Figuran
Figuran
Selama perjalanan menjalani kehidupan sebagai seorang call girl, banyak perilaku seksual yang kualami, banyak sisi kehidupan yang kupelajari—sisi yang sama sekali tak pernah terlintas sebelumnya. Mungkin sebagian besar masyarakat menyebutnya kelainan seksual, sebagian lagi menyebutnya gaya hidup, bahkan sebagian lainnya menyebutnya petualangan. Terserah dari sudut mana mereka memandang, tapi bagiku semua itu adalah ekspresi naluri liar yang ada dalam diri manusia. Sudah beberapa kali aku melayani tamu dengan fantasi seksual yang liar—mereka minta dilayani dua atau tiga wanita sekaligus. Meski pada kenyataannya kebanyakan dari segi fisik tidak mampu, fantasi untuk diperlakukan bak raja selalu mengalahkan logika mereka.
Sore itu seperti biasa aku sudah meluncur dari satu hotel ke hotel lainnya, dari satu ranjang ke ranjang lainnya, dari pelukan satu laki-laki ke laki-laki lainnya. Tamuku kali ini sebenarnya tidak seperti pada umumnya—dia mengaku ingin bermain bertiga bersama istrinya. Katanya, ini sudah kali kedua aku melayani pasangan suami-istri.
Meskipun aku sudah kebal dengan berbagai perilaku aneh, aku masih belum bisa mengerti mengapa seorang istri membiarkan suaminya bercinta dengan wanita lain di hadapannya, bahkan ikut terlibat. Tapi apa peduliku—selama mereka membayar sesuai kesepakatan, bagiku tidak ada salahnya.
Aku bukanlah seorang biseksual yang bisa melayani perempuan. Aku memang cukup sering melayani seorang laki-laki bersama gadis lainnya, tapi bermain bertiga dengan sepasang suami-istri memberikan sensasi yang jauh lebih tinggi daripada sekadar threesome biasa.
Ketika sampai di kamar yang kutuju, istrinya—seorang wanita berkulit putih, tidak terlalu cantik—menyambutku di pintu kamar hotel di jalan Basuki Rahmat. Kutaksir usianya awal empat puluhan, tapi bodinya masih bagus seperti gadis dua puluhan. Suaminya terlihat acuh saat menyambut kedatanganku, mungkin berusia lima puluhan—cukup jauh selisih usia mereka.
"Mas, ini Lily sudah datang nih," kata si istri pada suaminya yang hanya melirikku sekilas sambil nonton TV.
"Hmm... langsung aja suruh dia mandi," perintahnya dengan angkuh tanpa melihatku.
Agak ragu juga aku melihat sikap suaminya seperti itu. Mungkin dia tidak cocok denganku, atau bagaimana—aku tidak tahu. Istrinya hanya tersenyum ke arahku sambil menggandengku ke kamar mandi.
"Mandi dulu, lalu kenakan ini," kata si istri menyerahkan piyama batik yang diambilnya dari lemari.
"Bapak baik-baik saja, Mbak? Kalau dia nggak cocok sama aku, lebih baik nggak jadi daripada dipaksain—nanti nggak bisa enjoy," tanyaku melihat keangkuhan suaminya.
"Dia emang begitu—dingin-dingin mau. Lihat aja nanti, percaya deh sama aku," jawabnya meyakinkan.
Si istri ternyata tidak keluar ketika aku mulai melepas kaos dan celana jins. Dia malah ikut melepas pakaiannya sambil melihatku mandi.
"Maaf, Mbak, aku nggak bisa melayani Mbak," aku kembali menegaskan posisiku ketika kulihat dia sudah hampir telanjang.
"Huss, aku juga nggak mau—jangan pikirkan itu. Yang penting suamiku puas."
"Maass, mau ikutan mandi bareng nggak?" teriak istrinya dari kamar mandi, namun tak ada jawaban sampai teriakan ketiga.
"Bodi kamu bagus, pasti dia cepat mabuk kepayang," komentarnya saat melihatku mandi.
Selesai mandi aku tidak jadi mengenakan piyama—aku dan si istri hanya berbalut handuk di dada ketika kami keluar bersamaan. Ternyata si suami sudah berbaring di atas ranjang hanya mengenakan celana dalam. Si istri memandangku penuh arti lalu menganggukkan kepala; aku segera mengerti. Tanpa rasa segan pada istrinya, aku menyusul suaminya ke ranjang—tapi sebelum sampai, si istri menarik lepas handukku hingga aku telanjang di depannya.
"Wow, kamu cantik dan sexy dengan payudara yang indah," komentar suaminya melihat tubuh telanjangku.
Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya, lalu langsung berjongkok di antara kedua kakinya. Kuraba-raba pahanya, terlihat kejantanannya yang menonjol dari balik celana dalamnya. Sengaja kuperlambat irama permainan—tidak segera menyentuh kejantanannya.
"Ciumi dadanya, Ly—dia senang diperlakukan seperti itu," bimbing istrinya yang duduk di samping suaminya.
Segera kunaiki tubuh si suami, kucium pipi dan lehernya, kujilati putingnya, lalu lidah dan bibirku terus menyusuri dada dan perutnya sementara tanganku mulai meraba dan meremas kejantanan yang semakin mengeras.
Mereka berciuman ketika kulepas celana dalamnya—keluarlah penisnya, tidak terlalu istimewa, biasa saja. Langsung kugenggam dan kuremas, kukocok-kocok. Mereka masih berciuman bibir sementara tangan si suami meremas-remas dada istrinya.
"Kulum dan lumat dia," perintah istrinya saat melihatku sudah mulai menciumi kejantanan suaminya.
Ketika lidahku mulai menyentuh kepala penisnya, si suami sempat melirikku sejenak.
"Uff... ya, terus, sayang," komentarnya—entah ditujukan padaku atau pada istrinya.
Kami segera kembali saling melumat bibir. Kusapukan lidahku ke seluruh kepala dan batang penisnya, bahkan hingga kantong bola. Desahannya tertahan di mulut istrinya. Mereka menghentikan ciuman ketika kumasukkan kejantanannya ke dalam mulutku—keduanya melihat bagaimana penis itu menerobos masuk di sela-sela bibir manisku lalu meluncur keluar-masuk dengan cepat, tangan si suami memegang kepalaku dan mendorongnya lebih dalam.
"Ssshh... kamu pintar, manis... terus... yaa..." desahnya kembali.
Tak lama kemudian si istri menyodorkan putingnya ke mulut suaminya dan bergantian mereka mendesah. Aku masih menjalankan tugasku—menjilat dan mengulum—sementara suami-istri itu berganti posisi membentuk 69. Keempat tangan bergantian mengocok penis itu diselingi jilatan dan kulumanku. Beberapa kali jeritan si suami terucap disertai pujian saat penis itu meluncur di mulutku; istrinya hanya tersenyum dan menatapku tajam setiap kali kulumat atau kusapukan lidahku pada kejantanannya, seolah dia menikmati pemandangan itu. Namun tak sekalipun bibirnya menyentuh penis suaminya sendiri—entah mengapa.
Si istri memutar tubuhnya dan mengatur posisi di atas suaminya. Perlahan tubuhnya turun diiringi desahan nikmat. Aku yang masih berada di selangkangan dengan jelas melihat bagaimana penis itu pelan-pelan menguak liang kenikmatannya, sementara aku mengelus-elus kantong bolanya. Tubuh si istri langsung naik-turun begitu berhasil melesakkan semua penis si suami—seperti naik kuda, dia menghentakkan tubuhnya dengan kuat diiringi desahan erotis.
Aku berpindah ke atas, kucium pipi si suami. Dia langsung meraih kepalaku dan melumat bibirku dengan penuh gairah, lidah kami saling beradu, tangannya menggerayangi kedua buah dadaku dan meremasnya agak kuat—sekuat goyangan istrinya di atas. Vaginaku terasa semakin basah menyaksikan permainan liar istrinya; ingin segera merasakan kenikmatan yang sama. Tinggal tunggu kesempatan, pikirku.
Sambil mendapat kuluman bibir dan remasan, tanganku tanpa sadar mulai mempermainkan klitorisku sendiri. Kusodorkan putingku ke mulut si suami; disambutnya dengan kuluman liar pula, dan aku pun ikut mendesah. Ketika kudengar jeritan orgasme dari si istri, aku merasa giliranku segera tiba. Kugeser tubuhku ke belakang si istri, seperti orang yang sedang mengantri. Meskipun sebenarnya penampilan maupun wajah si suami tidak menarik perhatianku, tapi menyaksikan permainan mereka membuatku ikut terbawa suasana—lebih dari itu, sensasi bercinta dengan laki-laki di depan istrinya sungguh tidak pernah kulupakan.
"Aduh, Mas, enak banget, lebih asyik daripada di rumah," kudengar bisikan si istri di sela-sela tarikan napasnya. Mereka berpelukan beberapa saat.
Aku masih di belakang si istri sambil mengelus-elus kantong bola suaminya, berharap dia segera turun. Setelah istrinya turun, si suami menarikku dalam pelukannya. Kami kembali berciuman dan bergulingan; dia mencumbu sekujur tubuhku—menjilati leherku, melumat kedua putingku. Vaginaku yang sudah basah semakin basah, ingin segera kumasukkan kejantanan itu, tapi rupanya dia masih ingin mempermainkanku lebih lama. Padahal aku yakin penis tegangnya hanya beberapa milimeter dari liang kenikmatanku, bahkan sesekali kurasakan gesekan keras di bibir vaginaku—tapi belum juga ada penetrasi. Aku makin tersiksa seperti cacing kepanasan; berulang kali permintaanku agar segera melesak hanya ditanggapi dengan senyuman.
Istrinya yang dari tadi hanya menonton suaminya mencumbuiku mulai ikut serta. Dia mengelus-elus punggung suaminya, menciumi pantatnya, lalu mengocok penisnya dengan tangan, sesekali diusapkan ke vaginaku tanpa memasukkan. Kupeluk erat tubuh si suami di atasku, ingin segera mendapat kocokan di vagina. Ciumannya turun hingga mencapai selangkanganku, lidahnya menjelajah seluruh daerah intim yang sudah basah, dan aku pun semakin mendesah terbakar birahi.
Tiba-tiba si istri telentang di sampingku dan menarik tubuh suaminya dari selangkanganku dengan paksa. Tentu saja aku kecewa, tapi apa dayaku—aku tidak berhak menuntut layanan atas suaminya. Dengan hati dongkol, terpaksa aku tersenyum saat si suami mengecup bibirku dan berpindah dari tubuhku ke atas tubuh istrinya. Aku masih terbaring terdiam. Napasku yang mulai menderu semakin kencang saat melihat pantat si suami naik-turun cepat di atas tubuh istrinya, diiringi desahan nikmat mereka berdua.
Permainan mereka sungguh menggoda. Berkali-kali aku mencoba menarik perhatian mereka, tapi si istri selalu menghalangi setiap kali suaminya hendak beralih padaku—kecuali hanya sebatas cumbuan dan rabaan. Sambil si suami mengocok istrinya, tangannya menggerayangi tubuhku dan aku mendesah sambil mempermainkan klitoris dengan jariku sendiri. Kini aku pun ikut mendesah dengan caraku sendiri, dibantu rabaan tangan si suami.
Mereka bercinta dengan liar berganti-ganti posisi. Aku selalu menempatkan diri agar tubuhku terjangkau oleh tangan si suami, dan terkadang secara demonstratif kupermainkan klitorisku di depannya. Namun semua usahaku untuk merengkuh orgasme sia-sia belaka—aku memang tidak pernah bisa orgasme sendiri dengan jari, dan tidak mau, karena selalu ada laki-laki yang memenuhi hasrat ini. Mana bisa dibandingkan kenikmatan kocokan penis dengan permainan jari di klitoris.
Ketika mereka berposisi doggie, aku berdiri di depan si suami dan kusodorkan vaginaku ke mukanya. Dia menyambut dengan jilatan lidah di klitoris tanpa menghentikan kocokannya; kuremas-remas rambutnya. Bahkan ketika aku ikut nungging di atas tubuh si istri, dia hanya menciumi vagina dan pantatku. Aku hanya berharap dia memenuhi hasratku—paling tidak dengan kocokan jari-jari tangannya sudah cukuplah saat itu—tapi tidak terjadi.
Entah sudah berapa kali kudengar teriakan orgasme dari si istri, tapi dia selalu menghalangi setiap kali suaminya berusaha berhenti dan beralih padaku. Akhirnya aku menyerah pasrah—mungkin nanti setelah babak ini giliran tiba. Kupeluk si suami dari belakang saat dia mengocok istrinya. Buah dadaku menempel rapat pada punggungnya yang berkeringat—terasa hangat. Kugesek-gesekkan sambil meraba dada dan perutnya yang sedikit buncit, sesekali kucium tengkuknya; dia menggeliat geli. Kubimbing tangannya ke selangkanganku, namun dia hanya mengusap-usap klitoris dan menggesek bibir vaginaku tanpa berusaha memasukkan. Bahkan ketika kupaksa memasukkan jari-jarinya, dia justru menariknya. Aku semakin hopeless. Mereka bersetubuh dengan liar seolah melupakan keberadaanku di kamar itu.
Harapanku semakin menjauh saat kudengar teriakan kenikmatan puncak mereka secara bersamaan. Si suami segera menarik keluar kejantanannya dan membalik tubuh istrinya, lalu menjepitkan penis yang masih basah itu di antara kedua buah dadanya. Aku melihat si istri berkali-kali menghindar dan menutup rapat bibirnya setiap kali kepala penis menyentuh mulutnya. Si suami melirik ke arahku—seperti baru sadar aku ada. Ditariknya tubuhku dan ditelentangkan di samping istrinya; dia beralih menaiki tubuhku dan menjepitkan penisnya ke buah dada sambil memainkan putingku, hingga akhirnya meredup beberapa menit kemudian, diakhiri dengan kocokan di mulut. Kurasakan aroma sperma yang kuat menyengat memenuhi rongga mulutku—pasti sudah bercampur dengan cairan istrinya. Dia tersenyum puas, lalu tanpa kata meninggalkanku sendirian di ranjang dan menyusul istrinya ke kamar mandi. Tak lama kemudian aku menyusul dan kami bertiga memandikannya bersama.
Babak selanjutnya ternyata tidak lebih baik. Sepertinya mereka memang menyewaku hanya untuk menambah sensasi—peranku sebatas foreplay dan penutup, tanpa aku bisa merasakan permainan yang sesungguhnya. Seperti figuran yang hanya numpang lewat, penambah semarak permainan.
Pukul 23.30, setelah membersihkan diri dan mandi, aku pamit pulang. Sebenarnya mereka masih mengharapkanku menginap, melanjutkan permainan, namun karena sebelumnya tidak ada permintaan untuk menginap, mereka tidak bisa menahanku lebih lama. Dengan alasan sudah ada janji dengan orang lain, aku pun meninggalkan mereka berdua—mungkin dengan kecewa.
Hingga keluar kamar, aku tidak tahu nama suami-istri tersebut. Ini bukan pertama kali terjadi—terkadang meskipun kami tidur dan bercinta semalaman, aku tetap tidak tahu nama orang yang telah meniduri dan menikmati tubuhku.
Bersambung...