18px

Gelora di Kolam Renang

Gelora di Kolam Renang

Perkenalkan, namaku Sakti. Kejadian ini terjadi pada tahun 2000 lalu, ketika aku sedang jalan-jalan di malam hari di dekat pantai dengan mengendarai sepeda motor. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat seorang wanita sedang berjongkok-jongkok di pinggir sebuah Maestro putih. Langsung saja kuhampiri dan diketahui kalau ban mobil sebelah kanan bocor. Untunglah dia memiliki ban serep, sehingga aku menawarkan diri untuk membantu.

Singkatnya, dari pembicaraan ringan selama membantu ganti ban tersebut, kuketahui bahwa dia seorang yang sudah berkeluarga, berumur 34 tahun, keturunan Tionghoa, dan tinggi kira-kira 160 cm. Seperti kebanyakan Tionghoa, berkulit kuning, mata tidak terlalu sipit, rambut hitam sebahu, ukuran dada 34B. Tidak terasa ban serep sudah terpasang. Dia memperkenalkan diri bahwa namanya Vian, dan ketika menyodorkan uang dua lembar puluhan ribu sebagai tanda terima kasih, dengan halus aku menolaknya.

"Begini saja, Mbak, bagaimana kalau lain waktu aku boleh main ke rumah? Kebetulan aku tidak ada saudara di kota ini." Aku mulai mengeluarkan jurus perkenalan yang berkelanjutan. "Oh, tentu saja. Ini alamatku," sambil menyodorkan kartu nama lengkap dengan nomor HP-nya. "Tapi jangan minggu ini, karena aku akan bepergian ke Jakarta menengok saudara," lanjutnya.

"Oh, kebetulan aku juga dari kota Jakarta, dan di sini aku kuliah. Mungkin kalau ke sana bisa main, Mbak."

"Tentu saja — eh, terima kasih lho, Dik. Jarang lho yang mau nolong dan tidak mau terima uang. Maaf ya..." sambungnya sambil nyelonong masuk mobil.

"Sakti. Panggil saja aku Sakti."

Dua minggu kemudian, setelah selama ini berjalan apa adanya, aku memberanikan diri menelepon ke HP-nya.

"Mbak Vian, ini Sakti. Masih ingat kan?"

"Sakti... sebentar, yang mana ya? Oh iya! Yang bantu aku betulin ban itu ya. Di mana nih, kok kode areanya bukan di sini?"

"Oh, kebetulan aku sedang di kota M, main-main saja kok, nanti sore pulang. Besok boleh main ke sana nggak?"

"Lho, kenapa tunggu besok? Perjalanan ke sini kan nggak sampai tiga jam, langsung mampir saja ke rumah Mbak. Pasti capek kan. Kita bisa makan malam sama-sama; kebetulan ada suami Mbak di sini, sekalian kenal, gitu lho."

"Oke deh, kalau sempat aku ke sana."

Empat jam kemudian, setelah mampir dulu ke tempat kos, mandi, dan berpakaian agak rapi, aku berangkat ke rumah Mbak Vian. Tiba di pintu rumahnya, sekilas tampak sebuah rumah yang cukup besar dengan halaman yang lebih luas dari rumahnya sendiri; kolam renang ada di sebelah kanan.

"Lho, kok rapi amat? Kenapa nggak mandi di sini saja, atau bisa langsung renang sekalian membersihkan badan," jawab Mbak Vian saat menyambutku. "Nah, ini Om Candra, suami Mbak. Untung Om ada di sini; biasanya ada di Jakarta, dua minggu sekali datang ke sini, dan besok sudah pergi ke Jakarta lagi."

Acara perkenalan dan makan malam berlangsung hingga jam sepuluh malam dan dilanjutkan dengan acara santai. Mbak Vian mengajak renang. Sepertinya Mbak Vian biasa renang karena dari bodinya yang aduhai.

"Wah, aku nggak bawa celana renang, Mbak."

"Lho, buat apa pakai celana renang? Ini kan di rumah, siapa yang mau lihat kita mau jungkir balik di kolam ini, juga nggak ada siapa-siapa, kecuali Om."

Memang benar, rumah sebesar ini tidak ada siapa-siapa; pembantu pun datangnya hanya pagi hingga sore, setelah itu pulang. Belum sempat aku melihat suasana, tiba-tiba Mbak Vian sudah nyebur ke kolam, sementara Om Candra asyik dengan PlayStation di ruang tengah.

"Ayo nyebur aja! Mbak sudah kedinginan nih!"

Karena sudah berpengalaman dengan wanita, aku langsung nyebur saja, dengan sebelumnya menanggalkan semua bajuku. Benar saja, kolam renang di malam hari ini sangat dingin dan aku cukup menggigil. Untung saja aku pandai renang — dulu sejak kecil aku ikut klub renang dan semua gaya kukuasai. Sedang asyik-asyiknya mengapung, Mbak Vian menyelam dan menyilang di bawahku. Semilir gerakan air akibat gerakan Mbak Vian membuat tubuhku bergetar.

"Dik, burungmu bagus juga, sayang kedinginan tuh..."

Sialan — aku lupa ketika dia lewat di bawahku, tentu saja semua tampak nyata baginya, justru aku yang belum memperhatikan Mbak Vian.

"Nggak usah malu. Dari awal aku punya firasat kalau Dik Sakti sudah berpengalaman dengan wanita. Boleh dong sekarang kita main di kolam ini?" sambil bercanda memercikkan air kolam. "Om Candra bagaimana?"

"Oh, dia itu orangnya free lifestyle, dan Mbak Vian ini istri keduanya."

Akhirnya gantian aku yang menyelam dan menyerempet ke tubuh Mbak Vian. Ternyata Mbak Vian sangat seksi; baru kali ini aku melihat wanita Tionghoa telanjang, dan bulunya tidak terlalu lebat, sepertinya rajin merawat dan mencukur. Tanpa dikomando, masih di kolam renang, kami saling merapatkan diri dan mulai bercumbu. Ternyata Mbak Vian termasuk penikmat seks sejati, lebih hebat dari wanita yang dulu pernah main denganku.

Kami saling berguling-guling di kolam renang, kadang aku di atas, kadang Mbak Vian di atas. Karena suasana semakin memanas, kami naik dan rebahan di pinggir kolam. Batang kemaluanku segera dikulumnya.

"Sangat dahsyat... ohkk... Mbak, terus Mbak..."

Karena aku tidak ingin ketinggalan momen, kami mengambil posisi 69 dan segera kulumat habis lubang kemaluan Mbak Vian. Baru kali ini aku merasakan kemaluan wanita Tionghoa, dan kemaluan Mbak Vian cepat banjir.

"Dik, masukin dong... uuuhhh, ayo Dik, masukin! Aku sudah mau keluar nih... oohkk..."

Batang kemaluanku sudah tegak berdiri dan kuarahkan ke lubang kenikmatan Mbak Vian. Wow — lubang wanita Tionghoa sangat sempit dan batang kemaluanku terjepit rapat, suatu perasaan yang sensasional kurasakan tidak karuan, padahal aku belum memompa dengan sekuat tenaga.

"Mbak, gimana rasanya?" desahku menahan napas sambil mengatur posisi.

"Ohkkhh, Dik, baru kali ini aku main dengan pria pribumi... ohkkk... pelan-pelan..." ucapnya terputus-putus.

"Oh yes, yes, terus, Dik... yes, terusss... oohh... oohh... oohh..." suaranya makin meninggi. "Mmmhh... ooohh... push, push, Dik... terus yang keras, Dik, terus, lebih dalam... aauuhh..."

Mbak Vian melengking, menandakan dia orgasme. Dan refleks aku memuncratkan air maniku. Sekali lagi kemaluan wanita Tionghoa terasa lebih sempit dan sangat basah, sehingga menimbulkan gelora yang luar biasa.

"Dik, pernah main di dalam air nggak?"

Belum selesai bicara aku sudah ditarik ke kolam renang. Sambil mengapung, kami saling tarik dorong, menggoyangkan pinggul. Meskipun sudah klimaks, tidak perlu menunggu waktu lama, batangku sudah tegang kembali — dan kali ini lebih tegang lagi. Meskipun di air, kemaluan Mbak Vian masih terasa basah dan hangat. Semilir air yang bergerak menambah nafsu kami berdua, dan gerakan kami saat ini lebih lambat dan terkontrol. Gerakan air seirama dengan gerakan batang kemaluanku yang maju-mundur ke lubang kemaluan Mbak Vian. Teriakannya kini lebih teratur — Mbak Vian menikmati permainan yang kedua. Tidak sampai lima belas menit kami sudah lemas menyambut datangnya orgasme yang kedua, dan air maniku bercampur dengan air kolam.

"Ohh, Dik Sakti, baru kali ini aku merasakan nikmat yang luar biasa. Mungkin karena kamu orang Jawa, ini pengalamanku yang pertama. Mmmhhh, mau kan mengulangi lagi kapan-kapan?"

Sejak itu aku selalu berhubungan rutin dengan Mbak Vian dan selalu menemui sesuatu yang baru. Pengalamanku dengan wanita Tionghoa memang baru dengan Mbak Vian, dan itu sangat membekas.

TAMAT

Sebelumnya
Daftar BabSelanjutnya