18px

Figuran - 2

Figuran - 2

QUICKIE

Akupun langsung naik ke lantai sembilan karena memang sudah janjian untuk menemani menginap dengan tamuku yang lain. Dengan tamuku inilah aku berharap bisa menumpahkan segala birahi yang tertahan sejak tadi—ingin kuberikan servis sepenuhnya, bercinta hingga pagi, nonstop.

Pak Beni, nama tamuku berikutnya, ternyata sudah menungguku. Terlihat sinar kelelahan di matanya.

"Ah, akhirnya kamu datang juga, hampir kutinggal tidur," sambutnya ketika membukakan pintu kamar.

"Maaf, Pak, habis tadi teman-teman ngundang pesta ulang tahun dulu, untung aku bisa ngabur nemuin Bapak," jawabku berdalih.

Mana mungkin aku berterus terang kalau sedang menemani tamu lainnya. Sudah menjadi watak dasar manusia—meskipun statusku hanyalah gadis panggilan, kalau mendengar aku sedang bersama laki-laki lain, selalu timbul rasa cemburunya. Ini berdasarkan pengalamanku.

Aku langsung mandi dua kali dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit, di kamar yang berbeda dan dengan orang yang berbeda pula, sekadar memastikan tidak ada lagi sisa-sisa dari tamuku sebelumnya. Selesai mandi, kukenakan piyama yang ada di lemari dan kutemani Pak Beni yang sedang tiduran di ranjang menungguku.

"Bapak capek ya, sini aku pijitin," aku menawarkan diri.

"Pijit beneran ya, kebetulan aku lagi capek dan ngantuk—dari Jember tadi, jalanan macet lagi," jawabnya sambil langsung tengkurap.

Sepuluh menit kemudian kudengar dengkur kelelahan dari Pak Beni. Rupanya dia sudah tertidur, meninggalkanku seorang diri dalam keadaan masih terbakar gairah. Tidak tega rasanya membangunkannya, dan tidaklah etis kalau aku memaksa dia untuk melampiaskan nafsuku. Maka akupun kembali "menganggur" mendengarkan dengkurannya.

"Sungguh malam yang sial," pikirku. Baru kali ini aku dibooking dua laki-laki dalam semalam tanpa merasakan penis di vaginaku. Dengan susah payah, akhirnya akupun tertidur di sampingnya dalam keadaan birahi yang masih menggantung tinggi.

Keesokan paginya saat aku terbangun, kulihat Pak Beni sudah rapi bersiap untuk pergi.

"Pagi, Pak, maaf aku baru bangun—abis Bapak nggak ngebangunin sih," sapaku lemah.

"Sorry, semalam aku tertidur. Habis pijitanmu enak sih, dan lagi badanku terasa capek banget," jawabnya sopan.

Kulihat dia meletakkan amplop putih di atas meja.

"Aku ada rapat nanti jam sembilan, kalau kamu pulang titipkan saja kuncinya di resepsionis—dan ini uang kamu," lanjutnya.

Pak Beni adalah pelanggan tetapku; setiap kali ke Surabaya dia selalu membookingku. Biasanya kami bercinta hingga pagi, tapi kali ini lain. Mungkin karena sudah akrab, dia tetap membayarku meskipun tidak menerima servis atau menikmati tubuhku—aku jadi tidak enak dibuatnya.

"Ah nggak usah, Pak, toh kita nggak ngapa-ngapain. Lagian aku sudah numpang tidur di sini," aku menolak pembayarannya.

"Jangan begitu, kamu toh sudah meluangkan waktumu menemaniku tidur, jadi sudah hak kamu untuk mendapatkannya."

"Tapi aku kan tidak berbuat apa-apa untuk Bapak," aku masih bersikeras.

"Itu salahku dan aku tidak mau kesalahan itu merugikan kamu."

Aku terdiam sesaat.

"Aku tidak bisa terima pemberian tanpa mengerjakan apa-apa."

"Ya udah, kalau begitu bersihkan kamar sebelum pergi," katanya sambil tertawa.

"Bapak kan rapat jam sembilan, sekarang masih jam delapan—jadi ada waktu tiga puluh menit kan?" bujukku sambil mendekatinya.

Kupeluk tubuhnya yang setinggi telingaku itu sambil tanganku meremas-remas selangkangannya.

"Kamu memang pintar merayu—maumu apa?" tanyanya pura-pura.

"Paling sepuluh menit aja," jawabku meyakinkan sambil membuka resleting celananya. Dia diam saja.

"Mana bisa sepuluh menit—paling tidak tiga puluh menit."

"Percaya aku deh, sepuluh menit tidak lebih, bahkan mungkin kurang," tantangku sambil mengeluarkan dan mengocok penisnya.

Kucium lehernya—aroma parfumnya terasa lembut menyengat. Kukeluarkan kejantanannya; dia mulai mendesis dan menjamah dadaku, tangannya diselipkan di balik piyama, meremas-remas lembut bukit ranum di dadaku. Aku merosot turun dari pelukannya, berlutut di depannya—penisnya tepat di depanku. Sedetik kemudian kulahap habis dan keluar-masuk ke mulutku. Pak Beni mendesis, meremas-remas rambutku, dan mulai menggerakkan pinggulnya mengocok mulutku.

Lidah dan bibirku bergerak lincah sepanjang penis yang makin keras menegang, sesekali kuselingi dengan gigitan ringan menggoda. Aku lalu duduk di atas meja menghadapnya, piyama sudah melayang dari tubuhku. Kusapukan penis tegangnya—tanpa menunggu lebih lama, dia mendorong masuk melesakkannya ke vaginaku. Terasa sedikit sakit dan perih karena vaginaku masih kering, hanya air liurku di batang penisnya yang menjadi pelumas. Dengan sedikit usaha akhirnya bisa tertanam semuanya. Terasa begitu nikmat setelah tersiksa semalaman. Seperti biasa, Pak Beni langsung mengocokku dengan cepat dan keras—permainannya memang cenderung kasar namun menimbulkan kesan erotis.

Dia meremas-remas kedua buah dadaku dengan keras. Tiba-tiba secara kasar dicabutnya penis itu, tubuhku dibalik, aku menungging di depannya dengan tangan bersandar pada meja. Detik berikutnya dia mulai memompaku dari belakang, tepat menghadap cermin di atas meja. Aku terdongak merasakan sodokan demi sodokan; ditariknya rambutku ke belakang, lalu pegangannya beralih ke buah dadaku dan meremasnya kuat. Aku menjerit antara sakit dan nikmat—Pak Beni tidak mempedulikan jeritanku, semakin kuat dia membenamkan ke vaginaku, sesekali diiringi tamparan ringan pada pantatku yang terasa agak panas. Semakin aku mendesah, semakin kuat tamparannya. Kutoleh wajahnya yang menyeringai menikmati permainan ini; pantatku sudah agak memerah.

Permainan kasarnya membawaku melayang mengarungi lautan kenikmatan. Aku mengimbangi dengan goyangan pantat, meremas-remas kejantanannya yang berada di vaginaku. Akhirnya kurasakan tubuhnya menegang, cengkeraman di buah dadaku makin kuat, dan menyemburlah cairan nikmat memenuhi celah-celah kenikmatanku—terasa hangat, seiring dengan denyutan kuat menghantam dinding-dinding kewanitaanku. Pak Beni menjerit keras dalam kenikmatan saat kuremas-remas dengan otot-otot vaginaku.

Meskipun aku belum orgasme, aku sudah puas melihat tamuku mendapat kenikmatannya. Segera kucabut penisnya, kuraih dan kugenggam—ternyata masih cukup keras. Aku mengambil piyama yang tergeletak di lantai untuk membersihkan penis itu, tapi Pak Beni mendorong tubuhku turun. Mengerti maksudnya, maka kukulum kembali penisnya sambil kusapu-sapukan ke wajahku. Bau sperma sangat kuat, lebih tajam dari punya tamuku tadi malam.

"Delapan menit—ternyata kamu memenuhi janjimu, tidak lebih dari sepuluh menit," katanya saat aku "mencuci" penisnya dengan mulutku.

Dia langsung memasukkan kejantanannya kembali ke 'sarang'-nya setelah dirasa cukup bersih.

"Kuncinya kasih aja ke resepsionis kalau kamu pulang nanti," katanya sambil menutup resleting celananya.

"Nanti siang kalau Bapak masih mau melanjutkan, HP aja ya," kataku sebelum dia meninggalkan kamar.

Aku tahu bagi dia tentu belum cukup kalau hanya permainan cepat seperti itu, dan aku yakin uang yang dibayarkan adalah untuk tarif menginap seperti biasanya—meskipun aku belum membuka amplop itu.

"Tergantung nanti," jawabnya seraya menutup pintu kamar.

VAGINA MONOLOG

Sepeninggal Pak Beni, aku kembali rebahan di ranjang, ingin melanjutkan tidur yang tidak terlalu nyenyak. Kunyalakan HP dan membaca SMS yang masuk—tidak ada booking yang masuk, semua hanya ajakan hura-hura nanti malam.

Aku kembali terlelap dalam pelukan ranjang hangat nan empuk. Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Agak malas juga menerimanya—ternyata Pak Indra, salah satu tamu langgananku yang unik.

"Haloo, pagi, Pak," suaraku agak parau.

"Pagi, Non. Baru bangun rupanya ya," suara dari seberang sana.

"Ih, Bapak sok tahu deh," jawabku manja.

"Dari suaranya emang kelihatan, masih parau."

"Ah udah lama kok, tapi tidur lagi—abis cuacanya ngajak tidur sih," aku memberi alasan karena di luar memang mendung.

"Ya udah, kalau nggak ada acara kita ketemu yuk, gimana?"

"Kapan dan di mana?" aku mulai antusias.

"Gimana kalau sekarang aja? Aku lagi ada seminar di hotel ini, giliranku nanti setelah makan siang, jadi kita bisa ketemu sebelumnya. Kalau sesudahnya nggak bisa. Gimana?"

Aku terdiam kaget. Entah kebetulan macam apa ini—ketiga tamuku berturut-turut berada di hotel yang sama, tinggal naik atau turun lantai.

"Haloo, gimana, Ly? Bisa nggak?"

"Pagi ini? Kasih aku satu jam deh—mandi dulu, sarapan dulu, dan pagi gini biasanya macet. Bapak di kamar berapa sih?"

Dia menyebutkan nomor kamarnya. Berarti aku harus naik lagi dua lantai. Sengaja aku minta waktu lebih lama supaya tidak curiga kalau kami berada di hotel yang sama.

Kumanfaatkan waktu yang tersisa dengan mandi dan berendam di bathtub. Air hangat serasa melemaskan otot-ototku dan meredakan ketegangan, begitu rileks dan santai. Lebih tiga puluh menit kuhabiskan dalam nikmatnya pelukan air panas di pagi hari. Segera aku berpakaian—terpaksa mengenakan pakaian yang sama dari semalam untuk menemui tamuku ketiga. Riasan tipis kusapukan ke wajah, tak lupa parfum Issey Miyake menambah semarak aroma tubuhku. Setelah mengemasi barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kupanggil Room Boy untuk menitipkan kunci ke resepsionis sambil menyelipkan selembar dua puluh ribu—kulihat dia begitu gembira menerima rezeki di pagi hari. Kukusuri koridor menuju lift; beruntung sepanjang jalan menuju kamar Pak Indra tak kujumpai orang yang kukenal.

Pak Indra menyambutku dengan ciuman di pipi. Penampilannya masih seperti biasanya—tenang, lembut, tampan, dan elegan di usianya yang sudah pertengahan empat puluhan. Dia seorang dokter spesialis, meskipun aku tidak tahu spesialis di bidang apa. Kumis dicukur rapi, dasi merah muda menghiasi stelan kemeja yang berwarna senada.

"Udah lama nunggu, Dok?" sapaku setelah melepaskan diri dari pelukan dan ciumannya.

"Jangan panggil gitu ah, kayak pasien aja. Aku baru datang, belum juga duduk kamu udah nongol."

Pak Indra adalah tamu yang terbilang unik—dia lebih suka mengobrol dan curhat daripada harus bercinta. Entah kenapa, tak jarang dia memuji-muji kecantikan dan kebaikan istrinya, toh meskipun begitu dia tetap selingkuh. Secara garis besar aku jadi tahu kehidupan pribadi keluarganya—istri, anak-anak, pekerjaan, semua diceritakan dengan mendetail. Dia begitu terbuka padaku, tapi aku tidak pernah tahu alasan sebenarnya dia berselingkuh.

Seperti kebiasaannya, kami duduk berseberangan di sofa seperti orang yang sedang bicara bisnis. Tidak ada pembicaraan yang menjurus ke seks ataupun pornografi—semua hanya masalah ringan tentang politik, film, TV, dan musik. Untunglah aku yang sering menonton TV dan membaca majalah bisa meladeni pembicaraannya dengan baik. Cangkir teh dan cemilan yang ada di meja di depan kami sudah habis; mungkin sudah lebih setengah jam kami mengobrol, tapi tidak ada tanda-tanda untuk mulai permainan panas. Aku sudah maklum akan kebiasaannya, jadi tidak perlu buru-buru.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10.47 ketika dia menggandengku ke ranjang. Kami saling melepas pakaian, menyisakan celana dalam dan bra hitam berenda putih—kontras dengan kulitku yang putih mulus. Dia memandangiku sejenak.

"Kamu makin cantik dan sexy," komentarnya.

Dengan sopan Pak Indra merebahkan tubuhku di atas ranjang. Bibir lembutnya menyapu kening, pipi, dan bibirku. Aku terpejam menikmati sentuhan lembutnya yang menyusuri wajahku. Sapuannya perlahan menjelajah turun—leher dan dada adalah favoritnya. Masih dengan lembut dia mengeluarkan kedua bukitku dari 'sarang'-nya. Lidahnya langsung mendarat di puncaknya dan menari-nari mempermainkan puting yang merah kecoklatan. Aku mendesah merasakan kenikmatan yang mulai menjalar ke sekujur tubuhku. Tangan Pak Indra berpindah dari remasan di dada ke selangkangan; diselipkannya di antara celana dalamku, menggesek-gesekkan jari di bibir liang kenikmatan yang masih kering. Bibirnya bergerak turun ke perut dan berhenti di antara kedua kakiku. Dengan giginya dia melepas celana dalam yang menghalangi gerakannya.

Aku menjerit tertahan saat lidahnya mulai menyentuh klitorisku. Ada kekhawatiran—apakah dia, seorang dokter, masih bisa mendeteksi sisa-sisa sperma di rongga kewanitaanku meskipun aku sudah berusaha membersihkannya sejauh mungkin. Kecemasanku perlahan hilang saat bibirnya mulai mempermainkan bibir vaginaku. Dengan gerakan yang kurasa indah, disusurinya celah-celah kewanitaan di selangkanganku—sungguh terasa kenikmatan yang berbeda dari jilatan lainnya. Aku semakin mendesah nikmat sambil meremas-remas kedua buah dadaku, sesekali kujepit kepalanya dengan pahaku dan kuremas-remas rambutnya.

Pak Indra hanya tersenyum melihat kenakalanku, tapi dia terus melanjutkan permainan lidah dan mulutnya. Puas bermain di selangkangan, ciumannya kembali naik ke perut, dada, dan untuk kesekian kalinya kami saling melumat, bibir, lidah beradu lidah. Pak Indra membalik tubuhku, dijilatinya telinga, tengkuk, dan sekujur punggungku hingga ke pantat. Aku menggelinjang geli, apalagi tangannya tak henti mempermainkan vagina dan klitoris. Memang kegemaran dan keahlian Pak Indra adalah melumat seluruh tubuh pasangannya—mungkin ini adalah kompensasi atas kelemahan yang dia miliki.

Entah sudah berapa kali vaginaku mendapat sedotan dan kuluman darinya. Kami berpelukan mesra dan bergulingan; kini giliran aku memuaskannya. Ciumanku turun ke leher dan dada, kukulum dengan gigitan ringan di putingnya—Pak Indra menggelinjang. Lidahku menyusuri perutnya yang rata seolah tanpa lemak. Akhirnya kulepas celana dalamnya, tampaklah kejantanan yang masih tergolek lemas. Inilah keunikan dari Pak Indra—dia menderita impotensi ringan (menurutnya). Laki-laki normal pasti sudah tegang setelah cumbuan-cumbuan seperti itu, tapi ini kasus lain. Karena aku sudah berulang kali melayaninya, aku pun sudah mempersiapkan mental untuk itu.

Kugenggam penisnya yang lemas. Ingin ketawa rasanya melihat penis yang begitu tidak berdaya—padahal masih relatif muda—tapi tentu saja kusimpan perasaan itu dan beralih ke rasa kasihan. Kuciumi dengan penuh kasih sayang pada penis yang tidak pernah memberiku kepuasan itu. Begitu bersih dan kemerahan, tanpa ragu kujilati dan kumasukkan dalam mulutku—semua bisa kulahap masuk, hidungku menyentuh rambut kemaluannya. Pak Indra mulai mendesis saat kupermainkan lidahku pada penisnya yang masih berada di dalam mulutku.

Beberapa menit kemudian penis itu mulai sedikit menegang, tapi masih jauh dari memenuhi syarat untuk penetrasi. Kombinasi kuluman dan kocokan tangan, disertai elusan lembut di kantong bola, membuatnya semakin mendesah dalam irama kulumanku.

"Kita coba, Ly," katanya, seperti kebiasaannya.

Aku telentang di sampingnya dan kubuka kakiku lebar-lebar. Dia mengambil posisi di atas seperti layaknya laki-laki siap bersetubuh. Kubantu menggesekkan penisnya ke vaginaku—belum berhasil. Beberapa kali kucoba, tetap saja masih kurang perkasa untuk menembus, malah semakin meredup. Terpaksa kuambil inisiatif lain: kuminta dia telentang, kukulum dan kupermainkan sejenak seperti tadi hingga sedikit menegang, segera kunaiki tubuhnya dan kuusapkan ke bibir vaginaku—namun kembali tidak membuahkan hasil.

Setelah beberapa kali usaha dengan bermacam cara, akhirnya kami menyerah. Terpancar sinar kekecewaan di wajahnya meskipun senyuman tetap menghiasi bibirnya. Aku merasa gagal memuaskannya, meskipun hal yang sama selalu terjadi setiap kali kami bertemu. Kadang hanya sekali penetrasi bisa terjadi lalu tak bisa masuk lagi, namun kali ini gagal total. Akhirnya kuputuskan memuaskannya dengan cara lain seperti yang biasa kulakukan pada Pak Indra. Aku berlutut di antara kakinya; dia hanya telentang menunggu permainanku. Menit pertama hanya kuciumi seluruh batangnya; menit selanjutnya jilatanku merambah ke daerah kantong bola; menit berikutnya penis lemas itu sudah keluar-masuk mulutku diiringi permainan lidah dalam rongga mulut. Pak Indra mendesah kenikmatan dengan caranya sendiri—basah seluruh selangkangannya karena ludahku. Kombinasi antara jilatan, kuluman, dan kocokan cukup membuatnya terbuai dalam gelombang kenikmatan.

Kami berubah posisi 69—dengan posisi ini kami bisa saling memberikan kenikmatan. Harus kuakui kepiawaiannya bermain oral ikut membawaku melayang, meskipun sangat jarang aku bisa orgasme hanya dengan oral. Tapi saat ini kenikmatan seperti itu sudah cukup bagiku daripada tidak sama sekali. Tak lama kemudian kudengar teriakan keras disusul sedotan kuat pada vaginaku. Sedetik kemudian kurasakan sperma meleleh pelan keluar dari kejantanannya—segera kumasukkan penisnya ke dalam mulutku dan kurasakan spermanya yang asin gurih membasahi lidahku, aromanya masih keras kurasa. Dan penis yang lemas itu pun semakin melemas dalam mulutku.

"Uff, kamu memang pintar membuat orang puas," komentarnya setelah aku turun dari tubuhnya.

Kusapukan penis lemas itu ke wajahku.

"Ah, Bapak juga pintar mempermainkan orang kok," pujiku jujur.

Pukul 11.30 aku sudah keluar dari kamar Pak Indra setelah mandi membersihkan tubuhku dari sisa-sisa ludahnya. Meskipun tujuan kami sama-sama ke lobi, demi keamanan kami harus jalan sendiri-sendiri seolah tidak saling mengenal. Sesampai di lobi kucoba menghubungi HP Pak Beni, tapi tidak aktif—aku belum mendapat kepastian apakah dia akan melanjutkan siang ini atau tidak.

Beberapa saat kemudian kulihat Pak Indra sudah di lobi diiringi beberapa rekannya menuju ruang seminar. Aku yakin mereka adalah sesama dokter. Pak Indra terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan stelan jasnya—pasti tak seorangpun menyangka kalau dia menderita secara psikis sejak kecelakaan lalu lintas yang membuatnya impotan. Dia hanya melirikku penuh arti ketika kami bertemu pandang; senyumnya hanya bisa diartikan antara aku dan dia.

Kutunggu Pak Beni yang belum juga memberi kepastian. Setelah dua puluh menit tidak ada kabar, kutinggalkan hotel itu menuju hotel lain yang sudah menunggu kedatanganku dengan tipe dan bentuk permainan yang berbeda.

E N D

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya