Gairah Bu Har
Gairah Bu Har
Usia Bu Harjono sebenarnya tidak muda lagi — mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak Harjono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak Harjono cukup dekat. Maklum, sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak Harjono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.
Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya — wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami — jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggilnya) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai tampak di wajahnya, tetapi buah dadanya, pinggul, dan pantatnya sungguh masih mengundang pesona. Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut.
Kisahnya berawal ketika Pak Harjono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya menjalani perawatan di RS. Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu.
"Kami bapak-bapak di lingkungan RT meminta Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak Harjono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan, Mas Rido?" Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan, secara diam-diam menyelipkan uang seratus ribu rupiah di kantong celanaku, katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku menemaninya.
Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS, aku dibuat sibuk — harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. Bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan, mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya. Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak Harjono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Akibat komplikasi dengan penyakit diabetes yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah.
Menyadari penyakit yang diderita tersebut — yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama — berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar.
"Sudahlah, Bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har," kataku menenangkan.
Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempat mengajar di sebuah SLTP membesuk — oh ya, Bu Har berprofesi sebagai guru sedangkan Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah — ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya.
"Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi, diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi," katanya kepada rekan-rekannya.
Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya, di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget, punggungku terasa tertumbuk benda empuk — tertumbuk buah dadanya yang kuyakini berukuran cukup besar.
Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi mengendarai motor, pikiranku berkelana mengira-ngira seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul, mengingat suaminya adalah seseorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi — aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS, kendati hanya satu kali, bersama beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas.
Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti.
"Jangan lama-lama, Nak Rido. Ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit," katanya.
Dan sesuai pesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju, langsung masuk ke ruang dalam. Ternyata di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku menikmati hidangan yang disediakan.
"Maaf, Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai," suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang.
Tidak terlalu lama menunggu, ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju kamarnya melewati ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, tidak sempurna menutupi ketelanjangan tubuhnya.
Ah, benar seperti dugaanku — buah dada Bu Har memang berukuran besar, bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya. Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan — yang tak kalah syur — ia tidak mengenakan celana dalam.
Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan BH ukuran 38 atau lebih. Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis muda. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki jenjang dengan paha putih mulus miliknya itu sungguh masih menyimpan magnet. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. "Sayang cuma sekilas," begitu aku membatin.
Ternyata tidak. Kesempatan itu kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk, mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya menemukan barang yang dicari — seperti ia sengaja melakukan hal ini.
Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya — paha yang sempurna, putih mulus dan tampak masih kencang. Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya.
Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan, hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki, apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku, bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit.
Yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total. Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku kian terbakar, kendati tetap kupendam dalam-dalam. Perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap permintaan bantuannya. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu.
Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit. Hujan terus mengguyur sejak sore hari. Orang-orang yang menunggui pasien di ruang ICU sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU — maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam. Para penunggu biasanya memanfaatkan teras itu untuk tiduran atau duduk mengobrol. Malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur menyempit sebab pada beberapa bagian tempias oleh air hujan. Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari tempat setelah makan malam di kantin menjadi tidak kebagian.
Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh, kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak karena posisinya dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam.
"Janji ya, Rid" — setelah cukup akrab, Bu Har tidak lagi mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku — "kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian," katanya.
"Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok, Bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi," jawabku.
Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat. Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal — dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat Lebaran, sampai ke soal penyakit yang diderita Pak Harjono. Menurut Bu Har, penyakit diabetes itu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu. Dan karena penyakit itulah, penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan.
"Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki impotensi ya, Bu?"
"Kata siapa, Rid?"
"Eh, anu, kata artikel di sebuah koran," jawabku agak tergagap. Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har.
"Rupanya kamu gemar membaca ya. Benar kok itu — makanya penyakit kencing manis, di samping menyiksa suami yang mengidapnya, juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua," ujarnya lirih.
Merasa tidak enak bahwa topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran telentang, setelah membuang rokok yang kuhisap, mengubah posisi memunggungi wanita itu — sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengannya, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku.
"Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut," katanya lirih.
Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, saat berbalik tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dadanya. Belum menyentuh secara langsung memang, karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku — seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari rasa aman pada ibunya.
Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan — karena kuyakini saat itu Bu Har belum pulas tertidur — aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.
Reaksinya: Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya, selimut besar dan tebal itu dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh.
Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya. Ia menggelinjang, tetapi tidak menolak tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan, memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kutahu secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku bahkan dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam.
Seperti keinginanku — dan juga keinginannya — telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu. Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari luar BH dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah berhasil menyelinap ke samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, ia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari BH yang membungkusnya.
Layaknya bayi yang tengah kelaparan, mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har. Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu — payudara berukuran besar dan agak mengendur, namun masih menyisakan kehangatan.
Sementara ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas penisku yang memang telah mengeras. Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga ia nampak keasyikan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku.
"Mau apa, Rid? Jangan di sini, ah, nanti ketahuan orang," katanya lirih.
"Ah, tidak apa-apa, gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar."
Hujan saat itu memang semakin deras. Entah karena mempercayai omonganku, atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak — terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya — ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia sendiri menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan.
Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya, aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan dalam gelap dan tetap di balik selimut tebal yang kupakai bersama, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah. Slep — penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya.
Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara, sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat. Maka ia pun melenguh tertahan, mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset — tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima, khas dimiliki wanita berpengalaman.
Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitaannya, ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik-turun tubuhku. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah — hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan angan entah ke mana. Bahkan sesekali otot-otot di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang.
"Ah, ah... enak sekali. Terus, ah, ah..."
"Aku juga enak, Rid. Uh, uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan panjang. Auh, ah, ah..."
Sampai akhirnya aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang, mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku.
"Aku tidak tahan, ah, ah... sepertinya mau keluar. Shhh, ah, ah..."
"Aku juga, Rid. Terus goyang, ya, ya, ah..."
Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendung, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun ia — setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku. Bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan.
"Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya, Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat," kata ia sambil masih tiduran di dekatku.
Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu.
"Ya, maaf... soalnya tadi..."
"Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak lebih dari lima tahun Pak Har terkena diabetes, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib di antara kita," ujarnya lirih.
Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya. Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan dalam kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian.
Bersambung...