Dipijat Tini
Dipijat Tini
"Dari Cisompet, Bu," kata pembantu baru itu kepada istriku ketika ditanya asalnya dari mana.
"Cisompet? Daerah mana tuh?"
"Itu, Bu — Garut terus ke kidul, jauh. Dekat perkebunan teh," jelasnya, wajahnya sedikit memerah karena malu.
Wajahnya biasa saja, seperti gadis desa pada umumnya, tapi Tini punya kelebihan: kulitnya kuning langsat dan bersih, badannya sedikit gemuk.
"Pameumpeuk, maksud kamu?" kataku nimbrung, ingat daerah pantai selatan Garut yang ada tempat peluncuran roketnya.
"Sebelumnya, Pak. Tempat saya daerah pegunungan, kebun teh. Pameumpeuk mah caket pisan ka laut."
"Berapa umur kamu?"
"Bulan depan 21 tahun, Bu."
"Sudah berkeluarga?"
"Sudah, Bu, tapi sekarang sudah cerai."
"Punya anak?"
"Satu, Bu, laki-laki, umur 2 tahun."
"Di mana anaknya sekarang?"
"Di kampung, ikut neneknya."
"Sudah pernah kerja sebelumnya?" tanya istriku lagi.
"Pernah dua kali, Bu. Di Jakarta."
"Kerja di mana?"
"Pembantu juga, terus pindah ke swasta hanya sebulan."
"Sebagai apa di swasta?"
"Biasa, Bu — buruh."
Singkatnya, setelah "wawancara rekrutmen" itu, istriku menerima Tini sebagai pembantu rumah tangga kami yang baru. Sebenarnya interview yang dilakukan istriku kurang mendalam, setidaknya menurut buku teks yang pernah kubaca. Tapi biarlah, toh hanya pembantu rumah tangga dan kami memang sangat membutuhkannya. Di hari pertama Tini bekerja, istriku terpaksa ambil cuti sehari untuk memberi petunjuk kepada pembantu baru ini.
Pembaca yang baik, dari sejak diterimanya Tini sebagai pembantu rumah tangga kami inilah kisah nyataku berawal. Cerita ini memang sungguh-sungguh saya alami sekitar setahun yang lalu. Setelah saya mendapat kiriman URL address Samzara lewat seorang mail-mate dan membaca cerita-cerita serunya, saya terdorong untuk ikut berkisah tentang pengalaman nyata ini, walaupun saya bukan penulis.
Kami suami istri sama-sama bekerja sebagai karyawan, tapi di perusahaan yang berbeda. Anak kami tiga orang. Si sulung, laki-laki, baru sebulan ini mulai kuliah dan kos di Jatinangor. Walaupun kami juga tinggal di Bandung, untuk menghemat waktu dan biaya transport dia memilih kos di dekat kampusnya. Nomor dua perempuan, SMU swasta kelas dua, masuk siang. Si bungsu laki-laki, masih SLTP negeri, masuk pagi.
Walaupun aku terkadang "jajan" kalau keadaan darurat, sebenarnya aku tidak tertarik kepada Tini. Selain karena dia pembantu, juga karena istriku masih mantap dan mampu memuaskanku dalam banyak hal, termasuk seks. Kenapa masih suka jajan? Ya, karena dalam keadaan darurat itu. Tapi sekepepet apa pun aku tidak akan "makan" pembantu. Tidak baik. Lagipula, yang menarik dari Tini sebagai wanita hanya kulit tubuhnya yang langsat dan bersih.
Demikian pula setelah Tini sebulan bekerja di rumahku — sampai suatu saat aku mulai lebih sering memperhatikannya, karena peristiwa yang akan kuceritakan ini.
Waktu itu aku tidak masuk kantor karena badan tidak enak. Seluruh badan pegal-pegal, mulai dari punggung, pinggang sampai kedua kaki. Mungkin flu atau masuk angin saja; aku tidak perlu ke dokter. Tapi karena pegal-pegal itu aku memutuskan untuk istirahat di rumah, tiduran sambil membaca.
"Oh, maaf Pak, saya kira Bapak ke kantor," seru Tini kaget. Dia masuk ke kamarku untuk membersihkan seperti biasanya, lalu langsung menutup pintu dan keluar.
"Tidak apa-apa, bersihin saja."
"Bapak sakit?" tanyanya.
"Tidak. Cuma pegal-pegal badan, kayanya masuk angin."
Tini mulai menyapu, kemudian mengepel. Ketika dia membungkuk-bungkuk mengepel lantai itulah aku "terpaksa" melihat belahan dadanya dari leher T-shirt-nya. Kesan pertama: bulat dan putih. Wah, pemandangan menarik juga, pikirku. Tidak ada salahnya menikmati pemandangan ini. Bentuk buah dada itu semakin jelas ketika Tini mengepel lantai dekat tempat tidur. Belahan dadanya menyiratkan kebulatan dan mantapnya ukuran bukit-bukit di sampingnya. Dan lagi, putihnya — ampun.
Walaupun aku mulai terangsang menikmati guncangan sepasang "bola" kembar besar itu, aku segera menghilangkan pikiran-pikiran yang mulai menggoda. Ingat, dia pembantu rumah tanggamu.
"Kalau masuk angin, mau dikerokin, Pak?" Pertanyaan yang biasa sebenarnya, apalagi ekspresi wajahnya wajar, polos, dan memang ingin membantu. Tini ternyata rajin bekerja; istriku senang karena dia tidak perlu banyak diperintah dan sudah bisa jalan sendiri. Jadi kalau dia bertanya seperti itu, memang dia ingin membantuku. Tapi aku sempat kaget atas tawarannya itu, sebab sedang asyik memperhatikan belahan putihnya.
"Kerokin? Bapak tidak biasa kerokan. Punggung pegal-pegal begini sih biasanya dipijat." Memang aku suka memanggil Mang Oyo, tukang pijat, tapi dia sedang ada panggilan ke Cimahi. Besok lusa baru tukang pijat langgananku itu berjanji mau datang.
"Oo, tukang pijat yang ditelepon Ibu tadi ya?" sahutnya. Tini rupanya memperhatikan istriku menelepon. "Dia kan baru datang dua hari lagi," lanjutnya sambil terus mengepel. Tini memang suka ngobrol. Tidak apalah sekali-sekali ngobrol sama pembantu, asal masih bisa menikmati guncangan bukit kembarnya. Aku tidak menjawab.
Kini ada lagi "temuan" baru. Meski Tini agak gemuk, tapi badannya berbentuk. Maksudku shaping line-nya dari atas lebar, turun ke pinggang menyempit, terus turun lagi ke pinggul melebar. Seandainya tubuh Tini ini bisa di-re-engineering — dibentuk kembali, tingginya ditambah sekitar 5 cm tapi tidak perlu tambahan "bahan baku" — jadilah tubuh yang ideal.
"Nanti kalau kerjaan saya sudah beres, Bapak mau saya pijitin?" Hah? Berani juga dia menawari majikan laki-lakinya untuk dipijat? Tapi kulihat wajahnya serius dan masih tetap polos. Jelas tidak ada maksud lain selain memang ingin membantu majikannya.
"Emang kamu bisa?"
"Saya pernah kursus memijat, Pak."
"Boleh," hanya itu jawabanku. Sebenarnya aku ingin tanya lebih jauh tentang kursusnya itu, tapi dia telah menyelesaikan pekerjaannya dan langsung keluar kamar.
Tinggal aku yang menimbang-nimbang. Aku memang senang dipijat, baik oleh Mang Oyo maupun oleh wanita muda. Tapi bagaimana kalau istriku tahu aku dipijat oleh Tini? Aku belum tahu reaksinya. Terima sajalah tawarannya ini; toh nanti aku bisa pesan sama dia untuk tidak bilang ke istriku.
"Dipijat sekarang, Pak?" tawarnya ketika membawa minuman yang kuminta. Kulihat baru jam 12 siang.
"Kerjaan kamu sudah beres?"
"Belum sih, mau setrika tapi jemuran belum kering."
Aku juga ingin sekarang, tapi anakku yang sekolah siang belum berangkat. Tidak enak kalau dia tahu bapaknya dipijat oleh pembantu wanita muda.
"Nanti saja. Sekitar jam dua?" Pertimbanganku, pada jam itu anak kedua sudah ke sekolah, si bungsu sudah pulang dan main keluar rumah seperti biasanya, dan masih cukup waktu sebelum istriku pulang kantor pada pukul 5 sore.
Sekitar pukul dua lewat seperempat, Tini mengetuk pintu kamarku.
"Masuk." Tini muncul di pintu.
"Bapak ada hand body?" Maksudnya tentu hand body lotion.
"Cari saja di situ," kataku sambil menunjuk meja rias istriku. Aku membalikkan tubuh, telungkup, siap dipijat.
"Lepas saja kaosnya, Pak, biar tidak kena hand body."
Celaka! Ketika melepas kaos, aku baru sadar bahwa aku dari pagi belum mandi dan masih mengenakan "pakaian tidur" kesukaanku: T-shirt dan singlet untuk atasnya, dan hanya sarung sebagai penutup tubuh bawah. Pakaian "kebesaran" ini memang kegemaranku, sebab memudahkan kalau sewaktu-waktu aku ingin meniduri istriku. Aku pun menuntut istriku untuk berpakaian tidur khusus pula: gaun agak tipis model tank-top dan mini, tanpa apa-apa lagi di dalamnya.
Jadi kalau aku akan berhubungan seks, aku perlu stimulasi lebih dulu — maklum sudah belasan tahun menikah. Stimulasi yang paling aku senangi dan bisa membuat penisku keras adalah oral. Istriku tinggal menyingkap sarung dan melahap isinya. Dan setelah kami siap "tempur", aku tidak perlu direpotkan oleh pakaian istriku. Aku tinggal "menembak" setelah menindih tubuhnya, sebab biasanya baju tidur pendeknya itu akan tersingkap dengan sendirinya ketika aku menindih dan menggeser-geserkan tubuhku.
Tini memang pintar memijat. Dengan hand body lotion dia mengurut tubuhku mulai dari pinggang sampai punggung — begitu enak kurasakan. Dia tahu persis susunan otot-otot di punggung. Sepertinya dia sudah berpengalaman memijat.
"Kamu pernah kursus pijat di mana?" tanyaku membuka percakapan.
"Ehm... di... di panti pijat, Pak."
"Ha? Kamu pernah kerja di panti pijat?"
"Iya, Pak."
"Kok tidak bilang?"
"Takut tidak diterima sama Ibu, Pak."
"Di mana dan berapa lama?"
"Di panti pijat ———, cuma sebulan kok. Tapi Bapak jangan bilang ke Ibu ya."
"Iya deh, asal kamu mau cerita semua pengalaman kamu kerja di panti pijat." Untuk sementara aku menang, punya kartu as yang nanti berguna kalau harus bilang ke Tini: jangan bilang ke Ibu ya.
"Sebelum kerja kan ikut training dulu seminggu, Pak."
"Oh iya."
"Soalnya itu memang tempat pijat beneran." Aku tahu, panti pijat yang disebutnya itu terletak di Jakarta Selatan dan memang panti pijat yang serius — bukan seperti di Mangga Besar misalnya, yang semua panti pijatnya hanya kamuflase dari tempat pelayanan seks.
"Terus kenapa kamu hanya sebulan? Gajinya lumayan kan, dibanding pembantu?"
"Iya sih, cuman cape, Pak. Saya sehari paling tahan memijat dua orang saja."
"Kerja memang cape."
"Tangan saya jadi pegal banget, Pak. Sehari saya memijat lima sampai enam orang. Penghasilan memang gede tapi biaya juga gede. Mendingan jadi pembantu saja — semua biaya ada yang nanggung, bisa nabung."
"Kamu senang kerja di sini?"
"Saya kerasan, Pak, semuanya baik sih." Memang aku mengajarkan kepada anak-anakku untuk bersikap baik kepada pembantu.
"Kamu mijit sekarang ini cape juga dong?"
"Tidak dong, Pak, kan cuma sekali-sekali."
"Kalau Bapak minta tiap hari?"
"Tidak baik, Pak, pijat setiap hari. Paling sering sekali seminggu."
Lalu hening. Aku asyik menikmati pijatannya, masih di punggungku.
"Punggungnya sudah, Pak. Kakinya mau?"
"Boleh." Kaki saja boleh, asal jangan ke atas — soalnya burungku sedang tidak ada kurungannya. Tini menyingkap sarungku sampai lutut, lalu mulai memencet-mencet telapak kakiku.
"Aturannya kaki dulu, Pak, baru ke atas."
"Kenapa tadi tidak begitu?"
"Kan Bapak tadi minta punggung."
Lalu dia naik ke betis, mengurut dari pergelangan kaki sampai lutut, kaki kiri dulu baru yang kanan.
"Apa saja yang diajarkan waktu training?"
"Pengetahuan tentang otot-otot tubuh, cara memijat dan mengurut, terus praktek memijat. Paling tidak enak prakteknya."
"Kenapa?"
"Mijitin para senior, tidak dibayar."
Kedua kakiku sudah selesai dipijatnya. Tiba-tiba Tini menyingkap sarungku lebih ke atas lagi dan mulai memijat paha belakangku — aku masih telungkup. Nah, ketika mengurut pahaku sampai pangkalnya, burungku mulai bereaksi, membesar. Aku yakin Tini sudah tahu bahwa aku tidak memakai celana dalam. Meskipun sarung masih menutupi pantatku, tapi dalam posisi begini — terbuka sampai pangkal paha — paling tidak "biji"ku akan terlihat. Tapi Tini terlihat wajar-wajar saja, masih terus mengurut, tidak terlihat kaget atas kenakalanku. Bahkan sekarang dia memencet-mencet pantatku yang terbuka.
"Cuma itu pelajarannya?" tanyaku asal saja, untuk mengatasi kakunya suasana. Tapi aku mendapat jawaban yang mengejutkan.
"Ada lagi sebetulnya, cuman... malu ah bilangnya."
"Bilang saja, kenapa harus malu?"
"Tidak enak ah, Pak."
"Ya sudah, kamu cerita saja pengalaman kamu selama kerja mijat."
"Ahh, itu malu juga."
"Hee. Sudah, cerita apa saja yang kamu mau."
"Kan tamu macam-macam orangnya. Ada yang baik, yang nakal, ada yang kurang ajar."
"Terus?"
"Kita diajarkan cara mengatasi tamu yang ingin coba-coba."
"Coba-coba gimana?"
"Coba itu... ah, Bapak tahu deh maksud saya."
"Tidak tahu," kataku pura-pura.
"Itu... tamu yang sudah tinggi... emm... nafsunya." Wah, menarik nih.
"Gimana caranya?"
"Hmm, ah, tidak enak bilangnya," katanya sambil mengendurkan otot-otot pantatku dengan menekan dan mengguncangkan. Punyaku makin terjepit.
"Bilang saja."
"Dikocok saja."
"Ha?!"
"Kalau sudah keluar, kan tensinya langsung turun."
"Kamu diajarkan cara ngocoknya?"
"Sebetulnya bukan itu saja, Pak, tapi diajarkan cara mengurut... itu."
"Wah, kamu jadi pintar ngurut itu dong." Pantesan dia biasa-biasa saja melihat pria telanjang.
"Buat apa itu diurut?" tanyaku lagi.
"Biar jalan darahnya lancar." Maksudnya peredaran darah.
"Kalau lancar, terus?"
Bersambung...