Cemburu Membawa Sensasi (2)
Cemburu Membawa Sensasi (2)
Beberapa saat kemudian kuputar badanku pada posisi semula. Risa mengangkangkan kakinya hingga gundukan bukit itu nampak jelas sekali. Hutannya yang hitam dan rimbun membuat pemandangan tampak begitu indah, begitu pula kacang basahnya yang melambai-lambai. Wajahnya yang merah, bibirnya yang seksi menahan gairah semakin menambah kecantikannya malam ini.
"Cepetan dong, Ryan..." Perlahan namun pasti kugerakkan tongkatku menuju gua yang lebat itu.
"Ouhh..." Risa merintih saat kepala tongkatku mulai masuk ke mulut gua yang sudah basah dan licin.
"Ah... ouh... ohh."
"Oh... oh... uhh..."
Desahannya dan desahanku bersahutan tatkala pelan-pelan batang tongkatku masuk ke dalam gua. Sejenak tongkat itu kutarik keluar, kemudian kumasukkan lagi dengan sangat perlahan.
"Ahh... ouhh... nikmat sekali, Ryan... ohh."
"Aku sayang kamu, Risa."
"Aku juga, Ryan... oh, nikmat sekali... ohh."
Tongkatku terus bersenam maju mundur di dalam gua Risa. Sementara itu mulutku juga terus bergerilya di gunung kembarnya.
"Ahh... Ryan... oh... terus, Ryan... dalem lagi... ohh." Risa terus menggelinjang ke sana ke mari, pantatnya juga terus bergoyang bagaikan Inul di atas panggung.
"Oh... oh... aku tak tahan lagi, Ryan. Tongkatmu enak sekali, aku hampir sampai. Terus, Ryan, lebih keras lagi... ohh."
"Ahh... uhh... aku juga hampir keluar sayang. Dikeluarkan di mana — di luar apa di dalam?"
Tiba-tiba ada sesuatu bagai lahar panas yang akan segera muntah dari tongkat kenikmatanku.
"Di dalam aja biar nikmat... oh... uh..." Cret... cret... crett... Keluarlah lahar panas dari tongkatku.
"Ohh... aku sampai..." Pada saat yang bersamaan Risa juga sampai pada puncaknya.
"Uhh... ogh..."
Lolongan panjang kami mengakhiri pertempuran pertama yang luar biasa nikmatnya. Perlahan nafas kami teratur kembali, seperti turun dari puncak kenikmatan yang sensasional.
Prakk... Tiba-tiba terdengar suara vas bunga tersenggol. Aku dan Risa saling berpandangan — terkejut sekaligus sadar kalau Rico masih ada di ruang tengah.
"Risa, Rico kan belum pulang?"
"Belum... kamu sih terlalu bernafsu."
"Habis kamu juga sih — terlalu menggairahkan, ha ha."
"Jangan-jangan dia lihat kita?"
"Biarin aja deh, kan malah lebih sensasional."
"Dasar gabrut kamu."
"Eh, Risa, aku punya ide."
Tiba-tiba muncul dalam benakku untuk mengajak Rico ikut serta dalam permainan kami, seolah aku sudah lupa kalau tadi sempat merasa cemburu dengan keberadaannya.
"Ide apaan?"
"Gimana kalau Rico kita ajak sekalian main dengan kita?"
"Maksudmu?"
"Kita ajak dia untuk bercinta bersama — kan lebih asyik. Pasti jauh lebih nikmat."
"Ah, gila kamu. Nggak mau, emangnya aku cewek apaan."
"Bukan begitu, pasti lebih sensasional. Percayalah, ini tidak akan mempengaruhi hubungan kita. It's just sex, not love. Aku juga tetap mencintaimu."
Sejenak Risa berpikir. Mungkin ia menganggap ideku sangat gila, tapi entah kenapa tiba-tiba bulunya merinding dan tampak wajahnya bergairah — mungkin ia membayangkan permainan tersebut. Namun ia juga tidak mau kalau tampak menggebu menginginkan permainan itu, karena bagaimanapun kami memang saling mencintai.
"Apa kamu serius, Ryan?"
"Serius." Aku mencoba meyakinkan Risa.
"Kamu nggak cemburu kalau aku main seks juga dengan Rico?"
"Ya enggaklah — kan aku yang minta, asalkan ada aku."
"Kamu nggak ngambek lagi kayak tadi saat lihat aku hanya bercanda dengan Rico?"
"Enggak. Percayalah. Ini mungkin malah akan membuat hubungan kita semakin dewasa."
"Terserah kamulah." Risa akhirnya pasrah. Yang penting tak mengubah apapun pada hubungan kami — karena tiba-tiba ia pun mulai bergairah.
"Oke, kalau gitu aku akan bicara sama Rico."
Aku segera turun dari ranjang, kupakai celanaku, kemudian keluar dari kamar. Kulihat Rico sedang merokok di ruang tengah. Dari wajahnya nampak ia sangat gelisah melihat permainan tadi — mungkin ia juga sangat terangsang tapi tak ada pelampiasan. Kaget ia ketika melihatku melangkah ke arahnya.
"Eh, Ryan..."
"Ric, sori ya perlakuanku tadi. Aku agak emosi karena badanku lagi capek, pikiranku juga stres akibat kerjaan."
"Nggak apa-apa kok, Ryan. Aku paham — biasalah dalam setiap hubungan, cemburu itu kan tanda sayang," ungkapnya sok bijak dan arif.
"Sori juga tadi kamu kami tinggal sendirian di ruang tengah."
"Nggak apa-apa kok."
"Tapi tadi kamu lihat kan aku ngapain sama Risa?"
"Enggak... aku nggak... tahu..." katanya agak gugup.
"Gak usah bohong, Ric. Aku nggak apa-apa kok — kita kan udah sama-sama dewasa. Malah kalau kamu mau, boleh kok kalau kamu ikutan."
"Maksudmu?"
"Iya, kalau kamu mau, kamu boleh ikutan."
"Ikutan apaan?"
"Ikutan bermain seperti yang kamu lihat tadi."
"Apa aku nggak salah dengar?"
"Enggak. Tadi aku juga udah bicarakan sama Risa — Risa juga setuju kok. Itung-itung ini sebagai tanda maaf kami berdua, lagian kamu kan juga udah lihat semuanya."
Rico tercenung. Mungkin ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia seolah sedang bermimpi. Tapi aku segera menyadarkannya.
"Yuk kita ke kamar — kasihan Risa udah menunggu lama." Kutarik tangan Rico untuk ikut ke kamar Risa.
Begitu masuk kamar, nampaklah Risa sedang telentang di tempat tidur sambil diselimuti sedikit di bagian bawah perutnya. Rico melongo melihat pemandangan yang luar biasa — paha yang putih mulus, dada yang indah membusung; pemandangan yang mungkin selama ini hanya ia bayangkan. Namun sejauh ini ia cukup tahu diri karena Risa sudah ada yang punya. Tapi kini Rico melihat Risa betul-betul dalam posisi menantang, atas ajakanku sendiri yang merupakan pacarnya Risa.
"Kok diam, Ric? Kenapa?" Sapa Risa memecahkan kesunyian.
Kulihat sebenarnya Risa agak gugup dipandangi seperti itu. Apalagi kini di depannya ada dua lelaki yang selama ini dekat dengannya — yang satu sahabatnya, yang satu pacarnya. Atau mungkin ia juga membayangkan sebentar lagi kedua orang dekatnya itu akan menjamah tubuhnya dan memberikan kenikmatan kepadanya. Kulihat pancaran wajahnya sangat bergairah. Sedangkan aku sendiri juga tidak tahu kenapa, saat ini sama sekali tidak ada rasa cemburu sedikit pun — malah aku justru sangat terangsang menghadapi permainan yang akan segera kami mulai.
"Yuk, Ric, kita mulai pestanya." Kuajak Rico segera mendekat ke Risa.
Kulepas semua baju yang ada di tubuhku, juga kuminta hal yang sama dari Rico. Kini kami bertiga dalam keadaan sama-sama telanjang. Kulirik tongkat Rico yang sudah tegak — dari sisi ukuran memang tak jauh beda. Namun masing-masing punya kekhasan tersendiri: punyanya agak melengkung, sedangkan punyaku menjulang dengan kokohnya.
Aku memulai duluan dengan merundukkan kepalaku pada bagian bawah perut Risa. Hutannya yang lebat kuciumi dengan seksama.
"Ouh... ouh..." Risa merintih kenikmatan.
Rico pun tidak mau ketinggalan — ia mengambil bagian pada wajah Risa. Diciumi bibir Risa dengan lembutnya; bibir sensual yang selama ini hanya ada dalam bayangannya.
"Ouh... ogh... uh..." Risa tak tahan menahan sensasi serangan bawah atas. Tubuhnya menggeliat ke sana ke mari, pantatnya bergoyang bagai tampah yang sedang diputar-putar.
Sambil terus beradu bibir dengan Risa, tangan Rico bergerilya ke payudara Risa yang ranum.
"Ouh... ou..." Sensasi yang Risa rasakan makin menjadi-jadi.
"Hh... uh..." Desah nafas kami makin tak beraturan.
Sambil terus kujilati kacang basah Risa, kulihat Rico mengubah posisi. Tongkatnya yang melengkung itu ia sodorkan ke mulut Risa, dan Risa pun menyambutnya dengan antusias.
"Ouhh... ups..." Pelan dan pasti tongkat Rico keluar masuk dari mulut Risa. Terkadang Risa melahapnya hingga hampir mengenai telurnya.
"Ohh..." Kudengar erangan Rico menahan kenikmatan dari mulut yang selama ini ia bayangkan. Sementara aku sendiri juga mengubah posisi — tongkatku yang sudah tegak kucoba masukkan ke dalam tempat kacang basah Risa.
"Aauuww... ohh... auww." Risa berteriak tertahan menahan kenikmatan tongkatku, namun tertahan suaranya oleh tongkat Rico yang sedang maju mundur.
Kulihat wajah pacarku ini benar-benar cantik dan menggairahkan dengan dua buah tongkat yang sedang memasuki lubang atas dan bawahnya. Kugerakkan tongkatku maju mundur mengikuti gerakan Rico yang juga maju mundur dalam mulut Risa.
"Ohh... ua... uuaoww." Berbagai suara tertahan serta desahan nafas memecah kesunyian malam itu.
Setelah berlangsung selama 10 menit, Rico menoleh ke arahku. Meski ia tak bicara, aku mengerti kalau ia minta izin kepadaku untuk tukar posisi karena ia ingin merasakan nikmatnya kacang basah Risa. Kami pun bertukar tempat — tongkat Rico di bawah, sedangkan tongkatku di mulut Risa.
"Ouhh... ohh..." Tongkatku maju mundur dalam mulut Risa, kadang kepalanya ia jilat, kadang batangnya, bahkan kadang seluruhnya ia telan.
"Ouhh, enak sekali, Ris. Punya kamu masih seret... ohh." Terdengar Rico meracau merasakan nikmatnya gua Risa.
"Ris, kamu makin cantik sekali dengan wajah penuh permen gitu... ohh." Matanya melotot kugodain seperti itu, tapi malah makin nikmat.
"Ohh, Ris, dada kamu montok sekali... ohh."
"Ahh, kamu menggairahkan sekali, Ris."
"Auh... ohh." Sensasi yang kami rasakan makin menjadi.
Mata Risa berkejap-kejap — tanda ia sudah mau mencapai orgasme. Aku hapal betul tanda-tanda ini.
"Ohh... ohh..." Di saat yang sama aku pun juga merasakan hal serupa. Akhirnya kutumpahkan seluruh lahar panasku ke mulutnya. Crutt... crutt...
"Ups... ohh..."
Mulut Risa belepotan oleh cairan lahar panasku. Sebagian ia telan karena ia percaya akan membuatnya awet muda. Sedangkan Rico masih terus memompa, tapi kulihat ia pun hampir mengeluarkan lahar panasnya.
"Ohh... huu... ohhghh..."
Cret... cret... crret... Tumpahlah lahar panas Rico yang ia keluarkan di perut Risa — sengaja ia tidak mau mengeluarkan di dalam karena khawatir risiko kehamilan, meski sebenarnya Risa sudah meminum obat anti hamil.
Kami bertiga kemudian tergeletak lemas, namun puas setelah mencapai puncak bersama-sama. Karena Risa di rumah sendirian, maka semalam kami terus berpesta — kadang aku dengan Risa, kadang Rico dengan Risa, kadang juga bertiga. Tapi yang pasti aku tidak dengan Rico karena aku masih waras, bukan gay. Dan kulihat Risa sangat menyukai permainan ini.
Sejak saat itu hubunganku dengan Risa semakin mesra, tanpa ada rasa cemburu tapi semakin cinta. Dan rencananya kami juga akan segera menikah. Sedangkan petualangan kami terus berlanjut yang mungkin di lain waktu kuceritakan.
E N D