18px

Bab 1

Ethan dan Donna

Sudah setengah jam ini suara dengusan napas yang memburu dan lenguhan penuh birahi terdengar sayup-sayup dari sebuah kamar kos di bilangan Jakarta Selatan. Suaranya tentu saja lebih heboh dan tidak beraturan bila di dalam ruangannya sendiri. Ethan sedang nafsu-nafsunya menggenjot Dea, anak Psikologi semester 5, dengan posisi missionaris. Tangan kiri Ethan menjambak rambut Dea, tangan kanannya sibuk meremas tak karuan toked Dea yang bulat kencang, dengan pinggul sibuk menggenjot naik turun.

"Aahh, ahh, egghh, Than, jangan kenceng-kenceng ngocoknya... gue... gue... jadi mau keluar lagii..." rengek Dea yang sudah kelelahan. Tapi Ethan malah memutar-mutar pantatnya sehingga batang kontolnya semakin ganas mengobel-ngobel memek sempit si Dea. "Akh, memek lo masih ngremes-ngremes konthol gue gini kok. Nih, rasain..." tukas Ethan.

Benar saja, tak sampai semenit Dea sudah merasakan sensasi gatal mau meledak di sekujur selangkangannya. Sambil memeluk erat—plus cakaran di punggung—lenguhan klimaks Dea terdengar: "MMMHHHHH... HUUAGGHHH... EUUHHHH... FUCCKK..." Dea kelonjotan, kepalanya mendongak, seluruh tubuhnya menegang karena sensasi kenikmatan yang membanjiri. "Gimana rasanya keluar yang ke-5 ini, De?" tanya Ethan iseng. Masih megap-megap, Dea nyahut, "Setan lo, Than. Gila, gue sampai melengkung gara-gara orgasme." "Tapi enak kan, hehehe," balas Ethan. "Iya sih," kata Dea dalam hati.

Tiba-tiba si Dea sadar sesuatu. Benda yang tebal besar masih mengganjal dalam memeknya. "Eh, Than, lo belum keluar ya?" tanya Dea khawatir. "Dikit lagi ya, Yang," ujar Ethan sambil mulai mengeluar-masukkan kontolnya. "Hiya, cepetan, Than," desah Dea lemas. Ethan memutar tubuh Dea, menginginkan posisi semi doggy. Sambil memeluk guling, Dea mengangkat pantatnya yang bulat tinggi-tinggi sambil membuka pahanya lebar-lebar. Cengiran lebar Ethan muncul melihat posisi yang mantap habis itu. Memek Dea sudah basah kuyup dan warna pink-nya semakin semburat.

Tanpa tedeng aling-aling, Ethan langsung membenamkan tiga perempat kontolnya dan langsung masuk RPM tinggi. Slep, slep, slep... suara kecipak cairan birahi memek Dea hanya ditutupi oleh lenguhan Dea yang birahinya naik lagi. "Mulut aja lo ngomong cukup-cukup. Tapi kalau gue enthot, tetep aja lo demen," ejek Ethan. Tapi gerakan genjotan Ethan sendiri semakin cepat dan tak karuan. Ujung palkonnya sudah berdenyut-denyut. Sensasi gatal yang menuntut untuk digaruk semakin memuncak. "Hh, hhh, hahh..." dengus Ethan yang semakin bernafsu.

"Thannn, jangan di dalem keluarnya..." rengekan desperate Dea terdengar. Tapi Dea sendiri sebenarnya sadar kalau si Ethan pasti akan ngeluarin di dalam—tidak ada tanda-tanda dia bakal nyabut kontolnya. Dea merasakan konthol yang semakin membengkak di dalam memeknya, membuat Dea semakin blingsatan dan mau orgasme lagi.

"HIIAAHHHH... AUUUUUUUUHHHHHHHHHHH..." jeritan klimaks Dea membahana. Ethan juga tidak mau kalah. Sambil meremas kuat-kuat pantat Dea, Ethan menancapkan dalam-dalam kontolnya untuk membanjiri memek Dea dengan pejunya. "HUAHHH... ENNAKKKNYAA..." lenguh Ethan penuh kepuasan. Tulang-belulang serasa diloloskan dan lemas—tapi puas.

Setelah itu Ethan langsung menindih tubuh Dea yang banjir keringat. Berbisik di telinga Dea, "Gila, emang mantep banget ngenthot sama elu pagi-pagi gini, Dea." Dea cuma tersipu, tapi membales dengan agak ketus, "Iya, tapi gue harus minum pil KB lagi. Males tau." "Hehehe, ahh, kan ga sebanding sama nikmatnya. Eh, gue cabut dulu ya, ada kuliah sejam lagi," kata Ethan. Tapi Dea tidak membalas karena sudah jatuh tertidur. Lemes... Sambil cengar-cengir puas, Ethan mandi dan bersiap-siap cabut dari kos Dea.

Sebelum berangkat, Ethan menikmati pemandangan tubuh bugil Dea yang tertidur pulas. Dea anak Bogor dengan tubuh cukup mungil—cuma 158 cm tingginya—tapi punya pantat bulat dan kencang. Tokednya yang kencang dan bulat (34B) terlihat besar karena tubuhnya yang mungil. "Lumayanlah. Gratis ini," batin Ethan. Dan meluncurlah Ethan ke kampusnya di kisaran Jakarta Selatan juga.

Nafsu sudah tersalurkan, badan bersih habis mandi, pikiran Ethan jernih dan rasanya siap hadapi kuliah Pak Marto. Jalanan Jakarta pukul 9 sudah macet, tapi Ethan tenang saja karena kuliahnya baru mulai jam 10. Paling jam 9.45 sudah sampai. Masih sempat kongkow-kongkow dulu di kantin—kali-kali ada cewek bening yang nyantol.

Kampus sudah ramai. Berbagai macam mahasiswa dan mahasiswi sibuk berkeliaran di koridor atau berkumpul duduk-duduk di plasa. Mata Ethan cepat menyisiri area kampus, mencari-cari teman-temannya. "Yeh, itu dia anak-anak kampret," batin Ethan sambil berjalan cepat ke pojok plasa. Roy yang melihat si Ethan menghampiri langsung bangkit dan menonjok Ethan.

Sambil memiting leher Ethan, Roy berbisik, "Setan kampret! Lo habis garap si Dea anak psikologi kan? Gue lihat lo semalem di Kemang." Senyum tulus Ethan langsung terbit, "Eh, kok lo tau. Cuma sekali semalem, sekali lagi paginya kok. Dan gue jamin, dienya puas. Lo tenang aja, sob." imbuh Ethan. Jepitan Roy semakin keras. "Bukan itu maksud gue, buduk! Gue juga ngincer diaaaa!" Mimik memelas Ethan langsung muncul. "Aduh, sory, sob. Gue betul-betul ga tau. Lagian ini semua salah si Dea—ngapain pake tank top pas minta temenin gue nyari buku kemarin. Ya mana tahan gue."

Roy jelas-jelas tidak terima dengan penjelasan Ethan yang tidak bertanggung jawab itu. "Pokoknya, ntar sore lo harus makcomblangin gue ama die. Gue udah pengen ngremes bokongnya dari kapan tau." Demi menyelamatkan kepalanya, Ethan dengan suka cita menyetujui permintaan Roy. Begitu Ethan setuju, cengir lebar Roy langsung muncul. "Jago ga dia, Than? Males gue kalau masih amatir," tanya Roy antusias. "Lumayan, sob. There's still room for improvement. But overall, she's good!" balas Ethan sambil acungin jempol. Sambil terkekeh-kekeh penuh aura mesum, kedua penjahat kelamin itu melangkah menuju kelas, karena Pak Marto sudah terlihat di ambang pintu.

Setelah satu mata kuliah lainnya yang selesai pukul 4 sore, Ethan dan Roy berjalan cepat penuh nafsu—Roy aja sih; Ethan sedikit kurang termotivasi karena kurangnya insentif buat dirinya—menuju Fak Psikologi. Di koridor menuju area parkir mereka berpapasan dengan cewek berambut pendek brunette yang seksi.

"Hai, Vani," sapa Ethan berusaha semanis mungkin. Vani yang hari itu memakai halter neck ungu tanpa lengan dengan celana jeans skinny gelap—sehingga pantatnya yang montok tercetak jelas—malah hanya meleletkan lidah ke arah Ethan sambil berlalu cuek.

"Wuiihh, Than, lo lihat ga? Perasaan tokednya Vani makin gede aja. Aduhh, gue mau bayar berapa aja biar bisa ngremesin tu melon," ratap Roy penuh harap sambil terus memandangi pantat Vani yang megal-megol menjauh. "Emang mantep dan kenyal banget toked tuh anak," ujar Ethan. Si Roy langsung memandang Ethan tajam. "Kaya lo pernah megang aja. Gue aja ditolak dengan sukses pas ngajak die nge-date. Gue bayarin lo full time di mana aja kalau lo bisa bawa Vani ke tempat tidur," tantang Roy. Ethan langsung semangat, "Bener ya? Awas lo, jangan kabur ya." "IYA. Roy ga pernah ingkar janji kecuali ke cewek," balas Roy dengan jantannya.

Ethan cengar-cengir senang. Dia ga pernah cerita ke Roy soal Vani. Walaupun dalam hati Ethan agak ga yakin gimana caranya ngajak Vani ngenthot lagi—sejak itu si Vani jaga jarak dan sok cool kepada Ethan. "Ya udahlah. Dipikir nanti aja. Sekarang beresin urusan si kupret satu ini dulu dengan Dea," batin Ethan.

Di Fak Psikologi suasana sudah mulai lengang. Cuma ada beberapa mahasiswa-mahasiswi yang berkeliaran untuk ikut kuliah terakhir hari itu. Tiba-tiba terdengar teriakan manis memanggil Ethan: "Ethaannnnn...!" Sesosok cewek manis berlari kecil menuju Ethan dan Roy. Melihat Dea datang, Roy langsung meremas tangan Ethan kuat-kuat—yang ditepiskan dengan kasar oleh Ethan. "Ngehek. Apa pikiran orang kalau lihat dua cowok tinggi besar pegang-pegangan tangan di tempat umum?" bisik Ethan kesal.

Begitu menemui Ethan, Dea langsung dengan centilnya menggandeng tangan Ethan. "Jadi kan temenin gue Supermarket?" tanya Dea. Sikutan keras terasa di rusuk Ethan. Ethan langsung tanggap. "Wah, sory, Dea. Gue ga bisa—mendadak bokap minta dianterin ke Bintaro. Sory banget ya." Dea langsung cemberut, "Yahhh, kok gitu sih lo." "Tapi tenang neng... temen gue yang ganteng ini bersedia untuk nganterin," ujar Ethan cepat-cepat sambil menepuk-nepuk bahu Roy. "Ya udahlah," terima Dea pasrah. Roy hampir melonjak kegirangan.

"Tapi awas kalau lo coba-coba ngajak gue ke tempat tidur," ancam Dea ke Roy. "Eh, nggak lah," jawab Roy salah tingkah. Dea ngomong lagi, "Eh, tapi anterin gue balik kelas bentar ya, ada yang mo gue ambil." Mereka bertiga beriringan menuju kelas Dea.

Di kelas, Dea langsung menghampiri seorang cewek yang masih sibuk dengan HP-nya. Mata Ethan dan Roy langsung membesar melihat cewek itu. "Buseeettt, hot juga ya..." pikir mereka berdua dengan sinkronnya. Dengan berlari centil, kedua cowok mesum ini langsung menghampiri Dea dan temannya. "Don, ini gue kenalin sama Ethan dan Roy." "Hai, Donna," sapa Ethan dan Roy kompak.

Donna memang one hell of an equipment. Ketika Donna berdiri untuk menyalami kedua makhluk menyedihkan itu, Ethan bisa menikmati seluruh lekuk tubuhnya. Dengan tinggi hampir 175 cm, tubuhnya yang berlekuk indah jadi makin menawan. "Hmm, bodynya OK banget. Tokednya paling 34-an, tapi kelihatannya mancung," terawang Ethan sambil curi-curi pandang ke toked Donna yang tidak terlalu jelas terlihat karena Donna menggunakan kemeja putih agak longgar lengan panjang yang dilipat sampai ke siku. Wajah oval Donna lebih ke manis dan menyenangkan ketimbang dibilang cantik. "Tapi dengan body se-hot ini, tampang sudah jadi nomor tiga," batin Ethan.

Suara Dea membuyarkan pikiran mesum Ethan. "Don, kita perginya jadinya sama si Roy. Ethan ada urusan sama bokapnya di Bintaro." "O gitu. Yaudah, bisa kita pergi sekarang?" tanya Donna. "Eh, Donna juga ikut?" tanya Ethan kaget. "Iya. Nyesel sekarang lo batal antar gue?" sepet Dea pedes. "Agak sih," kata Ethan polos. Donna tertawa kecil mendengarnya. "Aduuhh, jadi tambah nggemesin nih anak kalau ketawa," batin Ethan. "Tapi tengsin gue kalau narik kata-kata gue. Lagian ga enak sama si Roy. Moga-moga aja si Donna ga tergoda threesome sama kupret ini," doa Ethan dalam hati. Mereka pun berpisah.

Ethan menyetir mobilnya santai menuju kostnya di daerah Cilandak. Walaupun keluarganya juga tinggal di Jakarta, sejak kuliah Ethan sudah ngekos—dan semua pihak bahagia dengan situasi itu. Mampir warung Padang untuk makan, 45 menit kemudian Ethan sudah di jalanan lagi. Tiba-tiba HP Ethan berdering—nyokapnya telepon. Setelah diperintahkan mampir ke Ace Hardware untuk membeli beberapa perlengkapan kamar mandi, berbaliklah mobil Ethan menuju Ace Hardware Fatmawati.

Sesampainya di Ace Hardware, Ethan langsung naik ke lantai tiga menuju tempat dijualnya peralatan kamar mandi dan toilet. Tapi di lantai dua, mata dan radar Ethan yang awas menangkap gerakan makhluk seksi. "Weh, kayaknya boleh nih. Tapi kok gue kaya kenal nih cewek?" pikir Ethan sambil berjalan menghampiri seorang cewek yang sedang melihat-lihat lampu duduk.

"Lho, Donna. Ngapain lo di sini? Bukannya mau ke Carrefour?" tanya Ethan surprise. Donna agak kaget, tapi senyumnya langsung mengembang melihat Ethan. "Udah tadi. Sekarang gue lagi nyari lampu hias buat di rumah—nyokap nyuruh. Dea juga lagi nyari kursi malas kecil buat di kos," kata Donna ramah. Ethan tidak berkedip memandang bibir Donna yang penuh dan sensual itu.

"Aduhh, bisa ga ya gue nidurin si Donna," harap Ethan sepenuh hati. Akhirnya Ethan menemani Donna memilih-milih lampu, kemudian mereka berdua menuju bagian peralatan mandi. Sepanjang waktu itu Ethan mulai menebarkan jurus-jurus andalannya agar si Donna terpikat. Tapi Ethan merasa Donna masih anteng-anteng saja.

Tiba-tiba ucapan Donna berikutnya mengagetkan Ethan. "Than, lo aja yang nganterin gue pulang ya." "Lah, emang napa sama si Roy dan Dea?" tanya Ethan antusias. "Lo lihat aja sendiri deh," kata Donna sambil menarik tangan Ethan ke pojok lantai dua yang sepi.

Di pojokan rak-rak yang tinggi, Ethan baru sadar makna ucapan Donna. Di situ Ethan melihat si Dea bergelayutan ke lengan Roy, sementara tangan Roy dengan aktifnya meremas-remas pantat sekal si Dea—bahkan kadang-kadang jarinya seperti menekan-nekan di area pantatnya, membuat Dea menggelinjang-gelinjang dan membalas dengan gigitan kecil ke lengan Roy.

"Busyet, jago amat si Roy. Ilmunya naek setingkat lagi. Gue jadi makin geli neh," runtuk Ethan dalam hati. "Ya gitu itu. Mereka berdua udah kaya gitu semenjak di Carrefour," ucap Donna agak sebal. "Bentar lagi gue rasa kepala si Roy udah nyusup ke selangkangan si Dea," analisis Ethan dengan tajam. "Hihihi, gue setuju, Than," balas Donna terkikik kecil.

Ethan mendekati kedua pasangan yang sedang di mabuk birahi itu, kemudian dengan kasarnya ditaboknya si Roy. "Woi, cari kamar napa?" sentak Ethan. Gelagepan, si Roy dan Dea cepat-cepat ambil jarak. "Anjrit lo, Than! Ngagetin aja," tukas Roy yang lega cuma Ethan yang nge-gap tingkah mereka. Dea juga membalas dengan menghadiahi Ethan cubitan bertubi-tubi.

Donna langsung berkata, "De, gue pulang bareng Ethan ya. Kasian kalau Roy nganter gue dulu—kan muter lagi arahnya ke kos lo." "Ya udahlah kalau gitu. Sorry ya, Don." Dea berpaling ke Ethan, "Lo gapapa kan nganter Donna? Eh, btw, ngapain lo di mari?" tanya Dea curiga. "Nyokap minta dibeliin curtain shower," jawab Ethan cepat. Selanjutnya mereka berempat langsung menuju kasir dan setelahnya bergegas ke mobil masing-masing.

"Asyiikk, gue punya kesempatan untuk deketin Donna. Kalau emang jodoh ga akan ke mana," pikir Ethan bahagia. Tapi baru saja mau memundurkan mobil, Roy tiba-tiba menggedor jendela Ethan. "Sob, sorry banget. Lo keliatannya harus nganterin kita bertiga deh. Mobil gue mogok," kata Roy tanpa beban. "Bangsat lo, Roy," desis Ethan kesal. "Tunggu 15 menit ya, sampai derek bengkel gue datang," tambah Roy.

20 menit kemudian mobil Ethan baru meluncur keluar dari Ace Hardware. Tampang Ethan tertekuk. Buyar sudah semua rencananya. Mana kedua makhluk itu terkikik-kikik mesum di jok belakang, bikin Ethan ga tahan bolak-balik noleh ke belakang.

Di jok belakang, Roy sudah mulai gencar menyerang pertahanan Dea, yang memang tidak membuat pertahanan sama sekali. Bibir Roy yang agak tebal sudah melumat bibir mungil Dea. Kadang Roy menggigit-gigit kecil bibir bawah Dea sehingga membuat Dea terkikik-kikik. Tangan kiri Roy sudah masuk dari bawah t-shirt Dea dan sibuk meremas-remas toked Dea yang bulat kencang itu. Tawa kecil Dea berubah menjadi dengusan napas yang memburu ketika Roy mulai memilin-milin puting Dea sambil menjilati lehernya.

"Woe, lo berdua bisa ga nahan sampai kos dulu?" tanya Ethan tanpa harapan. "Udah, lo nyetir aja, Pir. Jangan pikirin kita berdua," jawab Roy seenaknya. "Iyaah nih, Ethan rese. Hhhhh, uhhh," tambah Dea disela-sela desahannya. "Don, lo servis Ethan napa...ehh, ahhh," kata Dea lagi. Semburat merah muncul di wajah Donna. "Enak aja lo ngomong," jawab Donna agak tengsin. Tapi Ethan yakin pas ngomong gitu si Donna ngelirik dirinya.

Ketika Ethan menoleh ke arah Donna, Donna langsung berkata tegas, "Ga usah mikir macem-macem lo ya!" "Eh, nggak kok, Don. Gue cuma mikir gimana caranya biar cepet sampai dan cepet lepas dari kedua makhluk konak di belakang," jawab Ethan innocent. "Iya nih. Dasar Dea geblek," runtuk Donna sambil memanyunkan bibirnya.

Tapi situasi di jok belakang semakin tidak terkendali. Desahan Dea sudah berubah menjadi lenguhan liar. Ethan dan Donna juga sudah mulai mendengar bunyi berkecipakan becek. Slep, slep, slep... "Auuhhhh, huaahhhhh, ahhhh..." lenguh Dea yang keenakan memeknya dikocok oleh Roy. Tangan Roy yang sudah menyelusup ke dalam celana Dea, dengan aktif mengobel-ngobel memek Dea yang rapat dan becek. Tendangan Dea tiba-tiba menghentak jok Ethan ketika orgasmenya meledak. "EAAHHHHHHH, AGGHHHHHH, GUE KELUARRRR!" jerit Dea penuh kepuasan. Cengiran lebar menghiasi wajah Roy.

"Bangsat lo berdua. Udah sampai neh. Sana keluar dari mobil gue. Sekarangg!" bentak Ethan. Cepat-cepat Dea dan Roy merapikan pakaian masing-masing dan keluar dari mobil Ethan. Cengiran lebar keduanya mengiringi langkah mereka menuju kamar kos Dea untuk menuntaskan apa yang sudah mereka mulai.

Selama 10 menit Ethan dan Donna diam saja. Ethan bingung mau mulai dari mana, karena tingkah Roy-Dea tadi merusak semua skenario yang sudah disusunnya. Donna juga kelihatan masih agak jengah. Jadi Ethan menyalakan radio. Mendengar lagu-lagu yang keluar, si Donna jadi kelihatan lebih relaks dan mereka mulai membicarakan lagu-lagu yang sedang dimainkan.

Tapi ketika penyiar radionya mulai bicara, topiknya ternyata tentang seksologi—tepatnya tentang multi orgasme pada wanita. Ethan jadi panik lagi, takut mood Donna jadi rusak. Ethan sudah mau pindahkan gelombang ketika tiba-tiba Donna berkata, "Emang ada ya cewek yang bisa orgasme sampai berkali-kali?"

Ethan yang masih agak kaget butuh tiga detik untuk bisa menjawab. "Seingat gue, sebagian besar cewek yang gue kenal kalau orgasme lebih dari dua kali. Termasuk multi kan tuh." "Maksud lo cewek yang pernah lo tiduri?" tukas Donna tangkas. "He-eh, iya. Gitu deh," jawab Ethan agak tersipu-sipu. "Lah, emang kalau lo nge-sex sama cowo, lo biasanya orgasme berapa kali?" tanya Ethan polos. Dengan agak malu-malu Donna menjawab, "Satu kali lah. Biasanya hampir barengan sama cowo gue." "Lah, emang pas foreplay ga orgasme?" tanya Ethan lagi. "Foreplay kan cuma bentar, gimana bisa orgasme gue," tandas Donna heran.

"Berarti pacar lo yang kurang sabar nggarap lo di foreplay-nya—pengen cepet-cepet nancepin batangnya," jawab Ethan. "Lah, lo lihat tadi, si Dea dikobel-kobel sama si Roy hampir 10 menit kan. Makanya tadi bisa sampai keluar gitu." Mendengar jawaban dan melihat reaksi Donna, Ethan langsung paham kalau nih cewek pengalaman seksnya masih kurang—atau paling nggak partner seksnya selama ini kurang jago. Jadinya dia belum mengeksplore seluruh potensi seksnya. "Hihihihi, pasti bisa gue enthot si Donna," pikir Ethan dengan bahagianya.

Ethan mulai menerangkan dengan panjang lebar tentang foreplay dan cara merangsang cewek yang benar—menunjukkan bahwa si cewek punya masalah dengan kehidupan seksnya dan menawarkan perhatian serta solusi. "Don, mau gue kasih tips ga buat lo dan cowok lo agar seks kalian lebih asyik lagi?" tawaran Ethan. "Mau... mau, Than..." sambut Donna agak kelewat bersemangat, yang kemudian membuatnya agak malu sendiri.

"Gini caranya, lo harus bayangin apa yang gue katakan. Lo inget-inget sensasinya, jadi lo bisa lebih mudah njelasinnya ke cowok lo pas nge-seks nanti." Si Donna tidak sadar kalau laju mobil jadi jauh lebih melambat. "Pejemin mata lo, Don. Bayangin lo lagi bercumbu sama cowo lo," Ethan memulai terapinya. "Eh, btw, lo paling demen dirangsang di mana sih?" tanya Ethan sok tanpa tendensi. "Di susu gue, Than," jawab Donna pelan dengan wajah memerah.

"OK. Pejemin mata lo lagi. Bayangin bibir lo berdua sudah saling melumat. Dia gigit-gigit bibir bawah lo. Lidahnya sekali-kali masuk ke dalam mulut lo dan mainin lidah lo. Tangannya mulai meremas-remas toked lo—awalnya pelan-pelan, terus semakin keras, semakin kasar. Puting lo dipilin-pilin dan sekali-kali ditarik..."

Donna yang memejamkan mata, napasnya mulai agak memburu. Dadanya naik turun lebih cepat. Ethan semakin bersemangat. "Cowo lo mulai nyiumin leher lo. Turun terus sampai di toked lo. Toked lo masih diremas-remas sambil digigit-gigit. Puting lo diisep kuat-kuat. Lidah cowo lo mainin puting lo."

Pada saat itu Donna sebenarnya sudah horny berat—cuma rasa tengsin dan ego saja yang mencegahnya. Tangan Donna menegang dan meremas jok mobil kuat-kuat. Bibir bawahnya digigit kuat-kuat. Kata-kata Ethan mengalir masuk melalui kupingnya, membawa aliran hangat ke tokednya. Putingnya menegang dan gatal ingin dihisap.

"Cowo lo masih menjilati puting lo. Tangan kirinya meremas-remas toked lo dengan kasarnya. Sedang tangan kanannya mulai membelai-belai selangkangan lo..." Donna mendesah agak keras, "Ehhhmmm, uhh..." "Tangan kanannya mulai membuka celana lo dan menurunkan resleting lo. Jari tengahnya mulai membelai bibir memek lo. Eh, Don, gue ga bisa nerusin nih," potong Ethan tiba-tiba.

Donna yang libidonya semakin memuncak, membuka mata dengan kaget. "Eh, napa?" tanya Donna lebih keras dari yang diinginkannya. "Habis kemeja lo ga dikancing atasnya. Jadinya gue bisa ngliat sebagian besar belahan toked lo dari samping sini. Jadi ga konsen lah gue. Sorry ya, gue jadi horny sendiri," kata Ethan tampak penuh penyesalan.

Donna memang tidak mengancingkan dua kancing atas kemejanya, sehingga belahan tokednya bisa terlihat jelas dari sisi Ethan—apalagi ketika Donna semakin horny, dadanya semakin membusung. "Wah, sorry, Than, bukannya gue ga mau ngancingin—emang ga bisa gue kancingin," jawab Donna tersipu. "Sory ya, Than. Apa yang bisa gue bantu?" tawaran Donna mengejutkan Ethan. Dan langsung reflek dijawab, "Kasih gue blow job dong, Don."

Muka Donna bersemu tambah merah lagi, "Ih, kamu maunya." Karena tidak terlihat reaksi penolakan yang berlebihan, Ethan memberanikan diri meraih pundak Donna dan menarik Donna mendekati dirinya, lalu langsung melumat bibir Donna yang sensual. Donna membalas cipokan Ethan selama beberapa detik, kemudian melepaskan diri dan berkata, "Cuma blowjob aja ya. Lo jangan grepe-grepe gue. Awas lo," ancam Donna manis. "Iya, gue usahakan," cengir Ethan.

Walaupun Donna masih agak malu-malu, sensasi gatal di dada dan selangkangannya mengatasi logikanya, sehingga keinginannya untuk menjamah konthol Ethan menang. Donna membuka celana Ethan, dan terlonjak kaget ketika konthol Ethan meloncat keluar. "Ehh, gede banget!" pekik Donna tidak sadar. Tapi karena tangan kiri Ethan sudah menekan kepala Donna, Donna tidak sempat berpikir ulang lagi dan langsung membuka mulutnya untuk mencaplok palkon Ethan. "Ehhmm..." desah Ethan keenakan ketika Donna mulai mengemut-ngemut palkonnya. Rasa geli dan nikmat menjalar di seluruh konthol, selangkangan, dan menjalar ke seluruh tubuh.

Sambil tangan kanannya mengocok konthol Ethan, bibir Donna melumat-lumat palkon dengan penuh nafsu. Lidah Donna kadang-kadang menjilati lubang konthol dan sepanjang batang konthol Ethan. Ethan mulai blingsatan duduknya—konsentrasi menyetir jadi lebih susah. Untung jalanan macet, jadi jalan pelan banget. Tangan Ethan menjambak rambut Donna dan memaksanya menelan kontolnya lebih dalam lagi, kemudian mengocoknya dengan gerakan kepala naik turun.

Ethan yang makin horny semakin tidak tahan memegang janjinya. Apalagi melihat Donna yang penuh nafsu menyepong kontolnya. Tangan kirinya bergerak ke bawah badan Donna dan menyasar area tokednya. Dengan mudah toked Donna diraih oleh Ethan—langsung menyusup ke dalam kemejanya dan meremas toked montok dari balik bra Donna.

Donna sempat kaget ketika tokednya tiba-tiba diremas. "Ughhh, si Ethan kurang ajar banget sih. Toked gue diremes-remes. Tapi enak banget. Gue stop ga ya?" pikir Donna bingung. Tapi pada saat itu tangan Ethan malah berhenti meremas-remas toked Donna—dan Donna yang merasa sedikit sayang, meneruskan blowjob-nya. Sebenarnya Ethan berusaha melepas kaitan BH Donna yang ada di belakang. Dengan jari yang sudah terlatih, kaitan BH langsung lepas.

Donna juga langsung merasakan bahwa tokednya langsung jatuh bebas. Belum sempat melepaskan konthol Ethan dari mulutnya, Donna sudah merasakan jemari kasar Ethan menjamah dan langsung meremas-remas tokednya yang kini tanpa pelindung. Sensasinya luar biasa! Libido Donna langsung naik tinggi.

"Ethannn, sialan lo. Kan udah janji, eahh, hahhhhh..." ucapan Donna terputus desahan erotisnya karena Ethan memilin-milin putingnya dengan ahli. Rasa gatal di areola tokednya yang sedari tadi terpendam langsung bereaksi dan menebarkan sensasi nikmat yang sangat. Tubuh Donna menggeliat-geliat tanpa bisa ditahan.

"Ajrit! Ternyata toked nih anak gede bener. Ini sih 36D! Mana kenyal banget. Mujur..." kata Ethan dalam hati. Melihat Donna menggeliat-geliat keenakan dan sibuk mendesah-desah lupa akan blowjob-nya, Ethan semakin aktif meremas-remas sepasang toked montok Donna. Kini dua tangan Ethan meremas-remas dan mempermainkan puting Donna sekaligus. Donna semakin blingsatan karena didera gelombang libido yang semakin memuncak.

Tiba-tiba Ethan mengangkat badan Donna agar tegak lagi. Kemudian sambil merapikan kancing-kancing kemeja Donna yang terbuka, Ethan berkata, "Rumah lo yang mana neh? Udah di jalan ini." Donna yang masih dibuai gairah birahi agak bingung dengan pertanyaan Ethan dan berhentinya acara remas-meremas yang mulai memanas. "Eh, oh... Rumah gue ya? Oo, udah sampai sini toh." "Itu rumah gue yang pagar coklat," tambah Donna sambil merapikan rambut dan pakaiannya. Napas Donna masih agak tersengal-sengal.

Ethan memarkir mobilnya di depan pagar rumah Donna yang megah. "Than, lo mampir ga?" tanya Donna setengah berharap. "Iyalah. Kan lo belum nuntasin gawean lo," jawab Ethan blak-blakan. "U-uh. Ternyata gara-gara itu doang ya lo mau mampirnya," jawab Donna merajuk, yang bikin Ethan tambah gemas dan horny. "Ya udah. Ayo masuk yuk," ajak Donna.

Ternyata bokap-nyokapnya Donna ada di rumah, lagi nonton film di ruang keluarga yang terlihat berkelas. Setelah dikenalkan dan basa-basi sebentar, Ethan ditinggal di ruang tamu. "Gue ganti baju dulu ya, Than. Tunggu aja di sini bentar," kata Donna sambil mengerdipkan mata. Tiba-tiba seorang wanita setengah baya masuk ke ruang tamu dan menyampaikan bahwa Donna meminta Ethan menunggu di taman samping. Diantar pembantu itu, Ethan melangkah ke luar rumah menuju taman di samping. Ethan bersorak dalam hati melihat tempat yang dimaksud—di pojok taman ada area kursi dan kolam kecil yang terlindungi dari pandangan rumah karena dibalik pohon dan semak bunga-bungaan.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Donna muncul hanya menggunakan kemeja putih kedodoran yang panjangnya hampir selutut—dua kancing atas tetap terbuka. Entah mengapa, penampilan yang di luar harapan Ethan ini malah membuat Donna terlihat lebih sensual. Napas Ethan langsung memburu. Ethan berdiri menghampiri Donna.

"Mau langsung dimulai nih, Than?" tanya Donna lirih sambil tersenyum malu-malu. "Ga usah, Don. Lo lupakan aja blowjob-nya—gue udah ga minat lagi," kata Ethan mengejutkan Donna. "Loh, gue pikir..." Belum habis ucapan Donna, tangan Ethan sudah meraih pinggang Donna ke dalam pelukannya, dan bibir Ethan melumat bibir Donna penuh nafsu. Beberapa saat Donna gelagepan, tapi langsung bisa mengimbangi. Tangan Ethan bergerak turun dan meremas-remas pantat Donna yang proporsional dan kencang.

Ethan mendudukkan Donna di kursi taman, lalu dengan kasar membuka kemeja Donna. Sepasang toked besar dan bulat seperti melompat keluar. Mata Ethan melotot melihat ukuran toked Donna yang supersize. Karena cuma diliatin saja, Donna menjadi jengah. "Cuma mo liatin aja, Than?" "Sorry, Don. Toked lo indah bener. Besar dan bulat," ujar Ethan jujur.

Kedua tangan Ethan langsung meraup kedua bongkahan bulat tersebut dan meremas-remasnya dengan penuh nafsu—gerakan memutar-mutar dari pangkal toked kemudian merucut ke putingnya sambil diremas-remas dengan kasar. Donna tampaknya menyukai tokednya diperlakukan dengan kasar. Terbukti Donna langsung memejamkan mata dan mengeluarkan lenguhan tertahan, "Uuuhh, sshhhh, hmmmmpppfff."

Puting Donna yang super sensitif tak lepas dari rangsangan Ethan—dipilin dan ditarik-tarik, lalu lidah Ethan mulai menjilatinya, ditengahi oleh hisapan-hisapan dalam mulutnya. Sensasi lidah Ethan yang kasar di puting Donna, belum lagi gigitan-gigitan kecil, membuat sensasi gatal yang menyenangkan menyebar ke seluruh tubuh. Memek Donna sudah mulai basah dan berkedut-kedut.

Seperti bisa membaca tuntutan hati Donna, jemari Ethan mulai menjamah selangkangan Donna. Celana dalam sutranya ternyata sudah basah. Jari tengah Ethan langsung menekan gundukan memek Donna dan menggeseknya kuat-kuat. Tubuh Donna agak melengkung oleh sensasi kenikmatan yang menjadi-jadi, "Ouuhhh, Etthhannn..." lenguh Donna yang mencapai orgasme pertamanya hari ini. Setelah kelonjotan kecil, Donna menarik napas panjang. "Gila, Than, enak bangett..." bisik Donna di telinga Ethan. "Ini baru pemanasan, Sayang," bisik Ethan sambil meloloskan celana dalam Donna.

Ethan mengambil posisi berjongkok di depan Donna yang duduk di kursi, di tengah-tengah paha Donna yang dipentangkan lebar. "Eh, lo mo ngapain, Than?" tanya Donna agak jengah karena muka Ethan hanya sejengkal dari bibir memeknya. Ethan tidak menjawab, tapi langsung mengangkat paha Donna lebih tinggi sehingga memek lebih terekspos. Ethan melihat dua gundukan putih yang montok tanpa bulu dengan penuh nafsu. Tanpa tedeng aling-aling Ethan langsung melumat bibir memek Donna dengan semangat.

"Ethan, gue belum pernah diginiin..." jerit kecil Donna sambil berusaha menjauhkan kepala Ethan dari selangkangannya. Tapi Ethan tetap berkeras—malah lidahnya mulai menyelusup ke dalam memek yang sudah basah kuyup itu, menggerakkan lidahnya naik turun dengan cepat. "Fuahhhhhh, ahh, ahh, ouuuuhhhh..." lenguh Donna lebih heboh lagi karena rasa gatal yang sudah sempat terpuaskan tadi muncul kembali dengan lebih dahsyat.

Tangan Donna kini tidak lagi berusaha menjauhkan kepala Ethan, malah menekannya semakin erat ke selangkangannya. Sambil menjilati klitoris Donna yang makin menonjol, jari tengah Ethan juga aktif mengocok lubang memek Donna. Suara becek berkecipakan ditingkahi oleh lenguhan Donna yang dibanjiri oleh sensasi birahi yang semakin memuncak.

"Than, thann, ehhmm, gue mau keluar, gue mau keluar..." kata Donna terbata-bata. Ethan cepat mengocok lubang memek yang semakin banjir. Dan "OUUUHHHHHH, HAAHHHHHHH..." jeritan orgasme Donna keluar seiring banjir cairan orgasmenya.

Tidak ingin membiarkan Donna istirahat, Ethan malah semakin kencang mengocok dan melumat klitoris Donna. "AUUHHH, AHH, AHH, ETH, ETH, ANN, GUE GA KUATT..." rengek Donna yang dilanda gelombang orgasme kedua sekaligus. Pantat Donna sampai terangkat dan kelonjotan karena sensasi orgasme yang bertubi-tubi. Baru Ethan melepaskan rangsangannya.

"Lebih enak lagi kan pas lo keluar yang kedua ini, Don?" tanya Ethan sambil nyengir jail. Donna berusaha mengatur napasnya yang memburu baru menjawab, "Sialan lo, Than. Gue udah ga kuat, masih juga lo kocok-kocok vagina gue." Ini bedanya Donna sama Dea—walaupun dipuncak nafsu, tidak ada kata-kata vulgar yang keluar. "Tapi lo demen kan. Ini pengalaman pertama lo capai orgasme seperti ini," balas Ethan. "Iya sih..." jawab Donna tersipu-sipu.

Ethan langsung melepaskan celananya dan celana dalamnya. Kontolnya yang sudah ngaceng dari tadi langsung mengacung tegak di hadapan Donna. Kedua tangan Ethan langsung mengangkang paha Donna lebar-lebar. Donna agak gelagepan. "Eh, oh, lo mo ngelakuinnya di sini? Gue blow job aja ya, Than," tawar Donna agak panik. Kalau urusan petting dan blowjob itu oke, tapi kalau urusan memeknya mau dipenetrasi konthol asing bukan milik cowoknya, itu beda lagi—Donna merasa belum siap, apalagi melihat ukuran konthol Ethan yang jauh lebih besar dari konthol cowoknya.

Tapi Ethan nafsunya sudah di ubun-ubun. Pantatnya semakin ditekan ke arah selangkangan Donna. Walaupun kedua tangan Donna berusaha menahan gerakan pinggang Ethan, tenaganya yang sudah terkuras orgasme-orgasme yang bertubi-tubi tidak mampu berbuat banyak. Sekejap saja, palkon Ethan sudah mencium bibir memek Donna dan mulai menyeruak masuk. "Ethannn, jangan dimasukinn..." erang Donna tanpa daya. Blesssh! Palkon dan batang konthol Ethan masuk sebagian ke memek Donna yang sudah basah kuyup. Cairan peju dan pelumas Donna memudahkan batang konthol Ethan untuk melesak masuk.

"Ummpppfff..." Donna agak tersedak karena sensasi benda asing yang sangat menyesaki dinding-dinding memeknya. Konthol Ethan mulai bergerak keluar masuk dengan teratur, semakin lama semakin cepat. Karena memek Donna sempit, banyak cairan peju Donna yang ikut keluar ketika Ethan menarik kontolnya—itupun kontolnya baru masuk setengahnya. Ethan tidak mau memaksa langsung membenamkan seluruh batangnya, karena Ethan ingin Donna terbiasa dulu dan ikut menikmatinya.

Seiring semakin lancarnya gerak masuk-keluar konthol Ethan dalam memek Donna, semakin keras lenguhan birahi Donna terdengar. Kepalanya kembali menggeleng-geleng dengan heboh. Ethan langsung menancapkan penuh-penuh kontolnya dan dilanjutkan dengan kocokan gigi empat.

"Hhh, hhh, hhh, sempit banget memek lo, Don. Konthol gue kaya diperet-peret. Lo jarang ngenthot ya?" ujar Ethan penuh birahi. Ucapan Ethan yang vulgar membuat sensasi gatal di sekujur selangkangan Donna semakin menghebat. "AHHHH, AHHH, OUUHH, OUUGGHHHH!" Donna melenguh hebat ketika rasa gatal di memeknya digaruk-garuk kasar oleh konthol Ethan sehingga meledak tanpa bisa dibendung. Orgasmenya kali ini lebih hebat dari yang sebelum-sebelumnya.

Dengan masih membiarkan kontolnya di dalam memek Donna, Ethan mengangkat Donna dan dibaringkan di atas rumput. Dengan posisi yang lebih nyaman ini, Ethan semakin ganas mengocok dan mengobel-ngobel memek Donna. Gerakan naik turun pantatnya diselingi gerakan memutar-mutar yang heboh membuat Donna memasuki fase birahi yang lebih tinggi lagi. "AHHH, AHH, ENAK BANGET, THAN, ENAK BANGETT!" jerit Donna penuh nafsu. Toked Donna yang mengkal sudah penuh bekas cupangan Ethan yang tidak bosan-bosannya mengerjai sepasang toked melon itu. Selama 10 menit, Donna mengalami dua orgasme lagi yang dicapainya nyaris tanpa jeda.

"Than, than, break sebentar, uhhmm, bentar aja," pinta Donna tersengal-sengal. Ethan menghentikan goyangannya dan menarik keluar kontolnya. Donna memanfaatkan waktu itu untuk memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Kepalanya terasa ringan karena sensasi orgasme yang bertubi-tubi. Rasa bahagia dan nikmat masih meliputi seluruh tubuhnya sehingga udara dingin malam tidak terasa.

Tiba-tiba Donna merasa tubuhnya dimiringkan ke kanan dan kaki kirinya diangkat lebar-lebar. Membuka matanya, Donna melihat Ethan sedang berusaha memasukkan kontolnya dalam posisi menyamping. "Eh, lo masih pingin ya, Than. Jangan keras-keras ya, Than," pinta Donna merajuk. Tapi mana mungkin Ethan memenuhi permintaan seperti ini—palkonnya sudah terasa semakin berdenyut-denyut dan semakin gatal ingin digaruk oleh memek sempit Donna.

Tanpa tedeng aling-aling Ethan langsung membenamkan seluruh batang kontolnya. "Blesss, sleppp!" "AUUHHH!" Pekik Donna kaget. Dalam posisi menyamping begini, konthol Ethan masuk lebih dalam dan lebih mudah menggesek-gesek g-spot Donna. Tangan kirinya pun lebih mudah meraih toked Donna. Sambil meremas toked Donna, Ethan menggerakkan pinggulnya maju-mundur dengan kecepatan tinggi. Plak, plak, plak, slepph, slepph...

"Damn, memek lo kok makin sempit aja, Don," maki Ethan keenakan. Donna sadar kenapa Ethan merasa memeknya semakin sempit—itu karena aliran sperma Ethan sudah berada di batangnya dan siap menyembur keluar. Berlawanan dengan akal sehatnya yang menyuruhnya mendorong Ethan menjauh, Donna malah semakin heboh melenguh dan bergoyang sedapatnya. "YESS, YESS, OUUUHHMMMMM, OUUHHHGGHHHH..." Rasa gatal yang memuncak dan berkumpul di memeknya membuat Donna semakin histeris ingin cepat-cepat dipuaskan.

Tiba-tiba Ethan meremas toked Donna kuat-kuat dan menekan kuat-kuat kontolnya ke dalam memek Donna. Sambil melenguh puas, konthol Ethan menyemburkan pejunya kuat-kuat. "AOOUUUUHHH, HHHEEHHHHHH, ENAKKNNYAA..." Lenguhan Donna yang lebih keras lagi menandakan Donna mencapai klimaksnya. Semprotan peju dan tekanan kuat konthol Ethan menjebol dinding pertahanan Donna. "OOOAAAHHH, HHAHHHHHHHH, Ahh, AHH, AHH..." Donna kelonjotan selama beberapa saat sampai akhirnya tenang setelah badai orgasme berlalu.

"Gila lo, Than. Baru kali ini gue ngalamin seks kaya gini. Ternyata nikmatnya luar biasa," bisik Donna lirih pada Ethan yang terlentang di sebelahnya. "Gue juga nikmatin banget, Don. Ga nyangka lo jago goyangnya, dan memek lo peret banget," balas Ethan. Mendengar itu, Donna agak bersemu merah. "Gue harusnya bangga, gitu?" balas Donna yang maunya pedes tapi senyum malu-malunya menghapus kesan judesnya.

"Untung sekarang bukan masa subur gue," rajuk Donna lagi. "Thanks ya, sexy," kata Ethan lembut sambil mengecup bibir Donna. Donna tersenyum manis sekali. "Sayang, lo udah punya cowok. Ga enak gue ganggu lo lagi setelah ini," tambah Ethan. Donna diam saja. Setelah bebenah dan bersih-bersih sebentar, Ethan pamit pulang kepada orang tua Donna. Ketika berpisah di pagar depan, sambil mengecup ringan Donna, Ethan masih sempat meremas toked Donna sekali.

Esoknya, sehabis kuliah jam pertama, Ethan beranjak menuju kantin. Tiba-tiba HP-nya berbunyi—Dea menelepon. "Halo, apaan, De?" sapa Ethan. Suara Dea yang tinggi langsung terdengar, "Hei, kupret. Lo apain si Donna kemarin, hah?" damprat Dea. "Lah, emang napa? Gue ga apa-apain kok," jawab Ethan berusaha kelihatan innocent. "Dia mutusin si Sinyo, cowoknya, barusan." "Hah?" jawab Ethan kaget. "Puji syukur. Kalau jodoh emang ga kemana ya," ucap Ethan dalam hati sambil tersenyum puas.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya