18px

Gairah Terlarang dengan Mbak Lastri (Bagian 2)

Gairah Terlarang dengan Mbak Lastri (Bagian 2)

Kini Mbak Lastri yang aktif bergerak di atas tubuhku, sedangkan aku hanya telentang meresapi kenikmatan. Bibir dan lidahnya menciumi dan menjilati, terkadang digigitnya putingku, lalu turun ke bawah dan akhirnya kemaluanku dijadikan mainan. Mbak Lastri mengocok batang kemaluanku dengan cara memasukkan dan mengeluarkannya dari mulutnya, lidahnya mengulas-ulas kepala kemaluanku. Biji pelirku pun tak luput dikenyot-kenyotnya, sedangkan tanganku meremas-remas rambutnya.

"Mbak, gedean mana punya saya sama punya suami Mbak Lastri?" tanyaku ingin tahu.
"Gedean punya kamu sedikit," jawab Mbak Lastri sambil tetap mempermainkan kemaluanku.

Kemudian Mbak Lastri bangkit dan mengangkang di atas tubuhku.

"Mbak Lastri di atas ya!" pintanya.
"Memangnya kenapa kalau di atas, Mbak?" tanyaku.
"Soalnya kalau di atas lebih puas. Yang banyak bergerak kan yang di atas, makanya Mbak Lastri bisa cepat sampai," Mbak Lastri menjelaskan.

Mbak Lastri mengatur posisinya dengan meletakkan pantatnya di atas kemaluanku. Kedua kakinya dilipat sejajar pahaku, lalu tangannya menuntun batang kemaluanku dan meletakkan kepalanya di antara bibir vaginanya, tepat di tengah lubang. Setelah dirasa pas, perlahan-lahan Mbak Lastri menekan pantatnya hingga batang kemaluanku terbenam ke dalam vaginanya. Setelah sampai dasarnya, pantatnya diayunkan naik-turun secara ritmis. Teteknya ikut terayun-ayun mengikuti gerakan itu. Tetek Mbak Lastri sudah agak kendur, tapi masih terlihat indah dengan ukuran yang serasi dengan tubuhnya. Tanganku meremas-remasnya, terkadang kuangkat badanku agar dapat mengulum putingnya dan menjilati buah dadanya.

"Oh, enak banget.. Aahh.." Mbak Lastri mengerang-ngerang.

Kuimbangi gerakan Mbak Lastri dengan mengangkat pantat setiap kali pantatnya menekan ke bawah, hingga rasanya kemaluanku menyentuh dasar vaginanya. Terkadang tubuh Mbak Lastri berbaring di atasku sambil tetap menggerakkan pantatnya. Mulutnya tak henti berdesis pelan. Setelah beberapa saat, gerakan Mbak Lastri semakin cepat dan tangannya mencengkeram dadaku.

"Ahh.. Mbak Lastri mau sampai, sshh.. Aahh." Rupanya Mbak Lastri sudah mau klimaks. Aku semakin bersemangat meremas-remas dan memilin-milin putingnya, sedangkan tangan satunya menowel dan mencubiti kelentitnya. Dan akhirnya—

"Aahh..!" Mbak Lastri melenguh kenikmatan.

Tubuhnya mengejang di atas tubuhku dengan bibirnya melekat erat pada bibirku, kemudian perlahan-lahan tubuhnya melemah sampai akhirnya terdiam di atasku. Sementara itu batang kemaluanku masih tertancap di vaginanya. Kurasakan memeknya penuh cairan.

"Gimana, Mbak? Kita main lagi ya?" Aku mengajaknya untuk kembali bercinta karena aku belum klimaks.
"Nanti sebentar, Mbak Lastri masih capek," jawabnya.

Setelah Mbak Lastri sedikit segar, kami mulai bercinta lagi.

"Mbak, nungging ya, Mbak!"

Aku meminta Mbak Lastri bercinta dalam posisi di mana aku berada di belakangnya, tapi tidak benar-benar nungging. Mbak Lastri berbaring tengkurap dengan pantat sedikit mendongak, diganjal bantal. Dalam posisi ini, selain menikmati kemaluanku yang terbenam di dalam vaginanya, pantat montok Mbak Lastri pun bisa kupuaskan.

