18px

Cerita Kita di Melbourne

Cerita Kita di Melbourne

Mungkin kalian tidak tahu apa yang terjadi dengan aku di sana. Memang, peristiwa itu membuat sejuta kenangan abadi yang sampai sekarang tak mungkin kulupakan.

Hubungan ini tentu saja tidak ada yang tahu, terutama pacar Karen waktu itu, dan Lisa yang sekarang ini sudah berada di Indonesia. Sampai pada akhirnya Karen memutuskan hubungannya dengan pacarnya. Alasan yang Karen pakai untuk putus adalah hilangnya perasaan cintanya terhadap dia. Aku sendiri pun tidak berani bertanya kepada Karen apakah sekarang ini hanya akulah yang ada di dalam hatinya.

Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku terhadap Karen waktu itu. Apakah aku suka padanya karena dia menarik hatiku secara seksual, atau lebih dari itu? Karen pun tidak pernah menanyakan kepadaku apakah aku sebenarnya telah menaruh hati kepada dirinya. Jadi perasaanku saat itu seakan-akan mengambang, penuh dengan ketidakpastian serta kekhawatiran.

Banyak yang harus dipertimbangkan dalam hubungan ini. Aku tidak berani melaju satu langkah lagi. Mengingat Karen adalah kakak dari Lisa, mantan pacarku yang dulu — dan bagaimana nanti apabila orang tua kami berdua mengetahui hubungan ini? Apalagi aku sendiri tidak tahu apakah aku telah mencintai Karen sebagai pacar atau karena seks saja. Mungkin aku terlalu egois untuk memikirkan hal-hal seperti ini karena aku tidak mempertimbangkan perasaan Karen.

Semua ini terjawab saat aku berada di sana untuk tugas selama 50 hari, dari awal bulan November 2006 sampai pertengahan Desember 2006. Perusahaanku mengirim satu tim, total 4 orang termasuk aku, ke Sydney untuk membantu tim lain mengembangkan sistem dari perusahaan ternama di Australia. Kantor pusat kami berada di Sydney, dan salah satu kantor cabang tempat aku bekerja tetap adalah di kota Melbourne. Paling tidak tiap 3 bulan sekali kami harus berkunjung ke Sydney untuk briefing atau branch meeting, dan itu pun hanya untuk beberapa jam saja, jadi aku tidak perlu sampai harus bermalam di Sydney. Tapi kali ini berbeda, karena aku harus tinggal paling tidak selama 50 hari di Sydney.

Karen ternyata tidak menyambut gembira kabar ini. Tapi dia pun tidak mempunyai pilihan lain untuk menahan aku pergi, karena ini proyek yang tidak bisa diremehkan.

Aku berangkat hari Senin pagi bersama teman-teman kerja yang lain. Kami berkumpul di kantor cabang Melbourne lalu menyewa taksi melaju ke Melbourne domestic airport. Sesampai di Sydney kami disambut oleh utusan dari kantor pusat dan diantar ke hotel. Hotel kami berada satu blok dari kantor pusat dan berada di lokasi yang amat strategis — akses mudah ke pertokoan dan restoran, jadi urusan makan dan shopping tidak perlu khawatir. Semua akomodasi ditanggung oleh kantor pusat termasuk uang jajan pribadi.

Pada hari pertama di Sydney, malam harinya aku menelepon Karen menanyakan kabarnya. Kami banyak berbincang-bincang sambil tertawa canda. Banyak kali Karen bertanya kapan aku pulang dari Sydney. Aku sendiri tidak tahu kapan bisa selesai proyek ini — yang pasti 50 hari itu adalah perkiraan perusahaan kami. Tapi aku mengatakan pada Karen kalau aku akan bekerja keras agar proyek ini bisa selesai lebih cepat 2 atau 3 hari dari perkiraan.

Aku mengusulkan kepada Karen kalau aku bisa terbang ke Melbourne tiap Jumat malam dan kembali ke Sydney hari Senin pagi. Karena perjalanan Melbourne-Sydney dengan pesawat terbang hanya sekitar 1 jam saja. Tapi usulan ini ditolak Karen karena tidak ingin membuat aku lelah atau sakit. Juga kata Karen, baik untuk kami berdua untuk saling membiasakan diri jauh dari masing-masing.

Minggu-minggu pertama, kedua, dan ketiga, aku bisa mengendalikan perasaanku. Karena sibuknya pekerjaan, aku bisa melupakan kerinduanku kepada Karen.

Sampai pada akhirnya, sebulan lamanya, aku sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan Karen. Aku masih ingat malam itu, hari Kamis malam di akhir bulan November 2006. Aku teramat sangat rindu terhadap Karen. Sampai akhirnya aku menelepon dirinya dari kamar hotelku.

"Hallo, Karen. Gimana kabarnya? Sudah dinner belum?" sapaku hangat.

Terdengar balasan suara lembut dari sana. "Hallo, Kak Ditto. Karen tadi beli take away saja, males masak. Karena masak buat Karen doang is such a waste," jawabnya.

"Karen abis ini mau ngapain?" tanyaku sekali lagi.

"Mungkin nonton TV atau browsing internet. Apalagi dong kalau selain dua itu?" canda Karen sambil tertawa ringan. "Emang Kak Ditto pengen Karen ngapain? Kak Ditto nggak ada di sini jadi Karen menganggur," goda Karen.

"Anu, emang Karen lagi pengen?" tanyaku lagi.

"Yeee, Kak Ditto ge-er nih. Selama Kak Ditto di sini, Karen kan nggak usah masak, potong buah buat Kak Ditto," jawab Karen bercanda.

"Iya, benar juga sih. Emang Karen menikmati hari-hari menganggur ini?" tanyaku penasaran.

"Tentu saja tidak. Karen pengen Kak Ditto di sini. Karen sepi banget di sini. Cepat pulang dong. Masa nggak kangen sama Karen?" pintanya manja.

"Tentu saja kangen, tiap hari aku rindu sama Karen loh," jawabku.

"Emang Kak Ditto rindu apanya dari Karen? Kak Ditto anggap Karen sebagai siapa?" tanyanya sedikit serius.

Bak kesambar petir, aku tahu suatu hari Karen pasti menanyakan hal ini. Dan aku terdiam beberapa saat, tidak mengerti harus menjawab apa. Suasana hening sesaat, sampai pada akhirnya Karen bersuara.

"Sebenarnya Kak Ditto menganggap Karen sebagai apa? Karen kadang-kadang tidak tahu apa yang sedang Kak Ditto pikirkan atau rasakan. Karen takut bertanya-tanya mengenai hal ini kepada Kak Ditto. Tapi perlu Kak Ditto mengerti bahwa bagi Karen, Kak Ditto adalah orang paling penting di hati Karen," sambungnya. Aku pun masih hening.

Aku seperti mencaci maki diriku. Apa sebenarnya mau-ku ini? Wanita lembut, baik hati, dan amat menyayangiku sedang memberiku sinyal, dan aku tidak tahu harus bertindak bagaimana.

"Kak Ditto?" tanyanya lagi.

"Iya, Karen. Aku masih di sini," jawabku.

"Apakah lebih baik Kak Ditto tidak menelepon Karen sampai nanti Kak Ditto kembali dari Sydney?" pintanya serius.

"Lho, kok begitu?" tanyaku heran.

"Karen ingin Kak Ditto berpikir dengan perasaan Kak Ditto, apakah sebenarnya arti Karen bagi Kak Ditto. Karena Karen ingin menjadi orang yang paling berarti buat Kak Ditto, melebihi orang lain. Apa pun alasannya," dengan nada serius.

Aku masih belum bisa menjawab pertanyaan Karen karena aku sendiri pun masih belum menemukan jawabannya malam itu. Akhirnya percakapan kami ditutup pada malam itu.

Setelah percakapan malam itu, aku berusaha untuk tidak menghubungi Karen selama sisa waktu di Sydney. Ingin gila rasanya — aku benar-benar rindu padanya. Tapi aku berusaha keras untuk tidak menghubunginya agar aku juga bisa berpikir dengan leluasa.

Karen, Karen, Karen, dan Karen. Begitulah isi otakku saat itu. Tiap kali makan, tiap kali mandi, tiap kali shopping, selalu saja wajah Karen yang muncul di otakku. Aku tidak menyangka betapa pentingnya Karen bagiku.

Sampai pada malam terakhir di Sydney, perusahaan kami mentraktir kami semua makan malam sebagai ucapan terima kasih kepada tim Melbourne yang telah membantu pengembangan proyek tersebut. Meskipun sistem itu belum 100% selesai, tapi kami yakin tim dari kantor pusat bisa menyelesaikannya dengan baik. Karena kantor cabang kami yang di Melbourne juga telah memohon kantor pusat di Sydney untuk, istilahnya, mengembalikan asset mereka — kami berempat — secepat mungkin.

Sekembalinya di hotel, aku mengirimkan SMS kepada Karen.

"Hallo Karen. Besok aku kembali ke Melbourne. Aku pengen ngomong sesuatu buat Karen. Karen sabar yah. See u 2morrow."

Tak lama kemudian Karen merespons SMS-ku.

"Hallo juga Kak Ditto. Karen dah ga sabar sampai Kak Ditto pulang. Ati-ati di jalan ya."

Aku SMS Karen lagi.

"Let's celebrate my arrival. Tolong booking restaurant di Sails on the Bay. Check di internet untuk nomor telp mereka."

"No problem. Tapi kok pilih restaurant mahal sih?" jawabnya di SMS.

"Kalau sekali-kali nggak apa-apa. Pengen romantic dinner sama Karen," jawabku.

"Ok deh. Can't wait to see you," jawabnya.

Esok harinya, setelah berpisah di kantor pusat, kami berempat dengan segera meninggalkan Sydney menuju Sydney Airport. Selama perjalanan pulang, aku terus berpikir tentang kata-kata apa yang ingin aku ucapkan kepada Karen. Perlu diketahui, aku telah memutuskan untuk menjadikannya pacarku. Tapi aku ingin menyusun kata-kata proklamasi yang baik dan benar. Maklum, I am not very good at this.

Sesampai di Melbourne, kami berempat kembali menyewa taksi menuju kantor cabang di Melbourne. Kantor cabang Melbourne hanya memiliki 2 mobil kantor dan selalu saja kedua mobil tersebut tidak pernah sepi. Hari itu adalah hari Jumat, jadi sesampai di kantor cabang Melbourne kami banyak briefing tentang project development kami di Sydney dengan head manager kami dengan suasana santai. Jam masih menunjukkan pukul 3 sore — masih ada 2,5 jam lagi sampai pulang. Tapi head manager kami memperbolehkan kami untuk pulang lebih awal.

Tawaran langka yang tidak bakalan kami lewatkan. Aku putuskan untuk jalan-jalan dulu di Melbourne city sambil window shopping, sekaligus looking for something nice buat Karen. Akhirnya aku berhenti di depan toko jewellery dan aku melihat kalung yang sungguh indah. Tanpa berpikir panjang aku masuk toko tersebut dan membeli kalung itu. Aku yakin Karen akan semakin cantik mengenakan kalung tersebut.

Jam telah menunjukkan pukul 5. Aku buruan saja pulang ke apartemenku. Booking time buat dinner kami jam 7 malam. Karena bulan itu adalah musim panas, jam 7 malam masih terlihat terang di kota Melbourne.

Sesampai di apartemen, semua tampak terlihat sedikit berbeda. Semuanya serba rapi, teratur, dan bersih. Aku jadi malu pada diri sendiri — berarti aku orang yang paling berantakan di apartemen ini. Sebulan lebih tanpa aku di sini, semua jadi rapi kembali. Ini pasti hasil kerja Karen selama aku di Sydney. Dia sangat rapi dan organised sekali kepribadiannya.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menuju kamar mandi dan segera membasahi diri. Selama di dalam kamar mandi, aku terus berpikir tentang apa yang akan aku katakan kepada Karen.

"Karen, I love you. Be my girlfriend," pikirku singkat. Jangan deh, terlalu singkat dan urakan kesannya.

"Karen, I can't live without you," pikirku lagi. Gila, terlalu muluk lagi.

"Sudah lah, let it flow like wind. You can do it," jawabku dengan setengah percaya diri.

Setelah selesai mandi, aku hanya keluar dari kamar mandi dengan bagian tubuh bawah ditutup oleh handuk. Maklum, musim panas, aku malas sekali berpakaian lengkap sehabis mandi.

Aku melihat tas kerja Karen di atas sofa. Jadi aku tebak Karen sudah pulang dari kantor.

"Karen, where are youuuu?" panggilku manja.

"Kak Dittooo, mana oleh-olehnya?" jawabnya manja pula sambil menghampiriku dan memelukku erat.

"Ntar dulu sewaktu dinner nanti," jawabku sambil tersenyum.

"Sip sip. Karen mau mandi dulu. Kak Ditto siap-siap aja dulu. Setelah itu panasin mobil ya kalau sempat," pinta Karen.

"Ok," jawabku singkat.

Setelah diriku siap, aku dengan segera mengantongi kalung yang aku beli, terbungkus kotak kecil dengan hiasan yang mungil. Aku duduk di sofa sambil menonton siaran TV yang kebetulan menayangkan film seri The Simpsons. Jam masih menunjukkan pukul 6, jadi aku menikmati waktu santai di sofa.

Tak lama kemudian Karen keluar dari kamar mandi dan segera menuju kamarnya. Kudengar musik dan suara bising hair dryer dari dalam kamarnya. Bisa aku menebak kalau Karen sedang sibuk berdandan di dalam kamarnya.

Setengah jam kemudian Karen akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Tampak dia berdiri di samping sofa tempat aku yang sedang duduk dengan kaki menjulur dengan nikmatnya.

"Kak Ditto, Karen dah siap berangkat," sapanya ringan.

Oh my goodness, pikirku dalam hati. Karen malam itu mengenakan gaun warna biru muda. Rambut panjangnya dibiarkan terlepas tanpa mengenakan jepitan atau ikatan apa pun. Bau parfum yang dikenakannya sungguh harum dan cocok dengan gaun yang dikenakannya pula. Ditambah dengan bros warna pink berbentuk hati, makin membuatnya anggun malam itu. Apa pun yang dikenakannya malam itu tampak simple atau sederhana, tapi apabila digabung semuanya di tubuh Karen, membuatnya luar biasa indah.

"You look beautiful," kataku tanpa berpikir panjang.

"Thanks," jawab Karen sambil menunjuk dan mencium pipiku. "We will be late. Yuk, kita berangkat sekarang," pinta Karen.

Kami sampai ke tempat tujuan pukul 7 lewat 10 menit. Restoran pilihanku memang tidak salah. Selain interior design-nya yang menarik, lokasinya pun tidak kalah menarik. Lokasi restoran tersebut tepat di pinggir pantai. Kami telah memesan meja di dalam dengan ocean view. Bagian luar yang menghadap pantai dilapisi oleh dinding kaca yang besar, sehingga tamu restoran dapat menikmati pemandangan laut sambil menyantap hidangan mereka.

Setelah memesan entrée, main course, dan dessert kepada waitress yang melayani kami, kami pun ngobrol santai sambil menunggu pesanan keluar. Kebanyakan aku yang mendominasi percakapan karena aku ingin bercerita tentang pengalaman kerjaku selama di Sydney. Karen pun hanya senyum-senyum saja mendengar ceritaku.

Pinot Noir wine pilihanku dan Cabernet Sauvignon wine pilihan Karen mewarnai suasana malam yang indah itu. Tidak ada yang perlu kami khawatirkan karena besok adalah hari Sabtu dan malam ini adalah malam yang panjang untuk kami berdua.

Jam telah menunjukkan pukul 9 malam dan warm sticky date pudding dessert-ku telah aku santap habis. Tampak Karen yang masih menikmati lemon cheesecake-nya. Kini saatnya aku harus mengatakannya kepada Karen apa yang ingin aku katakan padanya.

"Karen, thank you for coming to the dinner tonight," kataku sambil memulai percakapan baru.

"Ah, Kak Ditto, jangan formal gitu dong please," jawab Karen sambil tersenyum ramah.

"Karen, I have a confession to make. But before that, I'd like to give you something," jawabku secepatnya sambil merogoh-rogoh kantung celanaku. Kuletakkan kotak kalung itu dan kudorong pelan-pelan menuju pinggir piring dessert Karen. "What is it?" tanya Karen dengan pipinya yang telah berubah menjadi kemerahan.

"Please open it. I know you're gonna like it," jawabku singkat.

Setelah kotak itu dibuka olehnya, tampak mukanya menjadi berseri-seri bercampur malu-malu. Tanpa berpikir panjang, Karen berdiri dari tempat duduknya dan dengan segera memelukku sambil mencium pipi kiriku.

"Thank you, Kak Ditto. It's cute. Karen suka banget," jawab Karen.

Kubantu dirinya memasang kalung tersebut, dan benar juga — she looks even prettier dengan mengenakan kalung itu.

"Well, Karen. Masih ada lagi yang pengen aku kasih buat Karen. Tapi ini bukan barang," kataku lagi.

Kali ini tampak wajah Karen sedikit berubah, menjadi bertanya-tanya dan ingin tahu.

"Karen, I hope you know that I like you a lot. 'Like' di sini buat dalam arti sekedar suka. Tapi 'like' di sini berarti lebih daripada suka," kataku sambil grogi. Karen masih diam, dan kali ini sorot matanya menatap mataku tajam. "I know this is going to be hard for both of us, but if we both work together, aku yakin we can make it. Mungkin ini saatnya kita harus mengakhiri hubungan ini dan…" kataku sambil menggoda.

Tak karuan saja Karen terkejut dan shocked. Sorot matanya makin tajam menusuk. Kini cepat-cepat aku lanjutkan kata-kataku, "…dan mari kita memulai hubungan kita yang baru, di mana itu lebih memiliki masa depan untuk kita berdua. Karen, would you like to be my girlfriend and to love me as your boyfriend?" pintaku kepadanya.

Mendengar pertanyaan ini, sorot mata Karen menjadi sayu dan Karen hanya bisa menunduk sambil menatap lemon cheesecake dessert-nya yang tinggal separuh. Karen diam saja. Aku menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

"Sorry kalau pertanyaan ini membuat Karen shocked. But I hope I can hear a Yes or No answer dari Karen. Kalau Karen butuh waktu untuk menjawabnya, aku nggak keberatan," sambungku lagi.

Karen masih diam saja, tapi kali ini Karen melanjutkan lagi menyantap sisa lemon cheesecake-nya tanpa sepatah kata pun. Aku makin bingung dibuatnya.

Setelah habis menyantap dessert-nya, Karen meneguk sisa wine yang masih tersisa sedikit dan kembali menatap wajahku. Kami saling memandang, dan kemudian Karen tersenyum simpul.

"Hari ini Karen benar-benar dikasih dua hadiah yang indah dari Kak Ditto. Apalagi hadiah yang kedua," kata Karen.

"Jadi, it's a Yes or it's a No?" tanyaku.

Karen sedikit maju dan wajahnya mendekat ke wajahku sambil tersenyum manja dan berkata, "It's a big YES."

Kami berdua saling tersenyum dan kucium kedua tangannya.

Hari proklamasi-ku memang sangat tradisional, tapi sangat berkesan bagi kami. Sejak malam itu, hubungan kami menjadi official, istilahnya.

Kami meninggalkan restoran pukul 10 malam dan kami tidak langsung pulang ke rumah. Tapi kami menyempatkan diri jalan-jalan di pinggir pantai malam itu. Sambil bergandengan tangan, kami bercakap-cakap mengenai rencana hubungan baru kami ini dan bagaimana nanti kita memberitahukan orang tua kami tentang hubungan ini. Mengingat Karen adalah kakak kandung dari Lisa, mantan pacarku beberapa tahun yang lalu. Tidak jarang aku mencium bibir manisnya ketika kami berjalan sambil bergandengan tangan.

Jam menunjukkan hampir jam 12 tengah malam. Kami pikir sudah waktunya untuk pulang. Selama perjalanan pulang, dan sesampai di depan pintu masuk apartemen, tangan Karen masih tidak ingin terlepas dari genggaman tanganku.

Setelah bersiap-siap untuk tidur, Karen tidak mau lagi tidur dengan kamar terpisah dan memutuskan untuk tidur di kamarku saja sejak malam itu.

Aku putar musik jazz Diana Krall dengan lampu setengah redup. Di atas tempat tidur, kami saling berciuman mesra dan lembut. Lidah kami saling bertemu, seakan-akan saling mengelus-elus satu sama lain.

Malam itu Karen yang lebih dominan di atas ranjang.

"Kak Ditto, I will make you the happiest man tonight," kata Karen menantang.

"I can't wait," jawabku dengan semangat.

Karen mengambil posisi di atasku dan duduk di atas selangkanganku sambil menunduk dan mencium bibirku. Tangan kanannya masuk ke dalam baju piyamaku sambil mengelus-elus lembut dadaku. Jantungku berdekup kencang tanda bahwa aku telah mulai terangsang oleh rangsangan Karen. Kali ini aku membiarkan Karen memegang kendali percintaan malam itu.

Karen terus berusaha melepas semua piyamaku dan ingin secepatnya membuatku telanjang. Setelah membuatku telanjang tanpa busana apa pun yang menempel di tubuhku, Karen tersenyum manja. Dengan cepatnya, Karen kembali menciumi bibirku, dan kali ini tangan kanannya mengelus-elus lembut batang penisku yang telah berdiri sejak tadi. Karen benar-benar mengerti how to make a guy seperti aku dibuat seperti cacing kepanasan. Aku paling suka ketika Karen menjilat lembut puting susuku karena itu adalah daerah paling sensitif buatku. Dan kali ini Karen tidak lupa untuk menjelajahi bagian ini.

"Karen… ahhh…" hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Karen seperti tidak menghiraukan apa pun yang keluar dari mulutku karena memang bukan kata-kata yang perlu dihiraukan — hanya suara erangan nikmat. Semakin keras eranganku, semakin bersemangat Karen menjelajahi tubuhku. Kali ini bibir Karen telah sampai ke sana. Seakan-akan mengerti apa yang aku inginkan tanpa dikomando, mulut Karen mengulum habis batang penisku. Tangan kanannya mengelus-elus lembut kedua pelirku sambil tangan kirinya mengocok, dan mulutnya mengulum batang penisku. Seketika saja batang penisku terasa amat basah oleh air liurnya, dan eranganku semakin menjadi-jadi. Karen makin mempercepat gerakan mulut dan tangan kirinya. Aku tidak ingat berapa lama Karen telah memberiku blowjob dan handjob malam itu. Yang pasti, kuingat hanya satu — gila enaknya.

"Ahhh, Karen… enak bangettt ahhh…" aku hanya bisa berucap begitu saja.

Aku mencoba untuk berkonsentrasi agar aku tidak cepat datang. Tapi kelihatannya aku sudah tidak kuat lagi. Pengen keluar rasanya semua isi di dalam batang penisku. Ini baru pertama kali aku di-blowjob oleh Karen, dan aku sudah tidak mampu berkonsentrasi lagi menahan agar tidak cepat datang.

"Karen, aku mau datang! Mau datang niihhh! Stop stop please!" aku benar-benar memohon padanya.

Tapi seakan-akan tidak mendengar permintaanku, Karen tetap saja melanjutkan kulumannya kepada batang penisku. Kali ini lebih cepat lagi, seakan-akan dia tahu kalau sebentar lagi pertahananku bakalan bobol.

Benar saja, tidak lama kemudian bobol juga pertahananku. Batang penisku tidak mampu lagi menahan — keluarlah semua air mani di dalamnya dan menyembur deras di dalam mulut Karen.

"Akhhh… akhhh… aku dapettt nihhh akhhh…" aku berteriak kecil.

Kuluman Karen berhenti menjadi sedotan yang kuat, seakan-akan ingin menyedot semua air mani di dalam batang penisku. Karen tampak tidak jijik oleh semburan air maniku — bahkan tanpa rasa jijik untuk menelan semuanya. Semua otot-otot sendiku dibikin lemas oleh Karen. Masturbasi pertama dari Karen yang berhasil membuatku bobol. Tidak heran bila Karen mengatakan bahwa malam itu akan membuatku the happiest man alive.

Setelah itu, tak henti-hentinya aku mengatakan padanya bahwa dia sungguh hebat melayani malam itu. Sampai akhirnya aku ketiduran akibat kecapekan. Yang aku ingat sebelum ketiduran, Karen terus mengelus-elus lembut rambutku dan sesekali menciumnya. Aku bisa merasakan betapa sayangnya dia kepadaku.

Tidak tahu sudah berapa lama aku ketiduran, tiba-tiba aku bangun karena harus buang air kecil. Batang penisku masih terasa basah dan lembab karena air liur Karen. Setelah membilas batang penisku, aku kembali ke kamarku. Matahari sudah menampakkan diri, tetapi jam masih menunjukkan pukul 6 pagi di hari Sabtu. Syukurlah kami tidak harus bekerja pada hari Sabtu. Jadi aku kembali ke tempat tidurku lagi.

Tampak Karen yang masih tertidur pulas di tempat tidurku sambil menutupi perutnya dengan selimut tipis dan mengenakan daster tidur yang tipis. Maklum, meskipun musim panas, tapi karena sudah terbiasa memakai selimut — tidur tanpa selimut membuatnya merasa beda atau aneh.

Melihat kecantikan wajah Karen dan keindahan serta kemulusan tubuhnya membuatku kembali bersemangat. Mengingat semalam aku dibuat tidak berkutik oleh Karen, membuatku ingin membuatnya tidak berkutik pagi ini. Aku juga tahu betul bahwa Karen sangat suka seks di pagi hari. Dulu-dulu dia sering menggodaku karena setiap pagi, tanpa ada rangsangan apa pun, batang penisku bangun dan mengeras dengan sendiri. Aku bilang padanya bahwa itu sangatlah normal dan setiap lelaki normal pasti mengalaminya. Tapi itu justru yang membuat Karen makin suka melakukan di pagi hari. Dia pernah mengatakan padaku bahwa di pagi hari, sewaktu baru bangun tidur, batang penisku bisa terasa lebih keras daripada di saat-saat yang lain. Aku tidak tahu apa ini benar atau hanya di pikirannya saja. Tapi itu sama sekali tidak mengganggu pikiranku karena selama Karen senang menikmatinya, itu sudah lebih dari cukup buatku.

Kali ini aku yang memulai aksinya. Pertama-tama aku kecup keningnya dan kemudian mengelus-elus lembut rambutnya yang hitam. Karen kemudian melihatku dengan kedua mata yang masih terkantuk-kantuk sambil tersenyum manis, dan akhirnya memejamkan matanya kembali. Tapi aku masih belum ingin berhenti sampai di situ. Aku mencoba mengubah posisi tidur Karen menjadi terlentang dari posisi tidur sebelumnya yang menyamping, dan berhasil. Aku tarik selimut tipisnya dan kulempar ke samping tempat tidurku. Terlihat paha mulus dan putih Karen membuatku menelan ludah.

Aku mengambil posisi di sebelah kanan Karen dan berbaring menyampingi tubuhnya yang sedang terlentang. Tangan kiriku menopang kepala dan leherku, sementara tangan kananku mengelus-elus rambutnya. Karen tampak menikmati setiap sentuhan yang aku berikan padanya.

Kemudian tangan kananku turun menuju dadanya yang masih tertutup kain daster tidurnya. Karena kain daster itu tipis sekali, aku bisa merasakan tonjolan puting susu Karen dengan jelas di telapak tanganku. Aku mendekatkan wajahku untuk berusaha mencium bibir manisnya. Dengan masih setengah mengantuk, Karen membalas serangan ciumanku tapi tanpa tenaga, alias pasrah. Di atas kain dasternya, aku memainkan tangan kananku memainkan puting susunya — kadang-kadang aku cubit lembut, kadang-kadang aku elus-elus. Terdengar helaan napas Karen yang berubah menjadi lebih panjang. Kali ini Karen mulai terangsang.

Mengetahui hal itu, aku semakin bersemangat menjelajahi tubuhnya. Tangan kiriku sekarang tidak lagi menopang kepala dan leherku, tetapi ikut berpetualang dengan tangan kananku. Kutarik lepas dasternya ke bawah agar tidak membuat Karen merasa tidak nyaman karena harus berdiri dulu tubuhnya untuk melepas dasternya.

Karena Karen tidak mengenakan BH dan celana dalam, dalam sekali tarik, terlanjanglah tubuh Karen tanpa sehelai benang apa pun yang menempel di tubuhnya. Karen masih berpura-pura tidur. Aku tahu jelas dan pasti bahwa Karen sudah sejak tadi telah terbangun dan mengeluarkan helaan napas terangsangnya.

Kudekatkan wajahku di puting susunya yang sebelah kanan dan menjilatnya dengan lembut. Puting susu yang berwarna cokelat muda dan bersih itu membuatku makin terangsang dan ingin mengulum terus-menerus. Secara bergantian, puting susunya aku jilat, kulum, dan kadang kala aku sedot sedikit keras. Napas Karen kali ini makin memburu tidak karuan. Bunyi erangannya pun kadang kala sempat keluar dari mulutnya.

"Ahhh, Kak Ditto…" kalimat terputus-putus itulah yang sering terucap dari mulut Karen.

Setelah puas berkelana di kedua puting susu Karen, kali ini aku menuju ke tempat yang paling penting — tujuan paling akhir untuk foreplay ini sebelum menuju ke main menu. Bau khas memek Karen telah menjadi favoriteku dalam bercinta dengannya. Aku mengakui bahwa bau memek Karen tidak membuatku enggan untuk menjilatnya. Dari semua wanita sebelum Lisa, termasuk Lisa pun, memiliki bau yang membuatku enggan. Dengan Karen berbeda sekali — baunya pun tidak anyir, wangi pun tidak, tapi memiliki magnet yang membuatku menyukainya.

Bulu pubis Karen halus dan tidak begitu lebat sehingga memudahkan aku untuk menjilatinya serta memainkan memeknya dengan lidahku. Seperti biasanya, seperti terkena setrum listrik tegangan tinggi, tubuh Karen mulai tersendak ketika lidahku berkelana di daerah klitorisnya.

"Ahhh, Kak Ditto sayang, enak bangettt ahhh!" seru Karen makin menjadi-jadi. Napasnya pun makin memburu kencang. Kadang-kadang dia menjambak rambutku.

"Kak Dittooo, Karen hampir dapettt ahhh!" tambah Karen sekali lagi.

Kedua selangkangan Karen kubuka lebih lebar lagi agar bibir vaginanya lebih merekah. Kali ini aku jilati bagian labia minoranya dan berusaha mencari G spot-nya. Hentakan tubuh Karen makin mengencang dan napasnya pun seperti seseorang yang telah berlari sejauh 10 kilometer. Kali ini memeknya terasa sedikit asin, dan bisa dipastikan vagina Karen telah mengeluarkan cairan — menandakan sebentar lagi the big one is coming very close.

Mengetahui bahwa sebentar lagi Karen akan orgasme, aku mempercepat tarian lidahku di sana.

"Kak Dittooo, Karen dah nggak kuuaattt lagiiiii, dah di ujung nihhh pleaseeee Kak Ditto…" pinta Karen.

Tak lama kemudian terdengar jeritan Karen mengisi seluruh kamar tidurku.

"Ahhhh ahhh ahhh!" jerit Karen kencang, dan dengan segera dia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri agar suara pekikannya tidak sampai terdengar keras.

Aku tetap menjilati memeknya sampai Karen menyuruhku untuk berhenti. Setelah itu, tanpa perlu diperintah, aku melucuti semua pakaian tidur yang aku kenakan. Tanpa ada usaha dari Karen, batang penisku telah mengeras dan siap untuk berkelana di dalam memek Karen. Seperti biasa sejak berhubungan seks dengan Karen, aku tidak perlu menggunakan kondom karena Karen pun tidak menyukai itu. Demikianlah pula denganku.

Aku tidak mengalami kesulitan memasuki memek Karen karena sudah teramat basah dari tadi. Kudorong pelan-pelan batang penisku dan tanpa ada kesulitan, terbenamlah semua batang penisku di dalam memeknya.

"Ahhh, Kak Ditto, tititnya keras bangettt," kata Karen.

Seakan-akan tidak mendengarkan Karen, aku memaju-mundurkan pinggulku perlahan-lahan, memberikan sensasi erotis ke dalam memek Karen. Kadang-kadang dorongan itu aku hentikan dan memeluk Karen sambil mencium bibirnya penuh dengan napsu. Lidah kami saling berperang di dalam bibir kami yang telah menyatu. Setelah puas berciuman, aku kembali mendorong maju dan mundur pinggulku agar batang penisku seakan-akan menusuk-nusuk lubang memek Karen.

"Ahhh, Karen! Memek Karen bener-bener hebat, enak bangettt! Bikin geli banget. Suka nggak dengan titit ini?" kataku yang sudah ngaco.

"Sukaaa bangettt, Kak Ditto. Janji ya, sayangin Karen terus, dan Karen akan selalu membuat Kak Ditto puas jiwa dan raga," pinta Karen dengan nada yang terputus-putus.

"Janji, janji akan sayang Karen terus," jawabku dengan napas yang terburu.

Semakin lama, hentakan dan hujaman batang penisku semakin kupercepat. Pagi itu kita tidak bercinta dengan gaya yang bermacam-macam — cukup gaya misionaris tradisional, man on top style. Seperti tidak pernah kering, memek Karen selalu saja basah, memberi sensasi luar biasa dalam bercinta ini. Akibat dari percepatan hujaman batang penisku, tubuh Karen mengalami reaksi yang sungguh dahsyat. Tanpa ada peringatan apa-apa, tiba-tiba Karen memelukku sambil berteriak panjang.

"Ahhhhhh, Kak Ditto jahat! Karen dapet lagiii! Ampun, Kak Ditto! Karen minta ampunnn!" kata Karen sambil memelukku erat-erat dengan tubuhnya yang mulai menegang.

Aku biarkan Karen memelukku dan menghentikan goyangan pinggulku agar memberikan udara buat Karen untuk mengatur napasnya kembali.

Setelah beberapa menit kami berpelukan, aku berniat untuk menyelesaikan permainan seks ini karena sudah waktunya.

"Karen, aku bentar lagi mau datang. Kalau bisa, sama-sama ya datangnya," pintaku.

Karen hanya mengangguk menandakan bahwa dia setuju, kemudian mencium bibirku lagi.

Kembali aku mengambil posisi favoriteku untuk ejakulasi dan memulai memainkan pinggulku sekali lagi. Aku perlahan-lahan menggoyangkan pinggulku dengan irama yang pasti. Aku berusaha menghujamkan batang penisku dalam-dalam agar memberikan sensasi seksual lagi kepada Karen. Karen pun tidak tinggal diam — dia tahu betul bagaimana membuatku ejakulasi dengan cepat disaat kami telah bersenggama. Kedua telapak Karen menempel di dadaku dan kedua jari telunjuknya mulai memainkan puting susuku, daerah yang paling sensitif untukku.

"Ahhh, Karen, terus! Karen, aku bentar lagi mau datang!" kataku.

Karen pun mulai terlihat kembali bergairah. Aku pun mempercepat permainan ini. Aku tahu kalau sebentar lagi tidak akan sanggup lagi menahan bendungan air maniku yang sejak tadi meronta-ronta ingin keluar.

"Kak Ditto, kok keras lagi tititnya?" goda Karen dengan napas terburu-buru.

"Emang dari tadi nggak keras yah?" tanyaku heran, tanpa menghentikan goyangan pinggulku.

"Nggak kok, cuman kali ini Karen tahu Kak Ditto sebentar lagi mau datang. Datang bareng yuk!" pinta Karen sambil tersenyum.

Aku buat lebih cepat lagi goyangan pinggulku, dan batang penisku semakin meronta-ronta ingin memuntahkan air maninya. Aku hentakkan dan hujamkan batang penisku makin dalam, dan Karen pun sudah dari tadi mengigau tak karuan. Memek Karen semakin basah dan gesekan batang penisku di dalam memeknya seakan-akan mengeluarkan bunyi memekak. Aku sudah tidak tahan lagi — kali ini benar-benar harus keluar.

Tubuhku mengejang hebat. Melihat perubahan tubuhku itu, seperti memberikan aba-aba kepada Karen. Kedua kaki Karen menjepit erat pinggulku seolah-olah ingin agar semua batang penisku tertanam penuh ke dalam memeknya.

"Ahhh, Karen, aku dah mau dapettt! Dah di ujung! Karennnn!" kataku yang sudah kacau.

"Kak Ditto, Karen juga mau datang lagiii! I love you, Kak Ditto!" jawab Karen.

"Karennnn! Ahhhhhhh!" ingauanku sudah tak karuan.

Batang penisku mengeras sesaat dan kemudian disusul dengan semburan air maniku di dalam liang vagina Karen. Kedua kaki Karen terus menekan pinggulku seolah-olah haus dengan semburan hangat air maniku di dalam liang vaginanya.

"Kak Ditto, hangattt loh!" kata si Karen.

"Enak nggak?" tanyaku.

"Always the best, sayanggg," jawab si Karen manja.

Posisi kami masih berpelukan. Karen mulai mengendurkan kedua kakinya dari pinggulku. Batang penisku tertanam di dalam memek Karen, membiarkannya perlahan-lahan melemas di dalam. Oh, betapa senangnya aku melakukan hubungan seks dengan Karen.

"I love you, Karen. I will always love you. Sorry if I didn't say it in the first place," kataku.

"It's ok, Kak Ditto. I love you too, and I know that I love you. Karena selama ini Karen selalu melakukannya karena Karen cinta sama Kak Ditto. Meskipun Karen dulu-dulu kadang-kadang sedih memikirkan apakah Kak Ditto cinta atau hanya ingin ini sex doang dari Karen," kata Karen dengan nada sedikit sedih.

"I am sorry, Karen. Sekarang aku telah mengerti bahwa sejak dari dulu aku sudah sayang sama Karen. Sorry for making you worried and confused," pintaku.

"Nggak perlu sorry, Kak Ditto. Sekarang semua sudah jelas, jadi Karen tidak akan worried lagi. Apa pun yang Kak Ditto mau dari Karen, Karen pasti beri semua kepada Kak Ditto," jawab Karen.

Mendengar ucapan Karen, seakan-akan seperti udara sejuk bagiku. Akhirnya kucium bibir manisnya, dan perlahan-lahan kucabut batang penisku dari liang memeknya. Cepat-cepat aku tutup dengan tisu agar air maniku tidak tumpah keluar membasahi tempat tidurku. Karen pun cepat-cepat beranjak dari tempat tidur dan dengan segera ke kamar mandi untuk mencuci dan membersihkan diri.

Jam telah menunjukkan jam 7 pagi lewat. Tapi badan kami sudah lelah sekali — telah 1 jam lebih kita berpetualang dalam cinta. Pagi itu kami memutuskan untuk kembali tidur, dan benar saja, kami tertidur sampai jam 12 siang. Malamnya kami mengulangi lagi petualangan cinta dan seks kami yang tidak kalah menariknya, dan begitulah hari-hari berikutnya.

Disaat aku menulis cerita ini, hubungan kami telah berjalan lebih dari 8 bulan, akan tetapi belum ada pihak dari keluarga kami yang mengetahui hubungan ini selain teman-teman dekat kami. Tapi aku merasa bahwa salah satu dari keluarga kami telah mengendus hubungan kita, hanya saja dia tidak berani mengatakannya langsung. Kami hanya tidak tahu bagaimana memulai untuk mengatakan kepada mereka. Memang ada pepatah yang mengatakan, "The first step is the most difficult task." And we believe it's true. Kami telah berencana untuk menikah tahun depan apabila semuanya lancar. Kalau dipikir secara logika, kami berdua bukan anak kecil lagi — kita berdua sudah berumur lewat dari 25 tahun, dan by 2008, umurku sudah berkepala 3. Jadi sudah harus memikirkan masa depan kami sendiri.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya