Cinta Terlarang: Bersama Tante Yok
Cinta Terlarang: Bersama Tante Yok
Selesai berciuman, Tante Yok bergerak menggerayangi badanku dan mulai membuka pakaianku. Dengan penuh pengalaman ia membuka kaos tidurku, lalu menjerit senang melihat tubuh telanjangku. Dengan lincah pula tanteku yang montok dan sintal ini membuka celana pendek tidurku, tapi ia tidak membuka celana dalamku. Kini aku seperti Tarzan di hadapannya — hanya dengan sebuah cawat di depan seorang wanita matang. Aku merasa risih karena baru pertama kali ada seorang wanita melihatku hampir telanjang bulat. Tapi sungguh Tante Yok memang pintar: ia langsung memunggungiku dan sambil mendesah berkata, "Bukain baju Tante dong Barry..." Dengan sedikit gemetar aku membuka daster tidurnya, dan meluncurlah daster itu menuruni tubuhnya yang putih. Darahku serasa naik ke kepala. Inilah pemandangan yang kulihat sore tadi — tapi sore tadi dari jauh, sekarang amat dekat. Rasanya tubuh Tante Yok begitu mantap, montok, padat; pahanya kencang dan putih mulus; perutnya memang agak buncit sehingga pinggulnya agak besar, seperti layaknya wanita yang hampir separuh baya — tapi buatku justru itulah yang asyik dan menggairahkan, karena pinggul itu sudah berpengalaman.
Tiba-tiba Tante Yok berbalik sehingga aku tidak sempat melepaskan aksesorinya yang lain. Ia tersenyum dan berkata lembut penuh sayang, "Nanti ada waktunya Barry, sekarang kita ciuman lagi yuk, Tante seneng deh dicium kamu." Aku mengangguk dan segera kupegang kepalanya, mengarahkan mulutnya pada mulutku, dan mulailah kami berciuman kembali. Kali ini lebih panas karena kami sudah setengah telanjang. Kurasakan kulitnya yang mulus, punggungnya yang bersih, tangannya menggerayangi dadaku, perutku, pusarku — dan aahh! Tangan Tante Yok dengan nakalnya memegang batang kemaluanku melalui celana dalamku dan terus meremasnya.
"Oooggh... Akkhh... Eeennggkh... Barryy... Adduhh, besar ya..." Tante Yok mengerang, sementara aku kegelian karena ia meremасnya dengan sangat berpengalaman.
"Tante... aduh Tantee! Eenngkh..." aku mengerang.
Tante Yok tertawa lagi dan mulai menciumku kembali. Kali ini aku tidak mau kalah — tanganku juga belajar menggerayangi tubuhnya. Aduh, perutnya kupegang, bulat besar mulus; pusarnya kukorek-korek. Waktu aku mau meremas dadanya, dia pegang tanganku dan menatapku. "Kalau mau pegang musti bisa cium Tante sampai Tante minta ampun dulu. Bikin Tante menjerit minta ampun sama Barry," tantang Tante Yok. Langsung tanpa ragu aku pagut bibirnya dan mulai kukulum, kulumat, dan kuhisap aroma mulutnya — panjang-panjang. Kutarik lidahnya, kusedot air ludahnya. Tante Yok cuma mengerang biasa. Aku tidak mau menyerah; kupercepat frekuensi melumatnya, lidahku kumulurkan hampir sampai kerongkongannya. "Aaauughh..." Tante Yok menjerit, "Adduuhh... Barryy, ampun... ookkhh." Ia menjerit keenakan dan kesenangan, dan dengan begitu aku mendapat izin untuk menggerayanginya.
Tante Yok tersenyum dan dengan suara sedikit serak ia berkata, "Kamu benar-benar hebat Barry. Oom Rudi sendiri nggak bakal bisa menandingi kamu. Kamu pantas untuk menikmati susu Tante." Ia berdiri dan tangannya bergerak ke belakang melepas tali BH-nya, lalu diam menunggu inisiatif dariku. Ia tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya menggodaku. Aku gemetar saat itu — aku belum pernah melihat buah dada Tante Yok yang telanjang, dan memang aku selalu mengimpikannya. Tapi sekarang begitu Tante Yok mau menunjukkannya, aku sempat ngeri juga. Namun melihat senyumnya malam itu yang rasanya memabukkan, aku jadi berani.
Dengan deg-degan aku menarik tali BH yang sudah kendur itu dan melucutinya ke bawah, diiringi senyum menawan dari Tante Yok. Ia membantu mempermudah pelepasannya, dan entah ke mana BH itu terbang aku tidak peduli — karena kini ada satu pemandangan indah yang selalu aku impikan: buah dada telanjang milik Tante Yok. Ukurannya sedang, putingnya coklat agak kehitaman dan berkeriput, menonjol keluar. Buah dadanya tegak keras menanti untuk dikulum. Aku menatap Tante Yok minta izin, dan dengan anggukan serta senyuman manis ia berkata, "Nikmati hakmu Barry sayang." Aduh, aku dipanggil sayang oleh Tante Yok. Keraguanku hilang dan dengan hati penuh gelora aku mengarahkan kepalaku ke dadanya.
Tante Yok membaringkan dirinya sehingga dengan leluasa aku mulai mendaki bukit Tante Yok. Bukit sebelah kanan mulai kujelajahi lereng-lerengnya sementara putingnya bergerak-gerak menggelitiki hidung, mata, dan dahiku karena aku memutari lereng itu. Pada puncaknya kuemut puting buah dada Tante Yok dan mulai mengulumnya, belajar menghisapnya. Tante Yok menjerit kenikmatan, meneriakkan namaku berulang kali sambil terengah-engah seksi. Rasa putingnya manis-manis dan kenyal sehingga aku terus mengulumnya, sementara tanganku mengeksplorasi buah dada Tante Yok yang sebelah kiri. Kemudian dengan gerakan cepat aku berpindah ke puting susu Tante Yok yang sebelah kiri dan mulai mengulumnya kembali dengan penuh cinta dan nafsu birahi. Aku sungguh merasa beruntung mendapat kesempatan ini — aku selalu memimpikan Tante Yok, dan kini aku telah berhasil menikmatinya, meskipun aku belum tahu apakah aku bisa menikmati permainan cinta ini sepenuhnya.
Tak lupa kuciumi pula kedua ketiaknya yang sangat seksi dengan bulu-bulu hitam yang sangat lebat. Ketiaknya berbau harum dan bulu-bulunya yang keriting menggelitik hidungku. Ketika aku mulai menjilati ketiaknya, Tante Yok menggelinjang kegelian sambil mendesah-desah, menggigiti bibirnya, dan kadangkala melenguh memanggil namaku. Sekitar 20 menit aku bermain dengan susu dan ketiak Tante Yok, lalu aku mencari mulutnya — aku rindu mengulumnya kembali. Aku menggeser badanku sehingga kini aku mengangkangi Tante Yok. Namun masih ada penghalang untuk masuk: celana dalam kami berdua. Aku menatap wajahnya dan mulai mengulum bibirnya kembali. Tante Yok membalas dengan penuh semangat dan terus memelukku, memegangi kepalaku seolah takut terlepas. Ciuman penuh cinta itu kembali kami lakukan — saling menarik, mengulum, melempar ludah, menjilati rongga mulut, hingga rasanya aku tahu betul rasanya mulut Tante Yok.
"Barry, rasanya Tante rela kalau kamu Tante kasih seluruhnya, kamu memang pandai dan cepat belajar," bisik Tante Yok mesra setelah kami berciuman selama hampir setengah jam hingga nafas kami terengah-engah.
"Maksud Tante apa?" aku bertanya sambil terus memandanginya.
"Tadinya Tante pikir cukup sampai di sini saja, biar kamu tahu dan puas. Tapi Tante jadi sayang sama kamu Barry, rasanya kamu perlu diberi sampai selesai," lirih Tante Yok.
"Maksud Tante sampai..." belum selesai aku berbicara, Tante Yok sudah mengulum mulutku lagi dengan penuh cinta, begitu lembut dan nikmat.
"Betul Barry. Tante pingin supaya kamu tahu diri Tante sampai yang sedalam-dalamnya, dan tahu gimana rasanya orang bersanggama."
"Oom Rudi gimana Tante?" aku bertanya.
"Yah, kamu nggak usah pikir itu. Pokoknya tetap, asal kamu janji diam — ini akan jadi rahasia kita berdua, mau?" Tante Yok menatapku.
Aku diam. Rasanya sih aku kepingin; aku memang sudah lama memimpikan bersenggama dengan Tante Yok. Tapi setelah Tante Yok sendiri yang menawarkan, aku jadi ngeri dengan konsekuensinya.
Seolah tahu keraguanku, Tante Yok menciumku lagi dan mulai menggerayangiku. Aku mulai membalas, namun Tante Yok tidak berlama-lama. Ia mengangkangiku, menindihku, dan langsung bergerak ke pangkal pahaku — dengan cepat membuka celana dalamku sehingga batang kemaluanku mencuat keluar dengan tegak. Aku terpesona oleh tindakan Tante Yok, dan sebelum sadar sepenuhnya Tante Yok mulai mengulum kemaluanku dengan mulutnya. Ia hisap dan sedot perlahan-lahan, dan aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak tahan aku untuk tidak menjerit.
"Akkhh... aduhh... hohkh... Yok... Yok... ookh... Yok... Yok sayang... mmhh... mokh Yookk! Yook!"
Kini aku baru tahu kenapa Om Rudi suka mengajak Tante Yok ke Surabaya jika keadaan memungkinkan. Benar-benar luar biasa Tante Yok ini. Mulutnya yang ranum itu terus mengulum kemaluanku, menghisapnya dengan sangat ahli sambil sedikit diemut-emut dan digigit.
Tiba-tiba ia berhenti. Sebagai gantinya ia menjilati seluruh selangkanganku dan pantatku dengan lidahnya. Setelah selesai ia naik menggeser tubuhnya ke atasku. Aku langsung menariknya dan menghujani mulutnya dengan ciuman-ciuman birahi. Ia membalas dan kami kembali larut dalam kulum-kuluman itu — mulut kami sudah saling mengerti, mulut Yok dan mulut Barry.
Setelah nafas kami hampir habis, Tante Yok berkata dengan terengah-engah, "Sekarang Barry, jilati selangkangan Tante yang... Tante udah buat terhadap kamu. Ayo Barry, jangan takut." Aku bangun dan mengamati tubuh Tante Yok, agak ragu dan ngeri. Kuperhatikan Tante Yok membuka pahanya yang putih mulus — kini hanya dibatasi selembar kain celana dalam. Di balik celana dalam itu menanti kenikmatan dunia untuk kureguk. Aku menatap Tante Yok minta dukungan, dan kembali ia tersenyum lembut bagai bidadari menguatkan hatiku.
"Ayo Barry, tarik celana Tante, Tante bantu lepasin..."
Aku mulai menarik celana itu. Tante Yok mengangkat pinggangnya yang besar untuk mempermudah pelepasannya. Celana itu terbuka. Kini di hadapanku berbaring Tante Yok dalam keadaan 100% bugil — Tante Yok yang selalu menjadi impianku, kini berbaring telanjang bulat di hadapanku yang juga telanjang. Pandangan mataku menggerayangi liang kemaluannya. Oh, luar biasa! Di pangkal pahanya yang besar dan putih itu ada seonggok rambut hitam ikal yang dengan lebatnya memenuhi pangkal pahanya, bahkan tersebar hingga ke daerah sekitar bawah pusar. Pusat onggokan bulu itu melindungi satu rongga yang tertutup seperti mulut dalam posisi berdiri. Darahku serasa berhenti berjalan melihat itu.
"Barryy... ayoo... cobain dong!" Tante Yok memekik manja melihatku hanya diam. "Jilat Barry! Kamu pernah makan es krim kan? Jilatin Barry, ini es krim yang paling enak," katanya membuatku semakin terpana.
Perlahan-lahan kepalaku mulai tunduk. Tanganku mengunci lutut Tante Yok dan kepalaku mulai merasuk melalui pahanya yang selalu kuidamkan itu. Pahanya mulus dan hangat. Terus naik, terus naik, hingga akhirnya aku hampir tiba di tujuan. Ikatan tanganku pada dengkulnya lepas, dan dengan attraktif Tante Yok membuka kakinya mempersilakanku untuk terus. Aku mendaki hingga kini kepalaku menggantikan posisi celana dalam Tante Yok yang terbuang entah ke mana. Aku merasakan bulu-bulu halus menggelitikku, tapi aku tidak peduli. Selangkangan Tante Yok ini benar-benar luar biasa. Liang kemaluannya kuemut seperti aku makan es krim — benar rasanya asin, berbau khas selangkangan, agak apak oleh cairan dari dalam kemaluannya, hangat dan basah. Kuemut terus, dan tiba-tiba aku mendapat ide untuk mencium bibir bawah Tante Yok ini. Aku miringkan kepala dan mulai kuagresi lidahku masuk ke mulut bawah Tante Yok, mencicipi hangatnya.
Ada satu lidah panjang dan bulat berada pada rongga itu, dan tanpa pikir panjang aku segera menangkapnya, menjilatnya, menghisap, mengulum, serta menggigitnya dengan penuh cinta. Ternyata perbuatanku itu membuat Tante Yok bergelinjang dengan hebatnya — ciuman kami semakin masuk, dan dengan tangannya ia menekan kepalaku untuk terus. Tante Yok sudah berteriak-teriak tanpa kendali, begitu liar tapi sangat merangsang.
"Baaryy... Aaakkhh... Adduudduuhh... Ooohh! Barry! Barry! Barry... Ohh... Barr... haakghgg... sayangg... Oohh Barryy sayanngg..."
Lidahnya makin kumesrai, dan kini lidah itu mengeluarkan ludah lendir yang hangat, agak asin, berbau khas — tapi justru di situ letak kenikmatannya. Kuminum ludah itu, meski tidak bisa kuminum semuanya sehingga sebagian mengalir membasahi daerah mulut dan hutan di selangkangan Tante Yok.
Aku merasa belum puas. Selangkangan Tante Yok ini selalu aku impi-impikan; aku selalu berpikir bahwa Om Rudi belum pernah mencobanya seperti aku ini — dia rugi. Selangkangan Tante Yok tidak ada tandingannya. Aku raup selangkangannya sekali lagi, kini tanpa ragu, kuhisap seluruhnya, kujilati seperti induk kucing menjilati anaknya. Bulu-bulu lebat liang kemaluannya sudah basah, mulut Tante Yok pun sudah becek dan licin.
Tiba-tiba Tante Yok memanggilku. Aku pun naik menemuinya.
"Kamu senang Barry? Kamu puas?" tanya Tante Yok sambil tersenyum.
"Sangat... Tanntee... Yok," jawabku terbata-bata.
"Luar biasa kamu, Oom Rudi pun nggak pernah bisa bikin Tante kayak begitu Barry. Sekarang setubuhi Tante ya. Barry siap?" Tante Yok mendesah dan memandangku dengan pandangan yang bisa membuat lelaki normal mana pun serasa berada di kahyangan.
Kini saat yang kuimpikan. Setelah puas menggerayangi tubuh Tante Yok, tiba saatnya ia memberikan izin untuk bersanggama dengannya. Sebelum aku dapat berkata-kata lebih lanjut, Tante Yok meneruskan, "Tapi kamu harus ingat, nanti waktu Barry masukin kemaluan Barry ke Tante, maka Barry boleh ucapkan selamat tinggal sama status perjaka Barry." Tante Yok tersenyum mesra. "Kamu rela nggak kalau Tante yang melepas keperjakaan kamu?"
Lidahku saat itu kelu. Apa lagi yang dapat kukatakan? Memang itulah keinginanku selama ini. Aku sungguh-sungguh ingin diperjakai oleh Tante Yok, dan inilah kesempatanku. Aku hanya mengangguk-angguk dengan penuh semangat sambil menatap mata indah milik Tante Yok.
Rupanya Tante Yok mengerti suasana hati. Ia tersenyum lembut keibuan dan memelukku, lalu menciumku dengan mesra sambil berbisik pelan, "Jangan takut Barry, Tante juga bahagia sekali bisa membantu kamu menjadi lelaki dewasa. Kamu nggak akan menyesal sudah mengambil keputusan ini." Lalu ia kembali menciumku dengan mesra dan mengulum lidahku dengan penuh nafsu.
Setelah itu Tante Yok mengambil posisi berbaring telentang dan menyuruhku untuk mengangkanginya. Dengan kedua belah tangannya ia membantu batang kemaluanku melakukan penetrasi, sementara kedua tanganku menahan bobot tubuhku supaya tetap ada jarak. "Ohh..." Dengan bantuan Tante Yok, batang kemaluanku menemukan jalan, dan bles! Kemaluanku tenggelam dalam selangkangan Tante Yok tanpa ampun lagi. Baik aku maupun Tante Yok menjerit kesenangan dan keenakan. Betul-betul enak — aku tidak pernah membayangkan bahwa bersenggama dengan perempuan bisa senikmat ini. Pantas saja begitu banyak orang ngebet untuk kawin. Rasanya seluruh badanku menjadi badanya dan seluruh badan Tante Yok menjadi badanku. Kami jadi satu tubuh dan berpadu seolah tidak dapat terpisahkan lagi.
Tubuh Tante Yok bergerak liar; pinggulnya menari-nari sementara badanku terayun-ayun bagai ayunan. Aku menusuk Tante Yok dan menggenjotnya untuk mengimbangi tariannya.
"Tanntee... Yyookk... gimana... audhdhu... nich... Tannttee Yyyookk... aku mau keluar... adduhh..." aku menjerit cemas tatkala tahu bahwa aku tidak dapat mengontrol lagi kehendak batang kemaluanku. Tapi dalam erangannya Tante Yok malah mengencangkan ikatan selangkangannya sehingga kami tidak mungkin lagi terpisah karena pahanya mengunci pahaku.
"Hh... hh... hh... hh... Ahh... biar Barry... biar Yang... biaarrhh... ooaaghh..." Tante Yok mendesis hebat, dan aku pun merasakan gelombang itu datang. Tante Yok memelukku erat dan aku pun memeluknya erat-erat. Kami takut terpisah. Kami berciuman dengan panas, dan gelombang itu datang melanda kami berdua. Aku menyemprotkan spermaku di dalam liang kemaluan Tante Yok. Tante Yok berteriak kesenangan dan keenakan — demikian juga aku. Oohh, klimaks yang kuimpikan itu akhirnya terjadi.
Aku telah menyetubuhi Tante Yok, tanpa kecuali, dan aku bahagia. Aku yakin Tante Yok pun bahagia — ia mengucapkannya berkali-kali sambil mendesah di telingaku. Kami tertidur tanpa saling melepaskan tubuh kami, tetap dalam posisi senggama kami, sementara hujan masih cukup deras di luar. Aku memeluk Tante Yok dan kepalanya bersandar di dadaku sepanjang malam yang indah ini. Kulihat Tante Yok tidur dalam pelukanku sambil tersenyum — membuatku bertambah bahagia karena telah memberikan kebahagiaan juga kepadanya. Malam ini aku telah menjadi lelaki dewasa, dan Tante Yok yang melepaskan keperjakaanku. Aku tidak menyesal dengan keputusanku karena aku memang menginginkan hal ini, dan sungguh-sungguh berharap bahwa dialah yang memperjakaiku. Pengalaman pertamaku ini akan selalu kuingat.
Tamat