Kurarahkan kemaluanku ke vaginanya, setelah pas kudorong pelan sampai mentok, lalu kuangkat, kemudian kuayunkan pantatku maju-mundur. Posisi tubuhku berada di atas tubuh Mbak Lastri dari arah belakang. Sambil memaju-mundurkan pantat, wajahku menciumi rambutnya dan tanganku meremas-remas teteknya dari belakang. Terkadang jari tanganku mencolek-colek dan mengulas-ulas lubang anusnya. Setelah beberapa saat aku merasa sudah akan klimaks, kuminta Mbak Lastri berbalik untuk memakai gaya konvensional.

"Mbak, balik dong, saya mau sampai nih," pintaku.
"Iya, Mbak Lastri juga mau sampai juga nih," jawabnya.

Mbak Lastri membalikkan badannya dan merentangkan kakinya. Langsung saja kumasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya dan menggerak-gerakkan pantatku, kali ini dengan agak kasar.

"Aahh.. ahh.. kita keluarkan bareng ya, Cen," kata Mbak Lastri sambil mendesah-desah.
"Mbak Lastri pilin-pilinin puting saya dong!" aku memintanya.

Kenikmatan yang kudapat akan semakin maksimal apabila putingku dipilin-pilin.

Mbak Lastri memilin-milin putingku dan tanganku pun meremas-remas teteknya. Bibir kami saling berpagutan sambil saling sedot lidah, hingga akhirnya kurasakan sesuatu mendesak untuk dikeluarkan disertai kenikmatan tiada tara. Kulihat Mbak Lastri mengalami hal yang sama.

"Mbak Lastri, saya mau keluar.."
"Mbak Lastri juga mau keluar nih," Mbak Lastri menjawab.

Dan akhirnya, sambil kuhujamkan kemaluanku dengan keras ke dalam vagina Mbak Lastri, spermaku keluar membasahinya. Mbak Lastri pun merasakan hal yang sama; kami saling berpagutan menuntaskan kenikmatan bersama-sama.

Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa kenikmatan. Tubuhku masih berada di atas tubuh Mbak Lastri, perlahan kugulingkan tubuhku ke sampingnya. Ada rasa ngilu pada kemaluanku ketika terlepas dari vaginanya.

"Mbak Lastri puas banget, Cen. Sudah lama banget Mbak nggak merasakan yang seperti tadi," Mbak Lastri mengungkapkan kepuasannya.

"Saya juga, Mbak. Kalau nanti-nanti Mbak Lastri kepengen lagi, saya selalu siap," aku menimpalinya sambil tanganku meraba-raba teteknya.

"Eh, udahan ya, nanti keburu ada yang datang," kata Mbak Lastri. Dia bangkit dari tidur, meraih pakaiannya, mengenakannya, lalu keluar menuju kamar mandi. Akupun berdiri, mengenakan pakaian, lalu berjalan menuju kantorku. Tak lama kemudian Mbak Lastri menyusul, gantian aku yang ke kamar mandi.

Kami membicarakan hal-hal lain beberapa saat, lalu anak buahku datang dan Mbak Lastri pamit pulang. Setelah kejadian itu, kami tak pernah membahasnya lagi meskipun Mbak Lastri tetap rutin datang ke kantorku. Sesungguhnya aku sangat ingin mengulanginya, tapi ada rasa segan untuk mengutarakannya. Kupikir lebih baik menunggu saja. Baik aku maupun Mbak Lastri tak pernah menunjukkan bahwa kami pernah bercinta; semua berlalu seakan tidak terjadi apa-apa.

Sampai suatu malam, suami Mbak Lastri datang ke rumahku untuk meminta tolong memperbaiki komputernya yang baru dibeli dan tidak bisa dioperasikan, mungkin karena diutak-atik anak-anaknya. Lalu kami pergi ke rumahnya, kucek komputernya, dan kubilang bahwa besok pagi saja memperbaikinya karena harus diinstal ulang dan membutuhkan waktu agak lama. Kebetulan besok aku tidak terlalu sibuk. Waktu itu Mbak Lastri memakai daster, membuatku horny. Mbak Lastri lalu nimbrung ngobrol beberapa saat, kemudian aku pulang.

Besok paginya sekitar pukul tujuh, setelah pamit dengan istriku, aku ke rumah Mbak Lastri. Sesampainya di sana aku bertemu dengan suaminya yang sudah bersiap-siap berangkat kerja. Mbak Lastri sedang mandi, sedangkan anak-anaknya sudah berangkat sekolah diantar pembantunya. Setelah ngobrol beberapa saat, suaminya berangkat kerja dan aku langsung memperbaiki komputernya. Mbak Lastri kemudian keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih terlihat basah, menghampiriku, berbasa-basi sebentar, lalu pergi ke ruangan lain. Aku kembali berkonsentrasi ke komputer. Sebetulnya saat itu aku sangat berharap kejadian dulu bersama Mbak Lastri dapat terulang, tapi aku tidak berani memulai.

Proses instal komputer sedang berlangsung dan aku menunggunya sambil sesekali melihat layar TV. Tiba-tiba terdengar suara Mbak Lastri memanggil dari ruang tamu.

"Cen, ke sini deh."
"Ada apa, Mbak?" sahutku, kemudian berjalan ke arah ruang tamu.

Kulihat Mbak Lastri sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. Dia memakai kaus dan kain yang membalut bagian bawah tubuhnya. Aku menghampirinya.

"Komputernya sudah selesai belum?"
"Belum, masih lama, Mbak. Kenapa, Mbak?"
"Sini deh!" Dia memintaku duduk di sampingnya.

Aku duduk di sampingnya; tercium wangi sabun dari tubuhnya.

"Mbak Lastri kepengen nih!" Akhirnya waktunya datang juga. Aku paham keinginan Mbak Lastri untuk bercinta.
"Di sini? Nanti kalau pembantu Mbak Lastri pulang gimana?"
"Nggak, dia pulangnya jam sepuluh."

Setelah mendengar jawabannya, langsung kupeluk tubuh Mbak Lastri, kukecup bibirnya, dan kami saling berpagutan. Tanganku kumasukkan ke dalam bajunya — ternyata Mbak Lastri tidak memakai BH. Kuremas-remas teteknya. Tangan Mbak Lastri masuk ke dalam celanaku dan mempermainkan kemaluanku.

"Mbak, kausnya dilepas ya!" pintaku.

Mbak Lastri langsung melepas kausnya, sedangkan aku menurunkan celana sebatas paha hingga kemaluanku yang mulai tegang keluar. Aku tidak berani melepas pakaian sepenuhnya.

"Mbak, nungging dong." Aku memintanya.
"Nungging gimana?" Dia bertanya untuk memastikan posisinya.

Kuatur posisi badan Mbak Lastri: lututnya menempel di lantai sedangkan badannya bertumpu di atas sofa. Setelah posisinya kurasa enak, kuangkat kain yang menutupi bagian bawah tubuhnya — ternyata dia juga tidak memakai celana dalam. Kurarahkan kemaluanku ke lubang vaginanya, kutekan pantatku, lalu kuayun. Sambil mengayunkan pantat, kuciumi tengkuk dan rambutnya, sedangkan kedua tanganku meremas teteknya. Dari mulutnya kudenger desis perlahan.

"Cen, Mbak Lastri di atas ya!" Dia meminta mengubah posisi.

Aku lalu duduk bersandar di atas sofa. Tubuh Mbak Lastri naik ke atas tubuhku, tangannya membimbing kemaluanku ke arah lubang vaginanya. Digerakkannya pantatnya naik-turun dan kuimbangi dengan gerakan pantatku menekan ke atas setiap kali pantatnya menekan ke bawah.

Bibir Mbak Lastri melumat bibirku dengan rakus, sedangkan tanganku meremas-remas pantatnya yang montok. Terkadang kuciumi teteknya dan kukenyot-kenyot putingnya, kepalanya menengadah ke atas.

Beberapa saat kemudian—

"Mbak Lastri mau keluar, aahh!!" Dia berbisik ke telingaku sambil menggerakkan pantatnya semakin cepat.

Aku pun merasakan hal yang sama, lalu kuminta Mbak Lastri memilin-milin putingku. Aku semakin bergairah mengimbangi gerakannya. Kuciumi lagi teteknya sambil kuremas-remas.

Akhirnya saatnya tiba. Mbak Lastri menekan vaginanya sedemikian rupa dan akupun menekan pantatku sampai kemaluanku serasa mentok. Tubuhku dan tubuh Mbak Lastri berpelukan erat dengan mulut saling berpagutan. Spermaku keluar membanjiri vaginanya. Sampai beberapa saat kami tetap saling berpelukan menikmati sisa kenikmatan.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya