18px

Bab 1

Gairah Bersama Mama

Ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat di seputar belahan bibir memeknya yang sudah terlihat basah dari tadi dan terasa asin tapi enak, pinggul mama tergelinjang keras sehingga hidungku basah terkena cairan mama.

"Aduuuuh Mas!" teriak mama tiba-tiba dengan suara serak dan tersendat-sendat di antara nafasnya yang sudah memburu. Tetapi mama kembali diam, dan aku artikan mama setuju saja dengan apa yang aku lakukan, walaupun kedua tangannya memegangi kepalaku.

Tanpa minta izin, segera saja jari-jariku kugunakan untuk membuka bibir vagina dan memainkan bibir vagina serta daging kecil yang sudah menyembul dari sela-sela bibir vaginanya.

"Aduh... aaaaaah... aaahhh... Maaaas," kudengar desahan mama agak keras.

Dapat kurasakan cairan lendirnya yang sudah semakin membasahi vagina mama yang indah itu. Betapa nikmat rasanya, apalagi dengan desahan mama yang semakin lama semakin keras, membuatku semakin bersemangat. Mulai kujilati, kuendus, dan kumasukkan hidungku ke dalam vaginanya, serta kumainkan lidahku di lubang memek mama.

Mungkin karena keenakan, desahan mama sudah menjadi erangan yang keras dan rambut kepalaku pun sudah diremas-remas mama seraya ditekan-tekannya kepalaku. Pantatnya pun digoyangnya naik turun sehingga seluruh wajahku terasa basah semua terkena cairan yang keluar dari memek mama. Aku terus saja memainkan lidahku, tetapi tidak berapa lama kemudian bisa kurasakan goyangan tubuh mama semakin cepat dan nafasnya pun sudah terdengar cepat dan keras sekali. Tubuh mama mengejang dan akhirnya dia mendesah keras.

"Maaaas... adduuuuh... aaaaaah... ssssh... teeee-ruuuuus... maaas," sambil kepalaku ditekannya dalam-dalam ke arah memeknya. Lalu mama terkapar, melepas tangannya dari kepalaku dengan nafas ngos-ngosan yang cepat, dan aku yakin sekali kalau mama sudah mencapai orgasmenya lagi.

Tanpa disuruh, aku segera naik dan tiduran miring menghadapnya di samping mama yang terlentang dengan nafasnya yang masih cepat.

"Aduuuh, Maaas, kamu nakal sekali ya? Kamu bikin mama jadi keenakan sampai lemas sekali," katanya setelah nafasnya agak normal sambil memencet hidungku.

"Mah... booo-leeeh enggak aaaa-kuuuu?" tanyaku, tapi tidak berani meneruskan kalimatnya, sambil kuusap-usap dahi mama yang masih berkeringat. Mudah-mudahan saja mama mengerti maksudku, soalnya penisku sudah tegang sekali.

"Jangan ya sayang..." jawab mama seraya mengecup pipiku, dan jawaban itu tentu saja membuatku menjadi sedikit kecewa.

Mungkin mama melihat perubahan wajahku dan karena merasa kasihan, lalu katanya, "...Mas, boleh deh, tapi hanya digesek-gesekin saja ya di luar?" Mendengar jawaban itu membuat hatiku agak lega. Yah, daripada tidak boleh sama sekali, padahal rasa kepinginku sudah sampai di ujung.

"Sini sayang, naiklah," lanjutnya sambil meraih tubuhku untuk naik di atas tubuh mama. Dari rasa sentuhan di kakiku, terasa mama juga sudah membuka kedua pahanya, tapi tidak terlalu lebar.

Tanpa berkata-kata, lalu kunaiki tubuh mama dengan penisku yang sudah siap tempur dengan kepalanya yang mengkilap tegang. Tangan mama sudah memegangi penisku dan mengarahkan batang kemaluanku ke memeknya. Lalu, penisku yang sedang dipegangnya digesek-gesekan ke atas dan ke bawah secara perlahan-lahan di memeknya yang memang sudah licin, dan kupergunakan kesempatan ini untuk menjilati leher mama.

Aku pun harus bersabar sedikit dan menunggu agar nafsu mama naik kembali karena sentuhan penisku di memeknya dan jilatan-jilatan di lehernya. Sesekali kuperhatikan wajah mama dan kulihat mama sedang memejamkan kedua matanya, mungkin sedang menikmati gesekan-gesekan penisku di memeknya.

Suatu ketika, mama menghentikan gerakan tangannya dan melepaskan pegangannya di penisku. Kedua tangan mama lalu memegangi kepalaku dan melepaskanku dari dadanya yang sedang kujilati, serta memandangku dengan mata sayu.

"Gimana, sayang, enak enggak?" tanyanya.

"Ya enak dong, Maaaah... tapiii..." jawabku di telinganya tanpa berani meneruskan.

"Tapi kenapa, Maaas?" tanya mama pura-pura tidak mengerti kata-kataku tadi.

"Boo-leh ya, Maaaah, dimasukin?" jawabku agak gugup di dekat telinganya lagi.

Belum sampai kata-kata yang aku ucapkan itu selesai, terasa ibu telah berusaha merenggangkan kedua kakinya pelan-pelan lebih lebar lagi. Kulihat ibu tidak berusaha menjawab, tapi malah terus menutup matanya.

Dengan tanpa melihat, karena aku sibuk menjilati telinga dan leher mama dan kedua tangan mama hanya dipelukannya di punggungku, kutekan pantatku sedikit. Mama lalu menggeser pantatnya sedikit saat penisku sudah menempel di memeknya. Sepertinya mama yang memang sudah lebih berpengalaman sedang berusaha menempatkan lubang memeknya agar penisku mudah memasukinya.

Ketika mama sudah tidak menggerakkan tubuhnya lagi, pelan-pelan kutekan penisku ke memek mama. Tetapi sepertinya kepala penisku terganjal dan tidak mudah masuk, mungkin salah tempat, walau aku tahu memek ibu sudah basah sekali dari tadi.

Ketika kuperhatikan wajah mama yang lagi merem itu, sepertinya mama agak menyeringai, mungkin sedang menahan rasa sakit sewaktu penisku kutekan ke memeknya.

"Peel-laaan, sayyy-aang, saaa-kiiitt, mama sudah lama enggak pernah lagi," kudengar bisik mama di dekat telingaku. Karena kasihan mendengar suara mama yang kesakitan, segera saja kuangkat pelan-pelan penisku, tetapi tangan mama yang dari tadi ada di punggungku sepertinya berusaha menahannya.

"Nggggak aaapppaa-apa, Maaas," terdengar bisik mama lagi. Aku tidak menjawab apa-apa, tetapi kemudian terasa tangan mama sepertinya menekan pantatku, mungkin menyuruhku untuk mencoba memasukkan penisku. Lalu kutusukkan lagi saja penisku pelan-pelan ke memek mama, dan "sssrreeeeeeeet," terasa kepala penisku seperti menguak sesuatu yang tadinya tertutup rapat. Langsung saja kuhentikan tusukan penisku ke memek mama karena terlihat mama menyeringai menahan sakit dan terdengar lagi mama merintih.

"Aduuuuhh... Maaaaaas..." sambil kedua tangannya menahan punggungku sedikit, dan kembali tekanan pantatku ke bawah segera kuhentikan. Aku jadi kasihan melihat wajah mama selalu menyeringai seperti kesakitan.

Tetapi beberapa saat kemudian, "Teken lagi, Mas, tapi pelan-pelan ya..." sambil kedua tangan mama menekan pantatku pelan-pelan. Langsung saja aku mengikuti tekanan tangan di pantatku, menekan pelan-pelan, dan tiba-tiba "sssrrrrreeett... bless," terasa kepala penisku masuk ke memek mama.

"Maaaaaasss!" teriak mama pelan bersamaan dengan masuknya kepala penisku.

"Sudah, Maaas... suuuukk... saaa-yaang..." lanjutnya sambil melepas nafas panjang, tapi tangan mama malah menahan tekanan pantatku.

Aku diamkan sebentar pergerakan penisku sambil menunggu reaksi mama. Tetapi dalam keadaan diam seperti ini, aku merasa penisku sedang terhisap kuat di dalam memek mama, dan tanpa kusadari terucap dari mulutku, "Maaah... maaah... terr-uuusss... Maaah, e-naaaaak."

Saking enaknya, aku sudah tidak memperhatikan tangan atau wajah mama lagi. Lalu kugerakkan pantatku naik turun pelan-pelan, dan mama pun mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya seperti berputar-putar.

"Maaasss... terus... Maaas... enaaakk... aduuuhhh... enak, Mas..." kudengar kata-kata mama terbata-bata, dan kubungkam bibir mama dengan mulutku sambil lidahku kuputar di dalam mulutnya, serta kedua tanganku kucengkeram kuat di wajah mama. Sedangkan kedua tangan mama masih tetap di posisi pantatku dan menekan pantatku apabila pantatku lagi naik. Goyangan dan gerakan aku dan mama semakin cepat dan kudengar bunyi "crreeettt... creeettt... creeetttt" secara teratur sesuai dengan gerakan naik-turunnya pantatku, serta bunyi suara mama "hhhmmm... aaahhhh... aaahhh" yang tidak keluar karena bibirnya tertutup bibirku.

Tiba-tiba saja mama menghentikan gerakan tubuhnya dan mengatakan, "Berhenti sebentar, sayang."

"Kenapa, Ma?"

"Maaas, tolong cabut punyamu dulu. Mama mau mengelap punya mama supaya agak kering sedikit, biar kita sama-sama enak nantinya," katanya.

Bener juga kata Mama, kataku dalam hati. Tadi memek Mama terasa sangat basah sekali. Lalu pelan-pelan kontolku kucabut keluar dari memek Mama dan kuambil handuk kecil yang ada di tempat tidur sambil kukatakan, "Maaam, biar aku saja deh yang ngelap, boleeeh kan, Maaam?"

"Terserah kamu deh, Maasss," jawab Mama pendek sambil membuka kedua kakinya lebar-lebar.

Aku merangkak mendekati memek Mama, dan setelah dekat dengan memek Mama, lalu kukatakan, "Aku bersihkan sekarang ya, Maaaa?" dan kudengar Mama hanya menjawab pendek, "Boleh, sayaaang."

Lalu kupegang dan kubuka bibir memek Mama, kutundukkan kepalaku ke memeknya, lalu kujilat-jilat klitoris dan belahan memek mama. Pantat Mama tergelinjang keras mungkin karena kaget sambil berseru, "Maaas... kamu nakal yaaaaa!"

Tanpa menjawab, aku teruskan isapan dan jilatan di semua bagian memek Mama, membuat Mama menggerak-gerakkan terus pantatnya dan kedua tangannya kembali menekan kepalaku. Beberapa saat kemudian, terasa kepalaku seperti ditarik Mama sambil berkata, "Maas... sudaaaah, sayaaaaang. Mama nggak tahaaan kalau kamu gituin terus. Sini, yaang."

Lalu kuikuti tarikan tangan Mama dan aku langsung naik di atas badan Mama. Setelah itu kudengar mama seperti berbisik di telingaku, "Mas, masukin lagi punyamu, sayaaang... Mama sudah tidak tahan, yaaang."

Tanpa membuang-buang waktu, kuangkat kedua kaki Mama dan kutaruh di atas pundakku sambil ingin mempraktikkan seperti apa yang kulihat di film biru yang sering kutonton. Sambil kupegang batang kontolku, kuarahkan ke memek Mama yang bibirnya terbuka lebar, lalu kutusukkan pelan-pelan. Mama dengan menutup matanya seperti pasrah saja dengan apa yang kuperbuat.

Karena memek Mama masih tetap basah dan apalagi baru kujilat dan kuisap-isap, membuat memek mama semakin basah sehingga sodokan kontolku dapat dengan mudah memasuki lubang memek Mama. Mama mulai menggerakkan pantatnya naik turun mengikuti gerakan kontolku yang keluar masuk memeknya.

"Mas, terus teken yang kuat," desah mama, dan tanpa perintah kedua kalinya, aku pun menggenjot memeknya lebih kuat sehingga terdengar bunyi "croooooot... croooott," mungkin akibat memek mamaku yang sudah basah sekali.

"Ayyooo, Maaasss," serunya lagi dengan nafasnya yang sudah tersengal-sengal.

"Maas... turunkan kaki mama," mintanya. Sambil kontolku masih kusodok-sodokkan ke dalam memek mama, satu persatu kakinya kuturunkan dari bahuku, dan aku pun sudah menempel tubuh mama. Mama mulai menciumi seluruh wajahku sampai basah semua.

Tidak lama kemudian gerakan pantat mama yang berputar itu semakin cepat dan kedua tangannya mencengkeram kuat-kuat di pantatku. Tiba-tiba mama melepas ciumanku serta berkata tersendat-sendat agak keras, "Maaaaaassss... mama... haam-piirr... maaaas... aa-yyoooo... Maaas, cepppaaaat!"

Momen ini tidak kusia-siakan, karena aku sudah tidak kuat menahan semprotan air maniku yang akan keluar. "Ayyooo, Maaaah! Aduuuh... Maaah!" sambil kutekan kontolku kuat-kuat ke dalam memek mama. Kurasakan cengkeraman kuat kedua tangan mama di pantatku makin keras dan agak sakit, seakan ada kukunya yang menusuk pantatku.

Kuperhatikan mama dengan nafas yang masih ter-engah-engah terdiam lemas seperti tanpa tenaga, dan kedua tangannya walau terkulai tapi masih dalam posisi memelukku. Sedangkan posisiku yang masih di atas tubuh mama dengan kontolku masih menancap semuanya di dalam memeknya.

Karena mama hanya diam saja tapi nafasnya mulai agak teratur, aku berpikir mama mau istirahat atau langsung tidur. Lalu kuangkat pantatku pelan-pelan untuk mencabut kontolku yang masih ada di dalam memek mama. Eh, tidak tahunya mama dengan kedua tangannya yang masih tetap di punggungku memiringkan badannya sehingga aku tergeletak di sampingnya. Lalu dengan matanya masih terpejam dia bergumam pelan, "Maaas... biarkan, Mas. Biarkan punyamu itu di dalam sebentar. Rasanya enak... ada yang mengganjal di dalam..." sambil mencium bibirku mesra sekali, dan kami terus ketiduran sambil berpelukan.

Entah berapa lama aku sudah tertidur dan akhirnya aku terbangun karena aku merasakan ada sesuatu yang menghisap-hisap kontolku. Ketika kulihat jam dinding, kulihat sudah jam 5 pagi, dan kulihat pula mamaku sudah berada di bagian bawah asyik mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku pura-pura masih tidur sambil menikmati kuluman mulut mama di kontolku. Mama mengulum kontolku dan memainkannya dengan lidahnya, aku terasa geli.

Sambil mengulum, terasa kelembutan jari-jemari mama mengusap dan membelai batang kontolku, diusap dan diurutnya ke atas dan ke bawah. Terasa mau tercabut batang kontolku diperlakukan seperti itu. Aku hanya mendesis geli sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang luar biasa.

Setelah itu, giliran pangkal paha kananku disusurinya. Lidah mama mengusap-usap pangkal pahaku, terus menyusur ke paha dan terus naik lagi ke buah zakar, ke batang kontolku, ke kepala kontolku. Enaknya.

Tetapi lama-lama tidak tahan juga sehingga mau tak mau pantatku pun mulai kugerakkan naik turun, yang membuat mama menengok ke arahku dan melepas kuluman di kontolku, tapi tetap masih memegangnya.

"Sudah bangun, sayaaang," katanya dengan suara lembut.

"Terus, Maaah, enaaakk," kataku, dan kembali mamaku mengulum kontolku sehingga terlihat kontolku keluar masuk mulut mama. Setelah beberapa lama kontolku dikulum dan batang kontolku diurut, tiba-tiba saja mama melepas kontolku. Kini, lidah mama sudah naik menyusuri perutku, menjilat-jilat pusarku, terus naik lagi ke dada kanan, melumuri puting susu kananku dengan air liur yang hangat, lalu ke leher, dan akhirnya ke mulutku.

Lidah mama ketika memasuki mulutku, kugigit sedikit dengan gemas. Tiba-tiba, aduhhh, aku merasa batang kemaluanku memasuki jepitan daging hangat, kenyal, dan berlendir: memek mama. Rupanya saat mulutku asyik menikmati lidahnya, mama menyodokkan vaginanya ke kontolku yang memang sudah tegang sekali. Tanpa mengeluarkan lidahnya dari mulutku, mama mulai menekan pantatnya ke bawah. "Blesssss," kontolku menerobos masuk ke dalam memek mama. Hangat rasanya.

Mama terus melakukan gerakan memompa. Aduhhhhh, batang kontolku merasakan elusan dan remasan dinding vagina mama. Aku pun menggelpar sehingga lidah mama keluar dari mulutku. Tapi lidah mama terus mengejar mulutku sehingga bisa kembali masuk ke dalam mulutku, sementara pantatnya tetap memompa dan terdengar bunyi "crooot... croott."

"Aduhhhh, enaaaknya," seruku tanpa sadar.

"Enaaak, sayaaaaang?" tanya mama.

"Terruuss, Maaaah, enak sekali..."

Tiba-tiba saja mama melepaskan mulutnya dari mulutku. Lalu tangan mama diletakkan bertumpu di dadaku, serta mulai naik turun memompa dan memutar-mutar pantatnya. "Serrrr... serrr..." Batang kontolku pun serasa ikut terputar seirama dengan putaran pantat mama.

"Addduuuuuhhhh, Maaaah, aku nggak tahaaann nih," desisku.

Mama kelihatannya tidak ambil pusing dengan rintihanku. Dia tetap memutar, memompa, memutar, memompa pantatnya, tapi nafasnya pun sudah begitu cepat. Tetek mama yang ada di hadapanku pun juga ikut tergoyang-goyang seirama dengan gerakan tubuhnya, dan kuremas-remas keduanya dengan tanganku.

Sekitar beberapa menit aku terombang-ambing dalam kenikmatan yang luar biasa, sampai akhirnya ketika ibu mulai mengubah posisi dengan membalik tubuhku sehingga aku sekarang sudah berada di atas tubuh mama. Nafas mama kuperhatikan sudah begitu cepat.

"Maaaas... ceeepaaaat, teken yang kuat, Maaass," perintahnya sambil memeluk punggungku erat-erat serta menggerakkan pinggulnya naik turun dengan cepat sehingga membuat kontolku terasa sedikit ngilu.

"Cepaaaat, Maaas," serunya lagi dengan nada suara yang cukup keras seraya tangannya mendekap punggungku kuat-kuat. Mungkin mama sudah mendekati orgasmenya, padahal aku pun sudah hampir tidak kuat menahan air maniku agar tidak keluar.

"Ini, Maaaah. Ini, tahan ya, Maaaah..." sahutku seraya kugenjot memek mama kuat-kuat beberapa kali.

"Terr-rruuss, sayaaang, terruuus," katanya lagi dengan gerakan pinggulnya semakin liar saja.

"Maaah... Maaaaaaah. Aku nggak tahan lagiiiiiii!" teriakku kuat-kuat. Kutekan kontolku lebih kuat lagi ke dalam memek mama dan "crreeeeet," air maniku akhirnya jebol dan menyemprot kuat ke dalam memek mama. Dan mungkin setelah menerima semprotan air maniku, akhirnya mama pun berteriak, "Maaaaassss, mama jugaaaa!" teriaknya sambil merangkulkan kedua kakinya kuat-kuat di punggungku, dan cengkeraman tangannya pun membuat punggungku terasa sakit.

Aku pun akhirnya menjatuhkan tubuhku di samping mama dan sama-sama terengah-engah kecapaian.

Setelah nafas kami mulai teratur, sambil memelukku mama berkata seperti berbisik di dekat telingaku.

"Enaaak, Maaaaaasss?"

"Enak sekali, Maaaah."

"Mas, jangan sampai ada yang tahu soal ini ya? Kamu kan bisa jaga rahasia kita ya," kata mama.

"Iya, Maaah."

"Dan satu lagi..." kata mama sambil memandangku tajam.

"Apa itu, Maaah?"

"Yang ini punya mama. Jangan kamu kasihkan ke orang lain ya?" katanya seraya mencengkeram kontolku yang lagi tidur kecapaian dan mengelus-elusnya. "Janji ya, sayaaang?" tambahnya lagi.

"Asal ini semua juga buat saya ya, Maaah," sahutku sambil kuremas memek mama dan kueluskan jariku di belahan memek mama yang masih terasa basah oleh air maniku.

Akhirnya kami tertawa berbarengan, dan tiba-tiba saja ada ketukan di pintu kamar, "Buuuu... sudah siang!" Rupanya ketukan dari pembantu karena saat itu sudah jam 9.00 pagi.

Setelah itu, mama selalu tidak pernah absen mengunjungiku di Bandung, atau kalau mama berhalangan, maka akulah yang datang ke Jakarta.

Tamat

โ† Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya โ†’