Bab 1
Dua SPG Susu di Kontrakanku
"Uhh, gila hujannya ya, Lun. Untung sudah sampai sini," kata yang berbadan agak gemuk pada temannya yang lebih langsing.
Dari penampilan mereka aku bisa menebak kalau mereka adalah sales promotion girl (SPG) — di belakang kaos yang mereka pakai ada sablonan bertuliskan "Susu Siip", produk susu baru buatan lokal. Keduanya langsung duduk di bangku panjang tepat di depanku.
"Ini Dik, kopi susunya. Apa tidak sekalian pesan sarapan?" ibu pemilik warung membawakan pesananku.
"Makasih, Bu, ini saja cukup. Saya sudah sarapan kok," jawabku. Ibu itu pun berlalu setelah menawarkan menu pada dua wanita muda di hadapanku.
"Maaf, Mas, apa tidak mau coba susu kami?" sebuah suara wanita mengejutkanku.
Hampir saja aku tersedak kopi yang sedang kuseruput; sebagian malah tumpah mengotori lengan bajuku.
"Duh, maaf, kaget ya, Mas. Tuh jadi kotor bajunya," wanita yang agak gemuk menyodorkan tisu kepadaku.
"Ohh, tidak apa-apa, Mbak. Makasih ya," kuterima tisu pemberiannya dan membersihkan lengan bajuku.
"Maaf, susu apa maksud Mbak?" aku bertanya.
"Hik, hik, Mas ini rupanya kaget dengar susu kita, Lun," canda si gemuk. Si langsing tersenyum saja.
"Ini loh, Mas, Susu Siip. Susu baru buatan lokal tapi oke punya. Harganya murah, masih promosi, ada hadiahnya kalau beli banyak," si langsing menjelaskan harga dan hadiahnya.
Sebenarnya aku ingin lebih lama di warung itu supaya bisa lebih lama bersama dua SPG itu, tapi nampaknya hujan sudah mulai berhenti dan aku harus melanjutkan perjalanan karena waktu sudah mepet dan pekerjaan di kantor masih menunggu.
"Saya tertarik, Mbak, tapi kayaknya saya harus lanjutkan perjalanan nih — tuh, hujannya sudah berhenti. Gimana kalau saya kasih alamat saya? Ini kartu nama saya, dan kalau boleh Mbak berdua tulis nama di sini ya," kusodorkan selembar kartu namaku sekaligus meminta mereka menulis nama di buku saku yang kubawa.
"Oh, Mas Andy toh namanya. Pulang kerjanya jam berapa, Mas, biar bisa ketemu nanti kalau kami ke rumahnya?" si gemuk yang ternyata bernama Luna bertanya sambil senyum-senyum.
"Jam empat sore saya sudah di rumah. Mbak Luna dan Mbak Winda boleh ke sana sekitar jam itu, saya tunggu ya," jawabku. Winda yang langsing juga tersenyum.
Aku kemudian membayar kopi susu pesananku dan meninggalkan warung untuk segera menuju kantor. Jam tiga sore aku sudah menyelesaikan laporanku yang menumpuk dan langsung pulang ke kontrakanku.
Oh ya, umurku saat itu sudah menginjak 28 tahun. Aku coba mandiri merantau di kota kembang ini. Kuputar lagu-lagu melankolisnya Katon Bagaskara di VCD Player sambil menikmati berbaring di kasur kamarku.
Foto Lusi kupandangi — pacarku itu sudah tiga minggu ini pindah ke Jakarta, ikut bersama bapaknya yang tentara yang dipindahtugaskan. Kayaknya sulit melanjutkan hubungan kami, apalagi jarak kami sekarang jauh. Dan sepertinya ini takdirku: berkali-kali gagal kawin gara-gara terpisah tiba-tiba, jadi jomblo sampai umur segini. Membayangkan kenangan manis bersama Lusi, aku akhirnya lelap tertidur ditemani tembang manis Katon.
Sampai akhirnya gedoran pintu kontrakan membangunkanku. Astaga, sudah setengah lima sore. Aku segera membukakan pintu utama kontrakanku.
"Sore, Mas Andy. Duh, baru bangun ya? Maaf ya mengganggu," ternyata yang datang Luna dan Winda, SPG Susu yang kujumpai pagi tadi.
"Oh, Mbak Luna dan Mbak Winda! Saya pikir tidak jadi datang. Silakan masuk, saya basuh muka sebentar ya," kupersilahkan mereka masuk dan aku ke kamar mandi membasuh muka.
Sore itu Luna dan Winda tidak lagi menggunakan seragam SPG — mereka berpakaian kasual. Luna, walau agak gemuk, terlihat seksi mengenakan jeans ketat dipadu kaos merah ketat. Sedangkan Winda yang langsing semakin asyik dengan rok span mini dipadu kaos kuning ketat.
Rumah kontrakanku tipe 36, jadi hanya ada ruang tamu dan kamar tidur berukuran kecil, ditambah dapur dan kamar mandi yang juga sangat mini di bagian belakang. Setelah basuh muka, aku menemani mereka duduk di ruang tamu.
"Wah, ternyata Mas Andy kerja di farmasi ya. Boleh dong kapan-kapan kita dijelasin masalah obat, Mas?" Luna membuka bicara saat aku duduk bersama mereka.
"Tentu boleh, kapan Mbak mau datang saja ke sini," jawabku.
Selanjutnya kami kembali bicara tentang produk susu yang mereka pasarkan. Bergantian bicara, Luna dan Winda menjelaskan kalau susu yang mereka jual ada beberapa macam dengan kegunaan yang beragam: ada susu untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak usia sekolah, balita, bayi, orang tua, pertumbuhan remaja, sampai susu penambah vitalitas pria. Nah, untuk yang terakhir itu, bicara mereka sudah berani agak porno dan mesum, membuat aku blingsatan mendengarnya.
"Hmm, boleh-boleh. Saya ambil susu grengnya dua, Mbak. Nanti kalau bagus saya tambah lagi lain kali," aku memotong pembicaraan mereka yang semakin ngawur.
"Nah gitu dong, Mas! Biar istri Mas senang kalau suaminya greng," Winda kembali bercanda.
"Duh, Mbak, saya belum kawin nih. Maksud saya susu greng itu saya pakai buat kerja, supaya tetap fit," kataku.
Jawabanku membuat mereka saling pandang, lalu keduanya tertawa.
"Wah, kita kira Mas sudah punya istri, ternyata masih bujang. Kok ganteng-ganteng belum laku sih?" Luna menggoda.
Suasana langsung terasa akrab bersama dua SPG itu. Mereka pun menceritakan latar belakang mereka tanpa malu. Luna, wanita berumur 26 tahun, dulunya karyawan sebuah bank lalu berhenti karena dinikahi rekan sekerjanya. Tapi kini dia janda tanpa anak sejak suaminya sakit dan meninggal tiga tahun lalu. Sedangkan Winda bernasib sama — wanita 24 tahun itu pernah menikah dengan lelaki sekampungnya, tapi kemudian menjadi janda gantung sejak suaminya jadi TKI dan tak ada kabarnya sejak empat tahun lalu. Keduanya terpaksa menjadi SPG untuk menghidupi diri.
"Kami malu, Mas. Sudah pernah kawin masih bergantung pada orang tua, makanya kami kerja begini," kata Winda.
"Kalau Mas mau, gimana kalau saya seduhkan susu greng itu? Sekedar coba, Mas, siapa tahu Mas jadi pingin beli lebih banyak?" Luna menawarkan setelah obrolan kami semakin akrab.
Belum sempat kujawab, dia sudah bangkit dan menanyakan di mana letak dapur, lalu menyeduhkan secangkir susu greng buatku. Susu buatan Luna itu kucicipi dan kuteguk habis, kemudian kami kembali ngobrol.
Saat itu jam menunjukkan angka tujuh malam. Lima belas menit setelah meneguk susu buatan Luna, aku merasakan dadaku bergemuruh dan panas sekujur tubuh, agak pusing juga.
"Ohh, kok saya pusing jadinya, Mbak? Kenapa ya? Ahh," aku meremasi rambutku sambil bersandar di kursi bambu.
"Agak pusing ya, Mas? Itu memang reaksinya kalau pertama minum. Mana coba saya pijitin lehernya," Winda pindah duduk ke sampingku sambil memijit tengkuk leherku. Agak enakan rasanya setelah jemari lentik Winda memijatiku.
"Nah, biar lebih cepat sembuh, saya juga bantu pijat ya," Luna pun bangkit dan duduk di sampingku, sehingga posisiku berada di tengah keduanya.
Tapi astaga — Luna bukannya memijit leherku, melainkan menjamah depan celanaku dan memijiti penisku yang mendadak tegang di balik celana.
"Ahh, Mbaak," belum selesai kalimat dari bibirku, bibir Winda sudah menyumpal dan melumat bibirku.
Aku hendak menahan aksi mereka, tapi terlanjur menikmati — apalagi reaksi susu yang kuteguk memang mujarab, birahiku langsung naik. Akhirnya kubalas kuluman bibir Winda, kusedot bibir tipisnya.
"Waduh, gede juga juniornya Mas Andy," ucapan Luna kudengar tanpa melihatnya karena wajah Winda yang berpagutan denganku menutupi pandanganku. Tapi aku tahu saat itu Luna sudah membuka resleting celanaku dan mengeluarkan penisku yang tegang. Sesaat setelah itu kurasakan benda kenyal dan basah melumuri penisku — rupanya Luna menjilatinya.
"Ahh, tidak, Mbak, jangan, Mbak," kudorong tubuh Winda dan Luna, panik kalau sampai ada warga yang melihat adegan kami.
"Ayolah, Mas. Kan sudah tanggung. Nanti pusing lagi loh," Luna seperti tak puas. Winda pun menimpali.
"Maksud saya jangan kita lakukan di sini, takut ketahuan Pak RT. Kita pindah ke kamar aja yah," aku mengajak keduanya pindah ke kamar tidurku, setelah mengunci pintu utama kontrakan.
Sampai di kamarku, bagaikan balita yang akan dimandikan ibunya, pakaianku segera dilucuti dua SPG itu, dan mereka pun melepas seluruh pakaiannya. Wah, tubuh mereka tampak masih terawat — mungkin karena lama menjanda.
Sebelum melanjutkan permainan, kuputar lagi lagu Katon Bagaskara dengan volume agak keras supaya suara kami tidak terdengar keluar. Setelah itu aku rebah di kasurku dan Luna segera mengulangi aksinya menjilati dan menghisap penisku yang semakin mengeras. Luna bagaikan serigala lapar yang mendapat daging kesukaannya. Sedangkan Winda berbaring di sisiku dan kami kembali berpagutan bibir, bermain lidah dalam kecupan hangat. Dalam posisi itu tanganku mulai aktif meraba susu Winda di sampingku — kenyal dan hangat sekali.
"Oh, Mas, saya sudah tidak tahan, Mas," Luna mengeluh dan melepaskan kulumannya di penisku.
"Ayo, Lun, kamu duluan. Tapi cepat ya," Winda menyuruh Luna.
Wanita bertubuh agak gemuk itu segera menunggangiku, menempatkan vagina basahnya di ujung penisku, berposisi jongkok, dan bless — penisku menembusi vaginanya.
"Ohh, aaauhh, Mas," Luna meracau sambil menggenjot pinggulnya naik-turun dengan posisi jongkok di atasku. Kurasakan nikmatnya vagina Luna, apalagi lemak pahanya ikut menjepit penisku.
Winda yang turut terbakar birahinya segera menumpangi wajahku dengan posisi jongkok juga, bibir vaginanya tepat berada di hadapan bibirku, langsung kusambut dengan jilatan lidah dan isapan kecil. Posisi mereka yang berhadapan di atasku memudahkan keduanya saling pagut bibir, sambil pinggul mereka memutar, naik-turun, menekan di wajah dan penisku.
Lima belas menit setelah itu, Luna mempercepat gerakannya dan erangannya semakin erotis.
"Ahh, Mas, saya klimaks! Ohh!" Luna mengejang di atasku, lalu ambruk berbaring di sebelah kananku.
Melihat Luna KO, Winda turun dari wajahku dan segera mengambil posisi Luna, mau juga memasukkan penisku ke vaginanya.
"Eh, tunggu, Mbak Winda, tunggu," kuhentikan Winda.
Aku bangkit dan memeluknya lalu membaringkannya di kasur, sehingga akulah yang kini di atas tubuhnya.
"Mas, aku pingin seperti Luna, Mas. Puasin aku ya," Winda tersengal-sengal kuserang cumbuan, sementara penis tegangku sudah amblas di vaginanya.
"Ohh, enaknya vaginamu, Win. Enakhh."
"Genjot yang keras, Mas. Kontolmu juga enak. Ohh, Mas," Winda dan aku memanjat tebing kenikmatan kami hingga dua puluh menit, sampai akhirnya Winda pun mengejang dalam tindihanku.
"Ampun, Mas. Ohh nikmat banget, Mas," Winda mengecup dadaku dan mencakar punggungku menahan kenikmatan.
"Iya, Win, ini untukmu. Ohh," aku pun menumpahkan spermaku ke dalam vagina Winda.
Setelah sama-sama puas, dua SPG susu itu pun berlalu dari rumahku. Kutambahkan dua lembar ratusan ribu untuk mereka. Aku pun kembali tidur, menghayalkan kenikmatan tadi.