18px

Fantasi dalam Telepon

Fantasi dalam Telepon

Malam itu seperti biasa Eksanti tidur sendiri di kamar kostnya. Tetapi Eksanti tidak bisa tidur sama sekali. Bayangan percumbuan yang serba singkat di dalam mobil beberapa hari yang lalu kembali muncul di matanya yang mencoba tertutup. Rumah besar tempat kostnya di bilangan Jakarta Selatan itu terasa sepi sekali.

Sudah seminggu ini Eksanti tidak berjumpa denganku di kantor, karena memang aku sedang melakukan presentasi ke luar kota. Hari itu sebenarnya adalah jadwalku untuk kembali masuk ke kantor, namun aku belum juga datang. Siang tadi Eksanti telah berulang kali menelepon HP-ku, namun tidak aktif. Perasaan khawatir sedikit muncul di benaknya, bercampur dengan rasa kangen yang luar biasa. Lalu ia pun berniat mengontakku di rumah, tetapi niat tersebut diurungkan. Bukan saja karena Eksanti tidak mau melanggar komitmen untuk tidak mengganguku di rumah, tetapi juga karena ia sendiri merasa sungkan bila ternyata teleponnya nanti diangkat oleh orang lain di rumahku. Siapa orang itu, dan apa kata orang itu nanti, kalau ia sampai mencari-cariku ke rumah?

Kini, ketika matanya tak juga mampu terpejam, ia menyesal kenapa tak memberanikan diri menghubungiku tadi siang. Menyesal karena merasa dirinya terlalu ragu-ragu bertindak.

Tak lebih 15 kilometer jauhnya dari kamar tidur Eksanti, aku juga sedang terlentang sendirian di ranjang besar di kamar tidurku dengan mata nanar memandang langit-langit. Aku juga tidak bisa tidur malam ini, walau separuh laporan perusahaan yang penuh angka dan paling menjemukan telah habis aku baca. Entah kenapa, malam ini aku begitu merindukan Eksanti. Mungkin karena telah seminggu ini kami tidak berjumpa, sehabis kejadian malam yang indah di dalam kemacetan Jakarta itu. Sedang apa dia sekarang? Apakah sedang dicumbu oleh kekasihnya yang lain? Apakah ia sedang bersama dengan teman manajerku itu? Pikiran terakhir ini sangat menggangguku, membuatku terbakar cemburu sekaligus birahi. Sungguh menggelisahkan!

Aku meredupkan lampu baca di kamar tidur dan menutup rapat pintunya. Sejenak aku memandang ke arah pesawat telepon di sisi ranjangku. Haruskah aku menelepon Eksanti sekarang, malam-malam begini? Segera aku angkat gagang telepon, namun sebelum sempat memutar nomornya, perasaan ragu-ragu menggugurkan keinginanku dan aku meletakkannya kembali ke atas pesawatnya. Bagaimana kalau ia sedang bersama orang lain saat ini? Tetapi rasa rinduku yang menggebu-gebu mengalahkan segalanya.

Ketika Eksanti hendak mulai memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamarnya.

"Siapa...?" ujarnya sedikit malas.
"Santi, ada telepon untuk kamu di depan," ujar suara Eni, teman kostnya, dari balik pintu.
"Dari siapa...?" Eksanti bertanya lagi.
"Nggak bilang namanya. Cuman katanya dari kakakmu, tapi suara cowok — kakak yang mana sih, San...?" temannya menjawab dengan penuh selidik.

Eksanti bergegas bangkit dari ranjangnya; ia tahu persis siapa "kakaknya" itu. Lalu sambil membuka pintu kamarnya ia berkata, "Terima kasih ya, En. Dia memang kakakku yang baru datang dari Malang." Eksanti terpaksa sedikit berbohong kepada temannya mengenai siapa "kakaknya" itu. Ia tidak ingin teman-temannya tahu, terlebih Eni teman sebelah kamarnya yang terkenal suka menggosip.

Eksanti lalu melangkah cepat ke ruang tamu yang berseberangan dengan kamarnya. Ketika ujung gagang telepon diangkat ke telinganya, terdengar suara lelaki yang sudah sangat diakrabinya.

"Halo Santi, ini Mas," aku menyapanya.
"Halo Mas, ini lagi di mana?" ujar Santi dengan nada gembira yang sengaja disembunyikannya.
"Lagi di rumah dong. Santi sudah mau bobo' ya?" tanyaku lagi.
"Ahh, belum kok, Santi belum ngantuk," jawab Santi sedikit berbohong.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Abis, Santi mikirin Mas. Kan mestinya hari ini udah masuk kantor," Santi berkata dengan penuh terus terang.
"Terima kasih. Kamu inget sama Mas. Soalnya tadi Mas masih capek banget, jadi masih males masuk ke kantor. Tapi ngomong-ngomong, presentasinya sukses lho, San. Makasih ya buat bantuanmu nyiapin materi," ujarku beralasan.
"Sama-sama, Mas. Selamat ya," ujar Eksanti menimpali pernyataanku.
"Iya, iya. Kalau aku sukses kan berkat kamu juga, jadi sukses kita sama-sama kan. Eh, ngomong-ngomong kamu lagi di ruang mana nih?"
"Di ruang tamu, Mas."
"Lagi banyak orang nggak di situ?"
"Ada si Eni yang lagi nonton TV, yang lain udah pada bobo'. Eh, Mas, teleponnya aku bawa ke kamar dulu ya," bisik Eksanti pelan. Ia berkata demikian karena khawatir Eni akan menguping pembicaraan mereka. Kebetulan karena letak kamar Eksanti dekat dengan ruang telepon itu, kabelnya dengan mudah bisa ditarik ke kamarnya melalui jendela.

"Mas, sekarang udah aman. Nggak ada siapa-siapa, nggak ada yang nguping," Eksanti memberi sinyal kepadaku.
"Santi, Mas kangen sama kamu, pengin melukin kamu," aku mulai mengatakan perasaanku yang sebenarnya.
"Ahh, Mas, Santi juga kangen, tapi gimana dong...?" Eksanti berucap pelan.
"Mas pengin banget bercinta dengan kamu, sekarang...!" aku berkata jujur. Eksanti sedikit kaget mendengar pernyataanku yang blak-blakan itu. Namun dalam hati ia mengagumi caraku yang tetap halus namun tanpa basa-basi.
"Santi juga, tapi gimana...?" ujar Eksanti kembali.
"Santi bantuin Mas ya," aku meminta kepadanya.
"Bantuin apa?" ujar Eksanti bingung.
"Bantuin biar rasa kangen Mas terobati."
"Santi mau mbantuin Mas apa saja, sepanjang Santi bisa. Santi mau Mas bahagia," ia menjawab permintaanku dengan nada lirih hampir berbisik.

Mendengar pernyataannya yang terakhir itu, aku makin tidak bisa mengendalikan perasaanku, dan aku pun semakin ingin membayangkan ia sedang berdiri di hadapanku saat ini.

"Santi pakai baju apa sekarang?" aku bertanya lagi.
"Pakai daster warna merah muda. Mas pakai apa?" Santi balik bertanya.
"Ehmm, Mas cuman pakai celana tidur satin hitam, nggak pakai apa-apa lagi. Kamu pakai apa di balik dastermu, San...?"
"Santi nggak biasa pakai bra kalau mau tidur, tapi masih pakai celana dalam warna krem."
"Yang ada renda-rendanya itu?" aku bertanya penuh penasaran.
"He-em," ujarnya pendek.

Itulah awal pembicaraan kami di telepon yang dipenuhi percakapan penuh romantisme, membakar sensualitas fantasi kami. Lalu kami saling bercerita dan canda panjang lebar menanyakan keadaan masing-masing. Suara Santi yang sangat seksi di telingaku itu seolah mendesah-desah penuh manja, membuat kejantananku semakin menegang terangsang di balik celana tidur satin yang aku kenakan.

Di tengah-tengah percakapan yang makin mendebarkan itu, Eksanti menggeletakkan tubuhnya setelah bosan tidur miring. Kamar tidur sengaja ia gelapkan, karena ia ingin suasana percakapan itu semakin romantis, selain itu ia memang tidak akan bisa tidur dengan cahaya yang terlalu terang. Tiba-tiba darah Eksanti berdesir karena rasanya ia masih bisa mencium bau wangi tubuhku — bau yang kini mulai diakrabinya: segar dan penuh aroma kejantanan. Tidak seperti tubuh lelaki lain di kantornya yang terlalu penuh minyak wangi sehingga berkesan sintetis. Ia mulai membanding-bandingkan antara aku dengan teman-temannya yang lain.

"Mas," bisiknya perlahan sambil menelungkupkan muka ke bantal, "Apa yang ingin Mas lakukan kepadaku?"
"Santi, Mas sedang membayangkan kamu. Kamu mau tahu nggak yang sedang Mas bayangkan...?" aku berujar pelan.
"Hee em," Eksanti mendesah mengiyakan.
"Mas membayangkan sedang mencumbumu. Tangan Mas sedang membelai setiap sentimeter kulit indahmu. Bibir Mas sedang mengusap-usap lembut rambut-rambut halus di belakang telingamu, lalu beralih ke bibir indahmu," aku mulai menceritakan fantasiku kepadanya.

Di depan mataku seakan-akan ada sebuah film yang diputar berulang-ulang, berisi gambar indah percumbuan kami yang sangat singkat namun sangat menggairahkan itu. Bibir basah yang merekah pasrah tergambar jelas di mataku. Harum napasnya yang menggairahkan tercium jelas di hidungku. Kelembutan lidah dan bagian dalam mulut itu... semuanya terasa seperti nyata malam ini. Amat sangat nyata, sampai-sampai aku menelan ludah berkali-kali. Jantungku berdegup kencang, seperti ketika waktu itu aku melumat bibir bidadari yang amat aku dambakan.

"Terus...?" Eksanti berucap pelan sambil mulai memejamkan matanya. Bayangan percumbuan kami di dalam mobil seminggu yang lalu tampak jelas di pelupuk matanya.

Eksanti masih ingat betapa aku mengulum lembut bibir tipisnya dengan luapan perasaan yang apa adanya. Betapa menggairahkannya ciuman itu! Aku melakukannya dengan sepenuh hati, sehingga rasanya tidak setengah-setengah. Ketika aku mengulum bibirnya, aku melakukannya dengan penuh perasaan, membuat dirinya terbuai-buai bagai tidur di atas awan di angkasa sana. Tak sadar Eksanti meraba bibirnya dengan ujung jari. Ia dengan mudah bisa merasakan kembali ciuman itu. Tak mungkin ia bisa melupakannya.

"Terus bibir Mas turun ke arah lehermu. Lalu lidah Mas menyapu-nyapu lembut di sana dan kamu merasa geli tetapi juga nikmat. Kamu bisa merasakannya, 'yang?" aku melanjutkan.

"Oocch, iyaa, Mas, terus...!" Santi semakin tidak sabar menunggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. Jemarinya mengalir pelan di sepanjang lehernya yang jenjang, sesekali berhenti di belakang telinganya, lalu mengalir turun ke arah dadanya.

"Bibir Mas semakin turun ke bawah, turun... dan turun pelan-pelan sekali. Sekarang Mas sedang melumati kedua puting payudaramu, bergantian yang kiri... lalu yang kanan. Tangan Mas meremasnya lembut. Oocch, Santi, Mas rasanya nikmat sekali. Kamu juga merasakan hal yang sama, Sayang?" aku berhenti sejenak. Aku mendengar Eksanti mendengus pelan.

Eksanti tidak kuasa melupakan betapa dadanya yang kenyal dihisap oleh bibirku dan diremas oleh tangan kokohku itu. Cumbuan dan remasan itu tak kalah menggairahkan dari ciuman di bibirnya. Jemari dan bibirku seperti penuh oleh energi pembakar sukma yang mengirimkan jutaan bulir kenikmatan ke seluruh tubuhnya. Tak sadar, Eksanti mengerang kecil, meremas sprei dengan satu tangannya. Ia seperti merasakan lagi hisapan dan remasan jemari itu di dadanya. Gesekan nilon tipis pakaian tidurnya tiba-tiba seperti mewakili remasan itu. Ia tidur tanpa beha — dan kedua putingnya ternyata sudah mengeras. Eksanti mengerang lagi, lalu memiringkan badannya dan meraih bantal guling.

"...putingmu, keduanya mulai mengeras dan semakin mengeras. Warnanya merah kecoklatan, kecil, panjang dan makin menjulang. Mas juga menciumi lingkaran coklat di sekelilingnya, bergantian yang kiri dan yang kanan. Kamu mulai menggelinjang. Kamu meremasi rambut Mas dan menekan kuat-kuat kepala Mas di dadamu," aku menceritakan fantasiku sambil membayangkan seolah-olah aku memang melakukan aktivitas itu.

"Oocch, Mas, teruskan...!" Eksanti mendesah lagi ketika aku terdiam sesaat. Tangannya meraba lembut di atas dadanya, dan ternyata memang benar — putingnya telah mulai mengeras. Ia tersenyum sambil matanya tetap terpejam, sementara telinganya berkonsentrasi penuh untuk mendengarkan suaraku di seberang sana.

"Tanganmu kini juga mulai meremas-remas lembut kejantanan Mas di bawah sana. Santi, kamu memang luar biasa. Kamu mengusap sepanjang batangnya, pelan-pelan ke atas lalu ke bawah lalu ke atas lagi. Remasan jemarimu berhenti di pangkal bagian atasnya yang membulat keras, lalu sesekali jari telunjukmu menyentuh-berputar pada lubang di ujungnya. Kamu mengusapnya lagi ke arah bawah pelan sekali, kamu meremasi kedua bola di pangkal bawahnya, kamu memeras, meremasnya di sana. Oocchh..." aku berhenti sejenak. Tanganku tetap bergerak-gerak di bawah sana melakukan aktivitas seperti yang aku ceritakan kepadanya.

Udara dingin menyebabkan aku harus menyelimuti badanku, tetapi sentuhan selimut di atas kejantananku yang hanya tersaput celana dalam tipis ternyata berdampak lain. Kenangan erotis tentang Eksanti membuatku terbakar birahi. Perlahan tapi pasti, kejantananku menegang. Semakin lama, semakin tegang, berdenyut penuh gairah.

"Oocchh, Mas... Santi juga sedang membayangkan hal itu terjadi sekarang," Santi pun mulai benar-benar hanyut dalam fantasi yang sama denganku.

Kira-kira hampir semenit kami berdua hening, tidak bersuara. Kami benar-benar sedang terhanyut dalam sensasi seksual masing-masing, sementara tangan kami yang terbebas dari gagang telepon melakukan aktivitas untuk membangkitkan gairah. Suara dengusan, rintihan pelan, dan hembusan napas panjang saling menimpali, membuat suasana semakin romantis. Ketika aku semakin tidak kuasa menahan rasa geli dan nikmat di bawah sana, aku menghentikan aktivitas tanganku. Aku mengangkat sedikit tubuhku dan dengan sekuat tenaga menurunkan sedikit celana tidurku dengan satu tangan, untuk memberikan keleluasaan pada kejantananku.

"Eksanti," bisikku, "sedang apa kamu di sana? Kamu mau tahu nggak apa yang Mas barusan lakukan?"
"Hee em," desahnya pendek.
"Celana tidur Mas sekarang telah terlepas, kejantanan Mas sudah tegak menegang. Kamu masih ingat jelas bentuknya, kan? Sekarang maukah kamu melepas celana dalam kamu juga, 'yang...?" aku menceritakan keadaanku sekaligus memohon kepadanya untuk melakukan hal yang sama.

Bersambung...

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya