Dosa Terlarang Ibu Sahabat
Dosa Terlarang Ibu Sahabat
Selama Arif dirawat di rumah sakit, Ivan dengan setia menunggu sahabatnya, bergantian dengan Tante Melly, ibunya Arif. Kadang-kadang Ivan merasa berdosa terhadap Arif yang selama ini begitu baik kepadanya, karena telah menodai Poppy, pacar Arif. Tapi setiap kali membayangkan tubuh mulus Poppy, nafsu birahinya bangkit dan melupakan kenyataan bahwa Poppy adalah pacar sahabatnya.
Setelah tiga bulan dirawat di rumah sakit dan dinyatakan sudah membaik, dokter akhirnya mengizinkan Arif pulang dan menjalani rawat jalan. Mengingat jasa baik Ivan yang dengan setia menemani Arif, Tante Melly mengajak Ivan untuk tinggal di rumahnya yang cukup besar.
Enam bulan kemudian, setelah benar-benar sembuh, Arif disuruh kakeknya untuk tinggal di kampung. Ivan sebenarnya ingin ikut, tetapi Tante Melly melarangnya dengan alasan takut tidak ada laki-laki di rumah, sementara semua pembantunya perempuan. Selain itu, karena Ivan bisa menyetir, ada yang bisa mengantarnya kalau perlu bepergian jauh.
Di rumah Tante Melly, Ivan menempati sebuah kamar di lantai dua, berdekatan dengan kamar wanita itu. Sementara para pembantu tidur di lantai satu.
Sejak tinggal di rumah Tante Melly, diam-diam Ivan sering memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Ivan mengagumi kecantikan Tante Melly, ibu sahabatnya. Meski sudah berusia 43 tahun, kecantikannya belum pudar. Tubuhnya yang montok dan seksi mengundang air liur setiap lelaki yang memandangnya, tak terkecuali Ivan. Jantungnya sering berdebar saat bertatapan mata dengan Tante Melly. Sorot matanya yang sayu namun tajam seakan mengisyaratkan bahwa dia adalah wanita yang haus dan liar di ranjang.
Apalagi belakangan ini, Ivan merasakan kelakuan Tante Melly semakin genit. Tante Melly sering mengenakan pakaian seksi — kaos ketat tanpa lengan dipadukan dengan rok mini, memperlihatkan lekuk tubuh dan pahanya yang mulus. Bahkan Tante Melly sering membiarkan pintu kamarnya terbuka, dan di dalam kamar dia hanya mengenakan bra dan celana dalam. Seolah-olah menantang Ivan — yang saat hendak ke kamarnya harus melewati kamar Tante Melly — untuk menjamah tubuhnya.
Hingga suatu sore, saat Ivan baru pulang dari membeli rokok di warung dekat rumah Tante Melly. Baru saja Ivan menginjakkan kaki di ruang tamu, terdengar suara Tante Melly memanggil namanya dari dalam kamar. Ivan bergegas menuju kamar wanita itu.
"Van, tolong ambilkan handukku dong," teriak Tante Melly dari dalam.
"Iya, Tante," sahut Ivan singkat.
Ivan bergegas mengambil handuk di tempat jemuran, lalu berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar. Sesampainya di depan kamar mandi, Ivan mengetuk pintu sambil memanggil Tante Melly. Ivan tertegun di depan pintu saat pintu kamar mandi terbuka. Di hadapannya, Tante Melly berdiri dengan tubuh yang masih basah, tanpa selembar benang pun melekat di tubuhnya. Ivan dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Tante Melly yang membangkitkan nafsu birahinya.
Belum hilang rasa terkejutnya, Tante Melly menarik tangannya dan memeluknya erat-erat, membuat Ivan gelagapan. Tanpa sepatah kata pun, Tante Melly langsung mencaplok mulut Ivan dan melumatnya. Ivan yang sudah berpengalaman tidur dengan banyak wanita tahu bahwa Tante Melly, yang sudah lama menjanda, sangat haus akan sentuhan lelaki.
Dengan rakusnya, Tante Melly mengecup dan melumat mulut Ivan sambil meraba-raba selangkangan pemuda itu. Tidak mau membuang kesempatan yang sudah lama diimpikannya, Ivan langsung membalas dengan pagutan-pagutan yang tak kalah buasnya, sambil meremas pantat sintal Tante Melly. Sambil tetap melumat mulut Ivan, Tante Melly mulai menyusupkan tangannya ke balik celana dalam Ivan dan menggenggam kemaluannya yang mulai mengeras.
"Ooh... Van... puasin aku... sayang," pinta Tante Melly sambil mengelus kemaluan Ivan.
Sementara itu Ivan dengan buas menjilati dan menyedot dari leher, merambat turun ke buah dada Tante Melly. Sesekali Ivan menggigit buah dada Tante Melly yang ranum. Tante Melly mendesah hebat. Matanya merem melek dan kepalanya terdongak ke atas manakala lidah Ivan yang kasar menyentuh saraf-saraf peka di buah dadanya. Tanpa melepaskan pagutannya, Ivan mendorong Tante Melly hingga tersandar ke dinding, kemudian berlutut di hadapan wanita itu.
Ivan mulai menjilati dan mengecupi perut Tante Melly. Wanita itu mendesah semakin hebat saat lidah Ivan menari-nari di pusarnya dan di atas kulit perutnya yang ramping. Desahan Tante Melly membuat Ivan semakin bernafsu. Kini mulut Ivan mendekati selangkangan Tante Melly. Lidahnya terjulur, menjilati sambil mencucuk vagina Tante Melly, membuat ibu Arif itu histeris. Pinggulnya meliuk-liuk menahan rasa geli yang luar biasa.
Tante Melly merenggangkan kedua pahanya, memberi jalan agar lidah Ivan lebih leluasa menjilat vaginanya. Tante Melly menarik kepala Ivan dan membenamkannya ke selangkangannya, agar lidah Ivan lebih dalam menusuk lubang vaginanya. Ivan semakin cepat menusukkan lidahnya ke lubang vagina Tante Melly saat dirasakannya vagina wanita itu berdenyut hebat, membuat Tante Melly semakin tak dapat menahan orgasmenya. Ia pun pasrah menerima tusukan lidah Ivan yang semakin cepat, sampai akhirnya Tante Melly merasakan sesuatu yang hendak meledak dari dalam. Beberapa saat kemudian, diiringi lolongan panjang, Tante Melly mencapai orgasme pertamanya.
Cairan hangat dan kental menyembur dari vaginanya, membasahi dindingnya. Tanpa ragu-ragu, Ivan menjilati vagina Tante Melly yang masih basah. Gundukan daging yang membengkak merah dan mengeluarkan lendir putih itu dijilati dan disedotnya sampai bersih.
Ivan membiarkan Tante Melly menikmati orgasmenya beberapa saat. Kemudian Ivan membopong tubuh wanita itu, membawanya ke atas ranjang, lalu mendudukkannya di tepi ranjang. Kini Ivan berdiri di hadapan Tante Melly sambil melepaskan seluruh pakaiannya. Tante Melly benar-benar terpesona melihat besar dan panjangnya kemaluan Ivan.
"Luar biasa, Van. Baru kali ini aku melihat kemaluan sebesar punyamu," pujinya sambil tersenyum.
Tante Melly meraih kemaluan Ivan yang sudah mengeras, dengan lembut dielusnya lalu dikocoknya.
"Oohh... Tante... enak... terus," rintih Ivan sambil mengelus rambut Tante Melly, saat janda itu mulai menjilati kepala kemaluannya.
Rintihan dari mulut Ivan membuat Tante Melly semakin ganas dan liar. Sambil terus mengocok pangkal kemaluan Ivan, Tante Melly menusuk-nusukkan lidah lembutnya ke lubang kencingnya. Lubang kencing Ivan memerah menahan desakan darah syahwat yang menjalari kemaluannya.
Tante Melly semakin bersemangat mengulum, menyedot, dan memompa kemaluan Ivan yang tegak kaku dengan urat-urat kasar di sekelilingnya. Tante Melly berusaha memasukkan seluruh batang kemaluan Ivan ke dalam mulutnya, hingga mentok di ujung tenggorokannya.
"Akhh... nik... mat... terus... Tante... terus," desah Ivan.
Dia sudah tak mampu menahan rasa geli pada kemaluannya. Kedua tangannya meraih dan menjambak rambut Tante Melly, lalu Ivan menarik dan mendorong kepala Tante Melly, membuat kemaluannya keluar masuk dari mulut wanita itu.
Tante Melly benar-benar ingin memuaskan Ivan dengan oral seksnya. Sambil meremas buah dada dan mempermainkan lubang vaginanya sendiri, Tante Melly meningkatkan tempo jilatannya. Hampir seluruh batang kemaluan Ivan dijilatinya. Buah pelir dan lubang anus Ivan pun tak luput dari ciuman dan jilatannya. Tante Melly menikmati desahan dan erangan Ivan dengan meliarkan jilatan dan kulumannya. Sesekali dia menggigiti kemaluan Ivan.
Beberapa menit berlalu sebelum Tante Melly menghentikan jilatan dan kulumannya. Matanya yang sayu menatap wajah Ivan penuh birahi. Ivan yang sudah berpengalaman menyetubuhi wanita tahu bahwa Tante Melly sudah menunggu kemaluannya yang tegang untuk segera menusuk lubang vaginanya. Didorongnya tubuh Tante Melly hingga terlentang di ranjang. Kedua pahanya dibuka lebar-lebar. Kini Ivan mengangkangi selangkangan Tante Melly. Perlahan Ivan menurunkan pantatnya hingga kepala kemaluannya menyentuh bibir vagina Tante Melly.
"Cepet, Van, masukkin punyamu," pinta Tante Melly tak sabar, saat Ivan hanya menggesek-gesekkan kepala kemaluannya di bibir vagina wanita itu.
Sedetik kemudian Ivan memenuhi permintaan Tante Melly, didorongnya pantatnya perlahan-lahan.
Mula-mula agak susah kemaluan Ivan menembus lubang vagina Tante Melly yang sempit karena sudah lama tidak dimasuki. Tetapi setelah mencoba berkali-kali, akhirnya kepala kemaluan Ivan berhasil masuk menerobos lubang vagina Tante Melly.
Tante Melly menjerit menahan rasa nyeri saat kepala kemaluan Ivan berhasil masuk. Jeritannya bertambah keras saat seluruh batang kemaluan Ivan menerobos masuk dan terbenam, tertelan lubang vaginanya. Lubang vagina Tante Melly penuh sesak oleh besar dan panjangnya kemaluan Ivan. Ivan merasakan kemaluannya seperti dijepit dan dipijit-pijit. Ivan mendiamkan kemaluannya di sana beberapa saat untuk beradaptasi.
Kemudian Ivan mulai menaik-turunkan pantatnya. Terlihat dengan jelas batang kemaluan Ivan keluar masuk dari lubang vagina Tante Melly yang sempit. Bibir vagina Tante Melly tercelup ke dalam saat Ivan mendorong kemaluannya masuk dan mekar keluar saat pemuda itu menariknya.
Bersambung...