18px

Bab 1

Gairah Seorang Tante

"Loh, Tan, udah pulang? Kirain siapa," kataku sambil tersenyum kepadanya, namun tidak ada balasan senyuman yang kudapat darinya. Ia hanya menatapku dengan pandangan biasa saja, kemudian dari mulutnya keluar kata-kata, "Fan, kita pulang sekarang, kamu siap-siap, sekarang juga kita pulang." Aku terdiam sambil memandangnya. Ada pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadanya, namun sulit sekali aku mengucapkannya, karena kulihat wajah Tante Mala tampak tanpa ekspresi dan sepertinya ingin aku menurutinya tanpa banyak bertanya.

Aku bergegas merapikan bajuku, membereskan dandanan, tanpa banyak cakap, memeriksa seisi kamar, takut-takut ada yang tertinggal atau terlewatkan. Setelah memastikan semuanya beres, aku membantu membawa tas kecil Tante Mala, memberitahunya bahwa semuanya telah siap, dan berjalan mengikutinya keluar.

Kuperhatikan Tante Mala — wanita cantik yang kukagumi — tampak bergegas melangkah. Dengan dandanan serba hitam yang seksi, mengenakan baju terusan berbelahan rendah, aku hanya meliriknya sekilas sambil menelan ludah. Sambil melangkahkan kaki menuju area pelataran parkir, banyak pertanyaan menghiasi otakku.

Di dalam mobil yang kukendarai, beliau juga tidak banyak bicara, hanya sesekali bergumam memastikan apakah mobil dalam keadaan laik jalan — sudah cek air, oli, atau bensin cukup untuk sampai tujuan — dan aku hanya menjawabnya ala kadarnya. Ada apa dengan Tante Mala? Ia terlihat tidak seperti biasanya; tidak ceria dan tidak banyak tersenyum seperti Tante Mala yang kukenal selama ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Apakah beliau sedang berada dalam posisi yang tidak mengenakkannya? Apa yang terjadi saat aku mandi? Atau apa yang terjadi ketika Tante Mala dan Om Herman dalam perjalanan pulang dari kantor? Apakah Tante Sandra melabrak Om Herman, lalu berimbas kepada Tante Mala? Apakah Tante Mala mengetahui bahwa kami — aku dan Tante Sandra — telah memergoki beliau berselingkuh dengan Om Herman? Lalu mengapa Tante Sandra tidak ikut kembali bersama kami? Ada apa dengannya? Masih banyak pertanyaan yang menggangguku, namun tak ada keberanian dari diriku untuk bertanya kepadanya.

Kulirik jam di tanganku — setengah delapan kurang. Kalau perjalanan dari sini menuju rumah sekitar tiga setengah jam, berarti kami akan tiba sekitar setengah sebelas. Perutku belum diisi sejak siang tadi. Bisa-bisa cacing di dalam perutku ngamuk karena belum mendapat upeti. Tante Mala seperti mengerti pikiranku; beliau melihat aku melirik jam dan akhirnya mengajakku mampir ke salah satu rumah makan bila kami melewatinya.

Sejam perjalanan kami lewati dalam keheningan. Malam itu lalu lintas cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan akhir pekan, sehingga banyak kendaraan lalu-lalang di jalan yang kami lalui. Jarak dari tempat kami memang cukup jauh, melewati perkebunan, sawah, dan beberapa kota kecil. Akhirnya, ketika kami melewati sebuah kota yang cukup ramai, kami memutuskan mencari rumah makan yang dirasa cukup enak, aman, dan nyaman.

Akhirnya kami memutuskan berhenti di sebuah restoran yang kelihatan cukup mewah, karena menurut Tante Mala tempat itu adalah tempat biasa ia makan bila melewati kota ini. Memang kulihat tempat itu cukup bagus; banyak mobil mewah terparkir di sana, dan di sebelahnya pun terdapat hotel yang cukup bagus — mungkin kelas melati, namun cukup asri dan nyaman untuk ukuran penginapan di kota kecil seperti ini.

Kami makan di restoran itu tanpa banyak bicara. Sampai saat ini aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi padanya; aku hanya dapat mengira-ngira saja. Ada sedikit sesal di hatiku — mengapa Tante Mala berselingkuh dengan Om Herman? Aku sangat menyayangkannya. Aku selalu memperhatikan gerak-geriknya yang salah tingkah; beliau sepertinya saat ini agak sungkan kepadaku. Dalam hatiku ada kecurigaan — sepertinya Tante Mala mengetahui bahwa aku memergoki mereka saat aku dan Tante Sandra berkunjung ke kantor Om Herman. Mungkin Tante Sandra marah besar terhadap keduanya, sehingga Tante Mala berusaha menghindari situasi itu dengan mengajakku pulang cepat. Aku tersenyum getir. Untungnya Tante Sandra telah memuaskanku, memuaskan birahinya, sehingga setidaknya Om Herman telah "membayar" apa yang dilakukannya terhadap tanteku — dibayar oleh istrinya sendiri.

Dasar aku memang sial. Jarang pergi dengan cewek cantik, dan sekalinya pergi bersama wanita cantik seksi di depanku ini, malah membuat aku grogi. Restoran yang kami datangi adalah restoran continental dengan berbagai macam menu masakan luar negeri. Kulihat di sekeliling; sepertinya para eksekutif berpakaian necis — jas, dasi, sepatu mengkilap — sedang makan malam di sini, belum lagi beberapa meja yang dipenuhi keluarga-keluarga kaya yang turut bersantap.

Sepertinya cuma aku saja yang berani tampil beda: cuma kemeja lengan pendek dengan celana jeans belel, belum lagi muka lecek berminyak yang membuat orang yakin dan percaya bahwa penghasilanku tidak lebih dari UMR. Sialan. Yang membuatku semakin grogi adalah, sepertinya semua mata memandang kami — Tante Mala yang berpenampilan cantik dan seksi dengan belahan dada rendah membuat mata mereka sebentar-sebentar kembali melirik ke arah meja kami. Jelas ini membuat aku semakin kikuk. Jangan-jangan mereka berpikir aku ini adalah pembantunya.

Melihat menu restoran semakin membuat aku puyeng; makanan dengan nama dalam bahasa yang tidak banyak kumengerti semakin membuatku bingung dalam memilih. Masa aku mau memilih gado-gado atau karedok? Ada sih memang, tapi bukannya itu justru membuat mereka berpikir aku biasa makan di emperan trotoar?

Akhirnya setelah mondar-mandir di daftar menu, aku dengan tegas menunjuk sashimi Jepang, dengan harapan itu adalah makanan lezat khas Jepang seperti yang kulihat di brosur-brosur yang disodorkan SPG cantik di depan mal-mal — yang biasanya kucomot walaupun mereka tidak menyodorkannya ke aku.

Ada rasa kaget bercampur haru ketika ternyata yang aku pesan adalah ikan mentah yang diiris-iris dan dimasukkan ke dalam bumbu cair yang baunya seperti air cuka tumpah di comberan. Terpaksa makanan itu aku makan juga, walau diselingi coca-cola. Sehingga nanti kalau orang tanya bagaimana rasanya sashimi, aku akan cepat menjawab: "Ikan mentah rasa coca-cola."

Kurang dari sejam kami selesai makan. Tante Mala memberi isyarat padaku agar segera pergi untuk melanjutkan perjalanan setelah selesai membayar. Aku mengikutinya melangkah, namun sedikit kaget — kupikir beliau akan menuju mobil untuk segera melanjutkan perjalanan pulang, namun beliau malah melangkah ke dalam gedung hotel di sebelah dan memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya. Tanpa banyak bertanya, aku bergerak mengikutinya.

"Fan, Tante agak pening nih. Mungkin lebih baik kita menginap di sini dulu, besok baru kita lanjutkan perjalanan. Kalau dipaksakan, Tante bisa sakit," katanya kepadaku seolah ingin meyakinkanku. Aku hanya mengiyakannya, seakan ini tidak menjadi masalah buatku.

Setelah check-in di lobi, aku mengikutinya masuk kamar. Jam menunjukkan kurang dari pukul sembilan malam. Entah karena aku juga capek atau apa, aku menyimpan tas, melemparkan diri, dan merebahkan badan di ranjang. Pegal sekali. Mengingat kejadian hari ini memang cukup membuatku lelah. Ada tambahan tenaga setelah makan tadi, namun aktivitas hari ini cukup menguras banyak tenaga. Kulihat Tante Mala merebahkan dirinya di bangku yang tersedia dalam kamar, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.

Beberapa saat kami terdiam. Aku bangkit, menyalakan televisi dengan remote yang tersedia, mencari siaran yang enak ditonton, dan kembali bermaksud merebahkan diri di ranjang. Namun langkahku terhenti. Kulirik Tante Mala dan berkata, "Tan, Tante sakit? Tiduran aja dulu di ranjang, istirahat." Tante Mala membuka matanya sambil tetap memegangi keningnya. "Iya deh, Fan. Tante istirahat dulu," katanya sambil bangun dan beranjak mendekati sisi tempat tidur.

Kami berganti posisi. Kulihat beliau membaringkan tubuhnya di ranjang, menggunakan bantal di kepalanya, dan berusaha memejamkan mata. Aku hanya terdiam melihatnya, entah apa yang harus kulakukan. Mengalihkan pandangan darinya, aku berusaha fokus pada televisi.

Beberapa lama kami terdiam seperti ini. Aku seperti membayangkan kejadian tadi siang — persis seperti yang dialami Tante Sandra. Perutku serasa mendesir mengingat kejadian tadi siang di mana aku dan Tante Sandra melakukan persetubuhan. Kembali aku melirik Tante Mala, membayangkannya bersetubuh denganku, dan ini membuat hasratku semakin menguat.

Berusaha menepiskan segala pikiran kotor dari benakku, aku kembali memusatkan perhatian ke arah televisi. Tiba-tiba Tante Mala bangun dari ranjang dan memandangku sambil berkata, "Fan, Tante mau mandi dulu, mungkin nanti bisa lebih segar." Aku memandangnya dan menganggukkan kepala seolah tak peduli, namun tetap menatap televisi.

Kulihat beliau mengambil sesuatu dari tasnya, mengeluarkan beberapa barang, menaruhnya dekat cermin di sisinya, kemudian melangkah ke arah pintu kamar mandi sambil membawa pakaian ganti, memasuki kamar mandi, dan menutup pintunya. Padahal aku mengharapkan beliau mandi dengan pintu terbuka seperti Tante Sandra.

Beberapa lama aku menunggunya mandi sambil menonton televisi. Beliau akhirnya keluar dengan wajah tampak segar, mengenakan penutup berbentuk kimono berwarna putih — dan yang membuatku deg-degan adalah, beliau mengenakannya tanpa dikancingkan atau diikat pinggang, sehingga jelas membuat dadanya seperti hendak menyembul keluar.

Ia berjalan ke arah meja berkaca di sebelah ranjang, mematut-matutkan diri sejenak. Kulihat beliau seperti mengambil sesuatu dari pinggiran meja — seperti strip obat — mengambil beberapa butir, memasukkan ke dalam mulutnya, dan meneguknya dengan air yang telah tersedia. Aku memperhatikannya.

Kemudian, seperti tidak peduli ada aku di dekatnya, tanpa kuduga sama sekali, beliau memelorotkan kimono putih itu, membelakangi diriku. Hal itu membuatku terkesima. Memang aku sering melihat Tante Mala dalam keadaan tanpa busana sebelumnya, namun biasanya tanpa beliau sadar ada aku di dekatnya. Tapi kali ini jelas beliau tahu aku ada di situ dan jelas-jelas dapat melihatnya dari pantulan cermin di depannya.

Entah apa maksudnya. Jelas hal ini membuatku terkesima; memandangnya terus seperti ini mungkin akan membuatku gelap mata, membayangkan seolah-olah Tante Mala memancingku, merayuku untuk menyetubuhinya. Aku berusaha memalingkan pandangan darinya, berusaha menepis bayang-bayang yang kian menguasai pikiranku.

Rambutnya yang agak ikal panjang disisir ke belakang. Dengan menggunakan cairan yang ada di dekatnya, ia mengusapnya ke telapak tangan, membasuhnya di rambut, lalu menyisir kembali ke belakang. Sesekali kedua tangannya diangkat ke arah kepala, memegang rambutnya — dan hal ini jelas membuat kedua payudaranya seperti ditonjolkan ke depan, seakan menyuruhku untuk melihat dan memujinya.

Sering aku berpikir bahwa selama ini aku selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik berbadan indah, montok, putih, mulus, dan tentu saja dianugerahi dua buah bukit kembar yang menggiurkan. Entahlah, kadang aku heran — apakah dengan penampilan yang pas-pasan seperti ini aku selalu mendapat godaan yang rasanya sulit kuhindari?

Bersambung . . .

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya