18px

Cyntia, Mahasiswi Itu

Cyntia, Mahasiswi Itu

Masih terlalu hangat untuk diingat kembali kenangan manis ini. Selalu terbayang meski di tengah kegelapan malam. Semakin dingin kurasakan, semakin menghentak sanubari ini. Begitu indah untuk dilupakan.

Hari belum begitu siang, malah baru menanjak. Langit kota Jakarta sangat cerah. Awan putih membela sepanjang cakrawala. Waktu menunjukkan hampir pukul 10.00. Aku sudah mesti siap-siap menjemput adikku yang akan datang dari Surabaya. Maklum adik cewek, jadi mesti dijemput. Biasalah, di kota besar seperti Jakarta ini banyak sekali orang iseng, termasuk pelaku kriminal. Huh, sebel deh bila ingat semuanya itu. Polisi pun kadang tidak berkutik sama sekali.

Adikku kuliah di sebuah perguruan tinggi terkenal di daerah Jakarta Barat. Dia kos di sekitar kampusnya, Grogol. Yang ingin aku ceritakan ini bukanlah mengenai kota Jakarta atau adikku, terlebih diriku. Kalau kamu melihat saya, mungkin tidak akan percaya bahwa saya menyimpan cerita-cerita yang mengasyikkan yang sebenarnya tidak boleh diceritakan. Hihihi.

Suatu hari saya nyasar di sebuah situs cerita dan saya berpikir, mengapa tidak saja saya posting kisah menarik ini? Toh orang lain juga tidak akan tahu saya siapa. Itulah salah satu alasannya, dan saya harapkan ini bisa memberikan penghiburan bagi semuanya. Kalau bagus ya simpanlah dalam hati, kalau kurang bagus ya lupakanlah, oke?

Saya cukup tinggi, 173 cm, 64 kg. Tidak terlalu putih dan saya selalu bangga akan hal itu — sebab putih bagi saya bagaikan mayat atau singkong kupas kulit. Saya memang pure Chinese. Badan saya langsing tetapi tidak tipis. Suka fitness, berenang, dan lari pagi. Six-pack mulai kelihatan di tubuh saya. Pokoknya dari luar tidak bikin orang kecewa. Apalagi memang banyak gadis-gadis suka padaku. Kok aku jadi malu ya melanjutkan kisah ini.

Begini. Saya ingin mengisahkan kisah pribadi saya dengan dia. Dia adalah mahasiswi di kampus adik saya kuliah. Tinggi 167, berat 55 kg, rambut panjang, Chinese — dan mohon maaf, saya rahasiakan nama dan data dirinya demi privasi kita semua. Dia cukup cantik dan manis, atau mungkin lebih bagi orang lain. Kalau saya bilang cantik maka cantik, sebab saya bisa menilai orang apa adanya.

Waktu itu saya tiba di kos adik saya setelah menjemputnya. Saya jarang masuk ke kos putri karena pantangan. Jujur saja, saya orangnya baik dan rumahan. Pernah sekali pacaran tetapi putus karena ya apalagi jika bukan selingkuh — bukan saya lho, tapi pacar saya. Mungkin saya kurang genit atau apalah, saya tidak tahu. Yang pasti, aku orangnya baik dan sopan. Banyak tante-tante juga suka padaku. Wah, kelihatan aku menyombongkan diri ya? Enggak lah, aku bicara apa adanya. Aku kerja di perusahaan konsultan ternama, dan seperti layaknya eksekutif biasanya — rapi, celana katun, dan selalu pakai dasi. Memang saya belum punya mobil, tetapi saya tidak pernah merasa kecil hati.

Saya selalu percaya diri dengan diri saya sendiri. Tamatan Trisakti, pandai, suka bercerita dan penuh humor. Teman-teman bilang aku baik, baik cewek maupun cowok. Kalau pintar dan tulus, wah nggak usah dibandingin deh. Hahahaha.

Setelah sampai di kos, adikku berkata, "Ko, santai aja lagi. Nggak ada siapa-siapa juga. Anak-anak pada liburan dan belum balik."

Aku melihat sekeliling dan memperhatikan satu per satu pintu kamar kos. Wah asyik juga ya kos cewek, pikirku. Di dinding pintu tertulis kata-kata lucu dan unik, ada gantungan karikatur dan boneka. Kuperhatikan baik-baik. Ada yang tertulis: "Cowok dilarang masuk kecuali cowokku", "Cyntia Imoet = cinta monyet" (tambahan coretan iseng), "Maria", "No. 5 ini cewek macan — hati-hati bisa gigit", dan sebagainya. Aku sempat tertawa dalam hati dan berbisik, "Wah pasti cakep-cakep nih cewek di sini. Hahaha." Habis lucu.

Pada waktu adikku masuk ke kamarnya, kudengar seorang gadis manis keluar kamarnya. Karena aku cowok, ya aku perhatikan siapa yang keluar. Ternyata dari kamar yang bertulis "Cyntia Imoet".

Tahu nggak? Pada waktu dia keluar, aku sempat kaget dan dia juga kaget. Karena dia cuma pakai celana dalam dan kaos ketat — namun hanya pahanya yang mulus yang terlihat, sebab kaosnya panjang sekali. Kebayang nggak sih? Aku cowok dan bisa membayangkan tubuhnya yang indah, benar-benar indah dan putih. Dia Chinese juga. Saya pastikan dia memang cuma pakai celana dalam tanpa celana pendek.

Pada saat dia membuka pintu dan kaget, dia berseru, "Aduh, sorry Ko, kirain cuma ada Luci." — nama samaran adikku. "Sorry ya."

Buru-buru dia menutup pintu. Aku juga tidak enak hati dan malu. Tetapi tiba-tiba "viktor" aku berjalan kencang. Tahu nggak viktor? Pikiran kotor maksud saya.

Aku jadi tidak enak kalau lama-lama di sana. Kuperhatikan sekeliling kamar — ternyata memang sepi. Yang ada penghuninya cuma kamar adikku dan kamar Cyntia. Lama aku bengong dan ingin pamit buru-buru sama adikku. Habis gara-gara aku, Cyntia bisa ngumpat selamanya. Kan malu, biasalah cewek.

Pada saat aku mau pamit pulang, tiba-tiba pintu kamar Cyntia terbuka dan dia keluar dengan senyum sumringah, masih dengan celana pendek dan kaos ketat tadi. Kupikir dia pasti pakai celana panjang atau menunggu aku pergi baru keluar. Ternyata tidak, dia keluar agar terlihat biasa saja — dan dia pandai bermain sikap. Masih dengan celana pendek supaya pahanya yang putih dan betisnya terlihat. Aku tambah tidak enak hati waktu dia keluar dan berkata, "Ko, sorry ya. Tadi nggak tahu ada Koko."

Aku diam saja dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. "Nggak papa lagi. Emang ada apa ya?"

Cyntia tersenyum. "Iya ya, nggak papa juga kok."

Senyumnya terus menebar. Giginya putih rata. Pada saat dia melewatiku ke kamar adikku, wangi tubuhnya begitu memikat dengan aroma khas parfum cewek. Aku sempat menelan ludah dan "viktor" mulai hidup kembali. Mohon maaf bagi yang bernama Viktor.

Cyntia tidak masuk ke kamar adikku, melainkan cuma berdiri di pintu kamar dan berbasa-basi dengan adikku, Luci. Kuperhatikan dari belakang — pantatnya yang berisi dan pahanya yang mulus. Saat itu juga "adikku" mulai bangun dan keras sekali. Sempat kuberpikir, andaikan tidak ada orang dan dia mau kuajak ML, pasti akan aku puaskan dia. Benar-benar aku tidak tahan waktu itu. Mana bisa tahan dengan wajahnya dan tubuhnya yang ranum? Aku sempat berpikir andai bisa kujilati pahanya yang mulus dan putih sampai ke pusarnya. Wah asyik sekali.

Pada saat saya berpikir begitu, Cyntia berbalik ke aku dan berkata, "Ko, kok bengong aja? Masuk dong ke kamar Lucia, masa duduk aja di situ?"

Saya sempat terperanjat dan hanya menebar senyum. Cyntia senyum kembali. Sejak saat itu aku bisa memastikan bahwa Cyntia benar-benar suka pada aku, dan kayaknya cewek ini bisa didekatin. Pada saat saya selesai berpikir demikian, Cyntia berkata, "Lus, tahu nggak? Semalam kita clubbing..."

Wah, pada saat dengar kata "clubbing" aku pastikan 100 persen cewek ini bisa diajak keluar dan tidak tertutup kemungkinan diajak ML. Dan ternyata benar pikiran aku.

Dua Minggu Kemudian

Seperti yang sudah saya katakan, aku orangnya rumahan dan sopan. Namun dua minggu kemudian adikku SMS aku: "Ko, datang ke kost. Kom rusak. Pls buruan."

Karena adik butuh bantuan, saya cepat-cepat datang tanpa berpikir panjang. Aku masih takut kalau nanti ketemuan cewek lain lagi dan kejadian dua minggu lalu terulang — habis biasanya di kos cewek mereka santai dan berpakaian seksi sekali. Bagi mereka sih biasa, tetapi bagi cowok kan luar biasa.

Pas aku sampai di kamar adikku, ternyata sudah ada Cyntia. Kali ini dia berkaos ketat. Dia sudah seperti putus asa membantu adikku. Begitu aku datang, dia yang menyapa aku dan menebar senyum.

Aku segera duduk dan jongkok mencari kira-kira apakah ada kabel yang putus atau apa. Cyntia ikut juga, dan tanpa sengaja tangannya bersentuhan dengan tanganku. Terasa ada getaran yang berbeda. Kulitnya begitu halus dan benar-benar membuat aku tidak bisa berkonsentrasi. Dia malah tersenyum saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku berpikir, "Wah nih cewek pura-pura juga ya. Nanti kalau sudah aku dapatkan, pasti kubuat dia meriuk dalam kegelisahan dan kenikmatan."

Begitu kedapatan kabel ada yang putus, si Cyntia malah berseru, "Koko hebat deh! Jadi pengen punya koko seperti kamu."

Giginya yang putih dan wajahnya yang bersih terlihat jelas. Kali ini aku memandang wajahnya sedemikian dalam dan langsung menebus bola matanya. Dia terdiam dan aku mendesah.

"Ah, selesai juga kerjaan aku."

Cyntia mulai memasang aksi. Dia mulai bertingkah dan cari perhatian. Aku tahu hal itu. Setelah acara siang itu selesai, aku pamit. Pada saat aku turun sendirian, ternyata diam-diam Cyntia mengikutiku. Pas di lantai dua, begitu tidak ada orang, Cyntia mempercepat langkahnya dan berkata, "Ko, sorry ya, tadi aku menggoda Koko." Pada saat itu napasnya mendesah dekat dengan aku, khas wanginya. "Kapan-kapan Koko main ke sini ya, biar nggak ada Luci." Aku angguk kepala dan menyentuh pundaknya. "Oke, kamu SMS Koko aja ya."

Tiga Hari Kemudian

Ponsel aku berdering, ternyata miscall. Aku balik SMS: "Sapa nih, isengin ya? Tar aku sumpahin bulu keteknya tambah lebat. Hihihi."

Tak berapa lama SMS balasan muncul: "Jahat! Ini aku Ko, Cyntia. Aku kangen sama Koko. Nggak deh, bercanda (",)"

Aku balas lagi: "Ko juga kangen. Ko ke kost kamu ya?"

SMS: "Jangan, Cyntia belum di kost. 10 menit lagi ya Ko, Cyntia di kampus."

"Oke. CU there."

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya