Fanfic Mesum Words Worth: Petualangan Sharon
Fanfic Mesum Words Worth: Petualangan Sharon
Cerita ini adalah fanfic dari sebuah anime hentai yang cukup terkenal, yaitu Words Worth. Anime ini menceritakan peperangan antara dua kerajaan fantasi โ Shadow dan Light โ untuk menyatukan kepingan-kepingan sebuah prasasti pusaka, yaitu prasasti Words Worth. Salah satu tokoh favoritku dalam anime itu adalah Sharon, seorang ksatria wanita berambut pirang keemasan yang berwatak dingin dan pemberani. Gadis ini jatuh cinta pada Astral, tokoh utama dari anime tersebut.
Setelah peperangan panjang antara kerajaan Shadow dan Light, akhirnya seluruh kepingan prasasti Words Worth berhasil disatukan. Kedua kerajaan pun akhirnya hidup damai berdampingan. Namun kedamaian itu sedikit terusik oleh ancaman baru terhadap kerajaan Shadow. Kaum orc yang hidup di dekat perbatasan Shadow sering mengganggu keamanan wilayah itu โ mereka merampok, membunuh, dan memperkosa gadis-gadis di sekitar sana. Untuk menumpas kaum orc, Astral yang telah menjadi raja di kerajaan Shadow mengirim pasukan besar ke perbatasan yang dipimpin langsung oleh kekasihnya, Jenderal Sharon. Di bawah pimpinannya, pasukan Shadow berhasil merebut beberapa wilayah yang jatuh ke tangan orc serta membunuh beberapa panglimanya. Menghadapi ksatria wanita yang tangguh dan cerdas itu, kaum orc mulai menyusun siasat untuk menjebak dan mengalahkannya.
Hari itu, kedua pasukan bertemu dan bertempur di sebuah tanah lapang yang luas. Pasukan kavaleri Shadow berhasil mengungguli pasukan orc. Jenderal Sharon tampak anggun dan berwibawa di atas kudanya. Tangannya yang berpedang dikibas-kibaskan ke sana ke mari membantai para orc itu โ entah sudah berapa banyak kepala orc yang jatuh ke tanah akibat tebasannya. Melihat prajurit dan perwiranya berjatuhan, jenderal orc yang berbadan besar dan berkulit hijau itu memerintahkan mundur. Sharon, yang ingin meringkus panglima tertinggi orc, memerintahkan pengejaran yang dipimpinnya sendiri. Dia berada pada baris paling depan, jubah dan rambut emasnya yang panjang hingga sepinggang melambai-lambai di atas punggung kuda yang berlari kencang. Matanya memancarkan keberanian dan tekad yang kuat.
Mereka mengejar semakin jauh ke dalam sebuah hutan yang rimbun. Sharon mulai merasakan sesuatu yang tidak beres karena tempat itu begitu sepi โ insting militernya mengatakan ada jebakan yang menantinya. Benar saja, begitu dia memerintahkan mundur, serempak terdengar seruan "Serbuuu!" yang memenuhi hutan yang tadinya sepi, disusul hujan panah dan bermunculannya pasukan orc dari semak-semak dan atas pohon. Mayat-mayat pasukan Shadow bergelimpangan dengan tubuh penuh anak panah. Sharon sendiri berjuang keras menangkis setiap anak panah dengan pedangnya. Sebuah panah menyerempet lengannya yang tidak terlindung baju zirah hingga berdarah. Setelah hujan panah mereda, mereka masih harus menghadapi sergapan orc yang menyerang dari semak dan pohon. Pasukan kavaleri tidak dapat bergerak leluasa di dalam hutan yang lebat โ akibatnya, pasukan yang berkekuatan sekitar dua ratus orang itu nyaris seluruhnya tersapu bersih.
"Lari, Jenderal! Kami akan mengawalmu!" seru seorang pengawalnya.
Dengan empat orang pengawal pribadi, Sharon menerobos kekacauan itu untuk meloloskan diri. Di sebuah lintasan, mereka dihadang oleh sepasukan kecil yang dipimpin oleh jenderal orc yang tadi pura-pura mundur.
"Hua-ha-ha! Sekarang rasakan pembalasanku. Serbu!" serunya sambil mengacungkan gadanya ke arah mereka.
Pertempuran yang tidak seimbang pun dimulai. Jenderal orc, tanpa kesulitan berarti, menghabisi keempat pengawal Sharon dengan gada bajanya. Kini kedua jenderal yang berseteru itu saling berhadapan. Bunyi denting pedang beradu dengan gada baja terdengar nyaring.
"Hebat juga kau, jenderal cantik. Kau lebih cocok jadi peliharaanku daripada jadi jenderal!" ejek orc itu di sela pertarungan. Matanya yang lebar jelalatan menatapi tubuh Sharon yang indah, seolah menelanjanginya.
"Makhluk menjijikkan! Kubunuh kau hari ini demi negeriku!" seru Sharon dengan penuh amarah.
"Ayolah, manis. Aku sudah tak sabar ingin bermain cinta denganmu."
"Biaya untuk bermain cinta denganku terlalu mahal untukmu!" serunya sambil menerjang dengan teknik pedang yang luar biasa.
Serangan Sharon yang dahsyat dan membabi buta membuat orc itu kewalahan. Dia terus mundur sambil susah payah menahan serangan. Dalam satu kesempatan, akhirnya Sharon berhasil menjatuhkan gada itu dari tangan pemiliknya dan membuat orc itu terpelanting. Namun begitu dia mengayunkan pedangnya untuk menebas kepala musuhnya, tiba-tiba "Traangg!" โ sebutir panah tepat mengenai gagang pedang dan hampir mengenai tangannya. Spontan Sharon terkejut dan pedangnya jatuh. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, si jenderal orc langsung menghantam perut Sharon dengan kepalannya yang besar sehingga dia terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi perutnya, lalu dengan bahunya yang dilapisi pelindung diseruduknya gadis itu sampai terlempar beberapa meter dan jatuh. Sharon meringis kesakitan โ tampak darah menetes di pinggir bibirnya.
Jenderal orc mendekati lawannya yang sudah terkapar. Dilihatnya celana dalam putih dan paha mulus Sharon melalui rok mininya yang tersingkap. Orc-orc lainnya ikut mengerubungi dirinya, menatapnya dengan sorot mata lapar.
"Kalau mau bunuh, bunuh saja sekarang โ atau kelak kau akan menyesal. Dasar pengecut tidak tahu malu!"
"Hehe, terlalu sayang untuk membunuh gadis secantik kamu. Aku ingin kau merasakan nikmatnya kontol orc," seringainya mesum, disusul gelak tawa orc lainnya.
Ketika jenderal orc dengan tangan besarnya membelai wajah cantik Sharon, tiba-tiba "Plak!" โ dengan sisa-sisa tenaganya Sharon menampar wajah makhluk itu. Melihat hal itu, dua anak buahnya maju memegangi lengan Sharon. Dia meronta-ronta dan menendang-nendangkan kakinya, tapi itu malah membuat celana dalam dan pahanya makin terlihat sehingga nafsu mereka makin naik.
Dengan mudahnya jenderal orc menangkap kedua pergelangan kaki Sharon lalu membentangkannya lebar-lebar.
"Wahaha, celana dalamnya putih," para orc itu berbisik-bisik melihatnya.
"Heh, memangnya semahal apa harga untuk bermain denganmu, jenderal pelacur?" ejeknya sambil menjambak rambut panjang keemasan itu.
Orc itu mengeluarkan lidah panjangnya dan menjilati pipi Sharon yang mulus. Ekspresi wajah Sharon menunjukkan rasa jijik membayangkan dirinya akan segera diperkosa oleh makhluk setengah binatang. Seorang orc membuka kancing baju zirah dan jubahnya. Begitu baju zirah pelindung atasnya terlepas, para orc langsung menggerayangi payudaranya yang masih tertutup baju biasa.
"Aahh, tidak!" jeritnya ketika dirasakan elusan jenderal orc merambat dari pahanya menuju ke kemaluannya.
Dia menekan-nekan jarinya yang besar di sana. Orc yang memegangi lengan kanan Sharon membuka satu per satu kancing bajunya. Setelah terbuka semua, dibetotnya bra putih di baliknya hingga robek. Belasan orc, termasuk si jenderal, melotot memandangi buah dada Sharon yang montok dengan putingnya yang merah muda. Salah satu orc langsung melumat payudara kanannya โ diremas dan disedot-sedot โ sementara payudara kirinya dicengkram kuat oleh si jenderal orc hingga putingnya makin mencuat.
"Nah, sekarang tahu kan akibatnya kalau melawan kami, pelacur Shadow!" jenderal orc menyelesaikan kata-katanya dengan meremas lebih kuat dan memelintir payudara Sharon.
Jerit kesakitannya membuat nafsu para orc makin terbakar. Si jenderal orc, saking nafsunya, sampai mencucukkan jarinya lebih dalam sehingga celana dalam Sharon robek di bagian tengahnya.
Setelah melubangi celana dalamnya, jenderal orc lalu menggerakkan jarinya keluar-masuk di liang itu seperti menyetubuhinya, sementara mulutnya terus menjilati puting yang sudah mengeras.
"Ooohh, tidak, jangan!" jeritnya sambil menggeliat-geliat.
Dia berusaha keras untuk tidak menikmatinya, tapi sepertinya syaraf-syaraf di tubuhnya lebih mendominasi. Dia tidak dapat menahan rangsangan yang demikian hebat dari titik-titik sensitifnya yang dikerjai mereka. Orc di samping kirinya menyibak rambutnya, lalu lidahnya menyapu leher hingga ke telinganya. Orc yang di kanannya dari tadi masih saja menikmati payudaranya sampai meninggalkan bekas merah karena kebanyakan dicupang. Selama sepuluh menit si jenderal orc mengorek-ngorek vagina Sharon. Akhirnya dia merasakan tubuhnya menegang, disusul mengucurnya cairan cinta dari kemaluannya.
Jenderal orc mencabut jarinya dan tanpa rasa jijik menjilati cairan yang belepotan di sana.
"Nyam, wanita Shadow memang enak rasanya. Pasti itunya lebih enak lagi. Angkat dia!" perintahnya.
Anak buahnya segera mengangkat tubuh Sharon dengan kedua paha terkangkang. Jenderal orc menurunkan celananya. Benda di baliknya sungguh membuat bergidik โ sebatang penis sebesar belati komando yang berwarna kehijauan dengan bintil-bintil dan urat yang menonjol. Sharon sendiri sampai menelan ludah melihatnya, membayangkan benda mengerikan itu akan segera mengoyak-ngoyak vaginanya.
"Nah, sayang. Sekarang kamu akan merasakan keperkasaan kaum orc!" katanya sambil menarik robek celana dalam Sharon.
Para orc kembali berdecak kagum melihat kemaluan Sharon yang ditumbuhi bulu-bulu pirang seperti rambutnya. Belahannya masih rapat karena dia baru melakukannya hanya dengan kekasihnya, Astral โ tengahnya yang merah merekah seolah menunggu untuk ditusuk. Tidak satu pun dari kemaluan mereka yang tidak bangkit. Jenderal orc mulai membuka bibir vagina Sharon, dan tangan satunya membimbing penisnya memasuki liang itu.
"Jangan, jangan! Bunuh saja aku, bangsat! Aahh, oohh, akkhh!" Sharon terus memaki-maki di tengah rintih kesakitannya, namun jeritan dan rontaannya hanya menambah nafsu mereka saja.
Dia meringis kesakitan disertai mengucurnya keringat saat penis itu menghujam ke dalam vaginanya. Walaupun kemaluannya sudah basah oleh cairan cinta, jenderal orc masih kesulitan memasukkan penis supernya itu. Sharon diperkosa secara brutal โ penis hijau itu menyodok-nyodok dengan ganasnya. Sambil menggenjot, jenderal orc melumat payudara kanannya; tangan satunya meremas bongkahan pantatnya yang montok. Orc-orc lain yang menopang tubuhnya pun ikut ambil bagian menggerayangi seluruh tubuhnya. Ada yang mengelus paha mulusnya, ada yang melumat payudara lainnya, menjilati lehernya. Orc yang menopang dari belakang menarik rambut panjangnya sehingga wajahnya tengadah, lalu dilumatnya bibir mungil yang ranum itu. Lidah panjang itu bergerak liar menjilati lidahnya, seakan mengajak lidahnya ikut bermain, sehingga secara refleks lidah Sharon ikut meronta.
Walaupun terus meronta, Sharon mulai merasakan kenikmatan menjalari tubuhnya. Rasa nyeri yang dideritanya kini mulai bercampur dengan rasa nikmat. Perlahan pemberontakannya mereda. Walau berusaha sekuat tenaga untuk tidak menikmatinya, tubuhnya tidak bisa berbohong. Tubuhnya menggelinjang hebat disertai desahan panjang setelah lima belas menit diperlakukan seperti itu.
"Hmm, kau mulai merasa enaknya bercinta dengan orc kan, pelacur Shadow?" seringai jenderal orc.
"Oke, anak-anak minggir semua. Sekarang saya akan mementaskan pertunjukan orc menunggangi manusia."
Anak buahnya menurunkan Sharon yang sudah lemas setelah orgasme panjang barusan, lalu menyingkir membiarkan pimpinannya mengerjai musuh yang telah dikalahkan itu.
Sambil menarik rambut Sharon, jenderal orc meraih vaginanya dari belakang, membuat posisinya menungging. Kemudian dia kembali menyodok vaginanya โ sodokan itu makin lama semakin cepat sehingga gadis itu tak kuasa menahan jeritannya dan mengucurkan air mata. Dengan tangan besarnya, orc itu menangkap salah satu payudara yang berayun-ayun. Anak buahnya yang menonton adegan perkosaan itu matanya tidak berkedip. Mereka gelisah tak sabar menanti giliran; beberapa di antaranya terlihat mengocok penis mereka sendiri. Pesta seperti ini bukanlah hal yang asing bagi mereka โ beberapa waktu yang lalu mereka berhasil menjebak sekumpulan ksatria wanita dan memperkosa mereka beramai-ramai, lalu membawa mereka ke negerinya sebagai budak seks.
Beberapa saat kemudian jenderal orc tampak akan berejakulasi. Genjotannya makin kencang sambil mengeluarkan geraman. Sharon merasakan bagian bawahnya banjir โ orc itu memuncratkan cairan putih kental dengan derasnya sampai belepotan di selangkangannya.
"Hehehe, gadis manusia memang benar-benar enak, apalagi yang satu ini!" orc itu melepas penisnya.
Penderitaan Sharon belum selesai. Jenderal orc memberi kehormatan kepada si pemanah yang menyelamatkannya untuk mendapat giliran berikut. Orc itu merenung rambut Sharon dan memerintahkannya membuka mulut.
"Buka mulut, jenderal pelacur!" perintahnya.
Dia berusaha mengelak ketika penis itu disodorkan padanya, matanya menatap penuh amarah pada makhluk itu. Merasa ditantang, si orc naik pitam. Dijambaknya rambut emas itu lebih kuat dan dicubitnya salah satu putingnya sehingga Sharon mengerang kesakitan. Kesempatan itulah yang dipakai si orc untuk menjejali mulut Sharon dengan penis hijaunya. Wajah Sharon didorong ke arah penisnya tanpa peduli kesulitannya bernapas. Benda itu hanya masuk kepala dan sebagian batangnya saja karena besarnya. Orc itu lalu menggerakkan pinggulnya menyetubuhi mulut Sharon. Sharon sendiri bekerja keras menghisap dan mengulum benda itu dalam mulutnya. Kulumannya sungguh membuat orc itu mengerang-ngerang keenakan.
Sharon merasakan penis yang dikulumnya berdenyut lebih keras โ rupanya orc itu sudah mau keluar. Disertai suara geraman yang lebih keras, cairan itu muncrat banyak sekali, melebihi yang disemprotkan manusia. Tentu saja mulut Sharon tidak dapat menampung seluruh cairan itu. Dia tersedak dan cairan itu sebagian meluber di bibirnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain cepat-cepat menelan semua cairan itu agar tidak terlalu terasa. Sehabis berejakulasi di mulutnya, orc itu menelentangkan tubuh Sharon. Dia membentangkan kedua belah pahanya dan mengambil posisi di antaranya, tangan kanannya mengarahkan penisnya memasuki vagina Sharon.
Orc itu mulai memompakan penisnya di dalam vagina Sharon. Jeritan histeris terdengar dari mulutnya setiap kali orc itu mengirimkan tusukan keras. Lainnya yang menonton memberikan sorak sorai seperti di sebuah pertandingan sepak bola โ semakin Sharon histeris, semakin seru mereka menyorakinya. Sharon menggigit bibirnya menahan sakit. Dia merasakan tubuhnya robek oleh penis orc itu.
"Uuhh, unghh, vaginamu benar-benar enak, bitch!" ejek orc itu, sementara tangannya dengan gemas meremas-remas payudaranya.
Beberapa saat kemudian badan orc itu mengejang sambil mempercepat hentakkannya, kedua tangannya semakin erat mencengkram payudara Sharon. Akhirnya, dengan erangan panjang, orc itu memuntahkan spermanya di vagina Sharon.
Melihat Sharon tidak bersamanya mencapai orgasme, orc itu menjadi kesal.
"Kurang ajar! Sudah diperkosa saja masih sombong, tidak mau orgasme denganku!" bentaknya sambil menjambak rambut Sharon. Wajahnya yang mengerikan tidak jauh dari wajah cantik Sharon, melototinya dengan amarah.
Sharon hanya menanggapinya dengan tatapan mata dingin dan senyum sinis, lalu "Puuiihh!" โ diludahinya wajah monster itu. Sungguh bagaikan seekor singa betina; keangkuhannya tidak runtuh sekalipun dalam kondisi yang paling genting bagi seorang wanita.
"Hehehe, hebat. Berani sekali. Tidak percuma kau jadi jenderal di negeri Shadow. Tapi coba kita lihat apa sekarang kamu masih bisa sombong. Anak-anak, beri pelajaran pada pelacur ini!"
Mendengar aba-aba itu, lima orc maju secara serempak mengerubuti tubuhnya. Mereka sudah tidak tahan melampiaskan nafsunya karena dari tadi hanya menonton. Kini mereka berpesta dengan tubuh Sharon.
"Ayo memohon dan minta ampun, manis. Mungkin aku akan kasihan dan menjadikanmu selir kesayanganku, hahaha!" jenderal orc tertawa-tawa menghinanya.
Sementara itu Sharon berjuang keras melawan kelima orc yang sedang mengerjainya, juga berjuang dengan dirinya sendiri antara perasaan nikmat dan benci. Kelimanya melucuti sisa-sisa pakaian yang masih menempel di tubuhnya. Sarung tangannya mereka sobek di bagian telapak tangan supaya bisa merasakan kehalusan tangannya.
Salah satu orc menyelipkan kepalanya di antara kedua paha jenjang itu dan menjilati vaginanya yang telah basah. Dua orc lainnya masing-masing bermain dengan payudara kanan dan kiri โ dengan bernafsu mereka memijat, menjilat, dan mengisap kedua gunung itu. Satu lagi yang berlutut dekat wajahnya menarik kepala Sharon dan dengan paksa menjejali mulutnya dengan penisnya. Satu orc lainnya meraih tangannya untuk dipakai mengocok penisnya. Sharon mulai merasakan ada yang aneh menggelitik dari bawah โ orc itu sedang asyik menyedot dan menjilati vaginanya. Lidahnya yang panjang menerobos masuk ke sana serta menjilati dinding-dinding kemaluannya sehingga Sharon tak dapat menahan tubuhnya menggeliat-geliat. Kedua belah pahanya yang mulus semakin erat mengapit kepala si orc.
Orc yang tadi melumat payudara kirinya kini naik ke dadanya, lalu menyelipkan penisnya di antara kedua bukit kembar itu. Dia mengocok penis itu di antara himpitan dua bongkahan kenyal tersebut, sambil sesekali memilin puting susu yang sudah mengeras.
"Emmphh, eengg, mm!" desah Sharon tertahan oleh penis hijau di mulutnya.
Orc yang dikulumnya orgasme duluan. Spermanya tertumpah bagaikan air bah di mulut Sharon โ cairan itu meluap keluar membasahi bibir dan meleleh ke lehernya karena tidak seluruhnya dapat tertampung. Orc yang mengocok dengan payudaranya juga menyusul tidak lama kemudian; spermanya muncrat di dada dan wajahnya.
Masih belum sempat mengatur napas, mulutnya sudah diisi lagi dengan penis orc yang tadi dikocok dengan tangannya. Sementara itu, orc yang tadi menjilati vaginanya kini sudah mengaduk-aduk liang itu dengan penisnya. Tak lama orc itu menghentikan genjotannya, mencabut penisnya, dan segera menyemprotkan spermanya ke perut Sharon. Kelima orc itu pun akhirnya menyelesaikan hasratnya โ mereka berejakulasi di luar maupun di dalam tubuh Sharon.
Jenderal orc mendekati tubuh Sharon yang sudah lemas dan basah oleh sperma, keringat, maupun liur. Diangkatnya kepalanya lalu berkata dekat wajahnya.
"Bagaimana, manis? Kau sudah mulai menikmatinya, kan? Ayolah, asal kau mau jadi selirku, tidak akan kubiarkan mereka menyentuhmu lagi."
"Baiklah. Aku akan mengatakan satu hal padamu," kata Sharon dengan napas masih terengah-engah.
"Hehehe, baiklah sayang. Tentunya kau ingin mengakhiri ini semua kan? Coba katakan saja padaku."
"Pergilah ke neraka, bangsat!" teriaknya di depan wajah jenderal orc itu.
"Ooo, kau sungguh mengecewakanku, manis."
"Hei, anak-anak! Sepertinya dia kurang puas. Coba puaskan dia sampai tidak bisa bangun lagi!"
Kembali Sharon mengalami siksaan birahi itu. Belasan orc memperkosanya secara bergilir, sekali maju bisa mencapai tiga sampai enam orang. Kali ini Sharon sudah tidak berontak sedikit pun. Kesadarannya sedikit hilang โ dia hanya mengikuti saja diperlakukan apapun oleh makhluk-makhluk itu, matanya menatap kosong ke langit yang sudah menguning.
Sperma mereka berceceran di sekujur tubuhnya. Pangkal pahanya banjir oleh sperma yang telah bercampur cairan cintanya, tidak dapat tertampung lagi. Berbagai gaya telah dipraktekkan terhadap Sharon, dan berkali-kali dia mencapai klimaks. Dia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, namun juga tidak dapat menyangkal rasa nikmat luar biasa yang belum pernah dialaminya sebelumnya โ bahkan ketika bercinta dengan Astral, pujaan hatinya, sekalipun.
Setelah semua orc mendapat jatahnya, nafsu si jenderal orc timbul lagi. Diperintahkannya untuk menyiram tubuh Sharon yang telah basah dan lengket oleh macam-macam cairan itu dengan air.
Guyuran air itu membuatnya merasa lebih segar, tapi itu bukan akhir dari penderitaannya. Jenderal orc langsung menaikkan tubuhnya ke pangkuannya dan menekan tubuh Sharon ke arah penisnya hingga benda itu amblas ke dalam vaginanya. Cairan yang sudah membasahi vaginanya membuat penis itu bergerak makin leluasa. Matanya merem-melek, pinggulnya ikut meliuk-liuk menahan genjotan di bawahnya. Kedua payudaranya yang berayun-ayun dijilati oleh jenderal orc. Sensasi yang luar biasa membuatnya tidak terkendali. Sekali waktu, ketika tangannya sedang menggapai-gapai dan mencengkram rumput di bawahnya, dia merasakan memegang suatu benda panjang seperti dahan kayu.
Dengan sudut matanya dia melihat ke bawah โ ternyata yang dipegangnya adalah anak panah yang tadi menghantam pedangnya hingga jatuh. Dan tidak jauh dari sana, dia juga melihat pedangnya masih tergeletak di tempat semula. Rupanya, tanpa disadari, sejak diperkosa tadi tubuhnya telah berpindah-pindah ke sana-ke mari. Orc-orc yang telah kesetanan itu juga tidak memperhatikan anak panah di antara rerumputan โ dan ini adalah kesalahan fatal bagi mereka. Dengan senjata di tangannya, Sharon merasakan tenaganya kembali. Sambil menunggu kesempatan baik, dia mendapat akal untuk membuat orc itu orgasme sehingga tenaganya melemah. Sharon menggoyangkan pantatnya makin cepat, melumat mulut orc itu, dan memainkan lidahnya selama beberapa menit dengan harapan mempercepat orgasmenya.
Usahanya membuahkan hasil. Dengusan napas orc itu makin cepat dan semakin memacu gerak pinggulnya sambil mencengkram pantat Sharon. Akhirnya dia menggeram panjang โ tubuhnya mengejang dengan mata terbelalak, spermanya kembali menyemprot deras di dalam rahimnya.
"Wah, hebat juga gayamu tadi, manis. Jadi sekarang kau sudah bersedia menyerah padaku ya?"
Jenderal orc merasa geli ketika Sharon menjilati lehernya.
Ketika sampai di telinganya, Sharon berbisik, "Sampai jumpa di neraka!"
Jenderal orc spontan terkejut. Tapi sebelum sempat menyadari semuanya, tiba-tiba sebatang anak panah sudah menancap di pelipisnya, diiringi jeritan panjang seperti serigala terluka. Tubuhnya menggelepar-gelepar di tanah sambil memegangi kepalanya.
Tanpa buang waktu lagi, Sharon segera melepaskan diri dari dekapannya dan menyambar pedangnya yang tidak jauh dari situ. Secepat kilat ditikamkannya pedang itu pada dada musuhnya. Dengan satu jeritan panjang, makhluk itu melepas jiwanya. Anak buahnya yang masih kelelahan terkejut dengan kejadian yang tidak pernah mereka duga itu. Dengan pedang di tangannya, Sharon ibarat ikan mendapatkan air โ kekuatannya pulih kembali. Tiga orc yang merangsek ke arahnya segera ambruk seiring tebasan pedangnya. Lainnya segera memungut senjata masing-masing dan menyerbu ke arahnya. Dentingan senjata beradu terdengar kembali.
Prajurit-prajurit kroco seperti ini bukanlah tandingan Sharon. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, mayat-mayat orc sudah bergelimpangan. Sasaran Sharon berikutnya adalah orc yang tadi memanahnya. Tanpa mendapat banyak perlawanan, dia berhasil menebas tubuh lawannya itu hingga terbelah dari bahu sampai ke pinggang. Kini tinggal satu orc lagi yang tersisa. Dia sudah mundur-mundur dengan posisi terlentang di tanah, memohon-mohon ampun pada Sharon yang menempelkan ujung pedangnya pada lehernya. Dia masih belum sempat bercelana; penisnya sudah tidak setegak tadi karena kini dirundung ketakutan yang amat besar. Tatapan tajam gadis itu membuat makhluk itu tidak berani menatap wajahnya.
"Ampun, ampun! Tolong kasihani saya. Aah!" makhluk itu menjerit sambil menyilangkan tangan menutupi wajahnya ketika Sharon mengibaskan pedangnya.
Suara mengerang kesakitan terdengar nyaring. Makhluk itu membuka kembali matanya โ dia tidak mati. Tapi alangkah kagetnya melihat bagian bawahnya sudah berlumuran darah. Ternyata kemaluannya telah ditebas oleh pedang sehingga kini dia tampak kesakitan memegangi pangkal pahanya yang sudah dikebiri itu.
"Hei, dengar ya. Sekarang kamu pergi dan katakan pada rajamu bahwa sebentar lagi pasukan kami akan menembus perbatasan kalian dan membuatnya seperti ini. Dan sebelum aku berubah pikiran, sebaiknya kamu pergi cepat!" bentak Sharon.
Makhluk itu pun pergi dengan tertatih-tatih sambil memegangi selangkangannya.
Kini tinggal Sharon sendirian di hutan itu. Hari mulai gelap. Dia membersihkan tubuhnya yang penuh bercak darah dari pertarungan tadi dan memunguti apa saja untuk menutupi tubuh bugilnya. Dengan pedangnya, dia memenggal kepala jenderal orc itu, lalu segera meninggalkan tempat itu untuk kembali ke markas tentara Shadow. Sharon kembali ke perkemahan dengan disambut layaknya pahlawan โ tentunya dengan pengorbanan yang sangat besar, termasuk harus mengalami penghinaan berupa pemerkosaan massal seperti yang baru saja dialaminya.
E N D