18px

Gara-Gara Kue Pancong

Gara-Gara Kue Pancong

Setelah merapikan barang-barang yang dipakainya syuting, Wulan bersiap-siap pergi memanasi kendaraan. Di sela itu, ia menerima telepon dari buah hatinya.

"Bunda... Bunda lagi di mana?"

"Masih di lokasi syuting sayang, udah selesai dan udah bubar kok. Tapi Bunda mau ke rumah Bi Mimin dulu ya... pembantu kita. Habis dapat kabar, katanya sakit keras. Nggak lama kok sayang..."

"Iya Bunda, gapapa. Tapi beliin aku cemilan dong, apa aja — laper niih.." urai si kecil manja.

"Ya udah, nanti Bunda beliin deh. Tunggu Bunda ya sayang, muach!" Wulan mencium gagang telepon penuh kasih sayang; si kecil Shaloom balas 'muach' ke bundanya itu.

Singkat cerita, usai perjalanan pulang menengok pembantunya yang sedang sakit, masih di daerah perkampungan yang cukup sepi, Wulan melihat di sisi jalan ada seorang penjual kue pancong. Dengan sigap ia menepikan mobilnya, kemudian melangkah ke arah tukang kue pancong tersebut.

"Bang, satu ya!" teriak Wulan.

"Baik, Non," si Abang menyahut.

Sambil menyiapkan dagangan, mata si Abang sesekali melirik ke betis putih artis beranak satu yang masih 'hot' itu. Si Abang membatin dalam hati. Wulan bukan tidak tahu curi-curi pandang cabul si Abang; sebagai wanita yang berpengalaman dalam hal seks, ia coba acuhkan saja — toh sudah biasa tubuh seksinya menjadi bahan pelototan pria, baik melalui media TV maupun tabloid. Semakin ke atas mata si Abang, semakin 'ke atas' pula si 'Ujang'. Lebih dari sekali si Abang membetulkan letak si 'Ujang' yang menjulang riang. Meski risih, Wulan ada sedikit rasa horny yang sulit dijelaskan. Sebagai wanita, tentu senang dalam hati ditatap terus-menerus oleh pria, meski mulutnya berkata sebaliknya.

Di sela penantian jajanan matang, Wulan sempat melihat ada seorang lelaki lari dari balik mobil. Ia tidak curiga dan tidak berpikir macam-macam kala itu. Dagangan matang, si Abang pun menyajikannya di sehelai kertas sebagai bungkusan. Wulan kembali ke mobil berniat mengambil uang. Namun setengah mati ia mencari tas berisi dompetnya, tak juga ketemu. Wulan menduga orang yang lari tadi maling — cerobohnya memang pintu tadi tidak dikunci, karena berpikir tidak akan lama.

"Non, ini udah jadi..." si Abang menagih.

"Sebentar Bang, aduuh... kemana sih?" keluh Wulan, terus mencari karena tak sudi mendapat malu tidak mampu membayar.

Selang beberapa menit, Wulan menyerah juga. Ia yakin seratus persen bahwa barang-barang pentingnya pasti dicuri lelaki yang lari tadi.

"Aduh Bang, kayaknya aku kemalingan deh..." kata Wulan dengan wajah antara marah dan malu.

"Lha, terus?" wajah si Abang terlihat kesal.

Wulan yang merasa tidak enak berusaha mencari recehan di sekitar perseneling. Sialnya, semua uang receh itu habis tak bersisa sepeser pun. Handphone juga hilang beserta dompet.

"Abang ikut saya yuk, ke kantor polisi?" Wulan membujuk agar si Abang tenang.

"Yah, masa bayar jajanan segini aja nggak mampu, artis kayak Non. Non ini artis kan? Abang pernah lihat di TV."

"Bukan gitu Bang, saya kan udah bilang tadi kalau saya kemalingan. Masak makanan murah gini aja nggak mampu saya bayar!" kata Wulan ketus.

"Ya kalau gitu bayar dong! Masa duit seribu dua ribu aja nggak punya, Non," balas si Abang.

"Nggak ada Bang, udah... Abang ikut aja saya dulu, nanti saya ganti tiga kali lipat!" Wulan menyahut penuh emosi.

"Gerobak saya gimana?"

"Sini!" Wulan membuka pintu belakang mobil Kijangnya, lalu melipat bangku di situ agar gerobak si Abang bisa muat masuk.

Setelah mengatur posisi barang, baru mereka berdua masuk ke dalam mobil. Cekekeket! Cekekeket! Berulang kali distarter, tapi mesin tak juga mau hidup. Keberuntungan tengah berpihak pada si Abang, sementara kesialan menggelayuti Wulan.

"Kenapa lagi sih ini mobil, ck. Ah!" Wulan menggebrak setir, keluhannya memuncak. Ia merasa sial sekali dari tadi. "Bang, tolong dorong dong!"

"Wuaduh, waduh... si Non ini, nyusahin aja deh."

"Tolong Bang, habis sepi... nggak ada orang lagi. Tolong yaa." Wulan memohon dengan wajah penuh iba, seperti mau menangis mengingat barang-barangnya yang hilang penuh dengan rahasia seorang selebritis.

Si Abang terpaksa memenuhi permintaan dengan bersungut-sungut. Dia berusaha mendorong, tapi sayang terlalu berat, sehingga mobil hanya bergeser beberapa senti saja.

"Waduh Non, nggak kuat Abang. Kalau begini... Abang nggak dibayar juga nggak apa-apa deh."

"Lho, terus... saya bagaimana Bang? Kantor polisi jauh?"

"Ya jauh Non, tahu, 50 sampai 100 kilo," sahut si Abang asal, meski tak tahu persis seberapa jauh.

Memang dirasa Wulan, rumah pembantunya itu terpencil, jadi dia percaya saja. Ia tengok kanan dan kiri — tak ada orang ataupun kendaraan melintas. Ada motor satu-satunya boncengan, itu pun berjalan kencang dan tak mau distop. Di samping itu, Wulan juga takut meninggalkan kendaraan di area asing.

"Kalau Abang aja yang jalan gimana? Nanti saya kasih uang deh," kata si Abang sambil berpikir mesum dalam hati — ada celah nih.

"Aduh si Non... udah nggak bayar, bikin keringetan suruh dorong... sekarang disuruh jalan jauh lagi." Wulan semakin tidak enak mendengar keluhan si Abang.

"Gimana dong Bang, cepet! Nanti tuh maling makin jauh, barang-barang saya banyak yang nggak balik. Penting semua itu Bang..." Wulan memohon dengan sangat.

"Ya udah, ini pertolongan terakhir dari saya. Tapi..." tiba-tiba ekspresi wajah si Abang cengengesan, penuh kemesuman.

"Tapi apa Bang?" Wulan geregetan bersamaan dengan rasa cemas.

"Abang dikasih sesuatu gitu dari si Non, e-he-he." Ketakutan Wulan menjadi kenyataan.

"Ap-apaan?" Wulan berharap dugaannya salah. Wajah si Abang mendekat. "Sini Non, ta' bisiki."

Merasa butuh, Wulan mendekatkan sedikit kupingnya ke mulut kumisan si Abang. Si Abang berbisik, "Abang mau lihat sama jilat punya Non."

PLAK!! "Abang jangan kurang ajar ya!" hardik Wulan setelah melayangkan tamparan.

"Si Non ini... ya wis, biar ta' teriaki ke orang-orang nanti kalau si Non ini bayar jajanan aja nggak mampu. Saya tinggal Non di sini sendiri, nggak apa-apa, nggak usah dibayar," si Abang merasa terhina dan hendak mengambil kembali gerobaknya.

Wulan melihat langit semakin gelap; ia betul-betul butuh pertolongan.

"Nanti dulu Bang, aduh... maaf ya tadi saya spontan. Habis Abang juga sih yang nggak sopan..." kata Wulan menahan kepergian si Abang.

Si 'Ujang' bagai pocong bangkit dari kubur merasakan lembut dan halus telapak tangan Wulan di lengan si Abang.

"Ya saya memang orang kampung Non, mana tahu sopan santun."

Wulan berusaha mengangkat senyum agar si Abang mengurungkan niat pergi. "Bang... tentang tadi, saya..." Wulan ragu, kata-katanya terpatah-patah. Si Abang tetap diam, sok memasang wajah galak, padahal konak.

"Saya... tapi... saya cuma bisa kasih lihat aja... ya?" tawar Wulan.

"Buat apa Non, nggak usah... mana tadi saya tambah terima tamparan lagi," si Abang jual mahal. Wulan menghela napas panjang; sepertinya tak ada pilihan lain.

"Saya kasih... pegang aja ya Bang," tawar Wulan lagi. Si Abang mengangguk seakan pasrah, padahal dalam hati sorak sorai bergembira.

Wulan masuk ke bangku tengah diikuti si Abang, lantas berhadap-hadapan. Perlahan Wulan menarik ke atas bagian bawah long dress-nya. Mata si Abang yang tadi menatap betis bergerak ke atas seirama long dress yang tertarik. Glek! Si Abang sulit menelan ludah waktu melihat paha Wulan tersaji indah.

"Te... terus Non, terus," suruh si Abang sambil menyeka liurnya yang berceceran.

Ketika tangan Wulan sampai di dalaman, si Abang angkat bicara, "Nanti dulu Non... Abang mau ngerasain pegang." Jari si Abang langsung main elus dan gerayang, Wulan pun menggelinjang geli karenanya.

"Udah Bang, mmhh... saya kasih lihat, terus... udahh." Wulan ingin mengakali si Abang.

"Ntar dulu Non... Abang lagi bahagia ini. Putih mulus pahanya sih, e-heheh." Si Abang ketagihan, emoh berhenti. Bahkan lidahnya juga ingin menikmati mulus paha Wulan; jilatan demi jilatan mendarat di paha artis blasteran tersebut.

"Non, hehehe... Abang mau, Abang aja yang ngelepas celana dalamnya Non ya? E-hehe."

"Jangan Bang, nanti sobek!"

"Lho, kalau nggak mau ya udah aja," si Abang sok jual mahal lagi.

"Iya iya, ya sudah... tapi janji, pelan-pelan ya."

Tangan si Abang menelusup masuk; penis pun makin mengangguk. Wulan mengangkat pinggulnya, dan sruuut!! celana dalam tersangkut di sela-sela lutut, kaki otomatis tertekuk. Wulan refleks menutupi organ kewanitaannya dengan tangan.

"Lho, pie... kok ditutupi? Kata Non, Abang boleh lihat, kan?" protes si Abang.

Wulan memalingkan wajahnya. Perlahan ia menggeser tangannya, memberi pemandangan indah kepada si Abang. Mata si Abang ingin loncat keluar dari tempatnya melihat vagina yang dihiasi bulu-bulu tipis hitam milik Wulan. Mulutnya terbuka lebar seakan ingin menyantap memek artis di depannya itu. Wajah sange si Abang mendekat —

"Cukup dulu Bang!" Wulan tiba-tiba mengenakan kembali celana dalamnya dengan bergegas; si Abang gigit jari.

"Apa-apaan nih?! Janji Non tadi bagaimana!" si Abang mengeluh bukan main.

"Saya tahu Bang... ini akan berlanjut ke persetubuhan. Saya yakin, pasti nafsu Abang udah di ubun-ubun. Karena itu, saya mau minta penawaran ulang."

"Emangnya pasar, pakai tawar-tawaran Non!"

"Dengar dulu! Saya... bersedia digauli Abang, dan Abang boleh lakukan sepuasnya. Tapi tolong saya dulu kejar itu maling, paling tidak cari kantor polisi, pos hansip, atau di mana saja yang ada teleponnya. Saya kasih nomor anak saya biar keluarga bisa jemput. Besok, suami saya pergi ke luar kota pagi-pagi, jadi Abang silakan datang ke rumah dan boleh melakukan apa saja terhadap tubuh saya, sepuasnya... saya nggak akan melawan," imbuh Wulan panjang lebar.

"Masa sih, Non mau Abang gituin?"

"Makanya, Abang harus mati-matian kejar itu maling sampai dapat. Kalau barang-barang saya sudah di tangan Abang, Abang silakan pegang untuk jaminan. Saya kasih alamat saya untuk besoknya kita barter tas dan HP saya... sama 'ini'..." Wulan mengangkang seraya menggeser celana dalamnya, mempersembahkan sesuatu yang indah di dalamnya.

Mata si Abang kembali melotot lapar. "Mungkin Abang bisa saja memerkosa saya... tapi saya yakin Abang nggak akan puas merasakan 'ini'. Kalau Abang berhasil, saya akan serahkan 'ini' setulus hati. Abang mau acak-acak sesukanya silakan, berulang kali, nggak masalah. Abang mau posisi apa, saya layani — mau di pangkuan Abang, atau nungging? Saya akan turuti. Gimana Bang?"

Tukang kue pancong itu konak bukan main mendengar penawaran Wulan.

"Kalau saya nggak mau, gimana Non?"

"Ya mending batal aja. Abang tunggu di sini, biar saya yang jalan. Daripada ini diteruskan, itu maling pasti sudah keburu jauh. Barang-barang saya hilang dan sia-sia lapor polisi atau hansip! Kalau Abang nekat mau memerkosa saya dulu, silakan — saya akan melawan sedaya upaya."

Tukang kue pancong itu diam beberapa saat. Otak mesumnya berpikir ada benarnya juga; pasti lebih enak kalau si cewek pasrah, tanpa ada rontaan.

"Baik Non, kalau begitu Non tunggu di sini — pasti saya dapat itu maling." Si Abang langsung keluar mobil dan berlari ke arah yang sama dengan maling, berkecepatan tinggi.

"Memek... memek... memek... sabar... kalau... mau... memek!" batin si Abang seraya berlari kencang.

Saking nafsunya si Abang, tidak sadar kalau dia telah berlari beberapa kilo. Diperhatikannya di sisi jalan ada seseorang yang tampaknya lelaki tergeletak bersimbah darah. Si Abang mendekatinya — memang jalanan sepi tak ada orang. Dia tidak tahu seperti apa wajah orang yang mengambil barang, namun dia lihat ada tas tangan warna merah jambu di tangan orang itu. Potongan copet bawa tas wanita seukuran dompet? Sudah jelas. Si Abang tidak tahu kalau motor kencang yang melintas tadi telah tidak sengaja menabrak si maling. Dasar beruntung, kalau sudah rezeki memang tak ke mana. Tanpa mempedulikan maling yang terkapar itu, si Abang langsung mengambil barang-barang wanita yang ada di tangannya, bertaruh bahwa itu milik Wulan, dan langsung balik.

Sekembalinya dia, dan setelah Wulan memastikan bahwa itu benar miliknya, perjanjian pun sah. Sebelumnya Wulan sempat meminjam HP untuk mengabari keluarga agar segera menjemput. Wulan minta si Abang menjaga barang miliknya baik-baik, dan jangan diangkat kalau ada telepon masuk atau SMS apa pun.


Hadiah bagi Pahlawan

"Mah, Papah jalan dulu ya..." sang suami mengecup pipi kiri dan kanan Wulan istrinya. Wulan tersenyum dan mencium punggung tangan suaminya. "Hati-hati ya Pah di jalan!" Sang suami balas tersenyum seraya mengelus rambut si kecil Shaloom buah hati mereka. Shaloom tertawa lucu layaknya bocah, melihat ayah dan bundanya seperti saling merindu lantaran akan berpisah beberapa hari ke depan.

"Mah, HP kamu kok nggak kelihatan sih, biasanya bertebaran?"

"Oh, ada di tas... tasnya ketinggalan di tempat syuting. Nanti ada yang nganterin, orang dari per-film-an. Kemarin waktu aku minta jemput juga pinjam HP salah satu kru buat nelepon kamu. Nah, bidadari-ku jangan nakal ya di sekolah." Wulan mencubit pipi Shaloom untuk alih perhatian, dan Shaloom pun cekikikan. Tanpa curiga, suami Wulan menggendong Shaloom yang melambaikan tangan ke arah Wulan.

"Dah, Bundaaa..."

"Dag, sayaang..."

Seperginya mereka, Wulan masuk ke dalam. Pembantu rumah tangganya menghampiri, "Bu, ada telepon... katanya mau bicara sama Ibu. Aku tanya namanya tapi dia nggak mau jawab!"

Wulan tahu itu dari si Abang tukang kue pancong. "Mana, sini?!"

"Udah ditutup Bu barusan... katanya 5 menit lagi telepon."

"Oo, ya sudah... kamu pergi belanja dulu deh! Kan Bi Mimin belum masuk."

"Iya Bu. Jadi saya habis belanja pergi ke rumah Bi Mimin bawa buah yang Ibu pesan ini ya?"

"Iya, titip salam... lekas masuk kalau sudah sembuh. Rumah berantakan!"

"Baik Bu. Saya sepertinya akan pulang siang, Ibu nggak apa-apa sendiri?"

"Nggak apa-apa." Pembantu rumah Wulan itu lekas pergi melihat majikannya membuka pintu seakan mengusir.

Pembantu itu tidak tahu kalau Wulan memang ingin keadaan rumah sepi lantaran ia tengah terikat janji — barter tas, HP, dan kosmetik miliknya yang di tangan tukang kue pancong dengan vaginanya. Ia sengaja mengatur ini semua. Telepon rumah kembali berdering.

"Ya?"

"Halo, bisa bicara dengan Nona Wulan?"

"Abang? Udah ke sini aja! Saya tunggu."

"Baik, Non." Telepon ditutup.

-# #-

Ting nong! Ceklek...

"Eh si Non, e-hehehe. Slurph!" Si Abang meliur, ngiler melihat Wulan berpakaian hitam mengundang birahi, lebih seksi dibanding tempo hari.

"Masuk Bang..." Setelah si Abang masuk, Wulan menarik tangannya agar mengikutinya.

Sambil berjalan, Wulan melirik tas buluk yang ditenteng si Abang, lantas iseng bertanya sambil tersenyum, "Barang saya dibawa kan Bang?"

"Bawa Non, ini... ada di tas."

"Nanti kalau Abang udah puass, Abang balikin yaa," kata Wulan berdesis dengan wajah menggoda sambil meremas payudaranya dan menggigit bibir bawah; si Abang semakin nepsong jadinya.

Tiba di kamar, Wulan mengunci pintu dan meraih tas yang masih dijinjing si Abang — si Abang tengah menahan konak berat atas gerak-gerik Wulan yang begitu membangkitkan hasrat kelelakiannya. Wulan menatap si Abang, kemudian berjalan mundur ke ranjang seraya menekuk jari telunjuk sebagai isyarat: Kesini...!

Sambil berjalan mendekati Wulan, si Abang berulang kali menelan ludah atas momen terseksi yang baru pernah dialaminya. Wulan sengaja memperlihatkan bahwa ia tidak mengenakan bra, dan melepas c-string hitam miliknya, yang kemudian diputar-putar di jari telunjuk. Sampai di ranjang, Wulan duduk melempar pakaian dalamnya ke si Abang, lalu merebahkan diri sambil menatap tajam si Abang yang tengah menikmati aroma wangi vagina di celana dalamnya.

Wulan menggigit jari kelingkingnya sambil berdesis dan menekuk sebelah kakinya ke ranjang hingga terlihat batang pahanya yang putih mulus. "Bang... aku milikmu. Sshh." Penjual kue pancong itu langsung menelanjangi diri, tak tahan godaan Wulan. Segera saja dia tindih selebritis cantik di hadapannya itu untuk diciumi bertubi-tubi.

"Umm, cup... cup, slurrp!" Si Abang bukan hanya mencium, tapi juga menjilati pipi dan mengisap hidung hingga membuat sekujur wajah Wulan berlepotan air liur.

Sesuai perjanjian, Wulan tidak melawan. Malah lapar birahi si Abang menaikkan libidonya. Puas menikmati kecantikan wajah Indo Wulan, lidah si Abang turun menginvasi sekitar dada. Telapak tangannya yang kasar menggesek halus lengan Wulan.

"Aah... emh... ahh... ssh," Wulan mulai mengerang keras ketika mulut si Abang mulai menjajah payudaranya. Dengan ganas payudara Wulan dikenyot tukang kue pancong itu. Lidahnya sangat liar dalam menjilati puting yang telah meruncing lantaran Wulan juga sudah terangsang. Karena kulitnya putih salju, wajah Wulan yang memerah saat menahan nikmat terlihat jelas. Tidak hanya itu, jari si Abang menggerayang penuh nafsu area bawah Wulan.

"Baang... pelan-pelan... sakit! Kulit Abang kan kasar..."

"Maaf Non, habis si Non udah cantik, seksi lagi. Jadi aja Abang kelewat nafsu." Si Abang pindah ke depan Wulan dan merentang kedua belah kakinya lebar-lebar.

"Ah Bang... Aahhh..." Jari tengah si Abang menekan klitoris Wulan dan bergetar cepat; kelingkingnya mengusap-usap bibir kemaluan. Wulan mulet-mulet keenakan. Sambil terus meremas payudara, si Abang menambah serangan lewat lidah yang disapukannya ke paha. Wulan pun makin menggelinjang nikmat.

"Auhhhhh!!!" Tiba-tiba si Abang menyelupkan jari tengahnya ke liang vagina, membuat Wulan menekuk punggung, kepala beralaskan kasur. Si Abang tertawa norak, senang jarinya terjepit lubang memek Wulan yang terasa kencang meski telah melahirkan. Dikocoknya dengan gencar sampai-sampai Wulan mencengkram erat pergelangan tangan si Abang, mengiba berhenti atas siksaan birahi.

"Ahhh...! Engghhh!!!" Tubuh Wulan melejang-lejang; cairan orgasmenya mengucur deras.

Jari, telapak, dan pergelangan tangan si Abang seperti tercelup di kubangan air, basah oleh muncratan lendir vagina yang berlebih. Si Abang menelan seluruh cairan cinta Wulan — dari tangannya, jarinya, hingga kemaluan Wulan — membuat Wulan menikmati sisa-sisa orgasme. Begitu rakus si Abang sampai cucupan-cucupannya terdengar. Wulan hanya memandang pasrah kepada laki-laki asing yang pesta pora mencicipinya itu.

"Enak Non, gurih! Jadi seger Abang," celoteh penjual kue pancong tersebut.

Si Abang yakin sudah waktunya bersetubuh. Dia mengocok penisnya agar lebih mantap menusuk, sementara menunggu Wulan yang napasnya masih ngap-ngapan. Mata Wulan terbuka lebar melihat si Abang bersiap-siap menyetubuhinya — kontol kampung yang tengah dikocok si Abang itulah penyebabnya. Besar, penuh urat yang menonjol, hitam... mengerikan.

"Mana Non, buka memeknya kayak waktu itu di mobil!"

Wulan teringat perbuatannya — membuka paha, menawarkan kemaluannya yang berharga sebagai barang barteran. Dengan gerak pelan namun pasti, Wulan merentang bibir kemaluannya yang telah merah merekah dan basah. Si Abang segera mendekatkan 'Ujang' ke liang Wulan yang terbuka menantang.

ZLEBBB!!! Tanpa tedeng aling-aling, si Abang langsung mendorong hingga penisnya amblas. Wulan spontan mengerang keras.

"Bang... Hggghh... Hhggghh!!!" Wulan merasa penuh di memeknya; kontol kampung si Abang yang menyangga di dalam-lah penyebabnya.

Si Abang sendiri tengah berjuang mati-matian menahan nikmat jepitan vagina Wulan di penisnya. Meski telah melahirkan, Wulan selalu rajin minum jamu dan ramuan lain agar liang cintanya tetap kesat — ia sangat apik menjaga area kesayangan suaminya itu. Dan kali ini tukang kue pancong beruntung itu mencicipinya. Dia bergerak maju mundur pelan seperti kesulitan lantaran vagina Wulan mencengkram penisnya. Lidah pria itu terjulur karena begitu nikmatnya. Wajah Wulan kian memerah; vaginanya seperti diacak-acak waktu si Abang sudah berhasil memainkan penis maju mundur dengan bernafsu.

"Bangh... Hhgggh... hHgggh!" Wulan merasakan kemaluannya bagai kikil yang ditusuk lidi, tertancap mantap dan terkuasai.

Tanpa sadar jarinya mencakar bahu si Abang. Karena sakit, si Abang menyodok Wulan semakin edan untuk menggapai kenikmatan. Bodoh Wulan — karena itu vaginanya makin gahar disodok, sehingga keduanya malah semakin menikmati hubungan mereka bagai pasangan tengah berbulan madu.

"Mem, mem, memekk... memek, Non... eeE. HNGGKH!!" CROOOT!! CROT!! Si Abang tak mampu lagi menahan antrian sperma putaran pertama; belum selesai dia bilang enak, keburu keluar karena nikmatnya. Badannya kelojotan persis orang ayan, penisnya menancap dalam sekali di liang vagina. Wulan pun melayang dan "Aahhhhhh!!!" — orgasme. Ia meraihnya.

Cairan cintanya dan sperma si Abang membuat daerah selangkangan mereka basah dan lengket. Gilanya, penis si Abang tetap keras — bukan karena jamu, tapi karena gairahnya atas Wulan. Pikirnya, kapan lagi bisa ngentot artis Indo macam Wulan. Mimpi pun tak berani dia.

Masih memburu udara, Wulan dipaksa si Abang menggelayutkan tangan ke belakang lehernya. Sementara si Abang menahan beban tubuh Wulan dengan memapah paha, penis masih menancap di vagina. Rupanya dia ingin menggunakan gaya monyet memanjat pohon kelapa. Mata Wulan mendelik, baru pernah dia digarap dengan gagahnya oleh seorang lelaki. Baik suami maupun para pejabat yang kerap memesannya semasa aktif sebagai artis, belum pernah. Suaminya hanya konvensional, paling doggy style — itupun tiga menit keluar, sesudah itu tertidur pulas.

"Ahh!!! Ahhh!!! Ahhh!!! Ahhh!!! Ahhh!!!" Wulan mendesah lirih berulang kali tiap liang vaginanya dipaksa menelan penis si Abang yang mengacung konak di dalam.

Tubuh Wulan yang berkulit putih salju itu terlempar naik turun, tengah dikuasai Abang-abang penjual kue pancong yang hitam legam. Wulan bisa melihat adegan dirinya bersama si Abang yang memantul dari kaca rias. Rambutnya awut-awutan akibat terpental naik turun, tambah kusut lantaran kepalanya bergeleng kesana-kemari. Lidah si Abang terjulur setiap kali kontolnya menyodok bagian terdalam memek Wulan. Wulan mengulum lidah si Abang lalu bertukar ludah.

"eMm... aAh... Baang!!" Masih dalam pelukan, Wulan menggoyang pinggulnya sehingga vaginanya seperti mencengkram dan mengocok penis si Abang. Kenikmatan surgawi itu membuat si Abang ketagihan gila akan enaknya.

"Hnggk!!! Hnggk!!! Hnggk!!! Hnggk!!!"

Jarinya menangkup dan meremas bongkah pantat putih Wulan sambil melesakkan penis dalam-dalam. CROOT!! Pria pedagang asongan itu kembali mengeluarkan maninya untuk yang kedua kali, dan vagina Wulan pun juga mengucurkan cairan klimaks. Wulan dan sang suami sudah setuju menjalani program KB, jadi ia tidak khawatir akan kemungkinan hamil.

Usai klimaks, si Abang merebahkan tubuh Wulan yang dipenuhi peluh ke ranjang. Dengan napas masih menderu, Wulan memandangi si Abang. Ia tak percaya ada lelaki setangguh diri si Abang. Tukang kue pancong itu seperti mengerti arti tatapan Wulan. Jarinya kembali bergerak menggerayang tubuh Wulan yang terbungkus kulit putih. Mata ibu kandung Shaloom itu terbelalak melihat penis si Abang bangkit sanjaya.

"Bang, yahhhhh..." Wulan hanya pasrah ketika tubuhnya dibalik si Abang dan diatur nungging. Si Abang menagih salah satu posisi yang ditawarkan Wulan tempo hari. Dia tidak menyia-nyiakannya.

Blessh! "Oohh... peret bener si Non ini... memeknya... h Hgghh!"

Dengan posisi ini si Abang lebih garang, serasa mengontrol Wulan sepenuhnya. Tepukan demi tepukan antara perutnya dengan bokong Wulan terdengar keras saking nafsunya dia. Bokong putih semok seksi Wulan memerah — selain karena tepukan, bokong itu juga jadi korban remasan kencang si Abang. Si Abang menarik kedua lengan Wulan ke belakang.

"Non Wulaan... memeknya enaak... memeknya enaaaak, HENGGH!!" Tubuh Wulan tertekuk ke belakang; tukang kue pancong itu sangat menikmati balas jasa pertolongannya.

Ketiga kalinya vagina Wulan dihujani air mani lelaki tak jelas asal itu. Tapi ia menikmatinya — dengan ini, sang suami hanya sebagai pemberi nafkah lahiriah saja. Nafkah batin didapat dari si Abang. Selesai si Abang puas sampai badannya lemas, dan Iyem pembantu rumah pun pulang, Wulan menahan kepulangan si Abang.

Kok? Untuk apa...?


Tiga Hari Kemudian

"Bang Jujuun... tangkap yah, hihihi," Shaloom, anak perempuan Wulan itu, hendak bercanda lempar bola dengan supir baru mereka di kolam renang Villa.

Ya, Jujun — si tukang kue pancong. Wulan mengangkat statusnya. Pedagang asongan yang naik kelas. Tentu pendapatan sebagai supir berbeda, apalagi ditambah 'bonus' dari Wulan. Suami Wulan tidak keberatan saat Wulan mencalonkan Jujun untuk jadi supir antar-jemput Shaloom ke sekolah. Alasan Wulan: Jujun adalah kacung kru per-film-an yang telah menyelamatkan HP dan tas penting miliknya. Jujun merasa hidupnya pas-pasan — pas ada syuting ada uang, kalau sinetron diberhentikan uang pun tak datang. Oleh karena itu, suami Wulan mengizinkan Jujun menjadi supir. Pikirnya, Wulan jadi bisa lebih sering di rumah. Kucing-kucingan antara Wulan, sang suami, dan si Abang berjalan lancar. Hingga suatu ketika, masalah terjadi di antara mereka...

Anak Haram

Sejauh ini, Wulan mengonsumsi alat kontrasepsi berupa pil atas anjuran ginekolog mereka; rencananya nanti memasang spiral. Kalau kondom, suami tak sudi — begitu juga Jujun alias si Abang. Para lelaki bilang, pakai kondom itu persis orang ngobrol dipisah kaca. Spiral juga membuat beberapa lelaki merasa tidak nyaman. Maka diputuskanlah oleh Wulan dan sang suami menggunakan pil.

Di suatu waktu, setelah sang suami berangkat kerja, Wulan habis-habisan digarap Jujun. Karena gairahnya yang sedang memuncak dan luar biasa, Jujun membuat Wulan pingsan. Digarap dari pagi sehabis mengantar Shaloom hingga siang; Wulan baru sadar sore hari.

"Non, bangun Non... ada syuting kan katanya," Jujun menggoyang badan Wulan.

"Emmhh... jam berapa nih, huaaah..." Wulan meregang karena tulangnya serasa lolos.

"Jam 3 sore Non, ada syuting katanya."

"Oh iya, ya ampuun... anterin aku ya Bang," kata Wulan sambil bergegas mengenakan pakaian dalam dan pergi ke kamar mandi. Jujun tertawa saja melihat tingkah majikan sekaligus tempat lampiasan nafsunya itu.

Selesai mandi, mereka pergi ke tempat syuting sampai-sampai Wulan makan di mobil.

Malang, ia melupakan sesuatu yang penting: belum mengonsumsi pil pencegah kehamilan itu. Bahkan sepulang syuting, sempat-sempatnya mereka cari tempat sepi lalu main mobil goyang. Wulan memang tak pernah menolak keperkasaan Jujun. Sperma kembali mengisi rahim Wulan.

-# #-

Malamnya, sekitar pukul 2, ia baru ingat kalau belum minum pil maha penting itu. Ia hendak meraih kotak berisi pil tersebut. Saat meraba hingga ke bagian dasar kotak... KOSONG?! Celaka tiga belas, pikir Wulan. Dia lupa kemarin memang tinggal satu dan sudah dikonsumsi. Wulan berdoa mudah-mudahan gagal benih dan tidak jadi, batinnya.

— Selang Beberapa Hari —

"Hueeek!! Hueeek!!" Wulan berlari ke kamar mandi tengah malam.

"Kenapa kamu, Mah?" Jantung Wulan serasa berhenti berdetak. Ia merasa baik-baik saja, tidak sakit atau apa. Jangan-jangan...

"Besok kita ke dokter ya, pagi."

"Jangan!!" Wulan menjawab spontan. Suami Wulan memandang aneh; Wulan segera mencari akal.

"Nggak pa-pa Mas... paling cuma masuk angin kok."

"Ya nggak pa-pa toh, kebetulan aku besok mau cuti — kan Senin tanggal merah. Tadinya mau ngajak ke villa. Tapi karena kamu sakit gitu, batal deh, ke dokter aja." Suami Wulan memaksa.

Wulan semakin panik. Tadinya ia pikir, jika ia hamil, ia terpaksa aborsi demi keutuhan rumah tangga. Tapi melihat suaminya memaksa mengantar, ia pasrah.

"Kali aja kamu hamil lagi, kalau iya toh nggak apa-apa — kebetulan kasihan si Shaloom sendiri. Biar ada temennya dan ngerasain punya adik," canda Suami Wulan. Wulan tersenyum, tapi dalam hatinya khawatir bukan main. Kalau anaknya dengan sang suami tak apa-apa, tapi kalau dengan Jujun...?

-# #-

"Waah, selamat ya Pak, Bu... kalian akan kehadiran seorang jagoan!" canda sang dokter.

Suami Wulan gembira bukan main, sementara Wulan... gimana niiih? Baginya tinggal menunggu waktu saja kemarahan suaminya serta keretakan rumah tangga. Jujun juga hanya diam saja setelah diberitahu Wulan; Wulan melarangnya kabur dan memintanya menghadapi apa yang akan terjadi. Mereka berdua sudah pasrah.


Perut Wulan semakin lama semakin bulat membesar. Suaminya sudah siaga di rumah, melayani kebutuhan Wulan.

"Aneh-aneh aja nih bayi... kamu ngidamnya kue pancong terus sih?" Wulan melayangkan pandangan ke TV sambil melahap kue pancong, pura-pura tak dengar dan tidak menyahut kata-kata suaminya.

Sembilan bulan sepuluh hari yang penuh perjuangan terlewati. Wulan kini berada di rumah sakit menunggu eksekusi. Sang suami menunggu dengan tegang. Jujun pun sama tegangnya, duduk gelisah di dalam bangku supir mobil.

"Dorong, ayo terus... dorong!!" kata dokter dan suster memberi semangat ke Wulan.

Peluh memenuhi tubuh artis Indo itu. "Heee... Heeee." Wulan berjuang dan, "Eaa... Eaa... Eaa..." suara tangis bayi mengisi ruangan. Tapi suasana sepi; dokter dan suster bertukar pandang melihat bayi yang dilahirkan Wulan. Hitam dan sepertinya berfisik tidak normal.

Wulan sudah pasrah. Bagaimana pun itu anak yang dikandungnya, meski bukan hasil benih suaminya.

"Mana, mana?" Suami Wulan menerobos masuk mendengar suara tangis bayi, ingin segera melihat anak laki-lakinya.

BUK!!! Kepalanya bagai dihantam sebuah martil besar. Semua yang ada di situ tidak bersuara, kecuali sang bayi yang lahir ke dunia tanpa cela dan dosa.

-# #-

Antara Wulan dan suaminya tidak terlibat pembicaraan selama beberapa hari ke depan, menunggu kondisi Wulan pulih. Mereka selalu menghindar jika ada teman-teman yang ingin datang menengok — memalukan! Perseteruan antara keluarga Wulan dan sang suami pun tak terelakkan. Akhirnya, sang suami menggugat cerai. Hak asuh Shaloom jatuh ke tangan suaminya. Jujun sempat dihajar suami Wulan, namun ia diam saja. Alasan perceraian tidak sampai dicium wartawan dan publik — aib tetap tersembunyi rapi. Akhirnya, dengan penuh keikhlasan, Wulan bersama Jujun membesarkan anak mereka apa adanya.

Gara-gara kue pancong... HP dan tas-nya dicolong.
Gara-gara kue pancong... rumah tangga Wulan hebrong.
Gara-gara kue pancong... Wulan melahirkan anak muka gosong.
Gara-gara kue pancong... memek Wulan diberondong.

Mbak Wulaan, Mbak Wulan... kue pancong deh.

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya