung tambang tersebut dimasukkan di lubang kait besi melengkung kecil di tengah ember besar dari bahan yang cukup berat di hadapanku. Sedikit bingung sih, permainan apa lagi yang akan dilakukan. Setelah tambang melewati kait besi tersebut, ujungnya ditarik dan diikatkan ke tiang berjarak kira-kira 3 meter dari kait besi. Karena tambang tersebut agak tegang, kepala tidak bisa diangkat ke atas atau mundur ke belakang lagi, kecuali maju atau turun ke dalam ember tersebut. Ida menjelaskan dan memberi saran.
IP: Ember ini akan saya isi air. Kalau tambang sebelah sana ditarik maka kepala kamu akan masuk ke air. Kamu harus tahan napas — kalau tidak kamu akan minum air, jadi sebelum itu sebaiknya kamu hati-hati. Tarik napas yang panjang dulu kalau mau selamat.
A: Wah gawat nih, saya mau dibenamkan di air??? GILA...!! Permainan apa ini?
Saya bisa mati kalau kelamaan dalam air kalau Mistress Rani mengeluarkan kesadisannya, bisa-bisa dia membenamkan saya lama. Wah gawat nih.
IP: Tenang aja, ini namanya WATER SPORT. Pokoknya kamu jangan bicara kalau tidak diajak bicara, dan kalau ditanya kamu selalu harus jawab "Ya", jangan ada kata tidak atau melawan — nanti dia marah, kamu bisa gawat.
A: Iya, itu saya sudah tahu dari awal, tapi sekarang ini benar-benar membuat saya takut.
IP: Ah kamu banyak omong, kayanya mulut kamu harus disumbat deh.
Ida langsung berdiri mengambil penyumbat mulut (gag) yang tergantung di tembok. Bentuknya seperti balon tapi terbuat dari karet tebal yang menempel di lempengan kulit. Dia mulai memaksa memasukkan gag tersebut ke mulut. Setelah masuk, dia mengikatkannya ke belakang kepala hingga meski dengan sekuat apa pun dorongan lidah tidak bisa mengeluarkan gag tersebut. Yang aneh, bagian luarnya tersambung selang dan ujungnya seperti gelembung karet. Ketika Ida mulai menekan-nekan karet tersebut, terasa gag dalam mulut mulai membesar memenuhi rongga mulut, hingga mulut harus menganga lebar. Sampai limitnya tidak bisa lagi sementara gag tersebut terus dipompa dari luar. Gag ini benar-benar membuatku tidak bisa bersuara lagi — yang terdengar hanya suara napas dari hidung. Setelah dianggap cukup, Ida melepas selangnya tapi udara tidak keluar; mungkin ada klepnya yang menahan udara tidak keluar hingga gag tersebut tidak mungkin mengecil kalau tidak dibantu orang lain untuk membuka katup klepnya.
Ida mulai mengisi air di ember hingga hampir penuh baru dia berhenti mengisinya. Ia langsung meninggalkanku sambil berkata:
IP: Kamu tunggu ya, Mrs. Rani sebentar lagi selesai men-training cowo lain yang di sebelah. Pasti dia akan datang kok untuk membuat impian kamu jadi kenyataan, ok?
Aku bergelut dengan belenggu yang kuat karena ketakutan mendengar cerita Ida bahwa aku akan dibenamkan di dalam air. Mistress Rani muncul dengan senyum khasnya, sebilah rotan di tangan kirinya.
M: Hallo Slave, gimana kabarnya malam ini, apa kamu udah siap dengan WATER SPORT??
Aku cuma "Uh... uh... uh..." dari hidung karena gag yang penuh dengan tekanan kuat di mulut hingga mulut ngga mampu menekannya.
M: Saya mendengar lho semua pembicaraan kamu dengan Slave Ida, katanya sambil memegang tambang yang terikat di tiang di depan gue.
Aku hanya diam dengan penuh rasa takut.
M: Karena kamu ngomongin saya, jadi kamu harus dihukum. Hi... hi... hi...
Dia berjongkok di sampingku, mukanya dekat sekali hingga terhendus wangi parfum yang semerbak. Aku sudah tidak menyimak lagi apa yang dibicarakannya — yang terpikir hanya air di depanku dengan ketakutan.
Aku disuruh mengangkat pantat agak ke atas. Aku menurut. Namun beberapa detik kemudian terasa penis yang sedang tegang diikat dengan tali kecil di daerah palkon, kemudian ditarik ke belakang. Talinya diikatkan di tembok yang ada besi penyangkut. Dia terus menarik tali hingga penis yang sedang tegang ketarik ke belakang.
Sambil memegang tambang yang telah dilepas dari tiang tersebut, dia berjongkok lagi di samping gue sambil berkata:
M: Slave, kamu siap kan dengan permainan penyiksaan ini?
Selesai berkata dia langsung menarik tambangnya. Leherku langsung ketarik ke dalam air. Karena kedua tangan terbelenggu ke daerah lutut jadi tidak bisa menahan badan. Aku gelagapan di dalam air karena belum sempat narik napas. Tanganku menggelepar-gelepar hingga terdengar suara rantai. Selang beberapa detik dia lepas kembali, hingga kepala bisa keluar dari air. Dia tertawa melihat aku terengah-engah menarik napas.
M: Kenapa kamu omongin saya tadi?
Dia menarik lagi tambangnya hingga kepala masuk lagi ke dalam air, tapi aku sudah siap narik napas hingga waktu dikendurkan tambangnya kepala keluar dari air tidak terlalu terengah-engah. Mrs. Rani sadar akan hal ini. Dia menarik tambang lagi dan menahannya agak lama dalam air hingga tangan dan kaki menggelepar-gelepar, baru dia lepas lagi.
Sebenarnya waktu tambang ditarik dan kepala masuk ke air, penis makin ketarik ke belakang — tapi hal itu tak terasa lagi, yang terkonsentrasi adalah NAPAS...!! Mana hanya bisa menarik napas dari hidung karena mulut tersumbat ketat hasil kerjaan si Ida tadi.
Mrs. Rani terlihat wajah senang dan puas melihat aku tersiksa seperti ini. Aku selalu menengok ke samping di mana dia berada saat muka keluar dari air. Mukanya dekat sekali, kira-kira 5 cm. Aku juga mendengar napasnya mulai naik turun — kelihatannya dia horny melakukan permainan penyiksaan ini.
Dia melepas gag-ku dan berkata:
M: Gimana slave? Ini kan impian kamu selama ini?
A: Iya mistress, terima kasih telah menyiksa saya sedemikian rupa, ujarku terengah-engah karena butuh udara.
M: Kamu tahu, karena saya sangat sayang sama kamu, makanya saya akan terus menyiksa kamu biar semua impian kamu jadi kenyataan. Iya kan?
Tiba-tiba Mrs. Rani menjambak rambutku. Diawali dengan senyum manis, dia mulai mencium bibirku dengan lembut seperti orang pacaran, dan aku membalasnya seperti orang pacaran juga. Tapi tidak bisa banyak bereaksi karena belenggu yang cukup ketat menahan gerakan.
Lama-kelamaan ciuman tersebut menjadi buas dan aku melayani dengan buas pula sampai terdengar desah Mrs. Rani yang seksi. Tapi tiba-tiba dia menarik kepalanya melepas ciuman tersebut... dan siksaan beraksi lagi.
Dia menarik tali lagi hingga kepala masuk kembali ke dalam air dan agak lebih lama — sampai tangan kaki gue menggelepar-gelepar — lalu melepas, dan menarik lagi, lalu melepas. Ini dilakukan berulang hingga akhirnya aku memohon ampun sambil menangis. Tapi herannya, air mukanya terlihat timbul berahi hingga dia membuka behanya dan menjembulkan puting, menyuruhku menghisap. Tapi saat aku sedang melakukan perintahnya, mungkin dia sengaja menarik tambang lagi hingga kepala harus masuk ke air lagi diikuti gelepar kaki tanganku. Setiap keluar dari air, dia langsung menarik kepala menekan muka gue ke puting agar dihisap. Kali ini aku hisap dengan kuat — dia merintih dan tidak menarik tambang lagi. Tapi sebagai gantinya rotan yang di tangannya disabetin ke pantat. Aku tidak berhenti menghisap putingnya meski rasa pedih akibat sengatan di pantat. Akibatnya, ia menjambak rambutku lalu menekan kepalaku ke dadanya. Aku terus mengemut-emut putingnya dengan kuat sampai dia berdesah. Kurasa dia juga merasakan sakit karena hisapan yang kuat sekali.
Terus muka gue dibawa ke ketiaknya. Gue disuruh menjilat dan menghisap ketiaknya. Sebenarnya dia merasa geli, tapi dia tahan karena terasa ada getaran di tubuhnya. Tapi gue merasa dia tidak memakai pewangi ketiak — mungkin dia memang sudah punya rencana agar gue bisa mencium bau ketiak yang sebenarnya, terasa asin karena ada keringat yang mengumpul di situ. Tapi anehnya bau ketiak Mrs. Rani membuat gue horny berat saat itu, hingga bertambahnya ketegangan penis gue menimbulkan rasa sakit karena ikatan yang cukup kencang dan tarikan tali yang cukup tegang.
Tiba-tiba dia memanggil si Ida:
M: Slave Ida, ke sini.
IP: Ada apa Mistress Rani?
M: Kamu telah membantu dia membuat impiannya jadi kenyataan, berarti dia harus berterima kasih sama kamu dan harus membuat kamu senang. Kamu bisa nyuruh dia apa saja yang membuat kamu senang, mau kan?
IP: Mistress Rani, kalau diizinkan saya mau dia menjilat veggy saya dan menghisap kelentit saya dengan kuat, dan satu lagi dia harus menjilati pantat saya, boleh ngga Mistress Rani?
M: Ya boleh saja dong, memang dia harus membalas budi kepada kamu karena kamu telah menolong dia. Ya kan?
IP: Iya juga sih, tapi kalau dia tidak mau gimana mistress?
M: Benamkan saja mukanya ke dalam air lebih lama, biar dia menggelepar lebih keras lagi.
IP: Betul juga. Kamu dengar Slave? Dan sudah tahu tugas kamu?
Aku mengangguk dan tanpa bantah melakukan hal itu — mulai menjilat-jilat setelah dia berdiri tepat veggy-nya di mukaku, dan mengemut-emut kelentitnya dengan kuat. Tapi ketika dia balik badan dan nungging, dia menyuruh menjilat ass hole-nya. Aku agak enggan. Ida langsung menarik tambangnya, langsung mukaku terbenam kembali ke dalam air, dan muncul gelepar-gelepar lagi di tangan dan kaki karena terlalu lama di dalam air.
IP: Gimana? Masih ogah-ogahan menjilat ass hole saya?
A: Ee... kenapa... tapi? Aku sudah sulit berpikir harus bicara apa.
Tiba-tiba tambang ditarik lagi, terjadi hal seperti tadi. Setelah dikendurkan, aku langsung menjawab:
A: Saya mau... saya mau... saya mau.
Ida tertawa puas, langsung memantati mukaku — maka mulailah pekerjaan menjilat ass hole-nya. Selagi berjalan, aku melirik Mrs. Rani mendekati Ida. Mereka mulai berpelukan dan berciuman — WAH, mereka lesbian juga! Malah mereka bergantian nungging ke arah mukaku memberikan pantatnya ke mulut agar dijilatin ass hole-nya. Terpaksa harus kulakukan daripada masuk ke air lagi...
Bersambung...