18px

Dewi Persik dan Sopirnya

Dewi Persik dan Sopirnya

Siang itu Dewi Persik harus menghadiri sidang perselisihannya dengan mantan manajer kepercayaannya, Asep Komarudin. Sidang itu memakan waktu, pikiran, dan perasaan Dewi yang memang sering sekali mendapat masalah dalam kehidupannya. Sidang siang itu selesai sekitar dua jam dan membuat Dewi merasa kelelahan — baik badan maupun otaknya. Bagaimana tidak, Asep yang dituntut Dewi tiga ratus juta berbalik menuntut Dewi tiga triliun atas dakwaan pencemaran nama baik.

Saat perjalanan pulang, pikiran Dewi bercampur aduk. Ia merasa seperti sendiri tanpa orang yang dicintai mendukungnya. Kalau dulu ketika ia merasa capek, ada Saipul Jamil yang selalu menghilangkan rasa jenuhnya — salah satunya dengan memuaskan Dewi melalui hobi bercinta. Dewi selalu meminta Saipul melayani nafsunya yang cukup besar sampai benar-benar puas. Tanpa disadari, Dewi melamunkan semua kenangan selama di sisi Saipul, mulai dari permainan oral seks Saipul sampai dengan genjotannya yang cukup hebat. Sayang, ketidakcocokan dalam rumah tangga menyebabkan cerai menjadi pilihan terakhir, belum lagi ditambah orientasi seks Saipul yang ternyata juga menyukai sesama jenis. Saipul dikabarkan sering mengunjungi kos khusus pria tempat tinggal seorang pria yang digosipkan sebagai pacar gay-nya.

Berbagai masalah datang bertubi-tubi pasca perceraian dengan Saipul — mulai dari pelecehan seks oleh seorang fans yang memegang payudaranya, gosip-gosip miring, protes dari kalangan yang terusik dengan aksi panggungnya, hingga masalah dengan mantan manajer yang sekarang ini. Lamunan panjang Dewi terpecahkan oleh suara sopir pribadinya, Pak Abdul, yang sudah dipercaya Dewi selama kurang lebih dua tahun.

"Mau kemana lagi, Non?" tanya Pak Abdul.

"Bawa saya jalan-jalan keliling Jakarta, Pak. Saya suntuk di rumah terus, lagi banyak pikiran," kata Dewi.

"Siap, Non." Pak Abdul langsung tancap gas.

Mobil pun dibawa Pak Abdul melaju perlahan mengelilingi kota Jakarta. Selama satu jam melaju, pikiran Dewi selalu menerawang bayangan-bayangan imajinasi karena memang ia merasa cukup lama tidak merasakan sentuhan laki-laki. Setelah bercerai, ia selalu masturbasi untuk memuaskan nafsunya. Imajinasi Dewi kembali terganggu oleh suara sopir pribadinya.

"Lagi melamun apa, Non?" tanya Pak Abdul. "Kalau Non butuh tempat cerita, saya siap kok — barangkali saya bisa sedikit meringankan beban Non Dewi."

"Terima kasih, Pak. Saya memang butuh tempat bersandar," jawab Dewi. "Sepertinya semua orang menjauhi dan membenci saya, Pak."

"Ah, itu kan hanya perasaan Non Dewi. Siapa sih yang mau jauh-jauh dari perempuan secantik dan sesexy Non Dewi? Bahkan kalau saya jadi artis dan ganteng, saya pasti mendekati Non Dewi," sambungnya.

"Ah, Pak Abdul bisa saja. Saya merasa butuh pendamping lagi, Pak. Saya sudah capek sendiri terus," jawab Dewi. "Saya kan masih muda, Pak. Jadi Pak Abdul kan tahu gelora anak muda gimana. Ups, maaf ya Pak kalau saya agak menjurus," timpal Dewi sambil tersenyum malu karena sadar yang diajaknya ngobrol adalah sopirnya sendiri.

"Nggak apa-apa, Non. Teruskan saja. Gini-gini saya lebih berpengalaman dari Non Dewi. Barangkali saya bisa sedikit membantu. Anggap saja saya seperti orang tua Non sendiri — saya pasti akan jaga rahasia Non Dewi," sahut Pak Abdul, sambil membaca bahwa ada kesempatan emas untuk menelusuri lebih dalam tentang majikannya yang cantik itu.

Dewi pun mengiyakan dan terus mengeluarkan uneg-unegnya kepada lelaki yang usianya seperti orang tuanya itu. Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, Dewi meneruskan ceritanya.

"Bener ya, Pak, bisa jaga rahasia? Oke deh. Sebenarnya saya ini sangat merindukan sentuhan laki-laki, Pak, karena nafsu seks saya itu besar. Tapi saya belum siap untuk menikah lagi karena masih mencintai Bang Ipul."

"Lantas selama ini gimana cara Non melampiaskan... maaf, nafsu Non Dewi?" tanya Pak Abdul semakin berani.

"Ya saya masturbasi, Pak. Tapi itu semua nggak bisa memuaskan saya. Bahkan sepertinya saya sudah lupa bentuk titit." Sahut Dewi sambil bercanda. Ia tersenyum malu-malu mengeluarkan pengakuan itu.

Pak Abdul dan Dewi sama-sama diam sejenak, terbawa lamunan masing-masing — dan yang pastinya sama-sama melamun ke arah yang sama. Tanpa sangka, Pak Abdul membayangkan bisa merasakan majikannya sampai tanpa sadar penisnya mulai membesar dan ngaceng. Perubahan itu tidak luput dari pandangan Dewi yang memang sedari tadi juga membayangkan pengalaman bercinta dengan seseorang yang sudah berpengalaman seperti Pak Abdul.

"Ya ampuun, Pak Abdul membayangkan apa kok sampai berdiri tegak gitu?" tanya Dewi.

"Ups, maaf, Non. Saya jadi malu. Saya tadi lupa tidak pakai sempak, trus saya membayangkan... ehm..."

"Membayangkan apa?" desak Dewi.

"Tapi Non janji ya, nggak akan marah?"

"Iya, saya janji nggak akan marah."

"Sebenarnya saya membayangkan bisa bercinta dengan Non Dewi. Tapi itu jelas nggak mungkin kan, Non? Jangan marah ya."

"Ah, nggak kok. Lagian wajar dong kalau laki-laki pengen sama cewek. Tapi emangnya Pak Abdul masih kuat bercinta? Jangan-jangan ejakulasi dini lagi," kata Dewi sambil bercanda.

Pak Abdul dengan cepat membaca kesempatan yang muncul di depannya.

"Saya masih kuat bercinta tiga puluh menit tanpa berhenti, lo, Non. Nggak percaya?" tanya Pak Abdul.

"Bisa buktiin, nggak?" tanya Dewi yang sudah mulai tidak sadar bahwa yang diajaknya bicara adalah sopirnya yang sudah berusia lima puluh tahun. Birahinya sudah naik gara-gara melamunkan bercinta.

"Lihat aja ini, Non," jawab Pak Abdul sambil mengeluarkan penisnya yang sudah tegak berdiri, tanpa canggung, di hadapan majikannya.

"Wow, besar amat, Pak. Itu asli, kan?" tanya Dewi kagum melihat penis Pak Abdul yang ukurannya kira-kira tujuh belas sentimeter dengan diameter tebal dan urat-urat yang menjolor kekar.

"Coba saja, Non. Pegang — kira-kira asli nggak?"

"Boleh nih saya pegang?"

"Silakan, tuan putri. Rudalku ini milikmu sekarang," jawab Pak Abdul.

Tanpa rasa canggung dan malu, Dewi pun memegang dan mengocok perlahan penis sopir pribadinya. Nafsunya sudah menguasai dirinya. Ia lupa bahwa ia adalah artis kelas atas dan penis yang ia pegang adalah milik sopir pribadinya yang berbeda kasta dengannya.

"Ugghh," Pak Abdul melenguh panjang ketika Dewi Persik memainkan penisnya.

"Non, kita cari tempat sepi dulu ya, takut dilihat orang," sela Pak Abdul.

Dewi Persik mengangguk tanpa menjawab. Pak Abdul menghentikan mobil di tempat sepi yang sudah ia hapal karena sering membawa langganannya ke sana.

"Silakan dilanjut, tuan putri," Pak Abdul memberi kode.

"Puaskanlah aku, Pak. Aku milikmu sekarang," jawab Dewi Persik dengan suara serak-serak basah khasnya.

Tanpa pikir panjang Pak Abdul langsung melucuti celananya sendiri sehingga terpampang penis besarnya. Dengan otomatis Dewi langsung meraih penis tersebut dan berkata, "Are you ready to feel heaven, Pak Abdul?" Tanpa menunggu jawaban, Dewi langsung memasukkan penis itu ke mulutnya.

"Aghhh, sedot ya, sayang. Enak banget," Pak Abdul merasa kelonjotan menikmati sepongan Dewi yang top habis.

Tangan Pak Abdul tak tinggal diam. Ia mulai meraba-raba payudara majikannya dan melucuti pakaian Dewi satu persatu. Dengan tangan gemetar, Pak Abdul membuka pakaian Dewi beserta bra-nya. Ia terkagum-kagum melihat payudara Dewi yang sintal dan padat.

"Sekarang giliran saya, tuan putri." Pak Abdul melepas sepongan Dewi dan mendorong majikannya itu hingga terlentang.

Dengan rakus Pak Abdul melumat payudara Dewi hingga membuatnya semakin terangsang dan kelonjotan.

"Aghhh, Pak Abdul, terus sayang," Dewi melenguh.

Tangan pria itu tak hanya tinggal diam. Sambil melumat payudara Dewi, tangannya bergerilya di balik roknya. Lalu ia melepaskan mulutnya dari payudara Dewi dan melucuti rok mini sekaligus celana dalam pink Dewi.

"Ohhh, memekmu bagus dan masih rapih, sayang," Pak Abdul terkagum-kagum melihat vagina Dewi yang ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat tapi rapih.

Tanpa pikir panjang Pak Abdul langsung melumat vagina Dewi tanpa rasa jijik. Serangannya membuat wanita itu semakin kelonjotan.

"Ohhh, trushhh, sayanggg, enakh, ohhh," Dewi melenguh dengan suara khasnya. Pak Abdul yang memang berpengalaman dalam urusan bercinta memainkan lidahnya dengan jitu di klitoris Dewi Persik, sedangkan jari tengahnya menerobos lubang vagina Dewi. Aroma khas vagina segera masuk ke hidung Pak Abdul — justru membuat dia semakin bernafsu. Sekitar lima menit permainan lidah Pak Abdul membuat Dewi akhirnya mencapai orgasme pertamanya.

"Agh, agh, aku keluar Pak. Aghhh," lenguh Dewi panjang meresapi kenikmatan yang melanda tubuhnya.

"Masukin aja, Pak. Saya udah nggak tahan lagi," pinta Dewi Persik.

"Iya, sayang. Kamu sekarang nungging ya."

Dewi pun menuruti Pak Abdul dan mengambil posisi nungging. Tampaklah lubang anus Dewi yang berwarna kemerahan. Pak Abdul tanpa rasa jijik langsung menjilatinya. Setelah puas, Pak Abdul langsung mengarahkan rudalnya ke vagina majikannya itu.

"Pelan-pelan ya, sayang," pinta Dewi tanpa malu-malu memanggil sopirnya dengan "sayang."

"Iya, sayang," jawab Pak Abdul cengengesan.

"Ughhh, gila, Bapak dahsyat banget," Dewi merasakan penis Pak Abdul memenuhi vaginanya.

"Memekmu juga nikmat banget."

Perlahan Pak Abdul mulai menggenjot vagina Dewi Persik yang mulai becek dengan posisi menungging.

"Agh, agh, uh, oh." Dewi merasa akan orgasme kembali.

"Ahhh, aku keluar, sayang. Ohhhh."

Dewi orgasme untuk yang kedua kalinya, dan Pak Abdul merasakan denyutan vagina Dewi seolah-olah akan memakan habis penisnya.

"Sekarang giliran aku yang mengendalikan dan menservice penismu," kata Dewi sambil merubah posisinya ke atas Pak Abdul.

Tangan Dewi meraih penis Pak Abdul dan mengarahkan ke vaginanya.

"Aghhh," Dewi Persik menikmati penis itu memenuhi vaginanya.

"Ohhh," Pak Abdul pun merasakan seperti di surga.

Dengan lincahnya Dewi lalu menggenjot penis Pak Abdul. Ia mengombinasikan genjotannya mulai dari mengebor hingga genjotan patah-patah seperti ketika menari di atas panggung. Tangan Pak Abdul tak tinggal diam — ia meraih payudara montok yang bergoyang-goyang mengikuti goyangan Dewi. Setelah puas dengan payudara, ia meraih pantat Dewi yang sintal, dan jarinya menyusup ke lubang pantat Dewi.

"Awww, pelan-pelan dong, Pak," pinta Dewi.

"Maaf, sayang. Aku cuma pengen tanganku ada aroma pantatmu," jawab Pak Abdul.

Sekitar lima belas menit goyangan Dewi di atas penis Pak Abdul membuatnya mengalami orgasme ketiganya.

"Aku mau keluar lagi, sayang. Ohhhh."

"Aku juga, sayang. Kita keluarkan bareng ya."

"Ahhh, ahhh." Dewi Persik melenguh panjang menikmati orgasme ketiganya yang sangat dahsyat.

"Ohhhhh, aku juga keluar, sayang. Ahhh. Crot, crot, crot." Pak Abdul orgasme di vagina Dewi.

Mereka berpelukan mesra menikmati sisa-sisa kenikmatan itu. Nafas mereka saling memburu hingga akhirnya mulai normal lagi.

"Bapak hebat juga, ya," kata Dewi dengan lemas lalu mencium bibir sopirnya itu.

"Iya dong. Abdul!" kelakarnya. "Siapa yang nggak nafsu sama Non Dewi yang seksi gini?" Ia mencubit puting Dewi dengan gemas. Sejak dulu ia selalu bermimpi bisa menikmati tubuh majikannya bila melihat aksi panggungnya yang menggoda, baik di TV maupun secara live. Kini impiannya itu telah menjadi kenyataan.

Pak Abdul kembali melumat bibir Dewi yang seksi — kali ini lebih lama dan lebih bergairah. Lidah mereka beradu dengan panas, saling belit dan saling hisap. Sambil berciuman, tangan kasar Pak Abdul tak henti-hentinya menjelajahi tubuh mulus Dewi. Sentuhan-sentuhan erotis Pak Abdul kembali menaikkan birahi Dewi. Dengan gaya nakal ia mendorong dada bidang pria setengah baya itu hingga telentang di jok belakang. Setelahnya ia menaiki wajah pria itu sambil tangannya memegang penis pria itu yang mulai mengeras lagi. Mereka kini dalam posisi 69.

"Jilat ya, Pak. Puasin Dewi. Aahhh!" Sebelum Dewi menyelesaikan kata-katanya, lidah pria itu sudah lebih dulu menyapu bibir vaginanya.

Dewi meresponnya dengan menjilati kepala penis Pak Abdul. Lidahnya menjilati bagian yang disunat dan lubang kencingnya. Aksinya itu membuat tubuh Pak Abdul bergetar dan mulutnya mengeluarkan lenguhan nikmat. Bukan hanya menjilat, jari-jari pria itu juga aktif menusuk-nusuk vagina maupun duburnya. Dewi merasakan vaginanya semakin lama semakin basah saja karena jilatan sopirnya. Seiring birahinya yang semakin tinggi, janda muda itu semakin bersemangat mengoral penis dalam genggamannya. Dihisapnya benda itu kuat-kuat, kepalanya nampak turun-naik, mulutnya sampai kempot menghisapi penis itu. Tangannya yang halus dan berjari lentik memijati buah pelirnya, menambah kenikmatan ekstra bagi pemiliknya.

Puas dengan saling mengoral kelamin pasangan masing-masing, Dewi turun dari wajah Pak Abdul dan naik ke selangkangannya. Ia memegang penis pria itu dan mengarahkan ke vaginanya.

"Ooohh, enak, Pak!" Kepalanya menengadah sambil mengeluarkan desahan menggoda saat ia menurunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk ke dalam vaginanya yang sudah basah kuyup.

Kedua tangan Pak Abdul mencaplok sepasang payudara montok Dewi dan meremasinya. Sebentar kemudian, Dewi sudah mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas penis itu. Pak Abdul melenguh merasakan bibir vagina janda muda itu mengapit penisnya dan dinding-dinding bergerinjal di dalamnya menggeseki penisnya. Goyangan naik-turun Dewi semakin liar dan desahannya pun semakin tak karuan. Dewi dapat melihat dari kaca jendela mobil, dari jarak tidak terlalu jauh, mobil-mobil lain lalu-lalang dengan bebasnya. Ada rasa takut juga kalau kepergok seseorang sedang dalam keadaan begini, apalagi dirinya adalah public figure. Kalau ketahuan, tentu infotainment akan heboh memberitakan Dewi Persik tertangkap basah sedang main mobil goyang bersama sopirnya.

Namun bercinta dalam situasi berisiko ini juga mendatangkan kenikmatan tambahan bagi Dewi — petualangan penuh tantangan di tengah kejenuhan dan berbagai permasalahan hidupnya. Lagipula tempat ini cukup terlindungi karena posisinya agak tinggi dan banyak pepohonan. Ia pun semakin cepat menaik-turunkan tubuhnya. Desahan keduanya memenuhi mobil. Dewi mencondongkan badannya lebih ke depan sehingga payudara montoknya mendekati wajah Pak Abdul — tanpa diminta, pria itu langsung melumat gunung kenyal itu. Tangannya meremas bongkahan payudaranya dan mulutnya menggigit-gigit kecil putingnya. "Clep, clep, clep" — suara vagina Dewi yang becek bergesekan dengan penis besar sopirnya. Cairan kewanitaan Dewi semakin banyak sehingga penis Pak Abdul pun semakin lancar keluar-masuk vaginanya.

Seperempat jam lebih Dewi menaik-turunkan tubuhnya dengan liar dalam posisi woman on top hingga akhirnya tubuhnya semakin mengejang. Gelombang kenikmatan itu menyebar ke seluruh tubuh, menyebabkan tubuh sintalnya berkelejotan dan mulutnya mengeluarkan erangan panjang. Dewi merasakan betapa liang kewanitaannya menjadi tidak terkendali, berusaha menghisap dan melahap alat kejantanan Pak Abdul yang teramat besar dan panjang itu sedalam-dalamnya. Erangan Dewi menandai orgasme dahsyat yang melandanya — ia menjerit sejadi-jadinya, tidak peduli sedang di mana ia sekarang ini. Untung mobil itu tertutup rapat dari dalam sehingga suaranya tidak keluar.

Namun Pak Abdul masih tetap tegar dan perkasa menyentak-nyentakkan pinggulnya di bawah sana. Setelah goyangan Dewi melemah, pria itu segera mengambil alih kendali dengan berguling dan menindih tubuhnya. Diciuminya wajah dan bibir Dewi sambil terus menghela pinggulnya menyetubuhi janda muda itu. Tubuh bugil mereka yang sedang bersatu padu itu pun basah dengan keringat. Dewi sungguh mengagumi keperkasaan Pak Abdul yang mampu membuatnya mencapai orgasme dahsyat itu. Tak lama kemudian akhirnya Pak Abdul tiba juga pada puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa, ia melepaskan puncak orgasmenya secara bertubi-tubi, menyemprotkan seluruh spermanya ke dalam rahim majikannya dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu alat kejantanannya tetap dibenamkannya sedalam-dalamnya di liang kewanitaan Dewi sehingga seluruh cairan birahinya terhisap dalam tubuh sang janda muda sampai titik penghabisan.

Selanjutnya keduanya terhempas kelelahan di jok belakang itu dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama mereka tergolek, alat kejantanan Pak Abdul masih tetap terbenam dalam vagina Dewi — dan Dewi pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhnya. Hening. Di dalam mobil hanya terdengar suara nafas mereka yang terengah-engah dan suara tiupan AC yang menerpa tubuh telanjang keduanya. Mereka bercium-ciuman sambil saling menggoda, menikmati momen-momen pasca orgasme sebelum akhirnya berbenah diri.

"Pak Abdul jaga rahasia ini ya," Dewi meminta kepada sopirnya setelah memakai semua pakaiannya.

"Tenang saja, Non. Yang penting saya bisa begini terus sama Non sampai Non menikah nanti," jawab Pak Abdul sambil tersenyum.

Setelah kembali berpakaian, Pak Abdul kembali ke jok kemudi. Ia menyalakan mesin dan mobil itu pun meluncur ke jalan tol. Di perjalanan, Pak Abdul dengan berani mengelus paha mulus Dewi.

"Bapak nakal ah. Udah ah, nanti dilihat orang gimana. Eemmhh!" desahnya karena tangan pria itu masuk ke roknya dan mengelusi selangkangannya dari luar celana dalam.

Wajah Dewi memerah. Nafasnya ngos-ngosan ketika sampai di gerbang tol — si penjaga tol mengenali dan menyapanya. Dewi balas tersenyum dan berusaha bersikap biasa, menutupi keadaannya yang masih terangsang dan nafasnya yang terengah-engah.

Begitulah skandal Dewi Persik dengan sopirnya. Mereka terus mereguk kenikmatan terlarang itu di mana pun dan kapan pun setiap ada kesempatan. Bahkan setelah Dewi menjalin hubungan dengan seorang pria bule asal Belanda, ia masih menyempatkan diri bermain gila dengan sopirnya itu. Dewi akhirnya putus dengan pacar bulenya karena merasa pacarnya tersebut tidak bisa memuaskan hasratnya yang menggebu-gebu. Si bule masih kalah dengan Pak Abdul — boleh dalam hal ukuran, tapi gaya percintaannya yang selalu gentle membuat Dewi cepat bosan. Ia lebih mendambakan gaya bercinta Pak Abdul yang tahu kapan harus bermain kasar dan kapan harus bermain lembut, ditambah sensasi liar bercinta dengan sopirnya sendiri yang tentu dianggap tabu.

Dalam benaknya Dewi berpikir, mendingan tidak usah nikah dulu biar karirnya terus menanjak — lagipula ia terpuaskan terus oleh sopir pribadinya yang berusia lima puluh tahun itu. Pak Abdul sendiri merasa semakin gembira karena berarti ia bisa menikmati tubuh majikannya lebih lama. Goyang patah-patah Dewi Persik bukan hanya bisa disaksikannya di panggung dan televisi, tapi juga dirasakannya bersama di ranjang.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya