18px

Figuran Cantik

Figuran Cantik

Selama menjalani kehidupan sebagai seorang call girl, banyak hal yang kualami: bermacam-macam perilaku seksual, cara hidup yang sama sekali tak pernah terbayangkan sebelumnya. Sebagian besar orang menyebutnya kelainan seksual, sebagian lagi menyebutnya gaya hidup, bahkan ada yang menyebutnya petualangan. Terserah dari sudut mana mereka memandang. Bagiku, semua itu adalah ekspresi naluri liar yang ada dalam diri manusia. Sudah beberapa kali aku melayani tamu yang punya fantasi seksual liar — mereka minta dilayani dua sampai tiga wanita sekaligus. Meskipun sebenarnya kebanyakan dari segi fisik tidak mampu, fantasi untuk diperlakukan bak raja selalu mengalahkan logika.

Sore itu seperti biasa aku sudah meluncur dari satu hotel ke hotel lainnya, dari satu ranjang ke ranjang lainnya, dari pelukan satu lelaki ke lelaki lainnya. Tamuku kali ini sebenarnya tidak seperti biasanya — dia mengaku ingin main bertiga bersama istrinya. Katanya, ini sudah kali kedua aku melayani pasangan suami-istri.

Meskipun aku sudah kebal dengan perilaku aneh, aku masih belum bisa mengerti mengapa seorang istri membiarkan suaminya bercinta dengan wanita lain di hadapannya sendiri, bahkan ikut terlibat. Tapi apa peduliku? Selama mereka membayar sesuai kesepakatan, tidak ada yang salah. Aku memang bukan seorang biseksual yang bisa melayani perempuan, namun melayani sepasang suami-istri memberikan sensasi yang jauh lebih tinggi daripada sekadar permainan bertiga biasa.

Ketika sampai di kamar yang kutuju, sang istri — seorang wanita berkulit putih yang tidak terlalu cantik — menyambutku di pintu kamar hotel di Jalan Basuki Rahmat. Usianya kutaksir awal empat puluhan, tapi badannya masih bagus seperti gadis dua puluhan. Suaminya terlihat acuh menyambut kedatanganku; mungkin berusia lima puluh tahunan, cukup jauh perbedaan mereka.

"Mas, ini Lily sudah datang nih," kata si istri kepada suaminya yang hanya melirikku sambil menonton TV.

"Hmm, langsung saja suruh dia mandi," perintahnya dengan angkuh tanpa melihatku.

Agak ragu juga aku melihat sambutan suaminya seperti itu. Mungkin dia tidak cocok denganku, entahlah. Istrinya hanya tersenyum ke arahku sambil menggandengku ke kamar mandi.

"Mandi dulu, lalu kenakan ini," kata si istri menyerahkan piyama batik yang diambil dari lemari.

"Bapak baik-baik saja, Mbak? Kalau dia tidak cocok sama aku, lebih baik tidak jadi saja daripada dipaksain — nanti tidak bisa menikmati," tanyaku melihat keangkuhan suaminya.

"Dia memang begitu, dingin-dingin mau. Lihat saja nanti, percaya deh sama aku," jawabnya meyakinkan.

Ternyata si istri tidak keluar ketika aku mulai melepas kaos dan celana jeansku. Dia malah ikut melepas pakaiannya sambil memperhatikanku mandi.

"Maaf Mbak, aku tidak bisa melayani Mbak," kembali aku menegaskan posisiku ketika kulihat dia sudah hampir telanjang.

"Huss, aku juga tidak mau. Jangan pikirkan itu — yang penting suamiku puas."

"Maas, mau ikutan mandi bareng tidak?" teriak istrinya dari kamar mandi, namun tak ada jawaban dari suaminya, bahkan sampai teriakan ketiga pun tidak terdengar respons.

"Badan kamu bagus, pasti dia cepat mabuk kepayang," komentarnya saat melihatku mandi.

Selesai mandi aku tidak jadi mengenakan piyama. Aku dan si istri hanya berbalut handuk di dada ketika kami keluar bersamaan. Ternyata si suami sudah berbaring di atas ranjang, hanya mengenakan celana dalam. Si istri memandangku penuh arti lalu menganggukkan kepala — aku segera mengerti.

Tanpa rasa segan pada istrinya, aku menyusul suaminya ke ranjang. Namun sebelum sampai, si istri menarik lepas handukku hingga aku telanjang di depan suaminya.

"Wow, kamu cantik dan seksi dengan payudara yang indah," komentar suaminya melihat tubuh telanjangku.

Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya, lalu berjongkok di antara kedua kakinya. Kuraba-raba pahanya; terlihat kejantan­annya yang menonjol dari balik celana dalamnya. Sengaja kuperlambat irama permainan, tidak terburu menyentuh kejantanannya.

"Ciumi dadanya, Ly. Dia senang diperlakukan seperti itu," bimbing si istri yang duduk di samping suaminya.

Segera kunaiki tubuh si suami. Kuciumi pipi dan lehernya, kujilati putingnya, lalu bibir dan lidahku turun menyusuri dada dan perutnya, sementara tanganku mulai meraba dan meremas kejantanannya yang semakin keras. Mereka berciuman ketika kulepas celana dalamnya dan langsung keluarlah penisnya — tidak terlalu istimewa, biasa saja. Langsung kugenggam, kuremas-remas, kukocok; mereka masih berciuman bibir sementara tangan si suami meremas buah dada istrinya.

"Kulum dan lumat dia," perintah istrinya saat melihatku sudah mulai menciumi kejantanan suaminya.

Ketika lidahku mulai menyentuh kepala penisnya, kulihat si suami sesaat menatapku.

"Uff, ya terus, sayang," komentarnya — entah ditujukan padaku atau pada istrinya.

Mereka kembali saling melumat bibir. Kusapukan lidahku ke seluruh kepala dan batang penisnya, bahkan hingga kantong bola; desahannya tertahan di mulut istrinya. Mereka menghentikan ciuman ketika kumasukkan kejantanannya ke mulutku — keduanya menatap bagaimana penis itu menerobos masuk di sela-sela bibirku lalu meluncur keluar-masuk dengan cepat, tangan si suami memegang kepalaku dan mendorongnya lebih dalam.

"Sshh, kamu pintar, manis... terus... ya..." desahnya kembali.

Tak lama kemudian si istri menyodorkan putingnya ke mulut suaminya; bergantian mereka mendesah. Aku masih menjalankan tugasku — menjilat dan mengulum saat suami-istri itu berganti posisi membentuk 69, keempat tangan bergantian mengocok penis itu diselingi jilatan dan kulumanku. Beberapa kali jeritan si suami terucap disertai pujian saat penis itu meluncur di mulutku. Istrinya hanya tersenyum dan menatapku tajam setiap kali kulumat atau kusapukan lidahku pada kejantanannya — dia seperti menikmati, namun tak sekalipun bibirnya menyentuh penis suaminya sendiri.

Si istri memutar tubuhnya dan mengatur posisi di atas suaminya. Perlahan tubuhnya turun diiringi desahan nikmat; aku yang masih berada di selangkangan dengan jelas melihat bagaimana penis itu pelan-pelan menguak liang kenikmatannya sambil kuelus-elus kantong bolanya. Tubuh si istri langsung turun-naik ketika berhasil menelan semua penis si suami — seperti naik kuda, dia menghentakkan tubuhnya kuat-kuat diiringi desahan-desahan erotis.

Aku berpindah ke atas. Kuciumi pipi si suami; dia langsung meraih kepalaku dan melumat bibirku dengan penuh gairah, lidah kami saling beradu, tangannya menggerayangi kedua buah dadaku dan meremasnya cukup kuat — sekuat goyangan istrinya di atas. Vaginaku terasa semakin basah melihat permainan liar si istri; aku ingin segera merasakan kenikmatan yang sama, tinggal menunggu kesempatan.

Sambil mendapat kuluman bibir dan remasan, tanganku tanpa sadar mulai mempermainkan klitorisku sendiri. Kusodorkan putingku ke mulut si suami; disambutnya dengan kuluman-kuluman liar pula, dan akupun ikut mendesah. Ketika teriakan orgasme si istri meledak, aku merasa giliranku segera tiba. Kugeser tubuhku di belakang si istri, seperti orang yang sedang mengantri. Meskipun si suami tidak terlalu menarik perhatianku secara fisik, melihat permainan mereka aku ikut terbawa suasana — dan lebih dari itu, sensasi bercinta dengan lelaki di depan istrinya adalah sesuatu yang tak pernah kulupakan.

"Aduh Mas, enak banget — lebih asyik daripada di rumah," kudengar bisikan si istri di sela-sela napasnya; mereka berpelukan beberapa saat.

Aku masih di belakang si istri sambil mengelus-elus kantong bola suaminya, berharap dia segera turun.

Setelah istrinya turun, si suami menarikku dalam pelukannya. Kami kembali berciuman dan bergulingan — dia mencumbui sekujur tubuhku, menjilati leherku, melumat kedua putingku. Vaginaku yang sudah basah semakin basah; aku ingin segera merasakan penetrasi, tapi rupanya dia masih ingin mempermainkanku lebih lama. Aku tahu penisnya yang tegang hanya beberapa milimeter dari liang kenikmatanku — bahkan sesekali kurasakan gesekan keras di bibir vaginaku — tapi belum juga terjadi penetrasi. Aku makin tersiksa; berkali-kali permintaanku untuk segera melesakkan penisnya hanya ditanggapi dengan senyuman.

Istrinya yang dari tadi hanya menonton suaminya mencumbuiku, mulai ikut terlibat — mengelus-elus punggungnya, menciumi pantatnya, lalu mengocok penisnya dengan tangannya, sesekali diusapkan ke vaginaku tanpa memasukkan. Kupeluk erat tubuh si suami di atasku; ingin segera mendapat kocokan di vagina. Ciumannya turun hingga mencapai selangkanganku, lidahnya menjelajah seluruh daerah intim yang sudah basah; aku semakin mendesah terbakar birahi.

Tiba-tiba si istri telentang di sampingku dan menarik tubuh suaminya dari selangkanganku dengan paksa. Tentu saja aku kecewa, tapi apa dayaku — aku tidak berhak menuntut layanan atas suaminya.

Dengan hati dongkol aku terpaksa tersenyum saat si suami mengecup bibirku dan berpindah ke atas tubuh istrinya. Aku masih telentang terdiam dengan perasaan kesal; napas yang mulai menderu semakin kencang saat melihat pantat si suami mulai turun-naik dengan cepat di atas tubuh istrinya, diiringi desahan nikmat mereka berdua.

Permainan mereka sungguh menggoda. Aku jadi terdorong untuk ingin ikut bertiga; berkali-kali kugoda mereka untuk mengalihkan perhatian padaku, tapi si istri selalu menghalangi setiap kali suaminya hendak beralih ke aku — kecuali sebatas cumbuan dan rabaan. Sambil mengocok istrinya, tangan si suami menggerayangi tubuhku; aku hanya mendesah sambil mempermainkan klitoris dengan jariku sendiri. Kini aku ikut mendesah dengan caraku sendiri, dibantu rabaan si suami.

Mereka bercinta dengan liar, berganti-ganti posisi; aku selalu menempatkan diri agar tubuhku terjangkau dari rabaan si suami, terkadang secara demonstratif kupermainkan klitorisku di depan suaminya. Namun semua usahaku untuk merengkuh orgasme sia-sia belaka. Aku memang tidak pernah bisa melakukannya sendiri sampai klimaks, dan memang tidak mau — karena selalu ada lelaki yang memenuhi hasrat ini; mana bisa dibandingkan kenikmatan kocokan penis dengan permainan jari di klitoris.

Ketika mereka berposisi doggie, aku berdiri di depan suaminya dan kusodorkan vaginaku ke mukanya. Dia menyambut dengan jilatan lidahnya di klitoris tanpa menghentikan kocokannya; kuremas-remas rambutnya. Bahkan ketika aku ikut nungging di atas tubuh istrinya, dia hanya menciumi vagina dan pantatku, tanpa memenuhi hasratku — tidak juga dengan kocokan jari-jari tangannya. Tidak terjadi.

Entah sudah berapa kali kudengar teriakan orgasme dari si istri, tapi dia selalu menghalangi setiap kali suaminya berusaha beralih padaku. Akhirnya aku menyerah pasrah. Kupeluk si suami dari belakang saat dia mengocok istrinya — buah dadaku menempel rapat pada punggungnya yang berkeringat, terasa hangat; kugesek-gesekkan sambil meraba dada dan perut yang agak buncit itu, sesekali kuciumi tengkuknya. Tangannya kubimbing ke selangkanganku, namun dia hanya mengusap-usap klitoris dan menggesek bibir vaginaku tanpa berusaha memasukkan apa pun; ketika kupaksa memasukkan jari-jarinya, dia malah menariknya. Aku semakin putus asa. Mereka bersetubuh dengan liar seakan melupakan keberadaanku di kamar itu.

Harapanku semakin terbang menjauh saat kudengar teriakan puncak mereka berdua secara bersamaan. Si suami segera menarik keluar kejantanannya, membalik tubuh istrinya, lalu menjepit penis yang masih basah oleh cairan kenikmatan itu di antara kedua buah dadanya. Beberapa kali si istri menghindar dan menutup rapat bibirnya saat kepala penis mengenai mulutnya.

Si suami melirik ke arahku — seperti baru sadar aku ada. Ditariknya tubuhku lalu ditelentangkan di samping istrinya; dia beralih menaiki tubuhku dan menjepit penisnya di antara buah dadaku sambil memainkan putingku hingga akhirnya melemas beberapa menit kemudian, diakhiri dengan kocokan di mulut. Kurasakan aroma sperma yang kuat memenuhi rongga mulutku — pasti sudah bercampur dengan cairan istrinya. Dia tersenyum puas, lalu tanpa sepatah kata meninggalkanku sendirian di ranjang, menyusul istrinya ke kamar mandi. Tak lama kemudian kususul mereka, dan berdua dengan si istri kami memandikannya.

Babak selanjutnya ternyata tidak lebih baik. Sepertinya mereka memang menyewaku hanya untuk menambah sensasi — peranku sebatas foreplay dan penutup, tanpa aku bisa merasakan permainan yang sesungguhnya. Seperti figuran yang hanya numpang lewat, penambah indahnya permainan.

Pukul 23:30, setelah membersihkan diri dan mandi, aku pamit pulang. Sebenarnya mereka masih mengharapkanku menginap untuk melanjutkan permainan, namun meskipun statusku dibayar, berperan seperti itu adalah siksaan yang berat. Dengan alasan sudah ada janji dengan orang lain, mereka tidak bisa menahanku lebih lama karena memang tidak ada permintaan menginap sebelumnya. Akhirnya mereka melepas kepergianku, mungkin dengan kecewa. Hingga keluar kamar, aku tidak tahu nama suami-istri tersebut. Bukan pertama kali hal ini terjadi — bahkan terkadang meskipun kami tidur dan bercinta semalaman, aku tidak tahu nama orang yang telah menikmati tubuhku.

Aku langsung naik ke lantai 9, karena sudah ada janji untuk menemani menginap dengan tamu berikutnya. Dengan tamu inilah aku berharap bisa menumpahkan segala birahi yang tertahan sejak tadi — ingin memberikan servis spenuhnya, bercinta hingga pagi nonstop.

Pak Beni, nama tamu berikutnya, ternyata sudah menungguku. Terlihat sinar kelelahan di matanya.

"Ah, akhirnya kamu datang juga. Hampir kutinggal tidur," sambutnya saat membukakan pintu kamar.

"Maaf Pak, habis tadi teman-teman mengundang pesta ulang tahun dulu. Untung aku bisa ngabur nemuin Bapak," jawabku berdalih. Mana mungkin aku berterus terang kalau sedang menemani tamu lain. Sudah menjadi sifat dasar manusia — meskipun statusku hanyalah gadis panggilan, kalau mendengar aku sedang bersama lelaki lain selalu timbul rasa cemburu. Ini berdasarkan pengalamanku.

Aku langsung mandi dua kali dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit, di kamar yang berbeda dan dengan orang yang berbeda pula — sekadar memastikan tidak ada sisa-sisa dari tamu sebelumnya. Selesai mandi, kukenakan piyama yang ada di lemari dan kutemani Pak Beny yang sedang tiduran di ranjang menungguku.

"Bapak capek ya? Sini aku pijitin," aku menawarkan diri.

"Pijit beneran ya, kebetulan aku lagi capek dan ngantuk — dari Jember tadi, jalanannya macet," jawabnya sambil langsung tengkurap.

Sepuluh menit aku memijit kakinya, kudengar dengkur kelelahan dari Pak Beni — rupanya dia sudah tertidur, meninggalkanku seorang diri dalam keadaan masih terbakar gairah. Tak tega rasanya membangunkannya, dan tidak etis kalau aku memaksanya melampiaskan nafsuku. Akupun kembali menganggur, mendengarkan dengkurannya.

"Sungguh malam yang sial," pikirku. Baru kali ini aku di-booking oleh dua lelaki dalam semalam tanpa merasakan penis di vaginaku. Dengan susah payah akhirnya akupun tertidur di sampingnya dalam keadaan birahi yang masih menggantung tinggi.

Keesokan paginya saat aku terbangun, kulihat Pak Beny sudah rapi bersiap untuk pergi.

"Pagi Pak, maaf aku baru bangun — Bapak tidak membangunkan sih," sapaku lemah.

"Sorry, semalam aku tertidur. Pijitanmu enak, dan badanku memang terasa capek banget," jawabnya sopan.

Kulihat dia meletakkan amplop putih di atas meja.

"Aku ada rapat jam 9 ini. Kalau kamu pulang, titipkan saja kuncinya di receptionist. Ini uangmu," lanjutnya.

Pak Beny adalah pelanggan tetapku — setiap kali ke Surabaya dia selalu mem-booking-ku, biasanya kami bercinta hingga pagi. Tapi kali ini lain. Mungkin karena sudah akrab, dia tetap membayarku meskipun tidak menerima servis apa pun; aku jadi tidak enak hati.

"Ah, tidak usah Pak — toh kita tidak ngapa-ngapain. Lagian aku sudah numpang tidur di sini," aku menolak pembayarannya.

"Jangan begitu, kamu sudah meluangkan waktumu menemaniku tidur. Itu sudah hakmu."

"Tapi aku tidak berbuat apa-apa untuk Bapak," aku masih bersikeras.

"Itu salahku, dan aku tidak mau kesalahanku itu merugikan kamu."

Aku terdiam sesaat.

"Aku tidak bisa menerima pemberian tanpa mengerjakan apa-apa."

"Ya sudah, kalau begitu bersihkan kamar sebelum pergi," katanya sambil tertawa.

"Bapak kan rapat jam 9, sekarang masih jam 8 — jadi ada waktu 30 menit kan?" bujukku sambil mendekatinya.

Kupeluk tubuhnya yang setinggi telingaku itu, sementara tanganku meremas-remas selangkangannya.

"Kamu memang pintar merayu. Maumu apa?" tanyanya pura-pura.

"Paling 10 menit saja," jawabku meyakinkan sambil membuka resluiting celananya — dia diam saja.

"Mana bisa 10 menit? Paling tidak 30 menit."

"Percaya aku deh, 10 menit tidak lebih — bahkan mungkin kurang," tantangku sambil mengeluarkan dan mengocok penisnya.

Kuciumi lehernya; aroma parfumnya terasa lembut menyengat. Kukeluarkan kejantanannya — dia mulai mendesis dan menjamah dadaku, tangannya diselipkan di balik piyama, meremas-remas lembut bukit ranum di dadaku. Aku merosot turun dari pelukannya, berlutut di depannya — penisnya tepat di depanku, dan sedetik kemudian kulahap habis, keluar-masuk ke mulutku. Pak Beny mendesis, meremas-remas rambutku dan mulai menggerakkan pinggulnya mengocok mulutku.

Lidah dan bibirku bergerak lincah sepanjang penis yang makin keras menegang, sesekali diselingi gigitan ringan yang menggoda. Aku lalu duduk di atas meja menghadapnya — piyama sudah melayang dari tubuhku. Kusapukan penis tegangnya ke bibir vaginaku; tanpa menunggu lebih lama dia mendorong masuk, melesakkannya ke vaginaku. Terasa sedikit sakit dan perih karena vaginaku masih kering — hanya air liurku di batang penis yang menjadi pelumas — namun dengan sedikit usaha akhirnya bisa tertanam semuanya. Terasa begitu nikmat setelah tersiksa semalaman. Seperti biasa, Pak Beny langsung mengocokku dengan cepat dan keras; permainannya memang cenderung kasar namun menimbulkan kesan erotis.

Dia meremas-remas kedua buah dadaku dengan keras, lalu tiba-tiba secara kasar mencabut penisnya. Tubuhku dibalik; aku menungging di depannya, tangan bersandar pada meja, detik berikutnya dia mulai memompaku dari belakang tepat menghadap cermin di atas meja. Aku terdongak merasakan sodokan demi sodokan; ditariknya rambutku ke belakang, lalu pegangannya beralih ke buah dadaku dan meremasnya kuat. Aku menjerit antara sakit dan nikmat — Pak Beny tidak mempedulikan jeritanku, semakin kuat dia membenamkan ke vaginaku, sesekali diiringi tamparan ringan pada pantatku yang terasa agak panas. Semakin aku mendesah semakin kuat tamparannya; kutoleh wajahnya menyeringai menikmati permainan ini, pantatku sudah agak memerah.

Permainan kasarnya membawaku melayang mengarungi lautan kenikmatan. Aku mengimbangi dengan goyangan pantat, meremas-remas kejantanannya yang berada di vaginaku — akhirnya kurasakan tubuhnya menegang, cengkeraman di buah dadaku makin kuat, dan menyemburlah cairan nikmat memenuhi celah-celah kenikmatanku, terasa hangat, seiring dengan denyutan-denyutan kuat menghantam dinding-dinding kewanitaanku. Pak Beny menjerit keras dalam kenikmatan bercinta saat kuremas-remas dengan otot-otot vaginaku.

Meskipun aku belum orgasme, aku sudah puas melihat tamuku mendapat kenikmatannya. Segera kucabut penisnya, kuraih dan kugenggam — ternyata masih cukup keras. Aku mengambil piyama yang tergeletak di lantai untuk membersihkan penis itu, tapi Pak Beny mendorong tubuhku turun. Mengerti maksudnya, kukulum kembali penisnya sambil kusapu-sapukan ke wajahku; bau sperma sangat kuat, lebih tajam dari punya tamuku tadi malam.

"8 menit — ternyata kamu memenuhi janjimu, tidak lebih dari 10 menit," katanya saat aku mencuci penisnya dengan mulutku.

Dia langsung memasukkan kejantanannya kembali ke 'sarang'-nya setelah dirasa cukup bersih.

"Kuncinya kasih saja ke receptionist kalau kamu pulang nanti," katanya sambil menutup resluiting celananya.

"Nanti siang kalau Bapak masih mau melanjutkan, hubungi HP saya ya," kataku sebelum dia meninggalkan kamar.

Aku tahu baginya tentu belum cukup kalau hanya permainan cepat seperti itu, dan aku yakin uang yang dibayarkan adalah untuk tarif menginap seperti biasanya — meskipun aku belum membuka amplop itu.

"Tergantung nanti," jawabnya seraya menutup pintu kamar.

Sepeninggal Pak Beny, aku kembali rebahan di ranjang, ingin melanjutkan tidurku yang tidak terlalu nyenyak. Kunyalakan HP dan membaca SMS yang masuk — tidak ada booking-an baru, semua SMS hanyalah ajakan hura-hura nanti malam. Aku kembali terlelap dalam pelukan ranjang yang hangat dan empuk.

Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Agak malas juga menerimanya — ternyata Pak Indra, salah satu tamu langgananku yang unik.

"Haloo, pagi Bapak," suaraku agak parau.

"Pagi Non, baru bangun rupanya ya," suara dari seberang sana.

"Ih, Bapak sok tahu," jawabku manja.

"Dari suaranya memang kelihatan, masih parau."

"Ah, sudah lama kok — tapi tidur lagi, habis cuacanya mengajak tidur," aku memberi alasan karena di luar memang mendung.

"Ya sudah, kalau tidak ada acara kita ketemu yuk. Gimana?"

"Kapan dan di mana?" aku mulai antusias mendengarnya.

"Gimana kalau sekarang saja? Aku lagi ada seminar di hotel ini — giliranku nanti setelah makan siang, jadi kita bisa ketemu sebelumnya. Kalau sesudahnya tidak bisa. Gimana?"

Aku terkejut bukan kepalang. Entah kebetulan macam apa ini — ketiga tamuku berturut-turut berada di hotel yang sama. Tinggal naik atau turun lantai saja.

"Haloo, gimana, Ly? Bisa tidak?"

"Pagi ini? Kasih aku satu jam deh — mandi dulu, sarapan dulu. Pagi gini biasanya macet. Bapak di kamar berapa?"

Dia menyebutkan nomor kamarnya. Berarti aku harus naik dua lantai lagi. Sengaja aku minta waktu lebih lama supaya tidak curiga kami berada di hotel yang sama.

Kumanfaatkan waktu yang tersisa dengan mandi dan berendam di bathtub. Air hangat serasa melemaskan otot-ototku dan meredakan ketegangan; begitu rileks dan santai. Lebih dari 30 menit kuhabiskan dalam nikmatnya pelukan air panas di pagi hari. Segera aku berpakaian — pakaian yang semalam terpaksa kukenakan kembali untuk menemui tamu ketiga dengan pakaian yang sama. Make up tipis kusapukan ke wajahku, dan tak lupa Issey Miyake menambah semarak aroma tubuhku. Setelah mengemasi barangku dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kupanggil room boy untuk menitipkan kunci ke receptionist — diselipi selembar dua puluh ribuan; kulihat dia begitu gembira menerima rejeki di pagi hari. Kususuri koridor menuju lift; beruntung sepanjang jalan menuju kamar Pak Indra tidak kujumpai orang yang kukenal, hal yang sering terjadi terutama di hotel ini.

Pak Indra menyambutku dengan ciuman di pipi. Penampilannya masih seperti biasanya — tenang, lembut, tampan, dan elegan di usianya yang sudah pertengahan empat puluhan. Dia seorang dokter spesialis, katanya, meskipun aku tidak tahu spesialis di bidang apa. Kumis dicukur rapi dengan dasi pink menghiasi setelan kemeja berwarna senada.

"Sudah lama menunggu, Dok?" sapaku setelah melepaskan diri dari pelukan dan ciumannya.

"Jangan panggil gitu ah, kayak pasien saja. Aku baru datang, belum juga duduk kamu sudah nongol."

Pak Indra adalah salah satu tamu yang terbilang unik. Dia lebih suka mengobrol dan curhat daripada bercinta. Entah kenapa, tak jarang dia memuji kecantikan dan kebaikan istrinya — toh meskipun begitu dia tetap selingkuh. Secara garis besar aku jadi tahu kehidupan pribadi keluarganya: istrinya, anak-anaknya, nama mereka, pekerjaan, usia, bahkan di mana anak-anaknya sekolah. Dia begitu terbuka padaku, tapi aku tidak pernah tahu alasan dia berselingkuh.

Seperti kebiasaannya, kami duduk berseberangan di sofa — seperti orang yang sedang bicara bisnis. Tidak ada pembicaraan yang menjurus ke seks atau porno; semua hanya masalah ringan tentang politik, film, TV, musik. Untunglah aku yang sering menonton TV dan membaca majalah bisa meladeni pembicaraannya. Cangkir teh China dan snack yang ada di meja sudah habis — mungkin sudah lebih dari setengah jam kami mengobrol, tapi tidak ada tanda-tanda untuk memulai permainan panas. Aku sudah maklum akan kebiasaannya, jadi tidak perlu buru-buru.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10:47 ketika dia menggandengku ke ranjang. Kami saling melepas pakaian, menyisakan celana dalam dan bra hitam berenda putih yang kontras dengan kulitku yang putih mulus — dia memandangiku sejenak.

"Kamu makin cantik dan seksi," komentarnya.

Dengan sopan Pak Indra merebahkan tubuhku di atas ranjang. Bibir lembutnya menyapu kening, pipi, dan bibirku; aku terpejam menikmati sentuhan lembutnya yang menyusuri wajahku. Sapuannya perlahan menjelajah turun — leher dan dada adalah favoritnya. Dengan lembut dia mengeluarkan kedua bukitku dari 'sarang'-nya. Lidahnya langsung mendarat di puncak bukitku dan menari-nari mempermainkan puting yang merah kecoklatan; aku mendesah merasakan kenikmatan yang mulai menjalar ke sekujur tubuhku. Tangan Pak Indra berpindah dari remasan di dada ke selangkangan, diselipkannya di antara celana dalamku, menggesek-gesekkan jarinya di bibir liang kenikmatan — masih kering. Bibirnya bergerak turun ke perut dan berhenti di antara kedua kakiku; dengan kedua giginya dia melepas celana dalam yang menghalangi gerakannya.

Aku menjerit tertahan saat lidahnya mulai menyentuh klitorisku. Ada kekhawatiran kalau dia, sebagai seorang dokter, masih bisa mendeteksi sisa-sisa sperma yang ada di rongga kewanitaanku — meskipun aku sudah berusaha membersihkannya sejauh mungkin. Kecemasanku perlahan hilang saat bibirnya mulai mempermainkan bibir vaginaku; dengan gerakan yang terasa indah, disusurinya celah-celah kewanitaan di selangkanganku. Sungguh terasa kenikmatan yang berbeda dari jilatan lainnya. Aku semakin mendesah nikmat sambil meremas-remas kedua buah dadaku; sesekali kujepit kepalanya dengan pahaku dan kuremas-remas rambutnya. Pak Indra hanya tersenyum melihat kenakalanku, tapi dia terus melanjutkan permainan lidah dan mulutnya.

Puas bermain di selangkangan, ciumannya kembali naik ke perut dan dada — untuk kesekian kalinya kami saling melumat dan bermain bibir, lidah beradu lidah. Pak Indra membalik tubuhku; dijilatinya telinga, tengkuk, dan sekujur punggungku hingga ke pantat. Aku menggelinjang geli, apalagi tangannya tak henti mempermainkan vagina dan klitoris. Memang kegemaran dan keahlian Pak Indra adalah melumat seluruh tubuh pasangannya — mungkin ini adalah kompensasi atas kelemahan yang dia miliki. Entah berapa kali vaginaku mendapat sedotan dan kuluman nikmat darinya.

Kami berpelukan mesra dan bergulingan — kini giliranku memuaskannya. Ciumanku turun ke leher dan dada, kukulum dengan gigitan ringan di putingnya; Pak Indra menggelinjang. Lidahku menyusuri perutnya yang rata seolah tanpa lemak. Akhirnya kulepas celana dalamnya — tampaklah kejantanannya yang masih tergolek lemas. Inilah keunikan dari Pak Indra: dia menderita impotensi ringan, menurutnya sendiri. Lelaki normal pasti sudah tegang setelah cumbuan seperti itu, tapi ini kasus lain. Karena sudah berulang kali melayaninya, aku pun sudah mempersiapkan mental untuk itu.

Kugenggam penisnya yang lemas. Ingin ketawa rasanya melihat penis yang begitu tidak berdaya pada lelaki yang masih relatif muda, tapi tentu saja kusimpan rasa itu dan beralih ke rasa kasihan. Kuciumi dengan penuh kasih sayang penis yang tidak pernah memberiku kepuasan itu. Begitu bersih dan kemerahan; tanpa ragu dan tanpa perasaan jijik kujilati dan kumasukkan dalam mulutku — semua bisa kulahap masuk, hidungku menyentuh rambut kemaluannya. Pak Indra mulai mendesis saat kupermainkan lidahku pada penisnya yang masih berada di mulutku.

Beberapa menit kemudian penis itu mulai sedikit menegang, tapi masih jauh dari memenuhi syarat penetrasi. Kombinasi kuluman dan kocokan tangan disertai elusan lembut di kantong bola membuatnya semakin mendesah dalam irama kulumanku.

"Kita coba, Ly," katanya, seperti kebiasaannya.

Aku telentang di sampingnya, kubuka kakiku lebar-lebar. Dia mengambil posisi di atas seperti layaknya lelaki siap bersetubuh; kubantu menggesekkan penisnya ke vaginaku — belum berhasil. Beberapa kali kucoba tetap saja masih kurang perkasa menembus liang kenikmatanku; malahan semakin melemas. Terpaksa kuambil inisiatif lain — kuminta dia telentang, kukulum dan kupermainkan sejenak seperti tadi. Sedikit menegang; segera kunaiki tubuhnya dan kuusapkan ke bibir vaginaku, namun kembali tidak membuahkan hasil.

Setelah beberapa kali usaha dengan bermacam cara akhirnya kami menyerah. Terpancar sinar kekecewaan di wajahnya meskipun senyuman menghiasi wajahnya. Aku merasa gagal memuaskannya, meskipun hal itu terjadi setiap kali kami bertemu — terkadang hanya satu kali penetrasi berhasil tapi setelah ditarik tidak bisa masuk lagi, namun kali ini gagal total.

Akhirnya kuputuskan memuaskannya dengan cara lain seperti yang biasa kulakukan pada Pak Indra. Aku berlutut di antara kakinya; dia hanya telentang menunggu permainanku. Menit pertama hanya kuciumi seluruh batangnya, menit selanjutnya jilatanku merambah ke daerah kantong bola, menit berikutnya penis lemas itu sudah keluar-masuk mulutku diiringi permainan lidah dalam rongga mulut. Pak Indra mendesah kenikmatan dengan caranya sendiri — basah seluruh selangkangannya karena ludahku yang bercecer; kombinasi antara jilatan, kuluman, dan kocokan cukup membuatnya terbuai dalam gelombang kenikmatan.

Kami berubah posisi 69. Dengan posisi ini kami bisa saling memberikan kenikmatan. Harus kuakui kepiawaiannya bermain oral ikut membawaku melayang — meskipun sangat jarang aku bisa orgasme hanya dengan oral, tapi saat ini kenikmatan seperti itu sudah cukup bagiku daripada tidak sama sekali. Tak lama kemudian kudengar teriakan keras disusul sedotan kuat pada vaginaku; sedetik kemudian kurasakan sperma meleleh pelan keluar dari kejantanannya. Segera kumasukkan penisnya ke dalam mulutku dan kurasakan spermanya yang asin gurih membasahi lidahku, aromanya masih keras kurasa. Dan penis yang lemas itupun semakin melemas dalam mulutku.

"Uff, kamu memang pintar membuat orang puas," komentarnya setelah aku turun dari tubuhnya.

Kusapukan penis lemas itu ke wajahku.

"Ah, Bapak juga pintar mempermainkan orang kok," pujiku jujur.

Pukul 11:30 aku sudah keluar dari kamar Pak Indra setelah mandi membersihkan tubuhku dari sisa-sisa ludahnya. Meskipun tujuan kami sama-sama ke lobby, demi keamanan kami harus jalan sendiri-sendiri seolah tidak saling mengenal. Sesampai di lobby kucoba menghubungi HP Pak Beny, tapi tidak aktif — aku belum mendapat kepastian apakah dia akan melanjutkan atau tidak siang ini.

Beberapa saat kemudian kulihat Pak Indra sudah di lobby diiringi beberapa rekannya menuju ruang seminar — aku yakin mereka semua sesama dokter. Pak Indra terlihat begitu anggun dan berwibawa dengan setelan jasnya. Pasti tak seorang pun menyangka kalau dia menderita secara psikis sejak kecelakaan lalu lintas yang membuatnya impoten. Dia hanya melirikku penuh arti ketika kami bertemu pandang; senyumnya hanya bisa diartikan antara aku dan dia.

Setelah menunggu dua puluh menit tanpa kepastian dari Pak Beny, kutinggalkan hotel itu menuju hotel lain yang sudah menunggu kedatanganku dengan tipe dan bentuk permainan yang berbeda.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya