Gairah Terlarang di Tepi Kolam
Gairah Terlarang di Tepi Kolam
Mas Willy lalu berinisiatif mendorong kami ke pinggir, lalu menaikkanku duduk di bibir kolam. Detik berikutnya kepalanya sudah mendekam di antara pahaku sementara lidahnya mulai menjilati vaginaku, sementara Yudi juga sudah naik ke tepi kolam lalu menghisap dan menjilati puting payudaraku. Tanganku menggapai-gapai mencari 'pegangan' dan ketika kutemukan, kugenggam sesuatu yang ternyata adalah kemaluan pemuda itu. Walau tidak terlalu besar, kemaluan Yudi sangat keras.
Aku lalu memposisikan diriku rebah dengan kedua kaki menjuntai ke dalam kolam. Mas Willy masih menjilatiku dengan asyiknya hingga memberiku kenikmatan yang amat sangat karena lidahnya sungguh pandai menjilat dan menyapu, terkadang bahkan memasuki liang vaginaku. Sementara Yudi 'kutuntun' untuk berjongkok di atasku sehingga aku bisa dengan bebas menghisap dan menjilati bijinya.
Bahkan dengan nakalnya ia menggerakkan pantatnya sehingga anusnya terjilat olehku. Ah, aku tak peduli. Namun aku masih sempat melirik ke sebelah, dan di sana ternyata 'lebih parah' lagi. Kulihat suamiku berdiri dengan kemaluannya di dalam mulut Mbak Ratih yang 'menduduki' Firman, yang kemaluannya entah kapan sudah tertanam dalam vaginanya.
Crrot... "Ahh.. Argh.." Yudi yang tak tahan dengan hisapan dan jilatanku menumpahkan air maninya dalam mulutku. Karena posisi kepalaku tak memungkinkanku banyak bergerak, aku harus menelan habis semua air mani anak muda itu.
Yudi tergolek ke sampingku dan kemudian Mas Willy naik di atas tubuhku yang kusambut dengan membuka kedua pahaku lebar-lebar, dan bless — kemaluannya sudah memasuki vaginaku dengan tidak terlalu sulit. Selain ukurannya memang tidak terlalu besar, vaginaku sendiri juga sudah sangat basah dengan lendirku bercampur air liurnya.
Mas Willy menggerakkan pantatnya dengan teratur sementara bibirnya menyatu dengan bibirku tanpa merasa terganggu dengan bekas air mani Yudi. Dan tidak lama...
"Aahh.." Crrot... Sampailah ia di puncak kenikmatan, mengejang dan menekankan kemaluannya sedalam mungkin di vaginaku. Aku memeluknya dan mencoba bergerak secepat mungkin untuk 'menyusul', namun kemaluannya keburu menyusut hingga... Plop, terlepas dari vaginaku.
Aku tidak berkomentar namun agak kecewa karena belum orgasme. Sungguh, bagi wanita yang pernah merasakannya, pasti tahu betapa tidak enaknya dalam keadaan 'menggantung' begitu. Mataku nanar melihat ke sebelah dan pada saat itu kulihat suamiku juga sedang memperhatikan diriku, sementara Mbak Ratih — dengan mulut yang masih menitikkan cairan putih di sudut bibirnya — sedang bergerak dengan liarnya di atas Firman. Hampir berbarengan dengan dengusan Firman, mereka saling memeluk melepaskan puncak kenikmatan.
Ketika aku bergerak duduk, suamiku sudah berada di sampingku.
"Kamu belum ya..." bisiknya mesra, lalu ia mulai mencium bibirku, turun ke payudaraku dan terus ke bawah.
Aku berusaha mencegahnya karena tahu vaginaku masih penuh dengan air mani Mas Willy, namun tampaknya ia tidak peduli. Ia turun ke kolam lalu berdiri di dalam air di antara kedua kakiku dan mulai menjilati vaginaku yang sesungguhnya masih basah kuyup itu.
Campur aduk perasaanku, antara merasa tidak enak pada suamiku namun juga ada kenikmatan lain yang sukar dilukiskan ketika ia melakukan itu. Akhirnya rasa nikmat itu menang. Aku bersikap rileks dan menerima gelombang kenikmatan yang datang dari jilatan, sapuan, dan hisapan suamiku pada klitorisku. Jarang aku bisa orgasme hanya dengan dijilat, namun kali ini ledakan itu datang cukup hebat dan...
"Hh.. Sss.." Akhirnya aku menggapai kenikmatan yang tadi menggantung. Namun rupanya itu tak berlangsung lama karena menjilati vagina istrinya yang 'bekas' dipakai orang lain justru sangat menaikkan birahi suamiku. Ia lalu naik dari kolam dan memasukkan kemaluan yang sudah sangat kukenal itu, dan kami bersetubuh dengan sangat lembut di bawah tatapan mata kawan-kawan yang lain.
"Balik, Ma..." bisik suamiku. Aku mengerti, lalu ia melepaskan kemaluannya dari vaginaku. Aku diposisikan seperti yang diinginkannya dan kami lalu bersetubuh secara doggy style. Ah, semakin dalam dan nikmat saja hunjaman kemaluan suamiku.
"Ss.. Ah.." Aku agak kaget ketika ada perasaan asing yang datang. Ternyata Mbak Ratih ikut menyusupkan kepalanya di antara pahaku dan menjilati kemaluan suamiku setiap tertarik, dan lidahnya terkadang menyapu juga klitorisku. Uh, sungguh luar biasa.
Jilatan Mbak Ratih makin tak beraturan karena rupanya ia juga sedang digarap oleh Mas Willy yang sudah berdiri lagi dan memasukkan kemaluannya. Sementara ketika kulihat kemaluan Firman yang juga sudah ikut bangun, aku memberinya isyarat dan ia menghampiriku, menyodorkan kemaluannya yang jauh lebih besar daripada kemaluan Mas Willy maupun Yudi ke mulutku.
Lengkaplah sudah malam itu. Kami melanjutkan permainan itu di bungalow Yudi dan Firman karena di bungalow kami ada anak-anak yang sedang tidur, hingga kami khawatir mereka akan terbangun menyaksikan orang tuanya sedang berpesta.
Malam itu masih dua kali Firman memuntahkan air maninya di mulutku, dan Mas Willy juga sekali, sementara Mbak Ratih tampak kelelahan dan berhenti terlebih dahulu, meringkuk di atas kursi hingga ketiduran.
Hingga saat ini aku masih menolak ketika ada yang mencoba memasukkan kemaluannya ke anusku. Belum, aku belum siap. Kalau hanya dijilat dan ditusuk pakai lidah aku masih mau, enak. Tapi kalau lebih dari itu aku masih takut.
Keesokan harinya anak-anak memuaskan hasratnya bermain, sebelum sorenya kami berpisah dan kembali ke kehidupan rutin kami.
Kini sudah lebih dari satu setengah tahun sejak aku dipijat yang berakhir pada kehidupan seks yang penuh hasrat, penuh kenikmatan, penuh tantangan. Dan baru kali ini aku menyadari bahwa ternyata kehidupan seks bisa begitu variatif tanpa harus mengorbankan pernikahan.
Aku membuat kesepakatan pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan mau berhubungan seks dengan orang lain tanpa didampingi suamiku, walau aku membebaskan dia untuk melakukannya kalau kebetulan ingin dengan wanita lain, asal dia menceritakan pengalamannya. Hal ini berawal pada permintaan beberapa teman suamiku yang datang dan berunding dengan kami, meminta tolong agar Mas Ridwan suamiku mau 'gantian' berperan sebagai pemijat untuk istri mereka — dan hal itu tentunya susah ditolak kan? Namun hingga saat ini belum pernah suamiku bermain dengan wanita lain berduaan saja.
"Ngapain, nggak seru," katanya.
"Untuk kita kan permainan ini hanya sekadar refreshing, fun, dan rekreasi," katanya lagi, menjelaskan ketika ia kutanya mengapa menolak beberapa 'tawaran' yang datang.
"Bagiku, melihat Mama bermain seks hingga puas jauh lebih menyenangkan dan memuaskan ketimbang Mas yang main," ia menjawab santai.
Beruntungkah aku? Atau semua suami memang seperti itu?
Ukuran Terbesar
Dari semua pengalaman yang telah kujalani, ukuran kemaluan laki-laki paling besar yang pernah kurasakan adalah milik Mas Joko, seorang pengusaha bertubuh agak tinggi dan ramping, namun ternyata senjatanya berukuran luar biasa.
Panjangnya hampir mencapai 24 cm, dengan diameter lingkaran yang sangat besar, sangat keras, dan saat menyemburkan air mani — banyaknya luar biasa. Selama ini aku selalu membanggakan diri bahwa kalau ada yang 'keluar' di mulutku, akan selalu kutelan habis tak bersisa. Namun kali itu ternyata aku sampai tersedak karena saking banyak dan kerasnya semprotan yang kuterima, padahal hanya ujung kepalanya yang berada di mulutku karena hampir tidak muat.
Saat masuk ke vaginaku, aku merasa seperti diperawani kembali, dan semburan air maninya terasa langsung masuk ke dalam rahimku. Namun terus terang, aku tidak mau lagi melakukannya. Karena ukuran yang terlalu besar walau terlihat sensasional, bagiku tidak memberi kenikmatan yang maksimal. Sebaliknya ukuran yang terlalu kecil juga kurang menjanjikan. Ya, 16-18 cm dengan diameter lingkaran yang cukup dan bentuk yang bagus sangat pas bagiku, karena akan terasa nikmat baik di mulut maupun di vagina.
Setelah 'melayani' Mas Joko dan suamiku berbarengan, hampir selama 5 hari kemudian aku tidak bisa berhubungan seks karena rasanya panas dan pedas sekali. Kalau kata orang kemaluan yang sangat besar bisa membuat orgasme seketika, maka menurutku itu bohong karena aku tidak mengalami itu. Aku bahkan lebih banyak khawatir saat kemaluan sebesar lengan bayi itu memasuki vaginaku. Sebaliknya, jangan dikira pula kalau kemaluan dengan ukuran kecil tidak bisa menyemburkan air mani yang banyak. Aku pernah mengalaminya — ukurannya kecil dan tidak menjanjikan, namun ternyata tumpahan air maninya bisa banyak sekali.
Jumlah Terbanyak
Dalam satu kali permainan, jumlah pasangan main terbanyak yang pernah kualami adalah bermain dengan 5 orang laki-laki sekaligus, termasuk suami saya tentunya. Namun dari pengalaman, aku tidak lagi mau melakukannya karena ternyata sangat melelahkan hingga kenikmatannya justru jadi hilang. Idealnya adalah 2 — maksimal 3 laki-laki dalam satu kesempatan.
Tukar Pasangan
Tukar pasangan, walau pernah kami lakukan, namun suamiku kurang menyukainya. Sementara bagiku, salah satu sensasi yang sangat dahsyat adalah menjilati kemaluan suamiku saat keluar masuk vagina wanita lain dan terus menjilatinya saat ia klimaks — hal itu sungguh sangat membuatku terangsang. (Itu juga berlaku bagi laki-laki yang menjilati vagina istrinya saat kemaluan laki-laki lain ada di dalamnya hingga ejakulasi.) Namun karena sangat jarang melibatkan wanita lain, ya jadi jarang kulakukan.
Salah satu momen yang selalu kuingat adalah ketika aku berhasil mengajak Monica, teman fitnessku, untuk ikut serta dan kami bermain berempat — aku, suamiku, Monica, dan salah seorang teman suamiku. Saat itu posisi suamiku telentang dan Monica berada di atasnya dengan wajah membelakangi suamiku, agak tengadah, dengan vaginanya 'menelan' kemaluan suamiku sehingga aku dengan mudah menjilati biji dan batang suamiku saat sedang keluar masuk vagina sempit yang kemerahan itu. Ketika mereka mencapai puncak kenikmatan, aku sungguh sedemikian sangat terangsangnya menjilati dengan gila-gilaan tanpa kusadari hingga kemaluan suamiku terlepas dari vagina Monica dan langsung memasuki mulutku. Pada waktu itu teman suamiku hanya menyaksikan sebelum akhirnya ia lalu 'kutubruk' karena birahi yang sudah tak tertahankan lagi.
Tamat