18px

Cynthiara Alona: Bayar Hutang dengan Tubuh

Cynthiara Alona: Bayar Hutang dengan Tubuh

Dara manis ini sedang stres gara-gara foto pornonya bertebaran di internet. Setelah melihat foto-foto itu, aku merasa terangsang โ€” buah dadanya yang besar membuat penisku sesak dalam celana. Aku ingin menikmati kemolekan tubuh Cynthiara Alona, sayang kalau kesintalan ini dilewatkan begitu saja. Namun dalam kondisi stres seperti ini tentu sulit. Secara pribadi aku mengenalnya; website miliknya adalah buatan temanku, dan dulu aku pernah bertemu Cynthiara Alona di rumahnya untuk membantu, tapi berhenti di tengah jalan karena kesibukan kuliah.

Hari Pertama

Aku datang ke apartemen Cynthiara Alona sore hari setelah membuat janji terlebih dahulu. Ketika bertemu denganku, ia tampak kikuk dan menyembunyikan kesedihannya.

"Sudahlah, relakan saja. Lain kali lebih hati-hati," hiburku dengan maksud baik.

"Rasanya aku gondok banget, pengin marah gimana? Karirku bisa hancur," umpat Cynthiara sambil melempar handphone-nya.

"Kalau mau, aku bisa menolong โ€” mencari mantan manajermu itu โ€” tapi butuh waktu," aku mengajukan diri.

"Sulit, Han. Sulit. Dia kabur tanpa ada kejelasan."

"Gini aja, aku mau menolong, tapi nggak bisa maksimal. Aku akan melacak keberadaannya sejak terakhir dia tinggal di mana. Perlu berminggu-minggu, sih."

Aku memang pernah berkenalan dengan manajernya, Bobby, jauh sebelum bertemu Cynthiara Alona. Kalau aku ketemu Bobby, tidak akan ada kecurigaan sama sekali. Soal uang, aku bisa meminta bantuan para tanteku.

Hari Kedua

Aku mulai melacak Bobby dari awal. Firasat mengatakan orang seperti dia tidak akan jauh-jauh dari Jakarta. Aku pernah menginap di rumahnya dulu, jadi aku kenal baik beberapa temannya, bahkan orang tuanya. Setitik terang muncul: Bobby pernah punya sebuah vila di Jonggol, Jawa Barat. Tapi aku tak tahu pasti lokasinya, jadi aku harus menemukannya dulu. Persembunyiannya sangat rapat โ€” bahkan beberapa temannya yang kutanya mengaku tidak tahu. Aku mengalami jalan buntu. Nomor handphone-nya pun aku tidak punya. Namun demi tubuh indah Cynthiara Alona, aku pantang mundur.

Hari Ketiga

Berbagai informasi sudah kucari dan kurangkai, tapi tetap saja masih buntu. Iseng, aku jalan-jalan ke Bogor seorang diri. Informasi yang kudapat menyebut ada beberapa PSK yang kenal Bobby di daerah Bogor, jadi aku mencoba peruntungan ke arah Puncak. Sekitar jam dua belas malam, aku berhenti di sebuah warung kopi. Dua perempuan bercelana pendek melirikku, tapi aku mengabaikannya โ€” aku doyan cewek tapi tidak tertarik PSK. Tak disangka, kedua PSK itu mengobrol dan menyebut nama Bobby. Aku menyingkir ke dalam mobil dan menyapa mereka ketika keluar.

"Kemana, Non?" tanyaku.

"Kemana saja kalau ada yang ngajak," jawab yang lebih tinggi, bernama Novi. Temannya bernama Emil.

"Mau ikut, Non?"

"Boleh, tapi ongkos, Bang. Nggak bisa gratis."

"Tenang saja. Aku hanya mau ajak kalian ngobrol โ€” cuma curhat. Kalau bisa bantu, ada bonus." Kutunjukkan uang dua ratus ribu.

"Enak aja segitu," maki Emil.

"Please, aku nggak butuh yang lain. Cuma ngobrol. Nanti kutraktir makan sekalian."

Kami pergi bersama. Di dalam mobil kedua perempuan itu sangat menggoda โ€” kancing baju yang dilepas dua biji memamerkan lekuk dada mereka. Aku mentraktir mereka makan, dan mereka sangat senang.

"Ngomong-ngomong, kalian kenal Bobby?" Kutunjukkan foto.

"Betul."

"Di mana dia? Aku temannya."

"Nggak bisa, Bang. Dia katanya lagi dicari orang."

Aku membuka netbook dan konek ke internet, menunjukkan profil Facebook, website, dan KTP-ku agar mereka yakin.

"Buset, kita ketemu hacker. Anakku pernah cerita soal orang ini," timpal Emil yang sudah tiga puluh lima tahun, mantan istri yang ditinggal suaminya kabur.

"Kalau kalian pernah butuh bantuan, aku bisa menolong. Tapi sekarang aku yang berhutang budi pada temanku," kataku sungguh-sungguh. Emil tersenyum.

"Oke deh, Bang. Janji ya? Hmm, bagaimana kalau kami service dulu?" goda Novi sambil meraba pahaku.

"Nggak usah, Non." Aku membiarkan Novi mengelus pahaku, tapi hanya sesaat โ€” sempat kugoda meremas dadanya sebelum kutahan diri.

Akhirnya kedua PSK itu menunjukkan letak vila Bobby di pinggiran. Aku datang sendirian, dan kebetulan Bobby sendiri yang menyambutku, terkejut namun tanpa kecurigaan.

"Hebat, ke mana saja kau? Kayak hilang ditelan bumi," kata Bobby sambil tersenyum.

"Sibuk kerja, program terus, jadi nggak ingat yang lain," candaku sambil masuk. Tanpa sepengetahuannya, aku sempat memotretnya sebagai bukti telah bertemu.

"Sialan nih orang, gemar main PSK," makiku dalam hati ketika dua perempuan datang ke vila. Aku pamit dengan alasan tidak enak badan, foto Bobby sudah di tangan.

Aku balik ke Jakarta dini hari ketika mereka bertiga mulai berpemanasan. Dengan sangat senang, aku memberi tahu intel temanku untuk menggerebek vila itu โ€” bukan dengan polisi, cukup Satpol PP, supaya tidak terlalu kentara.

Aku tiba di apartemen Cynthiara Alona pagi-pagi ketika dia baru bangun.

"Gila, pagi sekali! Gimana?" tanyanya mempersilakan aku masuk.

"Sebentar lagi buruannya akan ketemu denganmu. Pagi ini digerebek di Puncak," kataku, menikmati ekspresi terkejutnya. Pagi itu ia mengenakan celana pendek longgar dan kaos yang memperlihatkan bra ukuran sangat montok.

Tidak lama kemudian intel temanku mengonfirmasi: Bobby tertangkap. Cynthiara Alona melompat kegirangan. Setelah menutup telepon, ia berbalik padaku.

"Berapa aku harus membayarmu?" tanyanya, duduk dekat denganku. Parfumnya menusuk hidungku.

"Nggak usah. Sama teman kok," tolakku sambil menghembus asap rokok.

"Please," desak Cynthiara.

"Nggak ada, deh. Tapi... kalau boleh, aku nggak mau yang foto-fotoan. Maunya yang asli," kataku berputar.

"Maksudmu?"

"Aku ingin melihatmu tanpa busana secara langsung. Semua jerih upayaku setidaknya layak mendapat itu โ€” aku berkorban waktu, uang, dan nyawa mencari dia."

"Oke, Han. Oke. Baiklah," ujar Cynthiara akhirnya, tersenyum tipis, lalu membuka kaosnya. Bra hitamnya terlihat terlalu kecil untuk menahan buah dadanya. Habis itu ia membuka celana pendek, menyisakan celana dalam putih tipis. Aku sangat bergairah melihat kesintalan perempuan ini โ€” kupeluk dia, tapi ia mencegah.

"Katanya cuma mau lihat?" sergahnya menepis tanganku.

"Aku ngaceng," celotehku sambil mengelus selangkanganku yang membesar. Melihat itu, Cynthiara melotot. Aku kembali memeluknya dan menghujani ciuman di bibirnya. Ia menolak dan mencoba mencegah.

"Haaaan, please," sergah Cynthiara sekuat tenaga, tapi aku terus menciuminya dan mengunci tangannya. Lenganku menempel di buah dadanya. Aku semakin kalap dan menindihnya, mengulum bibirnya yang masih melawan.

"Kau hanya bisa bayar dengan cara ini, Cyn," kataku sambil menekan lebih kuat. Cynthiara berhenti melawan. Pelan-pelan ciumannya berbalik membalas.

"Tak kusangka, Han. Kau jahat sekali โ€” minta bayaran dengan tubuhku," makianya.

"Aku sudah dua kali masturbasi gara-gara kamu."

"Salahmu," ledeknya sambil tertawa.

Kulepas kuncian tangannya dan menindihnya lebih erat, menghujani ciuman dan lumatan. Cynthiara membalas dengan tidak kalah ganas. Tanganku menyelusup ke celana dalamnya dan mengelus vaginanya yang bersih tanpa bulu โ€” luar biasa nikmatnya bisa menyentuh bagian itu.

"Haaaan, hhsss, aah," lenguh Cynthiara. Ia kini sudah sepenuhnya dalam genggamanku, membalas pelukan dan lumatanku.

"Aku pengin lihat seberapa besar penismu," sergahnya dengan senyum nakal.

Aku beringsut mundur, menarik resleting celana panjangku dan melorotkannya, lalu membuka celana dalam. Cynthiara tersenyum lebar.

"Besar sekali, Han. Hmm," pekiknya sambil menggenggam penisku dan mengelus-ngelusnya.

"Nikmati saja, Cyn." Aku mencari kaitan bra-nya dan melepaskannya. Tali di pundaknya dipelorotkan sendiri oleh Cynthiara โ€” kini bongkahan buah dadanya tersaji di depanku, siap kunikmati.

"Han, aku tahu kamu suka melirikku, tapi aku tak mengira kamu benar-benar ingin bercinta denganku. Ya sudahlah โ€” anggap saja ini bayar hutang," kata Cynthiara sambil mengocok penisku berulang-ulang. Aku membalas dengan meremas buah dadanya.

"Huuuh, kamu suka sama susuku ya, Han? Nikmati saja," ledeknya sambil tersenyum menggoda. Percintaan pagi hari ini sama sekali tidak menghalangi kami berkeringat, meski AC apartemen masih berhembus sejuk.

Aku kembali menindihnya, melumat bibirnya dengan rakus, lalu menyusuri lehernya turun ke buah dadanya. Aku menyampirkan rambutnya yang panjang ke samping. Desakan penisku yang ingin segera menyetubuhi artis ini sudah tak terbendung. Nafas kami saling memburu, terbakar birahi di sofa itu.

"Haaaan, aaaaah, hhsss. Kulum puntingku," perintah Cynthiara sambil menekan kepalaku. Puting kecoklatan itu kumasukkan ke dalam mulut dan kusedot sekuat tenaga. Gerak gemulai tubuhnya yang bak cacing kepanasan membuatku menahan diri agar tidak terburu-buru. Kutarik badan, kulepas semua pakaianku hingga telanjang bulat. Cynthiara hanya tersenyum menggodaku.

"Aku bersedia jadi pacarmu โ€” tak peduli kamu pernah bugil di internet atau di majalah," kataku sambil menatapnya.

"Ah, kamu cuma mau tubuhku. Kamu pasti maunya bersetubuh denganku terus, kan?" tanya Cynthiara menyelidik.

"Kalau gitu kita nggak perlu pacaran. Kita bersetubuh kalau sama-sama menginginkan. Kamu pasti akan ketagihan padaku, Cyn. Lihat โ€” penisku ini akan selalu membuatmu rindu. Silakan kulum, sayang," ajakku dengan mesra. Cynthiara bangun, memegang penisku, dan membungkuk.

"Rasakan jilatan dan kulumanku, sayang. Hhhmm. Iya. Penis sebesar ini seperti punya orang bule," timpal Cynthiara sambil menjilati batangku dengan rakus. Penisku dimasukkan ke dalam mulutnya yang sesak itu dan dipermainkan dengan lidahnya. Aku berdiri, sesekali tanganku turun dan meremas buah dadanya yang besar โ€” setiap kuremas, Cynthiara melenguh.

"Hhmm, aaaauch," lenguhnya penuh dengan penisku. Penisku keluar-masuk dalam mulutnya, sesekali dipandanginya dengan seksama sebelum dimasukkan lagi, berulang-ulang hingga batangku mengkilap basah oleh air liurnya.

"Terus, Cyn. Ooooh. Kamu memang cewek oke," pujiku sambil meremas pantatnya dengan gemas, membuat Cynthiara menggerak-gerakkan pantatnya tak tahan.

Ia menarik batangku dari mulutnya, lalu merebahkan diri dengan menantang. Celana dalamnya dibuka dan dilempar ke meja sofa, lalu mengangkang sangat menantang โ€” vaginanya membasah terangsang.

"Lakukan, Han. Kamu bebas menyetubuhiku โ€” mau keluar di luar atau di dalam, sama saja," ujar Cynthiara sambil tersenyum. Aku kembali menindihnya, menyerbu bibirnya. Kami kembali bertarung saling melumat dan memilin. Sofa itu terlalu sempit; aku mendorong meja lebih jauh. Salah satu kaki kami menjejak ke lantai, aku menariknya agar keluar dari sofa. Kami kemudian bergumul lagi sambil saling memeluk di lantai. Nafas kami saling memburu. Cynthiara Alona kini menjadi betina yang lapar โ€” menyerangku dengan pelukan erat, melumat bibirku, dan meremas batangku dengan gemas.

Tak berapa lama kami yang bergumul di lantai penuh nafsu semakin panas saja. Cynthiara mendesakku dengan menggulingkan tubuh kami memakai jepitan kedua kakinya di pinggangku. Dengan ganas ia menyerangku, melakukan lumatan demi lumatan. Kami sudah basah termakan keringat birahi.

"Han, pindah ke atas. Kita lakukan enam sembilan," ajak Cynthiara sambil menahan lumatannya di bibirku, tanganku sendiri masih memegang buah dadanya.

"Please โ€” remes dulu biar kamu suka," ujar Cynthiara sambil menurunkan dadanya lebih dekat ke wajahku. Kukulum puntingnya yang lancip, kusedot dalam mulutku.

"Terus, Han. Yang satunya ngiri tuh," pekik Cynthiara sambil menekan dadaku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ke belakang memegang batangku. Aku mengulum puting sebelah kanan sambil meremas buah dada sebelah kiri dengan tangan. Sungguh nikmat bisa mendapatkan Cynthiara Alona dengan cara ini.

Aku menyudahi kulumanku. Cynthiara beranjak dari duduk di atas selangkanganku, lalu menarik tanganku untuk duduk.

"Kamu duduk saja. Kita enam sembilan dengan cara aku mengulum penismu โ€” kamu sandar ya," ajak Cynthiara dengan senyum nakal. Nafsunya menggelegak melihat penisku mengacung tegak. Ia naik ke sofa, duduk di sampingku, lalu membungkuk. Kedua kakinya diputar โ€” kaki kanannya naik ke atas kepalaku, ditopangkan ke pundak, kaki kirinya di pundak sebelahnya. Posisinya kini berpangku padaku dengan kaki menjulang menjepit leherku, kepalanya tepat di atas batangku, selangkangannya tepat di mulutku.

"Han, oral vaginaku. Aku oral penismu," ujar Cynthiara, berjungkir di atas tubuhku. Aku mencoba rileks bersandar. Bau khas vagina menyerang hidungku โ€” vagina tanpa bulu itu terasa berbeda. Aku mulai menjilatinya dengan lidahku, sementara Cynthiara menjilati batangku dengan rakus. Dengan ganas aku langsung menyerbu vaginanya.

"Haaaan, uuuh, enaaaak," pekik Cynthiara sambil menjilati batangku berulang-ulang bak es krim. Tanganku menyelusup ke balik badannya, mendapatkan keempukan buah dadanya, dan kuremas. Cynthiara langsung menelan batangku dalam mulut โ€” terasa sangat enak mendapat layanan oral dengan posisi seperti ini. Labia mayoranya yang membasah kukuliti dengan lidah dan bibir, kusedot vaginanya hingga Cynthiara menggelinjangkan kakinya. Rambutnya sampai tergerai di pahaku.

Mulutnya mengulum batangku keluar-masuk dengan cekatan. Tangannya memegang penisku agar tidak lepas dari mulutnya.

"Penismu enak sekali, Han. Gedeee," timpal Cynthiara sambil tertawa renyah, lalu kembali memasukkan batangku dan menggoyangnya dengan lidah. Penisku dikocok cepat dan keras. Aku menahan rasa sakit kocokannya sambil kembali mencumbu vaginanya, memperlebar lubangnya yang sempit dengan lidahku โ€” sisi kiri, kanan, berulang-ulang. Bahkan tanganku nakal mengorek vaginanya.

"Aaaaaaauuuh, sayaaang, aaaah, teruuus, enaaak," seru Cynthiara sambil menahan jilatan di penisku. Kami terus saling oral โ€” menit demi menit saling mencumbu alat kelamin. Tanganku meremas dan mempermainkan puntingnya yang lancip, sementara tangan lain meremas pantatnya dengan gemas.

"Uuuh, nakal sekali. Semua punyaku dikerjai. Han, aku sukaaaa. Aaaah, enak sekali. Remas susu dan pantatku teruuus," teriak Cynthiara. Dengan penuh nafsu penisku di dalam mulutnya disedot sekuat tenaga hingga aku berhenti sejenak merasakan sedotan itu.

"Cyn, aaaah, enaaak. Oral teruus," kataku tak kalah nafsu, menyedot vaginanya dengan keras.

"Gilaaaa, aaaah. Kalau tiap hari diginiin..." ujar Cynthiara melenguh tak karuan. Badannya dari atas sampai pundak menggelinjang merasakan oralku, lubang vaginanya melebar seiring permainanku. Klitorisnya kusentil-sentil dengan lidah lalu kusedot dengan bibir hingga Cynthiara tak tahan.

"Aaaaaaauuuh, hhsssssss," lenguh dan rintihnya menggetarkanku.

"Terus oral," ajakku.

"Gimana bisa? Sedotanmu terasa sekali โ€” enak banget, ulangi deh," pinta Cynthiara dengan gemas, memalingkan muka ke atas untuk melihatku mengoral lagi. Sudah lebih dari sepuluh menit kami berposisi seperti ini. Tanda-tanda tak kuat semakin terlihat dari mata Cynthiara yang terpejam rapat merasakan sedotanku di klitorisnya.

"Uuuuuh, aku nggak tahaaan, aah."

"Cut," panggilku dengan panggilan khas Aceh.

"Yaaaa," jawabnya serak.

"Boleh tiap hari begini?" tanyaku sambil kembali menjilati vaginanya yang semakin basah dan memerah.

"Why not?"

"Oh my God," jawabku tersenyum dan langsung menyedot klitorisnya lagi.

"Ooooh nooo, aaaah, tidaaaak, aaaauuh, enaaaak. Teruus. Lanjut, oral, oraaaal," teriak Cynthiara dengan suara luar biasa. Jepitan kakinya semakin erat โ€” aku merasa ia hendak mencapai orgasme. Kusedot terus.

"Haaaan, ya Tuhaaaan, aku mau sampaai," pekik Cynthiara menggelinjangkan badannya. Aku kembali menjilati dan menempel bibirku lalu menyedotnya.

"Aaaakuuu, aaaah, sampaaai," teriaknya keras. Badannya menegang dengan cepat, dari vaginanya mengucur cairan bening merembes ke bawah sampai membasahi buah dadanya. Badannya berkelonjotan. Kubiarkan โ€” aku meremas buah dadanya yang basah sambil meremas pantatnya. Kubiarkan tubuh itu melemas tanpa tulang, wajahnya menelungkup di atas penisku. Nafasku memburu sangat cepat. Kuserongkan badannya dan kujatuhkan ke sofa โ€” Cynthiara kini bersandar kepala di atas penisku yang menempel di telinga kirinya.

"Makasih, Han. Sudah lama aku nggak ginian โ€” enak sekali. Kamu mau kan kalau aku minta ngeseks sama kamu lagi?" tanya Cynthiara sambil membuka matanya.

"Why not," jawabku singkat.

"Oke, Han. Nanti kita lakukan penuh kemesraan. Tak kukira, Han โ€” dulu kamu orangnya polos, kini ternyata sudah jago menaklukkan cewek. Kamu biasa ngeseks sama siapa? Pacarmu?" selidik Cynthiara sambil tersenyum, lalu bangun duduk di sampingku.

"Pacar aja deh," jawabku bercanda.

"Pastilah pacarmu ketagihan sama kamu. Aku sendiri juga makin ketagihan sama permainanmu tadi. Sini penismu โ€” aku masukkan ke vaginaku ya."

"Oke, Cut Cynthiara," jawabku sambil memegang pinggangnya. Ia hendak mendudukiku. Kedua kaki Cynthiara melebar, penisku dipegangnya lalu ditusukkan ke belahan vaginanya yang merekah.

"Pelan-pelan ya, Han. Akan terasa sesak di dalam lubangku โ€” sudah lama nggak dimasuki penis. Tapi kalau penis sebesar ini yang akan masuk... duuh, beruntung sekali aku pagi ini. Ada orang mau menolong, eh malah dapat bonus seks. Siapa wanita yang nggak suka?" ujar Cynthiara sambil menciumi pipiku kanan kiri, lalu menekan selangkangannya pada penisku. Penisku mulai menerobos dengan mantap, pelan-pelan masuk sampai kepala tertahan karena sesak.

"Oh no no no, besar sekali. The biggest penis, Han," pekik Cynthiara meringis kesakitan ketika penisku mili demi mili tergerus masuk ke vaginanya yang sempit. Namun ia seakan lapar karena lama tak disetubuhi sehingga memaksakan diri memasukkan lebih dalam. Aku sangat kesakitan kalau dipaksa tenggelam semua โ€” aku mengelus-elus pahanya untuk memberikan rangsangan, kedua tangannya menopang ke pundakku.

"Auuuuh, Han. Sakit sekali. Tahan ya," tukas Cynthiara sambil berhenti, membuka matanya, geleng-geleng kepala, lalu tersenyum padaku.

"Gimana?" tanyaku sambil terus memberikan rangsangan ke pahanya naik ke pantatnya, mengelus punggungnya pelan-pelan.

"Hhsss. Besar sekali. Hhmm. Kamu wajib giniina aku, sayaaang," ujar Cynthiara sambil menekan kembali setelah beberapa kali menarik nafas dalam. Penisku kembali bergerak masuk mili demi mili.

Kami berjuang lama untuk menenggelamkan penisku lebih dalam โ€” bercucuran keringat, penuh perjuangan. Tiba-tiba Cynthiara menekan dengan tenaga besar, entah bagaimana penisku langsung amblas sampai mentok, membuat kami berdua terpekik bersamaan. Cynthiara mendongak ke belakang dan langsung kupeluk.

"Haaiiih, aaaauuuu," pekik kami berdua. Bagian atas vagina Cynthiara menggelembung karena penisku yang besar. Dengan menguasai badannya ia memelukku erat, menghujani ciuman di pipi kananku, mengecupku, lalu menarik badan dan berhadapan denganku.

"Genjot ya," kata Cynthiara dengan yakin, lalu bergerak naik dengan pelan. Batangku terasa dijepit luar biasa di dalam vaginanya.

Gerakan naik-turunnya semakin lancar. Penisku yang awalnya seret menjadi lancar setelah Cynthiara berulang kali bergerak naik-turun. Bunyi kecipak alat kelamin kami semakin keras.

"Haaan, ahha, hhh, aaaah, sayaaang teruus. Ayo," ajak Cynthiara yang bergerak naik-turun di atas selangkanganku, buah dadanya ikut bergerak seiring goyangan.

"Iya, sayang. Ayo, Cyn. Teruus. Lebih cepat," ajakku.

Cynthiara bergerak lebih cepat. Batangku keluar-masuk semakin lancar. Setiap kali mentok ke dinding terdalam vaginanya Cynthiara menjerit berulang-ulang, matanya dipejamkan menikmati hujaman penisku. Pantatnya kuremas sambil mengontrol genjotan Cynthiara.

Lima menit lebih kami saling memacu dengan posisi duduk ini. Aku meladeni genjotan Cynthiara tidak kalah cepat.

"Ganti gaya, Han, ganti," pekik Cynthiara sambil berhenti dan menarik selangkangannya. Batangku dilepas dengan paksa disertai pekikan kecil. Habis itu Cynthiara langsung menungging di sofa sebelahku, memberikan vaginanya. Aku bergerak di belakangnya lalu memasukkan batangku โ€” dengan mantap kumasukkan pelan namun bertenaga, kutarik dan kutekan lagi sampai akhirnya amblas disertai teriakan Cynthiara.

"Aaaaaaaaaauuuuh," erang Cynthiara merasakan batangku amblas sampai mentok. Aku langsung mengenjotnya maju-mundur โ€” batangku terasa diremas dengan hebat. Aku kemudian berhenti dan menarik batangku lalu mengocok sendiri. Melihatku mengocok, Cynthiara langsung berubah posisi dan memegang tanganku.

"Kok dikocok?" tanya Cynthiara.

"Aku mau muncrat. Kalau tidak dikocok lama, aku ingin menyemprot vaginamu dengan spermaku," kataku sambil mengocok cepat. Tak berapa lama Cynthiara mengambil alih, mengocok batangku cepat-cepat, lalu memasukkan batangku ke dalam mulutnya, disedot sekuatnya, dikeluarkan, dan dikocok lagi sangat lama.

"Sudah, rebahan," perintahku sambil mendorong Cynthiara. Ia langsung mengangkang dan memamerkan vaginanya.

Aku memasukkan batangku dengan segera. Pelan-pelan kutusukkan, masuk dengan lancar. Kutekan terus sampai mentok, lalu langsung mengenjot maju-mundur. Cynthiara menjerit-jerit ketika aku menggenjot sangat cepat.

"Aduuuuh, Han, aaaah, aaauh," jerit Cynthiara ketika aku penuh nafsu menggenjotnya sambil meremas buah dadanya.

Aku terus bergerak โ€” sudah lebih dari lima menit, aku sudah tidak tahan.

"Sayaaang, aaaah. Aku mau sampaaai," jerit Cynthiara sambil memejamkan mata keenakan.

"Sama."

"Yang keraasss," teriak Cynthiara.

Aku mengenjotnya lebih keras berulang-ulang. Jepitan vaginanya semakin sempit. Mata Cynthiara membuka lalu melotot ketika aku dengan kasar menghujamkan batangku.

"Nggak tahaaan, aah," pekik Cynthiara sambil merapatkan jepitan kakinya. Aku menghujam lagi โ€” Cynthiara meronta mendapatkan orgasme, tangannya yang memegang lenganku mencakar dengan kuat. Penisku masih menghujam keluar-masuk. Tubuh Cynthiara menegang dengan mata mendelik dan memuncratkan cairan orgasmenya membasahi penisku dengan keras. Ia menegang cukup lama โ€” kali ini cairan orgasmenya ambrol sangat banyak membasahi sofa.

Aku juga hampir mencapai orgasme. Mengenjot dengan kuat dan cepat, aku memejamkan mata erat-erat.

"Akuuu, sudaaaah," lenguhku sambil menembakkan air maniku ke dalam rahim Cynthiara hingga menegang kaku.

"Craaat, craaat, craaat, craaat." Lebih dari tujuh kali aku menyemprotkan air maniku sampai meleleh keluar. Tak kuat lagi, aku ambruk ke depan menindih Cynthiara. Lemas dengan cepat dalam pelukannya. Kedua tangannya memelukku erat. Kami berdua diam, merasakan sisa-sisa orgasme โ€” selangkangan kami sangat basah oleh cairan orgasme masing-masing. Kupeluk Cynthiara erat dan kucium lehernya.

Tak berapa lama Cynthiara menekan dadaku dan mendorongku.

"Bangun deh, aah," sungutnya. Aku bangun dan menarik batangku โ€” terlihat ceceran air mani sangat banyak. Ketika batangku keluar dari vagina Cynthiara, sperma menetes banyak sekali. Cynthiara yang melihat sendiri sampai melotot, bibirnya bergetar, sulit mengucapkan kata-kata, baru setelah menghela nafas bisa berbicara.

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’