Ganasnya Nafsu Teman Lama
Ganasnya Nafsu Teman Lama
Suasana department store yang demikian ramai, dipenuhi orang sedang berbelanja, tiba-tiba seorang wanita menyapa dari belakang. Ternyata temanku saat masih SMP bernama Gemini, yang biasa dipanggil Gemi. Tapi sekarang penampilannya sangat aduhai; ia mempunyai tubuh yang indah meski umurnya sama denganku, tiga puluh lima tahun. Lain sekali dengan dulu—kurus, rambutnya pecah-pecah agak kemerahan, mungkin tidak pernah terkena sampo karena faktor keuangan yang minim. Payudaranya kini sangat ranum dan besar membusung, mungkin ukurannya 38DD, sehingga sangat menonjol karena ia mengenakan kaos ketat terusan sampai dengkul.
Kami minum di kafe sambil berbicara panjang lebar, sehingga aku mengetahui bahwa ia sekarang menjadi wanita panggilan tingkat atas dengan tarif dua juta per malam. Wow, mahal juga.
Ia bercerita tentang masa lalu, bahwa sebenarnya ia telah menaruh hati padaku sejak SMP. Karena SMA-nya terpisah, ia sulit untuk bertemu aku lagi. Tapi ia selalu mencariku sekadar untuk melihat, dan sepulangnya ia selalu membayangkan diriku dalam khayalan. Ia menceritakan ini tanpa terlihat canggung, mungkin karena kita sudah sama-sama dewasa. Ia bilang bahwa aku pernah menolak cintanya ketika ia mengatakan terus terang bahwa ia suka padaku, tapi katanya aku tidak suka cewek yang buah dadanya kecil seperti dia dulu. Eh, setelah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, sekali bertemu ia sudah berubah total menjadi wanita idamanku.
Ia ingin mewujudkan impiannya bersamaku meski sebentar, maka ia menawarkan diri untuk malam ini. Ia tidak ada janji dengan siapa pun karena sudah sebulan ini beristirahat, dan kebetulan aku baru saja mencairkan uang dalam jumlah besar atas proyek besar yang telah kuselesaikan, sehingga tarifnya tidak membuatku terkejut—hanya sepermil dari pendapatan yang kuterima. Aku langsung menyetujui.
Ternyata ia membawa mobil sendiri, sementara aku kebetulan tidak bawa mobil saat itu, jadi aku ikut mobilnya menuju suatu tempat yang ternyata adalah rumahnya sendiri di luar kota, di kawasan pegunungan.
Kami memasuki rumah yang berhalaman cukup luas, dengan gerbang yang dilengkapi remote control sehingga tanpa disentuh dapat terbuka sendiri. Untuk menuju rumah tersebut harus melalui jalan setapak dari batu, kira-kira lima ratus meter dari jalan. Orang yang baru datang tentu tidak mengira bahwa jalan itu menuju sebuah vila yang cukup besar dan indah.
Kami duduk di ruang tamu dan disuguhi minuman Black Label. Sebenarnya minuman itu cukup keras bagiku, tapi karena hawa dingin dan suasananya cukup romantis, sedikit demi sedikit aku minum juga. Dan ternyata enak juga.
"Dod, kamu mau cara seperti apa agar kita sama-sama puas untuk pertemuan kita malam ini?"
"Wah, saya tidak tahu, tapi sering membuka internet, di situ ada sesuatu yang agak aneh. Kalau kamu tidak keberatan, saya mau mencoba secara nyata sesuatu yang tidak umum dilakukan orang."
"Maksud kamu?"
"Maksudnya... tidak seperti biasanya."
Entah kenapa, ketika sampai di sini saya agak gugup menjawab semua pertanyaannya, dan otak tidak bisa berpikir dengan cepat.
"Ok, saya ngerti kok. Maksud kamu lain dari yang umum dilakukan orang, gitu kan?"
"Kurang lebih begitulah," jawabku dengan agak gugup, tapi mataku selalu memandangi tubuhnya yang aduhai dengan busana seksi yang ia kenakan.
"Dod, itu namanya fetish. Ternyata kamu suka dengan cara itu... dan kamu tahu, cara tersebut memang kesukaan saya juga," jawabnya dengan senyum yang mengundang, disertai gerakan bahu yang sempat membuat buah dadanya yang besar bergoyang. Hal ini membuatku semakin gugup dan cukup membangkitkan berahi.
Ia mengeluarkan sebuah buku tipis dan aku disuruh membacanya. Setelah selesai, buku itu diambil kembali dan ia membaca dengan suara lantang—serangkaian pertanyaan yang harus kujawab dengan Ya atau Tidak. Selanjutnya ia akan memberi tanda centang sebagai tanda aku menyatakan setuju dengan apa yang akan dilakukan nanti. Ternyata dia memang sudah biasa dengan cara ini; makanya dia punya buku panduan.
"Nah Dod, sekarang saya bacakan yang harus kamu jawab Ya atau Tidak, atau punya pilihan dengan keterangan lebih detail, jadi akan lebih jelas apa yang menjadi fantasi kamu. Saya akan tawarkan yang paling berat dulu, ok?"
"Mau didominasi dan menjadi sex slave selamanya?" — Ya.
"Bersedia bila saya menjadi seorang wanita yang sadis?" — Ya.
"Bersedia bila diikat sampai kamu benar-benar tak bergerak?" — Ya.
"Bersedia bila disumbat mulutnya sampai benar-benar tidak ada suara?" — Ya.
"Pilih: (1) pump gag, (2) ball gag, (3) big penis gag, (4) cloth gag, (5) ring gag, (6) dentist gag, (7) tape gag, (8) my underpanties gag, semua dengan head harness atau ada pilihan?" — Ya, hanya 1, 3, 8; sebaiknya semua dengan head harness.
"Wow, jadi kamu benar-benar ingin tidak bisa bersuara sama sekali? Wah, kamu akan menjadi slave idola saya. Tentunya saya tidak perlu khawatir kamu akan teriak, dan saya bebas menghukum kamu. NICE!"
"Blind fold?" — Tidak.
"Nose gag?" — Wah, ini berat juga, tapi kalau sampai batas tertentu sih tidak apa.
"Iya dong, saya kan tidak akan membuat kamu mati."
"Leather collar?" — Ya.
"Wide atau?" — Wide juga boleh.
"Body harness?" — Ya.
"Hood?" — Ya, tapi tidak dengan blindfold biar saya dapat melihat dan menikmati apa yang kamu kerjakan terhadap diri saya.
"Transgender?" — Tidak.
"Maid?" — Tidak.
"Golden shower atau urination?" — Ya, pasti kamu akan memaksa saya untuk menelannya.
"Tentu dong, memang itulah tujuannya agar kamu bisa merasakan bagaimana menjadi seorang cowok yang dihina wanita dan kamu harus merasakan taste dari kencing saya. Dan pasti minta lagi kalau haus dan harus menurut, tidak boleh menolak meski terpaksa melakukannya. Kalau melawan, tentu hukuman menunggu berupa siksaan yang berat, ok?" — Ok deh.
"Cambuk?" — Ya.
"Berat?" — Ya.
"Tampar?" — Ya, tapi kalau di muka jangan terlalu keras.
"Gantung dengan suspension, spreadeagle?" — Ya.
"Terbalik?" — Ya, tapi lebih suka biasa saja.
"Hard stock?" — Ya, tapi bagaimana sih bentuknya kalau hard? — Tunggu saja nanti, kamu akan terkejut deh, ok? — Ok.
"Hard Xrack?" — Ya, nah ini apalagi? — Pokoknya kamu rasakan nanti deh, sekarang jangan banyak tanya! — Ya, ya...
"Stretching body table?" — Ya.
"Electric shock?" — Ya.
"CBT?" — Ya, tapi tidak press ball, ok? — Ok.
"Butt plug?" — Ya.
"Enema?" — Ya.
"Full nude body?" — Ya, kalau itu yang kamu mau. — Tentu dong, kan tidak ada penghalang untuk saya saat mengerjai kamu.
"Lick, suck pussy, asshole?" — Ya, tapi bersih kan? — Tentu dong, jangan khawatir, tapi kalau sudah bilang ya, tidak ada lagi kata tidak mau, atau hukuman akan datang, ok?
"Face sitting?" — Ya.
"Trampling?" — Tidak, badan kamu kayaknya berat, nanti ada tulang yang patah.
"Hard tickle?" — Ya, tapi ringan-ringan saja.
"Clamp?" — Ya.
"Straitjacket?" — Tidak.
"Very wide bar?" — Ya.
"Tied with other slave girl?" — Ya. Wah, ini yang saya tunggu, tentunya saya bisa merasakan himpitan dan gelutan seorang wanita yang sedang disiksa? — Tentu, kamu akan merasakan itu, karena saya juga akan menyiksa slave girl dan ia senang kalau merasakan sakit dan berteriak-teriak. Suasana itu dapat membuatnya puas; ia bisex, umurnya lumayanlah tapi lebih muda dari saya, namanya Tiara. Saya baik kan menawari kamu terikat bersama slave girl?" katanya sambil tersenyum.
"Strap-on dildo?" — Ya, tapi jangan yang terlalu besar, nanti berdarah. — Ok, jangan khawatir, saya pasti akan menyesuaikan kemampuan kamu.
"Diperkosa untuk melayani nafsu seks saya dalam keadaan terikat?" — Ya, tapi kok harus masih terikat? — Tentu dong, karena kamu telah menjadi slave saya selamanya, dan seorang slave harus selalu terikat agar tidak dapat melawan tapi harus bisa memuaskan saya. Kamu tahu, suasana seperti ini tentu akan membuat saya sangat terangsang dan harus kamu penuhi hasrat saya, atau tidak jadi sama sekali. — Ok, saya mau melayani kamu, melakukan semua perintah kamu demi kepuasan kamu. — Nah gitu dong.
"Semua humiliation yang sifatnya private?" — Ya.
"Mau tidak bila saya panggil seorang cewek lagi untuk membantu mendominasi kamu?" — Ya, tapi bagaimana penampilannya? — Dijamin deh cantik, tinggi, buah dadanya cukup besar, pantat oke, putih, rambutnya coklat sepundak, suaranya merangsang, umurnya baru sembilan belas tahun dan dia juga senang mendominasi cowok dengan sadis; ia haus kepuasan dan kamu harus melayaninya dengan cara apa pun. Tapi dia juga suka menjadi submissive saya dan dia bisex, namanya Valerie. — Ok, saya mau, tapi bagaimana dengan bayarannya? — Ya, tentu menjadi tanggung jawab saya.
"Dod, karena tempat ini tidak memadai maka kita akan pergi ke suatu tempat yang lengkap dengan peralatannya, tapi kita harus sewa dan agak mahal. Untuk teman lama tidak usah bayar, hanya bayar tempat dan teman saya saja." Dia mengatakan ini diiringi senyuman, dan sepasang matanya tidak pernah luput memandangi saya.
Dalam hati, aku bergumam: "Wah, pasti mahal... aku harus ke ATM dulu untuk ambil uang."
"Gimana Dod?" tanyanya.
"Ya, ya... tapi berapa?" kataku.
"Hanya satu juta kok," sahutnya.
"Ok deh, ayo kita berangkat," kataku.
"Ayo, come on slave," katanya.
Aku berangkat dengan mobilnya menuju suatu tempat, tapi sebelumnya aku mampir sebentar untuk mengambil uang. Setelah itu kami meneruskan perjalanan. Namun sebelum mobil jalan, dia menutup mata saya dengan plester dan dipakaikan kacamata hitam agar tidak terlihat orang, sedangkan tangan saya diborgol ke belakang agar tidak bisa membuka penutup mata. Dia melakukan ini untuk keamanan karena tempat tersebut tidak boleh diketahui orang lain kecuali mereka yang telah mendapat izin. Dia menerangkan bahwa pemilik tempat itu adalah seorang gangster; kalau orang yang telah mendapat izin sampai memberitahu orang yang belum, mereka akan mencari dan kemungkinan akan membunuh keduanya.
Setelah sampai di tempat tujuan, dia membukakan semuanya dan kami masuk ke suatu rumah di mana segalanya dicat hitam. Kesannya seram, dan sepertinya semua tembok ada peredam suaranya sehingga bila orang berteriak tidak terdengar dari luar. Kami masuk lift, tapi anehnya bukan naik ke atas melainkan turun satu tingkat ke bawah tanah.
Pintu lift terbuka. Seorang wanita cukup cantik yang hanya memakai bikini kulit hitam menyambut kami.
"Hai, Gemini... kok tumben membawa seorang cowok, biasanya cewek?"
"Hallo Sally, apa kabar? Wah, body makin oke saja nih, dan buah dadamu semakin besar saja, ukurannya berapa?"
"Ah biasa aja kok, cuma 39DD. Banyak susunya karena saya keguguran tapi produksi susu masih terus dan harus dibuang. Terus, itu siapa lagi?"
"Ini lho, teman lama saya, udah lama enggak ketemu. Eh, ketika ketemu dia juga suka fantasi BDSM, jadi saya bawa ke sini. Biasa... siksaan, tapi yang ini lain—dia akan melayani saya dan memenuhi hasrat seks saya yang selama ini selalu dengan wanita. Entah kenapa, dengan yang ini baru ketemu saja nafsu saya sudah naik."
"Wah, asyik juga nih, boleh nimbrung? Kalau boleh, saya mau membuang susu di mulut dia agar diminum, sayang kan kalau dibuang percuma."
"Jangan sekarang, saya sudah janji dengan dia akan ada seorang cewek yang ciri-cirinya seperti yang saya bilang tadi. Oh ya, tolong hubungi Valerie dong, suruh datang ke sini. Ada cowok yang dapat memuaskan dia dan Tiara. Bilang sama dia semua bulu harus dicukur dan mandi yang bersih, ada teman lama saya sebagai slave yang membutuhkan slave girl seperti dia, karena saya tahu teman lama saya ini suka dengan cewek yang buah dadanya besar dan tinggi. Dan jangan lupa memakai parfum yang merangsang, ok?"
"Ok, tapi tipnya mana?"
"Beres, nih lima puluh ribu, cukup?"
"Wow, thanks Liz, banyak amat?"
"Enggak mau dibagi rezeki?"
"Ya mau dong... kamu mulai saja dulu, paling lama satu jam mereka sudah ada di sini."
"Ok, dan saya minta ruang yang lengkap peralatannya karena saya akan gunakan sampai pagi bersama dia."
"Wow, asyik juga... aku boleh nimbrung deh?"
"Lihat saja nanti, kalau dibutuhkan, ok?"
"Ok Liz, sekali lagi thanks ya, tapi jangan lupa ya... IKUTAN."
Aku cukup terpana ketika dia bilang sampai pagi—jadi saya harus bergadang, dan sekarang baru jam sepuluh malam. Ternyata dia seorang wanita bisex juga; mungkin karena itu ia belum kawin sampai sekarang.
Bersambung...