18px

Cincin Berlian dan Gairah Terlarang

Cincin Berlian dan Gairah Terlarang

Rina mematut diri di depan cermin. Ini adalah hari yang paling dinantikannya, hari pernikahannya. Ada banyak alasan mengapa akhirnya dia bersedia menikah dengan Hans, dan seks adalah salah satunya — meskipun Hans hanya mempunyai penis yang kecil. Namun seks dengan lelaki lain menjadi jauh lebih menyenangkan sejak Hans menyematkan cincin berlian di jarinya. Dia merasa bersalah sekaligus membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan, setiap kali merasakan cincin tersebut di jarinya saat lelaki lain sedang menyetubuhinya.

Dia ingat malam saat Hans melamarnya. Dia tersenyum, mengangguk dan berkata "ya", menciumnya, dan menikmati betapa nyamannya rasa memakai cincin berlian yang sangat mahal itu. Setelah makan malam bersama Hans, dia langsung menghubungi Alan begitu mobil Hans hilang dari pandangan, mengundangnya datang ke rumah kontrakannya. Rina menunggu Alan tanpa sehelai pun kain menutupi tubuhnya yang berbaring di atas tempat tidur — cincin berlian pemberian Hans adalah satu-satunya benda yang melekat di tubuh telanjangnya.

Ada desiran aneh yang terasa saat matanya menangkap kilauan cincin berlian itu sewaktu tangannya menggenggam penis gemuk Alan. Tubuhnya tergetar oleh gairah liar saat tangannya mencakup kedua payudaranya dengan sperma Alan yang melumuri cincin itu. Dan orgasme yang diraihnya malam itu — bersama lelaki lain selain tunangannya — sangat hebat. Tangan yang tak dilingkari cincin menggosok kelentitnya dengan cepat, sedangkan dia menjilati sperma Alan yang berada di cincin berliannya. Dia menjadi ketagihan dan berencana mengulanginya nanti, tepat pada hari upacara perkawinannya.

Saat ini, dia memandangi pantulan dirinya di dalam cermin sambil mengenakan gaun pengantinnya. Dia terlihat menawan, dan dia sadar akan hal itu. Rina tersenyum. Dia membayangkan nanti pada upacara pernikahan, teman-teman Hans akan banyak hadir, dan ada banyak lelaki lain yang bisa dipilihnya untuk memenuhi fantasi liarnya. Vaginanya berdenyut, dan dia membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk membuat hari ini lebih sempurna saat lonceng berbunyi nanti.

Saat dia membuka pintu, ayah Hans — Darma — sedang berdiri di sana, bersiap menjemput dan mengantarnya ke gereja. Rina menarik napas dalam-dalam. Dia tahu lelaki di hadapannya ini sangat merangsangnya. Beberapa bulan belakangan ini dia telah berusaha menggodanya, dan pernah mendengar bahwa lelaki ini melakukan masturbasi di kamar mandi sambil menyebut namanya saat dia berkunjung ke rumah Hans. Rina belum tahu pasti apakah akan mudah menggoda Darma agar mau bersetubuh dengannya, tapi sekarang dia akan mencari tahu. Dia tersenyum lebar saat menangkap mata Darma yang menatap tubuhnya yang dibalut gaun pengantin ketat.

"Ayah," tegurnya, lalu memberinya sebuah ciuman kecil di pipi. Parfumnya yang menggoda menyelimuti penciuman Darma.

"Ayah datang terlalu cepat, aku belum siap. Tapi ayah bisa membantuku."

Digenggamnya tangan Darma dan ditariknya masuk ke dalam rumah kontrakannya — tempat yang segera akan ditinggalkannya setelah menikah dengan Hans. Darma mengikutinya dengan dada berdebar kencang. Ini adalah saat yang diimpikannya. Dia heran bagaimana anaknya yang pemalu dan kurang pergaulan itu bisa menikahi wanita secantik dan semenggoda ini, tapi dia senang karena nantinya dia akan mempunyai lebih banyak waktu lagi untuk berdekatan dengannya.

"Apa yang bisa kubantu?" tanya Darma.

Rina berhenti di ruang tengah lalu duduk di tepi meja.

"Aku belum memasang kaitan stockingku. Dan sekarang, dengan pakaian ini... aku kesulitan memasangnya," jawab Rina.

Suaranya terdengar manis, tapi matanya berkilat liar menggoda. Diangkatnya tepian gaun pengantinnya; kakinya yang dibungkus stocking putih dan sepatu bertumit tinggi langsung terpampang.

"Bisakah ayah membantuku memasangnya?" pinta Rina.

Darma ragu-ragu sejenak. Jantungnya berdetak semakin cepat. Apakah ini sebuah undangan untuk sesuatu yang lain, ataukah sekadar permintaan tolong biasa? Lalu dia mengangguk.

"Oh, tentu," jawab Darma akhirnya.

Dia berlutut di hadapan calon istri anaknya dan bergerak meraih kaitan stocking itu. Jemarinya sedikit gemetar saat Rina pelan-pelan mengangkat kakinya. Darma berusaha memasangkan kaitannya. Rina menggigit bibir bawahnya menggoda dan lebih menaikkan gaunnya, menampakkan paha panjangnya yang dibalut stocking putih.

Dia merasakan tekanan nikmat mulai bergejolak dalam dadanya, membuat napasnya semakin sesak dan memburu, dan membuat kakinya semakin melebar. Dia merasakan cairannya mulai membasahi. Kaitan itu akhirnya terpasang di sekitar lututnya. Darma menghentikan gerakannya, tak yakin apakah sudah benar.

"Ayah, seharusnya lebih ke atas lagi."

Tangan calon ayah mertuanya yang berada tepat di bawah vaginanya membuatnya berdenyut liar. Keragu-raguan itu hanya bertahan beberapa saat. Tangan Darma menarik kaitan itu semakin ke atas saat calon istri anaknya terus mengangkat gaun pengantinnya. Dia menelan ludah membasahi tenggorokan yang terasa kering saat kaitan itu akhirnya terpasang di bagian paling atas stocking.

Dia yakin dapat mencium aroma vagina Rina sekarang, yang membuat jantungnya seakan hendak melompat keluar dari dada. Tangannya berhenti, kaitan stocking melingkari bagian atas paha Rina. Dan dia merasakan gaun pengantin itu terjatuh saat Rina melepaskan sebelah pegangannya untuk meraih bagian belakang kepalanya dan mengarahkan wajah calon ayah mertuanya mendekat ke vaginanya — dan Darma menemukan bahwa tak ada celana dalam yang terpasang di sana.

Rina melenguh dan memejamkan mata saat harapannya terkabul. Darma tidak memprotes; lidahnya menjilat tepat pada bibir vaginanya, dan Rina semakin basah. Dengan satu tangan menahan gaun pengantinnya ke atas dan yang satu lagi menekan wajah calon mertuanya ke vaginanya yang terbakar, dia mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan.

Ini terasa seperti di surga — dan menyadari apa yang dilakukannya tepat di hari pernikahannya membuat tubuhnya semakin menggelinjang. Dia mengerang saat lidah Darma memasuki lubangnya, bergerak, menghisap bibir vaginanya, menjilati kelentitnya. Wajah Darma belepotan cairan kewanitaan calon istri anaknya. Semakin Rina menggelinjang, semakin keras pula Darma menghisapnya.

"Oh ya, Ayah... jilat vaginaku... buat aku orgasme sebelum aku mengucapkan janjiku pada putramu... kumohon."

Perasaan bersalah atas apa yang mereka perbuat membuat Rina dengan cepat meraih orgasmenya, dan hampir saja dia roboh menimpa Darma. Ini bukan orgasme biasa — ini seperti rangkaian ombak yang menggulung tubuhnya, merenggut setiap sel kenikmatan dari dalam dirinya. Cairan Rina terasa nikmat pada lidah Darma; dia menjilat dan menghisap seperti lelaki yang kehausan. Penisnya terasa sakit dalam celananya, cairan pra-ejakulasi membasahi bagian depan tuksedoanya.

Rina kembali menggelinjang, lalu perlahan bergerak mundur, membiarkan gaun pengantinnya menutup kembali. Dia membuka resleting di bagian belakang gaun dan membiarkannya jatuh turun menyusuri tubuhnya. Dia melangkah keluar dari tumpukan gaun yang tergeletak di lantai dengan hanya mengenakan sepatu bertumit tinggi, bra, dan stocking beserta kaitan yang baru saja dipasangkan Darma. Rina tersenyum padanya; vaginanya berkilat dengan cairannya sendiri.

"Aku akan ke kamar mandi untuk membetulkan make-up. Kalau ayah memerlukan sesuatu..." katanya dengan mengedipkan mata.

Darma menatapnya melenggang dan menghilang di balik pintu — begitu feminin dan menggoda. Hanya beberapa detik kemudian dia menyusulnya. Saat dia memasuki kamar mandi dan berdiri di depan cermin di atas wastafel, Rina sudah mengenakan celana dalam berwarna putih. Darma tahu ini adalah salah satu godaannya yang manis, dan dia telah siap bermain bersamanya.

Rina melihatnya masuk, lalu dengan gerakan yang cantik membuka lebar pahanya. Darma melangkah ke belakangnya; mata mereka saling terkunci dalam bayangan masing-masing di cermin. Tangan Darma bergerak ke depan tubuhnya, menggenggam payudaranya yang masih ditutupi bra. Rina tersenyum.

"Tapi ayah, bukankah ini tak layak dilakukan oleh seorang ayah calon pengantin pria?"

Darma memandangi bibir Rina yang membuka saat bicara, merasakan hembusan hangat napasnya, sementara tangannya meremas payudaranya dalam balutan bra.

"Tak selayak apa yang akan kulakukan padamu."

Rina menggigit bibirnya dan mendorong pantatnya menekan penisnya yang mengeras.

"Aku sudah tidak sabar," bisiknya.

Sejenak kemudian Rina merasakan tangan calon ayah mertuanya bergerak di belakangnya saat Darma melepaskan sabuk dan membiarkan celananya jatuh. Dengan mudah tangan Darma menarik celana dalamnya ke samping. Rina menarik napas dalam-dalam saat merasakan kepala penis Darma menekan bibir vaginanya yang masih basah. Dia mengerang dan memegangi tepian wastafel saat Darma perlahan mulai mendorongkan batangnya masuk. Rina merasakan bibir vaginanya terdorong ke dalam, dinding bagian dalamnya melebar untuk menerimanya.

"Apa ini terasa lebih baik daripada penis putraku?" Darma tersenyum puas.

Dia tahu persis berapa ukuran penis putranya, dan yakin bahwa putranya mewarisinya dari garis ibunya. Vagina calon istri putranya terasa sangat menakjubkan pada batangnya; dengan cepat dia sadar bahwa dia layak menyetubuhi calon menantunya ini lebih sering dibanding putranya. Dan dia mendapat firasat bahwa dia bisa melakukannya kapan pun ada kesempatan.

"Oh, brengsek! Ya, Ayah... ayo... beri aku yang terbaik untuk merayakan pernikahanku dengan putra kecilmu."

Dia lebih membungkuk ke bawah, merasakan tangan Darma mencengkeram pinggulnya dengan erat, lalu mulai memompa keluar masuk. Mereka sadar akan terlambat menghadiri upacara pernikahan, tapi Darma memastikan agar vagina sang mempelai wanita benar-benar berdenyut habis setelah persetubuhan yang panjang dan keras. Rina mengerang, menjerit, dan bergoyang di atas batangnya mengimbangi setiap gerakan. Mereka saling memandangi bayangan mereka berdua di cermin saat menyalurkan nafsu terlarang mereka.

Rina merasa teramat sangat nakal — disetubuhi dengan layak dan keras oleh ayah calon suaminya tepat sebelum upacara pernikahan. Darma merasakan vaginanya mengencang, dan kali ini seluruh tubuh Rina mengejang panjang dalam orgasmenya. Wanita ini adalah pemandangan terindah yang pernah disaksikannya; punggungnya melengkung ke arahnya seperti busur panah yang direntangkan, matanya terbuka lebar, mulutnya ternganga dalam lenguhan bisu. Darma bahkan dapat merasakan pancaran orgasmenya menjalari batangnya saat dia tetap menyetubuhinya.

Dia telah membawanya ke puncak itu tiga kali, hingga Rina nyaris roboh di atas wastafel, menerima setiap hentakan, vaginanya hampir kelelahan. Tapi Darma tahu bagaimana membawanya ke sana sekali lagi.

"Kamu mengharapkan spermaku, iya kan, Rina? Kamu ingin aku mengisimu dan membuat vaginamu terlumuri spermaku yang sudah mengering saat kamu berjalan di altar pernikahanmu — benar kan, wanita jalangku?"

"Oh ya... ya!"

Sang pengantin wanita mulai kesulitan bernapas, dan Darma merasakan vaginanya menyempit. Dia melesakkan batangnya sedalam yang dia mampu, dengan setiap dorongan yang keras, dan segera merasakan sensasi terbakar itu — dia tahu tidak mampu menahan lebih lama. Tepat saat penisnya melesak jauh ke dalam vagina calon istri putranya dan menyemburkan cairan sperma yang banyak ke dalam kandungannya, dia merasakan tubuh Rina menegang dan orgasme sekali lagi.

Dicabutnya batangnya keluar, menyaksikan lelehan sperma mengalir turun di paha Rina menuju kaitan stocking pernikahannya. Darma tersenyum.

"Aku akan menunggu di mobil, Rina."

Perlahan Rina bangkit, masih menggelepar oleh sensasi itu, wajahnya memerah, lututnya lemah, vaginanya berdenyut dan bocor.

"Mm, baiklah, Ayah."

Dia memutuskan melakukan "tradisinya" dengan mengorek sperma ayah Hans dari pahanya menggunakan jari tangan kirinya yang dilingkari cincin berlian pemberian Hans.

Saat Darma menyaksikan mempelai wanita putranya masuk ke dalam mobil — sudah rapi dan bersih, tampak segar dan berbinar, siap untuk upacara pernikahan — bayangan yang terpantul dari kaca mobil adalah Rina yang memandang tepat ke matanya sambil menjilati spermanya dari cincin berlian pemberian putranya.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya