Diperbudak Tiga Nyonya
Diperbudak Tiga Nyonya
Sebelumnya perkenalkan, aku adalah seorang pria โ sebut saja Reno โ berumur 28 tahun. Aku pria dengan wajah lumayan ganteng dan tubuh kekar, tinggi 185 cm dan berat 81 kg. Tetapi pengalaman ini terjadi tiga tahun yang lalu, saat aku masih berusia 25 tahun. Pengalaman yang sangat menyakitkan karena aku diperbudak oleh tiga orang nyonya yang haus seks sekaligus โ bukan satu hari, dua hari, atau tiga hari, melainkan selama satu minggu penuh.
Cerita bermula ketika aku baru datang dari daerahku di Sulawesi. Waktu itu aku tidak memiliki pekerjaan yang pasti dan uang yang kubawa hanya cukup untuk makan tiga hari. Aku memberanikan diri datang ke Jakarta karena kata temanku, mendapat pekerjaan di Jakarta mudah asal mau melakukan apa saja.
Ketika hari sudah malam dan sepi, sekitar pukul sembilan malam, aku sudah tidak tahu mau ke mana lagi. Tiba-tiba seorang wanita naik Mercy menghampiriku, menanyakan keadaanku, siapa namaku, dan dari mana asalku. Dari penampilannya dia terlihat baik, anggun, cantik, sopan, dan berusia sekitar 36 tahun. Dia adalah Nyonya Lenny. Setelah sedikit berkenalan, aku tahu bahwa dia seorang janda tanpa anak yang tinggal di Pondok Indah dan menjabat sebagai direktris sebuah perusahaan swasta terkenal di Jakarta.
Aku diperbolehkan tinggal di rumahnya dan bekerja sebagai sopir pribadinya โ tanpa tes apa pun. Untunglah, karena aku sudah tidak memiliki apa-apa, termasuk uang. Di rumah Nyonya Lenny aku diberi makan dan pakaian yang layak. Barang-barang bawaanku dibuang seluruhnya atas perintahnya karena ia sangat menyukai kebersihan. Aku tidak keberatan karena semua sudah diberikan oleh Nyonya Lenny โ barang bawaanku tidak penting, hanya sebuah baju dan celana yang tertinggal di stasiun waktu aku datang. Aku merasa beruntung bertemu dengannya.
Aku sudah bekerja selama dua bulan berjalan. Hari ini aku disuruh menjemput dua orang teman Nyonya Lenny di bandara. Mereka datang dari Bandung dan akan menginap kurang lebih satu minggu di rumah Nyonya Lenny. Setelah mengantarnya ke kantor, aku langsung menuju bandara. Aku tidak kesulitan menemukan mereka karena sudah memiliki foto-fotonya โ dari foto terlihat mereka nyonya-nyonya yang cantik dan muda. Yang satu bernama Lola dan yang satu bernama Lina.
Lalu mereka kuantar langsung ke kantor Nyonya Lenny. Mereka banyak mengobrol dan melepas kangen. Setelah diberitahu oleh Nyonya Lenny, ternyata Lina berumur 34 tahun dan bekerja sebagai kapten pada sebuah kantor kepolisian. Lola adalah seorang waria yang bekerja di sebuah salon kecantikan dan berumur 30 tahun; tanpa operasi, jadi masih memiliki penis, tetapi Nyonya Lola memiliki payudara. Nyonya Lenny juga berpesan agar aku menuruti perintah kedua teman nyonyanya itu seperti aku mematuhi perintahnya. Aku hanya bisa patuh dan mengiyakan.
Hari ini aku diberitahukan bahwa Nyonya Lenny harus dijemput pukul lima tepat. Para karyawan lain dipulangkan lebih cepat pada pukul tiga sore. Sekitar pukul empat sudah tidak ada karyawan lagi selain Nyonya Lenny dan kedua temannya, Nyonya Lina dan Nyonya Lola. Selama dua jam mereka berbincang-bincang serius, sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Tapi itu bukan urusanku โ aku hanya seorang sopir.
Setelah pukul lima tepat aku sudah sampai di kantor Nyonya Lenny. Dari luar terlihat sepi, tidak ada satu mobil pun. Hanya lampu di ruang kerja Nyonya Lenny yang masih menyala. Aku menuju ruang kerjanya dan mengetuk pintu.
"Silakan masuk!" terdengar suara Nyonya Lenny.
"Selamat sore, Bu," kataku menyapanya.
"Apa yang harus saya lakukan, Bu?" tanyaku.
"Hari ini kamu harus patuh kepada kami," kata Nyonya Lenny dengan nada sedikit membentak.
"Baik, Bu, saya akan patuh."
Mendengar jawabanku, mereka bertiga malah tertawa terbahak-bahak. Lalu Nyonya Lenny menyuruhku menandatangani sebuah kertas yang aku sendiri tidak tahu isinya. Karena agak takut, aku langsung saja menandatanganinya.
"Bagus sekali!!" katanya sambil mereka tertawa senang. "Ha... Ha... Ha...!!"
Setelah aku menandatangani surat yang sah karena di atas materai, mereka menyuruhku membacanya. Betapa terkejutnya aku. Di dalam surat itu tertulis bahwa aku harus sanggup dan tanpa paksaan melayani keinginan dan kepuasan seks mereka tanpa batas. Surat ini dibuat atas dasar setumpuk hutang-hutangku yang harus dilunasi. Dalam surat itu juga tertulis bahwa aku adalah budak mereka yang harus patuh. Hatiku menjerit, tapi aku pasrah. Memang selama dua bulan bekerja, aku sudah beberapa kali meminjam uang kepada Nyonya Lenny untuk dikirimkan kepada orang tuaku yang sakit dan untuk membiayai sekolah dua orang adikku.
"Nah, sekarang kamu buka-bukaan siapa kamu. Kamu adalah budak seks kami, karena kamu punya banyak utang," kata Nyonya Lenny.
"Iya, Bu," kataku pelan dan pasrah.
"Kau memang penurut. Lagi pula, kalaupun kau tidak mau, apa yang bisa kau perbuat? Semua yang kau miliki sekarang adalah milikku. Kau tidak punya apa-apa lagi, termasuk baju dan celanamu, bahkan celana dalammu pun milikku. Ha... Ha... Ha...!!" Mereka tertawa penuh kemenangan.
"Ya, Bu, saya akan patuh pada perintah Ibu."
"BUKAN IBU!!" bentak Nyonya Lenny. "Sekarang kamu harus memanggil kami dengan sebutan NYONYA! Kamu mengerti?!"
"Baik, Nyonya," kataku pelan.
Permainan akan segera dimulai. Aku hanya pasrah. Walaupun aku memiliki tubuh yang kekar dan atletis, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku takut dan harus patuh. Walaupun mau lapor ke polisi pun susah, karena Nyonya Lina adalah seorang kapten polisi yang terkenal killer.
"Baik, sekarang buka baju kemejamu!!" bentak Nyonya Lenny.
Aku segera membuka kancing kemejaku. Mereka sangat menyukai tubuhku yang atletis dan kekar โ dada dan perutku terawat dengan baik karena aku dibiayai fitness oleh Nyonya Lenny agar sehat dan bugar dalam menyetir. Setelah aku telanjang dada, Nyonya Lenny menyuruhku melepas sepatu, kaos kaki, dan jam tanganku. Lalu Nyonya Lola menyuruhku membuka celana. Aku hanya diam dan tidak menghiraukannya. Akibatnya aku kena marah Nyonya Lenny yang melempar spidol ke arahku.
"Kamu harus patuh pada temanku, Nyonya Lola! Sekarang lepas celana panjangmu!! CEPAT!!"
Melihat aku melepas celana panjangku, Nyonya Lola tertawa bahagia penuh kemenangan. Sekarang aku hanya mengenakan celana dalam berwarna putih. Mata mereka tertuju ke arah tubuh dan penisku.
Lalu Nyonya Lina menghampiriku dan memelintir tanganku ke belakang, mengeluarkan borgolnya, dan memborgol kedua tanganku. Sementara itu Nyonya Lola mengambil gunting dan menggunting celana dalamku. Sekarang aku sudah dalam keadaan polos. Mereka puas dan tertawa melihatku bugil. Semua pakaianku disita oleh Nyonya Lenny dan dimasukkan ke dalam lemari besi di ruangannya.
Aku didudukkan di kursi dalam keadaan tangan diborgol dan mata ditutup dengan sehelai kain. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadaku. Tiba-tiba ada yang memegang penisku โ rupanya salah satu dari mereka sedang mencukur bulu kemaluanku. Kini bulu kemaluanku sudah bersih, tak ada sehelai pun yang tersisa. Lalu penisku dicengkram dan dikocok-kocok dengan kuat.
Hampir saja aku keluar, tapi semuanya dapat kutahan. Penisku kini sudah tegak, tegang, dan memerah. Lalu mereka mengikat penisku, dimulai dari bola pelir โ diikat secara terpisah lalu disatukan bersama. Kepala penisku pun diikat dengan bahan karet sehingga penisku benar-benar terikat kuat dan tidak mau melemas. Selain itu mereka juga memberiku obat kuat โ tiga butir yang harus kuminum โ dan mengatakan bahwa aku harus minum obat ini dua kali sehari sebanyak tiga butir.
Lalu mereka menjepit kedua puting susuku dan menghubungkannya dengan tali ke kepala penisku. Aku benar-benar tidak berdaya dan pasrah karena tanganku masih diborgol dan mataku masih tertutup kain. Seketika mereka membuka penutup mataku dan borgolku, lalu menyuruhku bergaya dengan beberapa gaya. Aku pun menurut. Kilatan lampu blitz memancar ke arahku โ mereka memotretku dengan kamera digital dan juga merekam dengan handycam.
Aku pun diancam tidak boleh macam-macam, karena foto-foto bugilku akan disebar jika aku bertindak macam-macam, termasuk akan dikirimkan kepada keluargaku di kampung. Mendengar itu, aku semakin menuruti semua keinginan mereka. Kini aku duduk sambil berlutut, karena hanya seperti itulah hak dan tempatku sekarang.
Sekarang aku dipakaikan kalung anjing lengkap dengan rantai pengiringnya. Selain itu mereka juga membungkam mulutku dengan alat penutup menyerupai bola sehingga mulutku terbuka. Lalu aku disuruh merangkak layaknya seekor anjing. Setiap gerik-gerikku sudah terekam baik dalam foto maupun kamera.
Sekarang mereka membawaku keluar kantor dengan menarik rantai pada leherku. Aku berjalan di depan mereka; sesekali mereka menendang dan mencambuk pantatku dan punggungku sewaktu aku berjalan terlalu lambat ataupun terlalu cepat. Kami berjalan menuju mobil yang sudah kuparkir. Keadaan kantor sudah sepi dan aman termasuk ruang parkir โ hanya ada mobil Nyonya Lenny saja. Satpam pun sudah diperbolehkan pulang sejak pukul tiga tadi.
Bersambung...