18px

Godaan di Rumah Kakak: Bersama Mbak Nina

Godaan di Rumah Kakak: Bersama Mbak Nina

Kutenangkan pikiranku dan kerebahkan tubuhku di ranjang. Perlahan pikiranku mulai tenang, dan akupun tertidur. Pukul 11.00 WIB aku terbangun setengah kaget dengan perut kelaparan. Kucari-cari makanan di dapur, rupanya istriku tidak masak. Lalu aku ke belakang, ke rumah kakakku, mengambil nasi. Seperti biasa kalau istriku tidak masak, aku dan anakku selalu menumpang makan di tempat kakakku. Sambil makan dengan lahapnya, aku menonton TV di rumah kakakku. Kudengar suara air dari kamar mandi — gebyar-gebyur. Lalu terdengar pintu kamar mandi dibuka, dan rupanya kakakku baru selesai mandi. Ia agak kaget karena tidak mengira ada aku sedang menonton TV. Sambil sedikit berlari, dia menundukkan kepalanya malu — wajar saja, karena ia hanya menutupi tubuhnya dengan handuk kecil.

"Maaf ya Dik..." katanya lirih sambil berlari kecil.

Entah apa maksudnya. Sebetulnya akulah yang harus minta maaf karena melihat tubuhnya dibalut handuk kecil. Sepintas terlihat sebagian buah dadanya sampai pangkal pahanya — tentunya pembaca dapat membayangkan gambarannya. Sementara buah dadanya yang lain ia kempit dengan kedua belah tangannya, tapi tentu saja tidak bisa menutupi seluruhnya sehingga terlihat belahannya yang montok. Belahannya saja sudah montok, apalagi seluruhnya. Bagian bawahnya memperlihatkan paha yang putih mulus bersih. Teringat perkataan istriku beberapa malam yang lalu, melihat tubuh kakakku yang putih mulus bersih itu, perlahan-lahan pisangkupun mulai menari-nari.

Tak kuasa aku menahan nafsuku — mungkin karena pisangku yang terlalu besar, atau karena istriku sudah mengizinkan aku mencoblos cewek lain; jangan yang jauh-jauh dulu, seperti Mbak Nina dulu. Panasnya siang itu membuatku gerah. Segera kubuka baju dan celanaku. Kulihat kontolku sudah menyembul keluar dari celana dalam. Dengan jantung yang berdebar keras, kuhampiri kamar kakakku. Kubuka pintunya dan... Kakakku menjerit kaget. Rupanya dia baru selesai berdandan, namun masih memakai handuk kecilnya. Ia lebih kaget lagi melihatku di balik cermin — hanya memakai celana dalam saja, sementara sebagian kontolku sudah menyembul keluar.

"Mau apa Dik?" tanyanya kaget dan bingung, masih menatapku dari balik kaca.

Aku diam saja sambil terus menghampirinya. Ketika dia membalikkan tubuhnya, langsung kudekap sambil terus memandang wajahnya yang bersih.

"Jangan... Jangan Dik, kamu sudah gila ya?" tanyanya sambil meronta.

Aku tidak mempedulikannya. Kuciumi wajah dan lehernya. Dia hanya meronta-ronta sambil berteriak-teriak.

"Kalau nggak mau berhenti, aku teriak!" ancamnya.
"Teriak saja Mbak, biar semua orang tahu kalau kita berdua sudah beginian," jawabku.

Rupanya dia berpikir panjang dan menghentikan ancamannya. Selama dia berpikir, kubalikkan tubuhnya yang mulus dan kutengkurapkan di pinggir ranjang, sambil membuka handuknya. Tubuhnya benar-benar mulus, sementara kakakku hanya diam seribu bahasa — entah apa yang ada di pikirannya. Setelah dia tidak meronta dan tidak mengancamku lagi, aku mulai tenang dan memeluknya dari belakang. Kakakku memejamkan matanya, rupanya menikmati kehangatan ini. Kuciumi wajah dan lehernya dari belakang, sambil menikmati kehangatan tubuhnya yang mulus.

"Dik, kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya.
"Karena Mbak cantik, perlu dilindungi dan dikagumi."
"Tapi kenapa harus begini?"
"Memang harus begini cara mengagumi Mbak — dengan mencintainya sepenuh hati," kataku sambil terus menciumi punggungnya. Mbak Nina menggelinjang.
"Maksudku, kenapa harus sekarang beginiannya?" tanyanya manja sambil menutup kedua belah matanya.

Malu aku diperlakukan dengan cara manja seperti itu. Aku jadi mengerti: selama ini Mbak Nina juga menaruh hati padaku. Makanya setiap menatapku dia selalu menundukkan kepalanya.

"Aku takut Mbak tidak mau menerimaku," kataku.
"Setelah lihat kontolmu, mana ada yang mau menolakmu?"
"Jadi Mbak lihat kontolku ya?" tanyaku penasaran.
"He-eh. Di kamarmu yang terbuka itu — aku waktu itu tidak masak nasi, tidak sengaja melihat kamu lagi mandi, kulihat kontolmu yang lemas. Lemas saja sudah panjang gitu, apalagi kalau keras. Makanya ketika kulihat dari jendela itu aku kaget setengah mati. Apa itu ditujukan kepadaku atau tidak, tapi aku jadi malu, takut geer. Makanya aku masuk saja..." katanya lirih.

Karena kalimat terakhir itu, aku menelusupkan tanganku ke dadanya yang terhimpit antara tubuhnya dan kasur. Kuremas penuh kasih sayang.

"Ach... Kenapa kamu sejahat ini, menyiksakku... Ahh... Ahh," rintihnya manja.

Kutarik tanganku yang satunya dan kugapai tangannya yang meremas-remas seprei. Kutuntun ke kejantananku yang sudah menegang, yang hendak merasakan sentuhan wanita lain untuk pertama kalinya. Ketika dia memegang kontolku, ia langsung menarik kembali tangannya.

"Aww... apa itu Dik? Gila, gede banget... Takut, takut, takut..." berulang-ulang dia katakan itu tanpa berani menatapku, apalagi menatap kontolku.

Aku semakin bernafsu. Kutarik kembali tangannya dan kupaksa memegangnya. Pertama-tama dia hanya memegangnya tanpa melepasnya sedetik pun, lalu pegangannya semakin erat. Tangannya yang mungil tidak bisa sepenuhnya melingkari kontolku. Lama-lama dia meremas-remas kontolku dengan penuh nafsu sambil mengocoknya, masih belum berani melihatnya.

"Ahh..." tanpa kusadari aku menyeringai keenakan.

Kuselipkan tanganku di antara kedua bokongnya yang bulat padat berisi. Sampailah aku pada klitorisnya — besar juga. Kupermainkan sambil kupijit-pijit, dan kakakku yang montok itu langsung menggelinjang lalu melepaskan kontolku. Tapi tidak untuk lama — ia memindahkan tangannya ke pangkal kontolku sambil mencengkeram sekuat-kuatnya, lalu menuntunnya ke arah liang vaginanya. Aku sudah paham maksudnya. Tanpa ragu lagi kudorongkan kontolku ke vaginanya yang kecil dan menganga agak berair minta dimasuki. Slep — separuh kontolku sudah masuk, karena agak susah memasukkannya mengingat sempitnya vagina kakakku.

Kakakku membenamkan wajahnya ke kasur sambil meremas seprei dan apa pun di sekitarnya seakan-akan mau merobeknya. Rupanya kakakku tidak mau jeritannya terdengar, terbukti dari erangannya yang teredam ke kasur. Asyik juga ngontoli kakakku dari belakang ini — cengkeramannya begitu kuat, spare part berkualitas tinggi. Seiring dengan erangan kakakku, kutarik dan kubenamkan berulang-ulang kontolku, mencari jalan masuk.

"Argh... Aw... Aw... Aw... A... A... A..." erangan kakakku merintih berulang-ulang.

Seakan-akan menolak untuk berhenti. Nafasnya sudah memburu, keringatnya bercucuran di mana-mana, tubuhnya bergetar tidak beraturan, kepalanya menoleh ke sana-kemari, sedangkan kakinya mulai menggeliat; dibuka pahanya lebar-lebar seakan tidak puas hanya separuh kontolku yang masuk. Kembali aku paham maksudnya. Pelan tapi pasti, kudorongkan kontolku sepenuh tenaga. Lhess... terdengar seiring kontolku yang sudah masuk penuh. Kakakku bagaikan orang kesurupan.

"Aww... apa ini, apa ini... Ngganjal gede, anget, kasar, asfh..." entah apa lagi yang dia omongkan.

Yang jelas, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup bagaikan orang mandi. Aku sendiri menikmati vaginanya yang hangat, mencengkeram kuat dengan denyut-denyutnya yang jelas terasa meremas kontolku. Kubiarkan saja keadaan ini sambil kurasakan tubuh kami menyatu — tidak ada dua tubuh, hanya satu, seolah-olah aku memasuki jiwanya.

Tiba-tiba dia melepas semuanya. Aku agak kecewa. Tapi ternyata dia membalikkan tubuhnya dan naik ke ranjang sambil mengangkat kedua lututnya dan membukanya lebar-lebar. Tanpa berani membuka matanya, dia memohon kepadaku.

"Mashh... Sini Mas... sayangi ahu, nikmati ahu, tindih ahu, milikku akhu..." katanya tidak sadar kalau memanggilku dengan sebutan "Mas".
"Kenapa Mbak, kamu ingat suamimu?" tanyaku khawatir.
"Nggahh... Aku ingin kamu jadi suamiku, kalau suami kan boleh menindih istrinya, makanya ahu panggil kamu 'Mash'... cepahh... Sinnii dhong... Malah ngobrol aja, mau kawin apa arisan..." katanya sudah tidak jelas ucapannya.

Tanpa pikir panjang lagi aku tindih dia, kulumat bibirnya. Mula-mula dia menolak karena masih malu melihat wajahku, tapi akhirnya dia membalas lumatanku. Ternyata dia lebih liar dari perkiraanku. Aku dilumatnya habis-habisan, sementara tangannya mengocok kontolku tanpa bimbinganku lagi. Kontolku yang sudah basah karena vaginanya sampai keluar otot-ototnya seperti akar-akar pohon yang menjalar di batang pohon. Dibimbingnya kontolku ke vaginanya, less... Kembali dia menjerit tertahan ketika semua kontolku masuk. Gilanya kumat lagi, apalagi setelah aku menaik-turunkan pantatku, menancapkan dan menarik kembali kontolku.

"Af... Ah... Ah... Aw... Aw... Aw... Aww... Aww..." rintihnya keenakan.

Hampir sepuluh menit berlalu. Kasur yang kami pakai alas sudah basah oleh keringat kami berdua. Tiba-tiba Mbak Nina merengkuhku dan memelukku; kedua kakinya mencengkeram pinggangku erat-erat, sementara mulutnya menggigit pundakku. Sangat perih kurasakan, tapi aku maklum bahwa dia ingin melampiaskan kenikmatannya. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat seperti orang yang terserang ayan, menggelinjang-gelinjang apa adanya.

Bayangkan saja — tubuh yang montok itu bisa menggelinjang tanpa menapak ke kasur! Kembali kurasakan vaginanya mencengkeram erat kontolku lebih dari yang tadi, dan hal itu membuatku pun sama-sama menggelinjang. Tanpa kusadari kupeluk dia lebih erat sambil meremas pantatnya yang montok. Beberapa saat kami seperti dua orang yang sudah mati. Kurasakan aku seperti mau kencing, dan akhirnya akupun mengencingi Mbak Nina — semburannya sangat kuat sampai-sampai Mbak Nina menjerit lemah.

"Trus... Trusshh... Semprot yang bannyakhh..." katanya.

Setelah itu, tubuh kami pun melemas. Kulihat Mbak Nina kelelahan sambil tersenyum sangat puas — matanya yang dari tadi tertutup perlahan-lahan terbuka.

"Makasih ya Dik. Kamu hebat banget, aku dibuat melayang-layang. Kalau tahu kamu punya pisang ambon sebesar itu, aku dari dulu minta," katanya manja.
"Yah, sama-sama Mbak. Aku pun sebenarnya kalau melihat Mbak Nina yang montok, dengan pepaya yang kenyal, kontolku selalu berdiri. Makanya lain kali kalau mau, ngomong aja ya?"
"Habis, punyamu gede banget sih. Aku jadi ngeri — ngeri keenakan."
"Udah dulu ya Mbak, ntar anak-anak sudah pulang," kataku sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.

Akupun memakai celana yang ada di lantai.

"He-emh... Tapi janji ya, Sabtu depan kamu pamerin aku lagi," pintanya.
"Pamerin apanya, Mbak?"
"Kontolmu."
"Iya," jawabku sambil keluar dari kamarnya, menuju kamarku, lalu akupun tertidur lelap.

Semenjak saat itu aku selalu memamerkan barangku di depan kakakku — walaupun secara tidak langsung, dengan memakai celana ketat sehingga tonjolan di selangkangan terlihat. Mbak Nina hanya senyam-senyum saja, dan senggama kami pun berlangsung tiap Sabtu hingga kini.

Tamat

Sebelumnya
Daftar Bab
Selanjutnya